“Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku: Perayaan Kamis Putih sebagai Awal Misteri Kasih yang Terserahkan”


Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, Kamis 2 April 2026

Kamis Putih selalu hadir dengan suasana yang hening namun sarat makna. Ia bukan sekadar perayaan, melainkan pintu masuk menuju Misteri Paskah—saat Gereja mengenang kasih yang diwujudkan secara nyata oleh Yesus Kristus dalam Perjamuan Terakhir bersama para murid-Nya.

Pada hari inilah, Yesus menetapkan Ekaristi, menghadirkan diri-Nya dalam rupa roti dan anggur sebagai santapan keselamatan. Bukan hanya itu, Ia juga memberikan teladan kerendahan hati melalui tindakan membasuh kaki para murid, sebuah pesan yang melampaui kata-kata: bahwa kasih sejati selalu siap untuk melayani.

Perayaan Kamis Putih di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) tahun ini dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan selaku Romo Paroki Kalasan. Sebanyak 1.233 umat hadir dan memenuhi gereja dalam suasana yang khidmat, membawa kerinduan untuk ambil bagian dalam perjamuan kasih Tuhan.

Sejak awal perayaan, nuansa liturgi terasa begitu mendalam. Setiap bagian ibadat mengajak umat untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga mengalami kembali kasih yang diberikan tanpa syarat. Dalam keheningan doa dan nyanyian, umat diajak masuk dalam peristiwa agung: saat Tuhan menyerahkan diri-Nya sepenuhnya.

Kamis Putih bukan hanya tentang perjamuan, tetapi juga tentang penyerahan diri. Dalam Ekaristi, umat diajak untuk belajar memberi, seperti Kristus yang memberi diri-Nya. Dalam teladan pembasuhan kaki, umat diingatkan bahwa iman yang hidup selalu terwujud dalam pelayanan yang rendah hati.

Usai perayaan Ekaristi, umat tidak langsung beranjak pulang. Malam itu dilanjutkan dengan tuguran, sebuah saat berjaga bersama Tuhan dalam keheningan dan doa. Umat diajak untuk menemani Yesus dalam saat-saat terakhir-Nya sebelum sengsara, menghadirkan diri dalam kesetiaan yang sederhana namun mendalam.

Tuguran dilaksanakan secara bergiliran oleh wilayah-wilayah, dimulai dari Wilayah Sang Timur, dilanjutkan oleh Wilayah Don Bosco, kemudian Wilayah Ignatius Loyola, dan ditutup oleh Wilayah De Britto. Dalam suasana yang hening dan penuh doa, setiap wilayah mengambil bagian dalam menjaga keheningan malam, seolah menjadi murid-murid yang setia berjaga bersama Sang Guru.

Perayaan ini menjadi awal dari perjalanan iman yang lebih dalam, menuju Jumat Agung dan akhirnya Paskah. Sebuah perjalanan dari kasih yang diberikan, menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju kemenangan kehidupan.

Gema kasih itu tidak berhenti di dalam gereja. Ia diharapkan hidup dalam setiap tindakan, dalam setiap pelayanan, dan dalam setiap hati umat yang telah mengambil bagian dalam perjamuan suci ini.

“Perayaan Minggu Palma: Gerbang Suci Memasuki Misteri Sengsara Tuhan di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo”


Minggu, 29 Maret 2026

Minggu Palma selalu punya nuansa yang berbeda. Ada sukacita, ada harapan, tapi juga mulai terasa bayang-bayang penderitaan. Hari ini, Gereja mengenang peristiwa saat Yesus Kristus memasuki Kota Yerusalem dan disambut meriah oleh orang banyak dengan lambaian daun palma—tanda kemenangan, namun juga awal dari jalan salib-Nya.

Perayaan Minggu Palma di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo tahun ini dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo. sekitar 1041 Umat mulai berkumpul sejak pagi hari di halaman belakang gereja, membawa daun palma di tangan—sederhana, namun penuh makna.

Perayaan diawali dengan upacara pemberkatan daun palma. Dalam suasana yang khidmat, daun-daun palma diberkati sebagai simbol kesediaan umat untuk menyambut Kristus dalam hidup mereka—bukan hanya dalam sorak sorai, tetapi juga dalam kesetiaan.

Setelah itu, dimulailah perarakan menuju gereja. Barisan berjalan dengan tertib: diawali oleh putra-putri altar, diikuti para prodiakon, dan kemudian romo sebagai gembala umat. Langkah demi langkah perarakan ini seakan mengajak setiap orang untuk ikut masuk dalam kisah iman—bukan sekadar mengenang, tetapi mengalami.

Perayaan Ekaristi pun berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Namun puncak refleksi hari ini hadir dalam pembacaan Kisah Sengsara (Pasio). Kisah ini dibawakan dengan penghayatan oleh Mas Satria, Mbak Bunga, Mas Aremba, dan Mas Cristian. Suasana gereja menjadi hening, seolah setiap kata yang diucapkan mengajak umat untuk berhenti sejenak, merenung, dan melihat kembali makna pengorbanan.

Minggu Palma bukan sekadar awal dari Pekan Suci. Ia adalah undangan—untuk berjalan bersama, dari sorak sorai menuju salib, dari kegembiraan menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju harapan akan kebangkitan.

Gereja Terbuka 24 Jam: Datang dan Berdoa di Hadapan Bunda Maria


Gereja senantiasa membuka pintunya bagi siapa pun yang rindu untuk berdoa dan mencari keheningan di hadapan Tuhan. Di depan patung Maria Bunda Allah, umat dipersilakan datang untuk sejenak berhenti dari kesibukan, menenangkan hati, serta menyerahkan segala doa, harapan, dan pergumulan hidup.

Dalam suasana yang teduh dan penuh damai, setiap pribadi diajak untuk mengalami kehadiran Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria, yang dengan kasih keibuannya senantiasa mendampingi dan menguatkan. Di tempat ini, doa-doa sederhana yang terucap dalam keheningan menjadi ungkapan iman yang hidup.

Sebagai wujud keterbukaan dan pelayanan, gereja hadir tanpa batas waktu. Pintu gereja terbuka 24 jam, memberi kesempatan bagi siapa saja untuk datang kapan pun—baik dalam sukacita maupun dalam kesesakan—untuk berdoa, berserah, dan menemukan pengharapan baru.

Semoga setiap langkah yang datang membawa kerinduan akan Tuhan, dipulangkan dengan hati yang damai, dikuatkan, dan diteguhkan dalam iman.

Maguwo bersinar……..


Senam sehat di Maguwo, Sabtu 14 Maret 2026 bersama Romo FX. Murdi Susanto Pr.

Mari yang ingin sehat, kami tunggu setiap sabtu pagi jam 07.00 di belakang gereja.

Anda sehat, kami senang……………….



Pertemuan TPKP Rayon Sleman Timur: Berjalan Bersama Mewujudkan Gereja yang Membahagiakan


Pada hari Minggu, 8 Maret 2026, dilaksanakan Pertemuan TPKP Rayon Sleman Timur Kevikepan Yogyakarta Timur yang bertempat di Paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Nandan. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi para pelayan pastoral untuk memperdalam pemahaman serta menyelaraskan langkah dalam mewujudkan arah pastoral Gereja.

Pertemuan tersebut mengangkat fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2026, yaitu “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.” Tema ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan bersama dalam melaksanakan Arah Dasar (ARDAS) KAS IX tahun 2026–2030.

Dalam kesempatan ini, Stasi Maria Bunda Allah turut berpartisipasi dengan mengutus perwakilan dari Tim Pelayanan Pastoral Keluarga, yaitu Bapak Albertus Bagio Murdiato bersama istri. Kehadiran mereka menjadi bagian dari komitmen stasi untuk terus terlibat aktif dalam pengembangan pelayanan keluarga di tingkat rayon dan kevikepan.


Gereja yang Berjalan Bersama

Dalam ARDAS KAS IX ditegaskan bahwa umat Allah dipanggil menjadi persekutuan murid-murid Kristus yang berjalan bersama dalam bimbingan Roh Kudus. Perjalanan bersama ini diwujudkan melalui perutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah serta memperjuangkan kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat bagi semua orang.

Semangat ini juga sejalan dengan upaya bangsa Indonesia dalam membangun kehidupan bersama yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, seperti kesejahteraan yang berkeadilan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, kehidupan demokrasi yang partisipatif, kehidupan beragama yang inklusif, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.


Program Sekolah Keluarga

Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan rencana program Sekolah Keluarga yang akan diselenggarakan oleh TPKP Rayon Sleman Timur. Program ini ditujukan bagi pasangan suami-istri dengan usia perkawinan 0–25 tahun.

Setiap paroki akan mendapatkan kuota tiga pasangan untuk mengikuti program ini. Peserta yang mengikuti kegiatan akan dikenakan kontribusi sebesar Rp25.000 per orang sebagai bentuk partisipasi dalam penyelenggaraan kegiatan.

Untuk pelaksanaan pertama, Gereja Babadan direncanakan menjadi tuan rumah kegiatan ini. Beberapa materi yang akan dibahas pada pertemuan awal antara lain:

  • Keluarga sebagai rencana Allah
  • Komunikasi dalam keluarga

Melalui program ini diharapkan pasangan-pasangan muda semakin diperkaya dalam kehidupan berkeluarga, sehingga mampu membangun keluarga yang harmonis, tangguh dalam iman, dan menjadi saksi kasih Kristus di tengah masyarakat.


Inspirasi dari Stasi Maguwo: Penyegaran Janji Perkawinan

Salah satu hal yang cukup menarik perhatian dalam pertemuan ini adalah pengalaman dari Stasi Maguwo, khususnya terkait program penyegaran janji perkawinan. Program ini dinilai cukup berhasil karena mampu menghadirkan sekitar 30 hingga 40 pasangan suami-istri dalam setiap kegiatan.

Tidak semua paroki atau gereja memiliki program seperti ini. Beberapa paroki sebenarnya sudah memiliki program serupa, namun jumlah pesertanya masih relatif sedikit. Oleh karena itu, dalam pertemuan tersebut muncul pertanyaan mengenai kiat atau strategi yang dilakukan oleh Stasi Maguwo sehingga program ini dapat diikuti oleh banyak pasangan.

Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:

  1. Berkoordinasi dengan tim Litbang untuk memperoleh data pasangan yang merayakan hari ulang tahun pernikahan dalam rentang waktu tiga bulan.
  2. Menghubungi ketua lingkungan (kaling) untuk memastikan apakah pasangan tersebut masih berdomisili di lingkungan yang bersangkutan.
  3. Membuat undangan fisik khusus, yang dirancang menyerupai undangan pernikahan, sehingga terasa lebih personal dan berkesan bagi pasangan yang diundang.

Pendekatan sederhana namun penuh perhatian ini ternyata mampu meningkatkan partisipasi umat secara signifikan. Bahkan dalam diskusi pertemuan tersebut, beberapa paroki menyampaikan ketertarikannya untuk mengadopsi model pelayanan yang dilakukan oleh Paroki Maguwo.


Harapan ke Depan

Melalui berbagai program pastoral keluarga yang dirancang, Gereja berharap semakin banyak keluarga Katolik yang mampu membangun kehidupan rumah tangga yang sehat, harmonis, dan penuh iman. Keluarga diharapkan menjadi tempat pertama pendidikan iman bagi anak-anak, sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya.

Dengan semangat kebersamaan dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Allah, umat diajak untuk terus berjalan bersama mewujudkan Gereja yang membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan.

“Cek Kesehatan Gratis, Gereja Hadir Membahagiakan Umat”


Dalam semangat Arah Dasar (Ardas) ke-9 Keuskupan, yaitu menghadirkan Gereja yang membahagiakan, mensejahterakan, dan menginspirasi, umat lingkungan kembali melaksanakan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis yang diselenggarakan secara rutin setiap tiga bulan sekali. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian Gereja terhadap kesehatan umat, sekaligus mendorong kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari anugerah kehidupan.

Pada kegiatan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan hari ini, tidak ditemukan umat yang mengalami kondisi sakit saat mengikuti misa. Setelah misa, umat memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dasar yang meliputi pengecekan berat badan, tekanan darah, serta kadar gula darah.

Sebanyak 68 umat mengikuti pemeriksaan kesehatan. Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditemukan 17 umat dengan indikasi hipertensi dan 2 umat dengan indikasi hiperglikemi. Meski demikian, tidak terdapat kondisi yang memerlukan rujukan darurat. Umat yang memiliki hasil pemeriksaan di luar batas normal mendapatkan edukasi serta konsultasi kesehatan dari para dokter yang bertugas, sehingga diharapkan dapat lebih memahami langkah-langkah pencegahan dan pengelolaan kesehatannya.

Pelayanan kesehatan hari ini didukung oleh tim yang terdiri dari 2 orang dokter yang memberikan edukasi dan konsultasi, 4 tenaga paramedis yang melakukan pemeriksaan tekanan darah dan gula darah, serta 3 petugas pencatatan yang membantu proses pendataan hasil pemeriksaan umat.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi wujud kebersamaan dan kepedulian Gereja terhadap kesejahteraan umat, sehingga umat dapat merasakan kehadiran Gereja yang sungguh membahagiakan, mensejahterakan, dan menginspirasi dalam kehidupan sehari-hari.

Pelayanan pemeriksaan kesehatan ini akan kembali dilaksanakan tiga bulan mendatang, dengan harapan menghadirkan jenis pemeriksaan yang lebih lengkap serta semakin banyak umat yang antusias melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, demi menjaga kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh umat.

SENAM SEHAT MAGUWO, SABTU 28 FEB 2026


Maguwo, 28 feb 2026
senam sehat pagi ini diikuti oleh 45 orang.
mari bapak ibu, mas, mbak, adek, kakak bergabung dalam senam sehat setiap sabtu di pelataran belakang gereja St Maria Bunda Allah maguwo jam 07:00 WIB

Anda Sehat, Kami Senang…..




Bikin Film? Siapa Takut! Saatnya Lingkungan Kita Bersinar!


Kadang kita merasa kegiatan lingkungan itu biasa saja.
Doa lingkungan… bakti sosial… rekoleksi… kunjungan kasih…

Tapi pernah nggak kita sadar?
Di situlah Gereja yang sesungguhnya sedang hidup.

Melalui Festival & Lomba Film Pendek Dokumenter ARDAS 2026, Stasi St. Maria Bunda Allah Maguwo mengajak seluruh lingkungan untuk menunjukkan bahwa Gereja kita itu:

Bahagia, Menginspirasi, Menyejahterakan

Bukan cuma hadir… tapi berdampak.

Mau yang simpel? Bikin video < 59 detik untuk IG/TikTok.
Mau yang niat? Garap film 3–6 menit buat YouTube/Website.

Nggak harus pakai kamera mahal.
HP juga bisa.
Yang penting: kompak, kreatif, dan penuh semangat!

Ada banyak kategori yang bisa diraih:
Film Terbaik, Film Paling Membahagiakan, Film Paling Menginspirasi, Cerita Lingkungan Terbaik, Film Favorit dan Lingkungan Paling Rajin

Dan tenang… setiap lingkungan dapat stimulus dana Rp100.000 untuk mulai berkarya

Bayangkan kalau di akhir tahun nanti nama lingkungan kita dipanggil sebagai pemenang…
Bukan cuma soal hadiah.
Tapi soal kebanggaan: “Ini lho wajah Gereja kami.”

Penjurian dan pengumuman akan dilaksanakan pada 28 Desember 2026.

Jadi…
Mau jadi penonton?
Atau jadi lingkungan yang dikenang sepanjang tahun?

Ayo bergerak.
Ayo rekam.
Ayo wartakan.

Lingkungan kita siap viral demi Kerajaan Allah?