Misa Arwah Semua Orang Beriman – Mengenang dengan Doa dan Kasih


Pada hari Minggu, 2 November 2025, Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo mengadakan Misa Arwah untuk Semua Orang Beriman yang dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo Pr. Perayaan ini merupakan bagian dari tradisi Gereja Katolik yang secara khusus didedikasikan untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia, terutama mereka yang masih dalam proses penyucian di api penyucian sebelum bersatu dengan Allah dalam kemuliaan surga.

Misa Arwah sendiri adalah perayaan Ekaristi yang dipersembahkan untuk mengenang dan mendoakan arwah orang-orang beriman yang telah meninggal. Melalui misa ini, umat diajak untuk mempersembahkan doa, pengampunan, dan kasih sebagai wujud iman akan kebangkitan serta harapan akan kehidupan kekal bersama Kristus.

Sebelum misa dimulai, suasana di dalam gereja dipenuhi keheningan dan rasa haru ketika dibacakan nama-nama umat yang telah berpulang, sebanyak ±1.440 nama. Setiap nama yang disebut menjadi tanda kasih dan kenangan yang tidak pernah pudar — sebuah ungkapan bahwa mereka tetap hidup dalam doa dan ingatan umat yang masih berziarah di dunia.

Suasana misa berjalan dengan khidmat dan penuh penghayatan. Umat bersama-sama menyerahkan arwah orang-orang terkasih kepada belas kasih Allah, memohon agar mereka diterima dalam damai abadi. Dalam setiap lantunan doa dan nyanyian, tersirat keyakinan bahwa cinta kasih Tuhan melampaui batas kehidupan dan kematian.

Karena bagi orang beriman, kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan yang kekal. Dan di dalam doa yang kita panjatkan bersama, kasih itu terus hidup — menghubungkan yang telah berpulang dan yang masih berjalan dalam iman.

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”
(Yohanes 11:25)

ARAH DASAR ( ARDAS ) IX KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG


 

MENJADI GEREJA YANG BAHAGIA, MENGINSPIRASI, DAN MENYEJAHTERAKAN

Arah Dasar ke-9 Keuskupan Agung Semarang untuk tahun 2026-2030 KAS

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (KAS) adalah persekutuan paguyuban-paguyuban murid Kristus yang dalam bimbingan Roh Kudus berjalan bersama melaksanakan perutusan
Yesus Sang Guru mewartakan Kerajaan Allah di dunia dengan memperjuangkan hidup yang sejahtera dan bermartabat demi terwujudnya peradaban kasih.

Saat ini bangsa Indonesia terus berjuang mewujudkan tatanan kehidupan bersama berdasarkan Pancasila, terutama mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan, penghormatan hak asasi manusia, kehidupan demokrasi yang partisipatif, kehidupan beragama yang inklusif, dan kelestarian lingkungan.

Dalam kesatuan dengan gerak bangsa tersebut, Umat Allah KAS melibatkan diri sebagai Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan mensejahterakan dalam seluruh gerak pastoralnya. Untuk mewujudkannya,  Umat Allah KAS dengan berbagai karisma:
a. mengembangkan formatio iman yang fundamental, eklesial, total, dan integral serta terarah kepada hidup beriman yang cerdas, tangguh, misioner, dan dialogis;
b. mengambil langkah pertama untuk mewujudkan hidup bermasyarakat yang lebih menghormati hak asasi manusia, mengedepankan aneka dialog, dan melestarikan keutuhan ciptaan;
c. membangun semangat bela rasa dan kerjasama dengan semua pihak di pelbagai bidang untuk meningkatkan mutu kehidupan bersama terutama saudara-saudari yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD).
d. mengembangkan reksa pastoral yang efektif dan adaptif dengan kemajuan teknologi. Umat Allah KAS dengan tulus, setia, dan rendah hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, serta mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja.

Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).

Senam Lansia ke-3 Bersama Tim PIUL Maguwo


Sabtu, 1 November 2025, halaman belakang Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo kembali diwarnai semangat dan tawa para peserta senam lansia. Kegiatan ini merupakan senam lansia yang ke-3, diselenggarakan oleh Tim PIUL Maguwo sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jasmani sekaligus mempererat kebersamaan antarumat, khususnya para lansia.

Kegiatan kali ini mengusung konsep senam tera, yaitu gerakan peregangan dan pernapasan yang menyehatkan, menenangkan, serta mudah diikuti oleh semua kalangan usia lanjut. Dengan iringan musik ceria dan panduan instruktur ( pak Koesno )yang penuh semangat, para peserta mengikuti setiap gerakan dengan antusias sampai berkeringat. Suasana pagi itu terasa hidup — penuh energi, tawa, dan keceriaan bersama.

Selain menyehatkan tubuh, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan sarana berbagi sukacita dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Tim PIUL Maguwo berharap kegiatan seperti ini dapat terus berjalan secara rutin, agar para lansia tetap sehat, bahagia, dan semakin aktif berpartisipasi dalam kehidupan menggereja.

Di balik gerakan sederhana dan tawa bersama, tersimpan pesan indah: bahwa semangat hidup tidak pernah mengenal usia. Selama hati tetap bersyukur dan tubuh terus digerakkan dengan sukacita, setiap hari adalah anugerah baru yang layak dirayakan.

Pertemuan dan Pembekalan Prodiakon St. Maria Bunda Allah Stasi Maguwo

Rabu, 29 Oktober 2025


Pertemuan rutin Prodiakon St. Maria Bunda Allah Stasi Maguwo kembali digelar pada Rabu, 29 Oktober 2025, dimulai pukul 18.10 WIB dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Suster Vinsensia, OP. Setelah doa, acara dilanjutkan dengan pengantar dari Bapak Naryo sekaligus momen santap malam bersama yang menambah kehangatan suasana.

Dalam sesi evaluasi, beberapa hal penting dibahas untuk peningkatan pelayanan liturgi, antara lain:

  • Ucapan “Tubuh Kristus” diharapkan semakin tegas dan jelas ketika membagikan Komuni.
  • Tim kor yang baru mulai bertugas mendapat apresiasi, dan diingatkan agar petugas organis, dirigen, serta pemazmur pada latihan terakhir disamakan dengan hari pelaksanaan.
  • Prodiakon diimbau hadir di ruang sakristi paling lambat pukul 06.40 WIB sebelum bertugas.
  • Saat membagikan Komuni, petugas diharapkan menjaga ketertiban barisan umat tanpa memotong di tengah, dan bila perlu hosti dapat dituangkan ke sibori titik tersebut.
  • Penegasan mengenai busana liturgi utama: alba menjadi pakaian pokok, sementara samir dan singel sebagai pelengkap.
  • Saat membawa sibori dari tabernakel ke altar hendaknya mengenakan alba, dan tidak perlu melakukan penghormatan setelah sibori diambil.

Bagian informasi disampaikan oleh Ibu Eka dan Ibu Dewi yang baru saja mengikuti pertemuan koordinasi Prodiakon se-Paroki Kalasan. Beberapa poin penting yang dibagikan antara lain:

  • Adanya kesempatan belajar memimpin ibadat dan mengenal benda-benda liturgi.
  • Rencana rekoleksi Prodiakon Paroki Kalasan pada 26 Desember 2025 (tempat menyusul).
  • Perlu perhatian khusus bagi prodiakon yang bertugas di titik 6 (depan kor) Gereja Kalasan.
  • Kegiatan Propel Pewarta Paroki berkolaborasi dengan prodiakon pada 2 November 2025 di Wonogondang.

Selain itu, diinformasikan juga beberapa jadwal kegiatan mendatang:

  • Minggu, 2 November 2025, misa peringatan arwah orang beriman akan dilengkapi dengan dua kali percikan, yaitu percikan pengganti doa tobat oleh delapan petugas dan percikan bunga tabur oleh lima belas petugas.
  • Minggu, 9 November 2025, Gereja St. Maria Bunda Allah akan mengadakan tiga misa, termasuk Misa Penutupan Sarasehan Pendampingan Iman Keluarga pukul 14.00, serta Misa Memule pukul 19.00 WIB untuk 1000 hari almarhumah Mbak Danik dan 40 hari almarhum Mas Yuda.

Pertemuan juga diwarnai dengan pembekalan liturgis, antara lain penjelasan tentang Doa Kenduri Sur Tanah, Doa Pemberkatan Batu Nisan, dan Ibadat Syukur lainnya, sebagai bekal bagi para prodiakon dalam pelayanan pastoral di tengah umat.

Di akhir pertemuan, muncul wacana untuk mengadakan perayaan Natal bersama keluarga Prodiakon, sebagai wujud kebersamaan dan sukacita pelayanan.

Acara ditutup dengan doa bersama pada pukul 20.00 WIB, menandai berakhirnya pertemuan yang tidak hanya sarat informasi, tetapi juga mempererat semangat persaudaraan di antara para pelayan altar.

Pengurus Dewan Stasi GMBA Ikuti Temu Pastoral Keuskupan Agung Semarang 2025

“Mendalami ARDAS IX Tahun 2026–2030”


Pada hari Jumat, 17 Oktober 2025, para pengurus Dewan Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) mengikuti kegiatan Temu Pastoral (TEPAS) Keuskupan Agung Semarang secara daring. Kegiatan yang berlangsung di gazebo GMBA ini dimulai pukul 18.30 hingga 21.30 WIB, dengan semangat kebersamaan dan keterbukaan untuk mendalami arah dasar pastoral (ARDAS) Keuskupan yang baru.

Tema TEPAS tahun ini adalah “Mendalami ARDAS IX Tahun 2026–2030”, yang menghadirkan dua narasumber utama:

  • Romo YR Edy Purwanto, Pr., dan
  • Bapak Triwanggono,
    serta dimoderatori oleh Romo P. Bambang Irawan, SJ.

Melalui pertemuan ini, para peserta diajak untuk memahami lebih dalam latar belakang tema ARDAS, menerima pengayaan pastoral, dan melihat harapan capaian lima tahun ke depan bagi seluruh umat di wilayah Keuskupan Agung Semarang.

Kegiatan TEPAS diikuti secara daring oleh berbagai elemen Gereja, termasuk Dewan Konsultor, Dewan Moneter, Dewan Keuskupan, Dewan Imam, Dewan Pastoral KAS, Kevikepan, Paroki, dan Stasi pleno, serta komunitas religius dan seminari di KAS.

Bagi pengurus Dewan Stasi GMBA, kesempatan ini menjadi momen penting untuk menyatu dalam visi pastoral Keuskupan, memperdalam semangat sinodalitas, dan meneguhkan panggilan pelayanan di tengah umat. Dalam suasana doa dan refleksi bersama, para pengurus menyadari bahwa setiap langkah pelayanan Gereja harus berakar pada cinta Allah dan terarah pada kesejahteraan umat — sebagaimana semangat ARDAS yang akan menuntun perjalanan Gereja lima tahun ke depan.

Gereja Katolik Turut Memperingati Hari Pangan Sedunia

GMBA Hadirkan Ungkapan Syukur Lewat Hasil Bumi


Gereja Katolik senantiasa mengajak umat beriman untuk bersyukur atas anugerah ciptaan Tuhan, termasuk pangan yang menopang kehidupan manusia. Dalam semangat Laudato Si’ dan kasih terhadap bumi, Gereja turut memperingati Hari Pangan Sedunia, sebagai ungkapan syukur sekaligus ajakan untuk semakin peduli pada keberlanjutan alam dan kesejahteraan sesama.

Di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), semangat ini diwujudkan secara sederhana namun penuh makna. Tata altar dan hiasan di sekitar gereja pada hari Minggu ini dihiasi dengan hasil bumi — buah-buahan, sayuran, dan aneka panenan alam yang segar dan indah. Semua itu menjadi simbol nyata syukur umat atas rezeki Tuhan yang melimpah, sekaligus tanda kesadaran bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga.

Tahun 1982, Konferensi Wali Gereja Indonesia (dahulu masih bernama Majelis Agung Wali Gereja Indonesia) mengambil bagian secara aktif dalam peringatan dan perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS), baik di tingkat nasional maupun keuskupan. Sejak saat itu, Gerakan HPS Gereja Katolik Indonesia menjadi salah satu bentuk aktualisasi iman kristiani dalam menghargai pangan yang sehat, memuliakan lingkungan hidup yang lestari, dan menghormati para petani yang menyediakan bahan pangan bagi kehidupan.

Secara khusus, peringatan HPS dalam Gereja Katolik Indonesia dijadikan sarana untuk membangkitkan solidaritas dan menghimpun daya umat, guna ikut mengatasi situasi rawan pangan yang masih terjadi di berbagai wilayah tanah air — yang kerap menimbulkan penderitaan bagi masyarakat kecil.

Gerakan HPS Gereja Katolik berangkat dari iman yang dirayakan dan diwujudkan dalam realitas dunia. Dunia ini sesungguhnya adalah tempat di mana Allah, manusia, dan ciptaan lain disatukan oleh Roh Allah sendiri — sumber kehidupan yang memelihara dan menjaga keberlangsungan ciptaan. Melalui kontemplasi atas realitas ini, manusia dipanggil untuk menemukan dan menyadari cinta Allah yang hadir dalam diri sesama dan seluruh ciptaan.

Iman inilah yang menjiwai pelayanan Gereja dalam Gerakan HPS — iman yang peduli pada kecukupan, ketersediaan, dan keberlangsungan pangan yang sehat bagi hidup manusia. Dengan semangat itu, Gereja diharapkan mampu menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam tata kelola pangan di dunia, sebagai wujud nyata kasih dan penyelenggaraan Ilahi bagi seluruh ciptaan.

Melalui peringatan Hari Pangan Sedunia, umat GMBA diajak untuk bersyukur, berbagi, dan semakin mencintai bumi yang menjadi sumber kehidupan — sebagaimana Bunda Maria, yang dengan kesederhanaannya selalu menyimpan segala karya Allah dalam hati, dan menghadirkannya dalam kasih yang memberi hidup.

Workshop Pemantapan Sistem Keamanan Gereja Katolik

Oleh Tim PAMDAL GMBA – 19 Oktober 2025


Dalam semangat pelayanan dan tanggung jawab menjaga ketertiban di rumah Tuhan, Tim PAMDAL Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) melaksanakan program kerja tahun 2025 berupa Workshop Pemantapan Sistem Keamanan Gereja Katolik di GMBA dan Gereja se-DIY, pada Minggu, 19 Oktober 2025, pukul 10.00 WIB.

Acara ini berada di bawah tanggung jawab Bapak Antonius Sumaryanto, seorang purnawirawan TNI AD dari kesatuan Kopassus, yang dalam karier militernya lebih banyak berkecimpung di BNPT ( Badan Nasional Penenggulangan Terorisme ). Dengan pengalaman dan kedisiplinan yang telah teruji, beliau menjadi figur penting yang menuntun Tim PAMDAL GMBA untuk membangun sistem keamanan yang tangguh, tertata, dan berwawasan pelayanan.

Kegiatan ini menghadirkan AM. Bebet Darmawan beserta timnya sebagai pemateri. Turut hadir pula Tim Keamanan PAMDAL GMBA, empat ketua wilayah GMBA, Ketua Forum Keamanan Vikep Timur, Ibu Elisabeth (Ibu Elis), serta tamu undangan dari Tim Keamanan Gereja Babarsari dan Nandan.

Dalam suasana yang disiplin dan penuh semangat, narasumber menjelaskan pentingnya sistem keamanan yang terencana, sigap, dan terlatih. Paparan diawali dengan gambaran mengenai sistem keamanan di Roma dalam pengawalan Sri Paus, yang menjadi inspirasi bagi sistem keamanan di lingkungan gereja lokal. Para peserta diajak untuk memahami bagaimana profesionalisme, kerahasiaan, dan kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menjaga ketenangan jalannya ibadah.

Bagian yang paling menarik adalah saat tim dari Pak Bebet – Mas Doni dan Mas Satria – memimpin sesi simulasi lapangan. Dengan gaya pelatihan yang tegas namun tetap humanis, mereka memperagakan berbagai situasi darurat: mulai dari penanganan terhadap orang yang masuk gereja membawa senjata tajam, hingga teknik melumpuhkan pelaku dengan aman tanpa membahayakan umat. Suasana aula terasa intens, namun penuh rasa hormat akan tanggung jawab mulia menjaga keamanan umat yang sedang beribadah.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman teknis dan taktis, tetapi juga menumbuhkan jiwa kedisiplinan dan pelayanan di antara seluruh anggota PAMDAL. Dengan semangat semi-militer yang terarah pada kasih dan ketertiban, seluruh peserta menyadari bahwa keamanan gereja bukan hanya urusan fisik, tetapi juga bentuk nyata dari pelayanan dan perlindungan terhadap Tubuh Kristus yang hidup dalam umat-Nya.

Melalui workshop ini, Tim PAMDAL GMBA semakin diteguhkan dalam panggilannya.

Saat Nada Menjadi Doa: Cantores GMBA dalam Panggung Grego Julius Orchestra


Sabtu, 18 Oktober 2025, menjadi malam penuh kemuliaan dan sukacita bagi dunia musik rohani Katolik di Yogyakarta. Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma menjadi saksi hadirnya harmoni agung dalam konser Grego Julius Orchestra bertema “Simfoni bagi Sang Pencipta, Saat Nada Menjadi Doa.”

Di tengah gemerlap cahaya dan alunan orkestra yang megah, Tim Cantores Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) tampil dengan penuh percaya diri dan penghayatan mendalam. Suara mereka berpadu indah bersama orkestra dan paduan suara lain seperti Mary Ignacio Choir, Swara Sekawan, Kidung Tyas Dalem, Vox Norte, dan Duta Voice — membentuk satu persembahan rohani yang menyentuh hati.

Bagi Cantores GMBA, malam itu bukan sekadar sebuah penampilan. Itu adalah puncak dari perjalanan panjang, latihan demi latihan, doa demi doa yang mereka jalani dengan setia. Di bawah bimbingan mas FX. Kristanto Nugroho, tim ini menempuh proses latihan yang penuh disiplin dan semangat, demi mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.

Kesempatan berharga ini lahir berkat peran mas Antonius Henri Yulianto, salah satu arranger lagu-lagu karya pak Grego Julius, yang mengajukan nama Cantores Maguwo (CM) untuk turut ambil bagian dalam konser besar ini. Sebuah langkah yang tidak hanya membawa nama Gereja Maguwo ke panggung luas, tetapi juga memperlihatkan bahwa pelayanan musik liturgi dapat menjadi wujud kesaksian iman yang menginspirasi.

Di balik penampilan yang menggetarkan hati itu, berdirilah para penyanyi luar biasa yang membentuk tubuh paduan suara Cantores GMBA:

Sopran: Mia, Nining, Ipuk, Yulia, Rospita, Purna, Amy, Woro, Yuliana, dan Vera.
Alto: Ismawan, Dyah, Lusi, C. Supartini, Flaviana, dan Endang.
Tenor: Tri Mulyono, Danang, Heru, dan Donny.
Bass: Rinto, Wiwid, Bani, Teguh, Reno, Henry, dan Kristanto.

Mereka semua adalah bagian dari keluarga besar Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo yang mempersembahkan talenta mereka bagi Tuhan, bukan untuk kemegahan pribadi, tetapi untuk kemuliaan nama-Nya.

Ketika suara Cantores GMBA mengalun di ruang auditorium yang megah, setiap nada terasa membawa pesan: bahwa musik gerejawi bukan sekadar seni, melainkan doa yang hidup. Suara-suara yang terlatih dan hati-hati yang berapi-api berpadu dalam harmoni yang memuliakan Sang Pencipta. Banyak penonton yang terdiam, larut dalam keindahan musik yang begitu sakral dan menggetarkan jiwa.

Penampilan Cantores GMBA malam itu menjadi buah dari ketekunan, persaudaraan, dan semangat pelayanan. Mereka tidak hanya tampil mewakili sebuah komunitas, tetapi juga membawa wajah Gereja yang penuh kasih, muda, dan bersukacita.

Misa Lansia: Tetap Bersukacita dan Berpengharapan di Masa Tua


Pagi yang teduh menyelimuti Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo ketika lonceng misa belum lagi berdentang. Di antara desir angin dan cahaya matahari yang lembut, satu per satu umat lanjut usia mulai berdatangan. Ada yang berjalan tegap dengan langkah mantap, ada yang perlahan dengan tongkat di tangan, dan ada pula yang didorong dengan kursi roda oleh keluarga tercinta. Semua datang dengan hati yang sama: rindu akan perjumpaan dengan Kristus dalam Ekaristi Kudus.

klik to play

Tepat pukul 08.00, suasana gereja sudah terasa hidup dalam hening doa. Tim Pelayanan Legio Maria memimpin Doa Rosario, membuka hari dengan permenungan yang lembut tentang kasih Bunda Maria yang senantiasa menyertai umat-Nya. Setelah itu, umat bersiap menyambut Perayaan Ekaristi Lansia yang diprakarsai oleh Tim PIUL (Pelayanan Iman Umat Lansia) — sebuah bentuk perhatian dan pendampingan Gereja bagi para umat usia lanjut agar tetap hidup dalam kasih dan semangat iman.

Perayaan Misa dimulai pukul 08.50, dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Sebelum Liturgi Ekaristi dimulai, umat terlebih dahulu berdoa Doa Pembangunan Gereja Paroki St. Maria Marganingsih Kalasan, memohon agar setiap batu dan tenaga yang terlibat menjadi persembahan bagi kemuliaan Tuhan. Doa ini kemudian disusul dengan lagu medley dan lagu pembukaan “Hidup Cerah” yang dibawakan oleh kelompok koor PMG (Pemusik Muda Gereja) Stasi Maguwo, menandai awal perayaan dengan sukacita yang sederhana namun penuh makna.

Tema yang diangkat dalam Misa kali ini “Hidup dalam Sukacita dan Pengharapan di Masa Lansia” — seakan menggema dalam setiap wajah yang hadir. Di usia yang mungkin tak lagi muda, para lansia tetap menunjukkan bahwa iman tidak mengenal batas usia. Dalam khotbahnya, Romo Dadang dengan sapaan hangat dan gaya khasnya mengajak umat untuk meneladani semangat para murid dalam Injil Lukas 10:1–12, ketika Yesus mengutus tujuh puluh murid untuk mewartakan damai.

“Bagi para lansia,” ujar Romo, “pewartaan itu tidak harus dilakukan dengan langkah kaki yang jauh, tetapi dengan ojo ningalake Gusti Yesus — jangan pernah meninggalkan Tuhan Yesus. Biarlah hidup kita menjadi kesaksian bagi anak, cucu, dan sesama, agar mereka melihat kasih Allah melalui kelembutan hati dan kesetiaan kita.”

Suasana khidmat terasa ketika umat menerima Sakramen Ekaristi. Lagu “The Majesty” mengiringi langkah para prodiakon yang membagikan Tubuh Kristus kepada setiap umat dengan penuh hormat. Di tengah keterbatasan fisik, para lansia tetap mengulurkan tangan, menerima dan menyambut Sang Penyelamat dengan hati yang bersyukur.

Menjelang akhir perayaan, umat menerima berkat penutup dari Romo Dadang, disertai lagu “Yubelium” yang dinyanyikan dengan penuh semangat. Wajah-wajah yang telah renta tampak bercahaya—bukan karena muda kembali, melainkan karena dipenuhi oleh sukacita iman yang tidak lekang oleh waktu.

Usai misa, suasana keakraban mewarnai pelataran gereja. Ada yang saling menyapa setelah lama tak bertemu, ada pula yang hanya tersenyum dari kejauhan sambil menggenggam tangan satu sama lain. Dalam perjumpaan sederhana itu, kasih persaudaraan Gereja sungguh terasa nyata.

Dari data yang dihimpun, 215 umat lansia terdaftar mengikuti misa ini, dengan total kehadiran umat sekitar 280 orang. Satu jam yang singkat terasa begitu penuh rahmat—menjadi ruang di mana Gereja memberi tempat istimewa bagi mereka yang telah lama berjuang dalam iman, agar tetap setia, tetap bersyukur, dan tetap bersukacita dalam pengharapan kepada Tuhan.

Di masa ketika tubuh mungkin tak lagi sekuat dulu, Tuhan justru menghadirkan kesempatan untuk memancarkan kasih-Nya dengan cara yang lebih lembut—melalui senyum, doa, dan kesetiaan dalam iman. Sebab sukacita sejati tidak datang dari kekuatan fisik, melainkan dari hati yang tetap bersandar pada Tuhan, sumber pengharapan yang tak pernah pudar.

H-2 Menuju Konser Grego Julius Orchestra — Tim Cantores GMBA Siap Menggema


Dua hari menjelang konser Grego Julius Orchestra yang akan digelar pada 18 Oktober 2025 di Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, suasana latihan tim Cantores GMBA semakin terasa penuh semangat.
Setiap anggota mempersiapkan diri dengan sepenuh hati — menyatukan suara, menajamkan harmoni, dan menata dinamika, agar persembahan yang akan dibawakan menjadi indah dan bermakna.

Konser ini bukan sekadar panggung besar bagi musik dan orkestra, tetapi juga menjadi kesempatan bagi tim Cantores GMBA untuk mempersembahkan pujian dan pelayanan dalam bentuk seni suara. Dalam setiap nada dan bait lagu, tersimpan doa dan kerinduan untuk menghadirkan kehangatan, harapan, serta sukacita bagi semua yang hadir.

Latihan demi latihan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Di sela tawa, kesalahan kecil, dan semangat yang terus tumbuh, tampak jelas bahwa kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama Cantores GMBA. Setiap suara yang berpadu adalah simbol persaudaraan, kerja sama, dan cinta pelayanan yang tulus.

Squad Cantores GMBA siap mempersembahkan harmoni terbaiknya bersama Grego Julius Orchestra — bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk dihayati sebagai ungkapan iman dan syukur.

Dua hari lagi menuju panggung besar.
Dua hari lagi menuju malam yang akan menggetarkan hati.

Road to Show — Grego Julius Orchestra | 18 Oktober 2025 | Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta