Bersama Olah Sampah Plastik Jadi Barang Unik

Sampah plastik sangat sulit terurai. Masa penguraiannya berkisar antara 10-450 tahun. Bahkan, styrofoam sama sekali tidak dapat terurai.

Plastik yang hancur diterpa sinar matahari akhirnya menjadi partikel yang sangat halus. Mikroplastik ini dapat terserap tubuh manusia melalui hewan yang memakannya, bahkan dari oksigen yang kita hirup. Dampaknya bersifat merusak sistem tubuh dalam jangka panjang.

Apa yang bisa kita lakukan?

Mengurangi konsumsi plastik dan menghindari penggunaan plastik akan sangat membantu menurunkan jumlah sampah plastik. Namun, kehidupan modern telah sangat bergantung pada plastik. Mengolah plastik yang sulit didaur ulang menjadi barang bermanfaat bahkan bernilai ekonomi adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk merawat bumi.

Ecobrick, “Bata” dari Sampah Plastik

Semangat ini yang digaungkan dalam pelatihan ecobrick pada Sabtu, 8 Agustus 2026 di Gazebo Gereja Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA). Tim Pelayanan PSE Bidang Kemasyarakatan GMBA mengundang Sanggar Pawuhan untuk berbagi cara membuat ecobrick kepada umat.

Secara sederhana, ecobrick adalah “bata” ramah lingkungan dari sampah plastik yang dipadatkan ke dalam botol air mineral bekas. Plastik seperti kresek, kemasan makanan dan deterjen, hingga sedotan dan styrofoam dipotong kecil-kecil supaya mudah dipadatkan ke dalam botol. Stik kayu atau bambu panjang bisa dipakai untuk membantu proses pemadatan.

“Bagian bawah botol diisi dengan plastik yang lunak dulu seperti kresek, lalu isi dengan plastik yang lebih keras seperti kemasan deterjen. Berselang seling supaya mudah dipadatkan. Memadatkannya dari pinggiran botol,” jelas Yuliana Rini dari Sanggar Pawuhan.

Botol yang sudah terisi harus mencapai berat standar (100-600 gram, tergantung ukuran botol) sehingga bisa menjadi ecobrick. Ecobrick kemudian bisa direkatkan dengan lem silikon untuk disusun menjadi berbagai barang, mulai dari dingklik, meja, lemari, pot tanaman, hingga pagar.

Olah Sampah Plastik Menuju Paroki Hijau

Para peserta yang hadir dengan antusias mengikuti penjelasan Bu Rini dan para fasilitator. Melalui pelatihan ini mereka memperoleh wawasan baru, ada cara lain mengolah plastik sisa konsumsi selain dibuang begitu saja atau dibakar. Ecobrick juga bisa menjadi solusi mengolah plastik yang tidak diterima pemulung atau bank sampah, biasa disebut sampah residu.

“Luar biasa ya, satu botol air mineral kecil seperti ini bisa jadi wadah 200 gram plastik residu,” komentar Bu Yos, salah satu peserta siang itu.

Di pengujung pelatihan, para peserta berkomitmen untuk meneruskan membuat ecobrick di rumah masing-masing. Semuanya berharap bisa melakukan gerakan bersama membangun satu penanda landmark “I Love GMBA” dari ecobrick sebagai langkah mewujudkan GMBA sebagai paroki hijau.

Ecobrick adalah satu solusi untuk mengatasi persoalan sampah plastik, baik di rumah, lingkungan, maupun gereja. Melakukannya bersama akan menjadikannya terasa lebih ringan.

Posted in Berita Terkini, Sosial, Tajuk Utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *