Pertemuan umat lingkungan St. Antonius Padua diawali dg ibadat dipimpin oleh bpk. Martinus Bagus Wicaksono. Ibadat dilaksanakan di rumah. Bpk. Djumingan, dihadiri kurang lebih 20 orang. Ibadat dimulai pkl. 19.30, dan kemudian dilanjutkan dengan pengumuman-pengumuman dari ketua lingkungan.
Pada hari Minggu, 21 September 2025, Kaum Muda Maguwo turut ambil bagian dalam kegiatan Tindak Lanjut Pembekalan Orang Muda Peduli Lansia yang diselenggarakan oleh Komisi Musyawarah Lansia (Kimusi Lansia) Kevikepan Yogyakarta Timur, bertempat di Aula Paroki Bintaran. Kegiatan ini mengusung tema: “Sahabat Lansia, Siap Melayani.”
Setiap paroki diundang dengan perwakilan dua orang muda dan satu anggota Tim PIUL. Namun khusus untuk Maguwo, diperkenankan hadir tiga orang muda: Mbak Dysi, Mas Reno, dan Mas Daniel, yang didampingi oleh dua Tim Pelayanan PIUL, yaitu Bp. Franz dan Bp. Sudiharto.
Setibanya di lokasi, para peserta langsung dikelompokkan sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan. Perwakilan Maguwo ditempatkan dalam Kelompok D Santa Maria, bersama dengan peserta dari Paroki Babadan, Kalasan, Macanan, dan Minomartani.
Acara dimulai tepat pukul 10.30 dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Hymne Yubelium, doa pembukaan, serta doa Yubelium. Dalam sambutannya, Bapak Bambang, selaku Wakil Ketua Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur, menekankan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam kepedulian terhadap para lansia. Beliau berharap OMK tidak hanya mendukung kegiatan PIUL, tetapi juga dapat menginisiasi pelayanan yang digerakkan oleh kaum muda sendiri.
Materi utama pertemuan disampaikan oleh Ibu Yulianti, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok.
Diskusi Tahap 1 membahas tentang pembentukan dua grup WA sebagai sarana komunikasi dan koordinasi. Untuk Kelompok St. Maria, diskusi dipandu oleh dr. Dysi.
Diskusi Tahap 2 berfokus pada penyusunan rencana kegiatan Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur. Di kelompok St. Maria, Mas Daniel bertindak sebagai pemandu, Mas Reno mencatat jalannya diskusi, dan Mbak Dysi menuangkan ide-ide dalam bentuk slogan dan ilustrasi.
Hasil diskusi kemudian dipresentasikan. Sebagai moderator, Bapak Bambang memberikan kesempatan kepada lima kelompok untuk menyampaikan gagasannya. Kelompok St. Maria turut ambil bagian, dengan presentasi disampaikan oleh Mas Daniel dan Mas Reno. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan para peserta mulai merasa lapar, semangat diskusi tetap terjaga hingga akhirnya hanya tiga kelompok yang memaparkan hasil secara penuh, sementara dua kelompok lainnya cukup menyampaikan inti pembahasan.
Pertemuan ditutup dengan doa penutup sekaligus doa makan pada pukul 13.30. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh semangat persaudaraan, menjadi tanda nyata bahwa kaum muda pun siap menjadi sahabat bagi para lansia dalam pelayanan Gereja.
Membangun Kreativitas Sinematik di Wisma SalamWisma Salam, 12–13 Juli 2025 — Sebanyak 40 peserta dari berbagai latar belakang mengikuti Pelatihan Akbar Script Writing & Videography yang diselenggarakan selama dua hari penuh di Wisma Salam. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas peserta dalam penulisan naskah (script writing) dan keterampilan videografi, dua elemen penting dalam produksi konten kreatif dan sinema digital masa kini.
Acara pelatihan ini menjadi momen penting untuk menyatukan para pegiat kreatif, pelajar, guru, dan praktisi media dalam sebuah ruang belajar kolaboratif yang interaktif. Pelatihan difasilitasi oleh para profesional di bidangnya, yang menghadirkan materi komprehensif mulai dari dasar-dasar penulisan skenario, struktur tiga babak, hingga teknik pengambilan gambar, penyutradaraan, dan editing video. Hari pertama pelatihan difokuskan pada Script Writing, di mana peserta diajak untuk memahami pentingnya narasi yang kuat dalam sebuah karya audio-visual. Melalui latihan langsung, peserta menulis skenario pendek yang nantinya dijadikan acuan produksi pada hari berikutnya. Suasana pelatihan berlangsung dinamis, dengan diskusi kelompok dan sesi umpan balik dari fasilitator.
Hari kedua berlanjut dengan pelatihan videografi, di mana peserta dibagi ke dalam tim produksi kecil. Mereka mempraktikkan proses produksi dari skrip yang telah dibuat—mulai dari pemilihan angle kamera, pengaturan pencahayaan, pengambilan suara, hingga proses editing dasar. Hasil akhir berupa video pendek dipresentasikan di sesi penutupan, yang disambut antusias dan penuh apresiasi. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat keterampilan teknis, tetapi juga mempererat jaringan antar peserta. Dalam refleksi penutupan, banyak peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan, bermanfaat, dan memotivasi mereka untuk terus berkarya di bidang media kreatif. Panitia berharap, dari pelatihan ini akan lahir banyak karya inspiratif dan kolaborasi-kolaborasi baru yang berdampak positif bagi masyarakat.
Di era serba cepat ini, saat semua serba online dan sibuk mengejar target harian, ada satu hal penting yang sering terlupakan: ingatan itu sendiri. Mulai dari lupa naruh kunci, lupa bawa dompet, sampai lupa kenapa tadi berdiri depan kulkas—banyak dari kita yang menganggap itu hal biasa. Tapi… benarkah semua itu cuma “pelupa wajar”?
Hari ini, Tim Pelayanan Kesehatan Gereja St. Maria Bunda Allah di bawah naungan Bidang Kemasyarakatan, mengajak kita untuk tidak lagi menyepelekan gejala tersebut lewat acara Bincang Sehat dengan tema: “Pentingnya Deteksi Dini Dimensia atau Pikun.”
Karena dimensia bukan sekadar bagian dari proses menua. Ia adalah kondisi serius yang memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, berkomunikasi, bahkan melakukan aktivitas sehari-hari. Dan justru karena itu, deteksi dini sangat penting—agar kita bisa menyiapkan perawatan, pendampingan, dan dukungan yang terbaik sejak awal.
Acara ini dipandu oleh sosok berpengalaman dan komunikatif, dr. Tri Djoko Endro Susilo, SpPK, yang akan menjadi moderator dalam menggali informasi dari narasumber utama kita : dr. Lothar Matheus M. V., Sp.N., seorang dokter spesialis Neurologi dari RS. Siloam yang membagikan pengetahuan, pengalaman, sekaligus tips-tips penting dalam mengenali dan menghadapi dimensia dengan bijak dan penuh empati.
Yang membuat acara ini semakin istimewa adalah kehadiran teman-teman mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang tengah menyusun tugas akhir tentang keberagaman hidup beragama. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa ruang dialog antariman dan pendidikan bisa berjalan harmonis dan saling memperkaya.
Para peserta pun hadir dengan wajah cerah, hati yang senang, dan rasa penasaran yang tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan: “Ini aku cuma pelupa atau perlu periksa?” “Apa tanda-tanda awal dimensia?” “Bagaimana cara merawat orang terdekat yang mulai mengalami penurunan daya ingat?”
Pertanyaan itu muncul bukan karena takut, tapi karena peduli. Karena sehat bukan hanya tentang bebas dari penyakit, tetapi juga tentang menjaga kejernihan pikiran, kualitas hidup, dan martabat di usia lanjut.
Dan hari ini, kita belajar bersama: Bahwa mengingat itu bukan sekadar fungsi otak—tapi juga bagian dari jati diri, hubungan sosial, dan makna kehidupan itu sendiri.
Pekan Suci 2025 akhirnya selesai juga. Semua perayaan berjalan dengan lancar, tenang, dan penuh kekudusan… kecuali di area sekitar mixer, di mana kabel-kabel bersliweran seperti mie ayam level galau dan headset berpindah tangan lebih cepat dari gosip di grup WA. Tapi salut buat tim soundsystem GMBA: walau sempat ada momen “mic-nya nggak nyalaaaa!” dan “lah…volumenya belum naik……….?”, semuanya tetap bisa teratasi berkat skill, kepekaan batin, dan tentu saja, kebetulan yang sangat ilahi.
Untuk mengevaluasi semua kejadian tersebut, sekaligus menenangkan jiwa yang habis terbakar volume overload dan feedback tak terduga, maka digelarlah rapat agung nan meriah di rumah Mas Felix pada Sabtu, 3 Mei 2025. Tentu saja, rapat ini berlangsung serius… selama lima menit pertama. Sisanya? Tertawa bernyanyi , dan merencanakan konser besar-besaran yang masih belum jelas kapan dan di mana, tapi udah keburu dibayangkan bak konser Coldplay versi Katolik.
Agenda utama rapat:
Evaluasi Pekan Suci
makan malam
Bahas Rencana konser (yang lebih banyak dibahas lewat mimpi)
Makan lagi
makan lagi
makan lagi
Satu yang pasti :
tim ini makin solid, makin kocak, dan makin siap bikin konser yang nggak cuma rame sound-nya, tapi juga penuh cinta, tawa, dan mungkin sedikit kebakaran kabel (yang bisa dimaklumi).
thanks to
mas Darwanto, mas felix, mas jiwo, mas Danang stef, & mas Probo
Setelah semua kabel dicolok, speaker tes tes 1-2 lancar, dan gladi bersih tinggal nunggu rundown, tim soundsystem GMBA pun membelah diri ke ruangan sebelah. Bukan buat rapat…………Bukan juga buat briefing. Tapi buat………………….. karaoke….wkwkwkwkwkw
Iya, bener. Di ruangan lain, yang biasanya buat istirahat, mendadak berubah jadi panggung dadakan. Mic dipegang erat, playlist dibuka, dan lagu nostalgia pun menggema. Katanya sih buat “ngetes mic cadangan”, tapi kenapa jadi ada yang nyanyi pakai hati sampe nutup mata ya…
Lagu berganti, suara bergema, dan suara-suara “unik” mulai terdengar,……….. dari yang kayak Ariel sampe yang lebih cocok jadi efek suara film horor.
Mas Felix langsung nyamber mic, katanya, “Cek sound mic cadangan,” tapi kok lagunya Sandiwara cinta……wkwkwkw Mas Probo duduk santai, si penyanyi dengan suara paling lantang dengan lagu lagu golden memory nya……… Mas Darwanto si paling anteng tapi diam diam ikut bernyanyi………. Dan Mas Danang Stef………………….Dia penyanyi paling niat, bawa playlist sendiri dan nyanyi sambil tutup mata, seolah konser tunggal.
sayang satu personil gak join karna katanya lagi ………mmm…..mmm……( lupa…….)
Ruangan karaoke mendadak lebih rame dari area panggung. Speaker kecil, tapi semangat besar. Di luar, orang kira mereka lagi istirahat. Padahal ini… ritual recharge energi spiritual dan vokal.
Begitulah tim soundsistem GMBA: kerja rapih, suara bening, tapi jeda tetap jenaka. Dan di balik kabel rapi itu, tersimpan hasrat jadi bintang karaoke……hahahaha
Gereja yang hidup dan bertumbuh tidak lepas dari peran banyak tangan yang bekerja dalam diam namun penuh semangat. Di balik setiap kegiatan liturgi, pelayanan sosial, pembinaan umat, hingga urusan rumah tangga gereja—ada sekelompok orang yang dengan rendah hati memberi waktu, tenaga, dan hati mereka untuk melayani.
Mari kita mengenal jajaran Pengurus Dewan Stasi Maria Bunda Allah Maguwo periode 2023 – 2025, yang siap berjalan bersama umat dan mendampingi setiap langkah pertumbuhan iman di stasi kita tercinta:
Pelayan Bukan Bos, Tapi Sahabat Iman
Yang perlu diingat, para pengurus ini bukanlah “atasan” umat, tapi sahabat seperjalanan dalam peziarahan iman. Mereka adalah pribadi-pribadi biasa yang juga bekerja, mengurus keluarga, menghadapi kesulitan… tapi memilih untuk tetap melayani.
Tugas mereka tidak selalu mudah, bahkan sering kali melelahkan. Namun dengan dukungan umat, semangat doa, dan kerja sama yang erat, kita percaya bahwa bersama-sama kita bisa menjadikan Stasi Maria Bunda Allah Maguwo sebagai gereja kecil yang hidup, hangat, dan penuh harapan.
Umat menyetor sampah anorganik yang dapat didaur ulang setiap minggu ke-2 dan ke-4
Meski baru memulai perjalanannya selama setahun, Bank Daur Ulang GMBA berhasil mengumpulkan sampah anorganik yang dapat didaur ulang sebanyak 3.051,8 kg sepanjang tahun 2024. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya umat GMBA untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menjalankan Ajaran Sosial Gereja.
Dampak krisis ekologi semakin mengancam kehidupan manusia. Di Yogya sendiri, persoalan sampah terus mengemuka sejak pemerintah memutuskan menutup TPA Piyungan karena sudah tidak bisa menampung sampah.
Dengan kondisi ini, Ajaran Sosial Gereja mengenai kesadaran merawat dan menjaga Bumi sebagai rumah kita bersama menjadi kian relevan. Seruan Paus Fransiskus yang termuat dalam ensiklik Laudato Si tersebut mengajak komitmen dan keterlibatan semua pihak untuk mengatasi krisis ekologi yang terjadi.
Sebagai bentuk gerakan kolektif umat GMBA menjawab seruan Bapa Suci, Bank Daur Ulang GMBA memulai kegiatan pada Januari 2024. Setiap bulan pada minggu ke-2 dan ke-4, umat dapat mengumpulkan sampah anorganik seperti kertas, plastik, logam, kaca, dan minyak jelantah ke gereja. Semua bahan daur ulang ini kemudian diambil mitra pengepul dan diteruskan ke tempat-tempat daur ulang.
Paguyuban Ibu-Ibu Stasi memilah botol plastik dari Rumah Botol di gereja
Selain itu, Bank Daur Ulang GMBA juga menyediakan dua “Rumah Botol” yang terletak di halaman depan dan belakang gereja. Kehadiran Rumah Botol ini diharapkan dapat melatih umat terbiasa memilah sampah anorganik, dimulai dari botol plastik bekas minuman. Saat Rumah Botol sudah penuh, Paguyuban Ibu-Ibu Stasi akan mengosongkannya, memisahkan tutup serta label kemasan dari botol, sehingga botol plastik dapat memperoleh harga yang lebih tinggi dari mitra pengepul.
Kegiatan Bank Daur Ulang GMBA selalu diinformasikan melalui pengumuman di gereja dan koordinator masing-masing lingkungan. Berkat upaya ini, puji Tuhan kegiatan Bank Daur Ulang mendapat respons yang cukup positif. Hingga Desember 2024, sudah 15 lingkungan dari 17 lingkungan yang berpartisipasi mengumpulkan bahan daur ulang.
Sepanjang tahun 2024, Bank Daur Ulang GMBA berhasil mengumpulkan lebih dari 3 ton sampah anorganik untuk didaur ulang. Total keseluruhan sampah anorganik yang dikumpulkan mencapai 3.051,8 kg, terdiri dari 1.632,65 kg kertas, 772 kg plastik, 291,4 kg logam, 150,95 kg kaca, 171,5 kg jelantah, dan 33,3 kg sampah anorganik kategori lainnya (oli bekas, televisi, lampu LED).
Seluruh pengelola Bank Daur Ulang GMBA berharap di tahun 2025 semakin banyak umat yang terlibat dalam kegiatan ini, sehingga menjadi bagian solusi permasalahan sampah di Yogya dan Bumi terjaga kelestariannya. Ayo pilah sampah dari rumah, dan setorkan ke Bank Daur Ulang GMBA setiap minggu ke-2 atau ke-4 di gereja!
Dalam merayakan peringatan akan kelahiran Yesus ke dunia, Gereja Bunda Maria akan meyelenggarakan dua rangkaian acara utama, antara lain:
Perayaan Ekaristi Malam Natal. Paduan suara malaikat kecil, yaitu anak-anak PIA Bunda Maria Maguwo bersama kelompok kor orang dewasa akan memberi warna penuh kegembiraan. Malam Natal ini juga akan menjadi malam yang istimewa bagi semua anak yang mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja Bunda Maria Maguwo. Rm. Ambrosius Wignyo, Pr akan membagikan Kado Natal bagi semua anak;
Jagong Bayi. Suatu terobosan inkulturatif yakni mengkulturkan budaya Jawa ke dalam tradisi Gereja. Acara Jagong Bayi dirancang oleh Rm. Budi, Pr bertujuan memperdalam penghayatan peringatan akan kedatangan Yesus ke dunia, sekaligus menghidupkan suasana gembira selama masa Natal. Setiap umat Lingkungan diberi kebebasan untuk merancang acara Jagong Bayi dalam konteks perayaan natal. Acara Jagong bayi berlangsung dari tanggal 24 Desember 2017 sampai dengan tanggal 6 Januari 2018.
Leave a Reply