JADWAL MISA PEKAN SUCI 2018 – GEREJA ST. MARIA BUNDA ALLAH MAGUWO

Jadwal Misa Pekan Suci 2018 di Gereja Katolik Santa Maria Bunda Allah Maguwo – Jl. Anggrek no.6 Karangploso, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta

Minggu Palma, 25 Maret 2018 – Pkl. 07.00 WIB dipimpin oleh Rm. Ambrosius Wagiman Wignyo, Pr

Kamis Putih, 29 Maret – Pkl. 18.00 WIB dipimpin oleh Rm. Yohanes Don Bosco, CMF

Ibadat Tujuh Sabda, 30 Maret, Pkl. 08.00 WIB

Jumat Agung, 30 Maret 2018, Pkl. 15.00 WIB dipimpin oleh Rm. Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr

Malam Paskah, 31Maret 2018, Pkl. 18.00 WIB dipimpin oleh Rm. Egidius Taimenas, SVD

Jadwal Misa Natal & Jagong Bayi 2017 Gereja Bunda Maria Maguwo

Dalam merayakan peringatan akan kelahiran Yesus ke dunia, Gereja Bunda Maria akan meyelenggarakan dua rangkaian acara utama, antara lain:

  1. Perayaan Ekaristi Malam Natal. Paduan suara malaikat kecil, yaitu anak-anak PIA Bunda Maria Maguwo bersama kelompok kor orang dewasa akan memberi warna penuh kegembiraan. Malam Natal ini juga akan menjadi malam yang istimewa bagi semua anak yang mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja Bunda Maria Maguwo. Rm. Ambrosius Wignyo, Pr akan membagikan Kado Natal bagi semua anak;
  2. Jagong Bayi. Suatu terobosan inkulturatif yakni mengkulturkan budaya Jawa ke dalam tradisi Gereja. Acara Jagong Bayi dirancang oleh Rm. Budi, Pr bertujuan memperdalam penghayatan peringatan akan kedatangan Yesus ke dunia, sekaligus menghidupkan suasana gembira selama masa Natal. Setiap umat Lingkungan diberi kebebasan untuk merancang acara Jagong Bayi dalam konteks perayaan natal. Acara Jagong bayi berlangsung dari tanggal 24 Desember 2017 sampai dengan tanggal 6 Januari 2018.

Info Misa Natal 2017

JAGONG BAYI TEKS FIX

Jadwal Jagong Bayi Natal 2017

Selamat merayakan peringatan akan Kelahiran Yesus 2017

 

Penyambutan Salib AYD di Stasi Bunda Maria Maguwo

Dalam rangka acara Kirab Salib Asian Youth Day, Stasi Bunda Maria Maguwo, Paroki Marganingsih Kalasan Yogyakarta, mendapat kesempatan untuk menyambut, berdevosi serta melaksanakan perayaan sukacita pada tanggal 3 – 5 Mei 2017. Kegiatan sukacita kirab Salib AYD tersebut melibatkan semua umat dari ke14 Lingkungan yang ada di Stasi Bunda Maria Maguwo. Pada hari pertama, 3 Mei 2017, Salib AYD dikirab dari Stasi Berbah, Paroki Marganingsih Kalasan Yogyakarta. Salib AYD disambut dengan Tarian Hedung (tarian perang) oleh mahasiswa Adonara, Flores Timur, NTT, dan diarak menuju Pintu Gerbang Gereja Bunda Maria Maguwo. Salib tersebut lalu diarak menuju Altar dengan Tarian Likurai, dari Belu Timor, oleh para Aspiran Susteran Claretian, dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi Kudus oleh concelebrant yang terdiri dari Rm. Budi, Pr, Rm. Wignyo, Pr, dan Rm. Merdi, Pr. Devosi kepada Salib dilaksanakan oleh Umat setelah perayaan Ekaristi Kudus.

Hari ke dua, 4 Mei 2017, acara sukacita dilaksanakan oleh umat Stasi Bunda Maria Maguwo dalam berbagai acara, antara lain lomba stand lingkungan, lomba bakiak, fashion show berbusana petani, dan gebyar band. pada hari ke tiga, 5 Mei 2017, Salib AYD dikirab oleh OMK Paroki Marganingsih Kalasan Yogyakarta menuju Paroki Babarsari.

Profisiat buat OMK Stasi Bunda Maria Maguwo yang telah mempersiapkan dan menyelenggarakan acara tersebut.

Jadwal petugas liturgi Februari 2017

PETUGAS JUMAT I
03 FEBRUARI
MINGGU I
05 FEBRUARI
MINGGU II
12 FEBRUARI
MINGGU III
19 FEBRUARI
MINGGU IV
26 FEBRUARI
Pemimpin Rama Marcelo SVD Rm Embrosius Wignyo Sumantoro Pr Rm Laurentius Merdi Agus Nugroho Pr Rm Robertus Budi Haryana Pr Rm Mateus Mali CSsR
Prodiakon Sesuai jadwal Sesuai jadwal Sesuai Jadwal Sesuai Jadwal Sesuai jadwal
Putra Altar Raka, Octa(K)
Okta(B), Selvi
Keisha(K), Brian, Anas, Maurice Fabian, Rio, Dinda, Dani Vita, Yudha, Sari, Nyanya Wenzel, Riani, Reno, Adi
Lektor Maurice
Ibr 13:1-8
Noviyanti, Adimas
Yes 58:7-10
1Kor 2:1-5
Titien, Pak Eko
Sir 15:15-20
1Kor 2:6-10
Elisabeth Las,
Octa
Im 19:1-2.17-18
1Kor 3:16-23
Destia, Ibu Sandra
Yes 49:14-15
1Kor 4:1-5
Koor M Asumpta Fr Asisi St Petrus St Paulus M Immaculata
Tata Laksana St Yohanes Pembaptis St Gregorius St Bartholomeus Brayat Minulya St Monica
Pemazmur

Ibu Ismiatun (Brayat Minulya) Ibu Margaretha Retno Ibu Yuli
(M Assumpta)
Ibu Nikma Heru (Gregorius)
Parkir M Assumpta Yoh Pembaptis RBM Fr Asisi
 JADWAL PETUGAS GBM BULAN FEBRUARI 2017

Agustinus Adisutjipto: Bapak Penerbang Indonesia

Agustinus Adisutjipto

Agustinus Adisutjipto

Lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 3 Juli 1916 – meninggal di Bantul, Yogyakarta 29 Juli 1947 pada umur 31 tahun. Beliau adalah seorang Katolik, pahlawan nasional, dan seorang komodor udara Indonesia

Agustinus Adisutjipto sempat belajar di Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoge School) di Jakarta, tetapi tidak selesai. Kemudian ia memutuskan untuk pindah ke Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati. Selesai pendidikan ia bertugas di Squadron Pengintai Udara.

Sesudah Indonesia merdeka, ia menyumbangkan tenaga membina Angkatan Udara Republik Indonesia bersama S. Suryadarma, yang kemudian diangkat menjadi Kepala Staf AURI. Saat itu, tenaga penerbang sangat sedikit. Pesawat terbang hampir-hampir tidak ada, dan kalau pun ada sudah rongsokan. Teknisi-teknisi Indonesia berusaha memperbaiki pesawat tersebut. Tanggal 27 Oktober 1945, Adisutjipto berhasil menerbangkan sebuah pesawat. Penerbangan itu adalah penerbangan pertama yang dilakukan oleh putra Indonesia. Pada tanggal 1 Desember 1945 Adisutjipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang kemudian diganti namanya menjadi Bandara Adisucipto, untuk mengenang jasa beliau sebagai pahlawan nasional. Di situ dididik kader-kader Angkatan Udara. Karena jasa-jasanya itu Adisutjipto disebut bapak Penerbang Indonesia.

Jabatan lain yang pernah dipegangnya ialah Wakil II Kepala Staf Angkatan Udara. Selain itu, pernah pula ditugasi ke India dan Filipina untuk mencari tenaga pelatih dan menyewa pesawat terbang. Di India, berkat bantuan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru, ia berhasil mengadakan perundingan dengan Patnaik yang kemudian bersedia menyewakan sebuat pesawat Dakota.

Agustinus Adisutjipto adalah pribadi yang mempunyai komitmen tinggi terhadap negara dan bangsa. Komitmen itu tidak lepas dari hidup imannya yang kuat. Iman kepada Kristus telah menggerakkan hidupnya untuk melayani dan mengabdi kepada sesama bangsa dan negara meski risiko besar harus ditanggung.

Marsekal Muda (Pur) Agustinus Adisutjipto akrab dipanggil Cip namun kemudian rekan-rekannya memanggilnya Pak Adi merupakan putra pertama dari lima bersaudara buah perkawinan Roewidodarmo dan Latifatun. Adisutjipto, sangat gemar bermain sepakbola, naik gunung, tenis dan catur. Intelektualitasnya terasah lewat hobinya membaca buku-buku kemiliteran dan filsafat. Pribadinya dikenal pendiam, namun sangat reaktif bila harga dirinya terinjak. Ketika Jepang mendarat Maret 1942, peta penerbangan Hindia Belanda berubah. Adisutjipto yang ketika PD II pecah ditempatkan di skadron intai di Jawa beserta rekan-rekannya seperti Sujono, Sulistyo, dan Husein Sastranegara, tidak pernah lagi terbang. Semua yang berbau Belanda dimusnahkan. Untuk mengisi kekosongan, Cip bekerja di perusahaan angkutan bus milik Jepang.

Sejak pekik kemerdekaan berkumandang 17 Agustus 1945, satu demi satu muncul berbagai tuntutan. Termasuk penerbangan militer. Suryadarma bertindak cepat. Para eks penerbang AU Hindia Belanda, seperti Adisutjipto, dipanggilnya. Berbagai langkah konsolidasi, mulai dari mengumpulkan ratusan pesawat sampai mengupayakan perbaikan pesa-wat-pesawat peninggalan Jepang, diambil.

Usaha Suryadarma langsung berbuah. Buktinya, Adisutjipto berhasil menerbangkan pesawat Nishikoren dari Cibereum ke Maguwo, 10 Oktober 1945. Peristiwa ini tercatat sebagai penerbangan pertama di wilayah RI merdeka oleh awak Indonesia. Tujuhbelas hari kemudian, kembali Adisutjipto membakar semangat perjuangan dengan menerbangkan pesawat Cureng bertanda merah putih. Peristiwa ini mengukir lagi catatan sejarah, sebagai penerbangan berbendera merah putih pertama di tanah air.

Adi Sutjipto terbang ke India untuk mengambil obat2an dan sekembalinya dari India ketika memasuki wilayah Indonesia. Di ujung cakrawala, terlihat pesawat Dakota VT-CLA melakukan approach. Para penumpangnya, Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, AN Constantine (pilot), R Hazelhurst (ko-pilot), Adisumarmo Wiryokusumo (engineer), Bhida Ram, Nyonya Constantine, Zainal Arifin (wakil dagang RI), dan Gani Handonocokro, tentu bahagia karena sesaat lagi akan mendarat. Begitu juga Sudarjono yang lagi piket, akan bertemu dengan kakaknya.

Sekonyong-konyong, muncul dua pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda dari arah utara yang langsung memberondong Dakota, pesawat sipil yang jelas-jelas membawa bantuan. Pesawat kehilangan ketinggian, melayang kencang dan menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian. Begitu pesawat terhempas ke tanah, langsung terbakar. Suryadarma dan semua orang penunggu, berlarian ke arah pesawat naas. Peristiwa itu terjadi di Dusun Ngoto pada tanggal 29 Juli 1947. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta.

Laksamana Madya Yosaphat Sudarso: Berkorban untuk keselamatan teman

Yos_SudarsoLaksamana Madya Yosaphat Soedarso atau yang lebih dikenal dengan nama Yos Sudarso adalah pahlawan nasional Indonesia yang dilahirkan di Salatiga, Jawa Tengah, 24 November 1925 dan pernah menjabat sebagai Kepala Staff Angkatan Laut. Meski sebagai orang nomor satu di TNI AL, ia bukanlah tipe pemimpin yang berdiam diri di belakang meja. Di usianya yang masih muda 36 tahun, ia turut ke medan tempur maju ke garis depan untuk merebut Irian Barat dari kolonial Belanda. Di atas KRI Macan Tutul di Laut Aru, Yos Sudarso gugur dengan berani. Pertempuran Laut Aru adalah suatu pertempuran yang terjadi di Laut Aru, Maluku, pada tanggal 15 Januari 1962 antara Indonesia dan Belanda. Insiden ini terjadi sewaktu dua kapal jenis destroyer, pesawat jenis Neptune dan Frely milik Belanda menyerang KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau milik Indonesia yang sedang berpatroli pada posisi 04,49° LS dan 135,02° BT. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, “Kobarkan semangat pertempuran”. Pada saat itu terjadi pertempuran sengit antara pasukan militer Indonesia dengan Belanda. Meski berstatus sebagai Kepala Staff TNI-AL Yos sudarso ikut turut ke medan tempur. Naas dalam peristiwa tersebut, Laksamana Madya Yos Sudarso gugur setelah KRI Macan Tutul di bombardir Belanda di Laut Aru saat melawan armada Belanda. Armada Indonesia di bawah pimpinan Yos Sudarso, yang saat itu berada di KRI Macan Tutul, berhasil melakukan manuver untuk mengalihkan perhatian musuh sehingga hanya memusatkan penyerangan ke KRI Macan Tutul. KRI Macan Tutul tenggelam beserta awaknya, tapi kedua kapal lainnya berhasil selamat. Beliau gugur di atas KRI Macan Tutul dalam pertempuran Laut Aru pada masa kampanye Trikora. Namanya kini diabadikan pada sebuah KRI dan pulau. Ia gugur di atas KRI Macan Tutul pada tanggal 13 Januari 1962 pada saat berusia 36 tahun. Keikutsertaannya dalam posisi sebagai KSAL-pun dipertanyakan karena tidak lazimnya seorang Kepala Staff Angkatan Laut turun langsung dalam medan tempur. Untuk menghargai jasa-jasa atas keikutsertaannya dalam memperjuangkan merebut Irian Barat, ia dianugerahi sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Kini namanya diabadikan sebagai nama armada angkatan laut Indonesia, nama pulau, dan nama jalan-jalan protokol di kota-kota besar Indonesia. Ia meninggalkan seorang istri bernama Ny. Siti Kustini, yang dinikahinya pada tahun 1955 dan dikaruniai lima anak dan dua diantaranya meninggal dunia. Berselang 44 tahun setelah Yos Sudarso meninggal. Istri pahlawan Aru ini, Nyonya Josephine F Siti Kustini kemudian meninggal. Siti Kustini yang merupakan kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 1935, meninggal dunia pada usia 71 tahun tepatnya, Sabtu 2 September 2006 pukul 14.00, di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr Mintohardjo, Jakarta. Akibat penyakit jantung dan radang paru-paru. Jenazah kemudian dimakamkan, Senin, 4 September 2006 di Tempat Pemakaman Umum Kaliwuluh, Desa Kaliwuluh, Kecamatan Kebak Kramat, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Semasa hidupnya, Ny. Siti Kustini dikenal sebagai orang yang sangat disiplin, selalu tepat waktu, termasuk menunaikan ibadah agama dengan mengikuti misa kudus hampir setiap hari. Sebelum pemberangkatan jenazah dari Jakarta menuju Surakarta dengan menggunakan pesawat TNI AL dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Misa arwah terlebih dahulu dilakukan yang dipimpin Pastor Luarens di kediaman almarhumah, di jalan Cimandiri Nomor 12, Cikini, Jakarta Pusat. Saat itu juga dihadiri mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana (Purn) Sudomo, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, dan sesepuh TNI AL lainnya