Adven III Umat Stasi Maguwo: Menjadi Gereja yang Menyejahterakan


Memasuki Minggu Adven III, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hangat untuk mengikuti pertemuan Adven dengan tema “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan.” Tema ini mengajak umat untuk semakin membuka hati, melihat sesama, dan menghadirkan kesejahteraan bagi banyak orang melalui bela rasa dan kerjasama.
Setiap lingkungan berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh keakraban, dipersatukan oleh semangat yang sama: membangun Gereja yang semakin menyejahterakan.

Pertemuan dimulai dengan nyanyian pembuka, disusul doa pembuka yang membawa umat masuk dalam suasana doa dan penantian yang mendalam. Suasana hening dan kebersamaan malam ini menjadi tempat yang baik untuk menyiapkan hati menyambut kehadiran Sang Juru Selamat.


Pengantar: Menghidupi Semangat Bela Rasa

Dalam pengantar pertemuan, umat diajak merenungkan bahwa menjadi Gereja yang menyejahterakan bukan hanya tugas para pemimpin Gereja, tetapi panggilan setiap orang beriman. Kesejahteraan terwujud ketika kita mau hadir, peduli, dan menjadi tanda kasih Tuhan bagi sesama.

Gereja dipanggil untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi untuk keluar, melihat sekitar, dan terlibat menghadirkan kebaikan. Adven mengajak kita menyiapkan hati sekaligus menyiapkan tindakan nyata untuk mewujudkan kesejahteraan bersama—di keluarga, lingkungan, wilayah, dan stasi.


Inspirasi Iman: Puzzle Kesejahteraan

Pertemuan Adven III malam ini juga dilengkapi dengan dinamika menyusun puzzle, sebagai simbol bahwa kesejahteraan sejati adalah hasil karya bersama. Umat menerima potongan gambar dari berbagai bentuk—gambar keluarga harmonis, orang yang tersenyum, atau suasana damai—untuk dirangkai kembali menjadi gambar utuh.

Dinamika sederhana ini mengingatkan umat bahwa:

  • setiap orang membawa “potongan kebaikannya” sendiri,
  • setiap talenta saling melengkapi,
  • dan kesejahteraan hanya terwujud ketika semua bekerja bersama.

Sebagaimana puzzle tidak akan lengkap tanpa satu potongan pun, demikian pula Gereja tidak akan bisa menyejahterakan jika warganya berjalan sendiri-sendiri.


Refleksi Iman: Pesan Paus Fransiskus

Dalam refleksi, umat merenungkan pesan Paus Fransiskus yang menegaskan bahwa setiap manusia adalah saudara, tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang. Kesejahteraan menurut Gereja bukan sekadar kesejahteraan materi, tetapi kesejahteraan yang memanusiakan setiap orang.

Paus mengingatkan bahwa masyarakat yang terpecah-pecah tidak mungkin menciptakan kesejahteraan. Justru dengan berbela rasa, bekerjasama, saling peduli, dan membangun relasi yang hangat, kita dapat menghadirkan “keluarga manusia” yang sejati.


Peneguhan Kitab Suci

Sabda Tuhan yang dibacakan menjadi sumber kekuatan bagi umat untuk semakin memahami panggilan sebagai Gereja yang melayani kesejahteraan bersama. Sabda tersebut mengingatkan bahwa tindakan kasih adalah bagian dari karya keselamatan Tuhan yang hadir melalui setiap pribadi yang mau peduli.


Penutup

Pertemuan ditutup dengan doa bersama, memohon agar umat semakin mampu menghidupi semangat bela rasa dan kerjasama, sehingga Gereja sungguh menjadi tempat yang menumbuhkan harapan dan kesejahteraan bagi semua orang.

Melalui Adven III ini, umat Stasi Maguwo—khususnya lingkungan St. Monika, St. Klara, St. Yohanes Pembaptis, St. Gregorius, Bramin, St. Theresia, St. Stefanus, dan St. Yusuf—diajak untuk semakin siap menyambut kelahiran Kristus, Sang Sumber Sukacita dan Kesejahteraan sejati.

Doa Adven III Lingkungan Santo Petrus : “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan”

Doa Adven III Lingkungan Santo Petrus dilaksanakan pada Selasa, 9 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah Mba Lely. Ibadat ini dipimpin oleh Ibu Mulyadi dan dihadiri oleh 15 umat yang mengikuti dengan penuh keakraban dan sukacita.

Dengan tema “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan”, suasana doa diisi dengan renungan mengenai panggilan Gereja untuk menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi sesama. Bukan hanya kesejahteraan lahiriah, tetapi juga kesejahteraan batin, kasih, perhatian, dan kepedulian.

Salah satu bagian paling menarik dalam acara ini adalah permainan menyusun puzzle gambar yang disiapkan sebagai sarana refleksi. Setiap umat diberikan beberapa potongan puzzle yang tampaknya sederhana, namun menyimpan makna mendalam.

Permainan ini ingin menggambarkan bahwa kesejahteraan sejati adalah hasil dari upaya bersama. Sama seperti puzzle, tanpa satu bagian pun, gambar tidak akan pernah menjadi lengkap. Begitu pula dalam kehidupan komunitas: satu orang yang terabaikan akan membuat gambaran kesejahteraan menjadi tidak utuh.

Setiap potongan puzzle melambangkan setiap pribadi dalam masyarakat, masing-masing dengan keunikan, kebutuhan, dan peran penting yang tidak dapat digantikan. Menjadi Gereja yang menyejahterakan berarti kita tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi aktif mencari, memperhatikan, dan merangkul mereka yang “hilang” atau “tersembunyi”—mereka yang mungkin tersisihkan, lemah, atau membutuhkan uluran tangan.

Ketika semua potongan puzzle tersusun dengan baik, tampaklah sebuah gambar yang indah dan sempurna. Hal ini menjadi simbol bahwa sebuah komunitas yang sejahtera adalah komunitas di mana setiap orang merasa dihargai, diakui, dan memiliki tempat. Tidak ada yang tersisih, dan semua berperan dalam membangun kebahagiaan bersama.

Doa Adven III ini menjadi momen berharga bagi umat Lingkungan Santo Petrus untuk meneguhkan komitmen sebagai Gereja yang hidup bagi sesama—menghadirkan kesejahteraan, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata dan kepedulian setiap hari. Dengan semangat Adven, umat diajak terus mempersiapkan diri menyambut Kristus Sang Damai yang datang membawa harapan dan kesejahteraan bagi seluruh dunia.

Doa Lingkungan Santo Petrus – Adven II

Doa lingkungan Santo Petrus untuk Adven II tahun ini berlangsung hangat dan penuh sukacita. Pertemuan yang digelar pada Kamis, 4 Desember pukul 19.00 di rumah Ibu Wati ini dipimpin oleh Ibu Maya dan dihadiri oleh 15 umat. Cuaca yang sebelumnya sempat diguyur hujan akhirnya cerah kembali, sehingga banyak umat dapat hadir dan mengikuti doa dengan penuh semangat.

Suasana Doa yang Hangat dan Bersahabat

Pertemuan dimulai dengan pengantar mengenai tema Adven II, yaitu “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi.” Ibu Maya mengajak umat untuk merenungkan bagaimana setiap pribadi dipanggil untuk menjadi terang dan inspirasi di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Dengan bacaan dan renungan Adven, umat diajak untuk melihat bahwa perjalanan Gereja bukanlah perjalanan satu orang saja, melainkan perjalanan bersama—di mana setiap umat berperan dalam menghadirkan kasih, pengharapan, dan damai Kristus.

Permainan Kolaboratif: Satu Goresan, Satu Peran

Salah satu momen menarik dalam pertemuan ini adalah permainan sederhana namun sarat makna. Setiap peserta diberi selembar kertas kosong dan secara bergiliran diminta membuat satu goresan kecil. Goresan-goresan tersebut, meski berbeda bentuk dan arah, perlahan menyatu menjadi sebuah gambar utuh.

Melalui permainan ini, umat diingatkan bahwa:

  • Setiap orang memiliki peran penting dalam komunitas.
  • Tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil.
  • Saat setiap pribadi memberikan bagian terbaiknya, maka terbentuklah kesatuan yang indah—seperti Gereja yang tumbuh karena kontribusi seluruh umatnya.

Gambar akhir yang terbentuk menjadi simbol nyata bahwa perjalanan sebagai Gereja dilakukan bersama, saling melengkapi, dan saling menguatkan.

Penutup yang Penuh Sukacita

Doa lingkungan ditutup dengan berkat dan harapan agar umat semakin siap menyambut kedatangan Tuhan dalam masa Adven. Pertemuan berakhir dengan ramah tamah sederhana yang mempererat kebersamaan antarumat.

Doa Adven II ini tidak hanya memperdalam iman, tetapi juga menguatkan semangat untuk terus berjalan bersama sebagai Gereja yang menginspirasi—mulai dari hal-hal kecil, dari setiap pribadi yang mau berkontribusi.

Adven Pertama di Stasi Maguwo: Mulai Menyambut Natal Bareng-Bareng di Setiap Lingkunga


Awal Desember jadi momen spesial buat umat Stasi Maguwo. Soalnya, seluruh lingkungan bareng-bareng ngadain Ibadat Adven Pertama sebagai tanda dimulainya masa penantian menuju Natal. Tema Adven Minggu I tahun ini adalah “Menantikan Kristus dalam Kebahagiaan Iman”—tema yang sederhana tapi ngena banget.

Di tiap lingkungan, ibadat diadakan dengan suasana yang hangat dan akrab. Ada yang berkumpul di rumah umat, ada yang bikin lingkaran Adven sederhana, ada yang mulai ibadat dengan doa singkat, dan semuanya sama-sama menyalakan lilin pertama sebagai tanda harapan. Rasanya adem banget melihat umat kumpul, doa bareng, dan saling menyapa setelah ibadat.

Renungan Adven Pertama mengingatkan kita bahwa menanti Kristus itu nggak harus tegang atau penuh kekhawatiran. Justru sebaliknya—kita diajak untuk menunggu dengan hati yang gembira, bersyukur, dan percaya bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita sehari-hari.

Lingkungan St. Yohanes pembabtis


Linkungan St Fransiskus Asisi


Lingkungan St Petrus


Lingkungan St Monica


Lingkungan St Bartholomeus


Lingkungan St. Theresia


Lingkungan St. Gregorius


Lingkungan St. Yusuf


Lingkungan St Clara


Lingkungan St Stefanus


Lingkungan St. Antonius


Lingkungan St. Gabriel


Walaupun tiap lingkungan punya cara sendiri dalam menyiapkan ibadat, suasana yang terasa tetap sama: kompak, simple, dan penuh sukacita. Beberapa lingkungan lanjut ngobrol santai setelah ibadat, ada juga yang foto bareng, pokoknya suasananya hangat banget.

Dengan dimulainya Adven Pertama ini, umat Stasi Maguwo berharap bisa terus berjalan bersama dalam persiapan menuju Natal. Lilin pertama sudah dinyalakan—tinggal kita jaga supaya semangat dan harapan itu tetap hidup sampai Hari Natal tiba.

Adven Pertama 2025: Umat Santo Stefanus Memulai Masa Penantian dengan Sukacita


Pada Selasa, 2 Desember 2025, umat Lingkungan Santo Stefanus berkumpul untuk merayakan Ibadat Adven Pertama sebagai pembuka masa penantian akan kelahiran Tuhan. Ibadat tahun ini diselenggarakan di rumah keluarga Maikel, Perum Bale Ayu A4, Grogol Banjeng, Maguwo, yang dengan tulus membuka rumahnya sebagai tempat umat berhimpun dan berdoa bersama.

Tahun ini, kegiatan Adven mengangkat tema “Minggu I: Menantikan Kristus dalam Kebahagiaan Iman”, sebuah ajakan untuk membuka hati dan menyambut Sang Juru Selamat dengan penuh sukacita.

Ibadat Adven dipimpin dalam suasana sederhana namun penuh kekhidmatan. Lilin pertama pada lingkaran Adven dinyalakan sebagai simbol harapan dan sukacita, menandakan bahwa terang Kristus mulai hadir menuntun umat dalam perjalanan spiritual menuju Natal. Dalam renungan, umat diajak untuk melihat kembali kehidupan sehari-hari sebagai kesempatan untuk hidup lebih gembira, lebih bersyukur, dan lebih dekat dengan Tuhan.

Tema Minggu I mendorong umat untuk menantikan Kristus bukan dengan kecemasan, melainkan dengan kebahagiaan iman—iman yang tumbuh melalui doa, karya kasih, dan kebersamaan dalam komunitas.

Setelah ibadat, umat saling bersapa dan berbincang, memperkuat ikatan kekeluargaan yang menjadi ciri khas Lingkungan Santo Stefanus. Kebersamaan ini menghadirkan suasana hangat, memperlihatkan bahwa perjalanan menuju Natal adalah perjalanan bersama yang saling menguatkan.

Dengan terlaksananya Adven pertama ini, umat Santo Stefanus berharap dapat menjalani seluruh rangkaian Adven dengan hati yang lebih ringan, penuh sukacita, dan semakin siap menyambut kelahiran Sang Juru Selamat.

Semoga terang lilin pertama dan tema Adven Minggu I—Menantikan Kristus dalam Kebahagiaan Iman—terus menyala dalam hati setiap umat sepanjang masa persiapan ini.

Misa Lingkungan Santo Stefanus 2025: Merajut Iman, Meneguhkan Persaudaraan


Pada hari Jumat, 21 November 2025, umat Lingkungan Santo Stefanus berkumpul dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan untuk merayakan Misa Lingkungan Santo Stefanus tahun 2025. Perayaan ini diadakan di rumah keluarga Ibu Lucia Rusmiati, yang dengan penuh sukacita membuka rumahnya sebagai tempat umat berhimpun dan berdoa bersama.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm FX Murdi Susanto, PR, yang dalam homilinya mengajak umat untuk terus menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Romo Murdi menekankan bahwa lingkungan adalah “rumah rohani” pertama, tempat umat belajar berjalan bersama, saling mengenal lebih dalam, dan menanggung beban satu sama lain dalam terang iman.

Suasana misa berlangsung sederhana namun sangat khidmat. Doa-doa umat terucap dengan penuh harapan, lantunan lagu pujian mengalun dengan lembut, dan setiap umat yang hadir merasakan kehadiran Tuhan yang menyatukan. Tidak hanya sebagai sebuah perayaan liturgis, misa ini menjadi ruang perjumpaan yang menghidupkan kembali relasi antarumat—baik yang sudah lama saling mengenal maupun yang jarang bertemu.

Sebagai bagian dari perayaan, umat juga berkesempatan berbagi berkat melalui kolekte khusus untuk Seminari. Dukungan ini menjadi wujud nyata kepedulian umat Santo Stefanus dalam mendukung proses pembinaan calon imam yang kelak akan melayani Gereja di berbagai tempat. Antusiasme umat dalam memberikan sumbangan menunjukkan semangat kemurahan hati yang selama ini hidup kuat di lingkungan.

Setelah misa, umat saling bersapa dan berbincang, mempererat kembali hubungan yang mungkin renggang karena kesibukan masing-masing. Momen sederhana ini menghadirkan suasana persaudaraan yang hangat—sebuah nilai yang menjadi kekuatan Lingkungan Santo Stefanus selama ini.

Melalui perayaan misa lingkungan ini, umat diteguhkan untuk terus membangun komunitas yang hidup, saling peduli, dan semakin berakar dalam iman kepada Kristus. Semoga perayaan serupa terus menjadi ruang pertumbuhan yang membawa damai, harapan, dan kebersamaan bagi seluruh umat Lingkungan Santo Stefanus.

Misa Memule 1000 Hari Ibu Anna Maria Trihenaningsih

Pada hari Minggu, 30 November 2025, umat lingkungan Santo Petrus bersama keluarga berkumpul dalam perayaan misa memule 1000 hari mengenang almarhumah Ibu Anna Maria Trihenaningsih. Misa berlangsung pukul 19.00 di kediaman Bapak Winarso, Nanggulan, dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Sarce, dan dihadiri sekitar 30 umat dari lingkungan serta keluarga yang datang untuk mendoakan dan mengenang sosok almarhumah. Dalam homilinya, Romo Sarce mengajak umat untuk mengenang Ibu Anna Maria melalui karya-karya baik yang pernah ia lakukan semasa hidup, serta meneladani imannya yang sederhana dan setia.

Suasana doa berlangsung tenang dan penuh harapan kristiani, mengingatkan bahwa wafat bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal bersama Tuhan. Umat bersama-sama memohon agar jiwa Ibu Anna Maria diterima dengan penuh cinta dalam kerahiman Allah.

Setelah misa, keluarga menyampaikan ucapan terima kasih kepada umat yang hadir dan turut mendukung mereka dalam masa-masa duka ini. Kehadiran umat tidak hanya menjadi bentuk solidaritas, tetapi juga memperteguh iman dan persaudaraan dalam komunitas lingkungan.

Perayaan malam itu menjadi momen yang menghangatkan hati—sebuah ungkapan cinta, doa, dan pengharapan untuk almarhumah serta penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga jiwa Ibu Anna Maria Trihenaningsih beristirahat dalam damai Tuhan. Amin.

Doa Adven I Lingkungan Santo Petrus “Menantikan Kristus Dalam Kebahagiaan Iman”

Doa Adven I Lingkungan Santo Petrus berlangsung dengan penuh sukacita dan kehangatan pada hari Kamis, 27 November 2025 pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah Bapak Muscapwanto. Ibadat dipimpin oleh Ibu Retno dan dihadiri oleh 16 umat yang berkumpul dalam semangat persaudaraan untuk memulai masa penantian akan kedatangan Kristus.

Dengan tema “Menantikan Kristus dalam Kebahagiaan Iman”, umat diajak untuk merenungkan bahwa sukacita sejati bukan berasal dari hal-hal duniawi, tetapi dari hati yang siap menyambut Tuhan. Lagu-lagu sederhana, suasana hening, dan untaian doa membuka pertemuan dengan nuansa damai khas masa Adven.

Salah satu bagian yang membuat kegiatan ini terasa berbeda dan lebih hidup adalah adanya permainan rohani. Setiap peserta diminta untuk menuliskan momen bahagia dalam hidup mereka, lalu membagikan pengalaman tersebut kepada umat lain. Beragam cerita mengalir—mulai dari pengalaman keluarga, peristiwa kecil yang menyentuh hati, hingga kesaksian tentang campur tangan Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Permainan ini tidak hanya menumbuhkan rasa syukur, tetapi juga mempererat kebersamaan antarumat.

Melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santo Petrus semakin diteguhkan bahwa menantikan Kristus bukanlah sekadar kewajiban liturgis, melainkan sebuah perjalanan iman yang penuh sukacita, saling menguatkan, dan membawa harapan baru. Doa ditutup dengan berkat penutup dan ramah tamah sederhana, menambah kehangatan kebersamaan di awal masa Adven.

Semoga sukacita iman yang dialami dalam doa Adven I ini menjadi awal yang indah untuk mempersiapkan hati menyambut kelahiran Sang Juru Selamat.

Ziarah dan Rekreasi Bersama Umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi

“Bersama Asisi, Bahagia, Beriman”

Hari Minggu, 23 November 2025 menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi, Stasi Maguwo. Setelah beberapa minggu mempersiapkan acara, akhirnya kegiatan Ziarah dan Rekreasi yang sudah lama dirindukan ini dapat terlaksana. Tahun ini, rombongan mengunjungi empat lokasi sekaligus: Kerkof Muntilan, Goa Maria Pereng, Bukit Cinta Rawapening, dan Kebun Bagus Salatiga.

Selain untuk memperdalam iman melalui ziarah, kegiatan ini juga dirancang agar umat lintas usia, anak-anak, OMK, dewasa, hingga para lansia bisa saling mengenal, bercengkrama, dan menikmati waktu yang penuh sukacita. Dari 50 orang yang mendaftar, sebanyak 42 umat hadir dan berangkat bersama. Meskipun jumlahnya sedikit berkurang, semangat kebersamaan tetap terasa penuh sejak pagi.

Pagi Dimulai Dengan Doa dan Sukacita

Rombongan mulai berkumpul sejak pagi di kediaman Ibu Lita. Setelah semua siap, kami memulai perjalanan panjang hari itu dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon, Bapak Yuli.

Tak lupa, kami mengambil momen untuk berfoto bersama dan merekam video yel-yel khas lingkungan Asisi:
“Asisi, Bersama, Bahagia, Beriman!”
Suasana pagi itu terasa hangat, penuh antusiasme, seperti layaknya satu keluarga besar yang hendak berwisata bersama.

Pukul 06.45, bus besar membawa kami memulai perjalanan.

Perhentian Pertama: Kerkof Muntilan

Perjalanan menuju Muntilan berjalan lancar, dan kami tiba sekitar pukul 07.30. Cuaca cerah membuat suasana ziarah di Kerkof terasa damai. Setelah foto bersama, umat diberi waktu untuk doa pribadi di area pemakaman yang penuh sejarah ini. Masing-masing membawa doa, harapan, dan rasa syukur dalam hati.

Setelah sekitar 30 menit, kami kembali naik bus dan melanjutkan perjalanan ke Goa Maria Pereng Salatiga.

Karaoke, Kuis, dan Tawa Sepanjang Jalan

Perjalanan menuju Goa Maria Pereng memakan waktu sekitar 90 menit. Namun kebersamaan selalu membuat waktu berlalu lebih cepat.
Di dalam bus, panitia memutar lagu-lagu yang langsung disambut heboh oleh umat. Karaoke spontan pun pecah.

Panitia juga menyiapkan kuis berhadiah doorprize, yang membuat suasana makin meriah. Ada yang serius menjawab, ada yang asal tebak sambil tertawa, semuanya dinikmati dengan gembira.

Perhentian Kedua: Goa Maria Pereng, Hening Dalam Doa

Kami tiba di Goa Maria Pereng pukul 09.45. Setelah berfoto bersama, umat melaksanakan Jalan Salib dengan suasana hening dan penuh penghayatan. Setiap perhentian mengingatkan kami untuk kembali menata hati dan memaknai perjalanan hidup masing-masing.

Selesai Jalan Salib, umat diberi waktu untuk doa pribadi di sekitar goa. Tempat yang teduh dan sejuk menambah kekhusyukan. Setelah semuanya selesai, rombongan bersiap menuju destinasi berikutnya.

Perhentian Ketiga: Bukit Cinta, Piknik Sederhana yang Membahagiakan

Kami tiba di Bukit Cinta Rawapening sekitar pukul 11.50. Begitu turun dari bus, udara sejuk dan pemandangan danau langsung menyambut.

Setelah menemukan lokasi yang nyaman di bawah pepohonan, umat bersama-sama menggelar tikar. Kemudian dimulailah momen yang paling ditunggu-tunggu: makan siang bersama.

Menu sederhana, nasi putih, ayam goreng, bakmi goreng, oseng tempe, dan lotis segar satu container penuh, terasa nikmat luar biasa saat disantap ramai-ramai. Sambil bersantap, Ketua Lingkungan Bapak Jondit sempat berkata:
“Sing penting wareg lan waras, wis marai bahagia.”
Dan benar saja, siang itu semuanya makan dengan lahap dan hati bahagia.

Setelah makan, anak-anak bermain di playground kecil, beberapa umat berjalan menyusuri area danau, sementara yang lain duduk bercerita sambil menikmati angin dan pemandangan.

Acara Keakraban: Joged, Game dan Doorprize

Setelah beristirahat sejenak, acara keakraban dimulai. Dipandu dengan penuh semangat oleh Ibu Silvia dan Ibu Retno, kami semua ikut joged bersama. Para ibu menunjukkan gerakan paling luwes dan penuh energi, hingga bapak-bapak pun diberi tugas memilih siapa yang paling semangat untuk menerima doorprize.

Setelah itu, berbagai permainan digelar:

  • Tebak bisik untuk para uti-uti, hasilnya sangat lucu karena yang berbisik dan mendengar kadang salah menangkap kata.
  • Tebak gaya untuk bapak-bapak, ini yang paling mengundang tawa karena gaya bapak-bapak yang kelewat lucu.
  • Lalu permainan kecil untuk OMK dan anak-anak.

Semua game berlangsung santai namun penuh tawa. Kebersamaan benar-benar terasa hidup siang itu.

Acara ditutup dengan pembagian semua doorprize yang sudah disiapkan panitia.

Perhentian Keempat: Kebun Bagus, Sejuk, Segar, dan Menyenangkan

Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Bagus Salatiga dan tiba sekitar pukul 15.30. Karena bus besar tidak dapat masuk, kami harus naik kereta odong-odong dari SPBU terdekat. Justru bagian inilah yang menjadi salah satu momen paling seru, banyak umat yang baru pertama kali naik odong-odong, dan semua langsung minta difoto!

Sesampainya di Kebun Bagus, udara sejuk dan suasana kebun yang asri membuat banyak umat spontan melepas alas kaki untuk menikmati dinginnya tanah. Ada yang langsung belanja buah segar, melon renyah manis, mangga ranum, alpukat, hingga jeruk bali.

Sebagian menikmati minuman dari mini coffee shop: jus segar, es dawet, kopi, teh, dan camilan. Anak-anak ikut memberi makan kambing, sementara beberapa umat mengikuti tur kebun yang disediakan.

Yang lain memilih duduk santai sambil menikmati pemandangan dan berbincang.
Sebelum pulang, tentu saja kami berfoto bersama dan meneriakan yel-yel Asisi sebagai kenang-kenangan.

Pulang Dengan Hati Penuh Syukur

Rombongan kembali menuju bus dengan odong-odong, dan sekali lagi, semua tampak sangat menikmati perjalanan singkat itu. Kami berangkat pulang pukul 17.00 dan tiba di Jogja sekitar pukul 18.30.

Semua peserta kembali dengan sehat, penuh sukacita, dan membawa pengalaman indah yang mempererat persaudaraan umat.

Hari itu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa:
Bahagia itu sebenarnya sederhana, asal kita mau saling berbagi, bersyukur, dan menikmatinya bersama.

Misa Lingkungan St. Bartholomeus: Bersatu dalam Iman dan Persaudaraan


Rabu, 19 November 2025 · Pukul 19.00 WIB
Tempat: Kediamaan Bp. Harum, Jl. Ponpes Sunan Ampel No. 22

seluruh umat Lingkungan St. Bartolomeus untuk bersekutu dalam Misa Lingkungan yang akan dipimpin oleh Rm. Murdi Susanto, Pr pada hari Rabu, 19 November 2025 pukul 19.00 WIB. Perayaan ekaristi lingkungan ini merupakan momen penting untuk memperkuat iman, mempererat persaudaraan, serta menyegarkan komitmen pelayanan antarwarga lingkungan.

Setelah misa, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan dialog bersama Romo, sebuah kesempatan langka untuk berdialog langsung, berbagi pengalaman iman, dan mengajukan pertanyaan seputar panggilan serta hidup berjemaat.

Dalam suasana hangat dan akrab, dialog ini diharapkan memperkaya kehidupan rohani dan membangun kebersamaan di antara peserta.

Semoga perayaan ini semakin menumbuhkan komitmen pelayanan dan memperbarui panggilan setiap pribadi untuk setia di hadapan Tuhan.
Tuhan memberkati perjalanan iman kita semua.