Menapaki Jejak Iman: Ziarah Porta Sancta Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Magelang, 5 Juli 2025 — Dalam semangat memperdalam iman dan merayakan Tahun Yubileum Suci, umat Lingkungan St. Gregorius Stasi GMBA Maguwo, Paroki Maria Marganingsih Kalasan mengadakan ziarah rohani ke Porta Sancta (Pintu Suci) yang berlangsung pada Sabtu, 5 Juli 2025

Perjalanan penuh makna ini menyatukan 44 orang peziarah dari berbagai usia—anak-anak hingga lansia—dalam satu hati dan satu langkah menuju tiga lokasi suci: Goa Maria Sendangsono, Gereja Ignatius Magelang, dan Kerkhof Muntilan, makam Romo Sanjaya.

Ziarah ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan lingkungan dalam menyambut Tahun Yubileum 2025 yang dicanangkan oleh Paus Fransiskus dengan tema “Peziarah Harapan.” Di tengah kesibukan dan rutinitas harian, ziarah ini menjadi kesempatan langka bagi umat untuk berhenti sejenak, menengok kembali perjalanan hidup rohani mereka, dan memperbaharui semangat iman.

Suasana Hening di Sendangsono

Gerbang Memasuki Goa Maria Sendangsono

Perhentian pertama adalah Goa Maria Sendangsono, tempat bersejarah yang disebut sebagai “Lourdes-nya Indonesia.” Di sinilah iman Katolik pertama kali bersemi di Tanah Jawa. Dikelilingi rimbunnya pepohonan dan gemericik air sendang, para peziarah memulai hari dengan doa bersama yang dipimpin oleh Prodiakon Paulus Supit dibantu oleh Katekis Agnes Gunarti. Jalan salib pun dilaksanakan dengan khidmat, menyusuri stasi demi stasi dengan permenungan mendalam atas kisah sengsara Yesus Kristus.

Prodiakon mengajak seluruh umat merenungkan arti penderitaan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana setiap orang dipanggil untuk memanggul salib masing-masing dengan iman dan pengharapan. “Jalan salib bukan hanya mengenang penderitaan Tuhan, tapi juga mengajak kita melihat bagaimana Tuhan hadir dalam luka dan beban hidup kita,” ujarnya.

Napak Tilas Iman di Gereja Ignatius Magelang

Di depan Gereja Ignasius Magelang

Usai dari Sendangsono, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gereja Santo Ignatius, Magelang. Gereja tua yang dibangun sejak abad ke-19 ini menyimpan banyak sejarah pewartaan iman Katolik di Jawa Tengah. Di sini, para peziarah diajak merenungkan keteladanan St. Ignatius Loyola—pendiri Serikat Yesus—dalam menjalani hidup yang penuh penyerahan dan discernment (pembedaan roh).

Berdoa di depan Taman Doa yang berada di belakang Gereja

Doa pribadi dan devosi di depan patung Maria (terletak di belakang Gereja) menjadi waktu yang sunyi namun kuat secara spiritual. Suasana hening dan arsitektur lingkungan gereja yang asri memberi ruang bagi setiap umat untuk berdiam diri dalam hadirat Allah.

Ziarah Ditutup dengan Doa di Kerkhof Muntilan

Berdoa di Kerkhof Muntilan

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke perhentian terakhir: Kerkhof Muntilan, kompleks makam para imam dan tokoh Katolik di Keuskupan Agung Semarang. Di tempat inilah terbaring jasad Romo Sanjaya, seorang imam pribumi yang dikenal gigih dalam karya kerasulan dan pendidikan. Di makam Romo Sanjaya, umat mendaraskan doa mohon syafaat para kudus dan mendoakan para imam yang telah mendahului.

Kami tetap semangat menyelesaikan ziarah Porta Sancta

“Ziarah ini mengingatkan kita bahwa iman bukanlah perjalanan singkat. Ia seperti napak tilas hidup, dari kelahiran hingga kembali ke rumah Bapa,” ungkap Gregorius Henry, Ketua Lingkungan St. Gregorius, dalam refleksi singkatnya. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas partisipasi seluruh umat yang telah mengikuti ziarah ini dengan antusias dan penuh semangat.

Kebersamaan yang Menyegarkan Iman

Selain sebagai pengalaman rohani, ziarah ini juga mempererat tali persaudaraan antarumat lingkungan. Sepanjang perjalanan, tawa, nyanyian, dan cerita iman dibagikan satu sama lain. Di tengah tantangan zaman yang serba cepat dan individualistis, kegiatan seperti ini menjadi oase bagi kebersamaan yang sejati.

Ketua lingkungan dan tim panitia juga memberikan apresiasi kepada para donatur dan sponsor yang telah berkontribusi, serta kepada para peserta yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan ini dengan tertib dan penuh sukacita. “Kami mohon maaf jika dalam pelayanan selama ziarah masih ada kekurangan. Namun kami percaya bahwa semangat kita bersama telah membuat perjalanan ini berbuah,” ujar Henry.

Ziarah Porta Sancta ini ditutup dengan doa penutup sebelum perjalanan pulang. Wajah-wajah lelah namun penuh damai dan kebahagiaan menjadi bukti bahwa ziarah bukan sekadar bepergian secara fisik, melainkan perjalanan batin yang meneguhkan.

Bersyukur dan Memohon: Pembelajaran Doa di Lingkungan St. Monica

Pada malam Kamis, 19 Juni 2025, umat Lingkungan St. Monica berkumpul untuk mengikuti acara Doa Lingkungan yang dipandu oleh Bapak Sugiyono. Acara ini diadakan di kediaman Ibu Merry, dimulai pukul 19.00 WIB. Sebagai bagian dari acara rohani, tema utama malam itu adalah tentang “Cara Berdoa yang Baik dan Benar,” di mana umat diajak untuk lebih memahami bagaimana seharusnya berdoa dalam hidup sehari-hari.

Doa lingkungan ini, tidak hanya menjadi waktu untuk berdoa bersama, tetapi juga untuk saling memperdalam pemahaman iman, khususnya mengenai cara berdoa yang benar sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

Bapak Sugiyono, yang bertindak sebagai pemandu doa, membuka acara dengan penjelasan yang mendalam mengenai cara berdoa yang baik dan benar menurut ajaran Gereja. Beliau mengingatkan bahwa berdoa bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga suatu bentuk hubungan yang dalam dengan Tuhan. Salah satu poin penting yang beliau sampaikan adalah tentang pentingnya memulai doa dengan bersyukur terlebih dahulu sebelum memohon. Dalam hidup, sering kali kita terlalu fokus pada permintaan dan harapan kita kepada Tuhan, namun kita seringkali lupa untuk mengucapkan terima kasih atas segala berkat yang telah diberikan. Rasa syukur ini menjadi kunci dalam mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperkuat hubungan kita dengan-Nya.

Beliau juga menjelaskan bahwa dalam doa, kita harus mengutamakan persatuan hati dengan Tuhan, di mana kita tidak hanya meminta, tetapi juga mendengarkan apa yang Tuhan ingin katakan kepada kita. Doa yang baik bukanlah doa yang penuh dengan permintaan, tetapi doa yang dimulai dengan hati yang penuh rasa syukur. Selain itu, Bapak Sugiyono juga mengajak umat untuk lebih memahami Doa Bapa Kami, yang merupakan doa yang diajarkan langsung oleh Yesus kepada para murid-Nya. Beliau menjelaskan bahwa Doa Bapa Kami mencakup semua aspek penting dalam doa Kristen Katolik.

Selama ibadat, umat diajak untuk berdoa secara pribadi dan bersama, menyampaikan rasa syukur, permohonan, serta doa untuk umat yang membutuhkan. Kehidupan spiritual yang penuh pengharapan dan sukacita tampak jelas terlihat di wajah setiap peserta, yang mengikuti setiap langkah doa dengan sepenuh hati.


Di akhir acara doa lingkungan ini, panitia “Refresh Jiwa” Lingkungan St. Monica melaporkan pertanggungjawaban dana acara. Acara berjalan dengan lancar dan penuh berkat. Kehadiran umat yang antusias menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan dalam mempererat iman umat lingkungan. Panitia yang rata-rata terdiri dari kaum muda akan terus mengadakan kegiatan serupa di masa yang akan datang, dengan tujuan untuk membantu umat terus berkembang dalam kehidupan doa dan iman. Panitia juga berencana untuk mengadakan acara serupa secara berkala.

Berkah Dalem!

“Refresh Jiwa Lingk. St. Monica” Menyapa Hati, Menyembuhkan Batin, Semangat Menggereja

Di tengah ritme kehidupan yang kian cepat dan padat, kita kerap tenggelam dalam rutinitas tanpa sempat bertanya: Bagaimana kabar jiwa kita hari ini? Pertanyaan sederhana itu menjadi dasar lahirnya sebuah kegiatan penuh makna yang diselenggarakan oleh Lingkungan Santa Monica, bertajuk “Refresh Jiwa”, sebuah inisiatif baru yang menghadirkan keheningan, refleksi, dan penyembuhan batin.

Perjalanan Spiritual ke Taman Doa Maria Penolong Abadi

Kegiatan ini berlangsung di Taman Doa Maria Penolong Abadi, yang berlokasi di Stasi Pojok, Paroki St. Petrus–Paulus, Minggir, Klepu. Dikelilingi suasana khas pedesaan yang alami dan tenang, tempat ini menjadi ruang yang tepat untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, dan menyatu dalam keheningan bersama Tuhan.

Taman doa ini tidak hanya menyuguhkan keindahan fisik, tetapi juga menghadirkan kekuatan spiritual yang menyentuh. Pendopo joglo sederhana, tempat berlangsungnya prosesi, disiapkan penuh kasih, dikelilingi alam hijau, diterangi lampu remang-remang, dan ditemani patung Bunda Maria dengan sentuhan budaya Jawa. Semua elemen ini menyatu menciptakan suasana yang intim, penuh damai, dan sangat mendukung pengalaman batin yang mendalam.

Kekuatan Unsur Hypnotherapy dalam Penyembuhan Jiwa

Hal yang menjadikan kegiatan ini unik dan berkesan adalah penggunaan unsur hypnotherapy spiritual, yang dipadukan dengan metode penyembuhan menggunakan energi Ilahi. Melalui bimbingan dan teknik-teknik relaksasi serta pemusatan pikiran, para peserta diajak untuk membuka diri, menerima kasih Tuhan, dan membiarkan setiap luka batin, kekhawatiran, serta beban hidup dipulihkan dalam kehadiran-Nya.

Sekitar 50 umat, dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga para lansia, dengan penuh kesadaran dan keterbukaan mengikuti setiap proses. Mereka diajak untuk menyapa jiwa, mengendapkan emosi, menyadari kehadiran Tuhan di balik segala peristiwa hidup. Tidak sedikit peserta yang merasakan ketenangan, kesegaran jiwa, bahkan mengalami momen spiritual yang mendalam.

Diprakarsai oleh Kaum Muda yang Penuh Semangat

Salah satu keistimewaan kegiatan ini adalah keterlibatan kaum muda sebagai motor penggerak utama. Mas Wilfred, Mbak Sulis, dan Mas Vincent tampil sebagai inisiator dan fasilitator utama, dibantu Bapak Lasiman selaku Ketua Lingkungan Monica. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat pelayanan dan inovasi rohani tidak mengenal usia, dan bahwa generasi muda dapat mengambil peran penting dalam membangun kehidupan menggereja yang hidup dan relevan.

Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa gereja bisa hadir dengan cara yang kreatif, menyentuh, dan tetap setia pada nilai-nilai spiritual yang hakiki.

Membangun Komunitas yang Guyub dan Bersemangat

“Refresh Jiwa” tidak hanya memberi pengalaman pribadi yang menguatkan, tetapi juga mempererat tali persaudaraan di antara umat. Dalam suasana yang akrab, para peserta saling mendukung, berbagi cerita, mendoakan satu sama lain. Kegiatan ini menghidupkan kembali spirit Santa Monica, pelindung lingkungan ini, yang dikenal sebagai sosok ibu penuh kasih, tabah, dan teguh dalam doa demi keselamatan keluarganya.

Melalui kegiatan ini, harapannya umat Lingkungan Monica semakin guyub, solid, dan antusias dalam keterlibatan pastoral, baik di lingkungan maupun di Stasi. Semangat melayani, semangat berbagi, dan semangat memuliakan Tuhan bersama-sama menjadi bekal penting untuk terus membangun Gereja yang hidup dan berakar dalam iman.

“Refresh Jiwa bukan hanya soal rehat sejenak, tapi tentang mendengarkan bisikan jiwa, menyentuh kasih Tuhan, dan pulang dengan semangat baru untuk mencintai lebih sungguh.”

Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi lingkungan lain untuk menciptakan ruang-ruang penyembuhan batin yang nyata, sederhana namun berdampak besar bagi kehidupan rohani umat.

Berkah Dalem

foto lengkap bisa dilihat di link google drive :

https://drive.google.com/drive/folders/1Oltv2L3DEKz55adJK8a9Xtzb4A2vWkyx

Doa Rutin Lingkungan St. Petrus: Menghidupi Iman Lewat Katekese Sejarah KAS

Pada hari Kamis, 12 Juni 2025, umat Lingkungan St. Petrus kembali berkumpul dalam doa rutin bulanan yang dilaksanakan di rumah ibu kaling, Mba Lely. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal kegiatan yang dipimpin oleh Ibu Mulyadi ini.

Sebanyak 12 umat hadir dalam kegiatan ini, menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian untuk terus memperkuat iman dalam komunitas kecil. Doa bersama menjadi momen penyegaran rohani, sekaligus ruang refleksi atas pengalaman hidup sehari-hari dalam terang firman Tuhan.

Menariknya, kegiatan kali ini juga diisi dengan katekese tentang Sejarah Keuskupan Agung Semarang (KAS). Katekese tersebut mengajak umat mengenal lebih dalam perjalanan panjang Gereja KAS dari masa awal hingga sekarang, mulai dari peran para misionaris awal, perkembangan paroki-paroki, hingga semangat pelayanan yang terus hidup dalam berbagai bidang pastoral.

Ibu Mulyadi menyampaikan bahwa memahami sejarah KAS bukan hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga memperkuat identitas sebagai bagian dari Gereja lokal yang aktif dan berakar. Katekese ini memunculkan antusiasme dan diskusi ringan di antara umat, yang merasa terinspirasi untuk lebih berkontribusi dalam kehidupan menggereja.

Doa ditutup dengan harapan agar umat Lingkungan St. Petrus terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih, serta tetap setia dalam pelayanan dan kebersamaan. Kebersamaan pun dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana yang mempererat tali persaudaraan.

Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sumber semangat bagi umat untuk menapaki jalan kekudusan bersama.

Helena Clarencia Cinta Prasetya – Suara Emas dari Maguwo

Di antara banyak bintang muda yang bersinar, nama Helena Clarencia Cinta Prasetya patut jadi sorotan. Usianya baru 16 tahun, tapi suara dan prestasinya sudah melanglang buana ke berbagai panggung, dari festival pelajar hingga ajang bergengsi nasional. Helena, begitu ia akrab disapa, adalah salah satu putri berbakat dari Stasi Santa Maria Bunda Allah, Maguwo, yang kini menempuh pendidikan di SMA BOSA Yogyakarta.

Sejak kecil, dunia musik sudah jadi tempat yang nyaman bagi Helena. Dengan zodiak Aries yang dikenal berani dan penuh semangat, tak heran kalau ia terus melangkah pasti mengejar mimpinya menjadi penyanyi internasional. Bukan sekadar mimpi kosong, karena jejak langkahnya penuh dengan prestasi nyata yang bikin kagum siapa pun yang mengenalnya.

Bayangkan saja, sepanjang tahun 2023–2025, Helena telah mengumpulkan lebih dari 15 gelar juara dari berbagai lomba menyanyi dan festival band pelajar. Dari panggung FLS3N, Prambanan Jazz, hingga BRI Rei Property Expo, suara khas Helena sudah menemani banyak telinga, menggetarkan banyak hati. Bahkan, ia pernah tampil memukau di momen kenegaraan seperti upacara 17 Agustus di Balai Kota Yogyakarta dan peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Titik Nol KM Yogyakarta. Hebat, kan?

Tapi prestasi Helena nggak berhenti di luar saja. Di lingkungan gereja, ia juga aktif melayani sebagai putri altar, pemazmur, dan vokalis dalam PMG (Pemusik Muda GMBA). Helena bukan hanya menyanyikan lagu rohani dengan suara indah, tapi juga dengan hati penuh cinta. Ia menjadikan setiap bait lagu sebagai bentuk pelayanan dan persembahan terbaik untuk Tuhan.

tau nggak apa aja prestasi Helena dari tahun 2023 sampai 2025 ? nih mimin kasih tau ya…….

  1. Juara 1 Lomba Menyanyi Tunggal FLS3N Kotamadya Yogyakarta – 2025
  2. Juara 3 Lomba Band Pelajar Fist Cup Fakultas Ilmu Komunikasi Atma Jaya – 2025
  3. Juara 1 Lomba Solo Vocal IMLEK Lampion Jagad di SMA BOSA – 2025
  4. Juara 1 Lomba Band Pelajar WJNC Fest – 2024
  5. Juara 1 National Online Singing Competition di Politeknik AA YKPN – 2024
  6. Juara 1 Lomba Band Padztsuri #2 di SMA 3 – 2024
  7. Juara 2 Online Singing Competition Econofest FEB UGM – 2024
  8. Juara 1 Festival Band Pelajar di Warung Tik Tok – 2024
  9. Perform menyanyi di Upacara Bendera 17 Agustus di Balai Kota Yogyakarta – 2024
  10. Perform menyanyi di Acara Hari Kesaktian Pancasila di Titik Nol Yogyakarta – 2024
  11. Juara 1 Lomba Solo Vokal Mahardika Nada Nusantara Kesbangpol – 2024
  12. Juara 1 Lomba Solo Vokal Amazing BRI Rei Property Expo – 2024
  13. Juara 3 Festival Band Pelajar di SMA Santa Maria – 2024
  14. Juara 1 Festival Band Pelajar China Town di Sleman City Hall – 2024
  15. Juara 1 Lomba Solo Vokal Simponi Negeriku di Hotel Merapi Merbabu – 2023
  16. Finalis 10 Besar I‘m Jazz Kids di Prambanan Jazz – 2023
  17. Juara 1 Festival Band Pelajar di SMM – 2023
  18. Juara 1 Festival Band Pelajar di SMA Santa Maria – 2023
  19. The Voice Kids Indonesia Season 4 – Tim Yura Rizky – 2021
  20. Juara 1 Lomba Menyanyi Tunggal FLS2N tingkat kecamatan UPT Utara Yogyakarta – 2015

kalah jauh lah sama mimin…..mimin mah gak ada apa apanya……..hahahaha

Buat kamu yang penasaran dengan suara Helena, yuk langsung aja mampir dan follow channel-nya:

Dan kalau ada yang mau ngajak kerja sama atau undang perform, boleh banget kontak langsung ke 081227071710 ya………………………..

Helena adalah contoh nyata bahwa talenta yang dipupuk dengan cinta dan kerja keras bisa jadi berkat besar, bukan cuma untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk banyak orang. Kita doakan bersama, semoga Helena terus bersinar dan suatu hari nanti benar-benar berdiri di panggung dunia sebagai penyanyi internasional yang membawa damai dan sukacita lewat musiknya.

Dari altar kecil di Maguwo hingga gemerlap panggung dunia, Helena adalah bintang yang tak hanya bernyanyi, tapi juga menyinari.

Keep shining, girl……………………..

Langit bukan batasmu, tapi justru panggung berikutnya…………………

Semangat Toleransi: Umat Katolik Lingkungan St. Yohanes Pembaptis Maguwo Turut Menjaga Keamanan Idul Adha

Jumat, 6 Juni 2025 — Hari ini, suasana di sekitar wilayah Stasi Maguwo terasa begitu hidup. Bukan hanya karena keramaian perayaan Idul Adha yang dirayakan penuh khidmat oleh saudara-saudari Muslim, tetapi juga karena hadirnya semangat kebersamaan yang menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.

Sejak pagi hari, umat Katolik dari Lingkungan St. Yohanes Pembaptis turut ambil bagian dalam menjaga kelancaran dan keamanan perayaan Idul Adha yang diselenggarakan di beberapa titik sekitar wilayah Maguwo. Kehadiran para bapak dari Lingkungan Yohanaes Pembabtis ( YP ) menjadi pemandangan yang menarik sekaligus membanggakan……… Dengan rompi merah khas mereka, para bapak ini berdiri sigap di berbagai titik jalan dan area sekitar lokasi salat Id dan penyembelihan hewan kurban.

Bukan sekadar hadir, mereka benar-benar terlibat. Mengatur lalu lintas, mengarahkan warga, membantu menjaga ketertiban, bahkan turut menyapa dengan ramah setiap orang yang melintas. Tak sedikit dari mereka yang harus berdiri berjam-jam di bawah sinar matahari pagi yang hangat, dan semua dilakukan dengan hati yang tulus dan wajah yang tetap tersenyum.

Sementara itu, para ibu dari lingkungan pun tak tinggal diam. Di balik layar, mereka mengambil peran yang tak kalah penting. Sejak pagi, para ibu ini menyiapkan konsumsi untuk para petugas dan relawan — mulai dari air minum, teh hangat, hingga makanan ringan — semua disiapkan dengan penuh kasih. Dukungan mereka menjadi penguat dan penyemangat tersendiri bagi para bapak yang bertugas di lapangan.

Apa yang terjadi hari ini adalah cermin dari semangat toleransi dan persaudaraan yang tumbuh subur di tengah masyarakat Maguwo. Tidak ada sekat agama, tidak ada perbedaan yang membatasi. Yang ada adalah niat yang sama: menjaga kedamaian, saling membantu, dan merayakan kemanusiaan bersama.

Lingkungan St. Yohanes Pembaptis sekali lagi menunjukkan bahwa iman bukan hanya soal doa dan ibadah di dalam gereja, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir untuk sesama tanpa memandang latar belakang, tanpa syarat, dan tanpa pamrih. Inilah wajah Gereja yang hidup dan nyata di tengah masyarakat.

Terima kasih untuk para bapak lingkungan YP dengan rompi merahnya, dan untuk para ibu yang telah memberikan dukungan penuh. Semoga semangat seperti ini terus tumbuh, mengakar, dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Bulan Mei: Bulan Devosi dan Katekese di Lingkungan St. Yusup, Stasi Maguwo

Mei bagi umat Katolik merupakan bulan istimewa yang didedikasikan untuk devosi kepada Bunda Maria. Dalam semangat yang sama, Keuskupan Agung Semarang mengajak seluruh umat untuk memperdalam devosi kepada Bunda Maria sekaligus menjalani Bulan Katekese Yubelium dengan tema sentral Gereja yang Bahagia, sebagai bagian dari rangkaian perayaan 85 tahun perjalanan karya Gereja KAS.

Menanggapi ajakan tersebut, umat St. Yusuf, Stasi Maguwo, telah dengan tekun melaksanakan devosi bersama kepada Bunda Maria sekaligus mendalami Katekese Yubelium selama satu bulan penuh, mulai tanggal 1 hingga 31 Mei 2025. Setiap malam, sekitar 26 orang umat berkumpul untuk mendaraskan doa Rosario dan terlebih dahulu mendalami empat subtema utama Katekese Yubelium, yakni:

  1. Komunitas Pengharapan
  2. Menjadi Gereja yang semakin Katolik
  3. Menjadi Gereja yang semakin Apostolik
  4. Menjadi Gereja yang Bahagia

Kegiatan devosi dan pendalaman iman ini menjadi momen yang mempererat kebersamaan umat serta memperdalam pemahaman akan jati diri Gereja dalam terang Yubileum. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan penuh syukur dan sukacita pada tanggal 31 Mei 2025, bertepatan dengan pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet, sebagai puncak perayaan kasih dan iman umat kepada Bunda Maria.

Peziarah Pengharapan: Jejak Iman Umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi di Tahun Yubelium 2025

Hari ini, 29 Mei 2025, langit tampak cerah seolah ikut bersukacita menyambut langkah-langkah kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 42 orang, anak-anak, orang muda, hingga para lansia, berkumpul dengan semangat yang sama, melangkah bersama dalam sebuah ziarah iman di Tahun Yubelium, tahun yang dikhususkan oleh Gereja Katolik sebagai momen pengampunan, pembaruan, dan rekonsiliasi.

Tahun Yubelium bukanlah sekadar tradisi. Ini adalah panggilan. Sebuah undangan untuk kembali, kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada ciptaan. Tahun ini, Paus Fransiskus mengangkat tema yang begitu menyentuh: “Peziarah Pengharapan.” Dan kami menjawabnya dengan sungguh-sungguh, lewat perjalanan rohani menuju tiga tempat suci: Taman Doa Maria Oblat, Kapel Salib Suci Gunung Sempu, dan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran.

Langkah Awal: Berangkat Dengan Semangat

Titik kumpul kami di rumah Pak Cahyo, yang sudah ramai selepas Misa Kenaikan Yesus. Senyum, tawa, dan doa-doa kecil mengiringi keberangkatan kami. Tepat pukul 09.30 WIB, setelah semua terbagi dalam 9 mobil, rombongan kami berangkat menuju Taman Doa Maria Oblat.. Tak ada yang membawa beban, yang ada hanya semangat untuk mendekat kepada Tuhan dan saling menguatkan sebagai satu keluarga iman. Perjalanan 20 menit terasa ringan, diiringi canda dan harapan yang memenuhi hati.

Perhentian Pertama: Taman Doa Maria Oblat

Setibanya di sana, kami langsung larut dalam keheningan. Di antara pepohonan yang menyejukkan dan suasana damai, kami menyebar, mencari sudut masing-masing untuk tenggelam dalam doa pribadi, menyerahkan pergumulan, menyampaikan syukur, dan membuka hati bagi kasih Allah. Hati ini terasa lega, seolah beban pelan-pelan dilepaskan.

Perhentian Kedua: Gereja Salib Suci Gunung Sempu

Pukul 10.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sempu, tempat berdirinya Gereja Salib Suci yang menawan. Meski ramai oleh para peziarah lain, ada ketenangan yang tak tergantikan, kami tetap dapat berdoa dengan khidmat. Kami mengadakan ibadat singkat yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon lingkungan, Bapak Yuli, kami mendaraskan doa Rosario bersama, lalu melanjutkan dengan doa pribadi. Hati kami dipenuhi damai dalam kebersamaan. Di momen ini, kami seperti diingatkan: harapan itu nyata, dan ia tumbuh dari iman yang dibagikan bersama.

Perhentian Ketiga: Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran

Ganjuran selalu punya tempat spesial di hati umat Katolik Yogyakarta, simbol iman Katolik yang begitu khas dengan gaya arsitektur Jawa yang sarat makna. Setibanya di sana, sekitar pukul 12.30, kami berdoa secara pribadi, lalu menikmati waktu bebas. Beberapa dari kami mengunjungi museum yang menggugah sejarah iman di Ganjuran, ibu-ibu berbelanja oleh-oleh dan berfoto ria, anak-anak berlarian bebas dengan tawa riang, sementara yang lain duduk menikmati semilir angin. Semuanya terasa seperti pelukan hangat dari Tuhan.

Berbagi Cerita di Meja Makan

Sekitar pukul 14.00, kami menuju Restaurant Parangtritis untuk makan siang bersama. Inilah momen yang tak kalah berharga. Setiap meja menjadi ruang berbagi cerita. Bapak-bapak asyik berdiskusi tentang tembakau, cerutu, dan tentu saja diselingi dengan topik politik. Di sisi lain, ibu-ibu ramai berbagi gosip hangat dan berbincang tentang tugas-tugas pelayanan yang menanti. Sungguh suasana yang hangat, akrab, dan penuh sukacita.

Pulang Dengan Hati Yang Penuh Syukur

Pukul 15.00, kami mengakhiri kegiatan dan kembali ke rumah masing-masing. Namun bukan hanya tubuh kami yang kembali, hati kami pun pulang dengan semangat baru, dengan sukacita yang sulit dijelaskan.

Hari ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah perjalanan hati. Sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, kita selalu punya ruang untuk kembali. Kembali kepada Tuhan. Kembali kepada komunitas. Kembali kepada harapan.

Kami percaya, kegiatan seperti ini bukan hanya menguatkan iman, tapi juga mempererat tali persaudaraan. Kami pulang lebih dekat satu sama lain, lebih semangat dalam tugas, dan lebih sadar akan indahnya berjalan bersama dalam iman.

“Berbahagialah mereka yang berjalan dalam iman, sebab di sanalah harapan tumbuh dan kasih berkembang.”

Doa Rosario dan Katekese Lingkungan Santo Petrus: Membangun Gereja yang Bahagia

Pada hari Rabu, 28 Mei 2025 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di kediaman Ketua Lingkungan, Mba Lely, untuk melaksanakan doa Rosario dan katekese rutin. Kegiatan ini dihadiri oleh 12 umat yang datang dengan semangat kebersamaan dan iman.

Doa Rosario dipimpin dengan khidmat oleh Ibu Mulyadi. Suasana doa berlangsung tenang dan penuh penghayatan, mengundang umat untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus dan Bunda Maria serta memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan.

Usai Rosario, kegiatan dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Retno. Tema katekese kali ini adalah “Gereja yang Bahagia: ARDAS 2026”. Dalam penyampaiannya, Ibu Retno menekankan pentingnya mewujudkan komunitas gerejawi yang penuh sukacita, saling mendukung, dan berlandaskan kasih Kristus. Katekese ini mengajak umat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kehidupan menggereja dan menjadikan Lingkungan sebagai tempat bertumbuh dalam iman dan kebersamaan.

Pertemuan malam itu menjadi momen yang mempererat tali persaudaraan antar umat dan menguatkan semangat pelayanan dalam terang ARDAS 2026. Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sarana berkat bagi umat dan mendorong terciptanya Gereja yang semakin hidup, bersukacita, dan misioner.

30 Tahun Perjalanan Iman dan Kebersamaan: HUT Lingk. St. Gregorius

Kadisoka, 25 Mei 2025 — Dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan, umat Lingkungan St. Gregorius merayakan 30 tahun perjalanan iman mereka melalui sebuah Ibadat Syukur yang diadakan pada Minggu malam, 25 Mei 2025, pukul 19.00 WIB. Bertempat di lingkungan setempat, acara tersebut menjadi momen reflektif sekaligus penuh kegembiraan, dihadiri oleh lebih dari 55 umat dari berbagai usia.

Umat hadir dari berbagai usia

Acara dimulai dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit. Dalam ibadat tersebut, umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, serta memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.

Prodiakon Paulus Supit memimpin jalannya ibadat syukur dengan khidmat

Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan, Bapak Gregorius Henry Prasista Kurniawan, yang menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas lingkungan ini selama tiga dekade terakhir. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh umat yang telah setia mendukung dan membangun lingkungan sejak awal berdiri hingga kini.

Sebagai pembawa acara (MC), Mbak Anik memandu jalannya acara dengan penuh kehangatan dan keteraturan. Momen yang paling simbolis dan menyentuh hati adalah prosesi pemotongan tumpeng, sebuah tradisi yang sarat makna baik secara budaya maupun spiritual.

Filosofi Tumpeng: Simbol Syukur dan Harapan

Dalam penjelasannya, MC menyampaikan bahwa tumpeng, makanan khas berbentuk kerucut yang terbuat dari nasi kuning, bukan sekadar sajian pesta. Dalam budaya Jawa, tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (puncak kerucut), serta hubungan horizontal antara sesama manusia (lingkaran di sekeliling tumpeng). Nasi kuning sebagai simbol kemuliaan dan kebahagiaan juga mencerminkan harapan akan masa depan yang gemilang.

Tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan

Secara iman Katolik, makna tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan dan penyertaan Tuhan. Puncak tumpeng menggambarkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala berkat, sementara aneka lauk di sekitarnya mencerminkan keberagaman umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan.

Pemotongan tumpeng oleh Ketua Lingkungan St. Gregorius

Pemotongan dan pembagian tumpeng juga menjadi simbol pengutusan: bahwa berkat yang diterima bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada sesama.

Dalam prosesi tersebut, pemotongan dilakukan oleh Ketua Lingkungan, kemudian diberikan secara simbolis kepada dua perwakilan umat:

  1. Bapak Petrus Soekamso, sebagai wakil sesepuh, perintis dan generasi pendahulu, serta
  2. adik Avika, sebagai wakil generasi muda dan harapan masa depan lingkungan.

Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan umat senior

Potongan tumpeng kedua diberikan kepada perwakilan generasi penerus

Keduanya menerima potongan tumpeng dengan penuh haru dan sukacita, menyimbolkan keberlanjutan semangat dan warisan nilai-nilai iman lintas generasi.

Past, present and future

Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan

Usai prosesi, para umat melakukan sesi foto bersama yang diikuti dengan ramah tamah. Suasana terasa hangat dan akrab, diwarnai tawa anak-anak, canda para remaja, serta obrolan ringan para sesepuh.

Antusiasme umat Lingkungan St. Gregorius

Pada kesempatan tersebut, Bapak Petrus Soekamso menyampaikan kisah berdirinya Lingkungan St. Gregorius, mengajak umat mengenang kembali momen awal terbentuknya lingkungan sebagai hasil pemekaran dari Lingkungan St. Fransiskus Xaverius Purwomartani. Beliau menuturkan bagaimana dinamika umat, pertumbuhan jumlah keluarga Katolik, dan semangat pelayanan mendorong terbentuknya lingkungan baru yang diberi nama St. Gregorius.

Seiring waktu, lingkungan ini sendiri mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhirnya melahirkan dua lingkungan baru melalui proses pemekaran, yaitu:

  1. Lingkungan St. Bartholomeus, dan
  2. Lingkungan St. Stefanus

Fakta ini menunjukkan bahwa Lingkungan St. Gregorius bukan hanya tumbuh, tetapi juga turut berkontribusi dalam perkembangan pastoral wilayah setempat. Bapak Petrus juga mengajak umat untuk tetap menjaga semangat pelayanan lintas generasi, agar lingkungan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari tubuh Gereja.

Bpk Petrus Soekamso menceritakan awal berdirinya lingkungan St. Gregorius

Penutup yang Penuh Sukacita.

Acara malam itu ditutup dengan suasana hangat dan penuh sukacita. Seluruh umat pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Lingkungan St. Gregorius. Dalam usia 30 tahun, lingkungan ini tidak hanya menunjukkan kedewasaan dalam iman, tetapi juga keteguhan dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan penuh kasih.

Semua bersyukur, semua gembira

Proficiat untuk Lingkungan St. Gregorius!
Semoga tetap menjadi garam dan terang bagi sesama, serta terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.