Pertemuan umat lingkungan St. Antonius Padua diawali dg ibadat dipimpin oleh bpk. Martinus Bagus Wicaksono. Ibadat dilaksanakan di rumah. Bpk. Djumingan, dihadiri kurang lebih 20 orang. Ibadat dimulai pkl. 19.30, dan kemudian dilanjutkan dengan pengumuman-pengumuman dari ketua lingkungan.
Satu Hati dalam Sukacita: Tradisi Ujung Natal Lingkungan Yohanes Pembaptis Fajar baru saja menyingsing setelah Misa Natal usai, namun suasana di Lingkungan Yohanes Pembaptis sudah terasa begitu hidup. Hari ini bukan sekadar tentang perayaan formal, melainkan tentang menghidupkan kembali tradisi “Ujung”—sebuah perjalanan kasih yang menghubungkan satu pintu ke pintu lainnya.
Sejak pagi, rombongan warga mulai berkumpul. Tidak ada batasan usia; dari yang sepuh hingga yang paling muda, semua berbaur menjadi satu keluarga besar. Tradisi muter ke rumah-rumah ini adalah cara kami berkumpul kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan setahun terakhir. Setiap rumah yang dikunjungi menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan hangat, seolah mengatakan, “Rumahku adalah rumahmu juga.” Pesta Kecil bagi Para “Pemburu” Jajan Pemandangan yang paling ikonik tentu saja datang dari anak-anak. Dengan penuh semangat, mereka menenteng tas besar—bahkan ada yang membawa tas belanja kain berukuran ekstra—yang siap terisi. Bagi mereka, Natal adalah “panen raya” kebahagiaan. Di setiap meja tamu, toples-toples berisi kue nastar, putri salju, hingga berbagai snack kekinian telah menanti. Tak butuh waktu lama, tas yang kosong tadi mulai menggelembung penuh dengan aneka rupa jajanan. Suara gemerisik bungkus plastik dan tawa renyah mereka saat membandingkan “hasil buruan” menjadi latar musik yang paling merdu sepanjang perjalanan.
Lebih dari Sekadar Snack dan Silaturahmi Namun, di balik tas-tas yang berat berisi makanan dan rute panjang yang ditempuh, ada makna yang lebih dalam. Tradisi Ujung di Lingkungan Yohanes Pembaptis adalah tentang: Kerendahan Hati: Saling memaafkan dan membuka diri. Kedermawanan: Berbagi berkat sekecil apa pun kepada sesama. Pewarisan Iman: Mengajarkan anak-anak bahwa Gereja bukan hanya bangunan, tapi komunitas orang-orang yang saling mengasihi. Lelah di kaki seolah tak terasa karena hati telah penuh oleh sukacita. Inilah wajah Natal kita—sederhana, guyub, dan penuh berkat. Selamat merayakan Natal, Lingkungan Yohanes Pembaptis! Semoga semangat silaturahmi ini terus menyala di hati kita semua.
Lingkungan Santo Petrus mengadakan perayaan Natal bersama yang berlangsung dengan penuh sukacita dan kebersamaan pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 17.00 WIB, bertempat di rumah ketua lingkungan, Ibu Lely. Acara ini dihadiri oleh warga Lingkungan Santo Petrus serta undangan dari lingkungan lain, dengan jumlah kehadiran sekitar 47 orang.
Perayaan Natal diawali dengan ibadat Natal yang dipimpin oleh Ibu Tiwik. Dalam suasana yang khidmat dan penuh makna, umat diajak untuk kembali merenungkan makna kelahiran Yesus Kristus sebagai wujud kasih Allah yang hadir di tengah kehidupan, sekaligus mempererat persaudaraan antarumat.
Setelah ibadat, acara dilanjutkan dengan serah terima Ketua Wilayah Yohanes Don Bosco. Ketua wilayah lama, Ibu Yohana Fransiska Lina Setyaningsih, secara resmi menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepada ketua wilayah yang baru, Bapak Laurentius Triyono. Momen ini menjadi ungkapan syukur atas pelayanan yang telah dijalankan sekaligus harapan akan semangat baru dalam melayani umat di wilayah Yohanes Don Bosco.
Selanjutnya, umat mengikuti sosialisasi dari Tim Renovasi Pembangunan Gereja GMBA yang disampaikan oleh Bapak Bagyo bersama tim. Sosialisasi ini memberikan penjelasan mengenai rencana, proses, serta ajakan bagi umat untuk turut mendukung pembangunan gereja sebagai wujud kebersamaan dan tanggung jawab bersama.
Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah, yang dilanjutkan dengan makan malam bersama dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan. Kegembiraan semakin terasa dengan adanya pembagian door prize yang menambah semarak perayaan Natal Lingkungan Santo Petrus.
Melalui perayaan ini, diharapkan semangat Natal semakin menguatkan iman, persaudaraan, dan kebersamaan umat, serta menumbuhkan komitmen untuk terus aktif dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.
Menjelang akhir masa Natal, umat di lingkungan-lingkungan Stasi Maguwo melaksanakan Ibadat Keluarga Kudus sebagai momen untuk kembali meneguhkan panggilan keluarga kristiani. Ibadat tahun ini mengangkat tema: “Bersama-Sama Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.”
Melalui ibadat sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin memaknai kedatangan Kristus dalam kehidupan sehari-hari—terutama dalam keluarga sebagai komunitas terkecil yang membentuk Gereja. Keluarga yang hidup dalam sukacita dan harapan akan lebih mampu menjadi inspirasi dan saluran kebaikan bagi masyarakat sekitar.
Tujuan Ibadat
Pertemuan ini bertujuan agar umat semakin menyadari bahwa kehadiran Kristus tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga dalam relasi keluarga, kebersamaan, dan hidup menggereja di lingkungan. Dengan demikian, keluarga kristiani semakin menjadi tempat:
tumbuhnya sukacita,
bertumbuhnya iman,
serta lahirnya tindakan kasih yang menyejahterakan sesama.
Bacaan Injil: Lukas 2:41–52
Ibadat ditopang oleh bacaan Injil tentang Yesus yang berada di Bait Allah pada usia dua belas tahun. Kisah ini menggambarkan dinamika keluarga yang pernah mengalami kehilangan, keresahan, dan pencarian, namun semuanya dijalani dengan kasih dan kesetiaan.
Renungan Singkat: Tiga Makna Keluarga Kudus
Pemandu atau pemimpin ibadat mengajak umat merenungkan tiga pokok inspiratif dari Keluarga Kudus Nazaret:
1. Keluarga yang Bahagia
Keluarga Kudus tidak steril dari masalah. Mereka sempat mengalami kekhawatiran besar ketika Yesus hilang. Namun mereka menghadapinya dengan:
cinta kasih,
kepercayaan penuh,
komunikasi yang terbuka.
Bahagia bukan berarti tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk saling menopang dan bertumbuh bersama dalam setiap situasi.
2. Keluarga yang Menginspirasi
Maria dan Yosef menunjukkan ketaatan yang mendalam pada kehendak Allah. Mereka menjadi teladan keluarga sederhana yang hidup dari iman. Dari merekalah kita belajar bahwa keluarga adalah sekolah iman pertama, tempat nilai-nilai Kristiani ditanamkan secara nyata.
3. Keluarga yang Menyejahterakan
Yesus tumbuh menjadi pribadi yang “bertambah hikmat, besar, dan disukai Allah dan manusia”. Pertumbuhan itu tidak terlepas dari kesejahteraan rohani dan jasmani yang Ia terima dalam keluarga-Nya.
Keluarga yang menyejahterakan adalah keluarga yang menumbuhkan potensi tiap anggotanya sehingga mampu menjadi berkat bagi dunia, membawa damai, dan menghadirkan kebaikan.
Litani Permohonan
Dalam litani permohonan, umat bersama-sama memohon agar setiap keluarga:
diberi kekuatan menghadapi tantangan,
diteguhkan dalam cinta,
serta dipenuhi semangat untuk menjadi keluarga yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.
Doa Penutup & Berkat
Ibadat diakhiri dengan doa penutup, menyerahkan keluarga masing-masing ke dalam penyertaan Tuhan. Setelah itu, umat menerima berkat penutup yang menjadi tanda pengutusan agar setiap keluarga semakin menjadi cermin kasih Allah di tengah masyarakat.
Lingkungan Maria Immaculata Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo merayakan Pesta Nama Maria Immaculata pada Senin, 8 Desember 2025, bertempat di rumah Bapak Sikun Pribadi. Perayaan ini berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus penuh kehangatan, serta dihadiri oleh sekitar 35 umat Lingkungan Maria Immaculata.
Acara diawali dengan ibadah syukur yang dipimpin oleh Prodiakon Lingkungan. Dalam suasana doa yang sederhana namun mendalam, umat diajak untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan serta meneladani iman Bunda Maria sebagai Bunda Allah yang tak bernoda.
Usai ibadah, kebersamaan semakin terasa dalam ramah tamah antarumat. Suasana menjadi semakin meriah ketika anak-anak lingkungan menampilkan beberapa lagu rohani dengan penuh semangat dan keceriaan. Kegiatan ini dilengkapi dengan pembagian doorprize bagi anak-anak, yang menambah sukacita dan tawa seluruh hadirin.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sarasehan iman yang mengangkat tema peran Bunda Maria sebagai pilihan Allah untuk melahirkan Juruselamat dunia. Sarasehan ini dibawakan oleh Bapak Sikun Pribadi dan Bapak Purwoharsanto, yang mengajak umat untuk semakin mengenal dan meneladani keutamaan hidup Bunda Maria.
Dari sarasehan tersebut, umat diajak untuk merefleksikan bahwa Bunda Maria merupakan teladan utama bagi setiap orang beriman, terutama dalam tiga hal pokok, yaitu:
Penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan,
Ketaatan penuh pada kehendak Allah, dan
Kesetiaan dalam menanggung penderitaan dengan iman dan harapan.
Perayaan Pesta Nama Maria Immaculata ini menjadi momen yang tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga memperdalam iman dan semangat hidup Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Semoga teladan Bunda Maria senantiasa menguatkan umat Lingkungan Maria Immaculata untuk terus berjalan setia dalam panggilan iman.
Pertemuan dimulai pkl. 19.30 wib di rumah bpk. Totok. Pertemuan dihadiri kurang lebih 25 orang umat. Dipandu oleh pak Arief, pak Rusiawan, bu Bagus, pak Wiwid dan pak Andreas. Pertemuan diramaikan dengan menyusun puzzle secara bergantian hingga membentuk suatu gambar utuh.
Pemandu : OMK, Bp Widjajanto, Mbak Dysi, Mas Arembha
Dalam masa Adven ke-2 Tahun 2025, umat lingkungan St. Antonius Padua melaksanakan kegiatan sarasehan dengan mengangkat tema “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi”. Tema ini menegaskan panggilan gereja untuk terus hadir, melangkah bersama, dan menjadi sumber pengharapan serta teladan iman bagi sesama.
Kegiatan Sarasehan Adven ke-2 dilaksanakan pada hari Kamis, 4 Desember 2025, bertempat di rumah Bapak Satria, dan diikuti oleh umat dari berbagai kelompok usia. Rangkaian kegiatan berlangsung dengan khidmat, diawali dengan nyanyian pembuka dan dilanjutkan doa pembuka oleh Bapak Widjajanto.
Acara berikutnya berupa Inspirasi Iman, dimana pemandu mengajak umat untuk berdinamika sederhana dengan bermain game berupa “Mengisi Kertas Kosong”. Pemandu membagi peserta menjadi 2 kelompok dimana tiap kelompok terdiri dari 10 umat. Tiap kelompok akan diberikan selembar kertas HVS kosong dan sebuah pena, tugasnya adalah menggambar sebuah bentuk. Setiap anggota harus berpartisipasi hanya dengan memberikan satu garis atau lengkung tanpa terputus.
Permainan ini memberikan makna bahwa pada setiap karya perlu ada inisiatif pertama untuk mengisi “kertas kosong.” Melalui kerjasama ini, kita dapat mengubah kekosongan menjadi sesuatu yang penuh makna dan indah. Ini adalah gambaran tentang bagaimana setiap orang dalam sebuah komunitas (atau Gereja) memiliki peran penting untuk saling mengisi kekosongan, saling menginspirasi, dan menciptakan sebuah cerita yang utuh. Ini juga menyoroti bahwa setiap inisiatif kecil, seperti menggambar satu garis, adalah langkah awal yang penting untuk menciptakan perubahan besar
Selanjutnya ke bagian Refleksi Iman, dimana disampaikan bahwa Gereja adalah sebuah keluarga, sebuah komunitas iman, di mana setiap anggota, dari Paus hingga umat awam, memiliki martabat yang setara dan dipanggil untuk berpartisipasi aktif. Berikutnya masuk ke Penghayatan dan Komitmen serta umat diajak secara bersama-sama membaca bacaan Kitab Suci Matius 3 : 1-12.
Melalui firman Tuhan yang disampaikan, umat diajak untuk merefleksikan makna berjalan bersama dalam kehidupan bergereja, yaitu saling menopang, menguatkan, dan menginspirasi dalam kasih Kristus. Gereja tidak berjalan sendiri, melainkan sebagai satu tubuh yang dipanggil untuk membawa terang dan damai sejahtera di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
Pemandul alu mengajak melakukan pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 2-3 menit, lalu mengajak doa umat, Doa Bapa Kami dan Doa Penutup.
Melalui pertemuan Adven ke-2 ini, diharapkan seluruh umat semakin diteguhkan untuk terus berjalan bersama sebagai gereja yang menginspirasi, setia dalam iman, serta nyata dalam perbuatan kasih menjelang perayaan Natal.
Demikian laporan kegiatan ini disampaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban dan dokumentasi kegiatan gerejawi. Kiranya seluruh rangkaian kegiatan Pertemuan Adven ke-2 ini menjadi berkat bagi umat.
Dalam suasana doa yang khidmat dan penuh iman, keluarga besar Bapak Yahya Sudarto bersama umat mengadakan Misa Memule 1 tahun berpulangnya Ibu Chatarina Sri Murhariyani. Misa dilaksanakan pada Minggu, 14 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah keluarga Bapak Yahya Sudarto, Nanggulan. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, PR, dan dihadiri kurang lebih 80 umat.
Misa memule ini menjadi ungkapan syukur sekaligus doa bagi arwah Ibu Chatarina Sri Murhariyani yang telah dipanggil Tuhan satu tahun yang lalu. Dalam kebersamaan umat, keluarga mempersembahkan doa agar almarhumah memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan, serta memohon kekuatan dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Dalam homilinya, Romo Yohanes Ngatmo, PR mengajak umat untuk memaknai kematian dalam terang iman Kristiani, yakni sebagai jalan kembali kepada Bapa. Romo menegaskan bahwa kasih Tuhan tidak pernah berakhir oleh kematian, melainkan justru disempurnakan dalam kehidupan kekal. Kenangan akan kebaikan, kasih, dan keteladanan hidup almarhumah hendaknya menjadi inspirasi bagi keluarga dan umat untuk terus hidup dalam iman, harapan, dan kasih.
Suasana misa berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Doa-doa, bacaan Kitab Suci, serta nyanyian liturgi mengalun dengan tenang, menciptakan nuansa pengharapan akan kebangkitan dan hidup kekal. Kehadiran umat dalam jumlah yang besar menjadi tanda solidaritas, kepedulian, dan persaudaraan yang erat antara keluarga dan lingkungan.
Misa memule ini tidak hanya menjadi momen mengenang satu tahun berpulangnya Ibu Chatarina Sri Murhariyani, tetapi juga kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman dan memperkuat pengharapan akan janji keselamatan Tuhan. Semoga almarhumah beristirahat dalam damai di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa dikuatkan oleh kasih dan penghiburan-Nya.
Dalam rangka menyambut Hari Raya Natal, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan Doa Adven IV Ibadat Keluarga Kudus dengan tema “Bersama-sama Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan”. Ibadat ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah Mba Rosita. Kegiatan doa dihadiri oleh 13 orang umat dan dipimpin oleh Pastor Jona Joakhim Pinem.
Ibadat berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kehangatan keluarga. Dalam suasana Adven IV yang semakin mendekatkan umat pada perayaan kelahiran Yesus Kristus, umat diajak untuk merenungkan makna kehadiran Keluarga Kudus sebagai teladan hidup beriman. Doa, lagu-lagu Adven, serta bacaan Kitab Suci membantu umat untuk semakin membuka hati dalam menyambut Sang Juruselamat.
Dalam homilinya, Pastor Jona Joakhim Pinem mengajak seluruh umat untuk meneladani Keluarga Kudus Nazaret—Yesus, Maria, dan Yosef—yang hidup dalam kesederhanaan, ketaatan, kasih, dan saling mendukung. Pastor menekankan bahwa keluarga adalah Gereja kecil (Ecclesia Domestica) yang menjadi tempat pertama iman ditumbuhkan. Dari keluarga yang penuh kasih dan iman, akan lahir Gereja yang bahagia, mampu menginspirasi sesama, serta membawa kesejahteraan bagi lingkungan sekitar.
Melalui doa Adven IV ini, umat diingatkan bahwa menghadirkan Gereja tidak harus selalu melalui hal-hal besar, tetapi dapat dimulai dari kehidupan keluarga sehari-hari: saling mendengarkan, mengampuni, berbagi, dan peduli terhadap sesama. Dengan semangat kebersamaan dan teladan Keluarga Kudus, umat diharapkan semakin siap menyambut Natal dengan hati yang penuh damai dan sukacita.
Ibadat ditutup dengan doa penutup dan kebersamaan sederhana yang semakin mempererat tali persaudaraan antarumat. Semoga semangat Adven IV ini terus hidup dalam keluarga dan lingkungan, sehingga Gereja sungguh hadir sebagai sumber kebahagiaan, inspirasi, dan kesejahteraan bagi semua.
Memasuki Minggu Adven II, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hening dan penuh harapan untuk mengikuti pertemuan dengan tema “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi.” Tema ini mengajak umat untuk berani melangkah, mengambil peran, dan menghadirkan terang kasih Tuhan di tengah masyarakat.
Pertemuan diawali dengan nyanyian dan doa pembuka, mengantar umat memasuki momen refleksi. Adven minggu kedua ini mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil bukan hanya untuk menantikan kedatangan Tuhan, tetapi juga menjadi tanda kehadiran-Nya melalui tindakan kasih yang nyata.
Tema: Mengambil Langkah Pertama untuk Peradaban Kasih
Dalam pengantar pertemuan, umat diajak menyadari bahwa dunia yang semakin kompleks membutuhkan pribadi-pribadi yang siap menjadi teladan. Gereja yang menginspirasi bukanlah Gereja yang pasif, tetapi Gereja yang berani mengambil langkah pertama untuk menyemai peradaban kasih.
Mulai dari tindakan kecil—menyapa, membantu, mendengarkan, memberi waktu—semua itu menjadi dasar yang membuat komunitas semakin hidup. Adven mengajak umat melihat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian sederhana seseorang untuk memulai.
Inspirasi Iman: Mengisi Kertas Kosong
Untuk memperdalam makna tema, pertemuan Adven II diisi dengan dinamika “Mengisi Kertas Kosong.” Pemandu menyediakan selembar kertas kosong serta beberapa spidol, lalu umat diajak hening sejenak sebelum permainan dimulai.
Satu per satu, setiap peserta diminta memberi satu goresan—entah garis, lingkaran, titik, atau bentuk sederhana lainnya. Goresan sederhana yang saling melengkapi ini perlahan membentuk sebuah gambar utuh.
Dinamika ini membawa pesan mendalam:
Sebuah karya besar selalu dimulai dari satu inisiatif kecil.
Setiap orang punya peran penting untuk mengisi kekosongan dalam komunitas.
Ketika setiap umat memberi kontribusinya, Gereja menjadi lebih indah dan lebih menginspirasi.
Tanpa kebersamaan, kertas tetap kosong. Namun dengan kerjasama, kertas itu berubah menjadi karya penuh makna.
Seperti gambar itu, hidup menggereja juga membutuhkan keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk berjalan bersama.
Peneguhan Sabda: Matius 3:1–12
Pertemuan kemudian diteguhkan dengan pembacaan Kitab Suci dari Matius 3:1–12, yang menghadirkan suara Yohanes Pembaptis sebagai pewarta pertobatan. Bacaan ini menegaskan bahwa setiap orang dipanggil untuk memperbarui diri, mempersiapkan jalan bagi Tuhan, dan menghasilkan buah-buah pertobatan dalam hidup sehari-hari.
Sabda ini menjadi dorongan agar umat tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi mengambil tindakan nyata untuk mewujudkan kasih Tuhan.
Penutup: Melangkah Bersama, Menginspirasi Sesama
Pertemuan Adven II ditutup dengan doa, memohon agar umat diberikan keberanian untuk menjadi Gereja yang bergerak, yang menghadirkan inspirasi, dan yang membangun kesejahteraan melalui aksi-aksi sederhana.
Melalui Adven minggu kedua ini, umat Stasi Maguwo diajak untuk terus melangkah bersama—mengubah “kertas kosong” kehidupan menjadi karya kasih yang hidup dan menginspirasi banyak orang.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo