Ibadat Syukur Ngunduh Mantu: Robertus Ade Kristian & Chatarina Adinda Febrianty

Pada hari Sabtu, tanggal 5 Juli 2025, pukul 19.00 WIB, telah dilaksanakan ibadat syukur Ngunduh Mantu atas pernikahan Robertus Ade Kristian dan Chatarina Adinda Febrianty. Ibadat ini diselenggarakan di kediaman Bapak YE. Hananto dan dipimpin oleh Ibu Prodiakon Tiwik.

Acara ibadat berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh rasa syukur, di mana keluarga besar memanjatkan doa sebagai ungkapan terima kasih atas berkat sakramen pernikahan yang telah diterima oleh kedua mempelai. Ibadat ini juga menjadi momen untuk mempererat tali kasih antar keluarga, lingkungan, dan umat.

Sekitar 40 umat turut hadir dalam ibadat ini, terdiri dari umat Lingkungan Santo Petrus maupun dari lingkungan lain. Kehadiran para umat menjadi bentuk dukungan dan doa bersama untuk kehidupan rumah tangga Robertus dan Chatarina, agar senantiasa dilimpahi berkat, damai, dan kesetiaan dalam membangun keluarga Katolik yang kokoh dalam iman dan kasih.

Semoga pasangan pengantin baru ini senantiasa diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan pernikahan yang penuh sukacita, saling melengkapi, dan menjadi saksi kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat menempuh hidup baru, Robertus & Chatarina. Tuhan memberkati.

Doa Rutin Lingkungan St. Petrus: Menghidupi Iman Lewat Katekese Sejarah KAS

Pada hari Kamis, 12 Juni 2025, umat Lingkungan St. Petrus kembali berkumpul dalam doa rutin bulanan yang dilaksanakan di rumah ibu kaling, Mba Lely. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal kegiatan yang dipimpin oleh Ibu Mulyadi ini.

Sebanyak 12 umat hadir dalam kegiatan ini, menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian untuk terus memperkuat iman dalam komunitas kecil. Doa bersama menjadi momen penyegaran rohani, sekaligus ruang refleksi atas pengalaman hidup sehari-hari dalam terang firman Tuhan.

Menariknya, kegiatan kali ini juga diisi dengan katekese tentang Sejarah Keuskupan Agung Semarang (KAS). Katekese tersebut mengajak umat mengenal lebih dalam perjalanan panjang Gereja KAS dari masa awal hingga sekarang, mulai dari peran para misionaris awal, perkembangan paroki-paroki, hingga semangat pelayanan yang terus hidup dalam berbagai bidang pastoral.

Ibu Mulyadi menyampaikan bahwa memahami sejarah KAS bukan hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga memperkuat identitas sebagai bagian dari Gereja lokal yang aktif dan berakar. Katekese ini memunculkan antusiasme dan diskusi ringan di antara umat, yang merasa terinspirasi untuk lebih berkontribusi dalam kehidupan menggereja.

Doa ditutup dengan harapan agar umat Lingkungan St. Petrus terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih, serta tetap setia dalam pelayanan dan kebersamaan. Kebersamaan pun dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana yang mempererat tali persaudaraan.

Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sumber semangat bagi umat untuk menapaki jalan kekudusan bersama.

Doa Rosario dan Katekese Lingkungan Santo Petrus: Membangun Gereja yang Bahagia

Pada hari Rabu, 28 Mei 2025 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di kediaman Ketua Lingkungan, Mba Lely, untuk melaksanakan doa Rosario dan katekese rutin. Kegiatan ini dihadiri oleh 12 umat yang datang dengan semangat kebersamaan dan iman.

Doa Rosario dipimpin dengan khidmat oleh Ibu Mulyadi. Suasana doa berlangsung tenang dan penuh penghayatan, mengundang umat untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus dan Bunda Maria serta memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan.

Usai Rosario, kegiatan dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Retno. Tema katekese kali ini adalah “Gereja yang Bahagia: ARDAS 2026”. Dalam penyampaiannya, Ibu Retno menekankan pentingnya mewujudkan komunitas gerejawi yang penuh sukacita, saling mendukung, dan berlandaskan kasih Kristus. Katekese ini mengajak umat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kehidupan menggereja dan menjadikan Lingkungan sebagai tempat bertumbuh dalam iman dan kebersamaan.

Pertemuan malam itu menjadi momen yang mempererat tali persaudaraan antar umat dan menguatkan semangat pelayanan dalam terang ARDAS 2026. Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sarana berkat bagi umat dan mendorong terciptanya Gereja yang semakin hidup, bersukacita, dan misioner.

Doa Rosario dan Katekese Lingkungan St. Petrus: “Menjadi Apostolik”

Pada hari Kamis, 22 Mei 2025, umat Lingkungan St. Petrus berkumpul dalam semangat kekeluargaan untuk berdoa bersama dalam doa Rosario dan mendalami iman melalui katekese. Kegiatan ini dilangsungkan di rumah Ibu Tris, yang terletak di Nanggulan, dan dimulai pukul 19.00 WIB.

Meskipun malam itu diguyur hujan, antusiasme umat tidak surut. Sebanyak 14 umat hadir, menunjukkan semangat kebersamaan dan iman yang teguh. Doa Rosario dipimpin oleh Ibu Merry, yang membimbing umat dengan penuh kesungguhan dan kelembutan hati dalam setiap peristiwa yang direnungkan.

Setelah Rosario, acara dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Maya. Topik katekese malam itu adalah “Menjadi Apostolik”, sebuah tema yang mengajak umat untuk merenungkan dan memahami salah satu ciri Gereja yang kudus: sifat apostolik. Ibu Maya menjelaskan bahwa menjadi apostolik berarti melanjutkan misi para rasul, yaitu mewartakan Injil dan menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Umat diajak untuk menyadari peran mereka sebagai pewarta kabar baik di tengah masyarakat, dengan tindakan nyata dalam kasih dan pelayanan.

Suasana hangat dan penuh semangat terasa sepanjang acara. Diskusi berlangsung aktif, dan umat saling berbagi pandangan serta pengalaman hidup beriman yang memperkaya satu sama lain.

Kegiatan ini tidak hanya mempererat tali persaudaraan antarumat di lingkungan, tetapi juga memperdalam penghayatan iman Katolik. Semangat apostolik yang dikobarkan malam itu diharapkan terus menyala dalam kehidupan sehari-hari seluruh umat St. Petrus.

Doa Rosario Lingkungan Santo Petrus dan Katekese Mei: Menjadi Katolik

Pada hari Kamis, 15 Mei 2025, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di rumah Bapak Bayu untuk melaksanakan Doa Rosario dan Katekese Mei yang bertemakan Menjadi Katolik. Meskipun hujan mengguyur dengan cukup deras, semangat umat untuk hadir dan berdoa bersama tetap tinggi. Tepat pukul 19.00, acara dimulai dengan penuh kekhusyukan.

Doa Rosario dipimpin oleh Ibu Wiwid yang dengan penuh penghayatan memandu setiap peristiwa Rosario. Para umat yang hadir mengikuti doa dengan khidmat, menyatukan hati dalam untaian doa kepada Bunda Maria. Hujan yang turun seakan menjadi latar alamiah yang menambah kehangatan dalam kebersamaan.

Setelah Doa Rosario, acara dilanjutkan dengan Katekese yang dibawakan oleh Bapak Heri. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Heri menjelaskan makna menjadi seorang Katolik yang sejati, termasuk pentingnya hidup dalam iman, harapan, dan kasih. Para umat yang hadir tampak antusias mendengarkan dan berdiskusi, menambah wawasan tentang penghayatan iman Katolik.

Acara ini dihadiri oleh 12 orang umat yang dengan penuh semangat dan sukacita mengikuti seluruh rangkaian doa dan katekese. Walaupun cuaca kurang bersahabat, kekhusyukan doa dan kebersamaan yang terjalin tidak berkurang sedikit pun.

Pertemuan ditutup dengan doa bersama, memohon berkat dan perlindungan Tuhan bagi seluruh umat Lingkungan Santo Petrus. Semoga semangat berdoa dan memperdalam iman semakin tumbuh dalam setiap hati umat.

Doa Rosario dan Katekese Mei: Yubileum Komunitas Pengharapan di Lingkungan Santo Petrus

Pada hari Kamis, 8 Mei 2025, di rumah Bapak Agus Marjuni, berlangsung kegiatan doa Rosario dan katekese dalam rangka Yubileum Komunitas Pengharapan di lingkungan Santo Petrus. Acara ini dipimpin oleh Ibu Enni dan dihadiri oleh 13 orang yang merupakan bagian dari komunitas dan warga lingkungan setempat.

Kegiatan diawali dengan doa Rosario bersama yang dipimpin oleh Ibu Enni. Doa Rosario merupakan rangkaian doa yang terdiri dari doa-doa pokok, yaitu Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan. Selama doa Rosario, umat diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus Kristus dan Bunda Maria, sekaligus mempersembahkan doa syukur dan permohonan bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.

Setelah doa Rosario, acara dilanjutkan dengan katekese yang berfokus pada tema Yubileum Komunitas Pengharapan. Yubileum merupakan momen khusus untuk memperbarui iman dan mempererat tali persaudaraan dalam komunitas. Dalam suasana penuh kekeluargaan, peserta berbagi cerita tentang pengalaman iman dan pengharapan yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.

Acara berlangsung dengan penuh hikmat dan kekeluargaan. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan intensi doa pribadi, sehingga suasana menjadi semakin hangat dan penuh dengan rasa kebersamaan. Beberapa peserta juga menyampaikan kesan dan harapan mereka terhadap komunitas, agar semakin berkembang dan semakin dekat dengan Tuhan.

Pada akhir acara, Bapak Agus Marjuni selaku tuan rumah mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh peserta dan mengharapkan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai bentuk komitmen iman dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan dalam doa dan persekutuan mampu memperkuat iman dan semangat persaudaraan di antara umat. Yubileum Komunitas Pengharapan di Lingkungan Santo Petrus diharapkan menjadi titik awal bagi kebangkitan iman yang lebih kokoh dan solidaritas yang lebih kuat di tengah masyarakat.

Semoga semangat pengharapan dan kasih terus tumbuh di dalam komunitas ini dan menjadi teladan bagi lingkungan lainnya.

Doa Rosario dan Renungan Bulan Katekese : Lingkungan St. Petrus, 1 Mei 2025

Pada hari Kamis, 1 Mei 2025, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan pertemuan doa Rosario sekaligus Renungan Bulan Katekese Mei 2025 di kediaman Bapak Priyo. Acara ini dipimpin oleh Ibu Retno dan Bapak Heri, serta dihadiri oleh 18 orang umat yang dengan penuh semangat dan sukacita berkumpul dalam doa dan permenungan iman.

Pertemuan dimulai dengan doa pembuka, dilanjutkan dengan doa Rosario yang dibawakan secara bergilir oleh umat yang hadir. Suasana doa terasa khusyuk dan penuh kekeluargaan, mencerminkan semangat kebersamaan dalam iman yang hidup di tengah umat.

Setelah doa Rosario, acara dilanjutkan dengan Renungan Bulan Katekese yang dibawakan oleh Bapak Heri. Dalam renungan tersebut, umat diajak untuk semakin mendalami ajaran Gereja dan memaknai peran sebagai umat Allah di tengah masyarakat, khususnya dalam menyambut Bulan Maria ini dengan semangat pertobatan, pelayanan, dan cinta kasih.

Ibu Retno juga turut membagikan pengalaman imannya yang memperkaya suasana refleksi dan memberikan inspirasi bagi umat yang hadir. Diskusi singkat pun berlangsung hangat, memperkuat rasa kebersamaan dan semangat untuk terus bertumbuh dalam iman.

Pertemuan ditutup dengan doa penutup dan ramah tamah sederhana. Umat merasa dikuatkan dan bersyukur dapat saling menyapa dan berbagi dalam suasana kekeluargaan yang akrab.

Semoga pertemuan ini menjadi berkat dan semakin menguatkan iman umat dalam menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan semangat Injil Kristus.

Pembukaan Bulan Maria – Stasi St. Maria Bunda Allah Maguwo

Saudara-saudari umat Allah yang terkasih,

Hari ini, Kamis 1 Mei 2025, Bersama seluruh Gereja, kita memasuki Bulan Maria, masa penuh rahmat, ketika hati umat Katolik diarahkan secara khusus kepada Santa Perawan Maria, Bunda Tuhan kita. Dalam bulan ini, kita diajak untuk merenungkan kehadiran Bunda Maria dalam hidup kita, meneladani imannya yang total, dan membuka hati bagi karya keselamatan yang diwartakan melalui hidup dan tindakannya.

Dalam semangat iman dan devosi yang mendalam, Stasi Maria Bunda Allah memulai Bulan Maria dengan sebuah peristiwa rohani yang sungguh indah dan menyentuh: doa Rosario serentak oleh seluruh lingkungan, dilaksanakan di waktu yang sama, namun di tempat yang tersebar di tiap lingkungan masing-masing. Walau secara fisik terpisah, tetapi umat dipersatukan dalam satu semangat, satu intensi, dan satu hati di hadapan Allah, melalui perantaraan Bunda Maria.

Masing-masing lingkungan menyalakan terang devosi dari tempatnya sendiri, namun bersama-sama membentuk satu untaian doa yang harum di hadapan Tuhan. Satu demi satu, butir-butir Rosario dinaikkan sebagai persembahan cinta dan harapan, sebagai bentuk syukur dan permohonan, sebagai tanda kesetiaan umat kepada Allah melalui hati seorang ibu Maria, yang senantiasa mendoakan dan mendampingi anak-anaknya.

Inilah kekuatan Gereja: bersatu dalam doa, meskipun tak berada dalam satu ruangan. Seperti cahaya lilin di malam hari, yang terpisah namun menyatu dalam terang, demikian pula umat Stasi Maria Bunda Allah malam ini menghadirkan kehangatan iman dalam lingkup masing-masing, namun menggemakan satu suara kepada Surga.

Semoga rangkaian doa Rosario yang kita mulai malam ini menjadi sumber berkat bagi setiap keluarga, lingkungan, dan stasi kita. Semoga melalui perantaraan Bunda Maria, hidup kita pun makin dibentuk menjadi pribadi yang rendah hati, taat pada kehendak Allah, dan penuh kasih terhadap sesama.

putar audio di bawah ini, kemudian pejamkan mata anda………..

Santa Maria, Bunda Allah,
Doakanlah kami yang berlindung kepadamu.
Amin
.


Paskah Bersama Lansia: Merayakan Kasih yang Tak Pernah Menua

Minggu 20 April 2025, selepas misa paskah pagi,di sebuah sudut hangat penuh senyum dan cerita, tepatnya di kediaman Bapak Arief Subyantoro, suasana Paskah terasa begitu berbeda. Tidak ada sorak sorai anak kecil, tidak ada hiruk-pikuk paduan suara. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam: tatapan mata penuh syukur, genggaman tangan yang hangat, dan kisah-kisah kehidupan yang dipeluk oleh cahaya Paskah.

Itulah wajah indah dari Perayaan Paskah bersama para lansia, sebuah inisiatif penuh kasih dari Timpel PIUL (Pelayanan Iman Umat Lansia) di bawah naungan Bidang Pewarta Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah pelukan rohani bagi mereka yang telah berjalan lebih dulu dalam perjalanan iman

Acara ini dibungkus dalam kesederhanaan, namun justru di situlah letak kemewahannya. Lagu-lagu rohani dinyanyikan dengan suara lembut namun penuh rasa. Doa-doa dipanjatkan dalam irama pelan, menyentuh setiap hati yang hadir. Ada pula momen berbagi cerita, di mana para lansia menyampaikan harapan, syukur, bahkan canda kecil tentang masa muda mereka—yang disambut tawa hangat dari semua yang hadir.

Sambutan yang Membuat Hati Bergetar

Salah satu momen mengharukan terjadi saat Ketua Stasi memberikan sambutan. Dengan suara sedikit bergetar dan mata yang berkaca-kaca, beliau menyampaikan rasa syukur dan bangga atas terselenggaranya acara ini.

Kami lihat, setiap kerutan di wajah oma opa, eyang,  menyimpan cerita, doa, dan pengorbanan yang luar biasa. Dan lewat perayaan sederhana ini, kami ingin bilang: terima kasih………………Terima kasih karena terus menjadi tiang doa bagi keluarga dan lingkungan. Terima kasih karena kasih dan semangat bapak dan ibu selalu jadi inspirasi bagi kami yang lebih muda.

Bukan karena sedih, tapi karena mereka menyadari betapa besarnya cinta Tuhan yang mengalir melalui perhatian kecil seperti ini.

Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk menyadari bahwa iman tak pernah memudar seiring usia, justru menjadi lebih matang dan bijak. Kehadiran para lansia adalah kekayaan gereja, mereka adalah “kitab hidup” yang menyimpan hikmah dan keteladanan.

“Terima kasih, kami merasa tidak dilupakan,” ucap salah satu opa dengan mata berkaca-kaca.

Dan itulah inti dari Paskah—bahwa kasih Allah selalu bangkit dan hadir di setiap usia, dalam setiap detak hidup umat-Nya.

Acara ini bukan hanya hadiah bagi para lansia, tapi juga menjadi pelajaran berharga bagi yang muda: bahwa pelayanan tak mengenal usia, dan Paskah tak hanya untuk dirayakan di altar megah, tapi juga di ruang tamu kecil yang penuh cinta.

Terima kasih untuk Timpel PIUL yang sudah menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan. Terima kasih juga untuk Bapak Arief Subyantoro yang telah membuka pintu rumah dan hatinya. Dan terima kasih untuk para lansia, yang diam-diam selalu mengajarkan kita arti keteguhan, kesabaran, dan cinta sejati.

Selamat Paskah.
Tuhan yang bangkit, juga menghidupkan kembali harapan di setiap hati—tanpa memandang usia.

Doa Memule 100 Hari Mengenang Ibu Chatarina Sri Murhariyani

Sabtu malam, 29 Maret 2025, keluarga besar dan para sahabat berkumpul dalam suasana haru dan penuh kasih untuk mengenang 100 hari kepergian almarhumah Ibu Chatarina Sri Murhariyani. Acara doa bersama atau memule ini diselenggarakan di kediaman Bapak Yahya Sudarto / Sdri. Pipit pada pukul 19.00 WIB.

Doa dipimpin oleh Ibu Tiwik, seorang prodiakon yang dengan khusyuk memandu jalannya ibadat. Dalam doa-doa yang dilantunkan, hadirin diajak untuk mengenang kasih dan kebaikan Ibu Chatarina semasa hidupnya, serta mendoakan agar arwah beliau mendapatkan kedamaian abadi di sisi Tuhan.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 35 orang yang terdiri dari keluarga, kerabat dekat, dan sahabat-sahabat almarhumah. Suasana doa berlangsung dengan khidmat, penuh penghayatan, namun juga terasa hangat karena adanya kebersamaan dalam kenangan akan pribadi Ibu Chatarina yang dikenal ramah, penyayang, dan penuh perhatian terhadap sesama.

Setelah doa selesai, para tamu dijamu dengan hidangan sederhana sebagai bentuk ucapan terima kasih dari keluarga atas kehadiran dan doa yang dipanjatkan.

Keluarga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas dukungan dan doa dari semua pihak, serta berharap semangat kasih dan keteladanan Ibu Chatarina terus hidup dalam hati setiap orang yang pernah mengenalnya.