Satu Hati dalam Sukacita: Tradisi Ujung Natal Lingkungan Yohanes Pembaptis Fajar baru saja menyingsing setelah Misa Natal usai, namun suasana di Lingkungan Yohanes Pembaptis sudah terasa begitu hidup. Hari ini bukan sekadar tentang perayaan formal, melainkan tentang menghidupkan kembali tradisi “Ujung”—sebuah perjalanan kasih yang menghubungkan satu pintu ke pintu lainnya.
Sejak pagi, rombongan warga mulai berkumpul. Tidak ada batasan usia; dari yang sepuh hingga yang paling muda, semua berbaur menjadi satu keluarga besar. Tradisi muter ke rumah-rumah ini adalah cara kami berkumpul kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan setahun terakhir. Setiap rumah yang dikunjungi menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan hangat, seolah mengatakan, “Rumahku adalah rumahmu juga.” Pesta Kecil bagi Para “Pemburu” Jajan Pemandangan yang paling ikonik tentu saja datang dari anak-anak. Dengan penuh semangat, mereka menenteng tas besar—bahkan ada yang membawa tas belanja kain berukuran ekstra—yang siap terisi. Bagi mereka, Natal adalah “panen raya” kebahagiaan. Di setiap meja tamu, toples-toples berisi kue nastar, putri salju, hingga berbagai snack kekinian telah menanti. Tak butuh waktu lama, tas yang kosong tadi mulai menggelembung penuh dengan aneka rupa jajanan. Suara gemerisik bungkus plastik dan tawa renyah mereka saat membandingkan “hasil buruan” menjadi latar musik yang paling merdu sepanjang perjalanan.
Lebih dari Sekadar Snack dan Silaturahmi Namun, di balik tas-tas yang berat berisi makanan dan rute panjang yang ditempuh, ada makna yang lebih dalam. Tradisi Ujung di Lingkungan Yohanes Pembaptis adalah tentang: Kerendahan Hati: Saling memaafkan dan membuka diri. Kedermawanan: Berbagi berkat sekecil apa pun kepada sesama. Pewarisan Iman: Mengajarkan anak-anak bahwa Gereja bukan hanya bangunan, tapi komunitas orang-orang yang saling mengasihi. Lelah di kaki seolah tak terasa karena hati telah penuh oleh sukacita. Inilah wajah Natal kita—sederhana, guyub, dan penuh berkat. Selamat merayakan Natal, Lingkungan Yohanes Pembaptis! Semoga semangat silaturahmi ini terus menyala di hati kita semua.
Menjelang akhir masa Natal, umat di lingkungan-lingkungan Stasi Maguwo melaksanakan Ibadat Keluarga Kudus sebagai momen untuk kembali meneguhkan panggilan keluarga kristiani. Ibadat tahun ini mengangkat tema: “Bersama-Sama Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.”
Melalui ibadat sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin memaknai kedatangan Kristus dalam kehidupan sehari-hari—terutama dalam keluarga sebagai komunitas terkecil yang membentuk Gereja. Keluarga yang hidup dalam sukacita dan harapan akan lebih mampu menjadi inspirasi dan saluran kebaikan bagi masyarakat sekitar.
Tujuan Ibadat
Pertemuan ini bertujuan agar umat semakin menyadari bahwa kehadiran Kristus tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga dalam relasi keluarga, kebersamaan, dan hidup menggereja di lingkungan. Dengan demikian, keluarga kristiani semakin menjadi tempat:
tumbuhnya sukacita,
bertumbuhnya iman,
serta lahirnya tindakan kasih yang menyejahterakan sesama.
Bacaan Injil: Lukas 2:41–52
Ibadat ditopang oleh bacaan Injil tentang Yesus yang berada di Bait Allah pada usia dua belas tahun. Kisah ini menggambarkan dinamika keluarga yang pernah mengalami kehilangan, keresahan, dan pencarian, namun semuanya dijalani dengan kasih dan kesetiaan.
Renungan Singkat: Tiga Makna Keluarga Kudus
Pemandu atau pemimpin ibadat mengajak umat merenungkan tiga pokok inspiratif dari Keluarga Kudus Nazaret:
1. Keluarga yang Bahagia
Keluarga Kudus tidak steril dari masalah. Mereka sempat mengalami kekhawatiran besar ketika Yesus hilang. Namun mereka menghadapinya dengan:
cinta kasih,
kepercayaan penuh,
komunikasi yang terbuka.
Bahagia bukan berarti tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk saling menopang dan bertumbuh bersama dalam setiap situasi.
2. Keluarga yang Menginspirasi
Maria dan Yosef menunjukkan ketaatan yang mendalam pada kehendak Allah. Mereka menjadi teladan keluarga sederhana yang hidup dari iman. Dari merekalah kita belajar bahwa keluarga adalah sekolah iman pertama, tempat nilai-nilai Kristiani ditanamkan secara nyata.
3. Keluarga yang Menyejahterakan
Yesus tumbuh menjadi pribadi yang “bertambah hikmat, besar, dan disukai Allah dan manusia”. Pertumbuhan itu tidak terlepas dari kesejahteraan rohani dan jasmani yang Ia terima dalam keluarga-Nya.
Keluarga yang menyejahterakan adalah keluarga yang menumbuhkan potensi tiap anggotanya sehingga mampu menjadi berkat bagi dunia, membawa damai, dan menghadirkan kebaikan.
Litani Permohonan
Dalam litani permohonan, umat bersama-sama memohon agar setiap keluarga:
diberi kekuatan menghadapi tantangan,
diteguhkan dalam cinta,
serta dipenuhi semangat untuk menjadi keluarga yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.
Doa Penutup & Berkat
Ibadat diakhiri dengan doa penutup, menyerahkan keluarga masing-masing ke dalam penyertaan Tuhan. Setelah itu, umat menerima berkat penutup yang menjadi tanda pengutusan agar setiap keluarga semakin menjadi cermin kasih Allah di tengah masyarakat.
Memasuki Minggu Adven II, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hening dan penuh harapan untuk mengikuti pertemuan dengan tema “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi.” Tema ini mengajak umat untuk berani melangkah, mengambil peran, dan menghadirkan terang kasih Tuhan di tengah masyarakat.
Pertemuan diawali dengan nyanyian dan doa pembuka, mengantar umat memasuki momen refleksi. Adven minggu kedua ini mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil bukan hanya untuk menantikan kedatangan Tuhan, tetapi juga menjadi tanda kehadiran-Nya melalui tindakan kasih yang nyata.
Tema: Mengambil Langkah Pertama untuk Peradaban Kasih
Dalam pengantar pertemuan, umat diajak menyadari bahwa dunia yang semakin kompleks membutuhkan pribadi-pribadi yang siap menjadi teladan. Gereja yang menginspirasi bukanlah Gereja yang pasif, tetapi Gereja yang berani mengambil langkah pertama untuk menyemai peradaban kasih.
Mulai dari tindakan kecil—menyapa, membantu, mendengarkan, memberi waktu—semua itu menjadi dasar yang membuat komunitas semakin hidup. Adven mengajak umat melihat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian sederhana seseorang untuk memulai.
Inspirasi Iman: Mengisi Kertas Kosong
Untuk memperdalam makna tema, pertemuan Adven II diisi dengan dinamika “Mengisi Kertas Kosong.” Pemandu menyediakan selembar kertas kosong serta beberapa spidol, lalu umat diajak hening sejenak sebelum permainan dimulai.
Satu per satu, setiap peserta diminta memberi satu goresan—entah garis, lingkaran, titik, atau bentuk sederhana lainnya. Goresan sederhana yang saling melengkapi ini perlahan membentuk sebuah gambar utuh.
Dinamika ini membawa pesan mendalam:
Sebuah karya besar selalu dimulai dari satu inisiatif kecil.
Setiap orang punya peran penting untuk mengisi kekosongan dalam komunitas.
Ketika setiap umat memberi kontribusinya, Gereja menjadi lebih indah dan lebih menginspirasi.
Tanpa kebersamaan, kertas tetap kosong. Namun dengan kerjasama, kertas itu berubah menjadi karya penuh makna.
Seperti gambar itu, hidup menggereja juga membutuhkan keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk berjalan bersama.
Peneguhan Sabda: Matius 3:1–12
Pertemuan kemudian diteguhkan dengan pembacaan Kitab Suci dari Matius 3:1–12, yang menghadirkan suara Yohanes Pembaptis sebagai pewarta pertobatan. Bacaan ini menegaskan bahwa setiap orang dipanggil untuk memperbarui diri, mempersiapkan jalan bagi Tuhan, dan menghasilkan buah-buah pertobatan dalam hidup sehari-hari.
Sabda ini menjadi dorongan agar umat tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi mengambil tindakan nyata untuk mewujudkan kasih Tuhan.
Penutup: Melangkah Bersama, Menginspirasi Sesama
Pertemuan Adven II ditutup dengan doa, memohon agar umat diberikan keberanian untuk menjadi Gereja yang bergerak, yang menghadirkan inspirasi, dan yang membangun kesejahteraan melalui aksi-aksi sederhana.
Melalui Adven minggu kedua ini, umat Stasi Maguwo diajak untuk terus melangkah bersama—mengubah “kertas kosong” kehidupan menjadi karya kasih yang hidup dan menginspirasi banyak orang.
Memasuki Minggu Adven III, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hangat untuk mengikuti pertemuan Adven dengan tema “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan.” Tema ini mengajak umat untuk semakin membuka hati, melihat sesama, dan menghadirkan kesejahteraan bagi banyak orang melalui bela rasa dan kerjasama. Setiap lingkungan berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh keakraban, dipersatukan oleh semangat yang sama: membangun Gereja yang semakin menyejahterakan.
Pertemuan dimulai dengan nyanyian pembuka, disusul doa pembuka yang membawa umat masuk dalam suasana doa dan penantian yang mendalam. Suasana hening dan kebersamaan malam ini menjadi tempat yang baik untuk menyiapkan hati menyambut kehadiran Sang Juru Selamat.
Pengantar: Menghidupi Semangat Bela Rasa
Dalam pengantar pertemuan, umat diajak merenungkan bahwa menjadi Gereja yang menyejahterakan bukan hanya tugas para pemimpin Gereja, tetapi panggilan setiap orang beriman. Kesejahteraan terwujud ketika kita mau hadir, peduli, dan menjadi tanda kasih Tuhan bagi sesama.
Gereja dipanggil untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi untuk keluar, melihat sekitar, dan terlibat menghadirkan kebaikan. Adven mengajak kita menyiapkan hati sekaligus menyiapkan tindakan nyata untuk mewujudkan kesejahteraan bersama—di keluarga, lingkungan, wilayah, dan stasi.
Inspirasi Iman: Puzzle Kesejahteraan
Pertemuan Adven III malam ini juga dilengkapi dengan dinamika menyusun puzzle, sebagai simbol bahwa kesejahteraan sejati adalah hasil karya bersama. Umat menerima potongan gambar dari berbagai bentuk—gambar keluarga harmonis, orang yang tersenyum, atau suasana damai—untuk dirangkai kembali menjadi gambar utuh.
Dinamika sederhana ini mengingatkan umat bahwa:
setiap orang membawa “potongan kebaikannya” sendiri,
setiap talenta saling melengkapi,
dan kesejahteraan hanya terwujud ketika semua bekerja bersama.
Sebagaimana puzzle tidak akan lengkap tanpa satu potongan pun, demikian pula Gereja tidak akan bisa menyejahterakan jika warganya berjalan sendiri-sendiri.
Refleksi Iman: Pesan Paus Fransiskus
Dalam refleksi, umat merenungkan pesan Paus Fransiskus yang menegaskan bahwa setiap manusia adalah saudara, tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang. Kesejahteraan menurut Gereja bukan sekadar kesejahteraan materi, tetapi kesejahteraan yang memanusiakan setiap orang.
Paus mengingatkan bahwa masyarakat yang terpecah-pecah tidak mungkin menciptakan kesejahteraan. Justru dengan berbela rasa, bekerjasama, saling peduli, dan membangun relasi yang hangat, kita dapat menghadirkan “keluarga manusia” yang sejati.
Peneguhan Kitab Suci
Sabda Tuhan yang dibacakan menjadi sumber kekuatan bagi umat untuk semakin memahami panggilan sebagai Gereja yang melayani kesejahteraan bersama. Sabda tersebut mengingatkan bahwa tindakan kasih adalah bagian dari karya keselamatan Tuhan yang hadir melalui setiap pribadi yang mau peduli.
Penutup
Pertemuan ditutup dengan doa bersama, memohon agar umat semakin mampu menghidupi semangat bela rasa dan kerjasama, sehingga Gereja sungguh menjadi tempat yang menumbuhkan harapan dan kesejahteraan bagi semua orang.
Melalui Adven III ini, umat Stasi Maguwo—khususnya lingkungan St. Monika, St. Klara, St. Yohanes Pembaptis, St. Gregorius, Bramin, St. Theresia, St. Stefanus, dan St. Yusuf—diajak untuk semakin siap menyambut kelahiran Kristus, Sang Sumber Sukacita dan Kesejahteraan sejati.
Awal Desember jadi momen spesial buat umat Stasi Maguwo. Soalnya, seluruh lingkungan bareng-bareng ngadain Ibadat Adven Pertama sebagai tanda dimulainya masa penantian menuju Natal. Tema Adven Minggu I tahun ini adalah “Menantikan Kristus dalam Kebahagiaan Iman”—tema yang sederhana tapi ngena banget.
Di tiap lingkungan, ibadat diadakan dengan suasana yang hangat dan akrab. Ada yang berkumpul di rumah umat, ada yang bikin lingkaran Adven sederhana, ada yang mulai ibadat dengan doa singkat, dan semuanya sama-sama menyalakan lilin pertama sebagai tanda harapan. Rasanya adem banget melihat umat kumpul, doa bareng, dan saling menyapa setelah ibadat.
Renungan Adven Pertama mengingatkan kita bahwa menanti Kristus itu nggak harus tegang atau penuh kekhawatiran. Justru sebaliknya—kita diajak untuk menunggu dengan hati yang gembira, bersyukur, dan percaya bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita sehari-hari.
Lingkungan St. Yohanes pembabtis
Linkungan St Fransiskus Asisi
Lingkungan St Petrus
Lingkungan St Monica
Lingkungan St Bartholomeus
Lingkungan St. Theresia
Lingkungan St. Gregorius
Lingkungan St. Yusuf
Lingkungan St Clara
Lingkungan St Stefanus
Lingkungan St. Antonius
Lingkungan St. Gabriel
Walaupun tiap lingkungan punya cara sendiri dalam menyiapkan ibadat, suasana yang terasa tetap sama: kompak, simple, dan penuh sukacita. Beberapa lingkungan lanjut ngobrol santai setelah ibadat, ada juga yang foto bareng, pokoknya suasananya hangat banget.
Dengan dimulainya Adven Pertama ini, umat Stasi Maguwo berharap bisa terus berjalan bersama dalam persiapan menuju Natal. Lilin pertama sudah dinyalakan—tinggal kita jaga supaya semangat dan harapan itu tetap hidup sampai Hari Natal tiba.
Hari Minggu, 23 November 2025 menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi, Stasi Maguwo. Setelah beberapa minggu mempersiapkan acara, akhirnya kegiatan Ziarah dan Rekreasi yang sudah lama dirindukan ini dapat terlaksana. Tahun ini, rombongan mengunjungi empat lokasi sekaligus: Kerkof Muntilan, Goa Maria Pereng, Bukit Cinta Rawapening, dan Kebun Bagus Salatiga.
Selain untuk memperdalam iman melalui ziarah, kegiatan ini juga dirancang agar umat lintas usia, anak-anak, OMK, dewasa, hingga para lansia bisa saling mengenal, bercengkrama, dan menikmati waktu yang penuh sukacita. Dari 50 orang yang mendaftar, sebanyak 42 umat hadir dan berangkat bersama. Meskipun jumlahnya sedikit berkurang, semangat kebersamaan tetap terasa penuh sejak pagi.
Pagi Dimulai Dengan Doa dan Sukacita
Rombongan mulai berkumpul sejak pagi di kediaman Ibu Lita. Setelah semua siap, kami memulai perjalanan panjang hari itu dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon, Bapak Yuli.
Tak lupa, kami mengambil momen untuk berfoto bersama dan merekam video yel-yel khas lingkungan Asisi: “Asisi, Bersama, Bahagia, Beriman!” Suasana pagi itu terasa hangat, penuh antusiasme, seperti layaknya satu keluarga besar yang hendak berwisata bersama.
Pukul 06.45, bus besar membawa kami memulai perjalanan.
Perhentian Pertama: Kerkof Muntilan
Perjalanan menuju Muntilan berjalan lancar, dan kami tiba sekitar pukul 07.30. Cuaca cerah membuat suasana ziarah di Kerkof terasa damai. Setelah foto bersama, umat diberi waktu untuk doa pribadi di area pemakaman yang penuh sejarah ini. Masing-masing membawa doa, harapan, dan rasa syukur dalam hati.
Setelah sekitar 30 menit, kami kembali naik bus dan melanjutkan perjalanan ke Goa Maria Pereng Salatiga.
Karaoke, Kuis, dan Tawa Sepanjang Jalan
Perjalanan menuju Goa Maria Pereng memakan waktu sekitar 90 menit. Namun kebersamaan selalu membuat waktu berlalu lebih cepat. Di dalam bus, panitia memutar lagu-lagu yang langsung disambut heboh oleh umat. Karaoke spontan pun pecah.
Panitia juga menyiapkan kuis berhadiah doorprize, yang membuat suasana makin meriah. Ada yang serius menjawab, ada yang asal tebak sambil tertawa, semuanya dinikmati dengan gembira.
Perhentian Kedua: Goa Maria Pereng, Hening Dalam Doa
Kami tiba di Goa Maria Pereng pukul 09.45. Setelah berfoto bersama, umat melaksanakan Jalan Salib dengan suasana hening dan penuh penghayatan. Setiap perhentian mengingatkan kami untuk kembali menata hati dan memaknai perjalanan hidup masing-masing.
Selesai Jalan Salib, umat diberi waktu untuk doa pribadi di sekitar goa. Tempat yang teduh dan sejuk menambah kekhusyukan. Setelah semuanya selesai, rombongan bersiap menuju destinasi berikutnya.
Perhentian Ketiga: Bukit Cinta, Piknik Sederhana yang Membahagiakan
Kami tiba di Bukit Cinta Rawapening sekitar pukul 11.50. Begitu turun dari bus, udara sejuk dan pemandangan danau langsung menyambut.
Setelah menemukan lokasi yang nyaman di bawah pepohonan, umat bersama-sama menggelar tikar. Kemudian dimulailah momen yang paling ditunggu-tunggu: makan siang bersama.
Menu sederhana, nasi putih, ayam goreng, bakmi goreng, oseng tempe, dan lotis segar satu container penuh, terasa nikmat luar biasa saat disantap ramai-ramai. Sambil bersantap, Ketua Lingkungan Bapak Jondit sempat berkata: “Sing penting wareg lan waras, wis marai bahagia.” Dan benar saja, siang itu semuanya makan dengan lahap dan hati bahagia.
Setelah makan, anak-anak bermain di playground kecil, beberapa umat berjalan menyusuri area danau, sementara yang lain duduk bercerita sambil menikmati angin dan pemandangan.
Acara Keakraban: Joged, Game dan Doorprize
Setelah beristirahat sejenak, acara keakraban dimulai. Dipandu dengan penuh semangat oleh Ibu Silvia dan Ibu Retno, kami semua ikut joged bersama. Para ibu menunjukkan gerakan paling luwes dan penuh energi, hingga bapak-bapak pun diberi tugas memilih siapa yang paling semangat untuk menerima doorprize.
Setelah itu, berbagai permainan digelar:
Tebak bisik untuk para uti-uti, hasilnya sangat lucu karena yang berbisik dan mendengar kadang salah menangkap kata.
Tebak gaya untuk bapak-bapak, ini yang paling mengundang tawa karena gaya bapak-bapak yang kelewat lucu.
Lalu permainan kecil untuk OMK dan anak-anak.
Semua game berlangsung santai namun penuh tawa. Kebersamaan benar-benar terasa hidup siang itu.
Acara ditutup dengan pembagian semua doorprize yang sudah disiapkan panitia.
Perhentian Keempat: Kebun Bagus, Sejuk, Segar, dan Menyenangkan
Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Bagus Salatiga dan tiba sekitar pukul 15.30. Karena bus besar tidak dapat masuk, kami harus naik kereta odong-odong dari SPBU terdekat. Justru bagian inilah yang menjadi salah satu momen paling seru, banyak umat yang baru pertama kali naik odong-odong, dan semua langsung minta difoto!
Sesampainya di Kebun Bagus, udara sejuk dan suasana kebun yang asri membuat banyak umat spontan melepas alas kaki untuk menikmati dinginnya tanah. Ada yang langsung belanja buah segar, melon renyah manis, mangga ranum, alpukat, hingga jeruk bali.
Sebagian menikmati minuman dari mini coffee shop: jus segar, es dawet, kopi, teh, dan camilan. Anak-anak ikut memberi makan kambing, sementara beberapa umat mengikuti tur kebun yang disediakan.
Yang lain memilih duduk santai sambil menikmati pemandangan dan berbincang. Sebelum pulang, tentu saja kami berfoto bersama dan meneriakan yel-yel Asisi sebagai kenang-kenangan.
Pulang Dengan Hati Penuh Syukur
Rombongan kembali menuju bus dengan odong-odong, dan sekali lagi, semua tampak sangat menikmati perjalanan singkat itu. Kami berangkat pulang pukul 17.00 dan tiba di Jogja sekitar pukul 18.30.
Semua peserta kembali dengan sehat, penuh sukacita, dan membawa pengalaman indah yang mempererat persaudaraan umat.
Hari itu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa: Bahagia itu sebenarnya sederhana, asal kita mau saling berbagi, bersyukur, dan menikmatinya bersama.
Selama bulan Oktober, umat di berbagai lingkungan telah melaksanakan doa Rosario secara rutin. Setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus bersama Bunda Maria, sekaligus mempererat tali persaudaraan antarumat.
“Bersama Maria, kita diajak untuk terus bertekun dalam doa dan percaya akan penyertaan Tuhan dalam hidup kita.”
Makna Doa Rosario
Doa Rosario bukan sekadar rangkaian doa yang diulang-ulang, melainkan sebuah perjalanan iman yang membawa kita merenungkan misteri kehidupan Yesus Kristus bersama Bunda Maria.
Doa yang Membawa Kita Dekat dengan Kristus
Melalui setiap peristiwa (misteri) dalam Rosario—sukacita, dukacita, kemuliaan, dan terang—kita diajak untuk memusatkan hati pada Yesus, merenungkan karya keselamatan-Nya dari kelahiran hingga kebangkitan.
Maria sebagai Pendamping Doa
Dengan mendoakan Rosario, kita meneladani Bunda Maria yang setia merenungkan sabda Allah dalam hatinya (bdk. Lukas 2:19). Ia menjadi teladan bagi umat beriman untuk selalu percaya dan taat pada kehendak Tuhan.
Doa yang Membawa Kedamaian
Rosario sering disebut sebagai “senjata rohani”. Santo Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai doa yang membawa damai bagi hati, keluarga, dan dunia. Saat Rosario didaraskan dengan iman dan kasih, hati menjadi lebih tenang dan damai.
Ungkapan Kasih dan Syukur
Setiap butir Rosario adalah persembahan kasih kepada Bunda Maria sebagai ungkapan syukur atas penyertaannya dan perantaraan doanya bagi Gereja serta umat manusia.
Doa yang Mengikat Umat dalam Persaudaraan
Ketika Rosario didoakan bersama-sama — baik di keluarga, lingkungan, atau komunitas — kita diajak untuk hidup dalam kebersamaan, saling mendoakan, dan memperkuat iman satu sama lain.
“Marilah kita bertekun dan sehati dalam doa bersama-sama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus.” — Kisah Para Rasul 1:14
Dengan semangat yang sama, umat Stasi Maguwo berkomitmen untuk terus meneladani Bunda Maria dalam kehidupan sehari-hari — hidup yang penuh doa, rendah hati, dan setia kepada kehendak Allah.
Dalam semangat mempererat koordinasi dan meningkatkan kualitas pelayanan liturgi, Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo mengadakan pertemuan para Penanggung Jawab (PJ) Koor Lingkungan pada hari Minggu, 2 November 2025, bertempat di gazebo Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Pertemuan ini dihadiri oleh timpel koor lingkungan, timpel koor stasi, serta kabid liturgi, yang bersama-sama berdiskusi dan menyusun langkah konkret untuk mempersiapkan kegiatan pelayanan koor di tingkat stasi.
Agenda utama pertemuan kali ini adalah membahas rencana parade koor yang akan dilaksanakan dalam Misa Pesta Nama Stasi dan Pelantikan Pengurus pada 4 Januari 2026 mendatang. Dalam acara tersebut, koor dari 17 lingkungan akan dibagi menjadi 8 kelompok, masing-masing membawakan lagu yang telah ditentukan oleh tim pelaksana.
Latihan akan dilakukan secara mandiri oleh tiap kelompok, dengan biaya ditanggung masing-masing lingkungan, dan akan diakhiri dengan gladi bersih pada hari Jumat setelah misa Jumper. Lagu-lagu yang akan digunakan akan dipilihkan oleh timpel stasi, dengan tiga opsi lagu yang dapat disesuaikan dengan kemampuan dan karakter masing-masing kelompok.
Sebagai bentuk apresiasi bagi semangat para lingkungan dalam pelayanan koor, akan diberikan hadiah berupa buku Mazmur, yang dapat dipilih sesuai kebutuhan — apakah Mazmur Harian atau Mazmur Mingguan.
Selain pembahasan utama, pertemuan ini juga menampung berbagai usulan dan masukan dari para peserta, antara lain:
Penjadwalan koor misa hari raya (selain Natal dan Paskah) agar dilimpahkan ke wilayah/ lingkungan,
Misa Jumper tetap menjadi tugas koor wilayah,
serta perlunya penjadwalan mazmur agar pelayanan semakin tertata dan berkesinambungan.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana santai namun penuh semangat ini menjadi wadah kebersamaan bagi para pelayan musik liturgi. Melalui koordinasi yang baik dan semangat melayani, diharapkan pelayanan koor di Stasi Maguwo semakin hidup, kompak, dan menjadi pujian yang sungguh memuliakan nama Tuhan.
Bulan Oktober dikenal sebagai Bulan Rosario bagi umat Katolik. Tradisi ini berakar dari devosi kepada Bunda Maria dan doa Rosario Suci, yang merupakan salah satu doa paling khas dalam Gereja Katolik. Gereja menetapkan Oktober sebagai Bulan Rosario sejak Paus Leo XIII (abad ke-19), karena ingin menegaskan pentingnya doa Rosario sebagai sarana pertumbuhan iman dan perlindungan Bunda Maria bagi Gereja.
Bunda Maria adalah teladan iman yang sejati. Sejak menerima kabar gembira dari malaikat, Maria menyerahkan seluruh hidupnya kepada kehendak Allah. Ia tetap setia mendampingi Yesus dari kandungan, masa kecil, karya pelayanan, hingga salib.
Dalam hidup kita, sering kali kita menghadapi tantangan dan kesulitan yang menguji iman. Namun, seperti Maria, kita dipanggil untuk tetap percaya, bahkan ketika kita belum melihat jawaban doa kita.
Dalam rangka memperingati Bulan Rosario, umat Lingkungan St. Gabriel mengadakan doa Rosario bersama sesuai kesepakatan umat. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi seluruh umat untuk mempererat persaudaraan, memperdalam iman, dan meneladani Bunda Maria yang senantiasa setia dalam doa dan pelayanan.
Doa Rosario bersama dilaksanakan dua kali setiap minggu, yaitu setiap hari Senin dan Kamis. Tempat pelaksanaan doa dilakukan secara bergiliran di rumah umat, sehingga setiap keluarga memiliki kesempatan untuk menjadi tuan rumah dan ikut ambil bagian dalam kegiatan rohani ini. Selain hari tersebut, umat dapat melaksanakan doa Rosario bersama keluarga di rumah masing-masing.
Petugas doa berasal dari umat sendiri, dengan melibatkan orang tua, remaja, dan anak-anak, agar sejak dini anak-anak terbiasa berdoa Rosario dan aktif dalam kehidupan menggereja.
Seluruh kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat, sederhana, dan penuh kekeluargaan. Berdasarkan kesepakatan bersama, doa Rosario dilaksanakan secara malaikatan, yaitu tanpa minum dan snack, agar umat lebih fokus pada makna doa dan kebersamaan dalam iman.
Melalui kegiatan ini, umat Lingkungan St. Gabriel semakin dikuatkan dalam iman dan semakin meneladani Bunda Maria dalam kesetiaan kepada Tuhan.
Kegiatan jaga kantin GMBA ini merupakan salah satu program dari paguyuban ibu-ibu stasi Maguwo. Program ini bertujuan untuk mendukung pelayanan umat melalui pengelolaan kantin gereja yang bersih, tertib, dan ramah, serta menjadi sarana kebersamaan dan gotong royong antar ibu-ibu lingkungan. Selain itu, hasil dari kegiatan kantin dapat digunakan untuk membantu kegiatan sosial maupun kebutuhan gereja.
Pada bulan Oktober, Lingkungan St. Gabriel mendapat giliran untuk menjaga kantin gereja. Sebagai bentuk koordinasi dan tanggung jawab, ketua paguyuban ibu lingkungan telah menyusun jadwal penjaga kantin untuk setiap minggu selama bulan Oktober, agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan baik dan teratur.
Setiap petugas hari Minggu diharapkan melakukan pembersihan meja dan ruang kantin pada hari Sabtu sebelumnya, sehingga pada hari Minggu pagi kantin sudah dalam keadaan bersih dan siap digunakan untuk berjualan.
Petugas hari Minggu diharapkan sudah standby di kantin pukul 05.30 pagi untuk menerima titipan dari para supplier. Para supplier ini berasal dari umat gereja maupun masyarakat sekitar yang berpartisipasi dalam sistem titip jual. Dalam sistem ini, supplier memberikan harga titip, kemudian petugas kantin menetapkan harga jual kepada pembeli. Keuntungan diperoleh dari selisih harga jual dan harga titip tersebut.
Setelah masa tugas satu bulan selesai, keuntungan hasil penjagaan kantin dibagi dengan ketentuan:
Sebagian disetor ke Paguyuban Ibu Stasi, sebagai bentuk dukungan untuk kegiatan bersama.
Sisanya dimasukkan ke kas Ibu Lingkungan St. Gabriel, untuk menunjang kegiatan lingkungan.
Kegiatan ini menjadi sarana pelayanan, kebersamaan, serta wujud partisipasi aktif ibu-ibu lingkungan dalam mendukung kegiatan dan kebutuhan gereja.