Kamis, 8 Januari 2026, Lingkungan St. Gabriel mengawali tahun baru dengan sembayangan perdana di rumah Bapak Thobias, dimulai pukul 19.00 WIB. Sekitar 30 umat hadir, terdiri dari orang tua, remaja, dan anak-anak. Sembayangan dipimpin oleh Bapak Paul, Bapak Simbolon dan Sdr. Diego, berlangsung dalam suasana khidmat. Kegiatan ini menjadi momen doa bersama untuk memohon berkat di tahun baru serta mempererat kebersamaan umat Lingkungan St. Gabriel.
Setelah selesai doa, acara dilanjutkan dengan serah terima kepengurusan dari Ketua Lingkungan lama, Bapak Philipus Soejiwa Prasaja, kepada Ketua Lingkungan baru, Bapak Paulus Haryoko. Serah terima dilakukan melalui penandatanganan berita acara, penyerahan laporan keuangan, dan penyerahan cap lingkungan, sebagai simbol tanggung jawab resmi kepengurusan baru.
Dalam kesempatan itu, Ketua Lingkungan lama, Bapak Philipus Soejiwa Prasaja, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh umat atas kerja sama dan dukungan selama masa kepengurusannya. Beliau juga memohon maaf apabila selama pelayanan terdapat hal-hal yang kurang berkenan atau kesalahan yang dilakukan.
Selanjutnya, pertemuan dilanjutkan dengan sosialisasi pembangunan Gereja GMBA Maguwo, yang dipaparkan dengan rinci dan jelas oleh Bapak Andre dan Bapak Pangat. Umat diajak untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan gereja, karena gereja adalah milik bersama dan untuk masa depan anak cucu kita. Partisipasi dapat dilakukan melalui pembelian kupon atau sumbangan pribadi, dengan harga kupon Rp20.000 per lembar. Selain itu, setiap tiga bulan akan diadakan undian kupon sebagai bentuk apresiasi bagi umat yang berpartisipasi.
Kegiatan awal tahun ini menjadi momen penting untuk mempererat kebersamaan umat, memperkuat komitmen pengurus baru, dan mendukung pembangunan Gereja GMBA Maguwo demi keberlanjutan pelayanan dan iman umat Lingkungan St. Gabriel.
Pada Rabu, 7 Januari 2026, pengurus baru Lingkungan St. Gabriel mengadakan rapat perdana yang bertempat di rumah keluarga Bapak Paul. Rapat ini dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh seluruh pengurus baru Lingkungan St. Gabriel.
Ketua Lingkungan terpilih adalah Bapak Paulus Haryoko, yang memimpin rapat perdana pengurus baru Lingkungan St. Gabriel.
Rapat ini menjadi momentum awal bagi para pengurus untuk saling mengenal, menyamakan visi, serta membahas rencana pelayanan dan program kerja ke depan. Suasana rapat berlangsung dengan penuh semangat dan kekeluargaan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Lingkungan yang baru, Bapak Paulus Haryoko, memaparkan tugas dan tanggung jawab (jobdesk) masing-masing pengurus secara jelas dan terstruktur. Pemaparan ini disampaikan dengan mengajak seluruh pengurus untuk berdiskusi secara terbuka, sehingga setiap pengurus dapat memahami peran dan tanggung jawabnya dengan baik.
Melalui rapat perdana ini, diharapkan seluruh pengurus dapat bekerja sama dengan baik, menjaga komunikasi, dan melaksanakan tugas pelayanan dengan penuh tanggung jawab. Semoga pengurus Lingkungan St. Gabriel selalu kompak dan Lingkungan St. Gabriel semakin guyup dalam membangun kebersamaan serta kehidupan iman umat.
Serah Terima Kepengurusan, Sosialisasi Pembangunan di Lingkungan St. Fransiskus Asisi
Pada Kamis malam, 15 Januari 2026, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi kembali berkumpul dalam suasana penuh kehangatan di kediaman Bapak Paulus Prasetyo, “Joglo Prasetyan”, Meguwo. Pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar doa rutin lingkungan, malam itu juga menjadi momen penting estafet pelayanan melalui serah terima kepengurusan lingkungan.
Doa bersama dipimpin oleh Bapak Rusdiyanto, dilanjutkan dengan prosesi serah terima pengurus periode 2023–2025 kepada pengurus baru periode 2026–2028. Dalam sambutannya, Bapak Jondit selaku Ketua Lingkungan periode sebelumnya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan seluruh umat selama masa pelayanannya. Beliau mengungkapkan bahwa berbagai tugas dan tanggung jawab dapat diselesaikan dengan baik berkat kebersamaan dan partisipasi umat. Dengan penuh kerendahan hati, Bapak Jondit juga menyatakan dukungan dan harapan terbaik bagi pengurus baru yang akan melanjutkan pelayanan.
Sebagai simbol tanggung jawab dan transparansi, Bapak Jondit menyerahkan laporan keuangan, laporan inventaris, berkas-berkas administrasi lingkungan, serta cap lingkungan kepada Ketua Lingkungan terpilih periode 2026–2028.
Sebagai ungkapan terima kasih dan apresiasi, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi yang diwakili oleh Bapak dan Ibu Felix menyerahkan kenang-kenangan berupa gambar karikatur berbingkai kepada Bapak dan Ibu Jondit. Sebuah hadiah sederhana namun sarat makna, sebagai tanda kasih dan penghargaan atas dedikasi yang telah diberikan. Doa dan harapan pun dipanjatkan agar keluarga Bapak dan Ibu Jondit beserta keluarga senantiasa dilimpahi kebahagiaan dan berkat Tuhan.
Memasuki periode kepengurusan yang baru, umat berharap agar pengurus Lingkungan St. Fransiskus Asisi dapat melanjutkan nilai-nilai baik yang telah diteladankan, serta membawa lingkungan semakin maju, guyub, dan erat dalam semangat persaudaraan serta pelayanan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi rencana pembangunan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) yang disampaikan oleh Tim Panitia Pembangunan, diwakili oleh Bapak Ande, Bapak Pangat, dan Bapak Danang. Panitia memaparkan latar belakang serta garis besar rencana pembangunan gereja yang diharapkan dapat memasuki tahap pertama pada Juni 2026. Pembangunan ini diharapkan menjadi langkah penyempurnaan sarana gereja demi menunjang kehidupan iman umat nantinya.
Sebagai bentuk partisipasi umat, panitia memperkenalkan program penjualan Kupon Kemurahan Hati seharga Rp20.000 per kupon. Seluruh umat diajak untuk terlibat aktif, dimulai dari kontribusi paling sederhana. Dalam sesi ini, umat juga menyampaikan berbagai tanggapan dan pertanyaan, di antaranya terkait pengembangan lahan parkir yang saat ini terbatas serta kemungkinan kontribusi dalam bentuk non-tunai seperti material bangunan. Diskusi berlangsung terbuka, hangat, dan menunjukkan antusiasme serta dukungan penuh umat terhadap rencana pembangunan GMBA.
Menjelang akhir pertemuan, Ketua Lingkungan yang baru menyampaikan pengumuman terkait tugas-tugas terdekat. Acara resmi kemudian ditutup, namun kehangatan kebersamaan masih terasa. Sejumlah umat tetap tinggal, melanjutkan obrolan ringan dan berbagi cerita dalam suasana santai dan penuh keakraban, sebuah potret sederhana namun bermakna dari hidup menggereja yang tumbuh dalam kebersamaan.
Di sebuah malam yang tenang, di tengah suasana kekeluargaan yang begitu hangat, para pengurus Lingkungan St. Yohanes Pembaptis berkumpul dalam sebuah momen yang spesial—sebuah momen yang bukan hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga menandai perjalanan baru bagi seluruh umat lingkungan. Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas. Ia sedang maju antara mereka yang telah mengabdi dengan sepenuh hati sebagai pengurus lama, dengan wajah-wajah baru yang siap melanjutkan pelayanan estafet. Seakan-akan dua generasi bertemu dalam satu ruang, membawa cerita, pengalaman, harapan, dan semangat yang sama: melayani Tuhan melalui umat-Nya.
Para pengurus lama duduk berdampingan, membawa kisah perjalanan panjang yang mereka lalui—tentang rapat yang tak terhitung, kunjungan umat, kegiatan rohani, suka duka dalam pelayanan, hingga tawa-tawa kecil yang pernah mewarnai kebersamaan mereka. Mereka hadir bukan hanya untuk menyerahkan tugas, tetapi untuk memberikan teladan dan jejak yang bisa menjadi pijakan bagi generasi berikutnya. Di sisi lain, para pengurus baru datang dengan mata berbinar—melambangkan optimisme dan tekad untuk meneruskan pelayanan ini. Mereka menyimak, menyapa, dan berdialog; menyerap setiap pesan dan nasihat seolah tengah menerima warisan berharga: warisan semangat pelayanan penuh kasih. Suasana pertemuan terasa hangat ketika keduanya saling bertukar cerita. Ada tawa lembut mengenang perjalanan yang sudah dilalui, ada pula percakapan serius tentang harapan umat dan tantangan ke depan. Namun di antara semua itu, yang paling terasa adalah rasa syukur: syukur karena Tuhan terus menyediakan tangan-tangan baru untuk melanjutkan karya-Nya.
Pada akhirnya, proses serah terima berlangsung dengan sederhana namun penuh makna. Ketika tanggung jawab itu berpindah, seolah cahaya baru menyala—cahaya harapan bagi lingkungan Yohanes Pembaptis untuk terus bertumbuh, bersekutu, dan melayani lebih baik lagi. Regenerasi ini bukanlah penutup dari sebuah perjalanan, melainkan babak baru yang dibuka dengan penuh kebahagiaan. Para pengurus lama tetap menjadi keluarga yang disertai dengan doa dan dukungan, sementara pengurus baru melangkah maju, membawa api pelayanan yang terus menyala. Dan dengan hati yang bersatu, keluarga besar Lingkungan St. Yohanes Pembaptis pun berdoa bersama: semoga Tuhan selalu membimbing setiap langkah, menguatkan setiap niat, dan mewujudkan setiap pelayanan—baik mereka yang dulu, sekarang, maupun yang akan datang.
Satu Hati dalam Sukacita: Tradisi Ujung Natal Lingkungan Yohanes Pembaptis Fajar baru saja menyingsing setelah Misa Natal usai, namun suasana di Lingkungan Yohanes Pembaptis sudah terasa begitu hidup. Hari ini bukan sekadar tentang perayaan formal, melainkan tentang menghidupkan kembali tradisi “Ujung”—sebuah perjalanan kasih yang menghubungkan satu pintu ke pintu lainnya.
Sejak pagi, rombongan warga mulai berkumpul. Tidak ada batasan usia; dari yang sepuh hingga yang paling muda, semua berbaur menjadi satu keluarga besar. Tradisi muter ke rumah-rumah ini adalah cara kami berkumpul kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan setahun terakhir. Setiap rumah yang dikunjungi menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan hangat, seolah mengatakan, “Rumahku adalah rumahmu juga.” Pesta Kecil bagi Para “Pemburu” Jajan Pemandangan yang paling ikonik tentu saja datang dari anak-anak. Dengan penuh semangat, mereka menenteng tas besar—bahkan ada yang membawa tas belanja kain berukuran ekstra—yang siap terisi. Bagi mereka, Natal adalah “panen raya” kebahagiaan. Di setiap meja tamu, toples-toples berisi kue nastar, putri salju, hingga berbagai snack kekinian telah menanti. Tak butuh waktu lama, tas yang kosong tadi mulai menggelembung penuh dengan aneka rupa jajanan. Suara gemerisik bungkus plastik dan tawa renyah mereka saat membandingkan “hasil buruan” menjadi latar musik yang paling merdu sepanjang perjalanan.
Lebih dari Sekadar Snack dan Silaturahmi Namun, di balik tas-tas yang berat berisi makanan dan rute panjang yang ditempuh, ada makna yang lebih dalam. Tradisi Ujung di Lingkungan Yohanes Pembaptis adalah tentang: Kerendahan Hati: Saling memaafkan dan membuka diri. Kedermawanan: Berbagi berkat sekecil apa pun kepada sesama. Pewarisan Iman: Mengajarkan anak-anak bahwa Gereja bukan hanya bangunan, tapi komunitas orang-orang yang saling mengasihi. Lelah di kaki seolah tak terasa karena hati telah penuh oleh sukacita. Inilah wajah Natal kita—sederhana, guyub, dan penuh berkat. Selamat merayakan Natal, Lingkungan Yohanes Pembaptis! Semoga semangat silaturahmi ini terus menyala di hati kita semua.
Menjelang akhir masa Natal, umat di lingkungan-lingkungan Stasi Maguwo melaksanakan Ibadat Keluarga Kudus sebagai momen untuk kembali meneguhkan panggilan keluarga kristiani. Ibadat tahun ini mengangkat tema: “Bersama-Sama Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.”
Melalui ibadat sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin memaknai kedatangan Kristus dalam kehidupan sehari-hari—terutama dalam keluarga sebagai komunitas terkecil yang membentuk Gereja. Keluarga yang hidup dalam sukacita dan harapan akan lebih mampu menjadi inspirasi dan saluran kebaikan bagi masyarakat sekitar.
Tujuan Ibadat
Pertemuan ini bertujuan agar umat semakin menyadari bahwa kehadiran Kristus tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga dalam relasi keluarga, kebersamaan, dan hidup menggereja di lingkungan. Dengan demikian, keluarga kristiani semakin menjadi tempat:
tumbuhnya sukacita,
bertumbuhnya iman,
serta lahirnya tindakan kasih yang menyejahterakan sesama.
Bacaan Injil: Lukas 2:41–52
Ibadat ditopang oleh bacaan Injil tentang Yesus yang berada di Bait Allah pada usia dua belas tahun. Kisah ini menggambarkan dinamika keluarga yang pernah mengalami kehilangan, keresahan, dan pencarian, namun semuanya dijalani dengan kasih dan kesetiaan.
Renungan Singkat: Tiga Makna Keluarga Kudus
Pemandu atau pemimpin ibadat mengajak umat merenungkan tiga pokok inspiratif dari Keluarga Kudus Nazaret:
1. Keluarga yang Bahagia
Keluarga Kudus tidak steril dari masalah. Mereka sempat mengalami kekhawatiran besar ketika Yesus hilang. Namun mereka menghadapinya dengan:
cinta kasih,
kepercayaan penuh,
komunikasi yang terbuka.
Bahagia bukan berarti tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk saling menopang dan bertumbuh bersama dalam setiap situasi.
2. Keluarga yang Menginspirasi
Maria dan Yosef menunjukkan ketaatan yang mendalam pada kehendak Allah. Mereka menjadi teladan keluarga sederhana yang hidup dari iman. Dari merekalah kita belajar bahwa keluarga adalah sekolah iman pertama, tempat nilai-nilai Kristiani ditanamkan secara nyata.
3. Keluarga yang Menyejahterakan
Yesus tumbuh menjadi pribadi yang “bertambah hikmat, besar, dan disukai Allah dan manusia”. Pertumbuhan itu tidak terlepas dari kesejahteraan rohani dan jasmani yang Ia terima dalam keluarga-Nya.
Keluarga yang menyejahterakan adalah keluarga yang menumbuhkan potensi tiap anggotanya sehingga mampu menjadi berkat bagi dunia, membawa damai, dan menghadirkan kebaikan.
Litani Permohonan
Dalam litani permohonan, umat bersama-sama memohon agar setiap keluarga:
diberi kekuatan menghadapi tantangan,
diteguhkan dalam cinta,
serta dipenuhi semangat untuk menjadi keluarga yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.
Doa Penutup & Berkat
Ibadat diakhiri dengan doa penutup, menyerahkan keluarga masing-masing ke dalam penyertaan Tuhan. Setelah itu, umat menerima berkat penutup yang menjadi tanda pengutusan agar setiap keluarga semakin menjadi cermin kasih Allah di tengah masyarakat.
Memasuki Minggu Adven II, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hening dan penuh harapan untuk mengikuti pertemuan dengan tema “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi.” Tema ini mengajak umat untuk berani melangkah, mengambil peran, dan menghadirkan terang kasih Tuhan di tengah masyarakat.
Pertemuan diawali dengan nyanyian dan doa pembuka, mengantar umat memasuki momen refleksi. Adven minggu kedua ini mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil bukan hanya untuk menantikan kedatangan Tuhan, tetapi juga menjadi tanda kehadiran-Nya melalui tindakan kasih yang nyata.
Tema: Mengambil Langkah Pertama untuk Peradaban Kasih
Dalam pengantar pertemuan, umat diajak menyadari bahwa dunia yang semakin kompleks membutuhkan pribadi-pribadi yang siap menjadi teladan. Gereja yang menginspirasi bukanlah Gereja yang pasif, tetapi Gereja yang berani mengambil langkah pertama untuk menyemai peradaban kasih.
Mulai dari tindakan kecil—menyapa, membantu, mendengarkan, memberi waktu—semua itu menjadi dasar yang membuat komunitas semakin hidup. Adven mengajak umat melihat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian sederhana seseorang untuk memulai.
Inspirasi Iman: Mengisi Kertas Kosong
Untuk memperdalam makna tema, pertemuan Adven II diisi dengan dinamika “Mengisi Kertas Kosong.” Pemandu menyediakan selembar kertas kosong serta beberapa spidol, lalu umat diajak hening sejenak sebelum permainan dimulai.
Satu per satu, setiap peserta diminta memberi satu goresan—entah garis, lingkaran, titik, atau bentuk sederhana lainnya. Goresan sederhana yang saling melengkapi ini perlahan membentuk sebuah gambar utuh.
Dinamika ini membawa pesan mendalam:
Sebuah karya besar selalu dimulai dari satu inisiatif kecil.
Setiap orang punya peran penting untuk mengisi kekosongan dalam komunitas.
Ketika setiap umat memberi kontribusinya, Gereja menjadi lebih indah dan lebih menginspirasi.
Tanpa kebersamaan, kertas tetap kosong. Namun dengan kerjasama, kertas itu berubah menjadi karya penuh makna.
Seperti gambar itu, hidup menggereja juga membutuhkan keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk berjalan bersama.
Peneguhan Sabda: Matius 3:1–12
Pertemuan kemudian diteguhkan dengan pembacaan Kitab Suci dari Matius 3:1–12, yang menghadirkan suara Yohanes Pembaptis sebagai pewarta pertobatan. Bacaan ini menegaskan bahwa setiap orang dipanggil untuk memperbarui diri, mempersiapkan jalan bagi Tuhan, dan menghasilkan buah-buah pertobatan dalam hidup sehari-hari.
Sabda ini menjadi dorongan agar umat tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi mengambil tindakan nyata untuk mewujudkan kasih Tuhan.
Penutup: Melangkah Bersama, Menginspirasi Sesama
Pertemuan Adven II ditutup dengan doa, memohon agar umat diberikan keberanian untuk menjadi Gereja yang bergerak, yang menghadirkan inspirasi, dan yang membangun kesejahteraan melalui aksi-aksi sederhana.
Melalui Adven minggu kedua ini, umat Stasi Maguwo diajak untuk terus melangkah bersama—mengubah “kertas kosong” kehidupan menjadi karya kasih yang hidup dan menginspirasi banyak orang.
Memasuki Minggu Adven III, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hangat untuk mengikuti pertemuan Adven dengan tema “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan.” Tema ini mengajak umat untuk semakin membuka hati, melihat sesama, dan menghadirkan kesejahteraan bagi banyak orang melalui bela rasa dan kerjasama. Setiap lingkungan berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh keakraban, dipersatukan oleh semangat yang sama: membangun Gereja yang semakin menyejahterakan.
Pertemuan dimulai dengan nyanyian pembuka, disusul doa pembuka yang membawa umat masuk dalam suasana doa dan penantian yang mendalam. Suasana hening dan kebersamaan malam ini menjadi tempat yang baik untuk menyiapkan hati menyambut kehadiran Sang Juru Selamat.
Pengantar: Menghidupi Semangat Bela Rasa
Dalam pengantar pertemuan, umat diajak merenungkan bahwa menjadi Gereja yang menyejahterakan bukan hanya tugas para pemimpin Gereja, tetapi panggilan setiap orang beriman. Kesejahteraan terwujud ketika kita mau hadir, peduli, dan menjadi tanda kasih Tuhan bagi sesama.
Gereja dipanggil untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi untuk keluar, melihat sekitar, dan terlibat menghadirkan kebaikan. Adven mengajak kita menyiapkan hati sekaligus menyiapkan tindakan nyata untuk mewujudkan kesejahteraan bersama—di keluarga, lingkungan, wilayah, dan stasi.
Inspirasi Iman: Puzzle Kesejahteraan
Pertemuan Adven III malam ini juga dilengkapi dengan dinamika menyusun puzzle, sebagai simbol bahwa kesejahteraan sejati adalah hasil karya bersama. Umat menerima potongan gambar dari berbagai bentuk—gambar keluarga harmonis, orang yang tersenyum, atau suasana damai—untuk dirangkai kembali menjadi gambar utuh.
Dinamika sederhana ini mengingatkan umat bahwa:
setiap orang membawa “potongan kebaikannya” sendiri,
setiap talenta saling melengkapi,
dan kesejahteraan hanya terwujud ketika semua bekerja bersama.
Sebagaimana puzzle tidak akan lengkap tanpa satu potongan pun, demikian pula Gereja tidak akan bisa menyejahterakan jika warganya berjalan sendiri-sendiri.
Refleksi Iman: Pesan Paus Fransiskus
Dalam refleksi, umat merenungkan pesan Paus Fransiskus yang menegaskan bahwa setiap manusia adalah saudara, tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang. Kesejahteraan menurut Gereja bukan sekadar kesejahteraan materi, tetapi kesejahteraan yang memanusiakan setiap orang.
Paus mengingatkan bahwa masyarakat yang terpecah-pecah tidak mungkin menciptakan kesejahteraan. Justru dengan berbela rasa, bekerjasama, saling peduli, dan membangun relasi yang hangat, kita dapat menghadirkan “keluarga manusia” yang sejati.
Peneguhan Kitab Suci
Sabda Tuhan yang dibacakan menjadi sumber kekuatan bagi umat untuk semakin memahami panggilan sebagai Gereja yang melayani kesejahteraan bersama. Sabda tersebut mengingatkan bahwa tindakan kasih adalah bagian dari karya keselamatan Tuhan yang hadir melalui setiap pribadi yang mau peduli.
Penutup
Pertemuan ditutup dengan doa bersama, memohon agar umat semakin mampu menghidupi semangat bela rasa dan kerjasama, sehingga Gereja sungguh menjadi tempat yang menumbuhkan harapan dan kesejahteraan bagi semua orang.
Melalui Adven III ini, umat Stasi Maguwo—khususnya lingkungan St. Monika, St. Klara, St. Yohanes Pembaptis, St. Gregorius, Bramin, St. Theresia, St. Stefanus, dan St. Yusuf—diajak untuk semakin siap menyambut kelahiran Kristus, Sang Sumber Sukacita dan Kesejahteraan sejati.
Awal Desember jadi momen spesial buat umat Stasi Maguwo. Soalnya, seluruh lingkungan bareng-bareng ngadain Ibadat Adven Pertama sebagai tanda dimulainya masa penantian menuju Natal. Tema Adven Minggu I tahun ini adalah “Menantikan Kristus dalam Kebahagiaan Iman”—tema yang sederhana tapi ngena banget.
Di tiap lingkungan, ibadat diadakan dengan suasana yang hangat dan akrab. Ada yang berkumpul di rumah umat, ada yang bikin lingkaran Adven sederhana, ada yang mulai ibadat dengan doa singkat, dan semuanya sama-sama menyalakan lilin pertama sebagai tanda harapan. Rasanya adem banget melihat umat kumpul, doa bareng, dan saling menyapa setelah ibadat.
Renungan Adven Pertama mengingatkan kita bahwa menanti Kristus itu nggak harus tegang atau penuh kekhawatiran. Justru sebaliknya—kita diajak untuk menunggu dengan hati yang gembira, bersyukur, dan percaya bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita sehari-hari.
Lingkungan St. Yohanes pembabtis
Linkungan St Fransiskus Asisi
Lingkungan St Petrus
Lingkungan St Monica
Lingkungan St Bartholomeus
Lingkungan St. Theresia
Lingkungan St. Gregorius
Lingkungan St. Yusuf
Lingkungan St Clara
Lingkungan St Stefanus
Lingkungan St. Antonius
Lingkungan St. Gabriel
Walaupun tiap lingkungan punya cara sendiri dalam menyiapkan ibadat, suasana yang terasa tetap sama: kompak, simple, dan penuh sukacita. Beberapa lingkungan lanjut ngobrol santai setelah ibadat, ada juga yang foto bareng, pokoknya suasananya hangat banget.
Dengan dimulainya Adven Pertama ini, umat Stasi Maguwo berharap bisa terus berjalan bersama dalam persiapan menuju Natal. Lilin pertama sudah dinyalakan—tinggal kita jaga supaya semangat dan harapan itu tetap hidup sampai Hari Natal tiba.
Hari Minggu, 23 November 2025 menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi, Stasi Maguwo. Setelah beberapa minggu mempersiapkan acara, akhirnya kegiatan Ziarah dan Rekreasi yang sudah lama dirindukan ini dapat terlaksana. Tahun ini, rombongan mengunjungi empat lokasi sekaligus: Kerkof Muntilan, Goa Maria Pereng, Bukit Cinta Rawapening, dan Kebun Bagus Salatiga.
Selain untuk memperdalam iman melalui ziarah, kegiatan ini juga dirancang agar umat lintas usia, anak-anak, OMK, dewasa, hingga para lansia bisa saling mengenal, bercengkrama, dan menikmati waktu yang penuh sukacita. Dari 50 orang yang mendaftar, sebanyak 42 umat hadir dan berangkat bersama. Meskipun jumlahnya sedikit berkurang, semangat kebersamaan tetap terasa penuh sejak pagi.
Pagi Dimulai Dengan Doa dan Sukacita
Rombongan mulai berkumpul sejak pagi di kediaman Ibu Lita. Setelah semua siap, kami memulai perjalanan panjang hari itu dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon, Bapak Yuli.
Tak lupa, kami mengambil momen untuk berfoto bersama dan merekam video yel-yel khas lingkungan Asisi: “Asisi, Bersama, Bahagia, Beriman!” Suasana pagi itu terasa hangat, penuh antusiasme, seperti layaknya satu keluarga besar yang hendak berwisata bersama.
Pukul 06.45, bus besar membawa kami memulai perjalanan.
Perhentian Pertama: Kerkof Muntilan
Perjalanan menuju Muntilan berjalan lancar, dan kami tiba sekitar pukul 07.30. Cuaca cerah membuat suasana ziarah di Kerkof terasa damai. Setelah foto bersama, umat diberi waktu untuk doa pribadi di area pemakaman yang penuh sejarah ini. Masing-masing membawa doa, harapan, dan rasa syukur dalam hati.
Setelah sekitar 30 menit, kami kembali naik bus dan melanjutkan perjalanan ke Goa Maria Pereng Salatiga.
Karaoke, Kuis, dan Tawa Sepanjang Jalan
Perjalanan menuju Goa Maria Pereng memakan waktu sekitar 90 menit. Namun kebersamaan selalu membuat waktu berlalu lebih cepat. Di dalam bus, panitia memutar lagu-lagu yang langsung disambut heboh oleh umat. Karaoke spontan pun pecah.
Panitia juga menyiapkan kuis berhadiah doorprize, yang membuat suasana makin meriah. Ada yang serius menjawab, ada yang asal tebak sambil tertawa, semuanya dinikmati dengan gembira.
Perhentian Kedua: Goa Maria Pereng, Hening Dalam Doa
Kami tiba di Goa Maria Pereng pukul 09.45. Setelah berfoto bersama, umat melaksanakan Jalan Salib dengan suasana hening dan penuh penghayatan. Setiap perhentian mengingatkan kami untuk kembali menata hati dan memaknai perjalanan hidup masing-masing.
Selesai Jalan Salib, umat diberi waktu untuk doa pribadi di sekitar goa. Tempat yang teduh dan sejuk menambah kekhusyukan. Setelah semuanya selesai, rombongan bersiap menuju destinasi berikutnya.
Perhentian Ketiga: Bukit Cinta, Piknik Sederhana yang Membahagiakan
Kami tiba di Bukit Cinta Rawapening sekitar pukul 11.50. Begitu turun dari bus, udara sejuk dan pemandangan danau langsung menyambut.
Setelah menemukan lokasi yang nyaman di bawah pepohonan, umat bersama-sama menggelar tikar. Kemudian dimulailah momen yang paling ditunggu-tunggu: makan siang bersama.
Menu sederhana, nasi putih, ayam goreng, bakmi goreng, oseng tempe, dan lotis segar satu container penuh, terasa nikmat luar biasa saat disantap ramai-ramai. Sambil bersantap, Ketua Lingkungan Bapak Jondit sempat berkata: “Sing penting wareg lan waras, wis marai bahagia.” Dan benar saja, siang itu semuanya makan dengan lahap dan hati bahagia.
Setelah makan, anak-anak bermain di playground kecil, beberapa umat berjalan menyusuri area danau, sementara yang lain duduk bercerita sambil menikmati angin dan pemandangan.
Acara Keakraban: Joged, Game dan Doorprize
Setelah beristirahat sejenak, acara keakraban dimulai. Dipandu dengan penuh semangat oleh Ibu Silvia dan Ibu Retno, kami semua ikut joged bersama. Para ibu menunjukkan gerakan paling luwes dan penuh energi, hingga bapak-bapak pun diberi tugas memilih siapa yang paling semangat untuk menerima doorprize.
Setelah itu, berbagai permainan digelar:
Tebak bisik untuk para uti-uti, hasilnya sangat lucu karena yang berbisik dan mendengar kadang salah menangkap kata.
Tebak gaya untuk bapak-bapak, ini yang paling mengundang tawa karena gaya bapak-bapak yang kelewat lucu.
Lalu permainan kecil untuk OMK dan anak-anak.
Semua game berlangsung santai namun penuh tawa. Kebersamaan benar-benar terasa hidup siang itu.
Acara ditutup dengan pembagian semua doorprize yang sudah disiapkan panitia.
Perhentian Keempat: Kebun Bagus, Sejuk, Segar, dan Menyenangkan
Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Bagus Salatiga dan tiba sekitar pukul 15.30. Karena bus besar tidak dapat masuk, kami harus naik kereta odong-odong dari SPBU terdekat. Justru bagian inilah yang menjadi salah satu momen paling seru, banyak umat yang baru pertama kali naik odong-odong, dan semua langsung minta difoto!
Sesampainya di Kebun Bagus, udara sejuk dan suasana kebun yang asri membuat banyak umat spontan melepas alas kaki untuk menikmati dinginnya tanah. Ada yang langsung belanja buah segar, melon renyah manis, mangga ranum, alpukat, hingga jeruk bali.
Sebagian menikmati minuman dari mini coffee shop: jus segar, es dawet, kopi, teh, dan camilan. Anak-anak ikut memberi makan kambing, sementara beberapa umat mengikuti tur kebun yang disediakan.
Yang lain memilih duduk santai sambil menikmati pemandangan dan berbincang. Sebelum pulang, tentu saja kami berfoto bersama dan meneriakan yel-yel Asisi sebagai kenang-kenangan.
Pulang Dengan Hati Penuh Syukur
Rombongan kembali menuju bus dengan odong-odong, dan sekali lagi, semua tampak sangat menikmati perjalanan singkat itu. Kami berangkat pulang pukul 17.00 dan tiba di Jogja sekitar pukul 18.30.
Semua peserta kembali dengan sehat, penuh sukacita, dan membawa pengalaman indah yang mempererat persaudaraan umat.
Hari itu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa: Bahagia itu sebenarnya sederhana, asal kita mau saling berbagi, bersyukur, dan menikmatinya bersama.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo