Pada 21 Mei 2026, pukul 19.00, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan sembahyangan rutin kamisan, Doa Rosario, Perkumpulan Paguyuban Ibu-Ibu, kemudian dilanjutkan dengan latihan koor. Kegiatan malam ini diikuti oleh 31 orang umat.
Pertemuan diawali dengan pembacaan buku BKL untuk hari ke 21 dan 22. BKL dipimpin oleh Mas Heru. Kemudian dilanjutkan dengan Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Suradi. Lalu lanjut dengan Pertemuan Ibu-Ibu yang diisi dengan pembacaan laporan keuangan, pengumuman, arisan, dan lotre. Selanjutnya pertemuan malam ini ditutup dengan Latihan Koor untuk tugas misa minggu terakhir bulan Mei yang dipimpin oleh Bu Padmi dan Bu Vera. Seperti biasa, semua berlangsung dengan meriah, dan lancar.
Tanggal 20 Mei 2026, pukul 19.00 Lingkungan St. Elisabeth melaksanakan BKL dan Doa Rosario bersama di Gereja Maria Bunda Allah. Doa Rosario dipimpin oleh Bapak Suradi.
Doa bersama di Gereja ini sudah disepakati oleh seluruh umat di Stasi Maguwo dalam rangka penyambutan akan dibentuknya status baru Gereja Maria Bunda Allah, dari stasi menjadi Paroki Administratif pada tanggal 2 Juni 2026 nanti.
Dalam rangka penyambutan status baru ini, seluruh umat, baik dari tiap lingkungan maupun komunitas di stasi Maguwo berdoa Rosario di Gereja secara bergantian setiap harinya selama bulan Mei.
Meski cuaca agak mendung dan sebelumnya sempat sedikit hujan tapi semangat untuk berkumpul dan berdoa bersama tetap berkobar. Doa Rosario malam ini dilaksanakan di depan Patung Bunda Maria halaman depan gereja. Semoga kegiatan ini dapat berlangsung dengan lancar dan semangat untuk berkumpul dan berdoa tetap kuat untuk setiap lingkungan dan komunitas di Maguwo.
Pada hari Selasa, 12 Mei 2026, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi mendapat kesempatan untuk doa Rosario di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Kami memilih untuk berdoa di depan Patung Bunda Maria di bagian depan gereja. Suasana hening, sejuk dan temaram namun langit cerah membuat malam itu terasa hangat di hati. Diikuti oleh 32 umat lingkungan, doa Rosario ini menjadi bagian dari rangkaian doa bersama seluruh umat Gereja Maria Bunda Allah selama bulan Mei untuk memohon berkat Tuhan menjelang perubahan status Gereja Bunda Allah Maguwo dari stasi menjadi Paroki Administratif pada 2 Juni 2026 mendatang.
Sepanjang bulan Mei, setiap lingkungan mendapat giliran untuk berdoa Rosario di gereja. Selain itu, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi secara khusus juga mengadakan doa Rosario lingkungan dan pendalaman Bulan Katakese Liturgi (BKL) setiap hari Selasa dan Jumat. Momen ini menjadi kesempatan yang indah untuk berkumpul, berdoa bersama, dan menyerahkan segala harapan kepada Bunda Maria.
Pada malam itu, doa Rosario dipandu oleh Bapak Felix dan Ibu Monica. Umat mengikuti doa dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Dalam setiap Salam Maria yang didaraskan, terselip doa dan harapan agar perjalanan Gereja Bunda Allah Maguwo menuju Paroki Administratif senantiasa disertai oleh Tuhan.
Setelah doa Rosario bersama, kegiatan dilanjutkan dengan Pendalaman Bulan Katekese Liturgi (BKL) yang dipandu oleh Ibu Monica.
Suasana sharing malam itu terasa hangat dan hidup. Umat cukup aktif dan responsif menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk mengulik tema BKL. Beberapa umat berbagi pengalaman pribadi dan pandangan mereka terkait tema yang dibahas. Dari cerita-cerita sederhana itu, setiap peserta dapat melihat bahwa iman tidak hanya dipahami, tetapi juga dihidupi dalam keseharian.
Pertemuan malam itu menjadi pengingat bahwa kebersamaan dalam lingkungan tidak hanya dibangun melalui kegiatan besar, tetapi juga lewat doa dan percakapan sederhana yang dilakukan bersama.
Semoga doa-doa yang dipanjatkan sepanjang bulan Mei ini membawa berkat melimpah bagi umat Gereja Bunda Allah Maguwo, dan semakin mempersatukan kita dalam menyambut status baru sebagai Paroki Administratif.
Kamis pagi, 14 Mei 2026, basecamp utama Lingkungan Fransiskus Asisi Tasura sudah ramai sejak Misa Kenaikan Yesus selesai. Satu per satu bapak-bapak datang dengan motor masing-masing, siap untuk melakukan touring rohani ke Gua Maria Tuk Ing Katentreman, sebuah tempat doa yang tenang dan sejuk di wilayah Magelang.
Rombongan kali ini terdiri dari Pak Jondit, Pak Rus, Pak Cahyo, Pak Bono, Pak Tiyok, Pak Wawan, Pak Felix, Mas Galang, dan Pak Ari Lawu dari Lingkungan Clara yang ikut bergabung. Total ada delapan motor yang siap mengantar mereka menikmati perjalanan yang penuh cerita.
Sebelum berangkat, Pak Wawan memimpin doa singkat. Dengan perlindungan Tuhan dan semangat kebersamaan, tepat pukul 10.00 WIB rombongan mulai melaju melalui rute Jurang Jero. Jalanan yang membelah kebun salak menyuguhkan pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Mereka berkendara santai, menikmati udara segar, sambil sesekali menyalip truk-truk pasir yang menjadi bagian khas dari jalur tersebut.
Seperti dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita kecil yang membuat pengalaman semakin berkesan. Sesaat sebelum melewati kawasan kebun salak, salah satu motor mengalami pecah ban. Untungnya, hanya sekitar seratus meter dari lokasi terdapat tukang tambal ban. Setelah berhenti beberapa saat dan ban kembali siap digunakan, perjalanan pun dilanjutkan dengan semangat yang tetap utuh.
Sekitar pukul 11.30 WIB, rombongan tiba di Gua Maria Tuk Ing Katentreman. Begitu turun dari motor, mereka langsung merasakan suasana yang teduh, hening, dan menenangkan. Pepohonan rindang dan gemericik sumber air di sekitar gua membuat tempat ini terasa seperti oase kecil yang sangat cocok untuk berdoa dan menenangkan hati.
Di sana, para bapak menyalakan lilin dan mengambil waktu untuk berdoa secara pribadi. Dalam keheningan itu, setiap orang membawa intensi dan syukur masing-masing kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus.
Setelah berdoa, suasana santai pun berlanjut dengan obrolan ringan tentang rencana touring berikutnya. Dengan nada bercanda, perjalanan ini disebut sebagai “survey lapangan” untuk mencari tempat-tempat ziarah yang nantinya layak direkomendasikan kepada ibu-ibu dan keluarga. Tentu saja, sebelum memberikan rekomendasi, para bapak merasa perlu melakukan lebih banyak “survey” ke berbagai tempat.
Salah satu momen yang paling bermakna dalam perjalanan ini adalah ketika rombongan menanam bibit pohon kimeng yang sudah dibawa dari rumah. Setelah meminta izin kepada penjaga lokasi, bibit itu ditanam di area sekitar gua. Tanaman kimeng dipercaya membantu menjaga ketersediaan air di sekitarnya, sehingga penanaman ini menjadi simbol sederhana kepedulian terhadap alam ciptaan Tuhan.
Sebelum pulang, rombongan mampir untuk makan siang di Warung Pepes Gapeswathi. Menu pepes dan rica enthog menjadi penyempurna perjalanan yang menyenangkan ini.
Perjalanan pulang ditempuh melalui jalur Tempel–Turi. Di tengah perjalanan, salah satu motor sempat kehabisan bensin dan harus didorong beberapa ratus meter menuju SPBU terdekat. Meski demikian, kejadian itu justru menambah warna dan cerita yang akan dikenang bersama.
Touring kali ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dapat tumbuh melalui hal-hal sederhana: berangkat bersama, berdoa bersama, menghadapi kendala bersama, dan pulang dengan hati yang penuh sukacita. Lebih dari sekadar perjalanan, touring ini menunjukkan bahwa ke mana pun kita melangkah, selalu ada kesempatan untuk membawa doa, mempererat persaudaraan, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama maupun bagi alam ciptaan Tuhan
Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan terasa begitu hangat dalam kegiatan Jumat Bersih yang diselenggarakan Wilayah Ignatius Loyola pada Jumat, 8 Mei 2026, di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Perwakilan umat dari 5 lingkungan di Wilayah Ignatius Loyola hadir dan bergotong royong menciptakan suasana Gereja yang bersih, nyaman, dan asri untuk seluruh umat.
Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari Lingkungan Santa Clara, Santo Fransiskus Asisi, Santo Gabriel, Santo Yohanes Pembaptis, serta Santa Elisabeth. Kehadiran para umat semakin menambah semarak suasana guyub yang menjadi ciri khas kebersamaan Wilayah Ignatius Loyola. Dari Lingkungan Santa Elisabeth, hadir Pak Dedy, Pak Gusadi, Pak Suradi, Mbak Dita, Mas Heru, dan Mbak Vera yang dengan penuh semangat turut ambil bagian dalam kerja bakti tersebut.
Sejak kegiatan dimulai, setiap umat langsung mengambil peran masing-masing. Ada yang menyapu halaman, mengelap area dalam Gereja, membersihkan sudut-sudut ruangan, hingga merapikan lingkungan sekitar Gereja. Semua dilakukan dengan sukacita, mencerminkan semangat pelayanan, dan kebersamaan yang hidup di tengah umat.
Tidak hanya berfokus pada kebersihan, kegiatan Jumat Bersih kali ini juga diwarnai aksi peduli lingkungan. Dipimpin Ketua Wilayah, Mas Bono, beberapa bapak dan kaum muda berinisiatif mengolah sampah daun menjadi kompos. Daun-daun kering dikumpulkan lalu dicacah menggunakan mesin sebagai langkah awal pembuatan pupuk kompos. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian umat terhadap kelestarian lingkungan sekaligus pemanfaatan sampah organik secara bijak dan bermanfaat.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, suasana keakraban semakin terasa saat umat berkumpul menikmati hidangan ringan bersama di halaman belakang Gereja. Canda dan obrolan hangat mengiringi santapan sederhana seperti combro, kletikan, tahu krispi, dan donat yang menambah erat rasa persaudaraan antarumat.
Melalui kegiatan Jumat Bersih ini, Wilayah Ignatius Loyola tidak hanya membersihkan lingkungan gereja, tetapi juga menumbuhkan semangat guyub, pelayanan, dan kepedulian bersama. Semoga kebersamaan yang terjalin semakin mempererat rasa gayeng dan akrab dalam kehidupan menggereja sehari-hari.
Suasana hangat penuh kebersamaan kembali terasa dalam pertemuan rutin Lingkungan Santa Elisabeth yang dilaksanakan pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Bertempat di Pendopo Mbah Cipto, dengan petugas snack keluarga Bapak Sampurno, sekitar 25 umat hadir untuk bersama-sama membangun iman melalui doa dan kebersamaan.
Malam itu, rangkaian kegiatan lingkungan diisi dengan BKL, doa Rosario, serta latihan koor. Dalam suasana yang teduh dan penuh kekhusyukan, umat diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Lastri. Sementara itu, Bapak Bagio dan Mbak Dita bertugas membawakan renungan BKL dan doa-doa ibadat dengan penuh penghayatan.
Lantunan doa Salam Maria yang didaraskan bersama menghadirkan suasana damai dan menyejukkan hati. Kebersamaan sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan bagi umat untuk terus bertumbuh dalam iman dan persaudaraan di tengah kehidupan sehari-hari.
Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman lingkungan dan latihan koor. Lingkungan Santa Elisabeth mendapat tugas pelayanan koor pada misa Minggu terakhir bulan Mei. Dengan penuh semangat, umat mulai berlatih lagu pembuka sebagai persiapan untuk mendukung perayaan ekaristi nanti.
Melalui pertemuan rutin ini, Lingkungan Santa Elisabeth tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga menumbuhkan semangat pelayanan dan kehidupan doa yang semakin hidup. Semoga kebersamaan dalam doa Rosario ini terus menjadi pengalaman iman yang meneguhkan dan menyejukkan hati setiap umat.
Sembahyangan Lingkungan Rutin Kamisan pada tanggal 30 April 2026 dilaksanakan di Rumah Ibu Lastri. Sembahyangan dipimpin oleh Mas Heru. Meskipun umat yang hadir kali ini terhitung sedikit yakni 12 umat, karna kesibukan masing-masing, namun sembahyangan berlangsung dengan khidmat, dan membawa perenungan yang baik bagi diri masing-masing.
Dalam bacaan Injil Yohanes 13:16-20, yang diambil dalam renungan hari ini, Yesus mengajarkan tentang kerendahan hati dan pelayanan. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus berkata bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya. Melalui tindakan sederhana itu, Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama.
Di dunia sekarang, banyak orang ingin dihormati, dipuji, dan dianggap paling hebat. Namun Yesus justru memberi teladan yang berbeda. Walaupun Ia adalah Guru dan Tuhan, Ia rela merendahkan diri untuk melayani. Dari sini kita belajar bahwa kebesaran seseorang tidak dilihat dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari hati yang mau melayani dengan tulus.
Dalam kehidupan sehari-hari, melayani bisa dimulai dari hal-hal kecil: membantu orang tua di rumah, mendengarkan teman yang sedang sedih, atau peduli kepada orang yang membutuhkan. Kadang pelayanan itu tidak mendapat pujian, tetapi Tuhan melihat setiap kebaikan yang dilakukan dengan kasih.
Yesus juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima orang yang diutus-Nya, berarti menerima Dia sendiri. Artinya, kita dipanggil menjadi pembawa kasih dan kehadiran Tuhan di tengah dunia. Sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan kasih Allah.
Melalui Injil hari ini, kita diajak untuk memiliki hati yang rendah hati, tidak egois, dan mau melayani tanpa memilih-milih. Semakin kita melayani dengan kasih, semakin kita menjadi serupa dengan Yesus.
23 April 2026, di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth melaksanakan Perayaan Paskahan Lingkungan Bersama. Paskahan dihadiri oleh hampir seluruh umat di Lingkungan St. Elisabeth, yaitu 38 umat. Diawali dengan sembahyangan yang dipimpin Mbak Vera.
Renungan dalam sembahyangan diambil dari Bacaan Injil Yohanes 6:44-51. Bacaan ini berisi tentang Yesus yang berkata bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya kalau tidak ditarik oleh Bapa. Ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga karena kasih dan panggilan Allah yang terlebih dahulu menyentuh hati kita. Tuhan selalu mencari dan mengundang setiap orang untuk datang lebih dekat kepada-Nya.
Yesus juga berkata bahwa Ia adalah “roti hidup yang turun dari surga.” Roti adalah makanan yang memberi kekuatan dan kehidupan. Namun roti yang diberikan Yesus bukan sekadar makanan jasmani, melainkan kehidupan kekal. Banyak orang mencari kebahagiaan dari harta, pujian, atau kesenangan dunia, tetapi semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan hati manusia. Hanya Yesus yang mampu mengisi kekosongan hati dan memberi damai sejati.
Sebagai orang muda maupun keluarga Kristiani, kita sering merasa lelah menghadapi masalah, tugas, konflik, atau rasa kecewa. Dalam keadaan itu, Yesus mengajak kita datang kepada-Nya dan menjadikan-Nya sumber kekuatan hidup. Ketika kita rajin berdoa, membaca Kitab Suci, dan mengikuti Ekaristi, hati kita perlahan diperbarui oleh Tuhan.
Bacaan ini juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima Yesus harus menjadi “roti” bagi sesama. Artinya, kita dipanggil untuk membawa kasih, penghiburan, perhatian, dan bantuan bagi orang lain. Kehadiran kita seharusnya membawa kehidupan dan sukacita, bukan luka atau kebencian.
Semoga melalui sabda hari ini, kita semakin percaya kepada Yesus Sang Roti Hidup, dan menjadikan-Nya pusat dalam hidup kita setiap hari.
Setelah Sembahyangan selesai, acara Paskahan dilanjutkan dengan pemberian tanda kasih bagi umat yang sebelumnya sempat sakit dan opname di Rumah Sakit, yaitu Pak Deddy, dan Mbah Cipto. Kemudian acara dilanjutkan dengan menyanyi bersama dan games yang menyenangkan lalu makan bersama. Acara Paskahan Lingkungan St. Elisabeth tahun ini berlangsung sangat sederhana namun sangat meriah karna banyak umat yang hadir dan bergembira bersama. Kami masing-masing bisa pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan.
Pada hari Minggu, 3 Mei, suasana di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa begitu hidup dan penuh sukacita. Sesuai dengan jadwal liturgi, Lingkungan St. Gabriel mendapat kepercayaan untuk bertugas sebagai tim koor dalam misa pagi. Tugas ini tidak dijalankan secara instan, melainkan melalui proses persiapan yang matang dan penuh kebersamaan.
Di bawah koordinasi Seksi Koor lingkungan yang dipimpin oleh Ibu Intan, berbagai persiapan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Lagu-lagu liturgi dipilih dengan cermat, disesuaikan dengan tema perayaan, lalu dilatih secara intensif sebanyak enam kali pertemuan. Ibu Intan sendiri turun langsung melatih, membimbing dengan penuh kesabaran dan semangat, memastikan setiap anggota koor memahami dinamika dan makna dari setiap lagu yang akan dipersembahkan.
Yang istimewa, latihan koor ini melibatkan seluruh lapisan umat—mulai dari anak-anak PIA, remaja, OMK, hingga para orang tua. Kebersamaan lintas generasi ini menciptakan suasana latihan yang hangat dan penuh kekeluargaan. Meskipun beberapa kali latihan harus diwarnai oleh turunnya hujan, hal itu tidak menyurutkan semangat umat untuk hadir dan berlatih. Justru, di tengah keterbatasan itu, semangat pelayanan semakin terasa kuat dan tulus.
Tibalah hari yang dinanti. Sejak pukul 06.30 WIB, tim koor sudah hadir dan bersiap dengan penuh antusias. Dengan dresscode bernuansa putih dan biru muda, seluruh anggota koor tampil serasi dan rapi, mencerminkan kesederhanaan sekaligus kekhidmatan. Iringan musik dipercayakan kepada Bapak Henri Yulianto sebagai organis, yang dengan apik mengalun mengiringi setiap lagu.
Perayaan misa pun berlangsung dengan lancar dan penuh penghayatan. Lagu-lagu yang telah dilatih dengan tekun dipersembahkan dengan harmonis dan menyentuh hati. OMK turut ambil bagian sebagai dirigen, yaitu Mandriva dan Valen, yang memimpin koor dengan penuh percaya diri. Dari kalangan remaja, Aurel dipercaya sebagai pemazmur dan membawakan mazmur dengan indah serta penuh penghayatan.
Keterlibatan seluruh umat—anak-anak, remaja, OMK, hingga orang tua—menjadi bukti nyata semangat kebersamaan dalam pelayanan. Koor pagi itu tidak hanya sekadar menyanyikan lagu, tetapi juga menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan melalui talenta yang dimiliki.
Setelah misa selesai, kebahagiaan dan rasa syukur terpancar dari wajah setiap anggota koor. Momen kebersamaan tersebut ditutup dengan foto bersama, sebagai kenangan indah atas pelayanan yang telah dilaksanakan dengan penuh cinta dan dedikasi.
Hari itu menjadi pengingat bahwa dalam kebersamaan, ketekunan, dan semangat melayani, setiap hal sederhana dapat menjadi persembahan yang indah bagi Tuhan.
Semoga kebersamaan yang telah terjalin ini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi pelayanan-pelayanan berikutnya. Apa yang telah dipersembahkan hari ini kiranya berkenan di hati Tuhan dan semakin meneguhkan iman serta persaudaraan seluruh umat. Dengan semangat yang sama, semoga setiap langkah kecil dalam pelayanan selalu menjadi wujud kasih yang nyata.
UUmat Lingkungan Yohanes Pembaptis kembali melaksanakan sembahyangan rutin sebagai bagian dari kehidupan doa bersama dalam lingkungan.
Kegiatan ini dipimpin oleh Ibu Yulia Endang bersama Lantanya R. G., yang dengan penuh penghayatan membimbing umat dalam setiap rangkaian doa. Umat yang hadir terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai dari OMK, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para lansia.
Dalam sembahyangan rutin ini, umat juga bersama-sama mendaraskan doa Rosario. Setiap peristiwa didoakan dengan khusyuk, menghadirkan suasana yang tenang dan penuh permenungan. Doa Rosario menjadi bagian penting yang semakin memperdalam kehidupan rohani umat.
Selama doa berlangsung, umat mengikuti setiap bagian dengan penuh kesungguhan. Momen ini menjadi kesempatan untuk sejenak berhenti dari kesibukan sehari-hari dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sembahyangan rutin ini tidak hanya menjadi sarana untuk memperdalam iman, tetapi juga mempererat kebersamaan antarumat dalam lingkungan. Kehadiran lintas generasi menunjukkan bahwa kehidupan doa tetap hidup dan dijaga bersama.
Melalui kegiatan ini, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis diharapkan terus bertumbuh dalam iman serta semakin setia dalam membangun kehidupan rohani yang kuat.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo