Doa Rosario bersama di Gereja Maria Bunda Allah stasi Maguwo hari Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 18.00 wib. Doa dipimpin oleh bapak ibu umat lingkungan Antonius, diawali dengan doa Ratu Surga dan diakhiri dengan bacaan BKL hari ke-2. Doa Rosario tadi dihadiri lebih dari 20 orang.
Tugas koor misa Jumat Pertama, 1 Mei 2026 pukul 18.00 WIB di GMBA. Koor dimeriahkan dengan lagu-lagu pujian yang dinyanyikan kira-kira 26 umat. Misa dipimpin oleh romo Murdi Susanto, Pr.
Pertemuan Lingkungan St. Antonius tanggal 30 April 2026 di rumah Bapak Arief S. Diisi dengan latihan koor untuk tugas misa Jumat Pertama dan penyampaian beberapa pengumuman oleh Ketua Lingkungan serta mengobrol santai dan bertukar pikiran antar umat tentang rencana-rencana yang ada di GMBA dan juga Lingkungan Antonius. Latihan koor dihadiri kurang lebih 22 umat.
KATEKESE LITURGI – MEI 2026 “Petugas Liturgi yang Menginspirasi: Menjalankan Tugas dengan Kompetensi dan Kerendahan Hati”
Dalam perayaan Ekaristi, Gereja tidak hanya melibatkan imam, tetapi juga membuka ruang bagi keterlibatan umat melalui berbagai pelayanan liturgi khusus. Berdasarkan Pedoman Umum Missale Romawi (PUMR 98-107), tugas-tugas yang tidak secara khusus diperuntukkan bagi klerus dapat dipercayakan kepada kaum awam yang dipilih dan dipersiapkan dengan baik. Pelayanan-pelayanan ini meliputi akolit, lektor, pemazmur, paduan suara, koster, komentator, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya. Masing-masing memiliki peran yang khas dalam membantu umat untuk berpartisipasi secara aktif dan penuh dalam liturgi.
Akolit dilantik untuk melayani altar dan membantu imam serta diakon (PUMR 98). Lektor dilantik untuk mewartakan bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil. Dapat juga ia membawakan ujud-ujud doa umat dan, kalau tidak ada pemazmur, ia dapat juga membawakan mazmur tangggapan (PUMR 99). Karena itu, seorang lektor harus sungguh-sungguh terampil dan disiapkan secara cermat (PUMR 101), memahami isi bacaan, dan mempersiapkan diri dengan baik, sehingga Sabda yang disampaikan dapat menyentuh hati umat. Demikian pula pemazmur, yang bertugas membawakan mazmur atau kidung-kidung dari Alkitab diantara bacaan-bacaan (PUMR 102). Paduan suara atau kor melaksanakan tugas liturgi tersendiri ditengah umat beriman (PUMR 103). Paduan suara menghidupkan doa melalui nyanyian. Koster, yang dengan cermat mengatur buku-buku liturgis,busana liturgis, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk perayaan Misa (PUMR 105a). Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik (PUMR 105b).
Semua tugas ini bukan sekadar “peran teknis”, tetapi merupakan pelayanan iman. Karena itu, setiap petugas liturgi dipanggil untuk memiliki dua sikap utama:
Kompetensi: kemampuan, latihan, dan kesiapan yang sungguh-sungguh agar pelayanan dilakukan dengan baik, tertib, dan bermakna.
Kerendahan hati: kesadaran bahwa pelayanan ini bukan untuk tampil atau mencari perhatian, melainkan untuk melayani Tuhan dan membantu umat berdoa.
Ketika kompetensi dan kerendahan hati berjalan bersama, pelayanan liturgi menjadi indah, khidmat, dan menginspirasi. Umat tidak hanya “melihat” petugas liturgi, tetapi sungguh dibantu untuk mengalami kehadiran Allah.
Dengan demikian, para petugas liturgi awam mengambil bagian nyata dalam perayaan Ekaristi sebagai tindakan seluruh Gereja. Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi rekan sekerja dalam karya keselamatan, yang melalui tugasnya membantu Sabda Allah didengar, doa dipanjatkan, dan misteri iman dirayakan dengan layak.
Akhirnya, pelayanan yang dijalankan dengan hati yang tulus akan membawa buah rohani: para pelayan liturgi menjadi bahagia dalam iman, karena mengalami kedekatan dengan Tuhan, dan sekaligus menginspirasi umat, karena melalui pelayanan mereka, banyak orang semakin diteguhkan dalam iman dan cinta akan Ekaristi.
Refleksi bagi kita pelayan liturgi: Apakah pelayanan saya sudah membantu umat bertemu Tuhan, atau justru mencari perhatian?
Selama tiga minggu berturut-turut, mulai tanggal 12 April 2026 hingga 26 April 2026, ibu-ibu umat Lingkungan St. Gregorius mengambil bagian dalam pelayanan jaga kantin di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat pelayanan dan kebersamaan umat dalam mendukung kehidupan menggereja.
Sebanyak 22 ibu terlibat secara aktif dalam tugas ini, yang dilaksanakan setiap hari Minggu, yaitu pada tanggal 12, 19, dan 26 April 2026. Dengan penuh tanggung jawab dan sukacita, mereka melayani umat yang hadir, menyediakan kebutuhan konsumsi, serta menciptakan suasana hangat dan ramah di lingkungan gereja.
Partisipasi ini tidak hanya menjadi bentuk pelayanan, tetapi juga sarana untuk mempererat persaudaraan antarumat. Melalui kerja sama yang baik, ibu-ibu Lingkungan St. Gregorius menunjukkan bahwa pelayanan sederhana seperti menjaga kantin pun memiliki makna besar ketika dilakukan dengan hati yang tulus.
Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada para ibu yang telah terlibat langsung dalam pelayanan ini, yaitu: Bu Yarnidus, Bu Tri, Bu Maria, Bu Gambit, Bu Anik, Bu Vero, Bu Anin, Bu Kamso, Bu Yohana, Bu Agnes, Bu Nur, Bu Setyo, Bu Shinta, Bu Ratih, Bu Evi, Bu Margaretha, Bu Lucia Leo, Bu Intan, Bu Nita, Bu Erika, dan Bu Ratna. Dedikasi dan kebersediaan mereka menjadi inspirasi bagi umat lainnya untuk terus ambil bagian dalam kehidupan menggereja.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat pelayanan dan kebersamaan semakin tumbuh dalam Lingkungan St. Gregorius. Apa yang telah dilakukan oleh ibu-ibu ini menjadi contoh bahwa pelayanan, sekecil apa pun, adalah bagian penting dalam membangun komunitas iman yang hidup, rukun, dan penuh kasih.
Pada hari Kamis, 16 April 2026, umat Lingkungan St. Gregorius mengadakan rapat khusus yang membahas penentuan penerima bantuan jadup (jaminan hidup) bagi umat yang membutuhkan. Pertemuan ini dilaksanakan dalam semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama, sebagai wujud nyata perhatian lingkungan kepada anggotanya.
Dalam rapat tersebut, disepakati untuk membentuk sebuah tim kecil yang bertugas secara khusus menentukan siapa saja umat yang layak menerima bantuan jadup. Pembentukan tim ini dilakukan sebagai langkah bijaksana untuk memastikan proses penentuan berjalan secara adil, objektif, dan penuh tanggung jawab.
Tim kecil yang dibentuk terdiri dari pengurus inti lingkungan, yaitu Mas Freddy selaku Ketua Lingkungan, Bapak Harry sebagai Wakil Ketua Lingkungan, Ibu Maria sebagai Bendahara Lingkungan, dan Ibu Gambit sebagai Sekretaris Lingkungan. Selain itu, tim ini juga melibatkan beberapa umat yang dituakan dan dihormati dalam lingkungan, yaitu Bapak Kamso, Ibu Yarnidus, dan Ibu Agnes.
Keterlibatan berbagai pihak dalam tim kecil ini diharapkan mampu menghadirkan keputusan yang bijak serta mencerminkan kondisi nyata umat di lingkungan. Dengan adanya tim ini, proses pendataan dan penentuan penerima jadup dapat dilakukan dengan lebih terarah dan transparan.
Lebih dari itu, pembentukan tim kecil ini juga menjadi upaya untuk menghindari perdebatan maupun kecemburuan sosial di tengah umat terkait pembagian bantuan. Harapannya, setiap keputusan yang diambil dapat diterima dengan lapang dada karena telah melalui pertimbangan yang matang dan melibatkan perwakilan umat.
Melalui langkah ini, Lingkungan St. Gregorius terus berupaya membangun kehidupan bersama yang rukun, damai, dan saling mendukung. Semangat kebersamaan ini diharapkan tidak hanya mempererat hubungan antarumat, tetapi juga mendorong pertumbuhan iman yang semakin kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya kepedulian dan kerja sama yang baik, umat Lingkungan St. Gregorius diharapkan dapat semakin menjadi komunitas yang hidup dalam kasih, saling memperhatikan, dan menjadi berkat bagi sesama.
Pada hari Kamis, 16 April 2026, umat Lingkungan St. Gregorius kembali berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk mengikuti sembahyangan rutin. Pertemuan ini menjadi momen penting bagi umat untuk memperdalam iman, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan komitmen hidup dalam kebenaran sebagai murid Kristus.
Ibadat dipimpin dengan penuh khidmat, diawali dengan pembukaan dan doa bersama. Dalam kesempatan ini, umat diajak untuk merenungkan Sabda Tuhan melalui bacaan dari Kisah Para Rasul 5:27-33 dan Injil Yohanes 3:31-36.
Dalam bacaan pertama, para rasul dengan tegas menyatakan bahwa mereka lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia, meskipun harus menghadapi ancaman dan risiko. Kesaksian iman ini menunjukkan keberanian dan kesetiaan yang luar biasa dalam mempertahankan kebenaran. Sementara itu, dalam bacaan Injil, ditegaskan bahwa siapa yang percaya kepada Anak memiliki hidup yang kekal, dan bahwa kebenaran berasal dari Allah sendiri.
Sebagai pendalaman iman, umat diajak untuk mendengarkan empat kisah reflektif yang menggambarkan bagaimana nilai-nilai iman dapat dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah pertama tentang Riko, seorang siswa SMA yang memilih untuk tetap jujur saat ujian meskipun memiliki kesempatan untuk menyontek. Keputusannya mengajarkan bahwa kejujuran lebih berharga daripada hasil yang instan.
Kisah kedua tentang Bu Lina, seorang ibu rumah tangga yang mengembalikan uang kembalian yang bukan haknya, meskipun kondisi ekonominya terbatas. Tindakannya menjadi teladan nyata tentang integritas dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan.
Kisah ketiga mengenai Pak Arif, seorang staf keuangan yang menolak untuk memanipulasi laporan demi menjaga kejujuran. Keputusannya menunjukkan bahwa kesetiaan pada kebenaran mungkin berisiko, tetapi pada akhirnya membawa kebaikan.
Kisah keempat tentang Pak Markus, seorang pensiunan guru yang memilih jalan damai dalam konflik dengan tetangganya. Ia rela mengalah demi menjaga hubungan dan kedamaian bersama.
Setelah mendengarkan keempat kisah tersebut, umat diajak masuk dalam permenungan yang mendalam. Dari kisah-kisah itu terlihat bahwa setiap tokoh dihadapkan pada pilihan antara yang mudah dan yang benar. Mereka memilih jalan yang benar, meskipun tidak selalu menguntungkan secara langsung.
Refleksi ini menegaskan bahwa hidup sebagai orang beriman bukanlah tentang mencari kenyamanan, melainkan tentang kesetiaan kepada kehendak Tuhan. Kesetiaan itu sering kali tampak dalam hal-hal kecil: bersikap jujur, berbuat baik tanpa pamrih, mengampuni, dan tetap melakukan kebenaran walaupun tidak mudah.
Pertemuan ini mengingatkan umat bahwa Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan kesetiaan. Ia memberikan damai di hati dan kekuatan dalam menjalani hidup. Pada akhirnya, Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesetiaan dalam setiap langkah kehidupan.
Sembahyangan ditutup dengan doa bersama, membawa pulang pesan refleksi dalam hati masing-masing. Umat diharapkan mampu menghidupi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup, umat diajak untuk merenungkan satu pertanyaan penting: Dalam situasi hidup kita hari ini, apakah kita berani memilih yang benar, walaupun tidak mudah?
Pada tanggal 15 Maret 2026, Lingkungan St. Elisabeth menjadi tuan rumah dari berkumpulnya para kaum muda Katholik Maguwo. Pertemuan ini adalah pertemuan yang rutin dilaksanakan para kaum muda tiap sebulan sekali. Pertemuan dilaksanakan bergiliran ke tiap-tiap lingkungan se-stasi Maguwo. Kebetulan pada bulan Maret ini, lingkungan Elisabeth menjadi tuan rumah. Pertemuan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto sepulang misa.
Pertemuan diikuti oleh seluruh Orang Muda Katholik yang ada di stasi Maguwo, para suster, perwakilan mantan OMK, dan perwakilan umat St. Elisabeth. Memang belum semuanya hadir, tapi sudah cukup banyak mewakili. Pertemuan berlangsung sangat hangat dan meriah. Diisi dengan sesi ramah tamah, sharring, dan game sebagai ice breaking.
Pertemuan dilaksanakan safari ke tiap-tiap lingkungan tiap bulannya agar OMK baru yang ada di lingkungan, terpanggil untuk ikut serta terlibat di kegiatan OMK stasi. Pertemuan kaum muda Katolik merupakan salah satu wadah penting bagi generasi muda untuk bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, serta menemukan jati diri sebagai pengikut Kristus di tengah dunia modern. Dalam suasana yang penuh kebersamaan, kaum muda diajak untuk semakin mengenal Tuhan dan memahami peran mereka dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat.
Sesi sharing atau berbagi pengalaman menjadi momen yang sangat berharga. Dalam sesi ini, setiap peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengalaman iman, tantangan hidup, maupun pergumulan yang sedang dihadapi. Dari sini, muncul rasa saling mendukung dan menguatkan satu sama lain sebagai satu komunitas. Tidak kalah penting, pertemuan kaum muda juga diisi dengan kegiatan kreatif dan menyenangkan, seperti games. Hal ini bertujuan agar kaum muda tidak merasa bosan, sekaligus melatih kerja sama, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab.
Melalui pertemuan ini, diharapkan kaum muda Katolik dapat semakin berani menjadi terang dan garam dunia. Mereka dipanggil untuk tidak hanya hidup bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain. Dengan iman yang kuat dan semangat pelayanan, kaum muda dapat membawa perubahan positif di lingkungan sekitar. Akhirnya, pertemuan ditutup dengan doa penutup sebagai ungkapan syukur atas kebersamaan yang telah terjalin. Harapannya, setiap peserta pulang dengan hati yang dikuatkan dan semangat baru untuk menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Kristus.
Dalam semangat APP 2026, Lingkungan St. Elisabeth Stasi Maguwo melaksanakan Kunjungan Kasih sebagai wujud nyata cinta, kepedulian, dan persaudaraan. Selama masa APP, Lingkungan St. Elisabeth berkomitmen untuk menggunakan uang kolekte selama Sembahyangan untuk memberikan tanda kasih kepada para lansia yang ada di Lingkungan St. Elisabeth.
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 19 April 2026. Sebelumnya kami berkumpul di Pendopo Mbah Cipto. Kemudian kunjungan dimulai dengan mengunjungi Mbah Cipto. Selanjutnya kami juga menyempatkan untuk mengunjungi Pak Deddy yang baru pulang dari opname di Rumah Sakit. Lalu kunjungan selanjutnya, kami menuju Rumah Ibu Sugiarto, Mbah Sudiran, dan terakhir kami berkunjung ke rumah Ibu Pujo.
Bukan hanya sekedar berkunjung dan memberikan tanda kasih, tapi kami juga menunjukkan kehangatan, perhatian, bahkan berdoa bersama sebagai penguatan secara rohani, agar setiap orang yang kami kunjungi juga merasa penuh secara rohani.
Pada Tanggal 16 April 2026, bertempat di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Rutin. Pada sembahyangan kali ini bertepatan dengan Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan, sehingga sebelum sembahyangan dimulai, Ibu-ibu menyelesaikan pembayaran administrasi seperti Kas, Tali Kasih, dan Ziarah. Setiap ada Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu, selalu diisi dengan pembagian lotre sehingga suasana selalu meriah.
Pertemuan kali ini memang tidak seramai biasanya tapi acara tetap berlangsung meriah. Umat yang hadir dalam pertemuan malam ini berjumlah 29 orang. Setelah segala urusan administrasi selesai, baru Sembahyangan Rutin dimulai. Pemimpin Ibadat malam ini adalah Bapak Bagyo.
Ibadat malam ini mengambil bacaan sesuai Kalender Liturgi, dari Injil Yohanes 3 : 31-36. Dalam perikop ini, Yesus Kristus digambarkan sebagai Dia yang “Datang dari Atas” artinya berasal dari Allah sendiri. Ia membawa kebenaran ilahi, bukan sekadar pemikiran manusia. Sementara manusia sering berbicara dari pengalaman terbatas, Yesus berbicara tentang apa yang Ia lihat dan dengar langsung dari Bapa.
Namun, ada kenyataan yang cukup menyentuh: tidak semua orang menerima kesaksian-Nya. Ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sungguh mendengarkan dan menerima sabda Tuhan, atau hanya sekadar tahu tanpa menghidupinya?
Ayat 36 menjadi penegasan penting: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Iman bukan hanya soal percaya di pikiran, tetapi juga percaya dalam tindakan, mengikuti, menaati, dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Perlu kita sadari bahwa percaya kepada Yesus, berarti membuka hati pada kebenaran yang datang dari Allah.
Beriman sejati berarti juga kita harus taat, bukan hanya mengakui.
Hidup kekal bukan hanya nanti di surga, tapi sudah mulai dari sekarang ketika kita hidup dalam kasih dan kebenaran.
Sebagai bahan Renungan bagi diri kita masing-masing:
Apakah aku sudah sungguh percaya kepada Yesus dalam hidupku sehari-hari?
Bagian mana dari hidupku yang masih sulit untuk taat pada kehendak Tuhan?
Semoga kita sungguh bisa benar-benar percaya kepada Tuhan, bukan hanya dengan kata, tetapi juga lewat perbuatan, dan semoga hati kita terbuka, agar mampu menerima kebenaran Tuhan dan bisa hidup sesuai kehendakNya.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo