OMK YP Berkarya Lewat Penjualan Parcel Paskah

Semangat kebersamaan dan kreativitas ditunjukkan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Lingkungan Yohanes Pembaptis dalam mempersiapkan parcel Paskah bagi umat.

Dalam proses persiapan, para OMK bekerja sama mulai dari menghias telur Paskah, menata makanan, hingga membungkus parcel dengan rapi. Setiap tahapan dilakukan dengan penuh ketelitian dan semangat, mencerminkan kesungguhan mereka dalam memberikan yang terbaik.

Suasana kebersamaan begitu terasa selama kegiatan berlangsung. Tawa, canda, dan kerja sama yang solid menjadi bagian dari proses, menjadikan kegiatan ini tidak hanya sebagai persiapan parcel, tetapi juga sebagai momen mempererat persaudaraan antaranggota OMK.

Setelah seluruh parcel selesai dipersiapkan, keesokan harinya para OMK melanjutkan pelayanan dengan mendistribusikan parcel kepada umat yang telah memesan. Antusiasme umat terlihat dari banyaknya pesanan yang masuk, bahkan tidak hanya dari Lingkungan Yohanes Pembaptis, tetapi juga dari lingkungan-lingkungan lain.

Hal ini menjadi tanda bahwa usaha dan pelayanan yang dilakukan OMK mendapat respon yang sangat baik dari umat. Melalui kegiatan ini, OMK tidak hanya belajar tentang kerja sama dan tanggung jawab, tetapi juga menghadirkan sukacita Paskah melalui karya sederhana yang penuh makna.

Semoga semangat pelayanan dan kreativitas ini terus tumbuh dalam diri OMK Lingkungan Yohanes Pembaptis, serta menjadi berkat bagi semakin banyak umat.

Ibadat Memule 1000 Hari Ibu Yasenta Surajiati Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan

Umat Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan Ibadat Memule 1000 hari mengenang berpulangnya Ibu Yasenta Surajiati dalam suasana yang khidmat dan penuh doa.

Ibadat dipimpin oleh prodiakon, Bapak Naryo, yang dengan penuh penghayatan membimbing umat dalam rangkaian doa dan permenungan. Umat yang hadir cukup banyak, mulai dari OMK, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para lansia. Kehadiran lintas generasi ini menunjukkan rasa kebersamaan dan kepedulian dalam mendampingi keluarga yang berduka.

Selain umat dari Lingkungan Yohanes Pembaptis, ibadat ini juga dihadiri oleh beberapa umat dari lingkungan lain yang turut hadir untuk memberikan dukungan dan doa. Kehadiran mereka semakin menegaskan eratnya persaudaraan dalam kehidupan menggereja.

Selama ibadat berlangsung, umat mengikuti setiap bagian dengan penuh khusyuk. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan harapan agar almarhumah Ibu Yasenta Surajiati memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan.

Ibadat memule 1000 hari ini tidak hanya menjadi momen mengenang, tetapi juga kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman akan kehidupan kekal serta mempererat tali persaudaraan di tengah komunitas.

Semoga melalui doa bersama ini, kasih Tuhan senantiasa menyertai keluarga dan seluruh umat yang hadir.

Katekese Liturgi Bulan April 2026

Katekese Liturgi Bulan April 2026 dengan tema “Imamat Jabatan dan Imamat Rajawi: Saling Melengkapi dalam Pelayanan”
Dalam Gereja, kita mengenal dua bentuk partisipasi dalam imamat Kristus, yaitu imamat jabatan dan imamat rajawi. Keduanya berasal dari Kristus yang sama, namun dijalankan dengan cara berbeda dan saling melengkapi, terutama dalam perayaan Ekaristi (bdk. Pedoman Umum Missale Romawi 4–41, 91, 95–96).

  1. Imamat Jabatan dijalankan oleh para pelayan tertahbis, yakni imam dan diakon. Imam memimpin perayaan Ekaristi dan bertindak dalam pribadi Kristus (in persona Christi), mempersembahkan kurban kepada Allah serta membimbing umat dalam doa dan hidup iman. Diakon membantu dalam pelayanan Sabda, altar, dan kasih. Pelayanan mereka hadir untuk melayani dan membangun umat Allah, bukan menggantikan umat.
  2. Sementara itu, Imamat Rajawi adalah panggilan seluruh umat beriman yang diterima melalui baptisan. Umat dipanggil menjadi umat kudus yang mempersembahkan hidupnya sebagai kurban rohani. Dalam liturgi, umat tidak hanya hadir, tetapi berpartisipasi aktif melalui doa, nyanyian, mendengarkan Sabda, serta mempersembahkan diri bersama Kristus.
  3. Perayaan Ekaristi adalah tindakan seluruh Gereja, bukan hanya imam. Setiap orang memiliki peran yang khas dan dipanggil untuk melaksanakannya dengan tepat—tidak kurang dan tidak lebih. Imam, petugas liturgi, dan umat bersama-sama membentuk satu kesatuan yang harmonis dalam memuliakan Allah.
    Dengan demikian, imamat jabatan dan imamat rajawi saling melengkapi: imam memimpin dan menguduskan, umat menanggapi dan menghidupi. Dalam kesatuan ini, Gereja sungguh menjadi tanda kehadiran Kristus di dunia.

Pemahaman ini mengajak para pelayan liturgi untuk melayani dengan sukacita dan kesadaran iman. Ketika setiap orang menjalankan perannya dengan benar, liturgi menjadi sumber kebahagiaan rohani dan menghadirkan kesejahteraan batin bagi seluruh umat.

“Dari Hosana Menuju Alleluia: Perjalanan Iman Umat dalam Pekan Suci di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo”


Pekan Suci adalah puncak tahun liturgi Gereja, sebuah ziarah iman yang mengantar umat masuk ke dalam Misteri Paskah, misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus, Sang Penebus.

Perjalanan suci ini diawali dalam Minggu Palma, ketika Gereja mengenangkan perarakan Kristus memasuki Yerusalem. Umat menyambut-Nya dengan seruan “Hosana”, namun sekaligus diingatkan bahwa jalan yang ditempuh Sang Raja adalah jalan kerendahan dan pengorbanan.

Dalam Perayaan Kamis Putih, Gereja memasuki perjamuan kasih. Di sana, Kristus menganugerahkan Ekaristi sebagai kenangan akan diri-Nya, sekaligus memberikan teladan pelayanan melalui pembasuhan kaki. Malam itu dilanjutkan dengan tuguran, sebuah partisipasi iman dalam doa Yesus di Getsemani, saat Ia berjaga dalam ketaatan total kepada kehendak Bapa.

Memasuki Jumat Agung, Gereja hening dalam permenungan. Dalam ibadat Tujuh Sabda dan liturgi sengsara Tuhan, umat diajak memandang salib sebagai altar pengorbanan, tempat di mana kasih ilahi dinyatakan secara sempurna. Dalam keheningan yang mendalam, Gereja tidak merayakan Ekaristi, melainkan berlutut di hadapan misteri wafat Tuhan yang menyelamatkan.

Namun misteri tidak berhenti pada salib.

Dalam Vigili Paskah, Gereja berjaga dalam malam yang kudus. Dari kegelapan, cahaya dinyalakan; dari keheningan, pujian dilantunkan. Liturgi ini menjadi perayaan agung kemenangan Kristus atas maut, sebuah peralihan dari kegelapan menuju terang, dari kematian menuju kehidupan.

Dan akhirnya, dalam Hari Raya Paskah, Gereja bersukacita dalam kepenuhan iman. Seruan “Alleluia” kembali menggema, menandakan bahwa Kristus sungguh telah bangkit, membawa harapan baru bagi seluruh umat beriman.

Seluruh rangkaian liturgi ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan utuh dalam ekonomi keselamatan. Umat tidak hanya mengenang, tetapi diundang untuk ambil bagian secara nyata dalam misteri yang dirayakan, hidup bersama Kristus, wafat bersama-Nya, dan bangkit dalam kehidupan yang baru.

Di balik kekhidmatan perayaan yang dialami umat, terdapat pelayanan yang dipersiapkan dengan penuh kesungguhan. Sejak awal, melalui berbagai persiapan, latihan-latihan liturgi, hingga gladi bersih, seluruh petugas mengambil bagian dalam semangat pelayanan yang tulus. Setiap peran dijalankan bukan sekadar tugas, melainkan sebagai bentuk persembahan iman bagi kemuliaan Tuhan.

Untuk itu, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh Panitia Pekan Suci, yang dimotori oleh Paulus Wardhana ( ketua Panitia Pekan suci 2026 ), atas dedikasi, pengorbanan, dan kesetiaan dalam pelayanan. Segala jerih payah yang telah diberikan menjadi bagian dari karya liturgi yang hidup, menghadirkan keindahan dan kekhusyukan dalam setiap perayaan.

Akhirnya, ziarah dari Hosana menuju Alleluia menjadi cerminan perjalanan iman setiap umat. Dalam dinamika kehidupan, sukacita, penderitaan, dan harapan, umat dipanggil untuk tetap setia, percaya bahwa terang kebangkitan senantiasa mengalahkan kegelapan.

Sebab Kristus yang bangkit adalah sumber hidup, dan dalam Dia, setiap umat dipanggil untuk terus menjadi saksi, hidup dalam iman, teguh dalam harapan, dan setia dalam kasih.

“Dalam Semangat Berbagi: Pengundian Perdana Kupon Kemurahan Hati Umat GMBA”


Penggalangan Dana Pengembangan Kawasan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Sukacita Paskah yang masih terasa di tengah umat Gereja Maria Bunda Allah Maguwo kembali diwujudkan dalam semangat kebersamaan dan kepedulian. Melalui program Kupon Kemurahan Hati, umat diajak untuk ambil bagian dalam karya nyata Gereja, khususnya dalam mendukung pengembangan kawasan GMBA.

Pada kesempatan ini, dilaksanakan pengundian periode pertama sebagai bagian dari rangkaian penggalangan dana tersebut. Momen ini bukan sekadar undian, melainkan simbol dari semangat berbagi dan gotong royong yang hidup di tengah umat.

Pengundian dilakukan sebelum berkat penutup Misa Paskah pagi, dalam suasana yang penuh antusias namun tetap tertib dan khidmat. Seluruh umat yang hadir menjadi saksi, menghadirkan transparansi sekaligus kebersamaan dalam proses ini.

Pengambilan undian dilakukan langsung oleh Romo Andrianus Maradiyo, yang memimpin perayaan Ekaristi saat itu. Dengan penuh keterbukaan, kupon diambil di hadapan umat, menandai dimulainya periode pertama dari program ini.

Adapun hadiah utama pada periode pertama ini adalah sebuah TV Android 24 inch, yang secara khusus merupakan sumbangan dari umat. Hal ini menjadi tanda nyata bahwa setiap kontribusi, sekecil apapun, dapat menjadi berkat bagi sesama.

Kegiatan ini bukan semata-mata tentang hadiah, melainkan tentang partisipasi iman. Umat diajak untuk menyadari bahwa Gereja dibangun bukan hanya dari bangunan fisik, tetapi dari hati yang mau memberi, melayani, dan terlibat.

Melalui Kupon Kemurahan Hati, semangat Paskah, semangat memberi diri dan berbagi kasih, terus dihidupi dalam kehidupan nyata. Harapannya, karya pengembangan kawasan GMBA dapat berjalan dengan baik, menjadi ruang yang semakin hidup bagi pertumbuhan iman umat.

Dengan kebersamaan yang terjalin, setiap langkah kecil menjadi bagian dari karya besar. Dan dari hati yang tulus memberi, Gereja terus bertumbuh, bukan hanya dalam wujud bangunan, tetapi juga dalam iman dan kasih umatnya.

“Halleluya! Kristus Telah Bangkit: Sukacita Paskah yang Menghidupkan Iman Umat”


Minggu, 5 April 2026 – Misa Paskah
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Sukacita itu akhirnya tiba. Setelah melalui perjalanan iman yang mendalam sepanjang Pekan Suci, dari sorak “Hosana”, keheningan salib, hingga malam penuh terang, umat kini bersatu dalam satu seruan kemenangan: Haleluya! Kristus telah bangkit!

Pada Minggu, 5 April 2026, umat Gereja Maria Bunda Allah Maguwo merayakan Misa Paskah dengan penuh sukacita. Perayaan ini dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo selaku Romo Vikep, yang mengajak umat untuk sungguh mengalami makna kebangkitan dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan suasana hari-hari sebelumnya, gereja kini dipenuhi terang, bunga-bunga menghiasi altar, dan nyanyian pujian menggema dengan penuh semangat. Tidak ada lagi keheningan duka, yang ada adalah kehidupan, harapan, dan kemenangan.

Kebangkitan Yesus Kristus bukan sekadar peristiwa yang dikenang, melainkan kenyataan iman yang terus hidup. Dari kubur yang kosong, lahirlah harapan baru: bahwa maut tidak berkuasa, bahwa kasih lebih kuat dari segala penderitaan, dan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Dalam homili dan doa-doa yang dipanjatkan, umat diajak untuk tidak berhenti pada perayaan, tetapi melanjutkan semangat Paskah dalam kehidupan nyata. Menjadi saksi kebangkitan berarti membawa terang di tengah kegelapan, membawa harapan di tengah keputusasaan, dan menghadirkan kasih di tengah dunia yang seringkali terluka.

Misa Paskah ini menjadi penutup dari rangkaian Pekan Suci, namun sekaligus menjadi awal yang baru. Sebab iman tidak berhenti di altar, melainkan dihidupi dalam keseharian.

Perayaan berakhir dalam sukacita yang melimpah, namun pesan Paskah tetap tinggal: bahwa Kristus yang bangkit terus hidup, dan mengundang setiap umat untuk bangkit bersama-Nya, menjadi pribadi yang baru, penuh iman, harapan, dan kasih.

“Terang Kristus Menghalau Kegelapan: Vigili Paskah, Malam Kebangkitan yang Membaharui Iman”


Sabtu, 4 April 2026 – Vigili Paskah
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Malam itu, kegelapan bukan lagi sekadar suasana, ia menjadi simbol. Simbol dari dunia yang menantikan terang, dari hati yang merindukan harapan. Dalam keheningan malam, umat berkumpul di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo untuk merayakan Vigili Paskah, puncak dari seluruh rangkaian Pekan Suci.

Perayaan yang dilaksanakan pada Sabtu, 4 April 2026 ini dipimpin oleh Romo FX Murdi Susanto, yang mengajak umat memasuki misteri kebangkitan dengan hati yang terbuka dan penuh iman.

Sebelum perayaan dimulai, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menerima kunjungan singkat dari wakil Bupati Sleman, Bapak Danang Maharsa. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan sambutan singkat kepada umat, sebelum kemudian melanjutkan agenda lainnya. Kehadiran ini menjadi bentuk perhatian dan dukungan terhadap kehidupan umat beriman di tengah masyarakat.

Vigili Paskah diawali dalam suasana gelap. Dari luar gereja, cahaya kecil mulai dinyalakan, api baru yang kemudian menyalakan Lilin Paskah. Dari satu nyala, terang itu dibagikan kepada umat. Perlahan, gereja yang tadinya gelap dipenuhi cahaya lilin, menjadi tanda bahwa kegelapan tidak pernah mampu mengalahkan terang.

Dalam nyanyian pujian Exsultet, Gereja bersukacita atas karya keselamatan yang agung. Malam ini bukan malam biasa, ini adalah malam kemenangan, malam ketika maut dikalahkan dan kehidupan dimenangkan oleh Yesus Kristus.

Sukacita itu semakin lengkap dengan pelaksanaan sakramen baptis, di mana 9 orang menerima rahmat pembaptisan. Dalam momen ini, Gereja menyambut anggota baru yang dilahirkan kembali dalam Kristus, sebuah tanda nyata bahwa kehidupan baru terus bertumbuh dalam iman.

Liturgi Sabda mengajak umat menelusuri kembali sejarah keselamatan, dari penciptaan hingga janji keselamatan yang digenapi dalam kebangkitan Kristus. Setiap bacaan menjadi pengingat bahwa Tuhan selalu setia menyertai umat-Nya, bahkan dalam saat-saat tergelap sekalipun.

Puncak sukacita semakin terasa ketika Alleluia kembali dikumandangkan, sebuah seruan yang lama “berdiam” selama masa prapaskah, kini bergema dengan penuh kemenangan. Hati umat pun seakan ikut bangkit, dipenuhi harapan baru.

Vigili Paskah bukan hanya perayaan liturgi, tetapi juga perayaan iman. Ia mengajak setiap orang untuk meninggalkan kegelapan lama dan berjalan dalam terang yang baru. Dalam terang Kristus yang bangkit, setiap luka menemukan harapan, setiap kegelapan menemukan arti.

Perayaan malam itu berakhir bukan dengan keheningan, melainkan dengan sukacita yang hidup. Sebab dari malam yang gelap, telah lahir terang yang tak akan pernah padam.

“Dalam Senyap yang Berkarya: Tim Tata Bunga Menyambut Terang Kebangkitan”


Persiapan Vigili Paskah Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Sabtu pagi, 4 april 2026

Menjelang Vigili Paskah, saat Gereja bersiap merayakan malam paling kudus dalam seluruh tahun liturgi, ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Tidak tampil di altar, tidak terdengar dalam doa umat, namun kehadirannya begitu nyata, menghadirkan keindahan yang mengantar hati kepada Tuhan.

Mereka adalah tim tata bunga, yang dengan penuh ketekunan dan cinta mempersiapkan dekorasi gereja di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Di tengah kesibukan persiapan, satu per satu bunga ditata dengan cermat. Warna, bentuk, dan penempatan dipilih bukan sekadar untuk keindahan visual, melainkan untuk menghadirkan makna. Bunga-bunga yang semula sederhana, perlahan berubah menjadi rangkaian yang hidup, melambangkan sukacita, harapan, dan kehidupan baru dalam kebangkitan Yesus Kristus.

Setiap sudut gereja disentuh dengan perhatian. Altar dihias dengan penuh hormat, menjadi pusat perayaan yang memancarkan kemuliaan. Jalan masuk, pilar, hingga area sekitar gereja pun dipersiapkan agar setiap umat yang datang dapat merasakan suasana yang berbeda, suasana yang mengangkat hati dari kegelapan menuju terang.

Dalam keheningan kerja mereka, tersimpan sebuah makna yang dalam: bahwa pelayanan tidak selalu harus terlihat. Ada keindahan dalam ketulusan, ada doa dalam setiap sentuhan, dan ada persembahan dalam setiap detail yang dikerjakan.

Tim tata bunga tidak hanya menata bunga, mereka sedang mempersiapkan ruang bagi perjumpaan. Ruang di mana umat akan merayakan kemenangan hidup atas maut, terang atas kegelapan, dan kasih yang tidak pernah berakhir.

Apa yang mereka lakukan adalah bagian dari liturgi itu sendiri, sebuah pelayanan yang memperindah perayaan, namun lebih dari itu, mengantar hati umat untuk semakin dekat kepada misteri yang dirayakan.

Dan ketika malam Vigili Paskah tiba, saat lilin-lilin dinyalakan dan Alleluia kembali bergema, keindahan yang telah dipersiapkan dalam diam itu pun berbicara—tanpa kata, namun penuh makna.

“Dalam Keheningan Salib: Ibadat Jumat Agung, Saat Kasih Disempurnakan dalam Pengorbanan”


Jumat Agung, 3 April 2026 – Pukul 15.00 WIB
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Jumat Agung selalu datang dengan suasana yang tidak biasa. Ia bukan sekadar hari peringatan, melainkan hari ketika Gereja berhenti sejenak, diam, dan memandang salib, tempat di mana kasih mencapai puncaknya.

Siang itu, sekitar pukul 12.00 WIB, langit masih tampak cerah. Matahari bersinar seperti hari-hari biasa, seolah dunia berjalan tanpa perubahan. Namun perlahan, waktu membawa suasana yang berbeda. Menjelang pukul 15.00 WIB, jam yang dikenang sebagai saat wafatnya Yesus Kristus, langit berubah. Awan mendung mulai menyelimuti, cahaya meredup, dan suasana menjadi lebih hening, seakan seluruh alam turut mengambil bagian dalam misteri agung ini.

Pada pukul 15.00 WIB, umat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk mengikuti Ibadat Jumat Agung. Dalam keheningan yang khas, tanpa dentang lonceng dan tanpa nyanyian pembuka yang meriah, perayaan dimulai. Semua terasa lebih sederhana, namun justru di situlah letak kedalamannya.

Jumat Agung bukanlah perayaan Ekaristi, melainkan ibadat yang mengajak umat untuk merenungkan sengsara dan wafat Kristus. Pusat perhatian tertuju pada salib, lambang yang dahulu menjadi tanda kehinaan, kini menjadi tanda keselamatan.

Dalam liturgi yang berlangsung, umat diajak untuk mendengarkan Kisah Sengsara, mendoakan intensi dunia, serta memasuki momen penghormatan salib. Satu per satu umat datang mendekat, bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai ungkapan iman: bahwa dari kayu salib itu, mengalir kasih yang tak terbatas.

Perubahan langit dari terang menjadi gelap seakan menjadi tanda yang menguatkan permenungan hari itu. Seperti alam yang ikut berduka, umat pun diajak untuk menyadari betapa besar pengorbanan yang telah diberikan. Dalam gelapnya langit, justru tersimpan terang harapan, bahwa kasih tidak pernah kalah oleh penderitaan.

Jumat Agung mengajarkan bahwa dalam diam, Tuhan berkarya. Dalam penderitaan, kasih dinyatakan. Dan dalam wafat, kehidupan justru dipulihkan.

Perayaan berakhir dalam suasana hening. Tidak ada penutup yang meriah, hanya keheningan yang dibawa pulang, sebuah undangan untuk terus merenungkan, bahwa dari salib itulah, keselamatan dunia dimulai.

“Tujuh Sabda dari Salib: Hening yang Berbicara, Kasih yang Tersampaikan”


Ibadat 7 Sabda – Jumat Agung Pagi, 3 April 2026
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Pagi itu, suasana di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo terasa berbeda. Tidak ada kemeriahan, tidak ada sorak puji, yang ada hanyalah keheningan yang dalam. Dalam hening itulah umat berkumpul, membuka hati untuk merenungkan tujuh sabda terakhir dari Yesus Kristus di kayu salib.

Ibadat Tujuh Sabda pada Jumat pagi, 3 April 2026, menjadi momen permenungan yang mengajak umat masuk lebih dalam ke dalam misteri penderitaan dan kasih. Setiap sabda yang diucapkan bukan sekadar kata-kata terakhir, melainkan ungkapan kasih yang paling jujur, lahir dari penderitaan, namun penuh pengampunan dan harapan.

Dari sabda pertama tentang pengampunan, hingga sabda terakhir penyerahan diri kepada Bapa, umat diajak untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan. Dalam setiap jeda, dalam setiap keheningan, seakan Tuhan sendiri berbicara secara pribadi kepada hati yang mau membuka diri.

Ibadat ini tidak berlangsung dengan gegap gempita, melainkan dengan kesederhanaan yang justru menghadirkan kedalaman. Setiap refleksi membawa umat pada satu pertanyaan yang sama: sudahkah kita sungguh memahami kasih yang begitu besar ini?

Di kayu salib, Yesus tidak hanya menanggung penderitaan, tetapi juga menunjukkan arti cinta yang sejati, cinta yang tetap mengampuni di tengah luka, yang tetap berharap di tengah kegelapan, dan yang tetap menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa.

Ibadat Tujuh Sabda ini menjadi ruang bagi umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan, untuk diam, dan untuk mendengarkan. Sebab dalam keheningan itulah, seringkali Tuhan berbicara paling jelas.

Perayaan mungkin sederhana, namun maknanya begitu mendalam. Dari salib, kasih itu terus mengalir, menyentuh, mengubah, dan mengundang setiap hati untuk kembali.