Misa Yang Menguatkan, Kebersamaan Yang Menghangatkan.

Melalui Misa Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama Pastor Paroki, umat diajak untuk kembali percaya bahwa Tuhan selalu menyertai perjalanan hidup, bahkan di tengah badai. Kebersamaan yang berlanjut dalam ramah tamah malam itu menjadi ruang untuk saling mengenal, belajar, dan bertumbuh dalam iman.

Bersama, Bahagia, Beriman

Selasa malam, 30 Juni 2026, menjadi salah satu malam yang hangat bagi kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 62 umat hadir dalam Misa Lingkungan yang dipimpin oleh Pastor Paroki kami, Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Malam itu kami berkumpul di Joglo Prasetyan, atau yang lebih akrab kami sebut Joglo Asisi, di kediaman Bapak Paulus Prasetya. Rasanya memang sudah seperti rumah kedua. Banyak kegiatan lingkungan dilaksanakan di sana, jadi setiap kali berkumpul di Joglo Asisi, rasanya selalu ada suasana yang berbeda.

Bahkan sebelum misa dimulai, suasana sudah terasa hidup. Ada yang sibuk mengatur kursi, ada yang menyiapkan konsumsi, ada yang mengecek sound system, sementara tim koor latihan sebentar bersama organis muda lingkungan, Mbak Ganes dan Mbak Lauda. Di sisi lain, tentu ada juga yang asyik mengobrol. Begitulah Asisi. Selalu ada yang dikerjakan, tapi selalu ada juga waktu untuk saling menyapa.

Dalam homilinya, Romo mengajak kami merenungkan Injil Matius 8:23–27 tentang Yesus yang meredakan angin ribut.

Di tengah homilinya, Romo bertanya,

“Dalam Perayaan Ekaristi, berapa kali Romo mengucapkan ‘Tuhan bersamamu’?”

Kami mulai menghitung dipandu Romo dan mendapatkan jawabannya, 4 kali.

Lalu Romo melanjutkan lagi,

“Kalau sedang punya masalah atau sedang gundah, biasanya mengadu ke siapa?”

Jawabannya langsung bermacam-macam.

“Status WA, Romo!”

Belum selesai tertawa, ada lagi yang menjawab,

“ChatGPT!” tawa umat kembali pecah

“Yo, ChatGPT” kata Romo sambil tertawa

Di balik pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, Romo mengingatkan kami bahwa sering kali kita mencari jawaban ke mana-mana, padahal Tuhan selalu hadir lebih dulu. Kalimat “Tuhan bersamamu” yang kita dengar saat misa ternyata bukan hanya bagian dari liturgi. Itu adalah pengingat bahwa dalam keadaan apa pun, bahkan saat hidup sedang seperti diterpa badai, Tuhan tetap menyertai kita.

Setelah misa selesai, kami tidak langsung pulang.

Seperti biasa, sesi foto bersama wajib hukumnya. Setelah itu kami juga membuat video yel-yel Lingkungan Asisi dan video pendek untuk konten Instagram.

Harapannya sederhana. Kalau malam itu kami pulang dengan hati yang penuh sukacita, semoga sukacita yang sama juga bisa dirasakan oleh umat lain yang melihatnya melalui media sosial.

Lalu terdengarlah yel-yel yang sudah begitu akrab di telinga kami.

“Asisi! Bersama, bahagia, beriman!”

Malam itu rasanya tiga kata itu bukan sekadar yel-yel.

Kami benar-benar bersama, mulai dari mempersiapkan misa, melayani, berdoa, sampai membereskan semuanya bersama-sama.

Kami juga bahagia. Bahagia karena bisa bertemu, bercanda, tertawa, dan menikmati malam tanpa harus terburu-buru pulang.

Dan tentu saja kami pulang dengan iman yang kembali dikuatkan. Jadi rasanya, malam itu yel-yel Asisi benar-benar hidup.

Acara kemudian berlanjut dengan ramah tamah bersama Romo.

Sambil menikmati ronde panas, nasi kucing, sate ayam, tahu bacem, kerupuk, dan camilan sederhana lainnya, sesi tanya jawab dimulai.

Pertanyaannya macam-macam.

Ada yang penasaran makanan favorit Romo.

Ada ibu-ibu yang sekalian memberi kode soal menu caos dhahar.

Ada yang bertanya bagaimana Romo akhirnya memutuskan menjadi seorang Imam. Jawabannya pun membawa kami mendengar kembali cerita perjalanan panggilan beliau sejak muda.

Ibu-ibu lansia juga tidak mau melewatkan kesempatan. Ada yang bertanya tentang Sakramen Minyak Suci. Ada juga yang bertanya, kalau malam sudah capek dan tidak kuat duduk, apakah boleh berdoa sambil tiduran.

Lalu muncul pertanyaan yang mungkin mewakili bapak-bapak.

“Romo, olahraga apa kok tetap bugar?”

Romo menjawab sambil tersenyum, treadmill minimal 30 menit, ditambah squat dan plank setiap hari.

Belum selesai.

Ada lagi yang bertanya,

“Romo, rahasianya apa kok glowing terus?”

Jawaban Romo singkat.

“Karena rutin misa pagi!”

Lalu Romo juga bercerita bahwa yang bertanya tentang “keglowingan” Romo tidak hanya umat Asisi saja, ternyata Romo sering ditanya pertanyaan yang sama.

Malam itu gelak tawa kembali memenuhi Joglo Asisi.

Obrolan kemudian beralih ke topik yang lebih serius. Ada yang bertanya tentang tantangan kaum muda saat ini.

Menurut Romo, salah satunya adalah budaya FOMO. Anak muda sekarang sering ingin semuanya serba cepat. AI memang sangat membantu, tetapi kalau semua diserahkan pada teknologi, lama-lama kita bisa kehilangan kebiasaan berpikir dan menikmati proses. Romo mengajak kami, terutama kaum muda, untuk tetap mau belajar, bertumbuh, dan tidak takut menjalani proses.

Setelah umat puas bertanya, gantian Romo yang bertanya kepada kami. Beliau ingin mendengar bagaimana komitmen Lingkungan Asisi dalam mendukung pengembangan kawasan Gereja Maria Bunda Allah. Romo menekankan bahwa komitmen harus berdasarkan kesepakatan dan tidak memberatkan umat. Selain itu, Romo juga menjelaskan secara singkat mengenai APBU dan kolekte, sehingga kami semakin memahami bagaimana Gereja dikelola bersama-sama.

Tanpa terasa, es krim sebagai hidangan penutup sudah habis dan jam sudah semakin malam.

Acara ditutup dan kami pun berpamitan.

Pulang malam itu rasanya berbeda.

Perut kenyang.

Hati hangat dan penuh.

Dan iman terasa sedikit lebih kuat daripada saat kami datang.

Mungkin memang itu arti kebersamaan yang sesungguhnya.

Bukan hanya berkumpul, tetapi pulang membawa sesuatu.

Dan malam itu, kami semua pulang membawa berkat Tuhan.

Asisi! Bersama, bahagia, beriman!

Untuk mengikuti kegiatan di Lingkungan St. Fransiskus Asisi Maguwo, follow Instagram kami @cerita.asisi.gmba dengan klik link disini.

Antusiasme Umat Warnai Live Painting Johannes de Britto dalam Misa di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Maguwo – Suasana Perayaan Ekaristi Minggu pagi di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Paroki Administratif Maguwo pada Minggu (28/6/2026) terasa istimewa. Selain mengikuti Misa Kudus yang dipimpin oleh Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr., umat juga disuguhkan sebuah persembahan seni melalui live painting oleh pelukis kopi ternama, Johannes de Britto.

Dengan penuh ketekunan, Johannes de Britto melukiskan Bunda Maria menggunakan media kopi yang menjadi ciri khas karya-karyanya. Selama proses melukis berlangsung, perhatian umat beberapa kali tertuju pada kanvas yang perlahan menampilkan sosok Bunda Maria. Banyak umat tampak antusias menyaksikan setiap goresan kuas yang dikerjakan secara langsung di tengah perayaan Ekaristi.

Kehadiran live painting ini memberikan pengalaman yang unik. Seni dan liturgi berpadu secara harmonis, menghadirkan suasana reflektif tanpa mengurangi kekhusyukan Misa. Umat tidak hanya mengikuti perayaan Ekaristi, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah karya seni religius lahir sebagai ungkapan iman dan persembahan bagi Tuhan.

Yang menarik, lukisan Bunda Maria hasil live painting tersebut tidak disimpan oleh pelukis, melainkan dilelang kepada masyarakat umum. Seluruh hasil lelang kemudian dialokasikan sebagai dana donasi untuk mendukung pengembangan kawasan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Melalui cara ini, karya seni tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi sarana nyata untuk mendukung pembangunan dan pelayanan Gereja.Inisiatif tersebut mendapat sambutan yang hangat dari umat. Banyak yang mengapresiasi kepedulian Johannes de Britto yang mempersembahkan talenta seninya bagi karya pastoral Gereja. Antusiasme umat terlihat sepanjang kegiatan, baik saat menyaksikan proses melukis maupun ketika mengetahui bahwa hasil karya tersebut akan dilelang demi mendukung pengembangan kawasan gereja.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap talenta dapat dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama. Seperti yang tertulis dalam Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Semangat itulah yang tercermin dalam setiap sapuan kuas Johannes de Britto, menjadikan lukisan Bunda Maria bukan sekadar sebuah karya seni, melainkan sebuah karya kasih yang menghadirkan manfaat bagi Gereja dan seluruh umat.

Perayaan Pesta Nama Lingkungan St. Antonius Padua Wilayah Sang Timur

Perayaan Pesta Nama Lingkungan St. Antonius Padua dilaksanakan pada hari Minggu, 21 Juni 2026, di Wisma USD Pentingsari. Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan dihadiri kurang lebih 60 umat, mulai dari anak-anak, orang muda, hingga bapak, ibu, dan lansia. Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Wilayah Sang Timur beserta beberapa Ketua lingkungan di Wilayah Sang Timur.

Perayaan ini diselenggarakan tidak hanya untuk memperingati Santo Antonius Padua sebagai pelindung lingkungan, tetapi juga untuk mengenang serta menghayati nilai-nilai spiritualitas yang beliau teladankan, seperti kerendahan hati, kepedulian terhadap sesama, semangat pelayanan, dan kesetiaan kepada Kristus. Melalui perayaan ini, umat diajak untuk semakin menghidupi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan mengusung suasana yang hangat, akrab, dan penuh sukacita, rangkaian acara dikemas secara menarik sehingga dapat melibatkan seluruh peserta dari berbagai kelompok usia. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi doa teatrikal, fragmen tentang Santo Antonius Padua, pemutaran kisah hidup Santo Antonius, diskusi bersama, berbagai permainan (games), makan bersama, serta ditutup dengan kegiatan flashmob yang semakin menambah semarak kebersamaan.

Melalui perayaan ini diharapkan terjalin persaudaraan yang semakin erat antarumat, serta tumbuh semangat untuk semakin aktif berpartisipasi dalam kehidupan menggereja, baik di tingkat lingkungan, wilayah, maupun Paroki Administratif.

Kunjungan Kasih kepada Umat Lansia Lingkungan Santo Petrus

Pada hari Minggu, 28 Juni 2026, dalam rangka menyambut pesta nama Santo Petrus, umat Lingkungan Santo Petrus melaksanakan kegiatan kunjungan kasih kepada para umat lanjut usia (lansia) sebagai wujud kepedulian, perhatian, dan kasih persaudaraan di dalam kehidupan menggereja. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus menghadirkan sukacita bagi para lansia yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan iman di lingkungan.

Dalam kunjungan kali ini, umat mengunjungi tiga keluarga, yaitu kediaman Bapak dan Ibu Mulyadi, Bapak Darto, serta Ibu Sugiarti. Kehadiran umat disambut dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Melalui perjumpaan sederhana ini, terjalin suasana hangat, penuh keakraban, serta saling berbagi cerita dan perhatian.

Sebagai ungkapan kasih dan kepedulian, rombongan membawa bingkisan berupa parcel buah dan roti untuk masing-masing keluarga yang dikunjungi. Bingkisan tersebut diharapkan dapat menjadi tanda kasih dari seluruh umat Lingkungan Santo Petrus sekaligus memberikan semangat dan kebahagiaan bagi para lansia.

Puncak dari setiap kunjungan adalah doa bersama. Seluruh umat memohon agar Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, dan sukacita kepada Bapak dan Ibu lansia. Semoga mereka selalu berada dalam penyertaan dan perlindungan Allah, diberikan ketenangan hati, damai sejahtera, serta tetap teguh dalam iman. Umat juga mendoakan agar keluarga yang mendampingi mereka senantiasa diberi kasih, kesabaran, kesehatan, dan berkat yang melimpah dalam merawat orang-orang terkasih.

Kegiatan kunjungan lansia ini menjadi pengingat bahwa perhatian kepada sesama, terutama kepada para lansia, merupakan wujud nyata kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran umat, doa bersama, serta perhatian yang diberikan diharapkan dapat menghadirkan semangat baru dan menguatkan para lansia untuk terus menjalani hari-hari mereka dengan penuh pengharapan kepada Tuhan.

Semoga kegiatan kasih seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga semangat persaudaraan, kepedulian, dan pelayanan di Lingkungan Santo Petrus semakin bertumbuh, serta menjadi berkat bagi seluruh umat, khususnya para lansia yang telah memberikan teladan iman dan pengabdian sepanjang hidup mereka.

Catatan Kecil dari Pelatihan Bendahara Paroki

Dua hari yang rasanya cepat sekali.

Jumat-Sabtu, 19-20 Juni 2026 lalu, kami, para bendahara dan karyawan administrasi keuangan dari berbagai paroki di Kevikepan Jogja Timur mengikuti Pelatihan Bendahara dan Karyawan Administrasi Keuangan yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Semarang di PPSM (Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan).

Pesertanya cukup banyak. Ada perwakilan dari 19 paroki, 2 paroki administratif, dan 2 stasi dari Kevikepan Jogja Timur. Dari Paroki Administratif Maguwo sendiri, keempat bendahara ikut hadir. Kesempatan yang baik karena jarang rasanya bisa belajar bersama dalam formasi yang lengkap seperti ini.

Materi yang diberikan cukup padat. Ada delapan materi yang harus diselesaikan dalam dua hari. Mulai dari pemahaman tugas masing-masing bendahara, Akuntansi Paroki dan KAP (Keuangan Akuntansi Paroki), tata cara pencatatan keuangan, aset dan inventarisasi aset, perpajakan, sampai penyusunan RAB (Rancana Anggaran & Beban), RAPAT (Rencana Anggaran & Pengadaan Aset Tetap), dan proposal.

Jujur saja, beberapa materi membuat kepala sedikit berasap. Tetapi untungnya para narasumber Ekonomat Keuskupan Agung Semarang menyampaikan dengan sabar dan cukup membumi. Banyak pertanyaan yang muncul, banyak diskusi terjadi. kadang serius, kadang diselingi tawa. Dari situlah terasa bahwa hampir semua peserta memiliki pergumulan yang mirip dalam pelayanan sehari-hari.

Yang biasanya disukai dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, tetapi juga kesempatan bertemu dengan orang-orang yang menjalani pelayanan yang sama. Ada rasa bahwa kami tidak berjalan sendirian. Banyak hal yang ternyata bisa dipelajari dari pengalaman paroki lain.

Hari pertama bahkan berakhir hampir pukul 10 malam. Saat sesi terakhir malam itu selesai, hampir semua peserta langsung tersenyum lega.

Yang menyenangkan dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, kami juga menikmati obrolan-obrolan kecil saat jeda kopi, saat makan, atau ketika saling bertanya bagaimana praktik administrasi di paroki masing-masing. Ternyata banyak tantangan yang mirip-mirip. Ada yang bergumul dengan inventaris aset, ada yang masih belajar memahami KAP, ada juga yang berbagi cara agar administrasi bisa lebih rapi tanpa membuat pelayanan menjadi kewalahan.

PPSM sendiri selalu punya suasana yang khas. Tenang. Tidak banyak kebisingan. Di dekat kapel terdengar suara air mengalir yang membuat suasana semakin damai.

Kapelnya tidak besar, tetapi heningnya terasa. Kadang kita datang membawa banyak pikiran, banyak pekerjaan yang menunggu, banyak angka yang harus dibereskan. Tetapi di tempat itu rasanya Tuhan hanya meminta kita duduk sebentar dan beristirahat.

Sabtu pagi, 20 Juni 2026, kami mengikuti misa yang dipimpin Romo Ekonomat. Bacaan Injil diambil dari Matius 6:24-34 tentang jangan khawatir akan hidupmu.

Tentu saja itu terasa sangat “pas” dengan pelatihan kami akhir minggu kemarin. Bahkan Romo menyampaikan di homilinya, bacaan hari itu seperti Tuhan berbicara langsung kepada para Bendahara dan karyawan administrasi Paroki.

Dua hari kami berbicara tentang anggaran, laporan keuangan, aset, inventaris, dan berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Lalu Injil pagi itu mengingatkan bahwa hidup bukan pertama-tama soal semua itu.

Bukan berarti keuangan tidak penting. Justru karena penting maka harus dikelola dengan baik. Tetapi di atas semua angka dan laporan itu, tetap ada Tuhan yang memelihara Gereja-Nya.

Pelatihan ditutup dengan peneguhan dari Romo Ekonomat. Dari banyak hal yang disampaikan, ada satu kalimat yang masih teringat sampai perjalanan pulang.

“If you lose your wealth, you have lost nothing; if you lose your health, you have lost something; but if you lose your character, you have lost everything.”

Sebagai bendahara, kalimat itu terasa sangat dekat. Karena pada akhirnya yang paling dijaga bukan hanya uang atau laporan keuangan, melainkan kepercayaan.

Pelatihan selesai pukul 13.00 dan ditutup dengan makan siang bersama. Setelah itu kami kembali ke paroki masing-masing dengan catatan yang lebih penuh daripada saat datang.

Semoga apa yang dipelajari selama dua hari ini tidak berhenti di buku catatan atau file presentasi saja, tetapi sungguh membantu pelayanan kami sehari-hari.

Karena menjadi bendahara paroki bukan sekadar mengurus angka.

Di balik setiap angka, ada kepercayaan umat yang harus dijaga.

Pesta Kaum Muda

Gereja Bunda Maria Maguwo kembali mengumpulkan para kaum muda dalam acara bertajuk Pesta Kaum Muda dalam rangka perayaan ulang tahun GMBA, acara ini dihadiri kurang lebih 60 orang yang berpartisi pasi dalam lomba memasak nasi goreng dan voli air. Berikut ini keseruannya

Rangkaian acara in diharapkan semakin mengguyubkan dan menyemangati para kaum muda untuk hidup menggereja.

Remaja St. Gabriel Ambil Bagian dalam Pelayanan Misa Minggu

Pada Minggu, 21 Juni, Lingkungan St. Gabriel mendapat tugas pelayanan counter dan jaga teks pada Misa Minggu di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Pelayanan ini dikoordinasikan oleh Bapak Candra, dengan melibatkan para remaja lingkungan sebagai bentuk pembinaan dan keterlibatan aktif dalam kehidupan menggereja.

Remaja yang bertugas adalah Aurel, Qaaley, Santa, Darius, dan Natra. Sejak pukul 06.00 WIB, seluruh petugas telah hadir dan bersiap di pos masing-masing. Mereka ditempatkan di bagian depan, belakang, serta lorong gereja untuk menghitung jumlah umat yang hadir menggunakan alat counter, sekaligus membantu menjaga teks misa.

Puji Tuhan, seluruh rangkaian tugas dapat dilaksanakan dengan baik, tertib, dan lancar. Semangat, tanggung jawab, serta kekompakan yang ditunjukkan oleh para remaja menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam pelayanan Gereja.

Semoga keterlibatan ini semakin menumbuhkan semangat melayani, mempererat kebersamaan, serta menjadi inspirasi bagi remaja lainnya untuk terus aktif ambil bagian dalam kehidupan menggereja.

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya.” (1 Timotius 4:12) 🙏🏻✨

Tiktok https://vt.tiktok.com/ZSC1VmY3G/

Instagramhttps://www.instagram.com/reel/DZ2QoB0TGYJ/?igsh=NHp0bDFtdmRrdHZo

Pertemuan Rutin Penuh Kebersamaan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan St. Gregorius Kadisoka – 21 Juni 2026

Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan St. Gregorius Kadisoka kembali mengadakan pertemuan rutin pada hari Minggu, 21 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan ini menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan sekaligus meningkatkan kehidupan iman para anggota paguyuban.

Pertemuan diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, para ibu mengikuti doa Rosario dengan khidmat, menyerahkan berbagai intensi pribadi, keluarga, dan lingkungan kepada Bunda Maria agar senantiasa memperoleh perlindungan dan berkat dari Tuhan.

Setelah rangkaian doa selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang memberikan kesempatan bagi para anggota untuk saling berbagi cerita, pengalaman, dan mempererat tali persaudaraan. Suasana akrab dan penuh kegembiraan semakin terasa melalui kebersamaan yang terjalin selama kegiatan berlangsung.

Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan penggalangan iuran rutin Paguyuban Ibu-Ibu sebagai bentuk dukungan terhadap berbagai kegiatan pelayanan dan kebersamaan yang akan dilaksanakan di masa mendatang. Selain itu, kegiatan arisan rutin turut dilaksanakan sebagai salah satu sarana mempererat hubungan antaranggota sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong dan kebersamaan.

Melalui pertemuan rutin ini, diharapkan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan St. Gregorius Kadisoka semakin bertumbuh dalam iman, persaudaraan, dan semangat pelayanan. Kebersamaan yang terjalin menjadi kekuatan bagi seluruh anggota untuk terus mendukung kehidupan menggereja dan membangun lingkungan yang semakin guyub, rukun, dan penuh kasih.

Terima kasih kepada seluruh anggota Paguyuban Ibu-Ibu yang telah hadir dan berpartisipasi aktif dalam pertemuan ini. Semoga semangat kebersamaan dan pelayanan yang telah terbangun dapat terus berkembang demi kemajuan Lingkungan St. Gregorius Kadisoka.

Pertemuan Sembahyangan Rutin Lingkungan St. Gregorius Kadisoka – 18 Juni 2026

Puji syukur kepada Tuhan yang Mahakasih atas terselenggaranya Pertemuan Sembahyangan Rutin Lingkungan St. Gregorius Kadisoka pada hari Kamis, 18 Juni 2026. Pertemuan ini menjadi kesempatan yang berharga bagi umat untuk berkumpul, berdoa bersama, mendengarkan Sabda Tuhan, serta mempererat persaudaraan dalam lingkungan.

Pada kesempatan ini, umat merenungkan Sabda Tuhan yang diambil dari Bacaan Pertama Sirakh 48:1-14 dan Bacaan Injil Matius 6:7-15. Melalui kedua bacaan tersebut, umat diajak untuk semakin memahami makna doa yang sungguh-sungguh dan pentingnya memiliki hati yang mau mengampuni.

Renungan: Kuasa Doa dan Hati yang Mau Mengampuni

Dalam bacaan pertama, kita mendengar kisah Nabi Elia yang dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan Allah. Melalui hidup dan doanya, Allah melakukan banyak karya besar. Elia tidak menjadi besar karena kekuatannya sendiri, tetapi karena ia percaya dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.

Sementara itu, dalam Injil, Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami. Menariknya, setelah mengajarkan doa tersebut, Yesus memberi penekanan khusus pada satu hal, yaitu mengampuni sesama. Seolah-olah Yesus ingin mengatakan bahwa doa yang indah tidak cukup jika hati kita masih menyimpan dendam dan kebencian.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita rajin berdoa. Kita berdoa saat berangkat kerja, sebelum makan, saat menghadapi masalah, atau ketika menginginkan sesuatu. Namun, terkadang kita lupa bahwa doa yang berkenan kepada Tuhan harus disertai perubahan sikap hidup.

Contohnya, kita mungkin meminta Tuhan memberi damai dalam keluarga, tetapi masih sulit memaafkan pasangan, anak, atau saudara yang pernah menyakiti kita. Kita memohon berkat dalam pekerjaan, tetapi masih menyimpan iri hati kepada rekan kerja yang lebih berhasil. Kita berdoa agar Tuhan mengampuni kesalahan kita, tetapi kita sendiri enggan mengampuni orang lain.

Melalui Elia, kita belajar untuk memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan melalui doa. Melalui Yesus, kita belajar bahwa doa yang sejati harus menghasilkan hati yang penuh kasih dan pengampunan.

Semoga melalui pertemuan sembahyangan ini, seluruh umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka semakin tekun dalam doa, semakin dekat dengan Tuhan, serta mampu menghadirkan kasih dan pengampunan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, keluarga-keluarga Katolik di lingkungan kita dapat menjadi saksi nyata kasih Allah di tengah masyarakat.

Kebersamaan dalam Iman

Pertemuan sembahyangan rutin ini juga menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan antarumat. Melalui doa bersama, pendalaman iman, dan kebersamaan yang terjalin, umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka diajak untuk terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.

“Sebab jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.” (Matius 6:14)

Rapat Pengurus Lingkungan St. Gabriel: Menyatukan Langkah, Membangun Pelayanan

Pada Rabu, 17 Juni 2026, Pengurus Lingkungan St. Gabriel mengadakan rapat rutin yang bertempat di rumah Bapak Paul. Rapat dimulai pukul 19.20 WIB dan dihadiri oleh 15 orang pengurus.

Suasana rapat berlangsung hangat, penuh semangat kebersamaan, dan diwarnai dengan diskusi yang aktif. Setiap pengurus saling bertukar pikiran, menyampaikan usulan, serta mencari solusi terbaik agar setiap program dan kegiatan lingkungan dapat terlaksana dengan baik, tertib, dan lancar.

Adapun agenda yang dibahas meliputi:

Mekanisme partisipasi umat dalam pendanaan pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo, khususnya terkait teknis dan tata cara umat Lingkungan St. Gabriel untuk turut ambil bagian dalam memberikan sumbangan.

Program kerja dan berbagai informasi lingkungan, sebagai upaya memperkuat pelayanan serta menjaga komunikasi dan kebersamaan antarumat.

Persiapan Misa Lingkungan yang akan dilaksanakan pada 14 Juli 2026, termasuk pembagian tugas dan berbagai hal yang perlu dipersiapkan agar perayaan Ekaristi dapat berlangsung dengan khidmat dan penuh sukacita.

Melalui rapat ini, diharapkan terjalin koordinasi yang semakin baik antar pengurus sehingga setiap keputusan yang diambil dapat menjadi langkah nyata dalam meningkatkan pelayanan, mempererat persaudaraan, serta mendukung kemajuan Lingkungan St. Gabriel.

“Bersama melayani, bersama membangun, dan bersama mewujudkan lingkungan yang semakin hidup dalam iman, harapan, dan kasih.”

tiktok https://vt.tiktok.com/ZSQW4h6Dw/

instagram https://www.instagram.com/reel/DZuX1XzT_i9/?igsh=bGRxOTlzMGtsanI5