Bersama dalam Doa, Bersatu dalam Pelayanan

Umat Lingkungan Yohanes Pembaptis kembali melanjutkan kegiatan doa Rosario bersama pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kegiatan dilaksanakan di rumah Bapak Donny dan dimulai pada pukul 18.00 WIB.

Meskipun jumlah umat yang hadir dalam doa Rosario kali ini tidak terlalu banyak, suasana doa tetap berlangsung dengan penuh antusiasme. Umat yang hadir tetap bersemangat mengikuti doa bersama sebagai bagian dari upaya menghidupi bulan Rosario dan mempererat relasi dengan Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Setelah doa Rosario selesai, kegiatan dilanjutkan dengan latihan koor pada pukul 19.00 WIB sebagai persiapan untuk tugas pelayanan di gereja. Pada sesi latihan koor ini, semakin banyak umat yang hadir dan bergabung. Beberapa umat bahkan menyusul setelah kegiatan Rosario selesai, sehingga suasana latihan menjadi semakin ramai.

Rangkaian kegiatan pada hari itu menunjukkan bahwa kebersamaan umat tidak hanya terwujud melalui doa, tetapi juga melalui keterlibatan dalam pelayanan gereja. Doa Rosario menjadi kesempatan untuk menguatkan iman, sementara latihan koor menjadi sarana bagi umat untuk mempersiapkan diri dalam melayani Tuhan dan sesama melalui pujian.

Melalui kegiatan Rosario bersama dan latihan koor ini, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis terus membangun semangat persaudaraan dan pelayanan. Semoga kebersamaan yang terjalin semakin mempererat hubungan antarumat serta menumbuhkan semangat untuk terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

Bersama Bunda Maria, Tekun dalam Doa Rosario

Perjalanan doa Rosario bersama umat Lingkungan Yohanes Pembaptis terus berlanjut. Pada Rabu, 7 Oktober 2026, umat kembali berkumpul untuk mengikuti doa Rosario bersama di rumah Bapak Sustiyantono. Kegiatan dimulai pada pukul 19.00 WIB.

Doa Rosario diikuti oleh umat dari berbagai generasi, mulai dari Orang Muda Katolik (OMK) hingga umat lanjut usia. Dalam suasana yang sederhana dan penuh kekeluargaan, umat bersama-sama mendaraskan doa Rosario dengan khidmat.

Kehadiran umat dari berbagai kelompok usia menunjukkan bahwa doa Rosario menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan semangat hidup menggereja. Setiap pertemuan menjadi ruang bagi umat untuk bersama-sama menyerahkan berbagai doa dan harapan kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Semoga ketekunan dalam mengikuti doa Rosario terus terjaga sepanjang bulan Oktober. Dengan hati yang terbuka dan iman yang semakin bertumbuh, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis diharapkan senantiasa menemukan kekuatan dalam doa dan kebersamaan.

Bersama dalam Doa, Mempererat Persaudaraan Umat

Semangat umat Lingkungan Yohanes Pembaptis dalam mengikuti doa Rosario bersama terus berlanjut. Pada Selasa, 6 Oktober 2026, umat kembali berkumpul untuk mendaraskan Rosario bersama di rumah Bapak Agung pada pukul 19.00 WIB.

Sebanyak 18 umat hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari Orang Muda Katolik (OMK) hingga umat lanjut usia. Kehadiran umat dari berbagai generasi menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dalam doa.

Dengan penuh antusiasme, umat mengikuti rangkaian doa Rosario bersama. Pertemuan sederhana ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk berdoa, tetapi juga menjadi ruang bagi umat untuk saling menyapa, menguatkan, dan mempererat tali persaudaraan.

Melalui kegiatan Rosario yang terus dilaksanakan, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis bersama-sama menghidupi bulan Rosario dengan semangat iman dan kebersamaan. Semoga doa-doa yang dipanjatkan menjadi sumber kekuatan bagi seluruh umat dan membawa setiap keluarga semakin dekat kepada Tuhan.

Ketika Gereja Menyapa, Mendengarkan, dan Belajar Bersama


Satu Acara, Tiga Program: Ngobrol, Belajar, dan Melayani Bersama

Minggu sore, 4 Oktober 2026, sekitar 102 umat berkumpul di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Sore itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ada tiga program yang “dikawinkan” menjadi satu acara. 😄

Ketiganya adalah:

  • Ardas ke-9 Butir 5 – Workshop Pelayanan yang Membahagiakan, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.
  • Program Pelayanan DPH Maguwo 2026 Butir 9 – Pertemuan dan silaturahmi dengan umat yang terlibat dalam kepengurusan RT/RW, pedukuhan, maupun organisasi kemasyarakatan.
  • Program Litbang Timpel Pengembangan SDM Butir 2 – Pelatihan program kemasyarakatan.

Jadi, daripada membuat tiga acara terpisah dengan tiga kali undangan, tiga kali persiapan, dan mungkin tiga kali konsumsi. 😄 Ketiganya disatukan dalam satu sore yang penuh obrolan, sharing, pembekalan, dan peneguhan.

Secara resmi memang workshop. Tetapi kalau melihat suasananya, sebenarnya acara ini lebih terasa seperti ruang untuk saling menyapa, mendengarkan, belajar, dan menguatkan.

Acara dipandu oleh Mas Danang dan Mbak Sari yang membuat suasana sejak awal terasa santai dan cair. Jadi, meskipun judulnya workshop, suasananya tidak seperti sedang ikut seminar yang harus duduk tegak sambil sibuk mencari pulpen.


Dari Sapaan, Lalu Jadi Cerita

Salah satu bagian yang paling menarik justru ketika umat mulai diajak bercerita.

Pak Agung, Waka 2, membuka ruang ngobrol dan sharing bersama umat yang aktif menjadi pengurus di masyarakat.

Di sinilah cerita mulai mengalir…………..Ada yang bercerita tentang mengurus warga, membangun komunikasi, menghadapi berbagai persoalan di lingkungan, sampai pengalaman menjadi umat Katolik yang hidup dan berkarya di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Katolik.

Ternyata menjadi pengurus RT atau RW itu tidak sesederhana yang terlihat. Ada rapatnya, ada warganya, ada masalahnya, ada grup WhatsApp-nya… dan mungkin yang terakhir itu justru paling menantang. Tetapi dari semua cerita tersebut terlihat satu hal: umat GMBA ternyata sudah banyak mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Dan bagi Gereja, kehadiran mereka tentu bukan sesuatu yang kecil.

Gereja Tidak Hanya Mendengar dari Dalam Gereja

Sharing sore itu juga menjadi kesempatan bagi Dewan untuk mendengarkan langsung kehidupan umat di luar lingkungan Gereja.

Apa yang mereka alami? Apa yang menjadi tantangan? Bagaimana mereka menjalankan tugas pelayanan di masyarakat?

Dan yang tidak kalah penting, bagaimana semangat iman tetap dibawa ketika harus berhadapan dengan berbagai macam karakter dan persoalan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat pertemuan menjadi lebih bermakna, karena terkadang Gereja tidak perlu buru-buru memberikan jawaban. Duduk bersama, mendengarkan, dan memahami cerita umat juga merupakan bentuk pelayanan.


Ketika Google, WhatsApp dan AI Ikut Nimbrung

Setelah puas ngobrol dan berbagi pengalaman, teknologi pun ikut “nimbrung”.

Pak Yohanes Suyanto, Kabid Litbang, memperkenalkan beberapa pemanfaatan Google dan fitur WhatsApp yang bisa membantu komunikasi dan pengelolaan informasi.

Tidak berhenti di situ, umat juga diajak berkenalan dengan Artificial Intelligence atau AI.

Pak Agung mengajak umat melihat AI bukan sekadar sesuatu yang sedang tren, tetapi sebagai teknologi yang bisa dimanfaatkan secara positif dan bertanggung jawab.

Memang masih tahap pengenalan. Jadi belum sampai level “besok pagi semua pekerjaan diserahkan ke AI”. Justru dari sini muncul kesadaran bahwa teknologi perlu dipelajari secara bertahap dan digunakan sesuai kebutuhan.

Teknologi Canggih, Tapi Jangan Kehilangan Kehadiran

Sesi terakhir bersama Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr, menjadi peneguhan yang sangat penting.

Romo mengingatkan bahwa teknologi boleh semakin maju, AI boleh semakin pintar, tetapi jangan sampai kemajuan tersebut membuat manusia kehilangan kehadiran dan relasinya dengan sesama.

Pesannya sederhana tetapi dalam:

“Kehadiran jangan sampai digantikan oleh kemajuan teknologi. Jangan sampai relasi rusak karena digantikan oleh kemajuan teknologi.”

Mungkin ini yang perlu kita ingat bersama, Kita bisa menggunakan AI untuk membantu membuat tulisan, Kita bisa menggunakan Google untuk mencari informasi, Kita bisa menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi, Tetapi untuk menyapa seseorang, mendengarkan cerita, menguatkan yang sedang kesulitan, dan hadir ketika seseorang membutuhkan, tetap tidak ada aplikasi yang bisa menggantikan kita.

Pelayanan Itu Tidak Berhenti di Pintu Gereja

Pada akhirnya, sore itu bukan hanya tentang workshop, Bukan hanya tentang RT, RW, Google, WhatsApp atau AI, lebih dari itu, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa Gereja hadir melalui umatnya di tengah masyarakat.

Umat yang menjadi pengurus RT, RW, organisasi maupun berbagai kegiatan kemasyarakatan adalah wajah Gereja yang setiap hari bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat.

Di sanalah semangat “membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan” menjadi nyata.

Dan mungkin pelayanan yang paling sederhana memang bukan sesuatu yang spektakuler. kadang cukup dengan hadir, mau mendengarkan, mau membantu, mau menyapa, dan ketika dibutuhkan, tidak buru-buru bilang, “Waduh, saya sibuk.”

Sore itu GMBA belajar satu hal lagi: Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pelayanan tetap membutuhkan hati, karena pada akhirnya, Gereja bukan hanya tentang tempat kita berkumpul.

Gereja adalah tentang bagaimana kita hadir bagi sesama.

Kunjungan Tali Kasih dan Doa Rosario Lingkungan Santo Petrus

Pada Kamis, 1 Oktober 2026, umat Lingkungan Santo Petrus melaksanakan kegiatan kunjungan tali kasih kepada beberapa keluarga umat yang sedang mengalami sakit. Kegiatan ini diikuti oleh 13 orang umat sebagai bentuk kepedulian, perhatian, dan dukungan dari keluarga besar Lingkungan Santo Petrus.

Kunjungan pertama dilakukan ke rumah Bapak Priyo untuk menjenguk putrinya, Mbak Ica, yang sedang sakit. Kehadiran para umat menjadi bentuk perhatian dan dukungan bagi keluarga, sekaligus memberikan semangat dan penguatan agar Mbak Ica segera diberikan kesehatan dan pemulihan.

Selanjutnya, rombongan melanjutkan kunjungan ke rumah Mas Yuan untuk menjenguk putra kecilnya, Adek Ael, yang juga sedang sakit. Dalam suasana penuh keakraban, umat memberikan perhatian dan doa bagi kesembuhan Adek Ael serta kekuatan bagi keluarga yang mendampingi.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa Rosario di rumah Bapak Hanna. Selain berdoa bersama, umat secara khusus mendoakan istri Bapak Hanna yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan, kekuatan, dan ketabahan dalam menjalani masa pemulihan.

Kegiatan kunjungan tali kasih dan doa Rosario ini menjadi wujud nyata semangat persaudaraan umat Lingkungan Santo Petrus. Melalui kehadiran, perhatian, dan doa bersama, umat saling menguatkan serta menunjukkan bahwa dalam suka maupun duka, keluarga besar Lingkungan Santo Petrus senantiasa hadir dan saling mendukung.

Semoga Mbak Ica, Adek Ael, dan istri Bapak Hanna senantiasa diberikan kesehatan dan kesembuhan oleh Tuhan, serta keluarga yang mendampingi selalu diberikan kekuatan dan ketabahan.

1 Tahun Senam Sehat GMBA: Sehat Bersama, Bahagia Bersama


Sabtu, 3 Oktober 2026 menjadi hari yang cukup spesial bagi keluarga besar Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Seperti biasa, sejak pukul 07.00 WIB, Tim Senam Sehat GMBA yang berada di bawah naungan Timpel PIUL kembali mengajak umat untuk bergerak bersama dalam kegiatan senam sehat yang dilaksanakan di halaman belakang GMBA.

Namun, senam pagi kali ini terasa sedikit berbeda. Bukan hanya sekadar berkeringat dan menggerakkan badan, hari ini juga menjadi momen untuk memperingati 1 tahun perjalanan Senam Sehat GMBA.

Selama satu tahun, kegiatan ini menjadi salah satu ruang sederhana bagi umat untuk berkumpul, berolahraga, bercanda, dan tentunya menjaga kesehatan bersama. Tidak perlu alat olahraga yang ribet, tidak perlu suasana yang terlalu serius, yang penting badan bergerak, hati senang, dan bisa ketemu teman-teman.

Setelah senam selesai, suasana dilanjutkan dengan syukuran sederhana berupa pemotongan tumpeng. Dalam doa bersama, seluruh peserta memanjatkan syukur atas perjalanan satu tahun yang telah dilalui, sekaligus berharap agar kegiatan Senam Sehat GMBA dapat terus berjalan dan menjadi sarana kebersamaan bagi umat.

Doanya sederhana, tetapi harapannya besar: semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, kebahagiaan, dan semangat untuk terus menjaga kebersamaan.

Dan tentu saja, acara belum lengkap kalau setelah olahraga tidak ada acara makan-makan. …….

Kali ini, peserta menikmati sarapan pagi dengan menu gudangan. Sayuran yang segar, lauk-pauk yang lengkap, sambal yang mantap, ditambah suasana makan bersama setelah olahraga membuat sarapan pagi terasa semakin nikmat. Kalau kata yang hadir, “Gudangannya sederhana, tapi nikmatnya luar biasa!”

Satu tahun mungkin bukan waktu yang panjang, tetapi dari satu tahun ini sudah banyak cerita, tawa, keringat, dan kebersamaan yang tercipta.

Selamat ulang tahun yang pertama untuk Senam Sehat GMBA….

Semoga tetap menjadi ruang untuk sehat bersama, bahagia bersama, dan bertumbuh bersama. Jangan lupa, minggu depan senam lagi… karena sehat itu bukan cuma cita-cita, tapi harus diusahakan.

BKSN 2026 Pertemuan Keempat Lingkungan Santo Antonius Maguwo

“Ujian Masuk Surga”: Ketika Iman Tidak Cukup Hanya Dirayakan, tetapi Harus Dihidupi

Maguwo, 30 September 2026 — Ada suasana berbeda dalam pertemuan keempat Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 di Lingkungan Santo Antonius Maguwo. Jika pada pertemuan-pertemuan sebelumnya umat diajak mendalami ajaran Yesus melalui refleksi dan aktivitas bersama, kali ini pesan Injil disampaikan dengan cara yang ringan, menghibur, namun sekaligus mengusik hati.

Bertempat di rumah Ibu Nunik, sebanyak 25 umat hadir dalam pertemuan BKSN yang dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026. Pertemuan mengangkat tema “Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal”, dengan bacaan Injil Matius 25:31-46.

Tema tersebut merupakan pertemuan keempat dalam rangkaian BKSN 2026 yang mengangkat tema besar “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Dalam panduan BKSN, Matius 25:31-46 mengajak umat mendengarkan ajaran Yesus mengenai hidup yang kekal melalui jalan belas kasih kepada mereka yang menderita, miskin, dan tersingkir, sekaligus merefleksikan bagaimana umat menghadirkan tindakan yang membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan.

Dari “Yesus Pokok” menuju permenungan tentang hidup

Pertemuan diawali dengan lagu “Yesus Pokok dan Kitalah Carang-Nya”, yang membawa umat memasuki suasana pertemuan dengan semangat untuk melekat pada Kristus sebagai sumber kehidupan.

Selanjutnya, Bapak Murdiyana memimpin pembukaan dengan tanda salib dan Doa Ardas IX. Dalam pengantarnya, umat diajak memasuki pertemuan keempat dengan melihat kembali pesan utama bacaan Injil: bahwa pembicaraan mengenai hidup yang kekal bukan sekadar persoalan tentang apa yang terjadi setelah kematian, melainkan berkaitan erat dengan bagaimana manusia menjalani kehidupannya sekarang.

Doa pembuka kemudian mengantar umat pada bagian pendalaman Sabda. Bapak Widjajanto membacakan Injil Matius 25:31-46, perikop yang menggambarkan kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan dan pemisahan antara mereka yang menjalankan kasih kepada sesama dan mereka yang mengabaikannya.

Dalam rangkaian BKSN 2026, perikop ini memang ditempatkan sebagai puncak permenungan tentang hidup yang kekal. Panduan BKSN menegaskan bahwa sabda Yesus diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan rohani, tetapi membentuk hati umat agar semakin peka terhadap sesama, terbuka untuk bekerja sama, peduli kepada yang lemah, serta berani menjadi saksi Kristus dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. 

“Ujian Masuk Surga”: Tertawa, tetapi kemudian tersentuh

Setelah pembacaan Injil, suasana pertemuan berubah menjadi lebih cair. Umat disuguhi sebuah fragmen berjudul “Ujian Masuk Surga”, yang dikemas dalam format fragmen berdurasi sekitar 5–6 menit. 

Fragmen tersebut menggambarkan sebuah situasi imajinatif: bagaimana jika seseorang harus mengikuti “seleksi” sebelum masuk surga.

Kisah diawali dengan pertanyaan sederhana namun menggelitik:

“Apa yang membuat seseorang layak menerima hidup yang kekal?” Naskah Fragmen Pertemuan ke4

Salah satu tokoh, Pak Wiwid, datang dengan keyakinan bahwa dirinya memiliki bekal yang cukup. Ia rajin mengikuti misa, rajin berdoa, dan cukup aktif dalam pelayanan. Namun ketika petugas seleksi mulai mengajukan pertanyaan tentang bagaimana ia memperlakukan orang yang lapar, sakit, kesepian, atau membutuhkan pertolongan, jawaban yang muncul berulang kali adalah:

“Saya doakan.”

Di sinilah humor dalam fragmen perlahan berubah menjadi refleksi. Petugas kemudian mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendalam: jika Tuhan sudah memberikan makanan, mengapa makanan itu tidak dibagikan kepada mereka yang lapar? Naskah Fragmen Pertemuan ke4

Pertanyaan tersebut menjadi titik balik. Umat diajak menyadari bahwa doa dan kehidupan keagamaan tetap penting, tetapi iman tidak berhenti pada apa yang diucapkan dan dirayakan. Iman harus menjelma menjadi tindakan nyata.

Sebaliknya, tokoh Larno digambarkan sebagai pribadi yang merasa dirinya “biasa saja”. Ia tidak banyak berbicara tentang aktivitas keagamaannya. Namun ketika bertemu orang lapar, ia berbagi makanan; ketika ada orang sakit, ia datang; ketika ada orang baru, ia mengajak berkenalan; dan ketika ada orang kesepian, ia menemani. 

Kontras kedua tokoh tersebut membuat pesan Injil menjadi lebih mudah dipahami: bukan seberapa banyak seseorang mengaku telah melakukan kebaikan, melainkan apakah imannya sungguh membuatnya peduli terhadap sesama.

Puncak fragmen ditandai dengan pertanyaan tentang “tiket masuk surga”. Jawaban yang diberikan justru mengarahkan umat untuk melihat kehidupan di sekitar mereka: adakah orang yang lapar, sakit, kesepian, atau membutuhkan pertolongan?

“Mungkin… ujiannya sudah dimulai.”

Kalimat tersebut menjadi punchline sekaligus pesan utama fragmen.

Sharing: Dari “orang lain” menjadi “orang di sekitar kita”

Refleksi kemudian dilanjutkan melalui sesi sharing yang dibawakan oleh Bapak Bagus.

Sharing dikembangkan melalui tiga pertanyaan sederhana. Pertama, umat diajak melihat kembali alasan Pak Wiwid merasa dirinya sudah layak karena rajin misa, berdoa, dan melayani. Kedua, umat diajak mengenali siapa sebenarnya “orang yang membutuhkan pertolongan” dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, umat diajak memilih satu tindakan kasih nyata yang dapat dilakukan setelah pertemuan BKSN. 

Pertanyaan kedua menjadi penting karena orang yang membutuhkan perhatian ternyata tidak selalu berada jauh dari kehidupan kita. Bisa jadi mereka adalah orang yang paling dekat: suami, istri, anak, orang tua, tetangga, teman satu lingkungan, atau seseorang yang sedang mengalami kesepian.

Kadang mereka bahkan tidak meminta bantuan. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau melihat, menyapa, mendengarkan, dan menemani.

Di sinilah pesan Matius 25 menjadi sangat konkret. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan mereka yang membutuhkan:

“Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Matius 25:40)

Dengan demikian, perjumpaan dengan sesama yang membutuhkan bukan sekadar kesempatan untuk berbuat baik. Perjumpaan tersebut dapat menjadi perjumpaan dengan Kristus sendiri.

Jangan pulang hanya membawa pengetahuan

Salah satu pesan yang kuat dalam sesi sharing adalah ajakan agar BKSN tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan mengenai Kitab Suci.

Umat diajak pulang dengan satu tindakan nyata. Tidak harus besar. Bisa menelepon seseorang yang sudah lama tidak disapa, mengunjungi orang sakit, menemani seseorang yang kesepian, berbagi makanan, membantu tetangga, atau berdamai dengan seseorang yang selama ini dijauhi. 

Pesan tersebut selaras dengan arah BKSN 2026 bahwa tujuan pendalaman Kitab Suci bukan hanya memahami teks, tetapi menemukan inspirasi sehingga hidup umat bertumbuh, berubah menjadi lebih baik, dan nilai-nilai Sabda Allah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan demikian, pertanyaan yang dibawa pulang bukan lagi sekadar:

“Apakah saya sudah menjadi orang Katolik yang baik?”

Melainkan pertanyaan yang jauh lebih personal:

“Apakah iman saya membuat saya menjadi orang yang berbelas kasih?”

Hidup kekal dimulai dari cara kita hidup hari ini

Setelah sesi sharing, rangkaian pertemuan dilanjutkan dengan doa umat, doa penutup, dan berkat oleh prodiakon. Suasana kemudian ditutup dengan lagu “Kasih-Nya Seperti Sungai”, sebuah penutup yang semakin menegaskan bahwa kasih Allah seharusnya mengalir melalui kehidupan umat.

Pertemuan keempat BKSN Lingkungan Santo Antonius Maguwo akhirnya bukan sekadar menjadi penutup rangkaian pendalaman Kitab Suci selama September. Melalui bacaan Matius 25:31-46, umat diajak melihat bahwa pembicaraan tentang hidup yang kekal tidak dapat dipisahkan dari cara kita memperlakukan sesama dalam kehidupan sekarang.

Fragmen “Ujian Masuk Surga” berhasil menjembatani pesan Injil dengan pengalaman sehari-hari. Umat diajak tertawa, tetapi kemudian berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri: ketika ada orang di sekitar kita yang membutuhkan, apakah kita hanya mendoakannya, atau sungguh hadir dan melakukan sesuatu?

Pada akhirnya, pesan yang sederhana namun kuat dari pertemuan ini adalah: kita tidak perlu sibuk mencari “tiket masuk surga”. Kita cukup membuka mata dan melihat siapa yang membutuhkan kita hari ini. Sebab mungkin, justru di sanalah Tuhan sedang menunggu untuk kita jumpai.

Pertemuan BKSN keempat Lingkungan Santo Antonius Maguwo berlangsung dengan baik dan penuh antusiasme, diikuti 25 peserta di rumah Ibu Nunik. Rangkaian BKSN 2026 pun ditutup dengan sebuah ajakan yang sangat konkret: mendengarkan Yesus Sang Guru berarti membiarkan sabda-Nya mengubah cara kita melihat, merasakan, dan memperlakukan sesama.

Berkah Dalem.

Ibadat Rosario Umat Lingkungan St. Gregorius : Bersama Bunda Maria Semakin Dekat dengan Yesus – 01 Oktober 2026

✦ ✝ ✦
LINGKUNGAN ST. GREGORIUS

Ibadat Rosario

Kamis, 01 Oktober 2026
“Bersama Bunda Maria, kita semakin dekat dengan Yesus”

Pada Kamis, 01 Oktober 2026, umat Lingkungan St. Gregorius kembali berkumpul dalam suasana penuh iman dan persaudaraan untuk melaksanakan Ibadat Rosario bersama.

Ibadat Rosario menjadi salah satu kesempatan bagi umat untuk sejenak meninggalkan kesibukan sehari-hari, berkumpul sebagai satu keluarga, serta bersama-sama mengarahkan hati kepada Tuhan melalui doa dan perantaraan Santa Perawan Maria.

✝

Sabda Tuhan

Injil Matius 18:1-5

Ibadat Rosario diawali dengan pembacaan Injil Matius 18:1-5. Melalui bacaan Injil tersebut, umat diajak untuk merenungkan ajaran Yesus mengenai sikap menjadi seperti anak kecil dalam kehidupan iman.

Yesus mengajarkan bahwa kebesaran dalam Kerajaan Surga bukanlah tentang kedudukan ataupun kehebatan diri, melainkan tentang kerendahan hati, ketulusan, dan kesediaan untuk menerima Kerajaan Allah dengan hati yang sederhana.

✦ Renungan Sabda Tuhan ✦

Sebelum memasuki doa Rosario, umat diajak untuk mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan dari Injil Matius 18:1-5. Sabda Tuhan mengingatkan kita bahwa kehidupan iman membutuhkan hati yang sederhana, rendah hati, terbuka, dan tulus di hadapan Allah.

Anak kecil menjadi gambaran bagi kita tentang ketulusan dan kepercayaan. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita mudah terjebak dalam keinginan untuk dianggap, dihargai, atau menjadi yang paling penting. Namun Yesus justru mengajak kita untuk belajar menjadi pribadi yang rendah hati dan mau menerima satu sama lain.

Pesan tersebut juga sangat relevan dalam kehidupan menggereja. Sebagai umat Lingkungan St. Gregorius, kita dipanggil untuk terus membangun persaudaraan dengan mengesampingkan perbedaan, saling mendukung, saling mendoakan, dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan bersama.

Setelah mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan, umat kemudian bersama-sama melanjutkan dengan berdoa Rosario. Dalam setiap peristiwa Rosario, umat membawa berbagai intensi dan pergumulan kehidupan kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Doa Rosario menjadi saat untuk kembali menimba kekuatan iman. Dalam keheningan doa, umat diajak semakin dekat dengan Yesus dan belajar dari Maria yang senantiasa setia mendengarkan, menyimpan, dan melaksanakan kehendak Allah.

❝

“Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.”

Matius 18:4

🌹 Bersama dalam Doa Rosario 🌹

Setelah renungan Sabda Tuhan, seluruh umat bersama-sama melanjutkan ibadat dengan Doa Rosario. Doa dilakukan dengan penuh kekhusyukan sebagai ungkapan iman dan kepercayaan kepada Tuhan.

Melalui Rosario, umat Lingkungan St. Gregorius membawa berbagai intensi doa, baik untuk keluarga, kesehatan, pekerjaan, anak-anak, kaum muda, umat lingkungan, kehidupan menggereja, maupun berbagai pergumulan yang sedang dihadapi.

Semoga melalui doa bersama ini, umat semakin menyadari bahwa perjalanan iman tidak pernah dilakukan seorang diri. Kita dipanggil untuk berjalan bersama sebagai saudara dan saudari dalam Kristus.

✦ Dokumentasi Kegiatan ✦

Ibadat Rosario Umat Lingkungan St. Gregorius

Dokumentasi kegiatan Lingkungan St. Gregorius
Dokumentasi Ibadat Rosario Lingkungan St. Gregorius
Umat Lingkungan St. Gregorius mengikuti ibadat
Umat mengikuti ibadat dengan penuh kekhusyukan
Kebersamaan umat Lingkungan St. Gregorius
Kebersamaan umat dalam doa dan persaudaraan
Doa bersama umat Lingkungan St. Gregorius
Doa Rosario sebagai ungkapan iman dan persaudaraan
✝

Semoga melalui Ibadat Rosario ini, iman umat Lingkungan St. Gregorius semakin diteguhkan, hati semakin dekat dengan Tuhan, dan persaudaraan di antara umat semakin kuat.

“Bersama Maria, kita berjalan dalam iman, berharap dalam kasih, dan semakin dekat dengan Yesus.”

✦ ❖ ✝ ❖ ✦
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor #lingkstgregoriuskadisoka ♬ suara asli – penyemangathidup.id
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor
✠
✠
✦ ✝ ✦

Lagu Lingkungan St. Gregorius

“Guyub Melayani Dalam Kasih”

❧ ✝ ❧
♪ Lingkungan St. Gregorius ♪
Guyub Melayani Dalam Kasih (Versi 2)
✦ ✝ ✦

Perwakilan Dewan Pastoral dan Tim Pelayanan GMBA Mengikuti Pra TEPAS Kevikepan Jogja Timur Secara Daring


Senin malam (28/9/2026), Gazebo Gereja Maria Bunda Allah Maguwo kembali ramai. Bukan untuk senam, bukan juga untuk makan-makan, tetapi kali ini para perwakilan Dewan Pastoral Harian bersama Timpel PIA, PIOM, PIUL, PIOD, dan PIR berkumpul untuk mengikuti Pra Temu Pastoral (TEPAS) Kevikepan Yogyakarta Timur melalui Zoom.

Namanya memang daring, tapi kumpulnya tetap luring. Jadi, yang online adalah acaranya, sementara orangnya tetap duduk manis di Gazebo GMBA. Laptop dan layar menjadi “jendela” untuk mengikuti pertemuan bersama para peserta dari wilayah lain.

Pra TEPAS ini menjadi kesempatan untuk ngobrol dan melihat bersama bagaimana pelayanan Gereja ke depan bisa terus dikembangkan. Berbagai hal dibahas sebagai persiapan menuju Temu Pastoral Kevikepan Yogyakarta Timur.

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah penguatan FIBB, khususnya untuk kalangan muda dan OMK. Maklum, kalau bicara anak muda sekarang, hampir semuanya tidak bisa jauh-jauh dari HP. Bangun tidur cari HP, mau tidur cari HP. Nah, daripada HP cuma dipakai scroll-scroll sampai lupa waktu, kenapa tidak sekalian dimanfaatkan untuk pewartaan?

Teknologi digital memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, Gereja juga perlu hadir di ruang digital dengan cara yang kreatif dan dekat dengan dunia anak muda. Pewartaan tidak harus selalu menunggu orang datang ke gereja. Bisa juga “jemput bola” lewat media digital, tentu dengan cara yang tetap membawa pesan iman dan tidak terasa menggurui.

Dari pembahasan Pra TEPAS ini, GMBA mendapatkan banyak bahan untuk dipikirkan bersama. Terutama bagaimana masing-masing Timpel bisa ikut mengambil bagian dalam mengembangkan pelayanan yang lebih kreatif, terbuka terhadap teknologi, dan tentunya tetap dekat dengan umat.

Jadi, malam itu bukan sekadar duduk, lihat layar, lalu pulang. Ada gagasan yang dibawa pulang, ada bahan untuk dipikirkan, dan semoga ada juga semangat baru untuk diwujudkan dalam pelayanan. Karena kalau Gereja mau terus hidup dan berkembang, yang harus di-update bukan cuma HP dan aplikasinya, tapi cara kita melayani dan mewartakan iman juga.

Dari Gazebo GMBA, kita belajar bahwa berjalan bersama itu bisa dilakukan di mana saja, bahkan sambil duduk di depan layar Zoom.

Pelayanan Umat Lingkungan St. Gregorius pada Misa Harian Pagi di Gereja Maguwo – Senin 28 September 2026

✝
Lingkungan St. Gregorius

Tugas Umat Lingkungan St. Gregorius

Mengangkat Lagu pada Misa Harian Pagi

Gereja Maguwo • Senin, 28 September 2026 • Pukul 06.00 WIB

♪ ♫ ✝ ♫ ♪
✝

“Bernyanyilah bagi Tuhan dengan segenap hati.”

— Kolose 3:16

Senin, 28 September 2026, umat Lingkungan St. Gregorius kembali mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam pelayanan liturgi di Gereja Maguwo. Pada kesempatan ini, umat Lingkungan St. Gregorius mendapat tugas untuk mengangkat lagu pada Misa Harian Pagi yang dilaksanakan pada pukul 06.00 WIB.

Pelayanan ini menjadi salah satu bentuk nyata keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja. Dengan penuh semangat, umat Lingkungan St. Gregorius mempersiapkan dan membawakan lagu-lagu liturgi untuk membantu seluruh umat yang hadir mengikuti perayaan Ekaristi dengan lebih khidmat, penuh sukacita, dan semakin menghayati setiap bagian dalam perayaan Misa.

✦ Pelayanan dalam Liturgi ✦

Dalam tugas pelayanan kali ini, umat Lingkungan St. Gregorius bertugas mengangkat beberapa lagu dalam Misa Harian Pagi, di antaranya:

  • 🎵 Lagu Pembuka
  • 🎵 Alleluya
  • 🎵 Lagu Penutup

Melalui lagu-lagu tersebut, umat diajak untuk semakin menyadari bahwa musik dan nyanyian liturgi bukan sekadar pelengkap dalam perayaan Ekaristi, tetapi menjadi sarana untuk membantu umat mengarahkan hati kepada Tuhan dan mengambil bagian secara aktif dalam doa bersama.

Semangat Pelayanan dan Kebersamaan

Tugas pelayanan dalam perayaan Misa menjadi kesempatan bagi umat Lingkungan St. Gregorius untuk terus membangun kebersamaan.

Kehadiran dan keterlibatan umat dalam pelayanan seperti ini juga menjadi sarana untuk semakin mempererat tali persaudaraan. Setiap umat memiliki peran dan talenta yang dapat dipersembahkan untuk membangun kehidupan Gereja.

✝

“Melayani dengan sukacita, bernyanyi dengan iman, dan berjalan bersama dalam kasih.”

♪ ♫ ♪

Menjadi Perekat dan Penyemangat dalam Pelayanan

Semoga tugas pelayanan ini menjadi pengalaman iman yang semakin mempererat persaudaraan umat Lingkungan St. Gregorius. Kebersamaan dalam menjalankan tugas di Gereja diharapkan dapat menjadi perekat dan penyemangat bagi seluruh umat Gregorius untuk terus terlibat dalam berbagai bentuk pelayanan, baik di lingkungan maupun dalam kehidupan Gereja.

Semoga setiap pelayanan yang dilakukan, sekecil apa pun perannya, dapat menjadi persembahan yang tulus bagi Tuhan serta membawa sukacita dan berkat bagi sesama. Dengan semangat guyub dalam kasih dan bertumbuh dalam iman, umat Lingkungan St. Gregorius terus melangkah bersama dalam pelayanan dan kehidupan menggereja.

📷 Dokumentasi Pelayanan Umat

Dokumentasi Tugas Umat Lingkungan St. Gregorius dalam pelayanan di Gereja Maguwo.

Umat Lingkungan St. Gregorius dalam pelayanan di Gereja Maguwo
Pelayanan Umat Lingkungan St. Gregorius
Umat Lingkungan St. Gregorius mengikuti pelayanan liturgi
Kebersamaan Umat Lingkungan St. Gregorius dalam pelayanan
✝

Tuhan memberkati setiap langkah pelayanan umat Lingkungan St. Gregorius.

Lingkungan St. Gregorius
Guyub Dalam Kasih • Bertumbuh Dalam Iman • Melayani dengan Sukacita

🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor #lingkstgregoriuskadisoka ♬ suara asli – Aerilyn
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor
✠
✠
✦ ✝ ✦

Lagu Lingkungan St. Gregorius

“Guyub Melayani Dalam Kasih”

❧ ✝ ❧
♪ Lingkungan St. Gregorius ♪
Guyub Melayani Dalam Kasih (Versi 2)
✦ ✝ ✦