Lingkungan St. Gregorius kembali mengadakan Pertemuan BKL kedua dengan suasana penuh kebersamaan dan iman. Dalam pertemuan kali ini, umat diajak untuk merenungkan makna Sabda Allah dan Komuni Kudus sebagai sumber kekuatan hidup sehari-hari.
Melalui pendalaman iman bersama, umat menyadari bahwa Sabda Allah bukan hanya untuk didengarkan, tetapi juga untuk direnungkan dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Sabda Tuhan menjadi penuntun dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, menghadirkan penghiburan, harapan, serta kekuatan bagi setiap pribadi dan keluarga.
Selain itu, permenungan tentang Komuni Kudus mengingatkan umat akan kasih Kristus yang selalu hadir dan menyertai kehidupan. Dalam Ekaristi, umat menerima Tubuh Kristus sebagai santapan rohani yang menguatkan iman dan mempersatukan umat dalam kasih.
Pada sesi sharing, umat berbagi pengalaman mengenai pertanyaan refleksi: “Apa buah atau dampak yang saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari setelah mengikuti Ekaristi?” Berbagai pengalaman sederhana namun penuh makna dibagikan. Ada umat yang merasakan hati menjadi lebih tenang dan damai, lebih sabar dalam menghadapi persoalan keluarga maupun pekerjaan, serta semakin terdorong untuk mengampuni dan melayani sesama dengan tulus.
Melalui sharing tersebut, umat semakin menyadari bahwa Ekaristi bukan hanya sebuah perayaan rutin, tetapi sungguh membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran Tuhan dalam Sabda dan Komuni Kudus menjadi sumber kekuatan untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan semangat pelayanan.
Pertemuan BKL kedua ini menjadi momen yang mempererat persaudaraan antarumat sekaligus menumbuhkan kerinduan untuk semakin setia hadir dalam Ekaristi dan mendengarkan Sabda Tuhan dalam kehidupan setiap hari.
Menjelang perayaan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus, umat di Lingkungan St. Gregorius kembali mempersiapkan tata bunga untuk menghiasi altar gereja. Setiap rangkaian bunga yang dibuat bukan sekadar hiasan, melainkan ungkapan doa dan persembahan kasih bagi Tuhan.
Warna liturgi putih menjadi dasar dalam rangkaian kali ini. Putih melambangkan kemuliaan, kesucian, dan sukacita atas Kristus yang naik ke surga. Keindahan bunga putih kemudian dipadukan dengan nuansa kuning yang hangat sebagai simbol harapan dan sukacita umat beriman. Sentuhan merah turut melengkapi rangkaian, melambangkan cinta, pengorbanan, dan semangat pelayanan yang hidup dalam kebersamaan umat.
Tangan demi tangan bekerja dengan penuh ketulusan. Dalam setiap proses merangkai bunga, terselip doa-doa sederhana yang dipanjatkan bagi gereja, keluarga, dan seluruh umat. Dari bunga-bunga sederhana itulah hadir keindahan yang mempersatukan pelayanan, iman, dan kasih.
Terima kasih kepada Mbak Nana, Bu Gambit, Bu Putut, dan Mbak Anin yang telah meluangkan waktu, tenaga, serta perhatian untuk menyelesaikan tata bunga Misa Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus. Semoga pelayanan kecil yang dilakukan dengan penuh kasih ini menjadi persembahan yang berkenan di hati Tuhan dan membawa sukacita bagi seluruh umat yang merayakan Ekaristi.
Setiap bunga yang dirangkai selalu membawa doa. Dalam keheningan pelayanan, Tuhan hadir melalui tangan-tangan yang bekerja dengan cinta.
Alam tidak berbicara melalui kata-kata. Peristiwa yang sering kita namakan sebagai “bencana” sesungguhnya adalah peringatan dari alam. Alam tidak membutuhkan manusia. Manusia yang membutuhkan alam. Namun, apakah kita sudah mendengarkan apa yang disampaikan alam?
Pesan yang mengentak dalam film pendek “Alam Berbicara” ini disajikan Sr. Marisa, CB kepada para peserta saat membuka sarasehan “Go Green and Clean” yang diselenggarakan Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup Bidang Kemasyarakatan pada Minggu, 10 Mei 2026 di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.
Perilaku manusia yang mengekploitasi alam menyebabkan krisis ekologi. Merusak bumi, akan menghancurkan kehidupan manusia. Sebaliknya, mencintai bumi berarti mencintai kehidupan itu sendiri.
Sr. Marisa menyampaikan, melalui ensiklik Laudato Si, Fratelli Tuti, dan Laudate Deum, Paus Fransiskus mengajak kita melakukan pertobatan pastoral dan ekologis untuk mengatasi dehumanisasi dan krisis ekologi. Seruan Paus Fransiskus ini kemudian ditegaskan kembali oleh Paus Leo XIV yang mengutus umat Katolik untuk menjalankan Revolusi Kasih. Membangun jembatan dialog dan bergandengan tangan dengan semua orang, adalah keniscayaan untuk mengatasi kemiskinan, kekerasan, kerusakan lingkungan serta menumbuhkan budaya damai dan harapan.
Semangat “berjalan bersama” inilah yang diharapkan dapat muncul dari seluruh umat untuk mewujudkan paroki sebagai rumah bersama yang hijau, adil, dan berkelanjutan. Di lingkup paroki, kita dapat melakukan pertobatan ekologis dengan langkah sederhana. Di antaranya dengan menghias altar secara ramah lingkungan.
Selama ini, tata rias altar di GMBA banyak menggunakan bunga potong yang ternyata tidak ramah lingkungan. Bunga potong hanya mampu bertahan 3-6 hari, setelah itu menjadi sampah. Oasis yang dipakai untuk menjaga kesegaran bunga juga sulit hancur dan merusak lingkungan.
Menggunakan tanaman dalam pot menjadi penerapan semangat Laudato Si dalam tata rias altar. Selain mengurangi sampah, tanaman dalam pot membawa lebih banyak oksigen di lingkungan gereja. Sebagian tanaman seperti pandan dan zodia bahkan bermanfaat mengusir hewan dan serangga pengganggu dari dalam ruangan.
Usai pemaparan materi, Sr. Marisa kemudian mengajak peserta sarasehan mempraktikkan tata rias altar yang ekologis. Sambil menunggu hasilnya, sebagian peserta diajak mempraktikkan memilah sampah sesuai jenisnya seperti sampah kertas, plastik, dan organik.
Bersama Sr. Marisa, para peserta juga mempraktikkan cara membuat biopori mini di pot tanaman sebagai wadah sampah organik. Sampah organik dalam biopori akan terurai menjadi kompos sehingga menyuburkan tanaman dalam pot.
“Selain itu, cairan dari sampah organik dapat melembapkan media tanam sehingga lebih hemat air untuk menyiram,” kata biarawati yang sejak tahun 2020 menjadi koordinator KPKC (Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan) suster CB Provinsi Indonesia ini.
Selepas sesi praktik, para peserta yang sebagian besar adalah para ibu anggota tim pelayanan tata altar mendiskusikan rencana tindak lanjut untuk mewujudkan semangat Laudato Si dalam tata hias altar GMBA. Dari hasil diskusi, para peserta merumuskan beberapa komitmen aksi nyata, mencakup donasi tanaman dalam pot dan pot dari ibu-ibu, penyediaan rak tanaman, penataan tanaman serta pengaturan perawatan tanaman per wilayah, serta menggunakan lebih banyak tanaman dalam pot untuk tata hias altar.
Dari sarasehan “Green and Clean” pada petang hingga malam itu, dialog tercipta, partisipasi diteguhkan, dan solidaritas digaungkan untuk bersama-sama meraih asa: menghadirkan paroki sebagai rumah bersama yang hijau, adil, dan berkelanjutan. Jangan lagi menutup mata dan nurani, mari dengarkan apa yang disampaikan alam kepada kita.
Usai Perayaan Ekaristi pada Minggu pagi, para putra dan putri altar Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo berkumpul bersama di area belakang gereja untuk mengikuti pengarahan dan pembinaan bersama pendamping, Bapak Andre. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan berkelanjutan bagi para misdinar agar semakin memahami tanggung jawab mereka dalam pelayanan liturgi.
Dalam suasana penuh keakraban namun tetap serius, para putra putri altar diajak untuk semakin menumbuhkan disiplin, kekompakan, serta rasa tanggung jawab dalam menjalankan tugas pelayanan di altar. Sebagai pelayan liturgi, para misdinar diharapkan tidak hanya hadir untuk membantu jalannya misa, tetapi juga mampu menunjukkan sikap hormat, kesiapan, dan keteladanan di dalam gereja.
Pengarahan ini juga menjadi langkah persiapan menuju perkembangan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo yang ke depan akan memasuki tahap sebagai Paroki Administratif. Dengan bertumbuhnya kehidupan menggereja di GMBA, para putra putri altar diharapkan semakin siap mengambil bagian dalam pelayanan Gereja secara lebih dewasa dan bertanggung jawab.
Melalui pembinaan sederhana namun bermakna ini, diharapkan semangat pelayanan para misdinar terus bertumbuh, sehingga mereka dapat menjadi generasi muda Gereja yang setia melayani, mencintai liturgi, serta turut membangun kehidupan umat di lingkungan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.
Bagi umat Katolik di seluruh dunia, bulan Mei bukan sekadar pergantian kalender. Gereja sejak lama menetapkan bulan ini sebagai Bulan Maria — waktu istimewa yang dipersembahkan untuk menghormati dan merenungkan peran Santa Perawan Maria dalam karya keselamatan Allah. Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan kasih dan penghormatan umat kepada Bunda Tuhan, yang dengan setia mendampingi perjalanan Gereja.
Di sepanjang bulan Mei, umat diajak untuk semakin dekat dengan Bunda Maria — bukan untuk menyembahnya, melainkan meneladani hidupnya yang penuh kerendahan hati, ketaatan, dan iman yang total kepada kehendak Allah. Maria menjadi teladan murid sejati, seorang ibu yang senantiasa mengarahkan hati umat kepada Putranya, Yesus Kristus.
Doa Rosario: Jalan Kontemplasi Bersama Maria
Salah satu bentuk devosi yang paling khas dalam Bulan Maria adalah Doa Rosario. Rosario bukan sekadar rangkaian doa yang diucapkan berulang, melainkan sebuah doa kontemplatif bersama Maria dalam merenungkan misteri kehidupan Kristus: mulai dari Sukacita Inkarnasi, Terang Pewartaan, Dukacita Sengsara, hingga Kemuliaan Kebangkitan-Nya. Setiap butir Rosario menjadi langkah iman yang menuntun umat pada keheningan hati dan persatuan yang semakin mendalam dengan Tuhan.
Para Paus dalam ajaran Gereja terus mengajak umat untuk tekun mendaraskan Rosario, terutama pada bulan Mei dan Oktober. Melalui doa sederhana namun mendalam ini, umat memohon damai bagi keluarga, Gereja, dan dunia. Rosario menjadi jembatan doa yang menghubungkan bumi dan surga, tempat umat bersandar dalam kasih keibuan Bunda Maria.
Pelayanan Tim Soundsystem: Menghidupkan Suasana Doa yang Khidmat
Dalam semangat Bulan Maria inilah, Tim Soundsystem Gereja Maria Bunda Allah Maguwo dengan penuh sukacita turut ambil bagian dalam pelayanan Doa Rosario bersama umat. Kehadiran mereka bukan semata-mata sebagai pendukung teknis, melainkan sebagai bagian dari persekutuan umat yang bersama-sama menghidupkan suasana doa yang khidmat dan penuh penghayatan.
Melalui pelayanan yang tulus, mereka membantu agar setiap doa, lagu pujian, dan renungan dapat terdengar dengan jelas, sehingga seluruh umat dapat berdoa dengan lebih nyaman dan khusyuk. Pelayanan ini menjadi wujud nyata bahwa setiap talenta dapat dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan dan penghormatan kepada Bunda Maria. Di balik perangkat dan tata suara yang tertata, tersimpan semangat pelayanan yang sederhana namun bermakna: menghadirkan suasana liturgis yang membantu umat semakin dekat dengan Allah.
Pada hari Selasa, 12 Mei 2026, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi mendapat kesempatan untuk doa Rosario di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Kami memilih untuk berdoa di depan Patung Bunda Maria di bagian depan gereja. Suasana hening, sejuk dan temaram namun langit cerah membuat malam itu terasa hangat di hati. Diikuti oleh 32 umat lingkungan, doa Rosario ini menjadi bagian dari rangkaian doa bersama seluruh umat Gereja Maria Bunda Allah selama bulan Mei untuk memohon berkat Tuhan menjelang perubahan status Gereja Bunda Allah Maguwo dari stasi menjadi Paroki Administratif pada 2 Juni 2026 mendatang.
Sepanjang bulan Mei, setiap lingkungan mendapat giliran untuk berdoa Rosario di gereja. Selain itu, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi secara khusus juga mengadakan doa Rosario lingkungan dan pendalaman Bulan Katakese Liturgi (BKL) setiap hari Selasa dan Jumat. Momen ini menjadi kesempatan yang indah untuk berkumpul, berdoa bersama, dan menyerahkan segala harapan kepada Bunda Maria.
Pada malam itu, doa Rosario dipandu oleh Bapak Felix dan Ibu Monica. Umat mengikuti doa dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Dalam setiap Salam Maria yang didaraskan, terselip doa dan harapan agar perjalanan Gereja Bunda Allah Maguwo menuju Paroki Administratif senantiasa disertai oleh Tuhan.
Setelah doa Rosario bersama, kegiatan dilanjutkan dengan Pendalaman Bulan Katekese Liturgi (BKL) yang dipandu oleh Ibu Monica.
Suasana sharing malam itu terasa hangat dan hidup. Umat cukup aktif dan responsif menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk mengulik tema BKL. Beberapa umat berbagi pengalaman pribadi dan pandangan mereka terkait tema yang dibahas. Dari cerita-cerita sederhana itu, setiap peserta dapat melihat bahwa iman tidak hanya dipahami, tetapi juga dihidupi dalam keseharian.
Pertemuan malam itu menjadi pengingat bahwa kebersamaan dalam lingkungan tidak hanya dibangun melalui kegiatan besar, tetapi juga lewat doa dan percakapan sederhana yang dilakukan bersama.
Semoga doa-doa yang dipanjatkan sepanjang bulan Mei ini membawa berkat melimpah bagi umat Gereja Bunda Allah Maguwo, dan semakin mempersatukan kita dalam menyambut status baru sebagai Paroki Administratif.
Maguwoharjo — Dewan Pastoral Stasi (DPS) Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo menggelar rapat koordinasi rutin pada Jumat, 15 Mei 2026 di Sekretariat GMBA. Pertemuan yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus DPS, para Ketua Wilayah, serta Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.
Rapat berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat pelayanan. Selain membahas agenda rutin pastoral bulanan, pertemuan ini juga menjadi momen penting dalam mempersiapkan berbagai hal menjelang perubahan status Stasi Gereja Maria Bunda Allah menjadi Paroki Administratif yang direncanakan pada bulan Juni mendatang.
Dalam sambutannya, Ketua Stasi GMBA, Yohanes Agung Prasetya menyampaikan harapan agar seluruh pengurus dan umat dapat terus menjaga semangat persatuan dan gotong royong dalam mendukung perkembangan Gereja. Beliau juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mempersiapkan diri menyambut perubahan status tersebut dengan penuh tanggung jawab dan sukacita pelayanan.
Pada kesempatan itu, para pengurus stasi turut menyampaikan laporan kegiatan dan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi serta evaluasi pelayanan yang telah berjalan selama beberapa waktu terakhir. Berbagai program dan kegiatan pastoral yang telah dilaksanakan dibahas bersama guna meningkatkan pelayanan kepada umat di masing-masing wilayah.
Para Ketua Wilayah juga menyampaikan perkembangan dan kondisi wilayah masing-masing sebagai bagian dari koordinasi bersama yang disampaikan oleh Mas Heru selaku Sekretaris Stasi. Kehadiran Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr. memberikan pendampingan serta arahan pastoral bagi seluruh peserta rapat. Beliau mengajak seluruh umat untuk terus bertumbuh dalam iman, mempererat kebersamaan, dan aktif terlibat dalam kehidupan menggereja serta menyampaikan banyak masukan yang membangun.
Dengan adanya rencana peningkatan status menjadi Paroki Administratif, diharapkan Gereja Maria Bunda Allah dapat semakin berkembang dalam pelayanan pastoral serta semakin dekat dalam menjawab kebutuhan umat. Momentum ini menjadi tanda pertumbuhan dan perjalanan Gereja yang terus berkembang bersama seluruh umatnya.
Kamis pagi, 14 Mei 2026, basecamp utama Lingkungan Fransiskus Asisi Tasura sudah ramai sejak Misa Kenaikan Yesus selesai. Satu per satu bapak-bapak datang dengan motor masing-masing, siap untuk melakukan touring rohani ke Gua Maria Tuk Ing Katentreman, sebuah tempat doa yang tenang dan sejuk di wilayah Magelang.
Rombongan kali ini terdiri dari Pak Jondit, Pak Rus, Pak Cahyo, Pak Bono, Pak Tiyok, Pak Wawan, Pak Felix, Mas Galang, dan Pak Ari Lawu dari Lingkungan Clara yang ikut bergabung. Total ada delapan motor yang siap mengantar mereka menikmati perjalanan yang penuh cerita.
Sebelum berangkat, Pak Wawan memimpin doa singkat. Dengan perlindungan Tuhan dan semangat kebersamaan, tepat pukul 10.00 WIB rombongan mulai melaju melalui rute Jurang Jero. Jalanan yang membelah kebun salak menyuguhkan pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Mereka berkendara santai, menikmati udara segar, sambil sesekali menyalip truk-truk pasir yang menjadi bagian khas dari jalur tersebut.
Seperti dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita kecil yang membuat pengalaman semakin berkesan. Sesaat sebelum melewati kawasan kebun salak, salah satu motor mengalami pecah ban. Untungnya, hanya sekitar seratus meter dari lokasi terdapat tukang tambal ban. Setelah berhenti beberapa saat dan ban kembali siap digunakan, perjalanan pun dilanjutkan dengan semangat yang tetap utuh.
Sekitar pukul 11.30 WIB, rombongan tiba di Gua Maria Tuk Ing Katentreman. Begitu turun dari motor, mereka langsung merasakan suasana yang teduh, hening, dan menenangkan. Pepohonan rindang dan gemericik sumber air di sekitar gua membuat tempat ini terasa seperti oase kecil yang sangat cocok untuk berdoa dan menenangkan hati.
Di sana, para bapak menyalakan lilin dan mengambil waktu untuk berdoa secara pribadi. Dalam keheningan itu, setiap orang membawa intensi dan syukur masing-masing kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus.
Setelah berdoa, suasana santai pun berlanjut dengan obrolan ringan tentang rencana touring berikutnya. Dengan nada bercanda, perjalanan ini disebut sebagai “survey lapangan” untuk mencari tempat-tempat ziarah yang nantinya layak direkomendasikan kepada ibu-ibu dan keluarga. Tentu saja, sebelum memberikan rekomendasi, para bapak merasa perlu melakukan lebih banyak “survey” ke berbagai tempat.
Salah satu momen yang paling bermakna dalam perjalanan ini adalah ketika rombongan menanam bibit pohon kimeng yang sudah dibawa dari rumah. Setelah meminta izin kepada penjaga lokasi, bibit itu ditanam di area sekitar gua. Tanaman kimeng dipercaya membantu menjaga ketersediaan air di sekitarnya, sehingga penanaman ini menjadi simbol sederhana kepedulian terhadap alam ciptaan Tuhan.
Sebelum pulang, rombongan mampir untuk makan siang di Warung Pepes Gapeswathi. Menu pepes dan rica enthog menjadi penyempurna perjalanan yang menyenangkan ini.
Perjalanan pulang ditempuh melalui jalur Tempel–Turi. Di tengah perjalanan, salah satu motor sempat kehabisan bensin dan harus didorong beberapa ratus meter menuju SPBU terdekat. Meski demikian, kejadian itu justru menambah warna dan cerita yang akan dikenang bersama.
Touring kali ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dapat tumbuh melalui hal-hal sederhana: berangkat bersama, berdoa bersama, menghadapi kendala bersama, dan pulang dengan hati yang penuh sukacita. Lebih dari sekadar perjalanan, touring ini menunjukkan bahwa ke mana pun kita melangkah, selalu ada kesempatan untuk membawa doa, mempererat persaudaraan, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama maupun bagi alam ciptaan Tuhan
Rapat pengurus inti dan koordinator tim pelayanan lingkungan Antonius. Rapat dilaksanakan pada hari Kamis, 14 Mei 2026 pukul 18.30 wib di Joglo Mbah Sis dengan dihadiri 10 orang pengurus. Agenda rapat membahas program kerja dan anggaran tahun 2026.
Kunjungan pada salah satu umat lingkungan Antonius yang sedang pemulihan dari sakitnya. Kunjungan dilaksanakan pada hari Sabtu, 9 Mei 2026 pukul 16.30 wib. Dihadiri oleh 10 orang. Umat yang dikunjungi adalah Bpk. Yohanes Riyanto, kunjungan dilaksanakan di rumah beliau Perum Tapan RT 06/RW 01 No.9, Purwomartani, Kalasan, Sleman.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo