Misa Requiem untuk Bapa Paus Fransiskus: Doa dan Cinta dari Maguwo

 

Dalam suasana duka yang penuh haru dan rasa syukur, umat Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul dalam Misa Requiem untuk Paus Fransiskus, pada hari ini, Rabu, 23 April 2025, yang disiarkan langsung dari Katedral Semarang dan dipimpin oleh Bapa Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Misa live streaming ini dimulai pukul 18.00 WIB dan berlangsung hingga selesai, diikuti dengan penuh khidmat oleh 415 umat yang hadir secara langsung di gereja. Dalam keheningan dan doa, umat mengenang sosok gembala agung yang telah memberi hidupnya sepenuhnya bagi Gereja dan dunia.

 

Malam ini, dari Maguwo yang kecil, kami mengirimkan cinta yang besar kepada surga.

Selamat jalan Bapa Suci kami, Paus Fransiskus.

Engkau telah mengajarkan kami arti belas kasih,
menunjukkan bagaimana Gereja bisa menjadi rumah yang ramah,
dan meyakinkan bahwa Tuhan senantiasa lebih besar dari segala dosa dan kelemahan kami.

Engkau kini telah kembali ke pelukan Sang Bapa,
namun inspirasimu tetap hidup dalam hati kami—
dalam doa, dalam pelayanan, dan dalam cara kami mencintai sesama.

Terima kasih, Bapa Paus. Sampai jumpa di surga.

Misa ini bukan hanya menjadi penghormatan, tetapi juga sebuah pengingat bahwa kasih dan keteladanan Bapa Paus Fransiskus akan terus hidup di hati kita.


Selamat jalan, Bapa Paus.
Engkau telah menunjukkan kepada kami bahwa menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan, bahwa kasih Tuhan itu nyata dalam tindakan kecil yang penuh makna. Doakan kami dari surga, agar kami pun setia berjalan dalam terang Kristus seperti engkau telah melakukannya.



terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras demi kelancaran misa ini:

Tim Tata Bunga yang sigap dan penuh kreativitas menghias altar dengan indah dan elegan,
Tim Paramenta yang mempersiapkan perlengkapan liturgi dengan penuh ketelitian,
Tim Video Monitor dan Tim Soundsystem yang memastikan kelancaran visual dan audio selama misa berlangsung,
Prodiakon yang setia melayani umat di altar,
Dan seluruh umat serta para petugas yang terlibat dari balik layar—tanpa sorotan, tapi berjasa besar dalam menghadirkan suasana yang layak bagi penghormatan terakhir untuk Paus tercinta.



 

Selamat Jalan, Paus Fransiskus: Gembala yang Hidup dalam Kasih dan Kesederhanaan

Dunia Katolik dan seluruh umat manusia berduka. Pada Senin, 21 April 2025, Paus Fransiskus — gembala Gereja Katolik ke-266 — telah berpulang ke rumah Bapa di usia 88 tahun. Ia wafat di kediamannya, Domus Sanctae Marthae, Vatikan, pada pukul 07.35 waktu setempat, setelah mengalami pneumonia di kedua paru parunya.

Lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Buenos Aires, Argentina, Paus Fransiskus dikenal sebagai Paus yang mencintai orang miskin, hidup sederhana, dan membawa semangat pembaruan dalam Gereja. Sejak terpilih pada 13 Maret 2013, beliau menjadi Paus pertama dari Amerika Latin, pertama dari Ordo Jesuit, dan non-Eropa pertama setelah lebih dari seribu tahun sejarah Gereja.

Selama lebih dari satu dekade pelayanannya, beliau meninggalkan jejak yang luar biasa:
Ia bukan hanya pemimpin rohani, tapi sahabat bagi yang tersisih, suara bagi yang terpinggirkan, dan ayah bagi yang mencari makna dalam kehidupan modern.
Beliau bicara tentang kasih Tuhan yang tanpa batas, tentang perlindungan lingkungan melalui ensiklik Laudato Si’, dan tentang belas kasih lebih penting daripada penghakiman.

Di masa tuanya, meski bergulat dengan berbagai masalah kesehatan, Paus Fransiskus tetap hadir, tetap melayani, tetap mendoakan. Bahkan sehari sebelum wafat, beliau masih memberikan berkat Paskah Urbi et Orbi dari kursi rodanya, tersenyum seperti biasa—penuh damai.

Permintaan terakhirnya pun mencerminkan kerendahan hatinya: dimakamkan bukan di dalam Vatikan, tetapi di Basilika Santa Maria Maggiore — tempat di mana ia kerap bersimpuh dalam doa, jauh dari sorotan.

Kini, dunia kehilangan seorang ayah, seorang gembala, dan seorang sahabat. Tapi warisan kasihnya, keteladanannya, dan keberaniannya untuk membawa Gereja lebih dekat kepada manusia, akan terus hidup dan menjadi inspirasi tak berujung.

Selamat jalan, Bapa Suci.

Doa kami mengiringimu. Gereja menangis, tapi juga bersyukur—karena kami pernah memiliki engkau sebagai cahaya dalam perjalanan iman ini.


Terima Kasih, Tim Dekorasi GMBA

Karena Keindahan Juga Bisa Menyentuh Hati

Kalau selama Pekan Suci 2025 kita datang ke Gereja Santa Maria Bunda Allah dan merasa hati ikut tenang, damai, bahkan tak jarang ikut haru… yakin deh, salah satu “biangnya” adalah sentuhan indah dari tangan-tangan kreatif tim dekorasi GMBA. Di balik altar yang tampak suci, bunga yang tertata anggun, kain yang menjuntai elegan, dan atmosfer sakral yang terasa kuat—ada kerja keras yang tidak terlihat tapi sangat terasa.

Dan semua itu nggak lepas dari koordinasi ciamik Mas Tyok, yang dengan penuh kesabaran, rasa seni, dan kemampuan memotivasi, berhasil menyatukan tim untuk menciptakan keindahan rohani dalam rupa visual. mas Tyok gak sendirian lho…….dia punya banyak asisten yang juga luar biasa. ahli dekor pak Satriyo, ada mas Akhir dari OMK yg super senior, plus OMK GMBA yang ganteng dan cantik cantik…… ada mas Heru, mas Satria, mas Ervin ( desainer masterplan GMBA ), Atta, Kaka, Ricky, Santi, Sari, Ratna, Tian, Michael, Kian, Marlin, Rani, Vano, Keke, Lintang, Jingga, Nico, Mbak Sevin, Mbak Danik,Yola, Vita, Davina, Mas Otho, Asti dan Tia.

Dekorasi bukan sekadar soal menaruh bunga atau menggantung kain. Itu soal merangkai rasa, menyampaikan pesan iman lewat warna dan bentuk, serta menciptakan suasana yang membantu umat masuk lebih dalam ke dalam misteri iman. Dari Minggu Palma sampai Vigili Paskah, setiap ornamen adalah bentuk doa yang dijahit dengan cinta.

Dan mari kita jujur, siapa yang nggak senyum waktu lihat altar dihiasi dengan megah tapi tetap sederhana? Siapa yang nggak terdiam waktu lilin-lilin menyala saat Malam Paskah, dikelilingi tiang lampu buatan ? Itu semua adalah seni yang lahir dari pelayanan

Dekorasi bukan sekadar soal menaruh bunga atau menggantung kain. Itu soal merangkai rasa, menyampaikan pesan iman lewat warna dan bentuk, serta menciptakan suasana yang membantu umat masuk lebih dalam ke dalam misteri iman. Dari Minggu Palma sampai Vigili Paskah, setiap ornamen adalah bentuk doa yang dijahit dengan cinta

Dan mari kita jujur, siapa yang nggak senyum waktu lihat altar dihiasi dengan megah tapi tetap sederhana? Siapa yang nggak terdiam waktu lilin-lilin menyala saat Malam Paskah, dikelilingi bunga putih dan kain emas? Itu semua adalah seni yang lahir dari pelayanan.

Untuk Mas Tyok dan seluruh tim dekorasi GMBA………….
Terima kasih karena sudah memberikan yang terbaik, bahkan dari jauh-jauh hari sebelum Pekan Suci dimulai. Terima kasih atas jam-jam lembur, tangan-tangan pegal, dan ide-ide kreatif yang kadang datang di tengah malam. Kalian tidak hanya menghias gereja, tapi juga menghias hati kami semua

Tuhan memberkati setiap jerih lelahmu. Dan seperti kata pepatah modern, “Kalau surga bisa direka lewat kain, bunga dan kertas semen bekas……… kalian lah para arsiteknya



Paskah Bersama Lansia: Merayakan Kasih yang Tak Pernah Menua

Minggu 20 April 2025, selepas misa paskah pagi,di sebuah sudut hangat penuh senyum dan cerita, tepatnya di kediaman Bapak Arief Subyantoro, suasana Paskah terasa begitu berbeda. Tidak ada sorak sorai anak kecil, tidak ada hiruk-pikuk paduan suara. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam: tatapan mata penuh syukur, genggaman tangan yang hangat, dan kisah-kisah kehidupan yang dipeluk oleh cahaya Paskah.

Itulah wajah indah dari Perayaan Paskah bersama para lansia, sebuah inisiatif penuh kasih dari Timpel PIUL (Pelayanan Iman Umat Lansia) di bawah naungan Bidang Pewarta Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah pelukan rohani bagi mereka yang telah berjalan lebih dulu dalam perjalanan iman

Acara ini dibungkus dalam kesederhanaan, namun justru di situlah letak kemewahannya. Lagu-lagu rohani dinyanyikan dengan suara lembut namun penuh rasa. Doa-doa dipanjatkan dalam irama pelan, menyentuh setiap hati yang hadir. Ada pula momen berbagi cerita, di mana para lansia menyampaikan harapan, syukur, bahkan canda kecil tentang masa muda mereka—yang disambut tawa hangat dari semua yang hadir.

Sambutan yang Membuat Hati Bergetar

Salah satu momen mengharukan terjadi saat Ketua Stasi memberikan sambutan. Dengan suara sedikit bergetar dan mata yang berkaca-kaca, beliau menyampaikan rasa syukur dan bangga atas terselenggaranya acara ini.

Kami lihat, setiap kerutan di wajah oma opa, eyang,  menyimpan cerita, doa, dan pengorbanan yang luar biasa. Dan lewat perayaan sederhana ini, kami ingin bilang: terima kasih………………Terima kasih karena terus menjadi tiang doa bagi keluarga dan lingkungan. Terima kasih karena kasih dan semangat bapak dan ibu selalu jadi inspirasi bagi kami yang lebih muda.

Bukan karena sedih, tapi karena mereka menyadari betapa besarnya cinta Tuhan yang mengalir melalui perhatian kecil seperti ini.

Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk menyadari bahwa iman tak pernah memudar seiring usia, justru menjadi lebih matang dan bijak. Kehadiran para lansia adalah kekayaan gereja, mereka adalah “kitab hidup” yang menyimpan hikmah dan keteladanan.

“Terima kasih, kami merasa tidak dilupakan,” ucap salah satu opa dengan mata berkaca-kaca.

Dan itulah inti dari Paskah—bahwa kasih Allah selalu bangkit dan hadir di setiap usia, dalam setiap detak hidup umat-Nya.

Acara ini bukan hanya hadiah bagi para lansia, tapi juga menjadi pelajaran berharga bagi yang muda: bahwa pelayanan tak mengenal usia, dan Paskah tak hanya untuk dirayakan di altar megah, tapi juga di ruang tamu kecil yang penuh cinta.

Terima kasih untuk Timpel PIUL yang sudah menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan. Terima kasih juga untuk Bapak Arief Subyantoro yang telah membuka pintu rumah dan hatinya. Dan terima kasih untuk para lansia, yang diam-diam selalu mengajarkan kita arti keteguhan, kesabaran, dan cinta sejati.

Selamat Paskah.
Tuhan yang bangkit, juga menghidupkan kembali harapan di setiap hati—tanpa memandang usia.

Sukacita Paskah di Minggu Pagi yang Penuh Berkah

Hari Minggu Paskah, 20 April 2025, menjadi momen penuh sukacita dan berkat bagi umat Stasi Maguwo, Gereja St. Maria Bunda Allah. Dalam suasana pagi yang cerah dan khidmat, sebanyak 665 umat hadir bersama untuk merayakan Kebangkitan Tuhan Yesus, pusat iman kita sebagai umat Kristiani.

Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Romo Paroki, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Kehadiran beliau menjadi sukacita tersendiri bagi umat, terlebih karena beliau menyampaikan homili yang menyentuh hati tentang harapan, pembaruan hidup, dan kasih yang tak pernah gagal dari Tuhan yang bangkit.

 

Liturgi semakin hidup dengan iringan koor dari Wilayah Loyola yang membawakan lagu-lagu Paskah dengan penuh semangat dan penghayatan. Suara merdu dan harmonisasi yang indah membuat suasana misa semakin mengangkat jiwa, mengajak setiap umat untuk benar-benar mengalami kebangkitan dalam hidup masing-masing.

Sebagai penutup yang manis, di akhir Ekaristi, anak-anak dari Wilayah Loyola mempersembahkan sebuah nyanyian Paskah yang sederhana namun penuh makna. Dengan suara polos dan hati yang tulus, mereka menghadirkan sukacita dan harapan baru bagi seluruh umat yang hadir—sebuah pengingat bahwa semangat kebangkitan selalu hidup dalam generasi penerus Gereja.

Paskah bukan hanya tentang mengenang peristiwa ribuan tahun lalu. Bagi umat Stasi Maguwo, Paskah adalah saat untuk menyegarkan iman, memperbarui harapan, dan merayakan kasih Tuhan yang menghidupkan.

Selamat Paskah! Kristus telah bangkit, Alleluya!

 

 



Malam Penuh Cahaya di Stasi Maguwo

Sabtu malam, 19 April 2025, udara di sekitar Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa berbeda. Ada aroma lilin, harapan, dan sukacita yang mengalir di antara langkah-langkah umat yang mulai berdatangan sejak petang.

Dan benar saja, tepat pukul 19.00 WIB, lonceng sukacita berbunyi, menandai dimulainya Perayaan Vigili Paskah, momen puncak dalam rangkaian Pekan Suci.

Perayaan yang penuh makna ini dipimpin dengan penuh khidmat oleh Romo Agustinus Wahyu Anggoro, SJ, yang malam itu tampak begitu bersinar… meski tentu kalah terang dibanding 1245 umat yang hadir, masing-masing membawa cahaya lilin dan semangat kebangkitan dalam hati.

Api Baru, Harapan Baru

Upacara dimulai di luar gereja, di bawah langit Maguwo yang bersahabat. Api baru dinyalakan, lilin Paskah dikukuhkan, dan dari nyala kecil itu, cahaya perlahan menjalar dari satu umat ke umat lainnya. Satu demi satu, cahaya kecil itu bersatu, menjadi lautan terang yang mengusir gelap.

Bukan cuma simbol, tapi pesan yang nyata: bahwa terang Kristus tak pernah padam, bahkan di tengah dunia yang sering terasa remang.

Sabda, Pembaruan, dan Sukacita

Liturgi Sabda malam itu panjang—iya, memang panjang, tapi siapa peduli? Karena setiap bacaan membawa kita menelusuri kisah cinta Tuhan dari awal penciptaan sampai janji keselamatan yang kini digenapi.

Lalu terdengarlah kidung “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi…” Gereja seketika gemuruh—lonceng berdentang, lilin altar dinyalakan, dan umat pun menyadari: Yesus telah bangkit! Dan kita semua ikut bangkit bersama-Nya

Percikan Berkat dan Sukacita

Momen pembaruan janji baptis dan percikan air suci jadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Tidak sedikit umat yang ‘kena percik’ agak deras, termasuk saya …hehehe….tapi justru itulah yang bikin tersenyum. Ada yang bercanda, “gk sekalian aja disiram…hahahaha…” tapi toh semua pulang dengan wajah bersih dan hati baru.

Liturgi Ekaristi: Saatnya Bersatu dalam Syukur

Di bagian puncak perayaan, suasana hening menyelimuti. Umat bersatu dalam Ekaristi, menerima Tubuh Kristus dengan hati yang bersinar. Musik, doa, dan permenungan malam itu benar-benar menyatu jadi satu pujian agung.

Satu per satu umat meninggalkan gereja dengan senyum, damai, dan semangat baru. Tidak hanya karena perayaan yang indah, tapi karena kita diingatkan: kita adalah umat Paskah, dan Alleluia adalah lagu kita.

Selamat Paskah untuk seluruh umat Stasi Maguwo…………….



Silaturahmi Lintas Iman: Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Kunjungi Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo

Maguwo, Sabtu 19 April 2025 — Suasana halaman gereja pagi ini terasa berbeda. Senyum hangat, sapaan akrab, dan semangat kebersamaan lintas keyakinan memenuhi udara saat mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta datang bersilaturahmi ke Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo.

Kedatangan mereka disambut langsung oleh para pengurus stasi, antara lain: Ketua Stasi Bapak Agung Prasetyo, Kabid Kemasyarakatan Bapak Al Bagio. M, Koordinator PAMDAL Bapak Antonius Sumaryono, Bendahara Stasi sekaligus Ketua KWT Ibu Sri Harnani, Sekretaris Stasi Ibu Elisabet Amy, serta Ibu Nurul, yang juga merupakan dosen di UIN Sunan Kalijaga.

Dalam suasana santai dan penuh rasa ingin tahu, para mahasiswa berbincang dengan para pengurus stasi, mengajukan berbagai pertanyaan seputar kehidupan umat Katolik, ajaran dasar Gereja Katolik, praktik toleransi, serta hubungan erat antara gereja dan masyarakat sekitar. Salah satu yang menarik perhatian adalah kisah tentang “PARJO” (Parkir Gerejo)—sebuah kolaborasi nyata antara gereja dan warga sekitar dalam pengelolaan parkir yang menjadi model hidup berdampingan yang harmonis.

Tak hanya berbincang, para mahasiswa juga diajak berkeliling kompleks gereja, melihat secara langsung ruang-ruang pelayanan dan persiapan perayaan Paskah 2025 yang sedang dilakukan. Mereka menyaksikan altar yang dihias, petugas liturgi yang berlatih, dan berbagai aktivitas lain yang menyiapkan gereja menyambut puncak sukacita iman.

Kunjungan ini menjadi bagian dari tugas akademik mereka, sekaligus pengalaman berharga dalam membangun pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan umat beragama di Indonesia. Dialog lintas iman yang terjadi hari ini membuktikan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk saling belajar, menghargai, dan membangun kedamaian bersama.

Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atas kunjungan dan semangat belajarnya. Semoga momen ini menjadi benih persaudaraan sejati dalam keberagaman bangsa kita.


Ibadat Tujuh Sabda: Merenungkan Kasih di Tengah Sunyi

Maguwo, Jumat 18 April 2025

Dalam keheningan pagi Jumat Agung, umat Paroki Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk mengikuti Ibadat Tujuh Sabda, sebuah ibadat yang sarat makna untuk mengenangkan tujuh perkataan terakhir Yesus di kayu salib. Ibadat dilaksanakan pada pagi hari, dan menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian perayaan Tri Hari Suci.

Yang menjadi keistimewaan tahun ini, seluruh ibadat dibawakan dengan penuh penghayatan oleh para remaja Orang Muda Katolik (OMK) Maguwo. Dengan semangat pelayanan yang tulus, para OMK membacakan teks-teks sabda, doa-doa pengantar, serta menyampaikan renungan singkat untuk setiap sabda. Renungan yang disampaikan mencerminkan suara dan hati generasi muda, yang mencoba memahami dan meresapi makna penderitaan serta kasih pengorbanan Kristus dalam konteks hidup mereka saat ini.

Setiap renungan yang dibawakan tidak hanya menyentuh hati, tapi juga mengajak umat untuk melihat kembali bagaimana Sabda Yesus masih berbicara dengan kuat hingga hari ini—tentang pengampunan, pengharapan, cinta, dan penyerahan total kepada Bapa.

Suasana ibadat semakin syahdu dengan kehadiran Tim Cantorez, yang mengisi bagian musikal sepanjang ibadat. Lagu-lagu yang dibawakan dengan penuh perasaan mengalun lembut, menyatu dengan suasana reflektif, membawa umat masuk lebih dalam ke dalam permenungan. Tim Cantorez tidak hanya mengiringi, tetapi benar-benar memperkuat suasana kontemplatif lewat paduan suara yang tenang dan menyentuh.

Ibadat ini bukan hanya menjadi sarana doa, tetapi juga momen edukatif rohani bagi OMK dan seluruh umat. Gereja sungguh dihidupkan oleh semangat keterlibatan lintas generasi—di mana para remaja mengambil peran aktif, dan para penggiat musik turut mempersembahkan talenta mereka untuk memuliakan Tuhan.

Lewat Ibadat Tujuh Sabda yang penuh penghayatan ini, umat diajak untuk tidak hanya mengingat penderitaan Kristus, tetapi juga menjawab kasih-Nya dengan hidup yang penuh cinta, pengampunan, dan pelayanan.

terimakasih

Davina, Helena, Fira, Valent, Jannete, Sasia, Kian, Otto, Yudha



Ibadat Jumat Agung: Dalam Sunyi dan Hujan, Umat Merenungkan Salib-Nya

Maguwo, 18 April 2025 — Suasana langit yang kelabu dan rintik hujan yang turun sejak siang hari tidak menghalangi semangat umat  Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo untuk mengikuti Ibadat Jumat Agung, yang dilangsungkan pada pukul 15.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Fajar Kristianto, Pr.

Sekitar 1.092 umat hadir memenuhi gereja, menghayati momen suci mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Ibadat yang berlangsung hingga pukul 17.00 WIB ini dilaksanakan dalam suasana hening, penuh penghayatan, dan sarat makna.

Jumat Agung adalah satu-satunya hari dalam tahun liturgi Gereja di mana Ekaristi tidak dirayakan. Sebagai gantinya, umat diajak untuk merenungkan kisah sengsara Yesus , mendengarkan renungan, menyampaikan doa umat yang merangkul seluruh dunia, dan kemudian menghormati salib—tanda kasih yang mengalahkan dosa dan kematian.

Meski di luar hujan turun, di dalam gereja suasana terasa hangat oleh kehadiran umat yang tekun berdoa dan merenung. Suara bacaan dan doa menggema lembut, berpadu dengan tetes hujan yang jatuh di atap, seolah ikut meratapi penderitaan Sang Juruselamat. Salib yang dihadirkan dan dihormati umat menjadi titik pusat perhatian, simbol pengorbanan agung dan kasih tanpa batas.

Dalam homilinya, Romo Fajar mengajak umat untuk tidak hanya melihat salib sebagai lambang penderitaan, tetapi sebagai tanda harapan, bahwa dalam setiap luka dan pergumulan hidup, ada kasih Tuhan yang menyelamatkan. Ia menekankan bahwa Jumat Agung bukan hanya hari duka, tetapi juga hari kasih—kasih yang ditunjukkan dengan cara paling radikal: pengorbanan diri sepenuhnya.

Perayaan ini menjadi momen permenungan yang dalam, di mana setiap umat diajak untuk diam, melihat ke dalam hati, dan bertanya: “Apa makna salib dalam hidupku hari ini?”

Di tengah hujan, Gereja tetap penuh. Umat tetap hadir. Hati tetap terbuka. Karena kasih Tuhan, bahkan di hari tergelap, tetap bersinar.



Kamis Putih: Malam Penuh Cinta, Kaki, dan Kontemplasi

 

 

 

Maguwo, 17 April 2025

Dalam suasana yang khusyuk dan penuh penghayatan, umat Paroki Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk merayakan Kamis Putih, perayaan yang mengawali rangkaian Tri Hari Suci menjelang Hari Raya Paskah. Perayaan Ekaristi dimulai tepat pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr., dan dihadiri oleh 1.214 umat yang memadati area gereja.

 

Kamis Putih mengajak umat untuk mengenangkan dua momen penting dalam kehidupan Yesus: Perjamuan Terakhir, di mana Ia menetapkan Sakramen Ekaristi, dan pembasuhan kaki murid-murid-Nya, sebuah tindakan kasih dan kerendahan hati yang luar biasa. Dalam homilinya, Romo Ngatmo menekankan bahwa peristiwa Kamis Putih bukan sekadar kenangan sejarah, tetapi panggilan nyata bagi setiap umat untuk menghadirkan kasih melalui pelayanan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Bagian pembasuhan kaki menjadi salah satu momen yang menyentuh, ketika Romo Ngatmo membasuh kaki perwakilan umat sebagai simbol kasih yang tidak pilih-pilih, kasih yang melayani dan merendahkan diri, seperti yang telah diteladankan oleh Kristus.

Setelah liturgi Ekaristi, perayaan dilanjutkan dengan pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan sementara, melambangkan Yesus yang memasuki saat-saat penderitaan di Taman Getsemani. Gereja kemudian memasuki suasana hening, mengajak umat untuk masuk dalam doa dan permenungan yang lebih dalam.

Usai misa, kegiatan dilanjutkan dengan tuguran atau doa berjaga, yang dibagi dalam empat sesi oleh perwakilan wilayah: Sang Timur, Loyola, Don Bosco, dan De Britto. Masing-masing wilayah memimpin umat dalam doa dan pujian, menjaga suasana tenang dan sakral sebagai bentuk kesetiaan menemani Yesus dalam pergulatan-Nya di malam menjelang penangkapan.

Perayaan Kamis Putih ini menjadi pengingat yang kuat bahwa iman bukan hanya soal ke gereja, tetapi juga soal hadir, melayani, dan mencintai—dengan rendah hati, seperti Kristus telah lakukan.

 

dokumen bisa di akses melalui :

https://drive.google.com/drive/folders/1UBbJWGnaTZVreJn9tEy1k9o6csEiTsbw