Pertemuan BKSN I Lingkungan St. Gregorius

Sleman, 4 September 2025 – Lingkungan St. Gregorius mengadakan Pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) I pada Kamis, 4 September 2025. Pertemuan ini bertempat di rumah Ibu Ritta, yang beralamat di Perum Soka Asri Permai.

Acara dimulai dengan doa pembuka dan pujian, dilanjutkan dengan pembahasan Kitab Nabi Zakharia sebagai tema utama. Umat diajak untuk lebih mendalami pesan firman Tuhan dalam Kitab Zakharia yang menekankan pembaruan hidup, kesetiaan kepada Allah, serta harapan akan masa depan yang penuh damai.

Sekitar 25 umat hadir, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Suasana pertemuan berlangsung hangat, penuh semangat kekeluargaan, dan saling berbagi pengalaman iman.

Melalui pertemuan BKSN ini, umat Lingkungan St. Gregorius diajak untuk semakin mencintai Kitab Suci dan menjadikannya pedoman hidup sehari-hari. Pertemuan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah sederhana, meneguhkan semangat kebersamaan dalam iman.

Ziarah Lingkungan Santo Petrus

Minggu, 21 September 2025 – Goa Maria Tritis, Gunung Kidul


Pada hari Minggu, 21 September 2025, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan kegiatan ziarah bersama ke Goa Maria Tritis, Gunung Kidul. Ziarah ini diikuti oleh umat dengan penuh antusiasme, diawali dengan perjalanan bersama menuju lokasi peziarahan.

Setibanya di Goa Maria Tritis, umat berdoa dengan khusyuk di bawah naungan Bunda Maria. Suasana doa menjadi momen yang mendalam, di mana setiap umat dapat menyampaikan doa pribadi maupun doa bersama, memohon berkat dan perlindungan Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. Kebersamaan dalam doa ini semakin mempererat ikatan iman dan persaudaraan antar umat lingkungan.

Setelah ziarah dan doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan rekreasi ke Pantai Ngandong dan Pantai Sundak. Umat menikmati keindahan pantai, bersantai bersama, dan saling berbagi kegembiraan. Suasana keakraban dan sukacita tampak jelas, menjadi pengalaman indah yang meneguhkan kebersamaan.

Melalui ziarah dan rekreasi ini, umat Lingkungan Santo Petrus tidak hanya semakin dikuatkan dalam iman, tetapi juga diperkaya dalam relasi persaudaraan yang hangat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat kebersamaan, doa, dan sukacita dalam hidup beriman sehari-hari

BKSN III Lingkungan Santo Petrus

Pembaruan Relasi dalam Keluarga (Mal 2:10-16)


Pada hari Sabtu, 20 September 2025, umat Lingkungan Santo Petrus kembali berkumpul untuk melaksanakan Doa Lingkungan yang bertempat di rumah Bapak Reagen. Ibadat malam ini dipimpin oleh Ibu Maya dan dihadiri oleh 12 orang umat.

Doa lingkungan kali ini mengangkat tema: “Pembaruan Relasi dalam Keluarga”, dengan dasar Kitab Maleakhi 2:10–16. Dalam bacaan tersebut ditegaskan bahwa Allah adalah Bapa yang satu bagi semua, sehingga setiap orang dipanggil untuk setia menjaga ikatan kasih, terutama dalam keluarga. Pesan penting yang diangkat adalah bagaimana setiap anggota keluarga dipanggil untuk membangun relasi yang harmonis, penuh kesetiaan, dan kasih yang tulus.

Dalam renungan, umat diajak untuk menyadari bahwa tantangan dalam keluarga seringkali datang dari kurangnya komunikasi, kesetiaan, dan pengertian satu sama lain. Melalui firman Tuhan, umat diajak untuk memperbaharui diri dengan kembali pada kasih dan kesetiaan yang sejati, sehingga keluarga dapat menjadi tempat tumbuhnya iman, cinta kasih, serta sumber kekuatan dalam kehidupan sehari-hari.

Acara doa berjalan dengan penuh kekhidmatan dan kehangatan. Setelah ibadat selesai, umat saling bertegur sapa dan bercengkerama dalam suasana kekeluargaan, yang semakin mempererat persaudaraan di antara umat Lingkungan Santo Petrus.

Melalui doa lingkungan ini, umat semakin diteguhkan untuk senantiasa menjaga kesetiaan dan memperbarui relasi kasih dalam keluarga, sesuai dengan kehendak Allah

Misa Penyegaran Janji Pernikahan


Pada hari yang penuh berkah, Gereja Maria Bunda Allah menjadi saksi  kebahagiaan para pasangan suami istri. Misa Penyegaran Janji Perkawinan, yang secara khusus diadakan untuk pasutri yang menikah pada bulan Juli hingga September, menjadi momen istimewa untuk kembali menghidupkan janji suci mereka.

Di bawah bimbingan Romo FX Murdi Susanto, Pr., suasana misa terasa hangat dan sakral. Romo FX Murdi Susanto, Pr., dengan penuh hikmat, mengajak setiap pasangan untuk merenungkan kembali perjalanan cinta mereka, dari awal mula mengikat janji di hadapan Tuhan hingga melewati berbagai tantangan dan suka duka kehidupan. 

Para pasutri yang hadir memancarkan aura kebahagiaan dan syukur yang mendalam. Dengan hati yang tulus, mereka kembali mengucapkan janji setia, memperbaharui komitmen untuk saling mengasihi, menghormati, dan mendukung satu sama lain dalam suka maupun duka. Momen ini bukan sekadar ritual, melainkan pengingat bahwa cinta sejati terus bertumbuh dan diperbaharui.

Misa berjalan dengan lancar, diiringi doa dan nyanyian yang merdu. Setelah misa usai, para pasutri saling bertukar senyum, wajah mereka dipenuhi kelegaan dan kebahagiaan. Mereka merasakan kembali kekuatan janji pernikahan yang telah diteguhkan di hadapan Tuhan, siap melanjutkan perjalanan hidup bersama dengan cinta yang lebih dalam.

Ini adalah perayaan cinta dan kesetiaan yang menginspirasi, menunjukkan bahwa janji pernikahan adalah anugerah yang harus selalu disyukuri dan dijaga.

 

BKSN III&IV Lingkungan St. Yohanes Pembaptis

BKSN (Bulan Kitab Suci Nasional) selalu menjadi momen yang indah bagi umat Katolik untuk kembali merenungkan betapa berharganya Sabda Allah dalam hidup sehari-hari. Sabda yang kita dengarkan bukan sekadar cerita dari masa lalu, melainkan sungguh-sungguh hidup, berbicara, dan menuntun kita di masa kini. Pada minggu ke-3 dan ke-4, tema yang kita renungkan mengarah kepada relasi kita dengan keluarga serta relasi kita dengan Allah. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan, karena keluarga adalah anugerah Allah, dan Allah adalah sumber kasih yang menopang setiap keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama di mana kita belajar tentang arti kasih, pengorbanan, dan kesetiaan. Dari ayah, ibu, dan saudara, kita mengenal apa itu perhatian, kebersamaan, dan tanggung jawab. Keluarga adalah sekolah kehidupan, tempat di mana nilai-nilai iman diajarkan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui teladan nyata.

Namun, kita juga tidak menutup mata bahwa dalam keluarga sering muncul konflik, perbedaan pendapat, bahkan kekecewaan. Ada saatnya kita merasa tidak dipahami, atau justru kita sendiri gagal memahami orang lain dalam keluarga. Di sinilah Sabda Tuhan mengajak kita untuk terus membangun kasih dan pengampunan. Kasih dalam keluarga bukanlah kasih yang instan, melainkan kasih yang diperjuangkan, dipelihara, dan diperbarui setiap hari.

Yesus sendiri menunjukkan betapa pentingnya keluarga. Ia tumbuh dalam keluarga Nazaret yang sederhana, di mana Yusuf dan Maria menjadi teladan iman, ketaatan, dan kasih. Kehidupan Yesus bersama keluarganya menjadi gambaran bagaimana keluarga yang dipenuhi kasih Allah akan melahirkan buah-buah kebaikan. Maka, ketika kita berusaha membangun keluarga yang penuh cinta, kita sesungguhnya sedang menghadirkan wajah Allah di dunia. Keluarga yang rukun, saling mendukung, dan menghidupi nilai iman akan menjadi bukti nyata bagi orang lain tentang kasih Allah yang hidup.Namun, hubungan kita tidak berhenti hanya pada lingkup keluarga.

Relasi dengan Allah adalah dasar dan kekuatan bagi segalanya. Kita bisa memiliki keluarga yang hangat, damai, dan penuh cinta, hanya jika kita terlebih dahulu berakar dalam kasih Allah. Relasi dengan Allah terjalin dalam doa pribadi, doa bersama keluarga, perayaan Ekaristi, dan keterbukaan hati terhadap Sabda-Nya. Allah bukanlah sosok yang jauh dan menakutkan, melainkan Bapa yang penuh kasih, yang selalu menyertai dan mendengarkan kita. Ketika kita memberi waktu untuk berdoa dan merenungkan firman, kita sesungguhnya sedang memperbarui ikatan cinta kita dengan Allah.Relasi dengan Allah juga mengajarkan kita untuk berserah dan percaya.

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada rencana yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Ada kegagalan, sakit hati, atau jalan yang terasa buntu. Namun, ketika kita memiliki hubungan yang erat dengan Allah, kita belajar untuk percaya bahwa segala sesuatu terjadi dalam rencana-Nya yang penuh kasih. Dalam keheningan doa, kita menemukan kekuatan untuk tetap melangkah, sekalipun jalan hidup terasa berat.


Kolaborasi Berbuah Syukur: Pembubaran Panitia Krisma Kalasan–Maguwo


Bertempat di ruang rapat Paroki Kalasan, dilaksanakan pertemuan bersama antara DPH Paroki Kalasan dan DPH Stasi Maguwo dalam rangka pembubaran Panitia Krisma 2025. Pertemuan ini sekaligus menjadi momen kolaborasi yang indah, karena kepanitiaan Krisma tahun ini dijalankan bersama oleh Paroki Kalasan dan Stasi Maguwo.

Dalam kesempatan tersebut, panitia memaparkan hasil evaluasi pelaksanaan penerimaan Sakramen Krisma yang sebelumnya dihimpun melalui Google Form. Dari hasil evaluasi, disimpulkan bahwa penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo telah berjalan dengan baik dan lancar. Tentu masih ada beberapa kekurangan, namun semua itu akan menjadi bahan pembelajaran berharga untuk pelayanan pada kesempatan berikutnya.

Dengan penuh syukur, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr secara resmi membubarkan kepanitiaan Krisma Paroki Kalasan. Romo juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja sama, ketekunan, serta semangat pelayanan seluruh panitia.

Semoga pengalaman ini semakin meneguhkan semangat kolaborasi, dan menjadi bekal berharga untuk pelayanan gereja di masa mendatang.

Dari Sampah Jadi Energi: Cerita Tim KCLH Maguwo di Workshop Laudato Si


Minggu, 21 September 2025, perwakilan Tim KCLH Stasi Maguwo ikut hadir di acara Peringatan 10 Tahun Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus. Kegiatan ini digelar di Rumah Pengolahan Sampah Plastik Pirolisis, Cupuwatu II – Kalasan, sekaligus jadi bagian dari gerakan global Musim Penciptaan (1 September–4 Oktober). Acara berlangsung dari jam 09.00 sampai 12.00 WIB, penuh dengan edukasi dan praktik nyata.

Topik utama yang dibahas adalah pengelolaan sampah plastik dengan teknologi pirolisis. Jadi, plastik yang biasanya cuma numpuk atau dibakar bisa diubah jadi energi: bensin, solar, minyak tanah, sampai briket. Pegiat lingkungan Fransisca Supriyani Wulandari menjelaskan, pirolisis jauh lebih ramah lingkungan ketimbang insinerator atau sekadar dibakar, karena pembakaran plastik justru bikin polusi makin parah. Hasil pirolisis ini juga tidak dijual, tapi dipakai untuk operasional dan edukasi masyarakat.

Beliau juga mengingatkan kalau krisis plastik makin serius karena kita masih terbiasa pakai plastik sekali pakai (sedotan, cup, kresek), dan belum disiplin memilah sampah. Sementara itu, Agustinus Irawan menyoroti krisis air bersih di Sleman. Berdasarkan penelitian 2022–2024, hampir semua mata air di Sleman tercemar bakteri E.coli. Penyebabnya mulai dari pupuk kandang yang tidak difermentasi sampai limbah cair rumah tangga yang masuk sungai. Ditambah lagi, tren minuman sekali pakai seperti es teh jumbo nyumbang banyak sampah plastik.

Dari sisi gereja, Kianto Atmodjo dari Tim Laudato Si Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengenalkan konsep Paroki Hijau. Artinya, paroki-paroki didorong untuk lebih ramah lingkungan: mulai dari mengganti bunga potong dengan tanaman hidup, mengurangi plastik dalam liturgi dan kegiatan gereja, sampai mengelola sampah lewat bank sampah paroki. Menurutnya, ini bukan cuma soal kesadaran, tapi soal keterampilan dan kebiasaan hidup bertanggung jawab. Beberapa paroki yang sudah menerapkan bank sampah bahkan bisa mengumpulkan puluhan juta rupiah dari hasil pengelolaan.

Acara ditutup dengan semangat bahwa menjaga bumi adalah panggilan iman. Dari hal sederhana seperti mengurangi plastik, tidak membuang sampah sembarangan, sampai mendukung program paroki hijau. Semua itu jadi bentuk nyata kita ikut mewujudkan ajakan Laudato Si: merawat bumi sebagai rumah bersama.

dikutip dari :

Workshop Pirolisis Dorong Solusi Nyata Sampah Plastik dalam Peringatan 10 Tahun Laudato Si – Keuskupan Agung Semarang

“Dari Maguwo untuk Lansia: Orang Muda Hadir Membawa Harapan”


Pada hari Minggu, 21 September 2025, Kaum Muda Maguwo turut ambil bagian dalam kegiatan Tindak Lanjut Pembekalan Orang Muda Peduli Lansia yang diselenggarakan oleh Komisi Musyawarah Lansia (Kimusi Lansia) Kevikepan Yogyakarta Timur, bertempat di Aula Paroki Bintaran. Kegiatan ini mengusung tema: “Sahabat Lansia, Siap Melayani.”

Setiap paroki diundang dengan perwakilan dua orang muda dan satu anggota Tim PIUL. Namun khusus untuk Maguwo, diperkenankan hadir tiga orang muda: Mbak Dysi, Mas Reno, dan Mas Daniel, yang didampingi oleh dua Tim Pelayanan PIUL, yaitu Bp. Franz dan Bp. Sudiharto.

Setibanya di lokasi, para peserta langsung dikelompokkan sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan. Perwakilan Maguwo ditempatkan dalam Kelompok D Santa Maria, bersama dengan peserta dari Paroki Babadan, Kalasan, Macanan, dan Minomartani.

Acara dimulai tepat pukul 10.30 dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Hymne Yubelium, doa pembukaan, serta doa Yubelium. Dalam sambutannya, Bapak Bambang, selaku Wakil Ketua Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur, menekankan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam kepedulian terhadap para lansia. Beliau berharap OMK tidak hanya mendukung kegiatan PIUL, tetapi juga dapat menginisiasi pelayanan yang digerakkan oleh kaum muda sendiri.

Materi utama pertemuan disampaikan oleh Ibu Yulianti, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok.

  • Diskusi Tahap 1 membahas tentang pembentukan dua grup WA sebagai sarana komunikasi dan koordinasi. Untuk Kelompok St. Maria, diskusi dipandu oleh dr. Dysi.
  • Diskusi Tahap 2 berfokus pada penyusunan rencana kegiatan Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur. Di kelompok St. Maria, Mas Daniel bertindak sebagai pemandu, Mas Reno mencatat jalannya diskusi, dan Mbak Dysi menuangkan ide-ide dalam bentuk slogan dan ilustrasi.

Hasil diskusi kemudian dipresentasikan. Sebagai moderator, Bapak Bambang memberikan kesempatan kepada lima kelompok untuk menyampaikan gagasannya. Kelompok St. Maria turut ambil bagian, dengan presentasi disampaikan oleh Mas Daniel dan Mas Reno. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan para peserta mulai merasa lapar, semangat diskusi tetap terjaga hingga akhirnya hanya tiga kelompok yang memaparkan hasil secara penuh, sementara dua kelompok lainnya cukup menyampaikan inti pembahasan.

Pertemuan ditutup dengan doa penutup sekaligus doa makan pada pukul 13.30. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh semangat persaudaraan, menjadi tanda nyata bahwa kaum muda pun siap menjadi sahabat bagi para lansia dalam pelayanan Gereja.

Serunya Umat Maguwo Ikut Workshop TikTok for Business


Beberapa umat dari Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo punya pengalaman seru minggu ini. Mereka ikutan Workshop TikTok for Business 2025 yang digelar oleh Billa Creative bareng Rumah BUMN Yogyakarta. Suasananya santai tapi penuh ilmu, apalagi buat mereka yang pengin mengembangkan usaha dengan cara yang lebih kekinian.

Acara ini menghadirkan Deddy Susanto, Chief Operating Officer dari Billa Creative, yang berbagi banyak trik soal bikin konten TikTok. Bukan sekadar bikin video lucu-lucuan, tapi gimana caranya konten bisa jadi pintu rezeki, mengenalkan usaha, bahkan membangun brand yang kuat. Cara penyampaiannya enak, gampang dicerna, dan bikin peserta betah menyimak sampai akhir.

Umat Maguwo yang ikut merasa dapat insight baru. Mereka jadi sadar kalau TikTok bukan cuma aplikasi hiburan, tapi juga peluang besar untuk usaha. Dengan sedikit kreativitas, konsistensi, dan keberanian untuk mencoba, siapa pun bisa berkembang di dunia digital.


Belajar hal baru kayak gini bikin kita makin yakin bahwa talenta yang Tuhan kasih bisa dipakai di mana aja—termasuk di dunia digital. Bikin konten nggak melulu soal viral, tapi bisa juga jadi cara sederhana untuk berbagi kebaikan dan menghadirkan terang Kristus lewat kreativitas.

PERTEMUAN BKSN 3 Umat Stasi Maguwo dengan Tema: “Pembaruan Relasi dalam Keluarga” (Mal. 2:10-16)


Umat Stasi Maguwo kembali melaksanakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025, kali ini memasuki pertemuan ke-3 dengan tema “Pembaruan Relasi dalam Keluarga”. Pertemuan ini menjadi kesempatan berharga untuk meneguhkan setiap keluarga agar tetap setia pada panggilannya, hidup dalam kasih, serta menjadi saksi iman di tengah dunia.

Dalam bacaan dari Kitab Maleakhi, umat diajak untuk menyadari bahwa kita semua berasal dari satu Bapa yang sama. Karena itu, keluarga dipanggil untuk menjaga kesetiaan, mengutamakan kasih, dan menjauhi perpecahan. Nabi Maleakhi dengan tegas mengingatkan bahwa relasi yang rapuh, penuh konflik, atau tanpa kesetiaan akan merusak keharmonisan keluarga. Sebaliknya, keluarga yang dibangun atas dasar kasih akan menjadi berkat, bukan hanya bagi anggotanya sendiri, tetapi juga bagi lingkungan sekitar.

Suasana pertemuan BKSN di berbagai lingkungan pun terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Umat bersama-sama merenungkan Firman Tuhan, berdiskusi, dan berbagi pengalaman hidup sehari-hari dalam keluarga. Lewat sharing iman yang sederhana, setiap peserta semakin diteguhkan bahwa keluarga adalah “sekolah kasih” di mana pengampunan dipelajari, kesabaran dilatih, dan kesetiaan dijaga.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk tidak berhenti memperbarui diri dalam lingkup keluarga. Kasih yang hidup di dalam keluarga diharapkan dapat menjadi dasar untuk membangun relasi yang lebih luas, baik di gereja maupun di masyarakat.

Lingkungan St Gregorius

Lingkungan St Yohanes Pembabtis

Lingkungan St Stefanus

Lingkungan St Theresia

Lingkungan St Monica

Lingkungan St Clara

Lingkungan St Bartolomeus

Lingkungan St Gabriel

Lingkungan St Petrus

Lingkungan St Paulus

Lingkungan St Fransiskus Asisi

Lingkungan St Antonius

Semoga pertemuan BKSN ini semakin meneguhkan setiap keluarga untuk hidup dalam kasih, setia pada janji, dan menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia.