Bersyukur dalam Gerak, Bersatu dalam Sukacita: Senam Lansia Perdana Stasi Maguwo


Sabtu 4 oktober 2025, pagi hari yang penuh berkat, Stasi Maguwo memulai sebuah langkah baru dalam pelayanan pastoral umat lanjut usia. Melalui prakarsa TIM PIUL Stasi Maguwo, diadakanlah kegiatan senam lansia perdana yang berlangsung dengan penuh semangat dan sukacita.

Sejak pagi, sekitar 40 orang lansia sudah hadir dengan wajah penuh kegembiraan. Meski usia mereka tidak lagi muda, semangat yang terpancar begitu luar biasa. Kehadiran mereka menjadi tanda nyata bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus, yang patut dirawat dengan sukacita dan syukur.

Dipandu oleh Bapak Kusno, acara senam dimulai dengan gerakan pemanasan sederhana. Lalu, dilanjutkan dengan senam Ling Tien Kung, sebuah rangkaian gerakan lembut yang berasal dari negeri Tiongkok dan sangat cocok bagi lansia. Gerakan demi gerakan dijalani dengan penuh kesungguhan. Bukan sekadar menggerakkan tubuh, tetapi juga melatih ketenangan batin, kelenturan jiwa, dan kesadaran akan anugerah kesehatan yang masih diberikan Tuhan.

Keceriaan begitu terasa. Sesekali tawa kecil terdengar ketika ada peserta yang salah gerakan atau agak terlambat mengikuti. Namun, justru di situlah keindahannya: dalam kebersamaan, semua perbedaan dirangkul dengan sukacita. Senam ini bukan hanya untuk menguatkan jasmani, tetapi juga untuk mempererat tali persaudaraan umat beriman di Stasi Maguwo.

Setelah sesi senam, para peserta diajak beristirahat sejenak. Suasana menjadi semakin hangat ketika alunan lagu “Jogja Istimewa” mengiringi kebersamaan. Lagu itu seakan menjadi simbol bahwa kebersamaan umat, khususnya para lansia, adalah sesuatu yang istimewa dan patut dirayakan dengan penuh rasa syukur.

Kegiatan ini menjadi tanda nyata bahwa Gereja bukan hanya tempat berdoa, tetapi juga ruang hidup bersama yang menghadirkan sukacita, kesehatan, dan persaudaraan. Senam lansia perdana ini menjadi awal yang penuh harapan. Semoga dapat dilaksanakan secara rutin, sehingga para lansia senantiasa diberi semangat untuk menjaga kesehatan, merawat tubuh sebagai anugerah Allah, serta memperdalam persaudaraan dalam iman.

Akhirnya, kegiatan sederhana ini menjadi sebuah ungkapan syukur: bahwa di usia senja sekalipun, umat tetap dapat menghadirkan semangat hidup, kebahagiaan, dan doa dalam setiap gerakan tubuh. Dengan tubuh yang sehat dan hati yang gembira, para lansia Stasi Maguwo pun diajak untuk terus memuliakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenang Pelayan Muda GMBA: Jejak Iman dan Kasih Imanuel Anggara Wirayuda

Rabu, 1 Oktober 2025 merupakan rabu kelabu bagi segenap umat Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), kami kehilangan sosok muda inspiratif dan penuh kasih: Imanuel Anggara Wirayuda. Sosok yang akrab disapa ‘Mas Yuda’, berpulang setelah berjuang melawan rasa sakit.

Kepergiannya kepada Bapa meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan segenap umat GMBA. Ia yang lahir pada 25 Desember 2001, seolah membawa makna mendalam sesuai namanya, “Imanuel” yang berarti Allah beserta kita.

Sosoknya yang tinggi, kurus, dengan rambut gondrong, mengingatkan banyak orang akan kehadiran Yesus. Bukan hanya penampilannya yang menjadikannya istimewa, melainkan api pelayanan tulus darinya yang tiada pernah padam.

Pelayan yang Selalu Ada

“Ada Mas Yuda”, sering terdengar khususnya di ruang lingkup pelayan liturgi. Celetukan tersebut seolah menghadirkan rasa tenang bagi seluruh pelayan liturgi, seolah tahu bahwa kehadirannya memberikan jaminan bahwa semua akan berjalan lancar.

Sebagai prodiakon muda, Mas Yuda adalah sosok yang energik, cekatan, dan ringan tangan. Ia tak hanya aktif dalam tim prodiakon, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelayanan liturgi GMBA di bawah komando Ibu Ita Rinawati.

Hampir setiap minggu, Mas Yuda setia bersiap membantu siapa pun yang membutuhkan. Sebagai bagian dari tim ‘wira-wiri’, bersama dengan tim pelayanan peribadatan lainnya, seperti Ibu Purna, Bapak Saptanto, dan Ibu Retno, senantiasa hadir bukan karena kewajiban tapi karena panggilan hati.

Sikapnya yang bisa melakukan apa saja selagi mampu, membuatnya menjadi sosok yang diandalkan bagi banyak orang di GMBA. Candaan khasnya yang sedikit sarkas tapi jujur, membuat suasana pelayanan menjadi lebih berwarna. Ia melayani dengan caranya sendiri, otentik dan tanpa kepalsuan.

Mas Yuda merupakan sosok pemuda Katolik yang memberikan inspirasi bahwa menjadi pelayan, khususnya pelayan liturgi, bukan hanya urusan “orang tua”. Melalui Mas Yuda, kita tahu bahwa pelayanan dapat tumbuh dan dijalani dengan semangat kaum muda masa kini.

Sejarawan Muda yang Menghidupkan Iman

Mas Yuda belum lama ini menyelesaikan studi di Program Studi Sejarah, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan diwisuda pada bulan Agustus yang lalu. Kecintaannya pada sejarah dan iman Katolik, Ia tuangkan dalam berbagai bentuk edukasi kreatif. Mas Yuda kerap membagikan tulisan-tulisan reflektif di media sosial, mengangkat kisah gereja bersejarah dan peristiwa penting dalam iman Katolik.

Tak hanya itu, ia juga menyalurkan passion-nya melalui gim Minecraft. Ia menciptakan map bangunan gereja seperti Katedral St. Petrus dan Paulus, terinspirasi dari Basilika St. Petrus lama. Bagi Mas Yuda, sejarah bukan sekadar masa lalu, tetapi jendela untuk memahami iman dan memperkuat komunitas Gereja.

Warisan Kebaikan yang Abadi

Putra dari Bapak Agustinus Gus Adi/KMT. Prajanalausada dan Ibu Yuliana Subaryati ini telah dimakamkan hari ini, Kamis, 2 Oktober 2025, di TPU Modinan, Sambilegi.

Sebelumnya, jenazah disemayamkan di rumah duka: Gg. Udang, Jl. Anggrek, Sambilegi Lor, Depok, Sleman. Misa requiem dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr., dalam suasana penuh syukur dan haru. Doa-doa dipanjatkan, pujian dilantunkan, dan kenangan akan Mas Yuda mengalir dalam benak pelayat yang hadir.

Suasana rumah duka dipenuhi oleh pelayat dari berbagai kalangan, termasuk rekan-rekan alumni SMA Kolese De Britto. Dalam momen penuh haru, mereka memberikan penghormatan terakhir dengan menyanyikan Mars De Britto di depan peti jenazah Mas Yuda, sebuah tradisi khas yang menggambarkan persaudaraan, semangat, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Nyanyian itu menjadi simbol bahwa Mas Yuda telah menjalani hidupnya dengan nilai-nilai yang ia pelajari dan hayati: menjadi manusia yang utuh, peduli, dan berani.

Meski raganya telah tiada, kebaikannya tetap hidup dalam kenangan banyak orang. Ia adalah pelayan muda yang menjadi terang, penyelamat kecil bagi gereja masa kini. Kepergiannya yang mendadak membuat banyak hati terhenyak. Namun kita percaya, Tuhan memanggilnya karena Ia melihat betapa besar kasih dan kerja keras yang telah Mas Yuda berikan. Ia telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan kini tibalah saat baginya untuk beristirahat dalam damai. Mari kita lanjutkan estafet pelayanan yang telah Ia jalankan.

Selamat jalan, Mas Yuda. Terima kasih telah menjadi teladan pelayanan, cinta, dan iman. Doa kami menyertaimu, dan kisahmu akan terus hidup dalam setiap sudut gereja yang pernah kau bantu, setiap liturgi yang kau layani, dan setiap hati yang pernah kau sentuh.

never imagined goodbye would be come this fast, rest easy Mas Yuda.

Bulan Rosario Umat Katolik: Paus Leo XIV Serukan Doa untuk Perdamaian


Sebentar lagi bulan Oktober sebagai bulan Rosario, umat Katolik di seluruh dunia diajak untuk mendoakan butir-butir Rosario secara lebih intens. Doa sederhana yang lahir dari tradisi panjang Gereja ini mengajak umat merenungkan misteri hidup Kristus melalui bimbingan Maria. Paus Leo XIII (1878-1903) di abad ke-19 bahkan menyebut Rosario sebagai “doa yang paling istimewa” dan menetapkan Oktober sebagai Bulan Rosario.

Tahun ini, Bulan Rosario memperoleh makna khusus. Dalam Audiensi Umum pada 24 September 2025, Paus Leo XIV menyerukan agar umat Katolik mendoakan Rosario setiap hari sepanjang Oktober, dengan intensi khusus memohon perdamaian dunia.

Paus menekankan agar doa ini dilakukan “secara pribadi, dalam keluarga, dan dalam komunitas,” serta mengundang umat di Roma untuk mendoakan Rosario bersama pada 11 Oktober dalam rangka Yubileum Spiritualitas Marian.

Seruan Bapa Suci hadir di tengah dunia yang penuh luka dan ketidakpastian. Kita melihat perang berkepanjangan di beberapa kawasan, konflik identitas, serta meningkatnya ketegangan sosial dan politik. Paus mengingatkan bahwa dunia sedang ditandai “reruntuhan yang diciptakan oleh kebencian pembunuh.”

Dalam situasi ini, Rosario menjadi lebih dari sekadar doa repetitif: ia adalah tindakan iman, perlawanan rohani terhadap logika kebencian, sekaligus kesaksian bahwa kasih Kristus masih menjadi harapan umat manusia.

RosarioDoa Perdamaian

Rosario adalah doa Kristologis yang berakar pada Kitab Suci (Luk 1:28; Luk 1:42). Salam Maria berasal dari Injil Lukas, dan setiap peristiwa yang direnungkan membawa umat masuk ke dalam misteri Kristus—dari kelahiran, karya, wafat hingga kebangkitan-Nya. Ketika doa ini dipanjatkan untuk perdamaian, umat Katolik sesungguhnya sedang menghubungkan penderitaan dunia dengan jalan salib Yesus, sekaligus berharap pada kebangkitan-Nya yang memberi kehidupan baru.

Selain itu, Rosario juga melatih batin: irama doa yang berulang mengundang ketenangan, membentuk kesabaran, dan membuka hati untuk mengampuni. Karena itu, doa Rosario dapat melahirkan spiritualitas perdamaian—sikap hati yang sabar, rendah hati, dan berani menolak kebencian.

Relevansi bagi Indonesia​​​​​​​

Bagi umat Katolik Indonesia, seruan Paus Leo XIV menemukan konteks yang amat nyata. Kita hidup di negeri yang kaya akan keragaman agama, budaya, dan etnis. Keragaman ini adalah berkat, tetapi sekaligus dapat menjadi sumber konflik bila tidak dihayati dengan benar. DI beberapa lokasi, kita masih menyaksikan gesekan sosial, ujaran kebencian di media sosial, hingga tindak intoleransi yang melukai persaudaraan.

Dalam situasi ini, doa Rosario dapat menjadi sarana rohani untuk memperkuat komitmen pada kerukunan. Rosario yang didaraskan di rumah-rumah keluarga Katolik sesungguhnya adalah benih damai yang bisa memancar keluar. Umat yang tekun berdoa Rosario dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat sebagai pribadi yang menyejukkan, sabar dalam menghadapi tantangan dan perbedaan, serta aktif membangun dialog dan solidaritas lintas iman.

Rosario, dengan demikian, tidak berhenti di dalam tembok gereja atau dalam rumah, melainkan menemukan buahnya dalam kehidupan bersama. Setiap doa “Salam Maria” yang diucapkan seharusnya menumbuhkan kerinduan untuk menyapa sesama dengan hormat. Setiap misteri yang direnungkan seharusnya mendorong umat untuk ikut merawat kehidupan bersama di tanah air. Inilah bentuk nyata spiritualitas perdamaian: doa yang diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.

Spiritualitas Kerukunan​​​​​​​

Kerukunan bangsa tidak hanya ditopang oleh kebijakan negara atau peraturan hukum, tetapi juga oleh spiritualitas yang dihayati masyarakat. Spiritualitas kerukunan berarti kesediaan untuk melihat sesama sebagai saudara, bukan ancaman.

Dalam konteks Indonesia, ini berarti keberanian untuk membangun jembatan antaragama, mengedepankan musyawarah daripada konflik, serta memperjuangkan keadilan bagi semua warga tanpa diskriminasi.

Rosario, meskipun khas Katolik, dapat menjadi salah satu jalan untuk membentuk spiritualitas kerukunan ini. Umat yang setia mendoakan Rosario akan belajar meneladani Maria yang rendah hati, penuh kasih, dan terbuka pada kehendak Allah. Sikap ini kemudian diterjemahkan dalam hidup sosial: menghormati keyakinan orang lain, memperkuat solidaritas dengan mereka yang lemah, dan menolak segala bentuk kekerasan.

Seruan Profetis​​​​​​​

Ajakan Paus Leo XIV agar umat mendoakan Rosario untuk perdamaian dunia adalah seruan profetis yang melampaui sekat gereja. Dunia haus akan damai, dan Indonesia pun menghadapi tantangan kerukunan yang nyata.

Dengan doa Rosario, umat Katolik tidak hanya memperdalam imannya, tetapi juga mengambil bagian dalam misi besar: menghadirkan kasih Kristus di tengah masyarakat majemuk.

Bulan Rosario tahun ini menjadi momentum berharga. Di ruang-ruang keluarga Katolik, di komunitas basis, di paroki-paroki di seluruh Indonesia, doa Rosario yang dipanjatkan akan bersatu dengan doa Paus dan Gereja universal.

Semoga doa ini bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi sungguh melahirkan hati yang lebih damai, yang kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata: membangun kerukunan, merawat persaudaraan, dan memperjuangkan perdamaian bagi bangsa.

Akhirnya, doa Rosario di bulan Oktober ini adalah ajakan untuk menyalakan kembali semangat: bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, pengampunan lebih berdaya daripada balas dendam, dan kerukunan lebih indah daripada perpecahan.

Inilah warisan rohani yang hendak ditumbuhkan oleh Paus Leo XIV: sebuah spiritualitas perdamaian yang dimulai dari butir-butir doa sederhana, tetapi mampu mengubah wajah dunia.

Pormadi Simbolon (Pembimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten)

“Bersama Bunda Maria, Kita Satukan Doa Rosario”


Memasuki bulan Oktober, Gereja Kudus senantiasa mengajak seluruh umat beriman untuk menimba kekuatan rohani melalui doa Rosario. Dalam semangat itulah, seluruh lingkungan Stasi Maguwo bersatu hati dan serentak melaksanakan doa Rosario, mempersembahkan doa-doa umat beriman bersama Bunda Maria kepada Puteranya, Tuhan kita Yesus Kristus.

Dalam lantunan doa yang sederhana, tetapi penuh kuasa, umat merenungkan peristiwa-peristiwa gembira, sedih, mulia, dan terang dari kehidupan Kristus. Melalui Rosario, umat diajak memasuki kedalaman misteri keselamatan, sambil meneladani ketaatan dan kerendahan hati Santa Perawan Maria. Doa Rosario menjadi tali emas yang mengikat hati umat agar semakin kokoh dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan berbuah dalam kasih.

Kebersamaan seluruh lingkungan dalam doa Rosario serentak ini adalah tanda nyata kesatuan Gereja Kristus yang hidup di tengah umat. Setiap butir manik-manik yang didaraskan menjadi persembahan doa syukur, permohonan, serta penyerahan diri kepada penyelenggaraan ilahi. Dalam doa ini, umat memohon berkat bagi keluarga, Gereja, bangsa, serta bagi mereka yang menderita, sakit, dan terlupakan.

Kiranya dengan doa Rosario yang dipanjatkan secara serentak ini, Umat Stasi Maguwo semakin diteguhkan sebagai komunitas yang sehati dan sejiwa dalam menghidupi iman. Semoga, berkat doa bersama Bunda Maria, kita semua dipimpin semakin dekat kepada Kristus, Sang Terang Sejati, yang adalah sumber pengharapan dan damai sejahtera.

Pertemuan I, II, III, IV Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi: Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.

Setiap bulan September, Gereja Katolik di seluruh Indonesia merayakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tahun 2025 ini, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama-sama mengadakan empat kali pertemuan dengan tema besar:

“Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.”

Melalui pertemuan yang penuh doa, sharing, dan kehangatan, umat diajak untuk memperbarui relasi, mulai dari dengan diri sendiri, sesama, keluarga, hingga dengan Allah. Suasana sederhana di rumah-rumah umat menghadirkan pengalaman iman yang kaya dan berkesan.

Berikut rangkuman suasana penuh sukacita dari pertemuan BKSN I hingga IV.

Pertemuan I – Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri

Kamis, 4 September 2025
Kediaman Ibu Suprapto
Dihadiri 30 umat

Pertemuan pertama dipimpin oleh Mbak Tiya dan Mbak Monica. Suasana hening dan akrab terasa sejak awal, ketika tema “Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri” dibuka.

Lewat Kitab Suci, umat diajak menyadari bahwa menerima diri apa adanya adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Menerima diri berarti berani berdamai dengan masa lalu, tidak lagi larut dalam amarah, penyesalan, atau “andai saja” yang kerap membebani hati.

Rangkaian refleksi malam itu membuat umat merenung: kita tak bisa sungguh-sungguh mengasihi orang lain bila belum mengizinkan diri untuk dikasihi terlebih dahulu oleh Allah. Kasih sejati lahir dari hati yang terlebih dahulu dipulihkan.

Dari pendalaman ini, umat menuliskan aksi nyata pribadi, misalnya dengan berani mengakui kelebihan dan kekurangan diri, serta melakukan langkah pertobatan kecil setiap hari. Pertemuan pertama ini menjadi semacam “pintu masuk” untuk perjalanan iman BKSN selanjutnya, jalan pulang kepada Tuhan yang selalu menanti.

Pertemuan II – Pembaruan Relasi dengan Sesama

Jumat, 12 September 2025
Kediaman Bapak Maryoto
Dihadiri 28 umat

Pertemuan kedua dipandu oleh Bapak Bono dan Bapak Wawan. Tema “Pembaruan Relasi dengan Sesama” mengingatkan umat bahwa ibadah yang sejati kepada Allah selalu berjalan beriringan dengan tindakan kasih kepada sesama.

Setelah pendalaman Kitab Suci, umat dibagi menjadi tiga kelompok: Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan OMK (Orang Muda Katolik). Masing-masing kelompok mendiskusikan aksi nyata yang bisa dilakukan untuk orang sakit, orang miskin, penyandang difabel, atau mereka yang sedang mengalami kemalangan.

Hasil diskusi sungguh menarik. Kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu menghasilkan diskusi klasik nan realistis, seperti membantu dengan dana, mendoakan, atau mengunjungi mereka yang sakit. Namun, kelompok OMK tampil sangat kreatif dengan ide-ide segar, misalnya:

  • Menghubungkan para pengangguran dengan organisasi-organisasi nirlaba untuk memberikan pelatihan keterampilan, agar mereka bisa mandiri atau bahkan membuka usaha sendiri.
  • Mendorong umat yang memiliki usaha untuk membuka peluang kerja bagi penyandang difabel, tanpa membeda-bedakan, sehingga mereka juga bisa berkarya dengan layak.
  • Membuat aksi kecil di media sosial untuk menggalang dukungan atau doa bagi sesama yang membutuhkan.

Ide-ide ini membuat semua umat yang hadir terkesan. OMK menunjukkan bahwa semangat kasih bisa diwujudkan tidak hanya secara tradisional, tetapi juga dengan cara kreatif dan visioner. Perbedaan perspektif antar generasi justru memperkaya hasil pertemuan, membuat malam itu semakin bermakna.

Pertemuan III – Pembaruan Relasi dengan Keluarga

Jumat, 19 September 2025
Kediaman Bapak Terr Pratiknyo
Dihadiri 37 umat

Pertemuan ketiga bertema “Pembaruan Relasi dengan Keluarga.” Dipandu oleh Ibu Retno dan Ibu Aning, suasana malam itu penuh tawa, nostalgia, sekaligus kehangatan keluarga.

Salah satu dinamika kreatif yang dilakukan adalah permainan pasangan. Delapan pasangan suami-istri yang hadir diminta menulis atau menggambar sesuatu yang menurut mereka akan langsung dikenali oleh pasangan masing-masing. Kertas-kertas itu kemudian dicocokkan oleh Bapak-bapak yang mencari kertas pasangannya masing-masing.

Hasilnya, enam pasangan berhasil menebak pasangannya dengan tepat. Namun, dua pasangan justru tertukar, dan uniknya, mereka adalah pasangan senior dengan pernikahan hampir menginjak 50 tahun pernikahan! Suasana pun pecah oleh tawa, namun sekaligus menyentuh hati: pernikahan panjang ternyata tetap penuh dinamika, namun kasih setia membuat mereka selalu bertahan bersama.

BKSN III mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pertama kita belajar setia, menerima, dan saling menopang.

Pertemuan IV – Pembaruan Relasi dengan Allah

Jumat, 26 September 2025
Kediaman Ibu Agnes Minar Lukito
Dihadiri 22 umat

Pertemuan terakhir dipimpin oleh Bapak Jondit dan Bapak Yulius, dengan tema puncak: “Pembaruan Relasi dengan Allah.”

Lewat dinamika sharing, umat diajak untuk menceritakan pengalaman pribadi dalam doa. Topik yang diberikan oleh pemandu beragam: tentang doa Rosario, doa Salam Maria, waktu doa terbaik, doa syukur, hingga lagu rohani favorit. Umat dibebaskan untuk memilih topiknya masing-masing untuk kemudian kisahnya dibagikan ke seluruh umat.

Beberapa kisah yang dibagikan begitu menyentuh. Ibu Rus, misalnya, bercerita tentang pengalaman doa tengah malam di bawah langit terbuka, ketika ia sedang bergumul dengan kesedihan. Doa sederhana itu menjadi titik terang bagi masalah yang dihadapinya.

Sementara itu, Ibu Minar mengingatkan pentingnya doa syukur. Menurutnya, sering kali manusia mudah bersyukur saat bahagia, namun lupa bersyukur di tengah kesedihan. Padahal, justru doa syukur memberi energi baru dan membuka hati untuk berkat-berkat selanjutnya.

Sharing malam itu memperdalam kesadaran bahwa relasi dengan Allah bukan hanya soal permohonan, tetapi juga syukur yang tulus. Di sanalah iman kita dikuatkan, hingga kita bisa merasakan keselamatan sejati yang datang dari Allah.

Iman yang Diperbarui

Rangkaian empat pertemuan BKSN 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi bukan hanya kegiatan rohani, melainkan perjalanan iman yang hangat dan penuh warna. Dari diri sendiri, sesama, keluarga, hingga Allah, umat diajak untuk memperbarui relasi secara menyeluruh.

Malam-malam sederhana di rumah umat menjadi saksi bagaimana Kitab Suci sungguh hidup dan berbicara, mengikat umat dalam kasih Tuhan. Semoga semangat BKSN ini terus berbuah dalam keseharian, sehingga iman kita semakin kokoh, relasi semakin erat, dan kasih Allah semakin nyata di tengah kehidupan.

Misa Lingkungan St. Yohanes Pembaptis


Pada hari Rabu, 25 September 2025, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis berkumpul dalam suasana penuh kekeluargaan untuk merayakan Misa Lingkungan yang diadakan di kediaman Bapak Titus. Misa ini dipimpin oleh Romo Murdi, yang dengan penuh sukacita memimpin perayaan Ekaristi bersama umat yang hadir.

Sejak sore hari, rumah Pak Titus mulai dipenuhi oleh umat yang datang dengan semangat kebersamaan dan kerinduan akan perjumpaan rohani. Lingkungan yang biasanya tenang berubah menjadi tempat yang hidup, dipenuhi doa, nyanyian pujian, dan sapaan hangat antar sesama umat.

Misa berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Kehadiran Romo Murdi memberikan semangat baru bagi umat lingkungan, yang merasa diteguhkan dalam iman dan kebersamaan. Liturgi berjalan lancar, dengan partisipasi aktif dari umat dalam tugas-tugas liturgis seperti lektor, pemazmur, dan petugas koor.

Lingkungan Yohanes Pembaptis juga dikenal memiliki tradisi yang indah dan penuh makna, yaitu memberikan kenang-kenangan kepada para penerima Sakramen Penguatan (Krisma) dan Komuni Pertama. Tradisi ini merupakan bentuk dukungan dan kasih dari komunitas lingkungan kepada anak-anak dan remaja yang telah mengambil langkah penting dalam perjalanan iman mereka. Kenang-kenangan tersebut menjadi simbol bahwa mereka diterima dan didoakan oleh seluruh umat lingkungan.

Setelah misa selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana. Hidangan khas rumahan disajikan, dan suasana penuh canda tawa serta cerita hangat mengisi malam itu. Anak-anak bermain bersama, orang tua saling bertukar kabar, dan semuanya bersatu dalam semangat Yohanes Pembaptis: hidup dalam terang dan kasih Kristus.

Misa lingkungan ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan dan semangat pelayanan tetap hidup dan tumbuh di tengah umat, memperkuat ikatan sebagai satu keluarga besar dalam iman.

Malam Penuh Syukur: Misa Lingkungan St. Fransiskus Asisi Bersama Romo FX. Murdi Susanto, Pr

Hari Rabu, 24 September 2025 menjadi hari yang istimewa bagi umat St. Fransiskus Asisi. Malam itu, kami mendapat kunjungan dari Romo FX. Murdi Susanto, Pr., yang memimpin Misa Lingkungan bersama umat. Sebanyak 51 umat hadir dengan sukacita, memenuhi ruangan sederhana di Warung Makan Brongkos Dapur Anget, tempat misa diselenggarakan.

Pukul 19.00, misa dimulai tepat waktu. Nyanyian pembukaan mengalun merdu, dipimpin oleh organis muda lingkungan, mbak Lauda. Iringan musik sederhana membuat suasana menjadi syahdu dan penuh rasa syukur. Sejak awal, misa terasa begitu dekat dengan keseharian umat, sederhana, hangat, dan penuh makna.

Pesan Kehidupan dari Homili

Dalam homilinya, Romo Murdi mengajak umat untuk merenungkan kehidupan keluarga di lingkungan kami. Beliau dengan penuh keakraban bertanya: siapa yang tinggal seorang diri, siapa yang tinggal berdua, dan siapa yang hidup bersama keluarga lebih besar. Pertanyaan itu terdengar ringan, namun justru membuka mata kami tentang gambaran nyata keluarga umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Ternyata, sebagian besar keluarga terdiri dari tiga orang.

Dari refleksi sederhana ini, Romo menekankan pentingnya keterlibatan setiap umat dalam kegiatan lingkungan maupun di tingkat stasi. “Kehidupan Gereja hanya akan tumbuh subur bila kita bersama-sama menanam dan merawatnya,” begitu kira-kira pesan beliau yang terasa menancap dalam hati umat.

Pemberkatan Pengurus Baru

Menjelang akhir misa, suasana semakin hangat ketika Romo diperkenalkan dan kemudian memberkati pengurus baru Lingkungan St. Fransiskus Asisi periode 2026–2028. Sebagian besar umat terlibat langsung dalam kepengurusan ini, yang menunjukkan tingginya semangat kebersamaan. Romo pun menegaskan bahwa keterlibatan ini bukan hanya soal struktur, melainkan juga wujud nyata pelayanan iman di tengah umat.

Santap Malam dan Nostalgia

Usai misa, kami melanjutkan kebersamaan dengan santap malam dan ramah tamah. Aroma brongkos hangat menyambut kami, tersaji lengkap dengan nasi dan kerupuk yang renyah. Tak ketinggalan, ada kue soes potong, camilan lezat, serta buah-buahan segar yang berlimpah. Sambil makan, canda tawa dan obrolan ringan mengisi malam, menjadikan suasana semakin akrab.

Di sela-sela perbincangan, Romo Murdi sempat bernostalgia. Beliau kembali mengenang masa pelayanannya sebagai Romo Paroki di Paroki Mlati (1981–1987). Nostalgia itu muncul karena salah satu umat, Ibu Dyah bersama ibunda, ternyata pernah menjadi umat paroki beliau pada masa itu. Dengan senyum hangat, Romo bergurau ketika mengetahui bahwa Ibu Dyah kini sudah memiliki tiga anak. “Saya bersyukur masih diberi kesehatan dan kehidupan hingga bisa melihat umat saya dulu kini tumbuh bersama keluarganya,” ujar beliau.

Tanya Jawab dan Pengayaan Iman

Selain nostalgia, sesi tanya jawab juga memberi warna tersendiri. Beberapa umat mengajukan pertanyaan seputar liturgi, seperti tentang kapan sebaiknya membuat tanda salib dalam misa, serta makna tanda salib kecil di dahi, mulut, dan dada sebelum bacaan Injil. Romo menjelaskan dengan sabar, membuat kami semua lebih memahami kekayaan simbol iman Katolik.

Tidak hanya itu, Romo juga menyinggung tentang surat edaran Mahkamah Agung mengenai pernikahan beda agama. Penjelasan beliau membuka wawasan baru bagi umat, terutama terkait tantangan iman dalam kehidupan keluarga modern.

Malam yang Berkesan

Misa Lingkungan bersama Romo Murdi malam itu benar-benar meninggalkan kesan mendalam. Tidak hanya karena doa dan perayaan Ekaristi, tetapi juga karena suasana hangat, keakraban, serta pesan-pesan yang membekas di hati. Malam itu seakan menjadi pengingat bahwa iman tumbuh bukan hanya di gedung gereja, tetapi juga di ruang-ruang sederhana tempat umat berkumpul, berdoa, dan berbagi hidup bersama.

Semoga kebersamaan ini semakin mempererat relasi antar umat sekaligus hubungan dengan Romo paroki sebagai gembala yang selalu hadir menuntun kami dalam perjalanan iman.

PERTEMUAN BKSN 4 denganTema: “Pembaruan Relasi dengan Allah” (Mal. 3:13-18)


Stasi Maguwo memasuki Pertemuan ke-4 Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 dengan tema “Pembaruan Relasi dengan Allah”. Pertemuan ini mengajak umat untuk kembali melihat relasi pribadi dengan Allah: apakah selama ini kita sungguh setia, atau justru membiarkan iman menjadi hambar dan jauh dari-Nya.

Kitab Maleakhi menegaskan bahwa ada perbedaan nyata antara orang yang setia kepada Allah dan yang tidak. Relasi yang benar dengan Allah bukanlah sekadar kewajiban, melainkan sikap hati yang penuh kasih dan kepercayaan. Allah merindukan umat-Nya kembali dengan tulus, bukan hanya dalam doa atau ibadat lahiriah, tetapi juga dalam seluruh sikap hidup sehari-hari.

Suasana pertemuan BKSN kali ini dipenuhi semangat doa dan permenungan. Umat diajak untuk mengevaluasi relasi pribadinya dengan Tuhan: apakah kita masih sering meragukan kasih-Nya, ataukah kita tetap percaya dan setia walau menghadapi tantangan hidup? Dalam diskusi dan sharing iman, banyak umat menyadari bahwa menjaga relasi dengan Allah berarti menjaga kesetiaan dalam hal-hal kecil—setia berdoa, setia menghadiri Ekaristi, setia dalam pelayanan, serta setia dalam menghidupi kasih di tengah keluarga dan masyarakat.

Pertemuan ini menjadi undangan bagi setiap umat untuk memperbarui komitmen imannya. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya; Ia selalu mencatat dan mengenal mereka yang setia kepada-Nya. Relasi yang erat dengan Allah akan memberi kekuatan baru untuk menghadapi pergumulan hidup, sekaligus menjadi sumber berkat bagi sesama.

Lingkungan yang melaksanakan BKSN Pertemuan 4:

  1. Lingkungan St. Antonius

2. Lingkungan St. Petrus

Lingkungan St Clara

Lingkungan St Gregorius

Lingkungan St Elisabet

Lingkungan St Paulus

Lingkungan St Maria Asumpta

Lingkungan St Monica

Semoga pertemuan BKSN ini meneguhkan iman umat, agar semakin setia dan tekun menjaga relasi dengan Allah yang penuh kasih dan setia.

Doa BKSN IV Lingkungan Santo Petrus

Tema: Pembaruan Relasi dengan Allah (Mal 3:13-18)


Pada hari Rabu, 24 September 2025 pukul 19.00, umat Lingkungan Santo Petrus kembali mengadakan doa Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) IV dengan tema “Pembaruan Relasi dengan Allah” yang diambil dari Kitab Maleakhi 3:13-18. Pertemuan doa kali ini berlangsung di rumah Mba Lely dan dipimpin oleh Ibu Maya.

Walaupun yang hadir hanya sembilan orang, suasana doa tetap berlangsung hangat dan penuh kekhidmatan. Umat yang hadir larut dalam doa dan permenungan firman Tuhan, menyadari pentingnya memperbarui relasi pribadi dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana semakin hidup ketika sesi sharing dimulai. Setiap umat dengan antusias berbagi pengalaman iman mereka, terutama tentang bagaimana tetap setia dan mengandalkan Allah di tengah tantangan hidup. Diskusi terasa akrab dan mendalam meskipun jumlah peserta terbatas.

Yang menarik, pertemuan kali ini juga dimeriahkan dengan mini drama sederhana yang menggambarkan tema BKSN. Drama ini menjadi sarana kreatif untuk menghayati pesan Kitab Maleakhi, bahwa Allah senantiasa mendengarkan umat-Nya yang takut akan Dia, serta mengingatkan pentingnya menjaga kesetiaan dalam relasi dengan Tuhan.

Melalui doa BKSN IV ini, umat Lingkungan Santo Petrus semakin diteguhkan untuk senantiasa memperbarui relasi dengan Allah, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata dalam hidup sehari-hari

Pertemuan BKSN 3 dan 4 Lingkungan St Gabriel

Pada hari Jumat, 19 September 2025, Lingkungan St. Gabriel melaksanakan Pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) ke-3 dan ke-4 bertempat di rumah keluarga Antonius Subiyanto. BKSN ke 3 dipimpin oleh Maria Suprapti, Lita, Ona Kilok dan Qaaley. Sedangkan BKSN ke 4 dipimpin oleh Intan, Ika, Nana, dan Aurel. Pertemuan dimulai pukul 19.00 WIB dan dihadiri sekitar 30 orang umat yang terdiri dari bapak, ibu, kaum muda dan anak-anak.

Kegiatan diawali dengan doa pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan BKSN sesuai tema. Suasana pertemuan berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan, umat terlibat aktif dalam doa maupun sharing iman.

Untuk BKSN ke-3, tema yang diangkat adalah: “Pembaruan Relasi dalam Keluarga” (Mal. 2:10-16)

Tujuan: Peserta semakin menyadari bahwa Allah menghendaki agar mereka hidup benar di dalam keluarga dengan berlaku setia kepada keluarganya.

Untuk BKSN ke-4, tema yang diangkat adalah: “Pembaruan Relasi dengan Allah” (Mal. 3:13–18)

Tujuan: Peserta semakin menyadari bahwa Allah menghendaki agar mereka selalu memperbarui relasi dengan-Nya, dengan bertobat dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya, sehingga memperoleh keselamatan.

Setelah BKSN selesai, acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan untuk Krismawati dari Lingkungan St. Gabriel, kemudian PWK (Pertemuan Wanita Katolik), penyampaian pengumuman-pengumuman penting, dan sarasehan bersama umat.

Pertemuan berakhir pada pukul 21.15 WIB dengan doa penutup. Secara keseluruhan, kegiatan berjalan dengan baik, tertib, penuh kebersamaan, dan semakin mempererat relasi antarumat di Lingkungan St. Gabriel.