Sabtu pagi, 7 Juni 2025, kompleks Biara SCJ di Jalan Kaliurang dipenuhi dengan wajah-wajah penuh semangat dan harapan. Hari itu, rekoleksi calon penerima Komuni Pertama se-Paroki Kalasan digelar sebagai bagian penting dari persiapan rohani anak-anak sebelum menyambut Sakramen Maha Kudus untuk pertama kalinya.
Sebanyak 192 anak calon penerima Komuni Pertama dan 300 orang tua turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Dari jumlah tersebut, Stasi Maguwo mengutus 23 anak dan 60 orang tua—sebuah angka yang menunjukkan antusiasme dan keterlibatan nyata dari komunitas dalam mendampingi pertumbuhan iman anak-anaknya.
Dengan mengangkat tema “Keluargaku sebagai Sekolah Iman dan Kehidupan”, rekoleksi ini mengajak peserta untuk menyadari bahwa keluarga bukan hanya tempat tinggal, melainkan juga ruang pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai Kristiani. Dalam dinamika keluarga—dalam kasih, pengampunan, dan keteladanan—iman itu tumbuh dan menjadi nyata.
Acara dimulai sejak pukul 07.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 13.00 WIB. Para peserta mendapatkan siraman rohani dan wawasan hidup dari tiga narasumber inspiratif:
Romo Marwoto SCJ, yang mengajak orang tua merenungkan kembali peran mereka sebagai pendidik iman di rumah,
Dr. Victorius Didik S., yang menyampaikan pentingnya pendekatan yang manusiawi dan mendalam dalam mendampingi tumbuh kembang anak secara psikologis dan spiritual,
serta Suster Erna RMI, yang dengan pendekatan ceria dan penuh kasih memandu anak-anak mengenal Yesus dengan bahasa yang sederhana dan menyentuh hati.
Sesi demi sesi berlangsung dalam suasana penuh kehangatan, kekeluargaan, dan keheningan rohani yang menyegarkan. Anak-anak tidak hanya diajak untuk paham secara intelektual, tapi juga disentuh hatinya—belajar untuk mencintai Ekaristi dan memahami makna kehadiran Yesus dalam hidup mereka.
Sementara itu, orang tua diajak untuk kembali menyadari bahwa mereka adalah “guru iman” pertama dan utama bagi anak-anak. Rekoleksi ini menjadi momen reflektif dan sekaligus pemantik semangat untuk semakin hadir, menyemangati, dan menjadi teladan dalam hidup beriman sehari-hari.
Sebagai puncak dan penutup, seluruh rangkaian acara ditutup dengan Perayaan Ekaristi, yang menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan peneguhan iman seluruh peserta. Misa ini menjadi pengingat bahwa perjalanan iman bukanlah perjalanan sendiri, tetapi selalu bersama: bersama keluarga, bersama komunitas, dan terutama bersama Tuhan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia, para narasumber, para pendamping, dan semua pihak yang telah melayani dengan hati. Semoga anak-anak kita siap menyambut Komuni Pertama bukan hanya sebagai momen seremoni, tetapi sebagai awal hidup baru bersama Kristus yang hadir nyata dalam Sakramen-Nya.
Minggu, 1 Juni 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi umat di Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Dalam semangat persaudaraan dan penuh rasa syukur, umat berkumpul untuk merayakan acara puncak Hari Ulang Tahun Stasi, sebuah perayaan iman yang dirangkai dalam dua bagian utama: Misa Syukur dan Pesta Umat.
Rangkaian acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang khidmat. Dalam misa ini, umat diajak untuk kembali mengenang perjalanan iman Stasi yang penuh berkat.
Homili yang disampaikan mengajak seluruh umat untuk terus menumbuhkan semangat melayani dan membangun komunitas yang saling menopang.
Doa-doa dan lagu-lagu pujian mengalun merdu sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun-tahun pelayanan di Stasi tercinta ini.
Usai misa, halaman gereja menjadi pusat keramaian dalam Pesta Umat. Sajian soto dan bakso hangat menjadi menu andalan yang dinikmati bersama. Sederhana namun sarat makna, hidangan ini merekatkan rasa kebersamaan dan cinta kasih antar umat.
Acara berlanjut dengan hiburan yang berlangsung secara spontan. Ada umat yang maju menyanyi, dan tak sedikit pula yang mengajak tertawa bersama lewat candaan khas umat Maguwo. Tentu saja, doorprize turut memeriahkan suasana dan menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan.
Namun kejutan sesungguhnya datang dari mereka yang selama ini diam-diam bekerja di belakang layar — ibu-ibu panitia. mereka maju ke tengah halaman dan mempersembahkan sebuah flashmob penuh semangat!
Dengan gerakan ceria dan kekompakan yang tak kalah dari generasi muda, para ibu sukses memecah suasana dengan tawa, decak kagum, dan tepuk tangan meriah. Tarian mereka bukan hanya hiburan, tapi juga simbol sukacita dan semangat pelayanan yang luar biasa.
Hari ini bukan sekadar perayaan ulang tahun — tapi juga perayaan persaudaraan, pelayanan, dan semangat menjadi satu tubuh dalam Kristus. Sebuah hari yang meninggalkan kesan hangat dalam hati setiap umat yang hadir.
Selamat Ulang Tahun untuk Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo! Umur hanyalah angka, tetapi cinta, iman, dan kebersamaan yang tumbuh di tengah umat adalah harta sejati. Semoga Stasi ini terus menjadi rumah iman yang hidup, tempat bertumbuh, melayani, dan memberi terang bagi sesama. Terima kasih untuk setiap senyum, peluh, dan doa yang telah membangun komunitas ini — mari terus melangkah bersama, dalam terang Tuhan.
Hari ini, 29 Mei 2025, langit tampak cerah seolah ikut bersukacita menyambut langkah-langkah kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 42 orang, anak-anak, orang muda, hingga para lansia, berkumpul dengan semangat yang sama, melangkah bersama dalam sebuah ziarah iman di Tahun Yubelium, tahun yang dikhususkan oleh Gereja Katolik sebagai momen pengampunan, pembaruan, dan rekonsiliasi.
Tahun Yubelium bukanlah sekadar tradisi. Ini adalah panggilan. Sebuah undangan untuk kembali, kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada ciptaan. Tahun ini, Paus Fransiskus mengangkat tema yang begitu menyentuh: “Peziarah Pengharapan.” Dan kami menjawabnya dengan sungguh-sungguh, lewat perjalanan rohani menuju tiga tempat suci: Taman Doa Maria Oblat, Kapel Salib Suci Gunung Sempu, dan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran.
Langkah Awal: Berangkat Dengan Semangat
Titik kumpul kami di rumah Pak Cahyo, yang sudah ramai selepas Misa Kenaikan Yesus. Senyum, tawa, dan doa-doa kecil mengiringi keberangkatan kami. Tepat pukul 09.30 WIB, setelah semua terbagi dalam 9 mobil, rombongan kami berangkat menuju Taman Doa Maria Oblat.. Tak ada yang membawa beban, yang ada hanya semangat untuk mendekat kepada Tuhan dan saling menguatkan sebagai satu keluarga iman. Perjalanan 20 menit terasa ringan, diiringi canda dan harapan yang memenuhi hati.
Perhentian Pertama: Taman Doa Maria Oblat
Setibanya di sana, kami langsung larut dalam keheningan. Di antara pepohonan yang menyejukkan dan suasana damai, kami menyebar, mencari sudut masing-masing untuk tenggelam dalam doa pribadi, menyerahkan pergumulan, menyampaikan syukur, dan membuka hati bagi kasih Allah. Hati ini terasa lega, seolah beban pelan-pelan dilepaskan.
Perhentian Kedua: Gereja Salib Suci Gunung Sempu
Pukul 10.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sempu, tempat berdirinya Gereja Salib Suci yang menawan. Meski ramai oleh para peziarah lain, ada ketenangan yang tak tergantikan, kami tetap dapat berdoa dengan khidmat. Kami mengadakan ibadat singkat yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon lingkungan, Bapak Yuli, kami mendaraskan doa Rosario bersama, lalu melanjutkan dengan doa pribadi. Hati kami dipenuhi damai dalam kebersamaan. Di momen ini, kami seperti diingatkan: harapan itu nyata, dan ia tumbuh dari iman yang dibagikan bersama.
Perhentian Ketiga: Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran
Ganjuran selalu punya tempat spesial di hati umat Katolik Yogyakarta, simbol iman Katolik yang begitu khas dengan gaya arsitektur Jawa yang sarat makna. Setibanya di sana, sekitar pukul 12.30, kami berdoa secara pribadi, lalu menikmati waktu bebas. Beberapa dari kami mengunjungi museum yang menggugah sejarah iman di Ganjuran, ibu-ibu berbelanja oleh-oleh dan berfoto ria, anak-anak berlarian bebas dengan tawa riang, sementara yang lain duduk menikmati semilir angin. Semuanya terasa seperti pelukan hangat dari Tuhan.
Berbagi Cerita di Meja Makan
Sekitar pukul 14.00, kami menuju Restaurant Parangtritis untuk makan siang bersama. Inilah momen yang tak kalah berharga. Setiap meja menjadi ruang berbagi cerita. Bapak-bapak asyik berdiskusi tentang tembakau, cerutu, dan tentu saja diselingi dengan topik politik. Di sisi lain, ibu-ibu ramai berbagi gosip hangat dan berbincang tentang tugas-tugas pelayanan yang menanti. Sungguh suasana yang hangat, akrab, dan penuh sukacita.
Pulang Dengan Hati Yang Penuh Syukur
Pukul 15.00, kami mengakhiri kegiatan dan kembali ke rumah masing-masing. Namun bukan hanya tubuh kami yang kembali, hati kami pun pulang dengan semangat baru, dengan sukacita yang sulit dijelaskan.
Hari ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah perjalanan hati. Sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, kita selalu punya ruang untuk kembali. Kembali kepada Tuhan. Kembali kepada komunitas. Kembali kepada harapan.
Kami percaya, kegiatan seperti ini bukan hanya menguatkan iman, tapi juga mempererat tali persaudaraan. Kami pulang lebih dekat satu sama lain, lebih semangat dalam tugas, dan lebih sadar akan indahnya berjalan bersama dalam iman.
“Berbahagialah mereka yang berjalan dalam iman, sebab di sanalah harapan tumbuh dan kasih berkembang.”
Pada hari Rabu, 28 Mei 2025 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di kediaman Ketua Lingkungan, Mba Lely, untuk melaksanakan doa Rosario dan katekese rutin. Kegiatan ini dihadiri oleh 12 umat yang datang dengan semangat kebersamaan dan iman.
Doa Rosario dipimpin dengan khidmat oleh Ibu Mulyadi. Suasana doa berlangsung tenang dan penuh penghayatan, mengundang umat untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus dan Bunda Maria serta memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan.
Usai Rosario, kegiatan dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Retno. Tema katekese kali ini adalah “Gereja yang Bahagia: ARDAS 2026”. Dalam penyampaiannya, Ibu Retno menekankan pentingnya mewujudkan komunitas gerejawi yang penuh sukacita, saling mendukung, dan berlandaskan kasih Kristus. Katekese ini mengajak umat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kehidupan menggereja dan menjadikan Lingkungan sebagai tempat bertumbuh dalam iman dan kebersamaan.
Pertemuan malam itu menjadi momen yang mempererat tali persaudaraan antar umat dan menguatkan semangat pelayanan dalam terang ARDAS 2026. Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sarana berkat bagi umat dan mendorong terciptanya Gereja yang semakin hidup, bersukacita, dan misioner.
Kamis 29 Mei 2025, selepas Misa Kenaikan Yesus menjadi momen istimewa yang sarat makna bagi para pengurus Dewan Pastoral Stasi Maguwo. Diwakili oleh Ibu Amy, Ibu Tinung, Ibu Woro, Ibu Manis, Ibu Lely, Ibu Munarti, Bapak Bagio, Bapak Paul, Bapak Anton, Bapak Parno, Bapak Teteng, Bapak Nanto, Bapak Yulius, dan Bapak Naryo, mereka bersama-sama melaksanakan ziarah ke makam para sesepuh dan pendiri Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.
Ziarah ini adalah bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Lebih dari sekadar ritual, ziarah ini menjadi bentuk penghormatan yang tulus dan penuh kasih kepada para tokoh yang telah berjasa besar bagi gereja dan umatnya. Mereka adalah almarhum Bapak Lazarus Djayeng Adisubrata, almarhum Ibu Lusia Daliyah Djayeng Adisubrata, almarhum Bapak Paulus Yadiwiyono, dan almarhum Bapak YB Kandari. Masing-masing dari mereka adalah pilar penting yang menorehkan jejak iman dan pengabdian tanpa pamrih.
Dalam suasana yang penuh hening dan haru, para pengurus berdoa di pusara para pendahulu, mengenang segala kebaikan, pengorbanan, dan kasih yang telah mereka tanamkan. Setiap doa yang terucap menjadi untaian syukur dan penghormatan atas segala jasa mereka. Hembusan angin yang lembut seolah menjadi saksi betapa besarnya cinta kasih yang diwariskan oleh para sesepuh bagi kehidupan iman umat di Maguwo.
Ziarah ini menjadi pengingat mendalam akan nilai-nilai luhur yang mereka ajarkan: ketulusan hati, kesetiaan dalam pelayanan, dan kerendahan hati yang memancar dalam setiap langkah. Warisan semangat dan cinta kasih yang mereka tinggalkan menjadi lentera yang menuntun langkah para pengurus dan umat untuk terus berkarya demi kebaikan bersama.
Semoga melalui ziarah penuh kasih ini, seluruh umat semakin dikuatkan dalam iman, disatukan dalam semangat persaudaraan, dan diteguhkan untuk meneruskan karya pelayanan yang penuh pengharapan. Kehadiran para pendahulu dalam kenangan dan doa hari ini menjadi tanda bahwa cinta mereka tak pernah pudar, dan pengabdian mereka akan selalu hidup dalam hati kita semua.
Kadisoka, 25 Mei 2025 — Dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan, umat Lingkungan St. Gregorius merayakan 30 tahun perjalanan iman mereka melalui sebuah Ibadat Syukur yang diadakan pada Minggu malam, 25 Mei 2025, pukul 19.00 WIB. Bertempat di lingkungan setempat, acara tersebut menjadi momen reflektif sekaligus penuh kegembiraan, dihadiri oleh lebih dari 55 umat dari berbagai usia.
Umat hadir dari berbagai usia
Acara dimulai dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit. Dalam ibadat tersebut, umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, serta memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.
Prodiakon Paulus Supit memimpin jalannya ibadat syukur dengan khidmat
Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan, Bapak Gregorius Henry Prasista Kurniawan, yang menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas lingkungan ini selama tiga dekade terakhir. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh umat yang telah setia mendukung dan membangun lingkungan sejak awal berdiri hingga kini.
Sebagai pembawa acara (MC), Mbak Anik memandu jalannya acara dengan penuh kehangatan dan keteraturan. Momen yang paling simbolis dan menyentuh hati adalah prosesi pemotongan tumpeng, sebuah tradisi yang sarat makna baik secara budaya maupun spiritual.
Filosofi Tumpeng: Simbol Syukur dan Harapan
Dalam penjelasannya, MC menyampaikan bahwa tumpeng, makanan khas berbentuk kerucut yang terbuat dari nasi kuning, bukan sekadar sajian pesta. Dalam budaya Jawa, tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (puncak kerucut), serta hubungan horizontal antara sesama manusia (lingkaran di sekeliling tumpeng). Nasi kuning sebagai simbol kemuliaan dan kebahagiaan juga mencerminkan harapan akan masa depan yang gemilang.
Tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan
Secara iman Katolik, makna tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan dan penyertaan Tuhan. Puncak tumpeng menggambarkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala berkat, sementara aneka lauk di sekitarnya mencerminkan keberagaman umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan.
Pemotongan tumpeng oleh Ketua Lingkungan St. Gregorius
Pemotongan dan pembagian tumpeng juga menjadi simbol pengutusan: bahwa berkat yang diterima bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada sesama.
Dalam prosesi tersebut, pemotongan dilakukan oleh Ketua Lingkungan, kemudian diberikan secara simbolis kepada dua perwakilan umat:
Bapak Petrus Soekamso, sebagai wakil sesepuh, perintis dan generasi pendahulu, serta
adik Avika, sebagai wakil generasi muda dan harapan masa depan lingkungan.
Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan umat senior
Potongan tumpeng kedua diberikan kepada perwakilan generasi penerus
Keduanya menerima potongan tumpeng dengan penuh haru dan sukacita, menyimbolkan keberlanjutan semangat dan warisan nilai-nilai iman lintas generasi.
Past, present and future
Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan
Usai prosesi, para umat melakukan sesi foto bersama yang diikuti dengan ramah tamah. Suasana terasa hangat dan akrab, diwarnai tawa anak-anak, canda para remaja, serta obrolan ringan para sesepuh.
Antusiasme umat Lingkungan St. Gregorius
Pada kesempatan tersebut, Bapak Petrus Soekamso menyampaikan kisah berdirinya Lingkungan St. Gregorius, mengajak umat mengenang kembali momen awal terbentuknya lingkungan sebagai hasil pemekaran dari Lingkungan St. Fransiskus Xaverius Purwomartani. Beliau menuturkan bagaimana dinamika umat, pertumbuhan jumlah keluarga Katolik, dan semangat pelayanan mendorong terbentuknya lingkungan baru yang diberi nama St. Gregorius.
Seiring waktu, lingkungan ini sendiri mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhirnya melahirkan dua lingkungan baru melalui proses pemekaran, yaitu:
Lingkungan St. Bartholomeus, dan
Lingkungan St. Stefanus
Fakta ini menunjukkan bahwa Lingkungan St. Gregorius bukan hanya tumbuh, tetapi juga turut berkontribusi dalam perkembangan pastoral wilayah setempat. Bapak Petrus juga mengajak umat untuk tetap menjaga semangat pelayanan lintas generasi, agar lingkungan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari tubuh Gereja.
Bpk Petrus Soekamso menceritakan awal berdirinya lingkungan St. Gregorius
Penutup yang Penuh Sukacita.
Acara malam itu ditutup dengan suasana hangat dan penuh sukacita. Seluruh umat pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Lingkungan St. Gregorius. Dalam usia 30 tahun, lingkungan ini tidak hanya menunjukkan kedewasaan dalam iman, tetapi juga keteguhan dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan penuh kasih.
Semua bersyukur, semua gembira
Proficiat untuk Lingkungan St. Gregorius! Semoga tetap menjadi garam dan terang bagi sesama, serta terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.
Dalam rangka ulang tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo, diadakan kegiatan bakti sosial yang super bermanfaat: cek kesehatan gratis! Acara ini diadakan pada hari Minggu, 25 Mei 2025, dan terbuka untuk semua warga sekitar yang mau ngecek kesehatan.
Kegiatan ini seru banget karena didukung penuh sama Rumah Sakit Panti Rini yang hadir dengan tim dokter dan paramedisnya, Kimia Farma yang bawa alat andalan Quantum, dan Puskesmas Depok yang lengkap dengan dokter dan obat-obatannya. Tim kesehatan dari Stasi Santa Maria Bunda Allah juga turun langsung bantuin acara ini, jadi makin kompak.
Warga sekitar yang ikut juga rame banget, mulai dari RT 5 Sambilegi Kidul, RT 6 Kembang, RT 01-05 Karangploso, sampai para pengurus DPH. Suasana hangat dan penuh kebersamaan benar-benar terasa sepanjang acara.
Keren banget, acara ini juga ditinjau langsung sama petinggi dari Rumah Sakit Panti Rini, Puskesmas Depok, dan Kimia Farma. Mereka semua ngasih support penuh supaya acara ini makin sukses.
Dan yang bikin tambah semangat, dari target 150 orang peserta, kegiatan ini berhasil ngumpulin 148 orang. Berarti udah 98,67% target tercapai, keren banget kan?
Semoga kegiatan ini bermanfaat buat semua warga dan makin mempererat kebersamaan di sekitar gereja. Sampai jumpa di acara seru berikutnya.
Pada hari Kamis, 22 Mei 2025, umat Lingkungan St. Petrus berkumpul dalam semangat kekeluargaan untuk berdoa bersama dalam doa Rosario dan mendalami iman melalui katekese. Kegiatan ini dilangsungkan di rumah Ibu Tris, yang terletak di Nanggulan, dan dimulai pukul 19.00 WIB.
Meskipun malam itu diguyur hujan, antusiasme umat tidak surut. Sebanyak 14 umat hadir, menunjukkan semangat kebersamaan dan iman yang teguh. Doa Rosario dipimpin oleh Ibu Merry, yang membimbing umat dengan penuh kesungguhan dan kelembutan hati dalam setiap peristiwa yang direnungkan.
Setelah Rosario, acara dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Maya. Topik katekese malam itu adalah “Menjadi Apostolik”, sebuah tema yang mengajak umat untuk merenungkan dan memahami salah satu ciri Gereja yang kudus: sifat apostolik. Ibu Maya menjelaskan bahwa menjadi apostolik berarti melanjutkan misi para rasul, yaitu mewartakan Injil dan menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Umat diajak untuk menyadari peran mereka sebagai pewarta kabar baik di tengah masyarakat, dengan tindakan nyata dalam kasih dan pelayanan.
Suasana hangat dan penuh semangat terasa sepanjang acara. Diskusi berlangsung aktif, dan umat saling berbagi pandangan serta pengalaman hidup beriman yang memperkaya satu sama lain.
Kegiatan ini tidak hanya mempererat tali persaudaraan antarumat di lingkungan, tetapi juga memperdalam penghayatan iman Katolik. Semangat apostolik yang dikobarkan malam itu diharapkan terus menyala dalam kehidupan sehari-hari seluruh umat St. Petrus.
Pada hari Kamis, 15 Mei 2025, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di rumah Bapak Bayu untuk melaksanakan Doa Rosario dan Katekese Mei yang bertemakan Menjadi Katolik. Meskipun hujan mengguyur dengan cukup deras, semangat umat untuk hadir dan berdoa bersama tetap tinggi. Tepat pukul 19.00, acara dimulai dengan penuh kekhusyukan.
Doa Rosario dipimpin oleh Ibu Wiwid yang dengan penuh penghayatan memandu setiap peristiwa Rosario. Para umat yang hadir mengikuti doa dengan khidmat, menyatukan hati dalam untaian doa kepada Bunda Maria. Hujan yang turun seakan menjadi latar alamiah yang menambah kehangatan dalam kebersamaan.
Setelah Doa Rosario, acara dilanjutkan dengan Katekese yang dibawakan oleh Bapak Heri. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Heri menjelaskan makna menjadi seorang Katolik yang sejati, termasuk pentingnya hidup dalam iman, harapan, dan kasih. Para umat yang hadir tampak antusias mendengarkan dan berdiskusi, menambah wawasan tentang penghayatan iman Katolik.
Acara ini dihadiri oleh 12 orang umat yang dengan penuh semangat dan sukacita mengikuti seluruh rangkaian doa dan katekese. Walaupun cuaca kurang bersahabat, kekhusyukan doa dan kebersamaan yang terjalin tidak berkurang sedikit pun.
Pertemuan ditutup dengan doa bersama, memohon berkat dan perlindungan Tuhan bagi seluruh umat Lingkungan Santo Petrus. Semoga semangat berdoa dan memperdalam iman semakin tumbuh dalam setiap hati umat.
Senin, 12 Mei 2025 – Suasana hangat, meriah, dan penuh sukacita terpancar dari area dalam dan halaman Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo saat umat Wilayah Sang Timur berkumpul untuk merayakan Paskahan bersama. Acara yang digagas oleh Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah Sang Timur ini berlangsung dari pukul 17.00 hingga 20.30 WIB, dengan mengangkat tema “Berkelana: Bersama Kembali ke Jalan Allah”.
Ramainya Umat yang hadir mengikuti Paskahan Wilayah Sang Timur
Acara Paskahan tahun ini tak sekadar menjadi momentum sukacita atas kebangkitan Kristus, tetapi juga menjadi momen penyatuan umat dari empat lingkungan di bawah naungan Wilayah Sang Timur: Lingkungan St. Bartholomeus, Lingkungan St. Gregorius, Lingkungan St. Stefanus, dan Lingkungan St. Antonius. Semua bersatu dalam semangat kebersamaan, memperkuat iman, dan saling berbagi kasih dalam perayaan penuh makna ini.
Keceriaan Hadiah dan Sukacita Anak-anak
Keceriaan Seluruh Umat Wilayah Sang Timur
Keceriaan tak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang hadir. Panitia telah menyiapkan parcel Paskah khusus bagi anak-anak, berisi aneka makanan ringan, minuman ringan, yang dibungkus dengan menarik dan kids friendly. Sementara itu, acara doorprize menjadi momen yang dinanti-nanti oleh seluruh umat. Hadiah yang beragam – mulai dari peralatan rumah tangga hingga bingkisan menarik – yang dibagikan di depan panggung yang telah disiapkan di area dalam Gereja.
Sambutan Hangat dari Para Pemimpin Wilayah
Suasana syukur dan persaudaraan semakin terasa saat para tokoh wilayah memberikan sambutan. Mikael Purwanto, perwakilan dari Stasi, membuka acara dengan ucapan terima kasih dan ajakan untuk terus menjaga semangat kebersamaan dalam hidup menggereja. “Paskah bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah perjalanan spiritual untuk kembali menapaki jalan Allah,” ujarnya penuh semangat.
Apresiasi dari panitia untuk Stasi GMBA Maguwo
Dilanjutkan dengan sambutan dari Mbak Dysi, Ketua OMK Wilayah Sang Timur, yang dengan antusias menyampaikan apresiasi kepada seluruh OMK yang telah bekerja keras mempersiapkan acara. “Ini bukti nyata bahwa OMK tidak hanya aktif, tapi juga kompak, solid, dan kreatif. Semangat ini harus terus dijaga,” ucapnya disambut tepuk tangan meriah.
Sambutan ketua OMK Wilayah Sang Timur
Tak ketinggalan, Bu Lia selaku Ketua Wilayah Sang Timur juga menyampaikan kebanggaannya atas keterlibatan aktif seluruh lingkungan. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya semangat ‘berkelana bersama’ sebagai panggilan untuk terus bertumbuh dalam iman dan pelayanan. “Dengan cinta dan kebersamaan, kita kembali ke jalan-Nya,” tuturnya.
Renungan yang Menyentuh Hati “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup”
Puncak spiritualitas acara diisi oleh renungan Paskah yang dibawakan oleh dua prodiakon, Pak Paul dan Pak Tri Mulyono. Renungan malam itu mengangkat bacaan Injil dari Yohanes 14:1–6, di mana Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
Dengan refleksi yang mendalam, keduanya mengajak umat untuk memahami bahwa dalam hidup yang penuh tantangan dan pencarian, Yesus adalah satu-satunya jalan menuju pengharapan dan keselamatan. “Kadang kita merasa bingung, lelah, atau tersesat. Tapi Yesus sudah menunjukkan bahwa Dia adalah jalan yang pasti, jalan yang benar, dan hidup yang sejati,” ujar Pak Prodiakon, menguatkan umat yang hadir.
Renungan oleh prodiakon
Pak Paul menambahkan, “Berkelana dalam hidup iman memang tidak selalu mudah, tapi selama kita berjalan bersama Tuhan, kita tidak pernah benar-benar sendirian.” Suasana hening, penuh permenungan, menyelimuti ruangan saat umat merenungkan sabda tersebut dalam hati mereka masing-masing.
Sesi Ice Breaking & Quiz TTS : Gelak Tawa yang Mencairkan Suasana
Keseruan ice breaking yang membuat suasana lebih “hidup”
Usai renungan yang mendalam, suasana kembali cair dan penuh gelak tawa melalui sesi ice breaking yang dipandu oleh Pak Arif. Dengan caranya yang humoris dan energik, Pak Arif mengajak umat untuk bergerak bersama dalam permainan interaktif dan penuh tawa. Anak-anak, remaja, hingga para orang tua larut dalam permainan seru yang memecah keheningan, membangun kembali semangat dan energi menjelang acara puncak.
Umat dengan semangat mengikuti ice breaking
Permainan sederhana namun kreatif seperti “siapa cepat dia dapat”, dan “TTS (Teka Teki Silang)” membuat seluruh hadirin terlibat dan saling mengenal satu sama lain dengan cara yang menyenangkan. Tidak hanya menghibur, sesi ini juga mempererat kebersamaan lintas usia.
Pentas Seni: Ungkapan Iman Melalui Kreativitas
Acara puncak malam itu adalah pentas seni antar lingkungan, sebuah pertunjukan yang menunjukkan betapa iman bisa diekspresikan secara kreatif dan menyenangkan. Empat lingkungan tampil dengan ciri khas dan kekayaan budaya masing-masing, menciptakan suasana yang semarak sekaligus menyentuh.
Lingkungan Stefanus membuka panggung dengan tembang Mocopat, membawakan lantunan puisi Jawa yang sarat makna spiritual. Suasana menjadi syahdu, mengingatkan umat akan kearifan lokal yang berpadu dengan nilai iman Katolik.
Lingkungan Gregorius menyuguhkan tari tradisional yang dinamis, diikuti dengan sesi menyanyi dan joget bareng yang membuat seluruh hadirin ikut bergoyang. Keceriaan menjalar ke seluruh ruangan, menghapus sekat antar generasi.
Lingkungan Antonius memukau penonton dengan tari balet yang anggun, dilanjutkan dengan gerak dan lagu yang menggemaskan. Penampilan ini berhasil membangkitkan rasa bangga akan keberagaman bakat anak-anak lingkungan.
Lingkungan Bartholomeus menutup pentas dengan drama musikal bertema kebangkitan dan tari tradisional penuh semangat. Penampilan ini tidak hanya menghibur, tapi juga menyampaikan pesan rohani yang mendalam.
Setiap penampilan mendapat apresiasi luar biasa dari umat yang hadir. Tidak sedikit yang mengabadikan momen-momen tersebut melalui kamera ponsel mereka, menciptakan kenangan indah yang akan terus diingat.
Penutupan yang Mengharukan: “Kemesraan Ini Janganlah Cepat Berlalu”
Menjelang akhir acara, seluruh umat diajak menyanyikan lagu “Kemesraan” bersama-sama. Yang istimewa, seluruh lampu gereja dimatikan, dan hanya cahaya dari lampu-lampu handphone yang menerangi ruangan. Suasana menjadi begitu haru dan syahdu. Dalam balutan cahaya temaram, umat bergandengan tangan, menyanyikan lirik demi lirik dengan penuh perasaan. Momen ini menjadi penutup yang sempurna — mengikat kembali rasa cinta dan persaudaraan di antara umat Wilayah Sang Timur.
Suasana syahdu malam itu
Suksesnya Paskahan sebagai Buah Kebersamaan
Paskahan Wilayah Sang Timur tahun 2025 ini bukan hanya sekadar acara tahunan. Ia telah menjadi panggung kebersamaan, ruang pertumbuhan iman, dan bukti nyata bahwa ketika umat bersatu, segala hal menjadi mungkin. Keberhasilan acara ini tak lepas dari kerja keras OMK Wilayah Sang Timur, yang tidak hanya menunjukkan kapasitas organisasi mereka, tetapi juga kedewasaan iman yang terus bertumbuh.
Tim Konsumsi dengan sabar mempersiapkan konsumsi untuk semua hadirin
Dengan tema Berkelana: Bersama Kembali ke Jalan Allah, umat diajak tidak hanya merayakan Paskah secara lahiriah, tetapi juga menghayatinya sebagai perjalanan rohani bersama. Dalam canda, tawa, haru, dan doa, mereka kembali menemukan Tuhan dalam kebersamaan, dalam seni, dan dalam setiap wajah sesama.
OMK Wilayah Sang Timur
Semoga semangat Paskah ini terus menyala dalam kehidupan umat Wilayah Sang Timur — menuntun langkah mereka untuk terus berkelana bersama Tuhan, hari demi hari.