KWT Mentari Belajar Membuat Ecoprint

Bukti kebesaran Tuhan terpatri pada ecoprint. Dedaunan ciptaanNya dapat menghasilkan motif indah pada selembar kain. Setiap jenis tanaman bisa memunculkan warna yang berbeda. Sungguh luar biasa!

Keunikan pembuatan motif kain dengan bahan-bahan alami ini menarik minat ibu-ibu KWT (Kelompok Wanita Tani) Mentari untuk mempelajarinya. Alhasil, KWT Mentari kemudian mengundang Ibu Sih Sujati untuk berbagi ilmu kepada para ibu.

Sebanyak 15 anggota KWT Mentari mengikuti pelatihan pembuatan ecoprint dengan teknik pengukusan bersama Ibu Sih Sujati. Pelatihan ini berlangsung pada hari Minggu, 13 Juli 2025 di Gazebo GMBA.

Olah kreativitas

Sebelum sesi praktik, Ibu Jati — sapaan akrab Ibu Sih Sujati, menjelaskan sejumlah prinsip dasar. Di antaranya, motif akan lebih mudah tercipta menggunakan daun dengan kandungan tanin tinggi.

“Misalnya daun lanang, daun jati, daun talok atau kersen, daun jarak dan daun eucalyptus. Yang banyak di sekitar kita misalnya daun kelor dan kenikir,” jelas Bu Jati.

Selain daun, bunga, akar, dan batang tanaman bertanin juga bisa dipakai menciptakan motif. Kreativitas kita akan menghasilkan motif yang berbeda-beda.

Pemrosesan kain

Adapun kain yang cocok untuk ecoprint adalah yang terbuat dari serat alami seperti katun, rayon, dan sutra. Kain harus melalui proses scouring, yaitu dibersihkan dari kotoran dengan merendamnya dalam larutan TRO (Turkish Red Oil).

Setelah scouring, kain diproses mordanting. Proses ini antara lain bertujuan mempermudah main menyerap zat warna tumbuhan. Selain itu, mordanting juga berfungsi menguatkan warna alami agar tidak mudah luntur.

Bahan-bahan mordant merupakan bahan ramah lingkungan seperti cuka, tawas, tunjung, soda kue dan soda ash. Kain direndam dalam larutan mordant sekitar 15 menit dan dikucek-kucek, kemudian diperas dan dijemur hingga kering. Setelah itu cuci kain dengan air kapur dan siap digunakan untuk mencetak motif.

Pemberdayaan perempuan

Ibu-ibu KWT Mentari mengikuti pelatihan dengan antusias. Menata daun, menginjak-injak daun di kain untuk mencetak motif, hingga menunggu hasil motif yang tercipta menjadi rangkaian aktivitas yang mengasyikkan. Selama menunggu kain dikukus, Bu Jati juga memberikan pelatihan membuat bros sederhana pada para peserta.

Pelatihan ecoprint kali ini merupakan salah satu kegiatan KWT Mentari yang bertujuan meningkatkan kapasitas para anggota. Secara rutin, KWT Mentari menyelenggarakan berbagai pelatihan mulai dari membuat olahan makanan hingga urban farming.

Peserta pelatihan-pelatihan tersebut tak hanya anggota, tapi juga masyarakat sekitar seperti ibu-ibu Padukuhan Karangploso. Selaras dengan tujuan awal pendiriannya saat masih bernama IKM Mentari, KWT Mentari berharap dapat berkontribusi pada pemberdayaan perempuan dan masyarakat.

Nah, seperti apa keseruan ibu-ibu KWT Mentari belajar membuat ecoprint? Simak di video berikut ini! Dan jangan lupa follow Instagram KWT Mentari @kwtmentari yaa 😀

Bonus video: Fashion Show ala KWT Mentari! ><

kunjungi Instagram komsos GMBA : https://www.instagram.com/p/DMH8WksR5LZ/?igsh=MXR1djk3MTNkajFtNg==

Kala Gereja Menyapa Umat Lansia

Wajah Mbah Marto tampak semringah. Salah satu umat lansia Lingkungan Brayat Minulya (Bramin) ini terlihat menikmati keramaian di ruang tamunya pagi itu.

Rumah warga sepuh berusia 82 tahun itu menjadi persinggahan pertama Tim Pelayanan Pendampingan Iman Umat Lansia (PIUL) GMBA pada Sabtu, 12 Juli 2025, ke Lingkungan Bramin.

Tim PIUL GMBA yang terdiri dari Bapak Mikhael Purwanto, Bapak Franz Sarjiyana, Ibu Yustina Munarti, dan Bapak Ibu Harto memang rutin menyambangi para umat sepuh di lingkungan-lingkungan.

Dalam setiap kunjungan, Tim PIUL akan mengajak para umat lansia berdoa bersama serta melakukan pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah. Hal ini juga dilakukan dalam kunjungan ke rumah Mbah Marto, yang bernama lengkap Margaretha Ngadikem Martodimejo.

Usai menyapa Mbah Marto, Tim PIUL kemudian melanjutkan anjangsana ke rumah Ibu Yohana Fransiska Sunari (65 tahun). Kedatangan Tim PIUL pun segera menyemarakkan suasana rumah Bu Nari.

Akibat stroke yang dideritanya, Bu Nari hanya mampu sesekali mengikuti ekaristi setiap hari Minggu di gereja. Bu Nari pun kini sudah tak bisa lagi datang ke sembahyangan lingkungan. Padahal, saat kondisi fisiknya masih prima, ia termasuk rajin menghadirinya.

Kunjungan Tim PIUL seolah mengobati rindu Mbah Marto dan Bu Nari akan pertemuan dengan sesama umat beriman di luar Lingkungan Bramin. Semangat pelayanan Tim PIUL GMBA sungguh patut diapresiasi. Pendampingan kepada warga sepuh terus dilakukan, walaupun mereka juga sudah masuk kategori “senior”.

Semoga Tuhan selalu memberkati Tim Pelayanan PIUL dan seluruh umat lansia GMBA.

Tim PIUL berbincang hangat dengan Bu Nari

Melampaui Batas: Prodiakon Maguwo Mengasah Homili, Meresapi Ziarah, Menikmati Indahnya Slili

Pada tanggal 12 Juli 2025, Prodiakon Gereja Maria Bunda Allah Maguwo melaksanakan sebuah kegiatan istimewa yang memadukan spiritualitas dan pengembangan diri. Perjalanan rohani dimulai dengan ziarah khusyuk ke Gua Tritis, sebuah tempat yang menawarkan kedamaian dan kedekatan dengan alam, menjadi momen refleksi dan permohonan rahmat bagi para prodiakon.

Setelah merasakan ketenangan di Gua Tritis, kegiatan dilanjutkan dengan sesi peningkatan soft skill yang sangat relevan. Bersama Romo Norbertus Sukarno Siwi, Pr. Yang bertajuk “Menciptakan Homili/Renungan yang Menarik”. Dalam sesi ini, Romo Norbertus berbagi ilmu dan pengalaman tentang bagaimana merangkai kata-kata menjadi pesan rohani yang menginspirasi, mudah dicerna, dan menyentuh hati umat. Diskusi interaktif dan latihan praktis menjadi bagian penting dari sesi ini, membekali para prodiakon dengan keterampilan komunikasi yang lebih baik dalam pelayanan gerejawi mereka.

Para prodiakon antusias mengikuti lokakarya interaktif bertajuk “Menciptakan Homili/Renungan yang Menarik”. Romo Norbertus, dengan gaya yang menginspirasi, membagikan kiat-kiat praktis dan wawasan mendalam tentang bagaimana merangkai pesan-pesan biblis menjadi renungan yang hidup, relevan, dan menyentuh hati umat. Diskusi kelompok, latihan presentasi singkat, dan umpan balik konstruktif mengisi sesi ini, membekali setiap prodiakon dengan kepercayaan diri dan keterampilan untuk menyampaikan Sabda Tuhan dengan lebih efektif.

Setelah berdinamika bersama Romo Norbertus, para prodiakon langsung menyantap hidangan yang sudah disediakan. Tentunya dengan lahap para prodiakon menyantap makanan – makanan itu, saat itu juga bertepatan dengan makan siang.

Hari yang produktif dan sarat berkah ini ditutup dengan sentuhan keindahan alam yang menawan. Para prodiakon bersama-sama menikmati panorama elok Pantai Slili. Deburan ombak yang syahdu dan hembusan angin pantai yang menyegarkan menjadi penutup sempurna bagi rangkaian kegiatan, memungkinkan mereka untuk bersantai, menjalin keakraban, dan meresapi rasa syukur atas hari yang telah dilalui. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya spiritualitas dan kompetensi para prodiakon, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dalam pelayanan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

kunjungi Instagram komsos GMBA : https://www.instagram.com/p/DMCRftRR2Ia/?igsh=bjY0MnE5ZHR2dWw2

Sarasehan Keamanan Gereja Katolik DIY: Pilar Kenyamanan dalam Beribadah


Dalam semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kenyamanan umat dalam beribadah, Gereja Katolik se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar sebuah sarasehan bertema “Keamanan Gereja sebagai Pilar Kenyamanan dalam Beribadah”. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 13 Juli 2025, bertempat di Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo.

Sarasehan ini menghadirkan Bapak Antonius Sumaryanto sebagai pemateri utama. Beliau menyampaikan pentingnya memandang keamanan bukan hanya sebagai tugas fisik, tetapi sebagai bentuk pelayanan pastoral yang mendukung suasana doa, kedamaian, dan keterbukaan dalam Gereja.

Sebanyak 15 perwakilan tim keamanan dari berbagai paroki di wilayah DIY hadir sebagai peserta inti, namun antusiasme yang tinggi membuat total peserta yang hadir mencapai 32 orang. Hal ini menunjukkan bahwa isu keamanan dalam lingkungan Gereja mendapat perhatian serius dari banyak pihak.

Salah satu hasil penting dari sarasehan ini adalah pemahaman bersama mengenai perlunya membangun sinergi keamanan yang tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dibingkai dalam suatu sistem keamanan yang terpadu dan saling mendukung antar paroki di wilayah DIY.

Dengan diadakannya sarasehan ini, diharapkan akan terbentuk sebuah jaringan komunikasi dan koordinasi antar tim keamanan Gereja, sehingga setiap umat yang datang beribadah dapat merasa lebih aman, nyaman, dan dilindungi.

Acara ini menjadi langkah awal yang sangat berarti untuk menjadikan keamanan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan menggereja, yang tidak hanya menjaga fisik, tetapi juga melindungi suasana rohani umat Allah.

Hasil dokumentasi dapat menghubungi administrasi melalui email sebagai berikut : gmbamaguwo@gmail.com

Doa Rutin Lingkungan Santo Petrus Kamis, 10 Juli 2025

Pada hari Kamis, 10 Juli 2025, umat Lingkungan Santo Petrus kembali mengadakan doa rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah Ibu Lina pada pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini dipimpin oleh Ibu Maya dan dihadiri oleh 15 umat.

Doa rutin dimulai dengan bacaan Kitab Suci, yang menjadi dasar permenungan bersama. Setelah itu, umat yang hadir saling berbagi pengalaman hidup dan refleksi pribadi melalui sesi sharing iman. Suasana penuh kehangatan, keterbukaan, dan kekeluargaan sangat terasa dalam pertemuan ini.

Kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana memperdalam iman, tetapi juga mempererat persaudaraan antarumat di lingkungan. Doa dan sharing yang dilakukan bersama menjadi penguat satu sama lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai umat beriman.

Semoga kegiatan doa rutin seperti ini terus berjalan dengan semangat dan komitmen, menjadi sumber berkat bagi seluruh anggota lingkungan.

Tuhan memberkati.

Ibadat Syukur Ngunduh Mantu: Robertus Ade Kristian & Chatarina Adinda Febrianty

Pada hari Sabtu, tanggal 5 Juli 2025, pukul 19.00 WIB, telah dilaksanakan ibadat syukur Ngunduh Mantu atas pernikahan Robertus Ade Kristian dan Chatarina Adinda Febrianty. Ibadat ini diselenggarakan di kediaman Bapak YE. Hananto dan dipimpin oleh Ibu Prodiakon Tiwik.

Acara ibadat berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh rasa syukur, di mana keluarga besar memanjatkan doa sebagai ungkapan terima kasih atas berkat sakramen pernikahan yang telah diterima oleh kedua mempelai. Ibadat ini juga menjadi momen untuk mempererat tali kasih antar keluarga, lingkungan, dan umat.

Sekitar 40 umat turut hadir dalam ibadat ini, terdiri dari umat Lingkungan Santo Petrus maupun dari lingkungan lain. Kehadiran para umat menjadi bentuk dukungan dan doa bersama untuk kehidupan rumah tangga Robertus dan Chatarina, agar senantiasa dilimpahi berkat, damai, dan kesetiaan dalam membangun keluarga Katolik yang kokoh dalam iman dan kasih.

Semoga pasangan pengantin baru ini senantiasa diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan pernikahan yang penuh sukacita, saling melengkapi, dan menjadi saksi kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat menempuh hidup baru, Robertus & Chatarina. Tuhan memberkati.

Sakramen Baptis – Minggu, 6 Juli 2025Gereja St. Maria Bunda Allah, Maguwo

Hari ini, Minggu 6 Juli 2025, menjadi hari yang penuh berkat dan sukacita di Gereja St. Maria Bunda Allah, Maguwo. Dalam suasana liturgi yang khusyuk dan hangat, dua putri kecil menerima Sakramen Baptis—tanda awal perjalanan rohani mereka sebagai anggota penuh dalam Gereja Katolik, serta awal dari hidup baru dalam Kristus.

Perayaan baptisan ini dipimpin oleh Romo Maradiyo. Pr yang dengan penuh kasih membaptis:

Madeline Keyanna Matutina, putri dari pasangan Sebastino Aviant Matutina & Felisia Eva Novalisa

dan


Constantina Kiaraa Dewi, putri dari pasangan Andreas Yogantara Gusta Perdana & Brigidha Ratna Hutami.

Melalui air baptisan yang kudus, Madeline dan Constantina kini telah menerima rahmat keselamatan, diangkat sebagai anak-anak Allah, dan menjadi bagian dari tubuh mistik Kristus. Gereja menyambut mereka dengan penuh cinta sebagai anggota baru dalam komunitas umat beriman.

Baptisan bukan hanya sebuah tradisi atau seremoni, tetapi sebuah sakramen—tanda nyata dari kasih Allah yang melampaui segalanya. Hari ini, kasih itu hadir secara nyata dalam hidup Madeline dan Constantina, yang kini telah dimeteraikan dalam iman yang akan mereka kembangkan bersama keluarga dan Gereja.

Kami bersyukur atas komitmen orang tua yang telah mempersembahkan anak-anak mereka kepada Tuhan, dengan harapan agar kelak mereka bertumbuh menjadi pribadi yang setia, penuh kasih, dan membawa terang di tengah dunia. Semoga kasih dan pengharapan yang terpancar dalam baptisan hari ini menjadi awal dari perjalanan iman yang kokoh, dan hidup mereka selalu diberkati serta dipenuhi rahmat Tuhan.

Selamat datang dalam keluarga besar Gereja Katolik, Madeline dan Constantina. Kami mendoakan agar kalian senantiasa dipelihara dalam kasih Tuhan dan dikelilingi oleh teladan hidup yang baik dari keluarga, para pembimbing rohani, dan komunitas gereja.

link foto :

https://drive.google.com/drive/folders/1_RtGH86Ojkp74Li_4ZIGpQXJrufLYHip


Baptism at St. Mary Mother of God Church

Sacrament of Baptism – Sunday, July 6, 2025
St. Mary Mother of God Church, Maguwo

This Sunday, July 6, 2025, was a day filled with joy, grace, and sacred meaning at St. Mary Mother of God Church in Maguwo. In a solemn and warm liturgical celebration, two precious daughters received the Sacrament of Baptism—the beautiful beginning of their spiritual journey as full members of the Catholic Church, and their new life in Christ.

The baptismal rite was lovingly led by Father Maradiyo, who baptized:

Madeline Keyanna Matutina, daughter of Sebastino Aviant Matutina & Felisia Eva Novalisa


Constantina Kiaraa Dewi, daughter of Andreas Yogantara Gusta Perdana & Brigidha Ratna Hutami.

Through the holy waters of Baptism, Madeline and Constantina have been reborn as children of God, cleansed by grace, and united with the Body of Christ. The Church joyfully welcomes them as new members of our community of faith.

Baptism is not merely a tradition or ritual—it is a sacred sacrament, a visible sign of God’s invisible love and saving grace. Today, that divine love touched the lives of these two little girls in a profound and everlasting way, marking the beginning of a life that will be nurtured in faith, love, and hope.

We are deeply grateful to the parents for their faith and dedication in presenting their daughters to be baptized, trusting in God’s promises and choosing to raise them in the light of the Gospel. May Madeline and Constantina grow into strong and loving individuals, guided by the example of their families and supported by the wider Church community.

Welcome, Madeline and Constantina, to the family of God. May your lives be forever blessed by His presence, protected by His grace, and enriched by the love of all who walk this journey of faith with you.


foto bisa di download di link :

https://drive.google.com/drive/folders/1_RtGH86Ojkp74Li_4ZIGpQXJrufLYHip

Yustina Munarti: “More than words, She proclaims life “

“More than words, she proclaims life.”Her name may not often be heard from the pulpit or in the media, but to many children and parishioners in her community, she is deeply significant. Yustina Munarti, a humble 73-year-old woman, has made her life a true offering to God—through quiet yet profound work: her ministry as a catechist.

Her journey of faith began in 1968, when she wholeheartedly received the Sacrament of Baptism and embraced the Catholic faith. From that moment, seeds of love for God and others began to grow within her, slowly but surely taking root in every step of her life.

In March 1980, at the young age of 27, she experienced a stirring in her heart. She witnessed a reality that deeply moved her: children in her neighborhood wandering aimlessly, without spiritual guidance, without anyone to accompany them in faith. It was a scene that many might consider ordinary—but not Yustina. To her, it was God speaking through the restlessness in her heart.

Encouraged by her own child, she decided to step into the Lord’s vineyard and become a catechist. She didn’t just want to teach—she wanted to accompany, to live the faith, and to proclaim God’s love in its most tangible form: presence.

Being a catechist has never been an easy path. Challenges and hardships came and went. Not every child was easy to reach, not every parent was supportive, and not every environment was encouraging. But for Yustina, these were not stumbling blocks—they were stepping stones to rely more fully on God. She learned that every soul touched by Christ’s love—even just one—is a great victory in her ministry.

Her joy cannot be measured in words. She feels her life has been enriched through simple yet meaningful experiences: seeing the children she once guided grow into people of faith, with some even continuing in her footsteps of service.

The days continue to pass, yet her spirit never fades. At the age of 73, Yustina remains present—with her smile, her laughter, and her burning passion. She is a living testament that ministry is not about age, but about love—love that asks for nothing in return, only to give, give, and keep giving.

“I will offer this life in the Lord’s vineyard,” she declares firmly. And it’s more than just words—that’s exactly what she has lived for decades, through her faithfulness, sincerity, and humility. She has not only taught the faith through words, but lived it with her whole being.Because for her, proclaiming the Gospel is not merely about teaching. It is a way of life.


Yustina Munarti: “Lebih dari kata, Ia mewartakan hidup”

“Lebih dari kata, ia mewartakan hidup.”Nama itu mungkin tak sering terdengar dari mimbar atau media, namun bagi banyak anak dan umat di komunitasnya, sosoknya begitu berarti. Yustina Munarti, seorang perempuan sederhana berusia 73 tahun, telah menjadikan hidupnya persembahan sejati bagi Tuhan—melalui karya sunyi, namun mendalam: pelayanan sebagai katekis.

Perjalanan imannya dimulai pada tahun 1968, saat ia dengan sepenuh hati menerima Sakramen Baptis dan memeluk iman Katolik. Dari situ, benih kasih kepada Tuhan dan sesama mulai tumbuh dalam dirinya, perlahan tapi pasti mengakar kuat dalam setiap langkah hidupnya.

Pada Maret 1980, di usia yang masih muda—27 tahun—sebuah panggilan batin mengetuk hatinya. Ia melihat kenyataan yang menyentuh nuraninya: anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya berkeliaran tanpa tujuan, tanpa pendamping rohani, tanpa bimbingan iman. Suatu pemandangan yang bagi banyak orang mungkin dianggap biasa, namun tidak bagi Yustina. Di sanalah ia merasa bahwa Tuhan sedang berbicara melalui kegelisahan hatinya.

Dengan dorongan dari anaknya sendiri, ia memutuskan melangkah ke ladang Tuhan, menjadi seorang katekis. Ia bukan hanya ingin mengajar, tetapi lebih dari itu—ia ingin mendampingi, menghidupi iman, dan mewartakan kasih Allah dalam bentuk paling nyata: kehadiran.

Menjadi katekis bukanlah jalan yang selalu mudah. Duka dan tantangan silih berganti. Tidak semua anak mudah disentuh hatinya, tidak semua orang tua peduli, dan tidak semua lingkungan mendukung. Namun bagi Ibu Yustina, semua itu bukan batu sandungan, melainkan batu loncatan untuk semakin mengandalkan Tuhan. Ia belajar bahwa setiap jiwa yang disentuh oleh kasih Kristus—meski hanya satu—adalah kemenangan besar dalam pelayanan.

Sukacitanya pun tak dapat diukur dengan kata. Ia merasa hidupnya diperkaya oleh pengalaman-pengalaman sederhana namun penuh makna: melihat anak-anak yang dulu ia bimbing kini tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang beriman, bahkan ada yang meneruskan jejak pelayanannya.

Hari-hari pun terus berlalu, namun semangatnya tak pernah padam. Di usianya yang ke-73, Ibu Yustina tetap hadir dengan senyum, tawa, dan semangat yang membara. Ia adalah gambaran nyata bahwa pelayanan bukan soal usia, melainkan soal cinta—cinta yang tak pernah menuntut balasan, hanya memberi, memberi, dan terus memberi.

Saya akan mempersembahkan hidup ini di ladang Tuhan,” tuturnya dengan mantap. Dan bukan hanya perkataan belaka—itulah yang selama puluhan tahun telah ia wujudkan, lewat kesetiaan, ketulusan, dan kerendahan hati. Ia bukan hanya mengajarkan iman dengan kata-kata, tetapi menghidupinya dengan seluruh dirinya.Karena baginya, mewartakan Injil bukan semata soal pengajaran. Itu adalah cara hidup.

“Pertemuan Prodiakon: Menguatkan Semangat, Meneguhkan Panggilan”

Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Hari ini, Minggu 6 Juli 2025, Gazebo Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo menjadi tempat yang penuh kehangatan dan semangat pelayanan, saat para prodiakon mengadakan pertemuan rutin bulanan. Pertemuan ini menjadi momen penting untuk memperkuat koordinasi, merefleksikan pelayanan yang telah berjalan, dan menyusun langkah-langkah ke depan demi pelayanan yang lebih mantap.

Pertemuan dipimpin langsung oleh Koordinator Prodiakon Stasi, Bapak Ignatius Sunaryo, dan dihadiri oleh 18 prodiakon serta 4 suster yang ikut hadir dan memberikan dukungan rohani dalam suasana persaudaraan dan kebersamaan yang akrab.

Agenda utama mencakup:
Evaluasi tugas-tugas pelayanan prodiakon, baik dalam pelayanan liturgi, kunjungan umat, maupun pelayanan komuni,
Pembahasan program kerja ke depan, dengan fokus pada efektivitas, semangat melayani, dan peningkatan kualitas koordinasi.

Dari diskusi yang terbuka dan penuh semangat, lahirlah berbagai masukan serta peneguhan yang membangun. Hasilnya, program kerja yang disusun menjadi lebih matang dan terarah, serta tekad bersama untuk menjadikan pelayanan prodiakon di Stasi Maguwo semakin kuat, terstruktur, dan penuh kasih.

Semoga pertemuan hari ini menjadi penguat semangat dan kesetiaan dalam pelayanan, serta menjadi wujud nyata dari iman yang bekerja dalam kasih.


St. Mary Mother of God Station, Maguwo

Today, Sunday, July 6, 2025, the gazebo of St. Mary Mother of God Church in Maguwo served as a peaceful and spirit-filled setting for the monthly meeting of Eucharistic Ministers—a moment to reflect, coordinate, and renew their commitment to ministry.

The meeting was led by Mr. Ignatius Sunaryo, Coordinator of the Eucharistic Ministers, and was attended by 18 lay ministers and 4 religious sisters who came to offer support and spiritual presence in a warm, fraternal atmosphere.

The meeting covered two key areas:
Evaluation of recent ministerial duties, including liturgical service, communion distribution, and pastoral visits,
Discussion of future work plans, focused on improving effectiveness, nurturing the heart of service, and building stronger coordination.

Open dialogue and shared reflection led to a clearer, more focused plan for upcoming activities. The group agreed to move forward with renewed spirit—committed to making the ministry in Maguwo more organized, intentional, and filled with compassion.

May today’s gathering strengthen not only the coordination of tasks, but also the spiritual bonds among all who serve—so that their ministry may truly reflect the love and light of Christ.

Rapat Dewan Harian Plus Stasi Maguwo – 5 Juli 2025

Sabtu malam, 5 Juli 2025, di ruang Gazebo Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo menjadi tempat berlangsungnya Rapat Dewan Harian Plus Stasi Maguwo, sebuah pertemuan strategis yang mempertemukan jajaran Dewan Harian, para Ketua Wilayah, serta seluruh Ketua Lingkungan di Stasi Maguwo.

Rapat ini menjadi momen penting untuk menyelaraskan arah pelayanan dan memperkuat semangat sinergi di antara para penggerak umat. Dalam suasana yang hangat dan penuh keterbukaan, berbagai hal pokok disampaikan secara sistematis oleh masing-masing bidang dan tim kerja.

Agenda utama rapat meliputi:
Pemaparan Program Rutin dan Program Garapan Dewan Harian Stasi Tahun 2025, yang menjadi kerangka besar arah pastoral.
Presentasi Program Kerja dari Enam Bidang Pelayanan:
Liturgi – penguatan partisipasi umat dalam perayaan iman,
Litbang (Penelitian dan Pengembangan) – arah pengembangan pastoral berbasis data,
Rumah Tangga – dukungan logistik dan tata kelola sarana prasarana,
Paguyuban – penguatan komunitas dan relasi umat,
Pewartaan – pelayanan katekese dan komunikasi iman,
Kemasyarakatan – keterlibatan aktif umat dalam bidang sosial dan kemanusiaan.

Salah satu poin penting yang turut dipaparkan adalah buku pedoman pengelolaan dana sosial (Danpamis) yang telah dirancang oleh Bidang Kemasyarakatan, dan telah disetujui oleh Romo Paroki. Buku pedoman ini disusun khusus untuk Stasi Maguwo, sebagai panduan transparan, akuntabel, dan berbasis semangat pelayanan untuk mengelola dana sosial secara bijak.

Tak kalah penting, dalam rapat ini juga disampaikan update terkait penyusunan proposal Master Plan Gereja Stasi Maguwo, yang kini sedang dalam proses untuk dimintakan tanda tangan Bapak Uskup Keuskupan Agung Semarang. Ini menjadi langkah besar dalam merintis pembangunan fasilitas gereja yang lebih representatif dan sesuai kebutuhan umat masa kini dan masa depan.

Sebagai penutup, Dewan Harian juga menginformasikan bahwa GMBA kini telah memiliki website resmi yang aktif dan menarik, sebagai media komunikasi, dokumentasi, dan pewartaan digital. Para Ketua Lingkungan dan Wilayah dimohon untuk ikut aktif menghidupkan konten web melalui partisipasi admin lingkungan, agar informasi kegiatan umat bisa tersampaikan secara luas dan terdokumentasi dengan baik.

Rapat berlangsung dengan lancar, terbuka, dan penuh semangat pelayanan. Semoga setiap butir keputusan dan arahan yang disepakati malam itu menjadi landasan kuat bagi pelayanan Stasi Maguwo yang makin tertata, kolaboratif, dan misioner di tahun-tahun mendatang.


Stasi Maguwo Core Council & Leaders Meeting – July 5, 2025

On the evening of Saturday, July 5, 2025, in the Gazebo of St. Mary Mother of God Church in Maguwo hosted an important gathering: the Core Council Plus Meeting, bringing together the Core Council of the Stasi, Area Coordinators, and all Neighborhood Leaders (Ketua Lingkungan).

This strategic meeting served as a forum for alignment, coordination, and collective reflection, strengthening the sense of unity and shared responsibility among pastoral leaders. The tone of the evening was open, warm, and focused—allowing each sector to share updates and visions for the year ahead.

Key highlights of the meeting included:
A detailed presentation of routine programs and main initiatives by the 2025 Core Council, outlining the pastoral direction for the year.
Program updates from six key pastoral commissions:
Liturgy – enhancing community participation in liturgical life,
Research & Development (Litbang) – fostering data-based growth,
Household Affairs – managing infrastructure and logistics,
Community Life (Paguyuban) – strengthening relationships and togetherness,
Evangelization – catechesis and spiritual communication,
Social Ministry – expanding care and social involvement within and beyond the church.

A particularly meaningful part of the meeting was the introduction of the Danpamis Handbook—a new social fund management guideline, developed specifically for Stasi Maguwo by the Social Ministry team and officially approved by the Parish Priest. This document provides a clear, responsible, and service-oriented framework for handling community-based funds.

The meeting also featured an important update on the ongoing Master Plan proposal for Stasi Maguwo Church, which is now entering the final phase before being submitted for official approval and signature by the Archbishop of Semarang. This milestone reflects the community’s vision to build a more representative, functional, and sacred space for worship and service.

Lastly, participants were encouraged to actively engage with the newly launched official GMBA website, which now serves as a digital home for parish communications, documentation, and evangelization. All local neighborhood leaders are invited to support content creation and share community updates regularly through the platform,ensuring that the vibrancy of parish life is well-documented and widely shared.

The meeting ended on a note of unity, commitment, and shared hope. May every decision and collaboration from this gathering bear fruit for a stronger, more organized, and mission-driven Stasi Maguwo in the years ahead.