Sembayangan Rutin Lingkungan St. Gabriel : “Menjadi Saksi Kebangkitan dalam Kebersamaan”

Sembayangan rutin Lingkungan Santo Gabriel yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan kembali diadakan pada Kamis, 9 April, bertempat di rumah keluarga Bapak Sidiq. Ibadat dimulai pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Bapak Candra, Bapak Manik, serta Saudara Darius. Sebanyak 32 umat hadir, terdiri dari orang tua, remaja, hingga anak-anak, yang bersama-sama mengikuti ibadat dengan penuh kebersamaan.

Bacaan Injil malam itu diambil dari Lukas 24:35–48 dengan tema: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.” Dalam renungan disampaikan bahwa Yesus yang bangkit hadir secara nyata, bukan sekadar gambaran atau pemikiran semata. Ia hadir dengan tubuh-Nya, bahkan membawa luka-luka sebagai tanda kasih-Nya yang nyata bagi manusia. Dari sini kita diingatkan bahwa luka dan penderitaan hidup kita pun dapat menjadi bagian dari karya kasih Tuhan. Yesus juga membuka pikiran para murid untuk memahami Kitab Suci, mengajak kita semua untuk semakin mendalami Sabda Allah sebagai dasar iman. Iman yang bertumbuh bukan hanya dari perasaan, tetapi dari pengenalan yang semakin dalam akan firman Tuhan.

Dalam sesi sharing, beberapa umat dengan tulus membagikan pengalaman iman mereka, yang semakin menguatkan dan menghidupkan suasana kebersamaan malam itu. Di akhir bacaan, kita kembali diingatkan akan panggilan sebagai saksi Kristus yang bangkit, yang diutus untuk membawa damai, pengampunan, dan harapan di tengah kehidupan sehari-hari.

Sembayangan berlangsung dengan lancar dan khidmat. Setelah ibadat, umat melanjutkan kebersamaan dalam suasana santai, menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh tuan rumah sambil bercengkerama dan mempererat tali persaudaraan. Ketua lingkungan juga menyampaikan beberapa pengumuman penting dan pemberian jaminan hidup (jadup) dari stasi untuk Bapak Sidiq.

Acara ditutup pada pukul 20.30 WIB. Bapak Ketua Lingkungan mewakili seluruh umat menyampaikan terima kasih kepada keluarga Bapak Sidiq atas kebaikan dan keramahtamahannya dalam menerima seluruh umat.

Ibadat Memule 1000 Hari Ibu Yasenta Surajiati Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan

Umat Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan Ibadat Memule 1000 hari mengenang berpulangnya Ibu Yasenta Surajiati dalam suasana yang khidmat dan penuh doa.

Ibadat dipimpin oleh prodiakon, Bapak Naryo, yang dengan penuh penghayatan membimbing umat dalam rangkaian doa dan permenungan. Umat yang hadir cukup banyak, mulai dari OMK, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para lansia. Kehadiran lintas generasi ini menunjukkan rasa kebersamaan dan kepedulian dalam mendampingi keluarga yang berduka.

Selain umat dari Lingkungan Yohanes Pembaptis, ibadat ini juga dihadiri oleh beberapa umat dari lingkungan lain yang turut hadir untuk memberikan dukungan dan doa. Kehadiran mereka semakin menegaskan eratnya persaudaraan dalam kehidupan menggereja.

Selama ibadat berlangsung, umat mengikuti setiap bagian dengan penuh khusyuk. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan harapan agar almarhumah Ibu Yasenta Surajiati memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan.

Ibadat memule 1000 hari ini tidak hanya menjadi momen mengenang, tetapi juga kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman akan kehidupan kekal serta mempererat tali persaudaraan di tengah komunitas.

Semoga melalui doa bersama ini, kasih Tuhan senantiasa menyertai keluarga dan seluruh umat yang hadir.

Sembayangan Rutin dan PWK Lingkungan St. Gabriel: Meneguhkan Iman dalam Kebersamaan

Lingkungan St. Gabriel mengadakan sembahyangan rutin pada Kamis, 26 Maret, bertempat di rumah keluarga Bapak Robby Handoko. Kegiatan ini dihadiri oleh 22 umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.

Sembahyangan kali ini bertepatan dengan kegiatan PWK, sehingga umat hadir lebih awal untuk melaksanakan pembayaran iuran wajib, antara lain iuran APBU, Prolenan, GKH Pendidikan, Dahar Romo, dan arisan. Para petugas telah bersiap dan melayani proses pembayaran dengan tertib hingga seluruh kewajiban umat terselesaikan.

Setelah seluruh proses administrasi selesai, sembahyangan pun dimulai dan dipimpin oleh Ibu Ika, Ibu Intan, serta Ibu Ana. Bacaan Injil pada malam itu diambil dari Yohanes 8:51–59. Dalam renungan, umat diajak untuk merefleksikan “batu-batu” yang mungkin masih digenggam dalam hati, yakni sikap menghakimi atau menolak ketika kehendak Tuhan tidak sejalan dengan logika dan keinginan manusia. Umat diingatkan bahwa sering kali manusia lebih memilih rasa aman dalam aturan yang kaku daripada kebebasan dalam kasih yang menuntut pertobatan dan perubahan hidup.

Melalui permenungan ini, umat diajak untuk semakin percaya kepada Yesus dengan berani melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi yang fana, serta berpegang teguh pada firman-Nya yang membawa kehidupan. Ditekankan pula bahwa mengenal Yesus bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai Tuhan yang hidup, yang menyelamatkan manusia dari maut terdalam, yaitu keterpisahan kekal dari kasih Allah.

Setelah sembahyangan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan laporan dari masing-masing seksi serta penyampaian pengumuman penting oleh ketua lingkungan, khususnya terkait tugas-tugas lingkungan dalam persiapan Pekan Suci Paskah. Acara kemudian ditutup dengan kebersamaan menikmati hidangan ringan dan minuman yang telah disediakan oleh tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.

Demikian rangkaian kegiatan sembahyangan rutin Lingkungan St. Gabriel yang telah berlangsung dengan lancar dan penuh makna. Semoga melalui kebersamaan ini, iman umat semakin diteguhkan dan semangat pelayanan serta persaudaraan terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan memberkati.

instagram https://www.instagram.com/reel/DWaN_dokzVS/?igsh=eXE1cnF1ZnFnODk1

Pentingnya Pedoman dalam Sebuah Gerakan dalam Terang Kisah Para Rasul

Pertemuan APP 4

Hari Kamis, 19 Maret 2026, Lingkungan Elisabeth mengadakan Sembahyangan Lingkungan APP ke-4, dan juga Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan di Rumah Bapak Sugiyono di Kradenan. Sebelum Pertemuan APP dimulai, umat menyelesaikan administrasi, arisan, lotre dan lain-lain. Setelah dirasa cukup, baru sembahyangan dimulai. Pada Pertemuan kali ini umat diajak untuk menyadari pentingnya pedoman dalam sebuah gerakan, agar setiap usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, teratur, dan menghasilkan buah yang nyata.

Bacaan dari Kisah Para Rasul 6:1–7 menggambarkan situasi jemaat perdana yang mulai berkembang pesat. Dalam perkembangan tersebut, muncul persoalan mengenai pembagian bantuan kepada para janda, di mana terjadi ketidakadilan yang menimbulkan keluhan. Para rasul tidak mengabaikan masalah ini, melainkan mencari solusi yang bijaksana dan terarah.

Mereka kemudian menetapkan suatu pedoman dengan memilih tujuh orang yang penuh Roh dan hikmat untuk melayani kebutuhan tersebut. Para rasul sendiri tetap fokus pada tugas utama mereka, yaitu doa dan pelayanan firman. Pembagian tugas ini menunjukkan bahwa sebuah gerakan yang baik membutuhkan aturan, struktur, dan pedoman yang jelas agar setiap orang dapat menjalankan perannya dengan maksimal.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa tanpa pedoman yang jelas, sebuah gerakan dapat mengalami kekacauan, ketidakadilan, bahkan perpecahan. Sebaliknya, dengan adanya pedoman yang disepakati bersama, pelayanan dapat berjalan lebih efektif, tertib, dan membawa kebaikan bagi semua pihak.

Dalam kehidupan umat saat ini, baik di lingkungan, paroki, maupun masyarakat, pedoman sangat diperlukan. Pedoman membantu kita untuk tetap fokus pada tujuan bersama, menjaga keadilan, serta memastikan bahwa setiap orang dilayani dengan baik. Pedoman juga menjadi sarana untuk membangun kerja sama, saling percaya, dan tanggung jawab bersama.

Melalui Pertemuan APP 4 ini, umat diajak untuk tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi juga menghargai dan mengikuti pedoman yang ada. Bahkan lebih dari itu, umat didorong untuk terlibat dalam menyusun dan menghidupi pedoman tersebut demi kebaikan bersama.

Akhirnya, seperti jemaat perdana yang semakin bertumbuh karena keteraturan dan kesatuan, demikian pula kita diharapkan mampu membangun komunitas yang kuat, terarah, dan penuh kasih. Dengan pedoman yang jelas dan semangat pelayanan, setiap gerakan yang kita lakukan akan semakin mencerminkan karya Tuhan di tengah dunia.

Instagram : https://www.instagram.com/p/DWILtWfD9Zy/

Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian dan Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial dalam Terang Lukas 16:19–31

Pertemuan APP 3

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026, umat lingkungan Elisabeth mengikuti Sembahyangan Lingkungan APP 3 di kediaman Bapak Donal di Kradenan. Dalam APP ketiga ini, mengambil tema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial”. Aksi Puasa Pembangunan (APP) merupakan waktu yang tepat bagi umat Katolik untuk memperbarui hidup melalui pertobatan, doa, dan tindakan kasih. Umat diajak untuk meninggalkan sikap ketidakpedulian dan mengembangkan tanggung jawab sosial sebagai wujud nyata dari iman.

Dalam Pertemuan APP kali ini, mengambil bacaan Injil dari Lukas 16:19–31 tentang orang kaya dan Lazarus, yang memberikan pesan yang sangat kuat. Dikisahkan seorang kaya hidup dalam kemewahan setiap hari, sementara di depan pintunya terbaring Lazarus, seorang miskin yang penuh luka dan sangat membutuhkan pertolongan. Ironisnya, orang kaya itu tidak melakukan apa pun. Ia tidak menyiksa Lazarus, tetapi ia juga tidak peduli—dan justru di situlah letak kesalahannya.

Perumpamaan ini menegaskan bahwa sikap ketidakpedulian dapat membawa konsekuensi serius. Orang kaya itu akhirnya mengalami penderitaan setelah kematian, bukan karena kejahatan besar yang dilakukannya, tetapi karena ia menutup mata dan hati terhadap penderitaan sesamanya. Sementara itu, Lazarus yang menderita justru memperoleh penghiburan.

Melalui kisah ini, kita diajak untuk bercermin: apakah kita juga sering bersikap seperti orang kaya itu? Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita melihat orang yang membutuhkan bantuan, tetapi memilih untuk tidak terlibat. Kita merasa itu bukan tanggung jawab kita, atau kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

Pertemuan APP 3 mengingatkan bahwa iman sejati tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Mengasihi Tuhan harus tampak dalam kepedulian terhadap sesama. Mengembangkan tanggung jawab sosial berarti berani membuka mata, hati, dan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita dipanggil untuk tidak hanya “melihat”, tetapi juga “bertindak”.

Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan dalam berbagai cara sederhana: berbagi dengan yang kekurangan, memberi perhatian kepada yang kesepian, serta terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan. Hal-hal kecil ini, jika dilakukan dengan kasih, menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, melalui Pertemuan APP 3 ini, umat diajak untuk sungguh-sungguh meninggalkan sikap acuh tak acuh dan mulai hidup dalam kepedulian. Kisah orang kaya dan Lazarus menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbuat baik ada sekarang, di dunia ini. Jangan sampai kita menyesal karena melewatkan kesempatan untuk mengasihi.


https://youtube.com/watch?v=m3F7DgLTU7A&feature=shared

Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata

Pertemuan APP 2

Pada Kamis, 5 Maret 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Santa Elisabeth kembali berkumpul dalam sembahyangan rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Yunius. Kurang lebih 28 umat hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana penuh kehangatan sungguh terasa ketika umat yang datang saling bersalaman dan memberikan senyuman hangat satu sama lain.

Sebelum pertemuan APP dimulai, terdapat beberapa kegiatan administrasi rutin yang biasanya dilakukan oleh umat bersama bendahara lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi iuran Gerakan Kemurahan Hati sebesar Rp2.000,00, iuran APBU, pengumpulan amplop Partisipasi Paskah, serta presensi kehadiran umat.

Setelah urusan administrasi selesai, umat pun diajak memasuki suasana permenungan melalui Pertemuan APP. Malam ini merupakan Pertemuan APP yang ke-2, yang diawali dengan lagu pembuka “Tuhan Dikau Naungan Hidupku”. Tema Pertemuan APP yang dipimpin oleh Bapak Bagio dan Bapak Hari pada malam ini adalah “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya”.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk semakin memahami berbagai potensi dana sosial Gereja. Selain itu, umat juga didorong untuk ikut mengakses dan memanfaatkan dana tersebut bagi mereka yang membutuhkan, khususnya kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel).

Dalam pertemuan ini, Bapak Bagio dan Bapak Hari mengajak umat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi menjadi empat kelompok. Diskusi dan sharing menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Umat saling bertukar pendapat serta berbagi pengalaman dan pemikiran yang membangun.

Suasana sharing pun semakin hangat ketika setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Kelompok 1 diwakili oleh Bapak Donal. Kelompok 2 diwakili oleh Mas Agus. Kelompok 3 diwakili oleh Bapak Agus. Kelompok 4 diwakili oleh Ibu Giyarti.

Setelah renungan APP selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, yaitu menyantap hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh keluarga tuan rumah. Pada kesempatan ini, Ketua Lingkungan juga menyampaikan beberapa informasi, baik informasi lingkungan maupun informasi dari Stasi.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga pertemuan sembahyangan pun berakhir. Pertemuan Kamis depan akan dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Donal dengan petugas doa Bapak Dedy dan Ibu Vera.

Sebelum pulang, umat bersama-sama melakukan penghitungan amplop Partisipasi Paskah. Kegiatan doa lingkungan pada malam ini ditutup oleh Bapak Bagio dengan berpamitan kepada keluarga tuan rumah.

Semoga melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santa Elisabeth semakin tergerak hatinya untuk mewujudkan wajah sosial Gereja dengan mengawali pemanfaatan dan pengelolaan dana sosial Gereja demi membantu sesama yang membutuhkan.

Sampai jumpa di Pertemuan APP ke-3 Lingkungan Santa Elisabeth.
Berkah Dalem.

Video Dokumenter

Instagram : https://www.instagram.com/p/DV6QBj6D7_-/

Pentingnya Pedoman dalam Gerakan Pelayanan Sosial: Pertemuan APP 4 Lingkungan St. Gabriel

Pertemuan APP ke-4 Lingkungan St. Gabriel dilaksanakan pada hari Kamis, 12 Maret 2026, bertempat di rumah keluarga Ibu Sumarni. Pertemuan ini dipimpin oleh Ibu Intan, Ibu Lita, dan Ibu Mariana Kilok. Kegiatan dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh 25 orang umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.

Tema Pertemuan APP 4 adalah “Pentingnya Pedoman dalam Sebuah Gerakan.” Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk memahami bahwa kegiatan pelayanan sosial bagi kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel) membutuhkan pedoman yang jelas. Pedoman tersebut berisi semangat dasar, prinsip kerja, nilai-nilai, serta petunjuk teknis yang menjadi dasar dalam menjalankan kegiatan pelayanan sosial. Pedoman tersebut memiliki peran penting sebagai petunjuk arah dalam pelaksanaan kegiatan, alat kontrol, alat ukur keberhasilan, serta sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam penggunaan dana sosial Gereja, yaitu dana APP. Dana APP yang dikumpulkan melalui kotak APP sangat bermanfaat bagi umat yang termasuk dalam kelompok KLMTD. Bahkan, dana tersebut tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh umat Katolik saja, tetapi juga dapat membantu umat beriman lainnya agar mereka dapat merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Dalam pemanfaatannya, dana APP tidak boleh digunakan secara sembarangan atau menurut kehendak pribadi. Oleh karena itu, diperlukan pedoman bersama agar pemanfaatan dana APP dalam pelayanan sosial kepada KLMTD dapat dilakukan secara tepat, yaitu tepat sasaran, tepat kebutuhan, dan tepat waktu. Pedoman tersebut juga membantu agar penggunaan dana APP dapat dilakukan secara terkontrol, terkoordinasi, serta dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, sekaligus untuk menghindari terjadinya praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

Melalui bacaan Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 6:1–7, umat disadarkan bahwa pelayanan sosial bagi kaum miskin sebenarnya telah ada sejak masa Gereja Perdana dan menjadi salah satu ciri khas kehidupan umat Kristiani. Umat Gereja Perdana telah terbiasa melaksanakan gerakan berbagi berkat. Gereja pada masa sekarang dipanggil untuk melanjutkan praktik baik tersebut dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi saat ini. Kegiatan pelayanan sosial Gereja, khususnya dalam pemanfaatan dana APP bagi umat KLMTD, hendaknya dilaksanakan oleh kelompok atau tim yang dapat dipercaya dan memiliki hati untuk melayani, bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Selain itu, mereka juga perlu memiliki hikmat, yaitu kebijaksanaan dan kecerdasan dalam memanfaatkan dana APP sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan, sehingga dana tersebut benar-benar bermanfaat secara tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Dalam sesi sharing, beberapa umat menyampaikan berbagai usulan aksi APP yang dapat dilakukan oleh lingkungan. Usulan-usulan tersebut telah ditampung dan akan dibahas lebih lanjut dalam Pertemuan APP ke-5.

Setelah rangkaian pertemuan APP selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian beberapa pengumuman dan ramah tamah yang telah disediakan oleh tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan

instagram https://www.instagram.com/reel/DWaNyNZEzLW/?igsh=Z2o2bnI4dGM2d21n

Membangun Kepedulian dan Tanggung Jawab Sosial melalui Pertemuan APP Ke-3 Lingkungan St. Gabriel

Lingkungan St. Gabriel telah melaksanakan Pertemuan APP ke-3 pada hari Kamis, 5 Maret, bertempat di rumah keluarga Bapak Candra. Pertemuan dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh 28 umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua. Kegiatan ini dipimpin oleh Bapak Candra, Bapak Thobias, dan Bapak Anang.

Tema yang diangkat dalam pertemuan ketiga ini adalah “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial.” Melalui tema ini, umat diajak untuk menyadari bahwa rahmat Tuhan yang telah diterima merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan kebaikan, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Dalam pendalaman yang dilakukan, umat diajak untuk memahami bahwa Allah mengaruniakan berkat kepada manusia tidak hanya dalam bentuk harta atau materi, tetapi juga dalam bentuk lain seperti kesehatan, pengetahuan, serta jejaring relasi. Semua itu merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan kebaikan dalam kehidupan bersama.

instagram https://www.instagram.com/reel/DV2s2UKgLVF/?igsh=MXE0ZWx4OWRqa245dQ==

Pertemuan APP 2 dan PWK Lingkungan St. Gabriel: Memahami dan Mengawal Dana Sosial Gereja

Kamis, 26 Februari, Lingkungan St. Gabriel menyelenggarakan Pertemuan APP 2 yang dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan PWK. Kegiatan bertempat di rumah keluarga Bapak Candra dan dimulai pada pukul 19.00 WIB. Pertemuan ini dihadiri oleh 33 umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.

Sehubungan dengan pelaksanaan APP yang berbarengan dengan kegiatan PWK, umat hadir lebih awal untuk memenuhi kewajiban pembayaran iuran, antara lain iuran prolenan, caos dahar romo, GKH Pendidikan, APBU, PIA, serta arisan. Setelah seluruh proses pembayaran selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Pertemuan APP 2.

Pertemuan dipimpin oleh Ibu Maria Suprapti, Ibu Ana, dan Ibu Watik dengan mengangkat tema “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya.” Dalam pemaparan materi dijelaskan secara rinci mengenai dana sosial yang dikelola pada berbagai tingkatan, yaitu tingkat paroki, kevikepan, keuskupan, hingga tingkat nasional (KWI). Penjelasan mencakup nama dana, sumber perolehan dana, serta peruntukan dan sasaran penggunaannya. Seluruh materi disampaikan secara jelas dan transparan.

Adapun tujuan pertemuan ini adalah agar umat semakin memahami potensi dana sosial paroki serta terdorong untuk ikut mengawal pemanfaatannya sehingga sungguh-sungguh tepat sasaran bagi mereka yang membutuhkan. Gereja mengelola dana sosial untuk disalurkan secara bertanggung jawab demi kesejahteraan KLMTD.

Selain itu, ditegaskan bahwa dana sosial memiliki sifat “siap habis” secara bertanggung jawab, artinya dana tersebut tidak untuk ditimbun, melainkan segera dimanfaatkan sesuai kebutuhan yang ada. Dana sosial juga bersifat inklusif, tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan, termasuk saudara-saudari yang berbeda agama.

Dalam sesi sharing, umat menyampaikan bahwa melalui pemaparan tersebut mereka menjadi lebih memahami fungsi dan peruntukan dana sosial Gereja. Umat menyadari bahwa setiap persembahan yang diberikan kepada Gereja pada hakikatnya juga diperuntukkan bagi sesama yang membutuhkan. Oleh karena itu, umat diharapkan senantiasa berpartisipasi secara aktif dalam setiap program Gereja dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.

Setelah Pertemuan APP 2 berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan agenda PWK. Dalam sesi ini disampaikan laporan dari masing-masing seksi serta berbagai pengumuman penting yang perlu diketahui oleh seluruh umat. Penyampaian laporan dan informasi berlangsung dengan tertib dan penuh perhatian dari para peserta yang hadir. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, dilaksanakan ramah tamah bersama dengan menikmati hidangan makan malam yang telah disediakan oleh tuan rumah. Suasana kebersamaan terjalin dengan hangat dan penuh kekeluargaan. Seluruh rangkaian acara pada malam hari itu selesai pada pukul 21.00 WIB.

Ibadat Memule 2 Tahun Ibu Maria Waginem Budiarjo (Mbah Budi)

Pada Minggu, 22 Februari, umat Lingkungan St. Gabriel mengadakan ibadat memule untuk memperingati dua tahun meninggalnya Ibu Maria Waginem Budiarjo, yang akrab disapa Mbah Budi. Ibadat dimulai pukul 19.00 WIB dan diikuti oleh sekitar 40 umat, terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.

Ibadat dipimpin oleh Prodiakon Bapak Junedi, dibantu beberapa tim petugas. Acara diawali dengan lagu pembuka yang menghadirkan suasana hening dan khidmat, dilanjutkan dengan doa pembuka serta rangkaian ibadat sabda.

Dalam Bacaan I (2 Korintus 1:3-7) ditegaskan bahwa Allah adalah “Sumber Segala Penghiburan” yang penuh belas kasih dan senantiasa menguatkan kita dalam setiap penderitaan. Penghiburan dari Allah itu memampukan kita untuk turut menghibur sesama, sehingga pengalaman pergumulan hidup dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Sementara itu, dalam Bacaan Injil (Yohanes 15:9-12) umat diajak untuk tinggal di dalam kasih Kristus dengan cara saling mengasihi, sebagaimana Yesus telah lebih dahulu mengasihi kita. Kasih bukan sekadar perasaan, tetapi menjadi gaya hidup yang nyata dan diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Ibadat berlangsung dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Setelah ibadat sabda, umat melanjutkan dengan doa Rosario. Seluruh rangkaian doa selesai pada pukul 20.00, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana berupa minum dan snack bersama, serta penyampaian pengumuman lingkungan.

Acara ditutup dengan ucapan terima kasih dari pihak keluarga atas kehadiran dan doa-doa umat. Umat kemudian berpamitan dalam suasana kebersamaan yang hangat.

Semoga Ibu Maria Waginem Budiarjo (Mbah Budi) beristirahat dalam damai abadi dan memperoleh kebahagiaan kekal di sisi Tuhan. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi penghiburan, kekuatan, dan berkat dalam setiap langkah kehidupan.