Sembahyangan Penuh Makna dalam Nuansa Kartini dan Kebersamaan

Lingkungan St. Gabriel kembali menyelenggarakan kegiatan sembahyangan rutin yang dirangkaikan dengan pertemuan PWK pada hari Kamis, 23 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Paul dan dimulai pada pukul 19.00 WIB. Umat yang hadir berjumalh 35 orang, terdiri dari orangtua, remaja dan anak-anak.

Ada suasana yang sedikit berbeda dan lebih meriah pada pertemuan kali ini. Dalam rangka memperingati Hari Kartini, umat yang hadir mengenakan busana tradisional. Ibu-ibu dan anak-anak perempuan tampil anggun dengan kebaya, sementara bapak-bapak mengenakan surjan atau lurik. Nuansa budaya yang kental ini menambah kehangatan dan kebersamaan di antara umat, sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap semangat perjuangan Kartini.

Karena pertemuan ini juga bertepatan dengan agenda PWK, umat diimbau untuk hadir lebih awal. Hal ini dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai kewajiban administrasi, seperti pembayaran iuran caos dahar romo, prolenan, GKH pendidikan, APBU, tabungan PIA, tabungan ziarah, serta arisan. Umat dengan penuh kesadaran menyelesaikan kewajibannya sebelum ibadat dimulai, sehingga saat sembahyangan berlangsung, suasana dapat lebih fokus dan khidmat.

Sembahyangan dipimpin oleh Ibu Nana, Ibu Fifin, dan Aurel. Ibadat berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh kekhusyukan. Umat mengikuti setiap rangkaian doa dan nyanyian dengan baik, menciptakan suasana doa yang mendalam dan menyentuh hati.

Dalam permenungan Injil hari ini, yang diambil dari Yohanes 6:44–51, umat diajak untuk merenungkan makna kehidupan sejati yang berasal dari Allah. Yesus menegaskan bahwa hidup manusia akan mencapai kepenuhannya ketika ia datang kepada Allah dan tinggal dalam kasih-Nya. Sabda ini mengingatkan bahwa relasi dengan Allah bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan sumber kehidupan yang sesungguhnya.

Yesus juga menyampaikan bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya jika tidak ditarik oleh Bapa. Dari sini kita diajak untuk semakin menyadari bahwa iman yang kita miliki bukanlah semata-mata hasil usaha pribadi, melainkan tanggapan atas kasih Allah yang lebih dahulu hadir dalam hidup kita. Sering kali kita merasa bahwa kita yang mencari Allah, namun sesungguhnya Allah-lah yang terlebih dahulu mencari, memanggil, dan menuntun kita.

Kesadaran ini mengajak kita untuk tidak hanya berhenti pada iman sebagai pengakuan, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari. Iman yang hidup tampak dalam sikap kasih, kepedulian, dan kesetiaan kita dalam menjalani kehidupan. Selain itu, Yesus juga menyatakan diri-Nya sebagai Roti Hidup yang turun dari surga. Melalui Ekaristi, umat diingatkan bahwa Kristus adalah sumber kekuatan yang memberi kita daya untuk terus berjalan dalam iman, harapan, dan kasih di tengah berbagai dinamika kehidupan.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian laporan dari masing-masing seksi serta beberapa pengumuman penting yang berkaitan dengan kegiatan lingkungan ke depan. Suasana kemudian beralih menjadi lebih santai dan penuh keakraban. Umat menikmati hidangan ringan dan minuman yang telah disediakan oleh tuan rumah, sambil saling bercengkerama dan berbagi cerita.

Kebersamaan semakin terasa hangat ketika umat saling berinteraksi tanpa sekat, mempererat relasi sebagai satu keluarga dalam lingkungan. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, terutama bagi umat yang mungkin jarang bertemu.

Tidak ketinggalan, sebagai bagian dari perayaan Hari Kartini, umat mengabadikan momen kebersamaan dengan berfoto bersama. Busana tradisional yang dikenakan menambah keindahan dokumentasi malam itu, sekaligus menjadi kenangan yang berkesan.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan baik dan penuh sukacita, hingga akhirnya ditutup pada pukul 20.30 WIB. Pertemuan ini tidak hanya menjadi sarana doa bersama, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan antarumat.

Semoga semangat kebersamaan, pelayanan, dan iman yang telah dibangun dalam pertemuan ini dapat terus tumbuh dan menjadi berkat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai jumpa kembali dalam sembahyangan dan pertemuan lingkungan berikutnya.

Misa Syukur Hari Minggu Kerahiman Ilahi

Minggu, 12 April 2026. Dalam suasana penuh rahmat dan sukacita, sebanyak 202 devosan dari Kevikepan Yogyakarta Timur berkumpul untuk merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Perayaan ini menjadi momen istimewa untuk semakin menyelami kasih Allah yang tanpa batas, yang senantiasa terbuka bagi setiap hati yang bertobat dan percaya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penerimaan Sakramen Tobat, sebagai wujud kerendahan hati umat dalam memohon pengampunan dan pembaruan diri. Dalam keheningan pengakuan dosa, setiap pribadi diajak untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang tulus, membuka diri terhadap rahmat kerahiman-Nya.

Puncak perayaan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Ignatius Fajar Kristianto, PR bersama Rm. FX Murdi Susanto, PR. Dalam homili yang mendalam, umat diingatkan bahwa kerahiman Allah bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi dan dibagikan kepada sesama.

Hari Minggu Kerahiman Ilahi menjadi kesempatan istimewa bagi umat untuk memperoleh indulgensi penuh, sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan Yesus kepada Santa Faustina. Rahmat ini menjadi tanda nyata betapa besar kasih Allah yang ingin memulihkan dan menyelamatkan umat-Nya secara utuh.

Perayaan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perutusan. Setiap devosan diutus untuk menjadi saluran kerahiman Allah di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Dengan semangat kasih, pengampunan, dan kepedulian, umat dipanggil untuk menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih di dunia.

Mari kita terus hidup dalam semangat Kerahiman Ilahi: mengampuni tanpa batas, mengasihi tanpa syarat, dan melayani dengan tulus. Karena melalui kita, kasih Allah dapat semakin nyata dirasakan oleh sesama.

Sembayangan Rutin Lingkungan St. Gabriel : “Menjadi Saksi Kebangkitan dalam Kebersamaan”

Sembayangan rutin Lingkungan Santo Gabriel yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan kembali diadakan pada Kamis, 9 April, bertempat di rumah keluarga Bapak Sidiq. Ibadat dimulai pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Bapak Candra, Bapak Manik, serta Saudara Darius. Sebanyak 32 umat hadir, terdiri dari orang tua, remaja, hingga anak-anak, yang bersama-sama mengikuti ibadat dengan penuh kebersamaan.

Bacaan Injil malam itu diambil dari Lukas 24:35–48 dengan tema: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.” Dalam renungan disampaikan bahwa Yesus yang bangkit hadir secara nyata, bukan sekadar gambaran atau pemikiran semata. Ia hadir dengan tubuh-Nya, bahkan membawa luka-luka sebagai tanda kasih-Nya yang nyata bagi manusia. Dari sini kita diingatkan bahwa luka dan penderitaan hidup kita pun dapat menjadi bagian dari karya kasih Tuhan. Yesus juga membuka pikiran para murid untuk memahami Kitab Suci, mengajak kita semua untuk semakin mendalami Sabda Allah sebagai dasar iman. Iman yang bertumbuh bukan hanya dari perasaan, tetapi dari pengenalan yang semakin dalam akan firman Tuhan.

Dalam sesi sharing, beberapa umat dengan tulus membagikan pengalaman iman mereka, yang semakin menguatkan dan menghidupkan suasana kebersamaan malam itu. Di akhir bacaan, kita kembali diingatkan akan panggilan sebagai saksi Kristus yang bangkit, yang diutus untuk membawa damai, pengampunan, dan harapan di tengah kehidupan sehari-hari.

Sembayangan berlangsung dengan lancar dan khidmat. Setelah ibadat, umat melanjutkan kebersamaan dalam suasana santai, menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh tuan rumah sambil bercengkerama dan mempererat tali persaudaraan. Ketua lingkungan juga menyampaikan beberapa pengumuman penting dan pemberian jaminan hidup (jadup) dari stasi untuk Bapak Sidiq.

Acara ditutup pada pukul 20.30 WIB. Bapak Ketua Lingkungan mewakili seluruh umat menyampaikan terima kasih kepada keluarga Bapak Sidiq atas kebaikan dan keramahtamahannya dalam menerima seluruh umat.

Ibadat Memule 1000 Hari Ibu Yasenta Surajiati Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan

Umat Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan Ibadat Memule 1000 hari mengenang berpulangnya Ibu Yasenta Surajiati dalam suasana yang khidmat dan penuh doa.

Ibadat dipimpin oleh prodiakon, Bapak Naryo, yang dengan penuh penghayatan membimbing umat dalam rangkaian doa dan permenungan. Umat yang hadir cukup banyak, mulai dari OMK, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para lansia. Kehadiran lintas generasi ini menunjukkan rasa kebersamaan dan kepedulian dalam mendampingi keluarga yang berduka.

Selain umat dari Lingkungan Yohanes Pembaptis, ibadat ini juga dihadiri oleh beberapa umat dari lingkungan lain yang turut hadir untuk memberikan dukungan dan doa. Kehadiran mereka semakin menegaskan eratnya persaudaraan dalam kehidupan menggereja.

Selama ibadat berlangsung, umat mengikuti setiap bagian dengan penuh khusyuk. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan harapan agar almarhumah Ibu Yasenta Surajiati memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan.

Ibadat memule 1000 hari ini tidak hanya menjadi momen mengenang, tetapi juga kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman akan kehidupan kekal serta mempererat tali persaudaraan di tengah komunitas.

Semoga melalui doa bersama ini, kasih Tuhan senantiasa menyertai keluarga dan seluruh umat yang hadir.

Sembayangan Rutin dan PWK Lingkungan St. Gabriel: Meneguhkan Iman dalam Kebersamaan

Lingkungan St. Gabriel mengadakan sembahyangan rutin pada Kamis, 26 Maret, bertempat di rumah keluarga Bapak Robby Handoko. Kegiatan ini dihadiri oleh 22 umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.

Sembahyangan kali ini bertepatan dengan kegiatan PWK, sehingga umat hadir lebih awal untuk melaksanakan pembayaran iuran wajib, antara lain iuran APBU, Prolenan, GKH Pendidikan, Dahar Romo, dan arisan. Para petugas telah bersiap dan melayani proses pembayaran dengan tertib hingga seluruh kewajiban umat terselesaikan.

Setelah seluruh proses administrasi selesai, sembahyangan pun dimulai dan dipimpin oleh Ibu Ika, Ibu Intan, serta Ibu Ana. Bacaan Injil pada malam itu diambil dari Yohanes 8:51–59. Dalam renungan, umat diajak untuk merefleksikan “batu-batu” yang mungkin masih digenggam dalam hati, yakni sikap menghakimi atau menolak ketika kehendak Tuhan tidak sejalan dengan logika dan keinginan manusia. Umat diingatkan bahwa sering kali manusia lebih memilih rasa aman dalam aturan yang kaku daripada kebebasan dalam kasih yang menuntut pertobatan dan perubahan hidup.

Melalui permenungan ini, umat diajak untuk semakin percaya kepada Yesus dengan berani melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi yang fana, serta berpegang teguh pada firman-Nya yang membawa kehidupan. Ditekankan pula bahwa mengenal Yesus bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai Tuhan yang hidup, yang menyelamatkan manusia dari maut terdalam, yaitu keterpisahan kekal dari kasih Allah.

Setelah sembahyangan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan laporan dari masing-masing seksi serta penyampaian pengumuman penting oleh ketua lingkungan, khususnya terkait tugas-tugas lingkungan dalam persiapan Pekan Suci Paskah. Acara kemudian ditutup dengan kebersamaan menikmati hidangan ringan dan minuman yang telah disediakan oleh tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.

Demikian rangkaian kegiatan sembahyangan rutin Lingkungan St. Gabriel yang telah berlangsung dengan lancar dan penuh makna. Semoga melalui kebersamaan ini, iman umat semakin diteguhkan dan semangat pelayanan serta persaudaraan terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan memberkati.

instagram https://www.instagram.com/reel/DWaN_dokzVS/?igsh=eXE1cnF1ZnFnODk1

Pentingnya Pedoman dalam Sebuah Gerakan dalam Terang Kisah Para Rasul

Pertemuan APP 4

Hari Kamis, 19 Maret 2026, Lingkungan Elisabeth mengadakan Sembahyangan Lingkungan APP ke-4, dan juga Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan di Rumah Bapak Sugiyono di Kradenan. Sebelum Pertemuan APP dimulai, umat menyelesaikan administrasi, arisan, lotre dan lain-lain. Setelah dirasa cukup, baru sembahyangan dimulai. Pada Pertemuan kali ini umat diajak untuk menyadari pentingnya pedoman dalam sebuah gerakan, agar setiap usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, teratur, dan menghasilkan buah yang nyata.

Bacaan dari Kisah Para Rasul 6:1–7 menggambarkan situasi jemaat perdana yang mulai berkembang pesat. Dalam perkembangan tersebut, muncul persoalan mengenai pembagian bantuan kepada para janda, di mana terjadi ketidakadilan yang menimbulkan keluhan. Para rasul tidak mengabaikan masalah ini, melainkan mencari solusi yang bijaksana dan terarah.

Mereka kemudian menetapkan suatu pedoman dengan memilih tujuh orang yang penuh Roh dan hikmat untuk melayani kebutuhan tersebut. Para rasul sendiri tetap fokus pada tugas utama mereka, yaitu doa dan pelayanan firman. Pembagian tugas ini menunjukkan bahwa sebuah gerakan yang baik membutuhkan aturan, struktur, dan pedoman yang jelas agar setiap orang dapat menjalankan perannya dengan maksimal.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa tanpa pedoman yang jelas, sebuah gerakan dapat mengalami kekacauan, ketidakadilan, bahkan perpecahan. Sebaliknya, dengan adanya pedoman yang disepakati bersama, pelayanan dapat berjalan lebih efektif, tertib, dan membawa kebaikan bagi semua pihak.

Dalam kehidupan umat saat ini, baik di lingkungan, paroki, maupun masyarakat, pedoman sangat diperlukan. Pedoman membantu kita untuk tetap fokus pada tujuan bersama, menjaga keadilan, serta memastikan bahwa setiap orang dilayani dengan baik. Pedoman juga menjadi sarana untuk membangun kerja sama, saling percaya, dan tanggung jawab bersama.

Melalui Pertemuan APP 4 ini, umat diajak untuk tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi juga menghargai dan mengikuti pedoman yang ada. Bahkan lebih dari itu, umat didorong untuk terlibat dalam menyusun dan menghidupi pedoman tersebut demi kebaikan bersama.

Akhirnya, seperti jemaat perdana yang semakin bertumbuh karena keteraturan dan kesatuan, demikian pula kita diharapkan mampu membangun komunitas yang kuat, terarah, dan penuh kasih. Dengan pedoman yang jelas dan semangat pelayanan, setiap gerakan yang kita lakukan akan semakin mencerminkan karya Tuhan di tengah dunia.

Instagram : https://www.instagram.com/p/DWILtWfD9Zy/

Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian dan Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial dalam Terang Lukas 16:19–31

Pertemuan APP 3

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026, umat lingkungan Elisabeth mengikuti Sembahyangan Lingkungan APP 3 di kediaman Bapak Donal di Kradenan. Dalam APP ketiga ini, mengambil tema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial”. Aksi Puasa Pembangunan (APP) merupakan waktu yang tepat bagi umat Katolik untuk memperbarui hidup melalui pertobatan, doa, dan tindakan kasih. Umat diajak untuk meninggalkan sikap ketidakpedulian dan mengembangkan tanggung jawab sosial sebagai wujud nyata dari iman.

Dalam Pertemuan APP kali ini, mengambil bacaan Injil dari Lukas 16:19–31 tentang orang kaya dan Lazarus, yang memberikan pesan yang sangat kuat. Dikisahkan seorang kaya hidup dalam kemewahan setiap hari, sementara di depan pintunya terbaring Lazarus, seorang miskin yang penuh luka dan sangat membutuhkan pertolongan. Ironisnya, orang kaya itu tidak melakukan apa pun. Ia tidak menyiksa Lazarus, tetapi ia juga tidak peduli—dan justru di situlah letak kesalahannya.

Perumpamaan ini menegaskan bahwa sikap ketidakpedulian dapat membawa konsekuensi serius. Orang kaya itu akhirnya mengalami penderitaan setelah kematian, bukan karena kejahatan besar yang dilakukannya, tetapi karena ia menutup mata dan hati terhadap penderitaan sesamanya. Sementara itu, Lazarus yang menderita justru memperoleh penghiburan.

Melalui kisah ini, kita diajak untuk bercermin: apakah kita juga sering bersikap seperti orang kaya itu? Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita melihat orang yang membutuhkan bantuan, tetapi memilih untuk tidak terlibat. Kita merasa itu bukan tanggung jawab kita, atau kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

Pertemuan APP 3 mengingatkan bahwa iman sejati tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Mengasihi Tuhan harus tampak dalam kepedulian terhadap sesama. Mengembangkan tanggung jawab sosial berarti berani membuka mata, hati, dan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita dipanggil untuk tidak hanya “melihat”, tetapi juga “bertindak”.

Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan dalam berbagai cara sederhana: berbagi dengan yang kekurangan, memberi perhatian kepada yang kesepian, serta terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan. Hal-hal kecil ini, jika dilakukan dengan kasih, menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, melalui Pertemuan APP 3 ini, umat diajak untuk sungguh-sungguh meninggalkan sikap acuh tak acuh dan mulai hidup dalam kepedulian. Kisah orang kaya dan Lazarus menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbuat baik ada sekarang, di dunia ini. Jangan sampai kita menyesal karena melewatkan kesempatan untuk mengasihi.


https://youtube.com/watch?v=m3F7DgLTU7A&feature=shared

Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata

Pertemuan APP 2

Pada Kamis, 5 Maret 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Santa Elisabeth kembali berkumpul dalam sembahyangan rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Yunius. Kurang lebih 28 umat hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana penuh kehangatan sungguh terasa ketika umat yang datang saling bersalaman dan memberikan senyuman hangat satu sama lain.

Sebelum pertemuan APP dimulai, terdapat beberapa kegiatan administrasi rutin yang biasanya dilakukan oleh umat bersama bendahara lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi iuran Gerakan Kemurahan Hati sebesar Rp2.000,00, iuran APBU, pengumpulan amplop Partisipasi Paskah, serta presensi kehadiran umat.

Setelah urusan administrasi selesai, umat pun diajak memasuki suasana permenungan melalui Pertemuan APP. Malam ini merupakan Pertemuan APP yang ke-2, yang diawali dengan lagu pembuka “Tuhan Dikau Naungan Hidupku”. Tema Pertemuan APP yang dipimpin oleh Bapak Bagio dan Bapak Hari pada malam ini adalah “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya”.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk semakin memahami berbagai potensi dana sosial Gereja. Selain itu, umat juga didorong untuk ikut mengakses dan memanfaatkan dana tersebut bagi mereka yang membutuhkan, khususnya kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel).

Dalam pertemuan ini, Bapak Bagio dan Bapak Hari mengajak umat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi menjadi empat kelompok. Diskusi dan sharing menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Umat saling bertukar pendapat serta berbagi pengalaman dan pemikiran yang membangun.

Suasana sharing pun semakin hangat ketika setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Kelompok 1 diwakili oleh Bapak Donal. Kelompok 2 diwakili oleh Mas Agus. Kelompok 3 diwakili oleh Bapak Agus. Kelompok 4 diwakili oleh Ibu Giyarti.

Setelah renungan APP selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, yaitu menyantap hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh keluarga tuan rumah. Pada kesempatan ini, Ketua Lingkungan juga menyampaikan beberapa informasi, baik informasi lingkungan maupun informasi dari Stasi.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga pertemuan sembahyangan pun berakhir. Pertemuan Kamis depan akan dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Donal dengan petugas doa Bapak Dedy dan Ibu Vera.

Sebelum pulang, umat bersama-sama melakukan penghitungan amplop Partisipasi Paskah. Kegiatan doa lingkungan pada malam ini ditutup oleh Bapak Bagio dengan berpamitan kepada keluarga tuan rumah.

Semoga melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santa Elisabeth semakin tergerak hatinya untuk mewujudkan wajah sosial Gereja dengan mengawali pemanfaatan dan pengelolaan dana sosial Gereja demi membantu sesama yang membutuhkan.

Sampai jumpa di Pertemuan APP ke-3 Lingkungan Santa Elisabeth.
Berkah Dalem.

Video Dokumenter

Instagram : https://www.instagram.com/p/DV6QBj6D7_-/

Pentingnya Pedoman dalam Gerakan Pelayanan Sosial: Pertemuan APP 4 Lingkungan St. Gabriel

Pertemuan APP ke-4 Lingkungan St. Gabriel dilaksanakan pada hari Kamis, 12 Maret 2026, bertempat di rumah keluarga Ibu Sumarni. Pertemuan ini dipimpin oleh Ibu Intan, Ibu Lita, dan Ibu Mariana Kilok. Kegiatan dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh 25 orang umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.

Tema Pertemuan APP 4 adalah “Pentingnya Pedoman dalam Sebuah Gerakan.” Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk memahami bahwa kegiatan pelayanan sosial bagi kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel) membutuhkan pedoman yang jelas. Pedoman tersebut berisi semangat dasar, prinsip kerja, nilai-nilai, serta petunjuk teknis yang menjadi dasar dalam menjalankan kegiatan pelayanan sosial. Pedoman tersebut memiliki peran penting sebagai petunjuk arah dalam pelaksanaan kegiatan, alat kontrol, alat ukur keberhasilan, serta sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam penggunaan dana sosial Gereja, yaitu dana APP. Dana APP yang dikumpulkan melalui kotak APP sangat bermanfaat bagi umat yang termasuk dalam kelompok KLMTD. Bahkan, dana tersebut tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh umat Katolik saja, tetapi juga dapat membantu umat beriman lainnya agar mereka dapat merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Dalam pemanfaatannya, dana APP tidak boleh digunakan secara sembarangan atau menurut kehendak pribadi. Oleh karena itu, diperlukan pedoman bersama agar pemanfaatan dana APP dalam pelayanan sosial kepada KLMTD dapat dilakukan secara tepat, yaitu tepat sasaran, tepat kebutuhan, dan tepat waktu. Pedoman tersebut juga membantu agar penggunaan dana APP dapat dilakukan secara terkontrol, terkoordinasi, serta dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, sekaligus untuk menghindari terjadinya praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

Melalui bacaan Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 6:1–7, umat disadarkan bahwa pelayanan sosial bagi kaum miskin sebenarnya telah ada sejak masa Gereja Perdana dan menjadi salah satu ciri khas kehidupan umat Kristiani. Umat Gereja Perdana telah terbiasa melaksanakan gerakan berbagi berkat. Gereja pada masa sekarang dipanggil untuk melanjutkan praktik baik tersebut dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi saat ini. Kegiatan pelayanan sosial Gereja, khususnya dalam pemanfaatan dana APP bagi umat KLMTD, hendaknya dilaksanakan oleh kelompok atau tim yang dapat dipercaya dan memiliki hati untuk melayani, bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Selain itu, mereka juga perlu memiliki hikmat, yaitu kebijaksanaan dan kecerdasan dalam memanfaatkan dana APP sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan, sehingga dana tersebut benar-benar bermanfaat secara tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Dalam sesi sharing, beberapa umat menyampaikan berbagai usulan aksi APP yang dapat dilakukan oleh lingkungan. Usulan-usulan tersebut telah ditampung dan akan dibahas lebih lanjut dalam Pertemuan APP ke-5.

Setelah rangkaian pertemuan APP selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian beberapa pengumuman dan ramah tamah yang telah disediakan oleh tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan

instagram https://www.instagram.com/reel/DWaNyNZEzLW/?igsh=Z2o2bnI4dGM2d21n

Membangun Kepedulian dan Tanggung Jawab Sosial melalui Pertemuan APP Ke-3 Lingkungan St. Gabriel

Lingkungan St. Gabriel telah melaksanakan Pertemuan APP ke-3 pada hari Kamis, 5 Maret, bertempat di rumah keluarga Bapak Candra. Pertemuan dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh 28 umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua. Kegiatan ini dipimpin oleh Bapak Candra, Bapak Thobias, dan Bapak Anang.

Tema yang diangkat dalam pertemuan ketiga ini adalah “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial.” Melalui tema ini, umat diajak untuk menyadari bahwa rahmat Tuhan yang telah diterima merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan kebaikan, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Dalam pendalaman yang dilakukan, umat diajak untuk memahami bahwa Allah mengaruniakan berkat kepada manusia tidak hanya dalam bentuk harta atau materi, tetapi juga dalam bentuk lain seperti kesehatan, pengetahuan, serta jejaring relasi. Semua itu merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan kebaikan dalam kehidupan bersama.

instagram https://www.instagram.com/reel/DV2s2UKgLVF/?igsh=MXE0ZWx4OWRqa245dQ==