Malam Penuh Cahaya di Stasi Maguwo

Sabtu malam, 19 April 2025, udara di sekitar Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa berbeda. Ada aroma lilin, harapan, dan sukacita yang mengalir di antara langkah-langkah umat yang mulai berdatangan sejak petang.

Dan benar saja, tepat pukul 19.00 WIB, lonceng sukacita berbunyi, menandai dimulainya Perayaan Vigili Paskah, momen puncak dalam rangkaian Pekan Suci.

Perayaan yang penuh makna ini dipimpin dengan penuh khidmat oleh Romo Agustinus Wahyu Anggoro, SJ, yang malam itu tampak begitu bersinar… meski tentu kalah terang dibanding 1245 umat yang hadir, masing-masing membawa cahaya lilin dan semangat kebangkitan dalam hati.

Api Baru, Harapan Baru

Upacara dimulai di luar gereja, di bawah langit Maguwo yang bersahabat. Api baru dinyalakan, lilin Paskah dikukuhkan, dan dari nyala kecil itu, cahaya perlahan menjalar dari satu umat ke umat lainnya. Satu demi satu, cahaya kecil itu bersatu, menjadi lautan terang yang mengusir gelap.

Bukan cuma simbol, tapi pesan yang nyata: bahwa terang Kristus tak pernah padam, bahkan di tengah dunia yang sering terasa remang.

Sabda, Pembaruan, dan Sukacita

Liturgi Sabda malam itu panjang—iya, memang panjang, tapi siapa peduli? Karena setiap bacaan membawa kita menelusuri kisah cinta Tuhan dari awal penciptaan sampai janji keselamatan yang kini digenapi.

Lalu terdengarlah kidung “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi…” Gereja seketika gemuruh—lonceng berdentang, lilin altar dinyalakan, dan umat pun menyadari: Yesus telah bangkit! Dan kita semua ikut bangkit bersama-Nya

Percikan Berkat dan Sukacita

Momen pembaruan janji baptis dan percikan air suci jadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Tidak sedikit umat yang ‘kena percik’ agak deras, termasuk saya …hehehe….tapi justru itulah yang bikin tersenyum. Ada yang bercanda, “gk sekalian aja disiram…hahahaha…” tapi toh semua pulang dengan wajah bersih dan hati baru.

Liturgi Ekaristi: Saatnya Bersatu dalam Syukur

Di bagian puncak perayaan, suasana hening menyelimuti. Umat bersatu dalam Ekaristi, menerima Tubuh Kristus dengan hati yang bersinar. Musik, doa, dan permenungan malam itu benar-benar menyatu jadi satu pujian agung.

Satu per satu umat meninggalkan gereja dengan senyum, damai, dan semangat baru. Tidak hanya karena perayaan yang indah, tapi karena kita diingatkan: kita adalah umat Paskah, dan Alleluia adalah lagu kita.

Selamat Paskah untuk seluruh umat Stasi Maguwo…………….



Ibadat Tujuh Sabda: Merenungkan Kasih di Tengah Sunyi

Maguwo, Jumat 18 April 2025

Dalam keheningan pagi Jumat Agung, umat Paroki Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk mengikuti Ibadat Tujuh Sabda, sebuah ibadat yang sarat makna untuk mengenangkan tujuh perkataan terakhir Yesus di kayu salib. Ibadat dilaksanakan pada pagi hari, dan menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian perayaan Tri Hari Suci.

Yang menjadi keistimewaan tahun ini, seluruh ibadat dibawakan dengan penuh penghayatan oleh para remaja Orang Muda Katolik (OMK) Maguwo. Dengan semangat pelayanan yang tulus, para OMK membacakan teks-teks sabda, doa-doa pengantar, serta menyampaikan renungan singkat untuk setiap sabda. Renungan yang disampaikan mencerminkan suara dan hati generasi muda, yang mencoba memahami dan meresapi makna penderitaan serta kasih pengorbanan Kristus dalam konteks hidup mereka saat ini.

Setiap renungan yang dibawakan tidak hanya menyentuh hati, tapi juga mengajak umat untuk melihat kembali bagaimana Sabda Yesus masih berbicara dengan kuat hingga hari ini—tentang pengampunan, pengharapan, cinta, dan penyerahan total kepada Bapa.

Suasana ibadat semakin syahdu dengan kehadiran Tim Cantorez, yang mengisi bagian musikal sepanjang ibadat. Lagu-lagu yang dibawakan dengan penuh perasaan mengalun lembut, menyatu dengan suasana reflektif, membawa umat masuk lebih dalam ke dalam permenungan. Tim Cantorez tidak hanya mengiringi, tetapi benar-benar memperkuat suasana kontemplatif lewat paduan suara yang tenang dan menyentuh.

Ibadat ini bukan hanya menjadi sarana doa, tetapi juga momen edukatif rohani bagi OMK dan seluruh umat. Gereja sungguh dihidupkan oleh semangat keterlibatan lintas generasi—di mana para remaja mengambil peran aktif, dan para penggiat musik turut mempersembahkan talenta mereka untuk memuliakan Tuhan.

Lewat Ibadat Tujuh Sabda yang penuh penghayatan ini, umat diajak untuk tidak hanya mengingat penderitaan Kristus, tetapi juga menjawab kasih-Nya dengan hidup yang penuh cinta, pengampunan, dan pelayanan.

terimakasih

Davina, Helena, Fira, Valent, Jannete, Sasia, Kian, Otto, Yudha



Ibadat Jumat Agung: Dalam Sunyi dan Hujan, Umat Merenungkan Salib-Nya

Maguwo, 18 April 2025 — Suasana langit yang kelabu dan rintik hujan yang turun sejak siang hari tidak menghalangi semangat umat  Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo untuk mengikuti Ibadat Jumat Agung, yang dilangsungkan pada pukul 15.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Fajar Kristianto, Pr.

Sekitar 1.092 umat hadir memenuhi gereja, menghayati momen suci mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Ibadat yang berlangsung hingga pukul 17.00 WIB ini dilaksanakan dalam suasana hening, penuh penghayatan, dan sarat makna.

Jumat Agung adalah satu-satunya hari dalam tahun liturgi Gereja di mana Ekaristi tidak dirayakan. Sebagai gantinya, umat diajak untuk merenungkan kisah sengsara Yesus , mendengarkan renungan, menyampaikan doa umat yang merangkul seluruh dunia, dan kemudian menghormati salib—tanda kasih yang mengalahkan dosa dan kematian.

Meski di luar hujan turun, di dalam gereja suasana terasa hangat oleh kehadiran umat yang tekun berdoa dan merenung. Suara bacaan dan doa menggema lembut, berpadu dengan tetes hujan yang jatuh di atap, seolah ikut meratapi penderitaan Sang Juruselamat. Salib yang dihadirkan dan dihormati umat menjadi titik pusat perhatian, simbol pengorbanan agung dan kasih tanpa batas.

Dalam homilinya, Romo Fajar mengajak umat untuk tidak hanya melihat salib sebagai lambang penderitaan, tetapi sebagai tanda harapan, bahwa dalam setiap luka dan pergumulan hidup, ada kasih Tuhan yang menyelamatkan. Ia menekankan bahwa Jumat Agung bukan hanya hari duka, tetapi juga hari kasih—kasih yang ditunjukkan dengan cara paling radikal: pengorbanan diri sepenuhnya.

Perayaan ini menjadi momen permenungan yang dalam, di mana setiap umat diajak untuk diam, melihat ke dalam hati, dan bertanya: “Apa makna salib dalam hidupku hari ini?”

Di tengah hujan, Gereja tetap penuh. Umat tetap hadir. Hati tetap terbuka. Karena kasih Tuhan, bahkan di hari tergelap, tetap bersinar.



Kamis Putih: Malam Penuh Cinta, Kaki, dan Kontemplasi

 

 

 

Maguwo, 17 April 2025

Dalam suasana yang khusyuk dan penuh penghayatan, umat Paroki Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk merayakan Kamis Putih, perayaan yang mengawali rangkaian Tri Hari Suci menjelang Hari Raya Paskah. Perayaan Ekaristi dimulai tepat pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr., dan dihadiri oleh 1.214 umat yang memadati area gereja.

 

Kamis Putih mengajak umat untuk mengenangkan dua momen penting dalam kehidupan Yesus: Perjamuan Terakhir, di mana Ia menetapkan Sakramen Ekaristi, dan pembasuhan kaki murid-murid-Nya, sebuah tindakan kasih dan kerendahan hati yang luar biasa. Dalam homilinya, Romo Ngatmo menekankan bahwa peristiwa Kamis Putih bukan sekadar kenangan sejarah, tetapi panggilan nyata bagi setiap umat untuk menghadirkan kasih melalui pelayanan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Bagian pembasuhan kaki menjadi salah satu momen yang menyentuh, ketika Romo Ngatmo membasuh kaki perwakilan umat sebagai simbol kasih yang tidak pilih-pilih, kasih yang melayani dan merendahkan diri, seperti yang telah diteladankan oleh Kristus.

Setelah liturgi Ekaristi, perayaan dilanjutkan dengan pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan sementara, melambangkan Yesus yang memasuki saat-saat penderitaan di Taman Getsemani. Gereja kemudian memasuki suasana hening, mengajak umat untuk masuk dalam doa dan permenungan yang lebih dalam.

Usai misa, kegiatan dilanjutkan dengan tuguran atau doa berjaga, yang dibagi dalam empat sesi oleh perwakilan wilayah: Sang Timur, Loyola, Don Bosco, dan De Britto. Masing-masing wilayah memimpin umat dalam doa dan pujian, menjaga suasana tenang dan sakral sebagai bentuk kesetiaan menemani Yesus dalam pergulatan-Nya di malam menjelang penangkapan.

Perayaan Kamis Putih ini menjadi pengingat yang kuat bahwa iman bukan hanya soal ke gereja, tetapi juga soal hadir, melayani, dan mencintai—dengan rendah hati, seperti Kristus telah lakukan.

 

dokumen bisa di akses melalui :

https://drive.google.com/drive/folders/1UBbJWGnaTZVreJn9tEy1k9o6csEiTsbw



Minggu Palma di St. Maria Bunda Allah Maguwo:

Arak-arakan Iman, Daun Palma, dan Langkah Menuju Kasih Sejati

 

Minggu, 13 April 2025. Udara pagi masih sejuk, tapi halaman belakang Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo sudah ramai sejak sebelum matahari sepenuhnya naik. Ada yang datang sambil menenteng daun palma dari kebun, ada yang bawa yang sudah dianyam mirip bunga (atau ayam jago? siapa yang tahu…), dan tentu saja ada yang datang sambil bisik-bisik, “Ini bener nggak sih bawa palem dari pot ruang tamu?”

 

Tepat pukul 07.00 WIB, umat berkumpul dan siap memulai Perayaan Minggu Palma yang dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr. Di tengah semilir angin pagi dan iringan lagu pujian, Romo memberkati daun palma yang menjadi simbol semangat kita menyambut Kristus, Sang Raja Damai.
Tapi jangan salah, ini bukan cuma acara tabur daun lalu pulang. Ini awal dari sebuah perjalanan iman!

Usai diberkati, ratusan umat mulai berarak dari halaman belakang menuju dalam gereja. Suasananya mirip pawai kecil—tapi bukan pawai biasa. Ini pawai iman. Ada yang melambai-lambaikan daun palma dengan semangat (bahkan lebih semangat dari suporter bola), ada yang jalan sambil nyanyi, dan ada yang… sudah ngos-ngosan di tengah jalan tapi tetap semangat karena “ini kan cuma pemanasan sebelum jalan salib!”

 

Setibanya di dalam gereja, suasana menjadi lebih hening dan sakral. Dalam homilinya, Romo Maradiyo mengajak umat untuk tidak hanya jadi pengikut Kristus saat dielu-elukan, tapi juga saat Ia memanggul salib.

“Kita semua hari ini ikut arak-arakan penuh sukacita. Tapi jangan berhenti di sini. Siapkah kita tetap berjalan bersama Yesus, meski jalan-Nya penuh luka?”

Seketika, suasana berubah. Semua kembali merenung—bahwa daun palma hanyalah awal dari sebuah perjalanan yang lebih dalam: perjalanan menuju salib, dan akhirnya menuju kebangkitan.

 

Perayaan ini tidak hanya mengingatkan kita pada kisah dua ribu tahun lalu, tetapi juga mengajak kita semua untuk menghidupi semangatnya hari ini: dalam keluarga, di tempat kerja, di jalanan, dan dalam komunitas. Bahwa iman bukan hanya tentang seremoni, tapi keberanian untuk terus mengikuti Yesus, bahkan saat dunia tak lagi bersorak.

 

 

Minggu Palma kali ini bukan hanya penuh daun, tapi juga penuh harapan. Umat pulang dengan tangan menggenggam palma—dan hati menggenggam semangat baru untuk menyambut Pekan Suci dengan iman yang hidup.

 


Gladi Bersih Kamis Putih: Menyambut Pekan Suci dengan Persiapan Penuh Iman

Dalam rangka menyambut perayaan Kamis Putih, seluruh petugas liturgi dan tim pendukung di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo telah melaksanakan gladi bersih pada hari Senin, 7 April 2025. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan menuju Pekan Suci, khususnya untuk memastikan kelancaran dan kekhidmatan perayaan Kamis Putih yang akan dilangsungkan beberapa hari ke depan.

Gladi bersih ini melibatkan berbagai unsur pelayan liturgi, antara lain: prodiakon, lektor, misdinar, petugas pembasuhan kaki, tim koor, tata laksana, serta tim dokumentasi dan soundsystem. Setiap unsur mendapat arahan langsung dari tim liturgi paroki, demi menjaga ketepatan tata gerak dan kekompakan seluruh pelayanan selama Misa Kamis Putih.

Secara khusus, latihan juga difokuskan pada ritus pembasuhan kaki, yang menjadi simbol kerendahan hati dan pelayanan, sebagaimana diteladankan oleh Tuhan Yesus sendiri. Melalui gladi ini, seluruh petugas diajak untuk tidak hanya memahami tugasnya secara teknis, tetapi juga menjiwai makna spiritual dari setiap bagian liturgi.

Kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh semangat, diselingi dengan evaluasi di setiap sesi latihan, sehingga seluruh kekurangan dapat diperbaiki sebelum hari perayaan tiba. Semangat pelayanan tampak jelas dalam kesungguhan para petugas menjalani latihan, meskipun harus meluangkan waktu di tengah kesibukan masing-masing.

Melalui gladi bersih ini, diharapkan perayaan Kamis Putih di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo dapat berlangsung dengan lancar, khusyuk, dan menjadi pengalaman iman yang mendalam bagi seluruh umat. Semoga setiap pelayanan yang dipersembahkan menjadi ungkapan syukur dan cinta kepada Tuhan yang lebih dahulu mengasihi dan melayani kita semua.

 

 

 


Minggu Palma: Dari Kibasan Daun ke Salib yang Dalam

Setiap tahun, umat Katolik di seluruh dunia punya “tradisi” unik di Minggu Palma: datang ke gereja, bawa daun, dan ikut prosesi keliling gereja (atau keliling halaman, kalau nggak hujan dan halaman cukup luas). Anak-anak senang karena bisa mainan daun, ibu-ibu sibuk ngatur posisi palma biar fotonya bagus, dan bapak-bapak? Tetap tenang sambil mikir: “Ini nanti palem ditaruh mana ya, jangan sampai jadi mainan kucing.”

Tapi sesungguhnya, Minggu Palma bukan cuma soal daun palma atau prosesi meriah. Ini adalah momen sakral, penuh makna, dan menjadi pintu masuk ke Pekan Suci. Gereja mengajak kita untuk mengingat kembali peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem, disambut meriah bak raja besar, padahal Ia tahu: yang menyambut dengan “Hosana!” hari ini… bisa jadi adalah orang yang berteriak “Salibkan Dia!” beberapa hari kemudian.

Bayangkan saja:
Yesus, Sang Raja Damai, datang bukan dengan iring-iringan pasukan dan musik marching band, tapi naik keledai—simbol kerendahan hati dan damai sejahtera. Sungguh tidak glamor, tapi sangat bermakna.

Dua Wajah dalam Satu Hari

Liturgi Minggu Palma juga spesial: diawali dengan suka cita, diakhiri dengan kisah sengsara. Misa dibuka dengan warna merah meriah, nyanyian semangat, dan daun palma yang dilambaikan penuh antusias. Tapi begitu bacaan Injil dimulai… umat jadi diam, suara koor mendayu-dayu, dan kita mulai masuk ke suasana serius: kisah sengsara Yesus.

Bacaan Injilnya panjang, sangat panjang—mungkin lebih panjang dari antrean pengakuan dosa minggu lalu. Tapi begitulah, karena kita diajak masuk dalam kisah cinta terbesar sepanjang sejarah: cinta yang rela menderita demi keselamatan.

Dari Daun ke Dalam

Minggu Palma mengingatkan kita: iman itu bukan soal momen manis saja, tapi soal kesetiaan dalam perjalanan panjang. Kadang kita mudah memuji Tuhan saat semuanya lancar: kerjaan oke, tagihan lunas, dan kopi nggak kepahitan. Tapi, bagaimana saat hidup terasa berat, saat kita harus ikut “memikul salib” kita masing-masing?

Nah, itulah ajakan sejati Minggu Palma:

“Berani ikut Yesus bukan hanya saat ramai dan penuh pujian, tapi juga saat jalan sepi dan penuh tantangan.”

Karena itulah, daun palma yang kita bawa bukan sekadar “souvenir misa.” Ia adalah simbol dari pilihan:
Apakah kita hanya jadi penonton dalam prosesi hidup Yesus, atau kita mau benar-benar ikut jalan bersama-Nya sampai Golgota?

Dan Akhirnya… Ada Harapan

Jangan lupa, Minggu Palma memang awal dari Pekan Suci yang penuh penderitaan, tapi ujungnya adalah Paskah! Kebangkitan! Kemenangan cinta!
Jadi kalau minggu ini kita merasa hidup kita penuh salib—entah salib kerjaan, salib rumah tangga, salib sinyal WiFi, atau salib “kenapa aku ditugaskan terus?”—ingatlah: setiap salib yang dipikul bersama Tuhan akan membawa kita pada kebangkitan.

 

 

 


Dua Berkat, Satu Sukacita: Baptis dan Peneguhan di GMBA Maguwo

Minggu 6 April 2025, suasana di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa sedikit lebih manis dan penuh senyum dari biasanya. Bukan karena pendinginnya nyala maksimal atau karena koor-nya nyanyi lagu favorit umat, tapi karena kita semua ikut menyaksikan dua momen sakral dan membahagiakan: pembaptisan satu anak dan peneguhan satu anak remaja.

Satu anak resmi “masuk anggota” penuh keluarga besar umat Allah lewat sakramen baptis. anak itu tersenyum waktu disiram air baptis bisa jadi karena kaget airnya agak dingin, tapi kami percaya itu adalah air sukacita yang membasuh dan menyegarkan jiwa. Selamat datang dalam kehidupan iman, dek! Satu langkah kecil bagimu, tapi langkah besar menuju surga

Di saat yang hampir bersamaan, seorang anak remaja kita juga menerima sakramen peneguhan tanda bahwa ia siap jadi pribadi yang lebih kokoh dalam iman. Kalau sebelumnya dibimbing, sekarang mulai siap membimbing. Walau mungkin masih suka lupa naruh kunci rumah, semoga tidak pernah lupa kalau dirinya sudah dipenuhi Roh Kudus

Kedua peristiwa ini adalah pengingat kecil bahwa Gereja bukan cuma bangunan, tapi keluarga yang terus bertumbuh. Ada yang baru bergabung, ada yang diteguhkan, dan ada kita semua yang selalu diingatkan: iman itu hidup, dan harus terus ditumbuhkan bersama.

Selamat untuk kedua anak dan keluarganya! Terima kasih juga untuk semua umat yang hadir, ikut tersenyum, dan tentu saja—ikut berdoa (meski sambil ngelirik jam, takut terlambat sarapan kedua)

 

terima kasih romo Dadang

 

 

 



Sembahyangan Rutin dan Penyerahan LPJ Kegiatan Ziarek Yubelium 2025

Pada hari Senin, 25 Februari 2025, telah dilaksanakan sembahyangan rutin sekaligus penyerahan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan Ziarek Yubelium 2025. Acara ini berlangsung di rumah keluarga Thomas Muryanto dan dipimpin oleh Ibu Aniek selaku prodiakon dari lingkungan Antonius. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 20 orang umat yang tergabung dalam lingkungan tersebut.

Usai sembahyangan, acara dilanjutkan dengan penyerahan LPJ kegiatan Ziarek Yubelium 2025. Dalam kesempatan ini, panitia penyelenggara menyampaikan laporan terkait seluruh rangkaian kegiatan ziarek yang telah berlangsung, termasuk pertanggungjawaban dana yang digunakan. Laporan tersebut diterima dengan baik oleh umat yang hadir, dan mereka mengapresiasi transparansi serta kerja keras panitia dalam mengelola kegiatan ini.

Misa Memule Mengenang 1 Tahun Berpulangnya Ibu R. Ngt Elizabeth Soeryaningsih

Pada Jumat, 31 Januari 2025, telah dilaksanakan Misa Memule untuk memperingati satu tahun berpulangnya Ibu R. Ngt Elizabeth Soeryaningsih. Misa ini dipersembahkan secara khusyuk oleh Romo Yos Bintoro Pr dan Romo V. Indra Sanjaya Pr di Perum Kadisoka Asri Blok M-3, Kadisoka. Sekitar 90 umat hadir dalam perayaan ini, yang berasal dari berbagai lingkungan, yaitu Stefanus, Gregorius, Bartolomeus, dan Antonius.

Misa dimulai pada pukul 18.00 WIB dengan suasana penuh kekhidmatan. Umat yang hadir menyatu dalam doa dan lagu-lagu pujian, menciptakan suasana yang penuh kasih dan harapan. Dalam homilinya, Romo Indra Sanjaya Pr Pr mengingatkan pentingnya mengenang dan mendoakan jiwa orang yang telah berpulang. Beliau menekankan bahwa peringatan seperti ini bukan hanya sebagai bentuk kasih sayang kepada almarhumah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk merenungkan makna hidup dan kematian dalam terang iman Kristiani.

Romo Yos Bintoro Pr melanjutkan dengan doa khusus untuk Ibu R. Ngt Elizabeth Soeryaningsih. Beliau mengajak seluruh umat untuk terus mendoakan arwah beliau agar mendapatkan tempat yang damai di sisi Tuhan. Momen ini menjadi saat yang penuh haru, di mana banyak umat terlihat menundukkan kepala dengan doa tulus.

Perayaan misa ini ditutup dengan berkat penutup dan doa bersama yang dipimpin oleh kedua romo. Setelah misa, umat berkesempatan untuk bersilaturahmi dan saling menguatkan dalam suasana kekeluargaan. Kehadiran para umat dari berbagai lingkungan menunjukkan solidaritas dan cinta kasih yang mendalam dalam komunitas Gereja.

Acara ini tidak hanya menjadi momen peringatan bagi keluarga almarhumah, tetapi juga menjadi pengingat akan nilai-nilai kebersamaan, iman, dan kasih yang terus hidup dalam komunitas umat beriman. Semoga doa dan peringatan ini membawa ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan serta damai abadi bagi jiwa Ibu R. Ngt Elizabeth Soeryaningsih. Tuhan memberkati.