
Hari Rabu, 24 September 2025 menjadi hari yang istimewa bagi umat St. Fransiskus Asisi. Malam itu, kami mendapat kunjungan dari Romo FX. Murdi Susanto, Pr., yang memimpin Misa Lingkungan bersama umat. Sebanyak 51 umat hadir dengan sukacita, memenuhi ruangan sederhana di Warung Makan Brongkos Dapur Anget, tempat misa diselenggarakan.
Pukul 19.00, misa dimulai tepat waktu. Nyanyian pembukaan mengalun merdu, dipimpin oleh organis muda lingkungan, mbak Lauda. Iringan musik sederhana membuat suasana menjadi syahdu dan penuh rasa syukur. Sejak awal, misa terasa begitu dekat dengan keseharian umat, sederhana, hangat, dan penuh makna.








Pesan Kehidupan dari Homili
Dalam homilinya, Romo Murdi mengajak umat untuk merenungkan kehidupan keluarga di lingkungan kami. Beliau dengan penuh keakraban bertanya: siapa yang tinggal seorang diri, siapa yang tinggal berdua, dan siapa yang hidup bersama keluarga lebih besar. Pertanyaan itu terdengar ringan, namun justru membuka mata kami tentang gambaran nyata keluarga umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Ternyata, sebagian besar keluarga terdiri dari tiga orang.
Dari refleksi sederhana ini, Romo menekankan pentingnya keterlibatan setiap umat dalam kegiatan lingkungan maupun di tingkat stasi. “Kehidupan Gereja hanya akan tumbuh subur bila kita bersama-sama menanam dan merawatnya,” begitu kira-kira pesan beliau yang terasa menancap dalam hati umat.





Pemberkatan Pengurus Baru
Menjelang akhir misa, suasana semakin hangat ketika Romo diperkenalkan dan kemudian memberkati pengurus baru Lingkungan St. Fransiskus Asisi periode 2026–2028. Sebagian besar umat terlibat langsung dalam kepengurusan ini, yang menunjukkan tingginya semangat kebersamaan. Romo pun menegaskan bahwa keterlibatan ini bukan hanya soal struktur, melainkan juga wujud nyata pelayanan iman di tengah umat.

Santap Malam dan Nostalgia
Usai misa, kami melanjutkan kebersamaan dengan santap malam dan ramah tamah. Aroma brongkos hangat menyambut kami, tersaji lengkap dengan nasi dan kerupuk yang renyah. Tak ketinggalan, ada kue soes potong, camilan lezat, serta buah-buahan segar yang berlimpah. Sambil makan, canda tawa dan obrolan ringan mengisi malam, menjadikan suasana semakin akrab.
Di sela-sela perbincangan, Romo Murdi sempat bernostalgia. Beliau kembali mengenang masa pelayanannya sebagai Romo Paroki di Paroki Mlati (1981–1987). Nostalgia itu muncul karena salah satu umat, Ibu Dyah bersama ibunda, ternyata pernah menjadi umat paroki beliau pada masa itu. Dengan senyum hangat, Romo bergurau ketika mengetahui bahwa Ibu Dyah kini sudah memiliki tiga anak. “Saya bersyukur masih diberi kesehatan dan kehidupan hingga bisa melihat umat saya dulu kini tumbuh bersama keluarganya,” ujar beliau.








Tanya Jawab dan Pengayaan Iman
Selain nostalgia, sesi tanya jawab juga memberi warna tersendiri. Beberapa umat mengajukan pertanyaan seputar liturgi, seperti tentang kapan sebaiknya membuat tanda salib dalam misa, serta makna tanda salib kecil di dahi, mulut, dan dada sebelum bacaan Injil. Romo menjelaskan dengan sabar, membuat kami semua lebih memahami kekayaan simbol iman Katolik.
Tidak hanya itu, Romo juga menyinggung tentang surat edaran Mahkamah Agung mengenai pernikahan beda agama. Penjelasan beliau membuka wawasan baru bagi umat, terutama terkait tantangan iman dalam kehidupan keluarga modern.
Malam yang Berkesan
Misa Lingkungan bersama Romo Murdi malam itu benar-benar meninggalkan kesan mendalam. Tidak hanya karena doa dan perayaan Ekaristi, tetapi juga karena suasana hangat, keakraban, serta pesan-pesan yang membekas di hati. Malam itu seakan menjadi pengingat bahwa iman tumbuh bukan hanya di gedung gereja, tetapi juga di ruang-ruang sederhana tempat umat berkumpul, berdoa, dan berbagi hidup bersama.
Semoga kebersamaan ini semakin mempererat relasi antar umat sekaligus hubungan dengan Romo paroki sebagai gembala yang selalu hadir menuntun kami dalam perjalanan iman.






















































