Minggu Palma selalu punya nuansa yang berbeda. Ada sukacita, ada harapan, tapi juga mulai terasa bayang-bayang penderitaan. Hari ini, Gereja mengenang peristiwa saat Yesus Kristus memasuki Kota Yerusalem dan disambut meriah oleh orang banyak dengan lambaian daun palma—tanda kemenangan, namun juga awal dari jalan salib-Nya.
Perayaan Minggu Palma di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo tahun ini dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo. sekitar 1041 Umat mulai berkumpul sejak pagi hari di halaman belakang gereja, membawa daun palma di tangan—sederhana, namun penuh makna.
Perayaan diawali dengan upacara pemberkatan daun palma. Dalam suasana yang khidmat, daun-daun palma diberkati sebagai simbol kesediaan umat untuk menyambut Kristus dalam hidup mereka—bukan hanya dalam sorak sorai, tetapi juga dalam kesetiaan.
Setelah itu, dimulailah perarakan menuju gereja. Barisan berjalan dengan tertib: diawali oleh putra-putri altar, diikuti para prodiakon, dan kemudian romo sebagai gembala umat. Langkah demi langkah perarakan ini seakan mengajak setiap orang untuk ikut masuk dalam kisah iman—bukan sekadar mengenang, tetapi mengalami.
Perayaan Ekaristi pun berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Namun puncak refleksi hari ini hadir dalam pembacaan Kisah Sengsara (Pasio). Kisah ini dibawakan dengan penghayatan oleh Mas Satria, Mbak Bunga, Mas Aremba, dan Mas Cristian. Suasana gereja menjadi hening, seolah setiap kata yang diucapkan mengajak umat untuk berhenti sejenak, merenung, dan melihat kembali makna pengorbanan.
Minggu Palma bukan sekadar awal dari Pekan Suci. Ia adalah undangan—untuk berjalan bersama, dari sorak sorai menuju salib, dari kegembiraan menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju harapan akan kebangkitan.
Gereja senantiasa membuka pintunya bagi siapa pun yang rindu untuk berdoa dan mencari keheningan di hadapan Tuhan. Di depan patung Maria Bunda Allah, umat dipersilakan datang untuk sejenak berhenti dari kesibukan, menenangkan hati, serta menyerahkan segala doa, harapan, dan pergumulan hidup.
Dalam suasana yang teduh dan penuh damai, setiap pribadi diajak untuk mengalami kehadiran Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria, yang dengan kasih keibuannya senantiasa mendampingi dan menguatkan. Di tempat ini, doa-doa sederhana yang terucap dalam keheningan menjadi ungkapan iman yang hidup.
Sebagai wujud keterbukaan dan pelayanan, gereja hadir tanpa batas waktu. Pintu gereja terbuka 24 jam, memberi kesempatan bagi siapa saja untuk datang kapan pun—baik dalam sukacita maupun dalam kesesakan—untuk berdoa, berserah, dan menemukan pengharapan baru.
Semoga setiap langkah yang datang membawa kerinduan akan Tuhan, dipulangkan dengan hati yang damai, dikuatkan, dan diteguhkan dalam iman.
Yogyakarta – Sekitar 200 tokoh lintas agama mengikuti kegiatan ngabuburit dan orasi kebangsaan lintas iman yang digelar di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan tersebut mengusung semangat merawat kebhinekaan dan menyemai kerukunan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Acara ini menghadirkan tokoh Islam Miftah Maulana Habiburrahman atau yang dikenal sebagai Gus Miftah, serta Danrem 072/Pamungkas Bambang Sujarwo sebagai pembicara dalam orasi kebangsaan.
turut hadir pula perwakilan dari Gereja Maria Marganingsih kalasan, perwakilan dari Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo dan perangkat pemerintahan di sekitar gereja Maria Bunda Allah
Dalam kesempatan tersebut, panitia juga membagikan 200 buku karya Gus Miftah berjudul “Merawat Kebhinekaan Menyemai Kerukunan” kepada para peserta yang hadir.
Buku tersebut lahir dari kegelisahan mendalam terhadap kondisi kebangsaan Indonesia, terutama terkait masih terjadinya berbagai kasus intoleransi yang dinilai mencederai nilai kemanusiaan dan persatuan bangsa.
Menurut Miftah Maulana Habiburrahman, berbagai peristiwa seperti perusakan rumah ibadah, penolakan pembangunan gereja, pembatasan ritual keagamaan kelompok minoritas, hingga maraknya ujaran kebencian di media sosial menjadi fenomena yang perlu mendapat perhatian serius.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi pertanyaan besar bagi bangsa yang menjunjung tinggi ideologi Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
“Kerukunan tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa, baik tokoh agama, masyarakat sipil, maupun setiap warga negara,” tegas Gus Miftah.
Ia menambahkan bahwa tanpa upaya kolektif melawan intoleransi, bangsa Indonesia berisiko kehilangan rumah besar bernama Indonesia yang seharusnya menjadi tempat aman bagi semua orang untuk hidup dan beribadah sesuai keyakinannya.
Selain itu, Gus Miftah juga menekankan pentingnya literasi toleransi, khususnya di era digital. Menurutnya, ujaran kebencian di media sosial dapat memicu konflik di dunia nyata jika tidak disikapi dengan bijak.
“Literasi digital tentang toleransi harus diajarkan sejak dini, baik di sekolah maupun di keluarga, agar generasi muda menjadi agen perdamaian, bukan penyebar kebencian,” ujarnya.
Namun demikian, ia menilai literasi saja tidak cukup tanpa kehadiran negara melalui regulasi yang adil. Ia menyinggung Peraturan Bersama Menteri (PBM) Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 yang menurutnya masih memiliki keterbatasan dalam memberikan perlindungan terhadap hak-hak kelompok minoritas.
Sementara itu, Bambang Sujarwo dalam orasi kebangsaannya menegaskan bahwa perbedaan suku, agama, dan ras merupakan identitas bangsa Indonesia yang harus dijaga bersama.
Menurutnya, toleransi harus menjadi kekuatan utama bangsa dengan cara saling menghormati dan menghargai satu sama lain, tidak hanya sebatas ucapan tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya menghimbau kepada seluruh pemeluk agama agar saling menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi toleransi. Jika ada permasalahan, selesaikanlah dengan musyawarah untuk menemukan jalan terbaik,” ujarnya.
KATEKESE LITURGI – MARET 2026 Tata Gerak yang Mengguyubkan: Sikap Tubuh dan Saat Hening
Membangun Kesatuan Batin dalam Perayaan Saudara-saudari, dalam perayaan liturgi, kita melakukan tata gerak dan sikap tubuh yang seragam. Mari kita pahami bersama bahwa sikap yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat dan mencerminkan serta membangun sikap batin yang sama pula. Saat Hening menjadi bagian perayaan untuk permenungan dan menyiapkan jawaban dalam bentuk doa. PUMR 42-46 mengarahkan kita akan pentingnya kesatuan antara sikap lahiriah dan batiniah dalam sebuah perayaan liturgi Gereja.
Pertama: Makna Sikap Tubuh yang Seragam Tata gerak dan sikap tubuh seperti berdiri, duduk, dan berlutut yang dilakukan secara seragam bukan sekadar aturan formalitas. Sikap yang seragam ini memiliki dua fungsi utama:
Menandakan Kesatuan artinya menjadi simbol nyata bahwa seluruh jemaat adalah satu kesatuan yang utuh.
Membangun Sikap Batin artinya sikap tubuh yang sama mencerminkan sekaligus membantu membentuk disposisi atau sikap batin yang serupa di antara umat.
Kedua: Peran Saat Hening dalam Perayaan Saat Hening merupakan bagian integral dari perayaan yang berfungsi sebagai ruang untuk permenungan. Keheningan ini memberikan kesempatan bagi umat untuk menyiapkan jawaban atau tanggapan mereka kepada Tuhan dalam bentuk doa, dengan demikian dialog dengan Tuhan makin nyata terjadi. Saat Hening menjadijembatan batin yang menghubungkan setiap pribadi dengan Tuhan.
Penghayatan tata gerak dan keheningan ini adalah agar umat dapat menjadi pribadi yang guyub. Menyejahterakan dapat terwujud dari semangat guyub, artinya membangun kebersamaan yang positif, hidup rukun sebagai satu keluarga besar, Tubuh Kristus, serta membawa umat pada sikap yang bijaksana, yakni bertindak dan berdoa dengan penuh kesadaran.
Pertanyaan Reflektif bagi kita:
Apakah selama ini saya melakukan gerakan berdiri, duduk, atau berlutut dalam ibadat hanya sebagai rutinitas, ataukah saya sungguh merasakannya sebagai ungkapan kesatuan dengan sesama jemaat?
Bagaimana saya memanfaatkan saat-saat hening dalam perayaan? Apakah saya sungguh menggunakannya untuk merenung dan menyiapkan hati untuk berdoa?
Marilah kita menghayati setiap tata gerak dan saat hening dengan penuh kesadaran, agar kebersamaan kita sungguh mencerminkan kesatuan batin yang membangun kesejahteraan bersama.
Kadang kita merasa kegiatan lingkungan itu biasa saja. Doa lingkungan… bakti sosial… rekoleksi… kunjungan kasih…
Tapi pernah nggak kita sadar? Di situlah Gereja yang sesungguhnya sedang hidup.
Melalui Festival & Lomba Film Pendek Dokumenter ARDAS 2026, Stasi St. Maria Bunda Allah Maguwo mengajak seluruh lingkungan untuk menunjukkan bahwa Gereja kita itu:
Bahagia, Menginspirasi, Menyejahterakan
Bukan cuma hadir… tapi berdampak.
Mau yang simpel? Bikin video < 59 detik untuk IG/TikTok. Mau yang niat? Garap film 3–6 menit buat YouTube/Website.
Nggak harus pakai kamera mahal. HP juga bisa. Yang penting: kompak, kreatif, dan penuh semangat!
Ada banyak kategori yang bisa diraih: Film Terbaik, Film Paling Membahagiakan, Film Paling Menginspirasi, Cerita Lingkungan Terbaik, Film Favorit dan Lingkungan Paling Rajin
Dan tenang… setiap lingkungan dapat stimulus dana Rp100.000 untuk mulai berkarya
Bayangkan kalau di akhir tahun nanti nama lingkungan kita dipanggil sebagai pemenang… Bukan cuma soal hadiah. Tapi soal kebanggaan: “Ini lho wajah Gereja kami.”
Penjurian dan pengumuman akan dilaksanakan pada 28 Desember 2026.
Jadi… Mau jadi penonton? Atau jadi lingkungan yang dikenang sepanjang tahun?
Misa Bukan Menonton, Tapi Melibatkan Diri Pernahkah Anda merasa seperti “penonton” saat Misa? Datang, duduk, diam, lalu pulang? Padahal, kehadiran kita di Gereja bukan seperti menonton film di bioskop. Melalui Baptisan, kita semua dipanggil untuk menjadi pemeran utama dalam doa bersama Gereja.
Mengapa Kita Harus Aktif? Berdasarkan Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR), partisipasi kita itu:
Adalah Hak dan Kewajiban: Karena sudah dibaptis, Anda punya “tiket resmi” dan tanggung jawab untuk ikut serta dalam ibadat. Ini adalah hak istimewa kita sebagai anak-anak Allah (PUMR 18).
Tuntutan Ibadat itu Sendiri: Liturgi (Misa) baru menjadi hidup jika umatnya terlibat. Tanpa umat yang ikut menyahut dan berdoa, ada sesuatu yang kurang dari perayaan tersebut.
Gimana Sih Cara “Terlibat Aktif” Itu? Partisipasi yang benar melibatkan dua hal utama (PUMR 386):
Jiwa dan Raga (Luar & Dalam):
Raga: Kita ikut berdiri, berlutut, menjawab salam imam, bernyanyi, dan mendengarkan. Tubuh kita ikut berdoa.
Jiwa: Pikiran dan hati kita sungguh-sungguh tertuju pada apa yang sedang terjadi di altar, bukan melamunkan jemuran atau pekerjaan di rumah.
Bahan Bakarnya adalah Iman, Harapan, dan Kasih: Kita aktif bukan karena terpaksa atau supaya dilihat orang, tapi karena kita percaya (Iman) pada Tuhan, berharap (Harapan) pada berkat-Nya, dan mencintai (Kasih) Allah serta sesama jemaat.
Umat yang Bahagia = Umat yang Terlibat Apa hubungannya ikut Misa dengan kebahagiaan? Umat yang bahagia adalah umat yang merasa “memiliki” Gerejanya. Saat kita terlibat aktif—entah itu menjawab “Amin” dengan mantap, bernyanyi dengan semangat, atau sekadar tersenyum tulus saat salam damai—hati kita akan terasa lebih penuh dan damai.
Keterlibatan dalam liturgi adalah tanda bahwa iman kita sedang “menyala”. Pertanyaan Refleksi
Selama ini, apakah saya mengikuti Misa hanya sebagai kebiasaan, atau sungguh sebagai ungkapan iman karena saya sudah dibaptis?
Hal sederhana apa yang bisa saya perbaiki agar partisipasi saya dalam liturgi semakin aktif, penuh perhatian, dan membawa sukacita?
Tips Sederhana Minggu Ini:
Matikan HP: Berikan waktu sepenuhnya untuk Tuhan tanpa gangguan.
Suarakan Doamu: Jangan ragu untuk menjawab doa-doa Misa dengan suara yang jelas (bukan berteriak, tapi mantap).
Resapi Nyanyian: Cobalah untuk ikut bernyanyi, karena bernyanyi adalah berdoa dua kali!
“Dalam perayaan liturgi, seluruh jemaat dipanggil untuk berpartisipasi secara sadar, aktif, dan penuh.”
Stasi Maguwo menyelenggarakan Rapat Pleno Tahun 2026 pada Rabu, 28 Januari 2026, bertempat di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Rapat pleno ini menjadi momentum strategis untuk meneguhkan arah pelayanan Stasi Maguwo agar semakin selaras dengan Arah Dasar Gereja (Ardas) ke-9, yang mengajak Gereja untuk hadir secara membahagiakan, menyejahterakan, dan menginspirasi.
Rapat pleno dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pastoral Harian (DPH) Stasi Maguwo, seluruh koordinator tim pelayanan beserta anggota, seluruh Ketua Wilayah, serta seluruh Ketua Lingkungan Stasi Maguwo. Kehadiran seluruh unsur pelayanan ini mencerminkan semangat kebersamaan dan partisipasi aktif umat dalam membangun Gereja yang hidup.
Turut hadir pula tamu dari Paroki Kalasan, yakni Wakil Ketua II, Bendahara Paroki, dan Sekretaris Paroki, sebagai wujud dukungan dan sinergi antar unit pastoral.
Agenda rapat pleno mencakup pemaparan laporan pertanggungjawaban keuangan Tahun 2025, pemaparan rencana anggaran Tahun 2026, pemaparan Program Ardas Tahun 2026, serta pemaparan program kerja masing-masing bidang pelayanan untuk Tahun 2026. Seluruh pemaparan dilakukan secara terbuka dan bertanggung jawab sebagai bentuk komitmen terhadap tata kelola pelayanan dan keuangan yang transparan dan akuntabel.
Rapat dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan pendalaman, yang berlangsung dalam suasana dialogis dan membangun. Melalui proses ini, seluruh peserta diajak untuk semakin memahami arah, tujuan, serta implementasi program pelayanan agar sungguh berdampak bagi kehidupan iman umat dan masyarakat.
Sebagai keputusan bersama, Rencana Anggaran Biaya (RAB) Tahun 2026 Stasi Maguwo disahkan oleh Pastor Paroki, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr, setelah seluruh peserta rapat yang hadir menyatakan persetujuan. Pengesahan ini menjadi dasar resmi pelaksanaan program dan kegiatan pelayanan Stasi Maguwo Tahun 2026, sekaligus penegasan komitmen bersama untuk mewujudkan Gereja yang semakin membahagiakan, menyejahterakan, dan menginspirasi, sejalan dengan semangat Ardas ke-9.
Serah Terima Kepengurusan, Sosialisasi Pembangunan di Lingkungan St. Fransiskus Asisi
Pada Kamis malam, 15 Januari 2026, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi kembali berkumpul dalam suasana penuh kehangatan di kediaman Bapak Paulus Prasetyo, “Joglo Prasetyan”, Meguwo. Pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar doa rutin lingkungan, malam itu juga menjadi momen penting estafet pelayanan melalui serah terima kepengurusan lingkungan.
Doa bersama dipimpin oleh Bapak Rusdiyanto, dilanjutkan dengan prosesi serah terima pengurus periode 2023–2025 kepada pengurus baru periode 2026–2028. Dalam sambutannya, Bapak Jondit selaku Ketua Lingkungan periode sebelumnya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan seluruh umat selama masa pelayanannya. Beliau mengungkapkan bahwa berbagai tugas dan tanggung jawab dapat diselesaikan dengan baik berkat kebersamaan dan partisipasi umat. Dengan penuh kerendahan hati, Bapak Jondit juga menyatakan dukungan dan harapan terbaik bagi pengurus baru yang akan melanjutkan pelayanan.
Sebagai simbol tanggung jawab dan transparansi, Bapak Jondit menyerahkan laporan keuangan, laporan inventaris, berkas-berkas administrasi lingkungan, serta cap lingkungan kepada Ketua Lingkungan terpilih periode 2026–2028.
Sebagai ungkapan terima kasih dan apresiasi, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi yang diwakili oleh Bapak dan Ibu Felix menyerahkan kenang-kenangan berupa gambar karikatur berbingkai kepada Bapak dan Ibu Jondit. Sebuah hadiah sederhana namun sarat makna, sebagai tanda kasih dan penghargaan atas dedikasi yang telah diberikan. Doa dan harapan pun dipanjatkan agar keluarga Bapak dan Ibu Jondit beserta keluarga senantiasa dilimpahi kebahagiaan dan berkat Tuhan.
Memasuki periode kepengurusan yang baru, umat berharap agar pengurus Lingkungan St. Fransiskus Asisi dapat melanjutkan nilai-nilai baik yang telah diteladankan, serta membawa lingkungan semakin maju, guyub, dan erat dalam semangat persaudaraan serta pelayanan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi rencana pembangunan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) yang disampaikan oleh Tim Panitia Pembangunan, diwakili oleh Bapak Ande, Bapak Pangat, dan Bapak Danang. Panitia memaparkan latar belakang serta garis besar rencana pembangunan gereja yang diharapkan dapat memasuki tahap pertama pada Juni 2026. Pembangunan ini diharapkan menjadi langkah penyempurnaan sarana gereja demi menunjang kehidupan iman umat nantinya.
Sebagai bentuk partisipasi umat, panitia memperkenalkan program penjualan Kupon Kemurahan Hati seharga Rp20.000 per kupon. Seluruh umat diajak untuk terlibat aktif, dimulai dari kontribusi paling sederhana. Dalam sesi ini, umat juga menyampaikan berbagai tanggapan dan pertanyaan, di antaranya terkait pengembangan lahan parkir yang saat ini terbatas serta kemungkinan kontribusi dalam bentuk non-tunai seperti material bangunan. Diskusi berlangsung terbuka, hangat, dan menunjukkan antusiasme serta dukungan penuh umat terhadap rencana pembangunan GMBA.
Menjelang akhir pertemuan, Ketua Lingkungan yang baru menyampaikan pengumuman terkait tugas-tugas terdekat. Acara resmi kemudian ditutup, namun kehangatan kebersamaan masih terasa. Sejumlah umat tetap tinggal, melanjutkan obrolan ringan dan berbagi cerita dalam suasana santai dan penuh keakraban, sebuah potret sederhana namun bermakna dari hidup menggereja yang tumbuh dalam kebersamaan.
Keuskupan Agung Semarang mengawali tahun 2026 dengan sebuah ajakan iman yang penuh harapan melalui Surat Gembala Menyambut Arah Dasar (ARDAS) IX KAS, yang dibacakan pada Pesta Pembaptisan Tuhan, 10–11 Januari 2026. Surat gembala ini menjadi penanda dimulainya perjalanan pastoral lima tahun ke depan (2026–2030) bagi seluruh umat KAS.
Dalam surat gembala tersebut, Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, mengajak seluruh umat untuk bersyukur atas perjalanan ARDAS VIII (2021–2025) dengan tema “Tinggal dalam Kristus dan Berbuah”. Selama lima tahun terakhir, umat diajak untuk meneguhkan kembali dasar hidup beriman: membangun relasi yang hidup dengan Kristus, terutama di tengah berbagai tantangan zaman. Dari relasi inilah buah iman, harapan, kasih, kepedulian, dan semangat melayani diharapkan terus bertumbuh.
Memasuki ARDAS IX, Gereja KAS diajak melangkah lebih jauh untuk mewujudkan buah-buah iman tersebut secara nyata dalam kehidupan bersama. Tema “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan” bukan sekadar slogan, melainkan arah perjalanan bersama seluruh umat Allah. Kata “menjadi” menegaskan bahwa Gereja sedang dan terus berproses—sebuah perjalanan iman yang dinamis dan melibatkan semua orang: anak-anak, orang muda, keluarga, lansia, umat awam, biarawan-biarawati, dan para imam.
Gereja yang bahagia bukan berarti tanpa masalah, tetapi Gereja yang hidup dalam pengharapan karena berakar pada kasih dan keselamatan Kristus. Gereja yang menginspirasi adalah Gereja yang memberi kesaksian melalui hidup yang jujur, sederhana, peduli, dan melayani. Sementara itu, Gereja yang menyejahterakan adalah Gereja yang hadir secara nyata dalam kehidupan manusia secara utuh—rohani, jasmani, sosial, dan ekologis—terutama bagi mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
Melalui surat gembala ini, umat juga diajak untuk menghidupi ARDAS IX secara konkret:
di keluarga, dengan menciptakan rumah yang penuh kasih, doa, dan pengampunan;
di lingkungan dan paroki, dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan sinodalitas;
serta di tengah masyarakat, dengan menjadi saksi Kristus melalui kejujuran, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama dan alam ciptaan.
Mengakhiri surat gembalanya, Bapa Uskup menegaskan bahwa sebagaimana Yesus diteguhkan oleh kasih Bapa saat pembaptisan-Nya, demikian pula seluruh umat KAS diteguhkan sebagai umat yang dikasihi Allah dan diutus oleh-Nya. Dengan penyertaan Roh Kudus, Keuskupan Agung Semarang diajak melangkah bersama untuk sungguh menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.