DPH Stasi GMBA Maguwo Gelar Rapat Rutin Jelang Persiapan Menjadi Paroki Administratif

Maguwoharjo — Dewan Pastoral Stasi (DPS) Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo menggelar rapat koordinasi rutin pada Jumat, 15 Mei 2026 di Sekretariat GMBA. Pertemuan yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus DPS, para Ketua Wilayah, serta Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Rapat berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat pelayanan. Selain membahas agenda rutin pastoral bulanan, pertemuan ini juga menjadi momen penting dalam mempersiapkan berbagai hal menjelang perubahan status Stasi Gereja Maria Bunda Allah menjadi Paroki Administratif yang direncanakan pada bulan Juni mendatang.

Dalam sambutannya, Ketua Stasi GMBA, Yohanes Agung Prasetya menyampaikan harapan agar seluruh pengurus dan umat dapat terus menjaga semangat persatuan dan gotong royong dalam mendukung perkembangan Gereja. Beliau juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mempersiapkan diri menyambut perubahan status tersebut dengan penuh tanggung jawab dan sukacita pelayanan.

Pada kesempatan itu, para pengurus stasi turut menyampaikan laporan kegiatan dan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi serta evaluasi pelayanan yang telah berjalan selama beberapa waktu terakhir. Berbagai program dan kegiatan pastoral yang telah dilaksanakan dibahas bersama guna meningkatkan pelayanan kepada umat di masing-masing wilayah.

Para Ketua Wilayah juga menyampaikan perkembangan dan kondisi wilayah masing-masing sebagai bagian dari koordinasi bersama yang disampaikan oleh Mas Heru selaku Sekretaris Stasi. Kehadiran Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr. memberikan pendampingan serta arahan pastoral bagi seluruh peserta rapat. Beliau mengajak seluruh umat untuk terus bertumbuh dalam iman, mempererat kebersamaan, dan aktif terlibat dalam kehidupan menggereja serta menyampaikan banyak masukan yang membangun.

Dengan adanya rencana peningkatan status menjadi Paroki Administratif, diharapkan Gereja Maria Bunda Allah dapat semakin berkembang dalam pelayanan pastoral serta semakin dekat dalam menjawab kebutuhan umat. Momentum ini menjadi tanda pertumbuhan dan perjalanan Gereja yang terus berkembang bersama seluruh umatnya.

Touring Rohani Bapak-Bapak Lingkungan St. Fransiskus Asisi: Doa, Persaudaraan, dan Menanam Jejak Kebaikan.

Kamis pagi, 14 Mei 2026, basecamp utama Lingkungan Fransiskus Asisi Tasura sudah ramai sejak Misa Kenaikan Yesus selesai. Satu per satu bapak-bapak datang dengan motor masing-masing, siap untuk melakukan touring rohani ke Gua Maria Tuk Ing Katentreman, sebuah tempat doa yang tenang dan sejuk di wilayah Magelang.

Rombongan kali ini terdiri dari Pak Jondit, Pak Rus, Pak Cahyo, Pak Bono, Pak Tiyok, Pak Wawan, Pak Felix, Mas Galang, dan Pak Ari Lawu dari Lingkungan Clara yang ikut bergabung. Total ada delapan motor yang siap mengantar mereka menikmati perjalanan yang penuh cerita.

Sebelum berangkat, Pak Wawan memimpin doa singkat. Dengan perlindungan Tuhan dan semangat kebersamaan, tepat pukul 10.00 WIB rombongan mulai melaju melalui rute Jurang Jero. Jalanan yang membelah kebun salak menyuguhkan pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Mereka berkendara santai, menikmati udara segar, sambil sesekali menyalip truk-truk pasir yang menjadi bagian khas dari jalur tersebut.

Seperti dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita kecil yang membuat pengalaman semakin berkesan. Sesaat sebelum melewati kawasan kebun salak, salah satu motor mengalami pecah ban. Untungnya, hanya sekitar seratus meter dari lokasi terdapat tukang tambal ban. Setelah berhenti beberapa saat dan ban kembali siap digunakan, perjalanan pun dilanjutkan dengan semangat yang tetap utuh.

Sekitar pukul 11.30 WIB, rombongan tiba di Gua Maria Tuk Ing Katentreman. Begitu turun dari motor, mereka langsung merasakan suasana yang teduh, hening, dan menenangkan. Pepohonan rindang dan gemericik sumber air di sekitar gua membuat tempat ini terasa seperti oase kecil yang sangat cocok untuk berdoa dan menenangkan hati.

Di sana, para bapak menyalakan lilin dan mengambil waktu untuk berdoa secara pribadi. Dalam keheningan itu, setiap orang membawa intensi dan syukur masing-masing kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus.

Setelah berdoa, suasana santai pun berlanjut dengan obrolan ringan tentang rencana touring berikutnya. Dengan nada bercanda, perjalanan ini disebut sebagai “survey lapangan” untuk mencari tempat-tempat ziarah yang nantinya layak direkomendasikan kepada ibu-ibu dan keluarga. Tentu saja, sebelum memberikan rekomendasi, para bapak merasa perlu melakukan lebih banyak “survey” ke berbagai tempat.

Salah satu momen yang paling bermakna dalam perjalanan ini adalah ketika rombongan menanam bibit pohon kimeng yang sudah dibawa dari rumah. Setelah meminta izin kepada penjaga lokasi, bibit itu ditanam di area sekitar gua. Tanaman kimeng dipercaya membantu menjaga ketersediaan air di sekitarnya, sehingga penanaman ini menjadi simbol sederhana kepedulian terhadap alam ciptaan Tuhan.

Sebelum pulang, rombongan mampir untuk makan siang di Warung Pepes Gapeswathi. Menu pepes dan rica enthog menjadi penyempurna perjalanan yang menyenangkan ini.

Perjalanan pulang ditempuh melalui jalur Tempel–Turi. Di tengah perjalanan, salah satu motor sempat kehabisan bensin dan harus didorong beberapa ratus meter menuju SPBU terdekat. Meski demikian, kejadian itu justru menambah warna dan cerita yang akan dikenang bersama.

Touring kali ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dapat tumbuh melalui hal-hal sederhana: berangkat bersama, berdoa bersama, menghadapi kendala bersama, dan pulang dengan hati yang penuh sukacita. Lebih dari sekadar perjalanan, touring ini menunjukkan bahwa ke mana pun kita melangkah, selalu ada kesempatan untuk membawa doa, mempererat persaudaraan, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama maupun bagi alam ciptaan Tuhan

DPH Stasi Maguwo Ikuti Pendalaman Baseline Kevikepan Jogja Timur untuk Menguatkan Arah Pelayanan Gereja


Pada hari Kamis, 14 Mei 2026, bertepatan dengan perayaan Hari Kenaikan Tuhan Yesus, Dewan Pastoral Harian (DPH) Stasi Maguwo mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Pendalaman Materi Baseline Kevikepan Yogyakarta Timur yang diselenggarakan di Gereja St Yohanes Rasul Pringwulung.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya bersama untuk semakin memahami arah pelayanan pastoral Gereja di wilayah Kevikepan Yogyakarta Timur. Melalui materi baseline yang disampaikan, para peserta diajak untuk melihat situasi nyata umat, membaca tantangan zaman, serta merumuskan langkah pelayanan yang lebih relevan, partisipatif, dan menyentuh kebutuhan umat di tengah masyarakat.

Dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat pelayanan, para peserta tidak hanya menerima pemaparan materi, tetapi juga berdiskusi dan berbagi pengalaman pelayanan dari wilayah masing-masing. Pertemuan ini menjadi ruang refleksi bersama agar pelayanan Gereja semakin hidup, terbuka, dan mampu menjawab kebutuhan umat secara nyata.

Keikutsertaan DPH Stasi Maguwo dalam kegiatan ini juga sejalan dengan semangat Nota Pastoral Keuskupan Agung Semarang serta arah Program Ardas yang mendorong Gereja untuk terus hadir di tengah umat, membangun solidaritas, memperkuat keterlibatan bersama, dan mengembangkan pelayanan yang berorientasi pada kesejahteraan bersama. Semangat sinodalitas dan berjalan bersama sebagai Gereja menjadi nilai yang terus dihidupi dalam setiap proses pelayanan pastoral.

Momentum Hari Kenaikan Tuhan Yesus semakin meneguhkan panggilan seluruh pelayan Gereja untuk terus melanjutkan karya pelayanan dengan penuh iman, harapan, dan kasih. Diharapkan, melalui kegiatan ini, DPH Stasi Maguwo semakin mampu menghadirkan pelayanan yang berdaya guna, membangun persekutuan, dan membawa semangat Gereja yang hidup di tengah umat dan masyarakat.

“Ekaristi: Sumber Sukacita, Inspirasi, dan Kesejahteraan Hidup”


Ekaristi adalah jantung kehidupan Gereja, sumber kekuatan rohani, dan puncak seluruh perjalanan iman umat Kristiani. Dalam perayaan Ekaristi, Kristus hadir menyapa umat-Nya melalui Sabda dan Tubuh-Nya, menyatukan mereka sebagai satu tubuh, dan mengutus untuk menghadirkan kasih Allah di tengah dunia. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani” (Lumen Gentium 11).

Keuskupan Agung Semarang melalui Bulan Katekese Liturgi 2026 mengajak umat untuk memperbarui penghayatan Ekaristi. Perayaan ini bukan sekadar kewajiban mingguan, melainkan perjumpaan yang mengubah hidup, menumbuhkan sukacita, memberi inspirasi, dan mendorong keterlibatan nyata dalam membangun kesejahteraan bersama.

Selama bulan Mei, umat diajak mengikuti katekese singkat, berbagi pengalaman iman, dan merefleksikan buah Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini dilanjutkan dengan pencatatan dan sintesis di tingkat paroki, sehingga pengalaman umat menjadi bahan refleksi pastoral untuk memperkaya liturgi.

Kegiatan ini berpuncak pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, yang dirayakan dengan Ekaristi, penerimaan Komuni Pertama, adorasi, dan rekoleksi bersama. Semua rangkaian bertujuan agar umat semakin menyadari bahwa Ekaristi tidak berhenti di altar, tetapi berlanjut dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan bermasyarakat.

Melalui kisah nyata umat—dari anak-anak hingga orang dewasa—ditunjukkan bahwa Ekaristi adalah sumber sukacita, kebahagiaan, inspirasi, dan kesejahteraan sejati. Dari altar, umat diutus membawa terang Kristus ke dunia, menghadirkan kasih, solidaritas, dan harapan baru bagi sesama.

Laporan Pertanggungjawaban Panitia Paskah 2026 Berjalan Lancar

Maguwo – Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Panitia Paskah 2026 yang dilaksanakan pada hari ini (Minggu, 3 Mei 2026) pukul 18.00 WIB. Kegiatan ini menjadi momen penting untuk merefleksikan seluruh rangkaian perayaan Paskah yang telah dilaksanakan, sekaligus sebagai sarana evaluasi demi pelayanan yang semakin baik di masa mendatang.

Laporan dari Ketua Panitia


Acara dihadiri oleh panitia Paskah yang dengan antusias memberikan berbagai masukan. Beragam evaluasi yang disampaikan bersifat membangun, mencerminkan kepedulian bersama terhadap kualitas penyelenggaraan kegiatan gereja. Diskusi berlangsung dengan suasana terbuka, saling menghargai, dan berfokus pada semangat perbaikan.


Ketua Panitia Paskah 2026, Paulus Wardhana, dalam kesempatan tersebut menyampaikan laporan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban keuangan. Dalam sambutannya, ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, baik tenaga, waktu, maupun dukungan doa sehingga rangkaian perayaan Paskah dapat berjalan dengan baik dan lancar.


Sebagai bentuk tanggung jawab dan transparansi, Ketua Panitia secara simbolis menyerahkan buku laporan pertanggungjawaban kepada Ketua Stasi, Yohanes Agung Prasetyo. Penyerahan ini menjadi tanda bahwa seluruh rangkaian tugas kepanitiaan telah diselesaikan dengan baik.


Ketua Stasi dalam sambutannya mengapresiasi kerja keras panitia serta partisipasi umat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan dan pelayanan yang tulus dalam setiap kegiatan gereja.


Acara kemudian ditutup dengan santap malam bersama yang telah dipersiapkan oleh tim konsumsi. Momen ini semakin mempererat kebersamaan dan menjadi penutup yang hangat bagi seluruh rangkaian kegiatan.


Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semangat pelayanan umat semakin bertumbuh, sejalan dengan panggilan untuk terus menjadi saksi kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

“Pamong Berdaya, Umat Sejahtera: Spiritualitas, Kepemimpinan, dan Aksi Nyata Menuju Gereja yang Menginspirasi”


Pada Jumat, 1 Mei 2026, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menjadi saksi terselenggaranya kegiatan pembekalan bagi Ketua Lingkungan dan Pengurus Lingkungan dalam lingkup Stasi Maria Bunda Allah Maguwo. Mengusung tema “Menjadi Pamong yang Bahagia dan Menginspirasi”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga momentum refleksi dan transformasi pelayanan.

Kegiatan dibuka oleh Romo Yuyun Yuniarto yang mengangkat konsep multi-tasking sebagai realitas keseharian para pamong: banyak peran, banyak tanggung jawab, dan kesibukan yang tak terelakkan. Namun, pertanyaan mendasar yang diajukan menggugah hati para peserta apakah semua itu membawa kebahagiaan, atau justru tekanan? Dalam permenungannya, ditegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya aktivitas, melainkan pada kedalaman relasi dengan Allah: hidup dalam ketergantungan penuh kepada-Nya, memiliki hati yang lembut, merindukan kebenaran, serta rela berkorban demi iman.

Lebih dari sekadar refleksi spiritual, pembekalan ini juga menegaskan kembali tugas utama kepamongprajaan. Para ketua dan pengurus lingkungan diharapkan mampu menjadi penggerak pertumbuhan iman umat sekaligus menjalin sinergi pelayanan dalam Gereja. Tak berhenti di altar, peran ini juga menjangkau kehidupan sosial kemasyarakatan—aktif dalam kegiatan RT, RW, hingga padukuhan, sebagai wujud nyata kehadiran Gereja di tengah dunia.

Menariknya, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pelatihan praktis pengolahan sampah organik. Para peserta diajak untuk tidak hanya melayani dengan hati, tetapi juga menjadi teladan dalam aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan. Melalui praktik pembuatan kompos dari dedaunan, umat diajak membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.

Proses pelatihan dimulai dari pengenalan alat, seperti mesin pencacah dedaunan dan mesin pengayak kompos, serta bahan pendukung seperti EM4 dan molase. Peserta kemudian diajak memahami tahapan pembuatan kompos secara sederhana, mulai dari pengumpulan bahan, pencacahan, hingga proses pengayakan kompos yang telah difermentasi selama 2–3 bulan. Dalam praktiknya, peserta juga langsung mencoba mengoperasikan alat dan memahami pentingnya menjaga kelembapan serta suhu agar proses pengomposan berjalan optimal.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh ketua dan pengurus lingkungan se-Stasi Maria Bunda Allah Maguwo, dengan tujuan utama mendorong umat untuk tidak lagi membakar sampah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan ini membekali umat dengan keterampilan praktis dalam mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir para pamong yang tidak hanya setia dalam pelayanan, tetapi juga mampu menjadi inspirasi bagi umat dan masyarakat. Pamong yang bahagia, peduli, dan berdaya, yang menghadirkan Gereja tidak hanya dalam kata, tetapi juga dalam tindakan nyata demi kebaikan bersama.

Petugas Liturgi yang Menginspirasi – BKL 2026

KATEKESE LITURGI – MEI 2026
“Petugas Liturgi yang Menginspirasi: Menjalankan Tugas dengan Kompetensi dan Kerendahan Hati”

Dalam perayaan Ekaristi, Gereja tidak hanya melibatkan imam, tetapi juga membuka ruang bagi keterlibatan umat melalui berbagai pelayanan liturgi khusus. Berdasarkan Pedoman Umum Missale Romawi (PUMR 98-107), tugas-tugas yang tidak secara khusus diperuntukkan bagi klerus dapat dipercayakan kepada kaum awam yang dipilih dan dipersiapkan dengan baik.
Pelayanan-pelayanan ini meliputi akolit, lektor, pemazmur, paduan suara, koster, komentator, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya. Masing-masing memiliki peran yang khas dalam membantu umat untuk berpartisipasi secara aktif dan penuh dalam liturgi.

Akolit dilantik untuk melayani altar dan membantu imam serta diakon (PUMR 98). Lektor dilantik untuk mewartakan bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil. Dapat juga ia membawakan ujud-ujud doa umat dan, kalau tidak ada pemazmur, ia dapat juga membawakan mazmur tangggapan (PUMR 99). Karena itu, seorang lektor harus sungguh-sungguh terampil dan disiapkan secara cermat (PUMR 101), memahami isi bacaan, dan mempersiapkan diri dengan baik, sehingga Sabda yang disampaikan dapat menyentuh hati umat. Demikian pula pemazmur, yang bertugas membawakan mazmur atau kidung-kidung dari Alkitab diantara bacaan-bacaan (PUMR 102). Paduan suara atau kor melaksanakan tugas liturgi tersendiri ditengah umat beriman (PUMR 103). Paduan suara menghidupkan doa melalui nyanyian. Koster, yang dengan cermat mengatur buku-buku liturgis,busana liturgis, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk perayaan Misa (PUMR 105a). Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik (PUMR 105b).

Semua tugas ini bukan sekadar “peran teknis”, tetapi merupakan pelayanan iman. Karena itu, setiap petugas liturgi dipanggil untuk memiliki dua sikap utama:

  1. Kompetensi: kemampuan, latihan, dan kesiapan yang sungguh-sungguh agar pelayanan dilakukan dengan baik, tertib, dan bermakna.
  2. Kerendahan hati: kesadaran bahwa pelayanan ini bukan untuk tampil atau mencari perhatian, melainkan untuk melayani Tuhan dan membantu umat berdoa.

Ketika kompetensi dan kerendahan hati berjalan bersama, pelayanan liturgi menjadi indah, khidmat, dan menginspirasi. Umat tidak hanya “melihat” petugas liturgi, tetapi sungguh dibantu untuk mengalami kehadiran Allah.

Dengan demikian, para petugas liturgi awam mengambil bagian nyata dalam perayaan Ekaristi sebagai tindakan seluruh Gereja. Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi rekan sekerja dalam karya keselamatan, yang melalui tugasnya membantu Sabda Allah didengar, doa dipanjatkan, dan misteri iman dirayakan dengan layak.

Akhirnya, pelayanan yang dijalankan dengan hati yang tulus akan membawa buah rohani: para pelayan liturgi menjadi bahagia dalam iman, karena mengalami kedekatan dengan Tuhan, dan sekaligus menginspirasi umat, karena melalui pelayanan mereka, banyak orang semakin diteguhkan dalam iman dan cinta akan Ekaristi.

Refleksi bagi kita pelayan liturgi:
Apakah pelayanan saya sudah membantu umat bertemu Tuhan, atau justru mencari perhatian?

Katekese Liturgi Bulan April 2026

Katekese Liturgi Bulan April 2026 dengan tema “Imamat Jabatan dan Imamat Rajawi: Saling Melengkapi dalam Pelayanan”
Dalam Gereja, kita mengenal dua bentuk partisipasi dalam imamat Kristus, yaitu imamat jabatan dan imamat rajawi. Keduanya berasal dari Kristus yang sama, namun dijalankan dengan cara berbeda dan saling melengkapi, terutama dalam perayaan Ekaristi (bdk. Pedoman Umum Missale Romawi 4–41, 91, 95–96).

  1. Imamat Jabatan dijalankan oleh para pelayan tertahbis, yakni imam dan diakon. Imam memimpin perayaan Ekaristi dan bertindak dalam pribadi Kristus (in persona Christi), mempersembahkan kurban kepada Allah serta membimbing umat dalam doa dan hidup iman. Diakon membantu dalam pelayanan Sabda, altar, dan kasih. Pelayanan mereka hadir untuk melayani dan membangun umat Allah, bukan menggantikan umat.
  2. Sementara itu, Imamat Rajawi adalah panggilan seluruh umat beriman yang diterima melalui baptisan. Umat dipanggil menjadi umat kudus yang mempersembahkan hidupnya sebagai kurban rohani. Dalam liturgi, umat tidak hanya hadir, tetapi berpartisipasi aktif melalui doa, nyanyian, mendengarkan Sabda, serta mempersembahkan diri bersama Kristus.
  3. Perayaan Ekaristi adalah tindakan seluruh Gereja, bukan hanya imam. Setiap orang memiliki peran yang khas dan dipanggil untuk melaksanakannya dengan tepat—tidak kurang dan tidak lebih. Imam, petugas liturgi, dan umat bersama-sama membentuk satu kesatuan yang harmonis dalam memuliakan Allah.
    Dengan demikian, imamat jabatan dan imamat rajawi saling melengkapi: imam memimpin dan menguduskan, umat menanggapi dan menghidupi. Dalam kesatuan ini, Gereja sungguh menjadi tanda kehadiran Kristus di dunia.

Pemahaman ini mengajak para pelayan liturgi untuk melayani dengan sukacita dan kesadaran iman. Ketika setiap orang menjalankan perannya dengan benar, liturgi menjadi sumber kebahagiaan rohani dan menghadirkan kesejahteraan batin bagi seluruh umat.

“Dari Hosana Menuju Alleluia: Perjalanan Iman Umat dalam Pekan Suci di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo”


Pekan Suci adalah puncak tahun liturgi Gereja, sebuah ziarah iman yang mengantar umat masuk ke dalam Misteri Paskah, misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus, Sang Penebus.

Perjalanan suci ini diawali dalam Minggu Palma, ketika Gereja mengenangkan perarakan Kristus memasuki Yerusalem. Umat menyambut-Nya dengan seruan “Hosana”, namun sekaligus diingatkan bahwa jalan yang ditempuh Sang Raja adalah jalan kerendahan dan pengorbanan.

Dalam Perayaan Kamis Putih, Gereja memasuki perjamuan kasih. Di sana, Kristus menganugerahkan Ekaristi sebagai kenangan akan diri-Nya, sekaligus memberikan teladan pelayanan melalui pembasuhan kaki. Malam itu dilanjutkan dengan tuguran, sebuah partisipasi iman dalam doa Yesus di Getsemani, saat Ia berjaga dalam ketaatan total kepada kehendak Bapa.

Memasuki Jumat Agung, Gereja hening dalam permenungan. Dalam ibadat Tujuh Sabda dan liturgi sengsara Tuhan, umat diajak memandang salib sebagai altar pengorbanan, tempat di mana kasih ilahi dinyatakan secara sempurna. Dalam keheningan yang mendalam, Gereja tidak merayakan Ekaristi, melainkan berlutut di hadapan misteri wafat Tuhan yang menyelamatkan.

Namun misteri tidak berhenti pada salib.

Dalam Vigili Paskah, Gereja berjaga dalam malam yang kudus. Dari kegelapan, cahaya dinyalakan; dari keheningan, pujian dilantunkan. Liturgi ini menjadi perayaan agung kemenangan Kristus atas maut, sebuah peralihan dari kegelapan menuju terang, dari kematian menuju kehidupan.

Dan akhirnya, dalam Hari Raya Paskah, Gereja bersukacita dalam kepenuhan iman. Seruan “Alleluia” kembali menggema, menandakan bahwa Kristus sungguh telah bangkit, membawa harapan baru bagi seluruh umat beriman.

Seluruh rangkaian liturgi ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan utuh dalam ekonomi keselamatan. Umat tidak hanya mengenang, tetapi diundang untuk ambil bagian secara nyata dalam misteri yang dirayakan, hidup bersama Kristus, wafat bersama-Nya, dan bangkit dalam kehidupan yang baru.

Di balik kekhidmatan perayaan yang dialami umat, terdapat pelayanan yang dipersiapkan dengan penuh kesungguhan. Sejak awal, melalui berbagai persiapan, latihan-latihan liturgi, hingga gladi bersih, seluruh petugas mengambil bagian dalam semangat pelayanan yang tulus. Setiap peran dijalankan bukan sekadar tugas, melainkan sebagai bentuk persembahan iman bagi kemuliaan Tuhan.

Untuk itu, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh Panitia Pekan Suci, yang dimotori oleh Paulus Wardhana ( ketua Panitia Pekan suci 2026 ), atas dedikasi, pengorbanan, dan kesetiaan dalam pelayanan. Segala jerih payah yang telah diberikan menjadi bagian dari karya liturgi yang hidup, menghadirkan keindahan dan kekhusyukan dalam setiap perayaan.

Akhirnya, ziarah dari Hosana menuju Alleluia menjadi cerminan perjalanan iman setiap umat. Dalam dinamika kehidupan, sukacita, penderitaan, dan harapan, umat dipanggil untuk tetap setia, percaya bahwa terang kebangkitan senantiasa mengalahkan kegelapan.

Sebab Kristus yang bangkit adalah sumber hidup, dan dalam Dia, setiap umat dipanggil untuk terus menjadi saksi, hidup dalam iman, teguh dalam harapan, dan setia dalam kasih.

“Halleluya! Kristus Telah Bangkit: Sukacita Paskah yang Menghidupkan Iman Umat”


Minggu, 5 April 2026 – Misa Paskah
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Sukacita itu akhirnya tiba. Setelah melalui perjalanan iman yang mendalam sepanjang Pekan Suci, dari sorak “Hosana”, keheningan salib, hingga malam penuh terang, umat kini bersatu dalam satu seruan kemenangan: Haleluya! Kristus telah bangkit!

Pada Minggu, 5 April 2026, umat Gereja Maria Bunda Allah Maguwo merayakan Misa Paskah dengan penuh sukacita. Perayaan ini dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo selaku Romo Vikep, yang mengajak umat untuk sungguh mengalami makna kebangkitan dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan suasana hari-hari sebelumnya, gereja kini dipenuhi terang, bunga-bunga menghiasi altar, dan nyanyian pujian menggema dengan penuh semangat. Tidak ada lagi keheningan duka, yang ada adalah kehidupan, harapan, dan kemenangan.

Kebangkitan Yesus Kristus bukan sekadar peristiwa yang dikenang, melainkan kenyataan iman yang terus hidup. Dari kubur yang kosong, lahirlah harapan baru: bahwa maut tidak berkuasa, bahwa kasih lebih kuat dari segala penderitaan, dan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Dalam homili dan doa-doa yang dipanjatkan, umat diajak untuk tidak berhenti pada perayaan, tetapi melanjutkan semangat Paskah dalam kehidupan nyata. Menjadi saksi kebangkitan berarti membawa terang di tengah kegelapan, membawa harapan di tengah keputusasaan, dan menghadirkan kasih di tengah dunia yang seringkali terluka.

Misa Paskah ini menjadi penutup dari rangkaian Pekan Suci, namun sekaligus menjadi awal yang baru. Sebab iman tidak berhenti di altar, melainkan dihidupi dalam keseharian.

Perayaan berakhir dalam sukacita yang melimpah, namun pesan Paskah tetap tinggal: bahwa Kristus yang bangkit terus hidup, dan mengundang setiap umat untuk bangkit bersama-Nya, menjadi pribadi yang baru, penuh iman, harapan, dan kasih.