“Terang Kristus Menghalau Kegelapan: Vigili Paskah, Malam Kebangkitan yang Membaharui Iman”


Sabtu, 4 April 2026 – Vigili Paskah
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Malam itu, kegelapan bukan lagi sekadar suasana, ia menjadi simbol. Simbol dari dunia yang menantikan terang, dari hati yang merindukan harapan. Dalam keheningan malam, umat berkumpul di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo untuk merayakan Vigili Paskah, puncak dari seluruh rangkaian Pekan Suci.

Perayaan yang dilaksanakan pada Sabtu, 4 April 2026 ini dipimpin oleh Romo FX Murdi Susanto, yang mengajak umat memasuki misteri kebangkitan dengan hati yang terbuka dan penuh iman.

Sebelum perayaan dimulai, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menerima kunjungan singkat dari wakil Bupati Sleman, Bapak Danang Maharsa. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan sambutan singkat kepada umat, sebelum kemudian melanjutkan agenda lainnya. Kehadiran ini menjadi bentuk perhatian dan dukungan terhadap kehidupan umat beriman di tengah masyarakat.

Vigili Paskah diawali dalam suasana gelap. Dari luar gereja, cahaya kecil mulai dinyalakan, api baru yang kemudian menyalakan Lilin Paskah. Dari satu nyala, terang itu dibagikan kepada umat. Perlahan, gereja yang tadinya gelap dipenuhi cahaya lilin, menjadi tanda bahwa kegelapan tidak pernah mampu mengalahkan terang.

Dalam nyanyian pujian Exsultet, Gereja bersukacita atas karya keselamatan yang agung. Malam ini bukan malam biasa, ini adalah malam kemenangan, malam ketika maut dikalahkan dan kehidupan dimenangkan oleh Yesus Kristus.

Sukacita itu semakin lengkap dengan pelaksanaan sakramen baptis, di mana 9 orang menerima rahmat pembaptisan. Dalam momen ini, Gereja menyambut anggota baru yang dilahirkan kembali dalam Kristus, sebuah tanda nyata bahwa kehidupan baru terus bertumbuh dalam iman.

Liturgi Sabda mengajak umat menelusuri kembali sejarah keselamatan, dari penciptaan hingga janji keselamatan yang digenapi dalam kebangkitan Kristus. Setiap bacaan menjadi pengingat bahwa Tuhan selalu setia menyertai umat-Nya, bahkan dalam saat-saat tergelap sekalipun.

Puncak sukacita semakin terasa ketika Alleluia kembali dikumandangkan, sebuah seruan yang lama “berdiam” selama masa prapaskah, kini bergema dengan penuh kemenangan. Hati umat pun seakan ikut bangkit, dipenuhi harapan baru.

Vigili Paskah bukan hanya perayaan liturgi, tetapi juga perayaan iman. Ia mengajak setiap orang untuk meninggalkan kegelapan lama dan berjalan dalam terang yang baru. Dalam terang Kristus yang bangkit, setiap luka menemukan harapan, setiap kegelapan menemukan arti.

Perayaan malam itu berakhir bukan dengan keheningan, melainkan dengan sukacita yang hidup. Sebab dari malam yang gelap, telah lahir terang yang tak akan pernah padam.

“Dalam Keheningan Salib: Ibadat Jumat Agung, Saat Kasih Disempurnakan dalam Pengorbanan”


Jumat Agung, 3 April 2026 – Pukul 15.00 WIB
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Jumat Agung selalu datang dengan suasana yang tidak biasa. Ia bukan sekadar hari peringatan, melainkan hari ketika Gereja berhenti sejenak, diam, dan memandang salib, tempat di mana kasih mencapai puncaknya.

Siang itu, sekitar pukul 12.00 WIB, langit masih tampak cerah. Matahari bersinar seperti hari-hari biasa, seolah dunia berjalan tanpa perubahan. Namun perlahan, waktu membawa suasana yang berbeda. Menjelang pukul 15.00 WIB, jam yang dikenang sebagai saat wafatnya Yesus Kristus, langit berubah. Awan mendung mulai menyelimuti, cahaya meredup, dan suasana menjadi lebih hening, seakan seluruh alam turut mengambil bagian dalam misteri agung ini.

Pada pukul 15.00 WIB, umat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk mengikuti Ibadat Jumat Agung. Dalam keheningan yang khas, tanpa dentang lonceng dan tanpa nyanyian pembuka yang meriah, perayaan dimulai. Semua terasa lebih sederhana, namun justru di situlah letak kedalamannya.

Jumat Agung bukanlah perayaan Ekaristi, melainkan ibadat yang mengajak umat untuk merenungkan sengsara dan wafat Kristus. Pusat perhatian tertuju pada salib, lambang yang dahulu menjadi tanda kehinaan, kini menjadi tanda keselamatan.

Dalam liturgi yang berlangsung, umat diajak untuk mendengarkan Kisah Sengsara, mendoakan intensi dunia, serta memasuki momen penghormatan salib. Satu per satu umat datang mendekat, bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai ungkapan iman: bahwa dari kayu salib itu, mengalir kasih yang tak terbatas.

Perubahan langit dari terang menjadi gelap seakan menjadi tanda yang menguatkan permenungan hari itu. Seperti alam yang ikut berduka, umat pun diajak untuk menyadari betapa besar pengorbanan yang telah diberikan. Dalam gelapnya langit, justru tersimpan terang harapan, bahwa kasih tidak pernah kalah oleh penderitaan.

Jumat Agung mengajarkan bahwa dalam diam, Tuhan berkarya. Dalam penderitaan, kasih dinyatakan. Dan dalam wafat, kehidupan justru dipulihkan.

Perayaan berakhir dalam suasana hening. Tidak ada penutup yang meriah, hanya keheningan yang dibawa pulang, sebuah undangan untuk terus merenungkan, bahwa dari salib itulah, keselamatan dunia dimulai.

“Tujuh Sabda dari Salib: Hening yang Berbicara, Kasih yang Tersampaikan”


Ibadat 7 Sabda – Jumat Agung Pagi, 3 April 2026
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Pagi itu, suasana di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo terasa berbeda. Tidak ada kemeriahan, tidak ada sorak puji, yang ada hanyalah keheningan yang dalam. Dalam hening itulah umat berkumpul, membuka hati untuk merenungkan tujuh sabda terakhir dari Yesus Kristus di kayu salib.

Ibadat Tujuh Sabda pada Jumat pagi, 3 April 2026, menjadi momen permenungan yang mengajak umat masuk lebih dalam ke dalam misteri penderitaan dan kasih. Setiap sabda yang diucapkan bukan sekadar kata-kata terakhir, melainkan ungkapan kasih yang paling jujur, lahir dari penderitaan, namun penuh pengampunan dan harapan.

Dari sabda pertama tentang pengampunan, hingga sabda terakhir penyerahan diri kepada Bapa, umat diajak untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan. Dalam setiap jeda, dalam setiap keheningan, seakan Tuhan sendiri berbicara secara pribadi kepada hati yang mau membuka diri.

Ibadat ini tidak berlangsung dengan gegap gempita, melainkan dengan kesederhanaan yang justru menghadirkan kedalaman. Setiap refleksi membawa umat pada satu pertanyaan yang sama: sudahkah kita sungguh memahami kasih yang begitu besar ini?

Di kayu salib, Yesus tidak hanya menanggung penderitaan, tetapi juga menunjukkan arti cinta yang sejati, cinta yang tetap mengampuni di tengah luka, yang tetap berharap di tengah kegelapan, dan yang tetap menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa.

Ibadat Tujuh Sabda ini menjadi ruang bagi umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan, untuk diam, dan untuk mendengarkan. Sebab dalam keheningan itulah, seringkali Tuhan berbicara paling jelas.

Perayaan mungkin sederhana, namun maknanya begitu mendalam. Dari salib, kasih itu terus mengalir, menyentuh, mengubah, dan mengundang setiap hati untuk kembali.

“Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku: Perayaan Kamis Putih sebagai Awal Misteri Kasih yang Terserahkan”


Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, Kamis 2 April 2026

Kamis Putih selalu hadir dengan suasana yang hening namun sarat makna. Ia bukan sekadar perayaan, melainkan pintu masuk menuju Misteri Paskah—saat Gereja mengenang kasih yang diwujudkan secara nyata oleh Yesus Kristus dalam Perjamuan Terakhir bersama para murid-Nya.

Pada hari inilah, Yesus menetapkan Ekaristi, menghadirkan diri-Nya dalam rupa roti dan anggur sebagai santapan keselamatan. Bukan hanya itu, Ia juga memberikan teladan kerendahan hati melalui tindakan membasuh kaki para murid, sebuah pesan yang melampaui kata-kata: bahwa kasih sejati selalu siap untuk melayani.

Perayaan Kamis Putih di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) tahun ini dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan selaku Romo Paroki Kalasan. Sebanyak 1.233 umat hadir dan memenuhi gereja dalam suasana yang khidmat, membawa kerinduan untuk ambil bagian dalam perjamuan kasih Tuhan.

Sejak awal perayaan, nuansa liturgi terasa begitu mendalam. Setiap bagian ibadat mengajak umat untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga mengalami kembali kasih yang diberikan tanpa syarat. Dalam keheningan doa dan nyanyian, umat diajak masuk dalam peristiwa agung: saat Tuhan menyerahkan diri-Nya sepenuhnya.

Kamis Putih bukan hanya tentang perjamuan, tetapi juga tentang penyerahan diri. Dalam Ekaristi, umat diajak untuk belajar memberi, seperti Kristus yang memberi diri-Nya. Dalam teladan pembasuhan kaki, umat diingatkan bahwa iman yang hidup selalu terwujud dalam pelayanan yang rendah hati.

Usai perayaan Ekaristi, umat tidak langsung beranjak pulang. Malam itu dilanjutkan dengan tuguran, sebuah saat berjaga bersama Tuhan dalam keheningan dan doa. Umat diajak untuk menemani Yesus dalam saat-saat terakhir-Nya sebelum sengsara, menghadirkan diri dalam kesetiaan yang sederhana namun mendalam.

Tuguran dilaksanakan secara bergiliran oleh wilayah-wilayah, dimulai dari Wilayah Sang Timur, dilanjutkan oleh Wilayah Don Bosco, kemudian Wilayah Ignatius Loyola, dan ditutup oleh Wilayah De Britto. Dalam suasana yang hening dan penuh doa, setiap wilayah mengambil bagian dalam menjaga keheningan malam, seolah menjadi murid-murid yang setia berjaga bersama Sang Guru.

Perayaan ini menjadi awal dari perjalanan iman yang lebih dalam, menuju Jumat Agung dan akhirnya Paskah. Sebuah perjalanan dari kasih yang diberikan, menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju kemenangan kehidupan.

Gema kasih itu tidak berhenti di dalam gereja. Ia diharapkan hidup dalam setiap tindakan, dalam setiap pelayanan, dan dalam setiap hati umat yang telah mengambil bagian dalam perjamuan suci ini.

“Perayaan Minggu Palma: Gerbang Suci Memasuki Misteri Sengsara Tuhan di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo”


Minggu, 29 Maret 2026

Minggu Palma selalu punya nuansa yang berbeda. Ada sukacita, ada harapan, tapi juga mulai terasa bayang-bayang penderitaan. Hari ini, Gereja mengenang peristiwa saat Yesus Kristus memasuki Kota Yerusalem dan disambut meriah oleh orang banyak dengan lambaian daun palma—tanda kemenangan, namun juga awal dari jalan salib-Nya.

Perayaan Minggu Palma di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo tahun ini dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo. sekitar 1041 Umat mulai berkumpul sejak pagi hari di halaman belakang gereja, membawa daun palma di tangan—sederhana, namun penuh makna.

Perayaan diawali dengan upacara pemberkatan daun palma. Dalam suasana yang khidmat, daun-daun palma diberkati sebagai simbol kesediaan umat untuk menyambut Kristus dalam hidup mereka—bukan hanya dalam sorak sorai, tetapi juga dalam kesetiaan.

Setelah itu, dimulailah perarakan menuju gereja. Barisan berjalan dengan tertib: diawali oleh putra-putri altar, diikuti para prodiakon, dan kemudian romo sebagai gembala umat. Langkah demi langkah perarakan ini seakan mengajak setiap orang untuk ikut masuk dalam kisah iman—bukan sekadar mengenang, tetapi mengalami.

Perayaan Ekaristi pun berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Namun puncak refleksi hari ini hadir dalam pembacaan Kisah Sengsara (Pasio). Kisah ini dibawakan dengan penghayatan oleh Mas Satria, Mbak Bunga, Mas Aremba, dan Mas Cristian. Suasana gereja menjadi hening, seolah setiap kata yang diucapkan mengajak umat untuk berhenti sejenak, merenung, dan melihat kembali makna pengorbanan.

Minggu Palma bukan sekadar awal dari Pekan Suci. Ia adalah undangan—untuk berjalan bersama, dari sorak sorai menuju salib, dari kegembiraan menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju harapan akan kebangkitan.

Gereja Terbuka 24 Jam: Datang dan Berdoa di Hadapan Bunda Maria


Gereja senantiasa membuka pintunya bagi siapa pun yang rindu untuk berdoa dan mencari keheningan di hadapan Tuhan. Di depan patung Maria Bunda Allah, umat dipersilakan datang untuk sejenak berhenti dari kesibukan, menenangkan hati, serta menyerahkan segala doa, harapan, dan pergumulan hidup.

Dalam suasana yang teduh dan penuh damai, setiap pribadi diajak untuk mengalami kehadiran Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria, yang dengan kasih keibuannya senantiasa mendampingi dan menguatkan. Di tempat ini, doa-doa sederhana yang terucap dalam keheningan menjadi ungkapan iman yang hidup.

Sebagai wujud keterbukaan dan pelayanan, gereja hadir tanpa batas waktu. Pintu gereja terbuka 24 jam, memberi kesempatan bagi siapa saja untuk datang kapan pun—baik dalam sukacita maupun dalam kesesakan—untuk berdoa, berserah, dan menemukan pengharapan baru.

Semoga setiap langkah yang datang membawa kerinduan akan Tuhan, dipulangkan dengan hati yang damai, dikuatkan, dan diteguhkan dalam iman.

Jadwal Pekan Suci Paskah 2026 Gereja Maguwo

Jadwal Pekan Suci Paskah 2026 Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo.

PerayaanHari, tanggalJamBahasa
Minggu PalmaMinggu, 29 Maret 202607.00 WIBIndonesia
Kamis PutihKamis, 2 April 202619.00 WIBIndonesia
Jumat AgungJumat, 3 April 202615.00 WIBIndonesia
Vigili PaskahSabtu, 4 April 202619.00 WIBIndonesia
Minggu PaskahMinggu, 5 April 202608.00 WIBIndonesia

Ketentuan Pekan Suci

Ngabuburit Lintas Iman di Sleman, Gus Miftah dan Danrem 072 Pamungkas Serukan Perawatan Kebhinekaan

Yogyakarta – Sekitar 200 tokoh lintas agama mengikuti kegiatan ngabuburit dan orasi kebangsaan lintas iman yang digelar di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan tersebut mengusung semangat merawat kebhinekaan dan menyemai kerukunan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Acara ini menghadirkan tokoh Islam Miftah Maulana Habiburrahman atau yang dikenal sebagai Gus Miftah, serta Danrem 072/Pamungkas Bambang Sujarwo sebagai pembicara dalam orasi kebangsaan.

turut hadir pula perwakilan dari Gereja Maria Marganingsih kalasan, perwakilan dari Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo dan perangkat pemerintahan di sekitar gereja Maria Bunda Allah

Dalam kesempatan tersebut, panitia juga membagikan 200 buku karya Gus Miftah berjudul “Merawat Kebhinekaan Menyemai Kerukunan” kepada para peserta yang hadir.

Buku tersebut lahir dari kegelisahan mendalam terhadap kondisi kebangsaan Indonesia, terutama terkait masih terjadinya berbagai kasus intoleransi yang dinilai mencederai nilai kemanusiaan dan persatuan bangsa.

Menurut Miftah Maulana Habiburrahman, berbagai peristiwa seperti perusakan rumah ibadah, penolakan pembangunan gereja, pembatasan ritual keagamaan kelompok minoritas, hingga maraknya ujaran kebencian di media sosial menjadi fenomena yang perlu mendapat perhatian serius.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi pertanyaan besar bagi bangsa yang menjunjung tinggi ideologi Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Kerukunan tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa, baik tokoh agama, masyarakat sipil, maupun setiap warga negara,” tegas Gus Miftah.

Ia menambahkan bahwa tanpa upaya kolektif melawan intoleransi, bangsa Indonesia berisiko kehilangan rumah besar bernama Indonesia yang seharusnya menjadi tempat aman bagi semua orang untuk hidup dan beribadah sesuai keyakinannya.

Selain itu, Gus Miftah juga menekankan pentingnya literasi toleransi, khususnya di era digital. Menurutnya, ujaran kebencian di media sosial dapat memicu konflik di dunia nyata jika tidak disikapi dengan bijak.

“Literasi digital tentang toleransi harus diajarkan sejak dini, baik di sekolah maupun di keluarga, agar generasi muda menjadi agen perdamaian, bukan penyebar kebencian,” ujarnya.

Namun demikian, ia menilai literasi saja tidak cukup tanpa kehadiran negara melalui regulasi yang adil. Ia menyinggung Peraturan Bersama Menteri (PBM) Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 yang menurutnya masih memiliki keterbatasan dalam memberikan perlindungan terhadap hak-hak kelompok minoritas.

Sementara itu, Bambang Sujarwo dalam orasi kebangsaannya menegaskan bahwa perbedaan suku, agama, dan ras merupakan identitas bangsa Indonesia yang harus dijaga bersama.

Menurutnya, toleransi harus menjadi kekuatan utama bangsa dengan cara saling menghormati dan menghargai satu sama lain, tidak hanya sebatas ucapan tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya menghimbau kepada seluruh pemeluk agama agar saling menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi toleransi. Jika ada permasalahan, selesaikanlah dengan musyawarah untuk menemukan jalan terbaik,” ujarnya.


Berita terkait :

https://www.klikanggaran.com/pendidikan/11516833975/ngabuburit-lintas-iman-di-gereja-sleman-gus-miftah-bagikan-200-buku-kebinekaan-dan-serukan-perlawanan-bersama-terhadap-intoleransi-di-indonesia

https://www.harian9.com/nasional/522422653/gus-miftah-orasi-kebangsaan-di-gereja-sleman-serukan-perlawanan-terhadap-intoleransi#google_vignette

https://www.melintas.id/news/347280660/meneguhkan-semangat-inklusivitas-gus-miftah-dan-pesan-persatuan-dari-mimbar-gereja-di-sleman

https://www.jatengzone.com/komunitas-event/106016833712/gus-miftah-orasi-kebangsaan-di-gereja-sleman-saat-ngabuburit-soroti-intoleransi-dan-pentingnya-menjaga-kerukunan-di-indonesia#google_vignette

https://www.g-news.id/nasional/1582422636/ngabuburit-kebangsaan-di-gereja-maguwoharjo-gus-miftah-gaungkan-perlawanan-terhadap-intoleransi

https://www.kliktimes.com/news/72916833694/gus-miftah-orasi-kebangsaan-di-gereja-sleman-serukan-perlawanan-terhadap-intoleransi

https://www.arahpublik.com/berita-publik/1257281367/gus-miftah-bagikan-buku-merawat-kebinekaan-ke-200-tokoh-lintas-agama-di-gereja-sleman-ajak-lawan-intoleransi?page=3#google_vignette

https://www.mediapriangan.com/berita/59216834090/ngabuburit-lintas-iman-di-gereja-sleman-gus-miftah-serukan-toleransi-dan-rawat-kebinekaan

https://www.redaksibaru.id/news/1702422794/ngabuburit-di-gereja-sleman-gus-miftah-serukan-perlawanan-intoleransi-di-hadapan-200-tokoh-lintas-agama

https://www.suaramerdeka.com/nasional/0416834131/ngabuburit-kebangsaan-di-sleman-gus-miftah-dan-200-tokoh-lintas-agama-serukan-pentingnya-merawat-toleransi

https://www.instagram.com/reel/DVp9unOkec7/?igsh=czE5eTNkeW9pYjVv

https://www.instagram.com/p/DVp9qN4kZU2/?igsh=YnM4ajVhMTRtYm82

Tata Gerak yang Mengguyubkan: Sikap Tubuh dan Saat Hening

KATEKESE LITURGI – MARET 2026
Tata Gerak yang Mengguyubkan: Sikap Tubuh dan Saat Hening

Membangun Kesatuan Batin dalam Perayaan
Saudara-saudari, dalam perayaan liturgi, kita melakukan tata gerak dan sikap tubuh yang seragam. Mari kita pahami bersama bahwa sikap yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat dan mencerminkan serta membangun sikap batin yang sama pula. Saat Hening menjadi bagian perayaan untuk permenungan dan menyiapkan jawaban dalam bentuk doa.
PUMR 42-46 mengarahkan kita akan pentingnya kesatuan antara sikap lahiriah dan batiniah dalam sebuah perayaan liturgi Gereja.

Pertama: Makna Sikap Tubuh yang Seragam
Tata gerak dan sikap tubuh seperti berdiri, duduk, dan berlutut yang dilakukan secara seragam bukan sekadar aturan formalitas. Sikap yang seragam ini memiliki dua fungsi utama:

  1. Menandakan Kesatuan artinya menjadi simbol nyata bahwa seluruh jemaat adalah satu kesatuan yang utuh.
  2. Membangun Sikap Batin artinya sikap tubuh yang sama mencerminkan sekaligus membantu membentuk disposisi atau sikap batin yang serupa di antara umat.

Kedua: Peran Saat Hening dalam Perayaan
Saat Hening merupakan bagian integral dari perayaan yang berfungsi sebagai ruang untuk permenungan. Keheningan ini memberikan kesempatan bagi umat untuk menyiapkan jawaban atau tanggapan mereka kepada Tuhan dalam bentuk doa, dengan demikian dialog dengan Tuhan makin nyata terjadi. Saat Hening menjadijembatan batin yang menghubungkan setiap pribadi dengan Tuhan.

Penghayatan tata gerak dan keheningan ini adalah agar umat dapat menjadi pribadi yang guyub. Menyejahterakan dapat terwujud dari semangat guyub, artinya membangun kebersamaan yang positif, hidup rukun sebagai satu keluarga besar, Tubuh Kristus, serta membawa umat pada sikap yang bijaksana, yakni bertindak dan berdoa dengan penuh kesadaran.

Pertanyaan Reflektif bagi kita:

  • Apakah selama ini saya melakukan gerakan berdiri, duduk, atau berlutut dalam ibadat hanya sebagai rutinitas, ataukah saya sungguh merasakannya sebagai ungkapan kesatuan dengan sesama jemaat?
  • Bagaimana saya memanfaatkan saat-saat hening dalam perayaan? Apakah saya sungguh menggunakannya untuk merenung dan menyiapkan hati untuk berdoa?

Marilah kita menghayati setiap tata gerak dan saat hening dengan penuh kesadaran, agar kebersamaan kita sungguh mencerminkan kesatuan batin yang membangun kesejahteraan bersama.

Bikin Film? Siapa Takut! Saatnya Lingkungan Kita Bersinar!


Kadang kita merasa kegiatan lingkungan itu biasa saja.
Doa lingkungan… bakti sosial… rekoleksi… kunjungan kasih…

Tapi pernah nggak kita sadar?
Di situlah Gereja yang sesungguhnya sedang hidup.

Melalui Festival & Lomba Film Pendek Dokumenter ARDAS 2026, Stasi St. Maria Bunda Allah Maguwo mengajak seluruh lingkungan untuk menunjukkan bahwa Gereja kita itu:

Bahagia, Menginspirasi, Menyejahterakan

Bukan cuma hadir… tapi berdampak.

Mau yang simpel? Bikin video < 59 detik untuk IG/TikTok.
Mau yang niat? Garap film 3–6 menit buat YouTube/Website.

Nggak harus pakai kamera mahal.
HP juga bisa.
Yang penting: kompak, kreatif, dan penuh semangat!

Ada banyak kategori yang bisa diraih:
Film Terbaik, Film Paling Membahagiakan, Film Paling Menginspirasi, Cerita Lingkungan Terbaik, Film Favorit dan Lingkungan Paling Rajin

Dan tenang… setiap lingkungan dapat stimulus dana Rp100.000 untuk mulai berkarya

Bayangkan kalau di akhir tahun nanti nama lingkungan kita dipanggil sebagai pemenang…
Bukan cuma soal hadiah.
Tapi soal kebanggaan: “Ini lho wajah Gereja kami.”

Penjurian dan pengumuman akan dilaksanakan pada 28 Desember 2026.

Jadi…
Mau jadi penonton?
Atau jadi lingkungan yang dikenang sepanjang tahun?

Ayo bergerak.
Ayo rekam.
Ayo wartakan.

Lingkungan kita siap viral demi Kerajaan Allah?