Laporan Pertanggungjawaban Panitia Paskah 2026 Berjalan Lancar

Maguwo – Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Panitia Paskah 2026 yang dilaksanakan pada hari ini (Minggu, 3 Mei 2026) pukul 18.00 WIB. Kegiatan ini menjadi momen penting untuk merefleksikan seluruh rangkaian perayaan Paskah yang telah dilaksanakan, sekaligus sebagai sarana evaluasi demi pelayanan yang semakin baik di masa mendatang.

Laporan dari Ketua Panitia


Acara dihadiri oleh panitia Paskah yang dengan antusias memberikan berbagai masukan. Beragam evaluasi yang disampaikan bersifat membangun, mencerminkan kepedulian bersama terhadap kualitas penyelenggaraan kegiatan gereja. Diskusi berlangsung dengan suasana terbuka, saling menghargai, dan berfokus pada semangat perbaikan.


Ketua Panitia Paskah 2026, Paulus Wardhana, dalam kesempatan tersebut menyampaikan laporan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban keuangan. Dalam sambutannya, ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, baik tenaga, waktu, maupun dukungan doa sehingga rangkaian perayaan Paskah dapat berjalan dengan baik dan lancar.


Sebagai bentuk tanggung jawab dan transparansi, Ketua Panitia secara simbolis menyerahkan buku laporan pertanggungjawaban kepada Ketua Stasi, Yohanes Agung Prasetyo. Penyerahan ini menjadi tanda bahwa seluruh rangkaian tugas kepanitiaan telah diselesaikan dengan baik.


Ketua Stasi dalam sambutannya mengapresiasi kerja keras panitia serta partisipasi umat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan dan pelayanan yang tulus dalam setiap kegiatan gereja.


Acara kemudian ditutup dengan santap malam bersama yang telah dipersiapkan oleh tim konsumsi. Momen ini semakin mempererat kebersamaan dan menjadi penutup yang hangat bagi seluruh rangkaian kegiatan.


Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semangat pelayanan umat semakin bertumbuh, sejalan dengan panggilan untuk terus menjadi saksi kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

“Pamong Berdaya, Umat Sejahtera: Spiritualitas, Kepemimpinan, dan Aksi Nyata Menuju Gereja yang Menginspirasi”


Pada Jumat, 1 Mei 2026, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menjadi saksi terselenggaranya kegiatan pembekalan bagi Ketua Lingkungan dan Pengurus Lingkungan dalam lingkup Stasi Maria Bunda Allah Maguwo. Mengusung tema “Menjadi Pamong yang Bahagia dan Menginspirasi”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga momentum refleksi dan transformasi pelayanan.

Kegiatan dibuka oleh Romo Yuyun Yuniarto yang mengangkat konsep multi-tasking sebagai realitas keseharian para pamong: banyak peran, banyak tanggung jawab, dan kesibukan yang tak terelakkan. Namun, pertanyaan mendasar yang diajukan menggugah hati para peserta apakah semua itu membawa kebahagiaan, atau justru tekanan? Dalam permenungannya, ditegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya aktivitas, melainkan pada kedalaman relasi dengan Allah: hidup dalam ketergantungan penuh kepada-Nya, memiliki hati yang lembut, merindukan kebenaran, serta rela berkorban demi iman.

Lebih dari sekadar refleksi spiritual, pembekalan ini juga menegaskan kembali tugas utama kepamongprajaan. Para ketua dan pengurus lingkungan diharapkan mampu menjadi penggerak pertumbuhan iman umat sekaligus menjalin sinergi pelayanan dalam Gereja. Tak berhenti di altar, peran ini juga menjangkau kehidupan sosial kemasyarakatan—aktif dalam kegiatan RT, RW, hingga padukuhan, sebagai wujud nyata kehadiran Gereja di tengah dunia.

Menariknya, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pelatihan praktis pengolahan sampah organik. Para peserta diajak untuk tidak hanya melayani dengan hati, tetapi juga menjadi teladan dalam aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan. Melalui praktik pembuatan kompos dari dedaunan, umat diajak membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.

Proses pelatihan dimulai dari pengenalan alat, seperti mesin pencacah dedaunan dan mesin pengayak kompos, serta bahan pendukung seperti EM4 dan molase. Peserta kemudian diajak memahami tahapan pembuatan kompos secara sederhana, mulai dari pengumpulan bahan, pencacahan, hingga proses pengayakan kompos yang telah difermentasi selama 2–3 bulan. Dalam praktiknya, peserta juga langsung mencoba mengoperasikan alat dan memahami pentingnya menjaga kelembapan serta suhu agar proses pengomposan berjalan optimal.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh ketua dan pengurus lingkungan se-Stasi Maria Bunda Allah Maguwo, dengan tujuan utama mendorong umat untuk tidak lagi membakar sampah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan ini membekali umat dengan keterampilan praktis dalam mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir para pamong yang tidak hanya setia dalam pelayanan, tetapi juga mampu menjadi inspirasi bagi umat dan masyarakat. Pamong yang bahagia, peduli, dan berdaya, yang menghadirkan Gereja tidak hanya dalam kata, tetapi juga dalam tindakan nyata demi kebaikan bersama.

Petugas Liturgi yang Menginspirasi – BKL 2026

KATEKESE LITURGI – MEI 2026
“Petugas Liturgi yang Menginspirasi: Menjalankan Tugas dengan Kompetensi dan Kerendahan Hati”

Dalam perayaan Ekaristi, Gereja tidak hanya melibatkan imam, tetapi juga membuka ruang bagi keterlibatan umat melalui berbagai pelayanan liturgi khusus. Berdasarkan Pedoman Umum Missale Romawi (PUMR 98-107), tugas-tugas yang tidak secara khusus diperuntukkan bagi klerus dapat dipercayakan kepada kaum awam yang dipilih dan dipersiapkan dengan baik.
Pelayanan-pelayanan ini meliputi akolit, lektor, pemazmur, paduan suara, koster, komentator, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya. Masing-masing memiliki peran yang khas dalam membantu umat untuk berpartisipasi secara aktif dan penuh dalam liturgi.

Akolit dilantik untuk melayani altar dan membantu imam serta diakon (PUMR 98). Lektor dilantik untuk mewartakan bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil. Dapat juga ia membawakan ujud-ujud doa umat dan, kalau tidak ada pemazmur, ia dapat juga membawakan mazmur tangggapan (PUMR 99). Karena itu, seorang lektor harus sungguh-sungguh terampil dan disiapkan secara cermat (PUMR 101), memahami isi bacaan, dan mempersiapkan diri dengan baik, sehingga Sabda yang disampaikan dapat menyentuh hati umat. Demikian pula pemazmur, yang bertugas membawakan mazmur atau kidung-kidung dari Alkitab diantara bacaan-bacaan (PUMR 102). Paduan suara atau kor melaksanakan tugas liturgi tersendiri ditengah umat beriman (PUMR 103). Paduan suara menghidupkan doa melalui nyanyian. Koster, yang dengan cermat mengatur buku-buku liturgis,busana liturgis, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk perayaan Misa (PUMR 105a). Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik (PUMR 105b).

Semua tugas ini bukan sekadar “peran teknis”, tetapi merupakan pelayanan iman. Karena itu, setiap petugas liturgi dipanggil untuk memiliki dua sikap utama:

  1. Kompetensi: kemampuan, latihan, dan kesiapan yang sungguh-sungguh agar pelayanan dilakukan dengan baik, tertib, dan bermakna.
  2. Kerendahan hati: kesadaran bahwa pelayanan ini bukan untuk tampil atau mencari perhatian, melainkan untuk melayani Tuhan dan membantu umat berdoa.

Ketika kompetensi dan kerendahan hati berjalan bersama, pelayanan liturgi menjadi indah, khidmat, dan menginspirasi. Umat tidak hanya “melihat” petugas liturgi, tetapi sungguh dibantu untuk mengalami kehadiran Allah.

Dengan demikian, para petugas liturgi awam mengambil bagian nyata dalam perayaan Ekaristi sebagai tindakan seluruh Gereja. Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi rekan sekerja dalam karya keselamatan, yang melalui tugasnya membantu Sabda Allah didengar, doa dipanjatkan, dan misteri iman dirayakan dengan layak.

Akhirnya, pelayanan yang dijalankan dengan hati yang tulus akan membawa buah rohani: para pelayan liturgi menjadi bahagia dalam iman, karena mengalami kedekatan dengan Tuhan, dan sekaligus menginspirasi umat, karena melalui pelayanan mereka, banyak orang semakin diteguhkan dalam iman dan cinta akan Ekaristi.

Refleksi bagi kita pelayan liturgi:
Apakah pelayanan saya sudah membantu umat bertemu Tuhan, atau justru mencari perhatian?

Katekese Liturgi Bulan April 2026

Katekese Liturgi Bulan April 2026 dengan tema “Imamat Jabatan dan Imamat Rajawi: Saling Melengkapi dalam Pelayanan”
Dalam Gereja, kita mengenal dua bentuk partisipasi dalam imamat Kristus, yaitu imamat jabatan dan imamat rajawi. Keduanya berasal dari Kristus yang sama, namun dijalankan dengan cara berbeda dan saling melengkapi, terutama dalam perayaan Ekaristi (bdk. Pedoman Umum Missale Romawi 4–41, 91, 95–96).

  1. Imamat Jabatan dijalankan oleh para pelayan tertahbis, yakni imam dan diakon. Imam memimpin perayaan Ekaristi dan bertindak dalam pribadi Kristus (in persona Christi), mempersembahkan kurban kepada Allah serta membimbing umat dalam doa dan hidup iman. Diakon membantu dalam pelayanan Sabda, altar, dan kasih. Pelayanan mereka hadir untuk melayani dan membangun umat Allah, bukan menggantikan umat.
  2. Sementara itu, Imamat Rajawi adalah panggilan seluruh umat beriman yang diterima melalui baptisan. Umat dipanggil menjadi umat kudus yang mempersembahkan hidupnya sebagai kurban rohani. Dalam liturgi, umat tidak hanya hadir, tetapi berpartisipasi aktif melalui doa, nyanyian, mendengarkan Sabda, serta mempersembahkan diri bersama Kristus.
  3. Perayaan Ekaristi adalah tindakan seluruh Gereja, bukan hanya imam. Setiap orang memiliki peran yang khas dan dipanggil untuk melaksanakannya dengan tepat—tidak kurang dan tidak lebih. Imam, petugas liturgi, dan umat bersama-sama membentuk satu kesatuan yang harmonis dalam memuliakan Allah.
    Dengan demikian, imamat jabatan dan imamat rajawi saling melengkapi: imam memimpin dan menguduskan, umat menanggapi dan menghidupi. Dalam kesatuan ini, Gereja sungguh menjadi tanda kehadiran Kristus di dunia.

Pemahaman ini mengajak para pelayan liturgi untuk melayani dengan sukacita dan kesadaran iman. Ketika setiap orang menjalankan perannya dengan benar, liturgi menjadi sumber kebahagiaan rohani dan menghadirkan kesejahteraan batin bagi seluruh umat.

“Dari Hosana Menuju Alleluia: Perjalanan Iman Umat dalam Pekan Suci di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo”


Pekan Suci adalah puncak tahun liturgi Gereja, sebuah ziarah iman yang mengantar umat masuk ke dalam Misteri Paskah, misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus, Sang Penebus.

Perjalanan suci ini diawali dalam Minggu Palma, ketika Gereja mengenangkan perarakan Kristus memasuki Yerusalem. Umat menyambut-Nya dengan seruan “Hosana”, namun sekaligus diingatkan bahwa jalan yang ditempuh Sang Raja adalah jalan kerendahan dan pengorbanan.

Dalam Perayaan Kamis Putih, Gereja memasuki perjamuan kasih. Di sana, Kristus menganugerahkan Ekaristi sebagai kenangan akan diri-Nya, sekaligus memberikan teladan pelayanan melalui pembasuhan kaki. Malam itu dilanjutkan dengan tuguran, sebuah partisipasi iman dalam doa Yesus di Getsemani, saat Ia berjaga dalam ketaatan total kepada kehendak Bapa.

Memasuki Jumat Agung, Gereja hening dalam permenungan. Dalam ibadat Tujuh Sabda dan liturgi sengsara Tuhan, umat diajak memandang salib sebagai altar pengorbanan, tempat di mana kasih ilahi dinyatakan secara sempurna. Dalam keheningan yang mendalam, Gereja tidak merayakan Ekaristi, melainkan berlutut di hadapan misteri wafat Tuhan yang menyelamatkan.

Namun misteri tidak berhenti pada salib.

Dalam Vigili Paskah, Gereja berjaga dalam malam yang kudus. Dari kegelapan, cahaya dinyalakan; dari keheningan, pujian dilantunkan. Liturgi ini menjadi perayaan agung kemenangan Kristus atas maut, sebuah peralihan dari kegelapan menuju terang, dari kematian menuju kehidupan.

Dan akhirnya, dalam Hari Raya Paskah, Gereja bersukacita dalam kepenuhan iman. Seruan “Alleluia” kembali menggema, menandakan bahwa Kristus sungguh telah bangkit, membawa harapan baru bagi seluruh umat beriman.

Seluruh rangkaian liturgi ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan utuh dalam ekonomi keselamatan. Umat tidak hanya mengenang, tetapi diundang untuk ambil bagian secara nyata dalam misteri yang dirayakan, hidup bersama Kristus, wafat bersama-Nya, dan bangkit dalam kehidupan yang baru.

Di balik kekhidmatan perayaan yang dialami umat, terdapat pelayanan yang dipersiapkan dengan penuh kesungguhan. Sejak awal, melalui berbagai persiapan, latihan-latihan liturgi, hingga gladi bersih, seluruh petugas mengambil bagian dalam semangat pelayanan yang tulus. Setiap peran dijalankan bukan sekadar tugas, melainkan sebagai bentuk persembahan iman bagi kemuliaan Tuhan.

Untuk itu, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh Panitia Pekan Suci, yang dimotori oleh Paulus Wardhana ( ketua Panitia Pekan suci 2026 ), atas dedikasi, pengorbanan, dan kesetiaan dalam pelayanan. Segala jerih payah yang telah diberikan menjadi bagian dari karya liturgi yang hidup, menghadirkan keindahan dan kekhusyukan dalam setiap perayaan.

Akhirnya, ziarah dari Hosana menuju Alleluia menjadi cerminan perjalanan iman setiap umat. Dalam dinamika kehidupan, sukacita, penderitaan, dan harapan, umat dipanggil untuk tetap setia, percaya bahwa terang kebangkitan senantiasa mengalahkan kegelapan.

Sebab Kristus yang bangkit adalah sumber hidup, dan dalam Dia, setiap umat dipanggil untuk terus menjadi saksi, hidup dalam iman, teguh dalam harapan, dan setia dalam kasih.

“Halleluya! Kristus Telah Bangkit: Sukacita Paskah yang Menghidupkan Iman Umat”


Minggu, 5 April 2026 – Misa Paskah
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Sukacita itu akhirnya tiba. Setelah melalui perjalanan iman yang mendalam sepanjang Pekan Suci, dari sorak “Hosana”, keheningan salib, hingga malam penuh terang, umat kini bersatu dalam satu seruan kemenangan: Haleluya! Kristus telah bangkit!

Pada Minggu, 5 April 2026, umat Gereja Maria Bunda Allah Maguwo merayakan Misa Paskah dengan penuh sukacita. Perayaan ini dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo selaku Romo Vikep, yang mengajak umat untuk sungguh mengalami makna kebangkitan dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan suasana hari-hari sebelumnya, gereja kini dipenuhi terang, bunga-bunga menghiasi altar, dan nyanyian pujian menggema dengan penuh semangat. Tidak ada lagi keheningan duka, yang ada adalah kehidupan, harapan, dan kemenangan.

Kebangkitan Yesus Kristus bukan sekadar peristiwa yang dikenang, melainkan kenyataan iman yang terus hidup. Dari kubur yang kosong, lahirlah harapan baru: bahwa maut tidak berkuasa, bahwa kasih lebih kuat dari segala penderitaan, dan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Dalam homili dan doa-doa yang dipanjatkan, umat diajak untuk tidak berhenti pada perayaan, tetapi melanjutkan semangat Paskah dalam kehidupan nyata. Menjadi saksi kebangkitan berarti membawa terang di tengah kegelapan, membawa harapan di tengah keputusasaan, dan menghadirkan kasih di tengah dunia yang seringkali terluka.

Misa Paskah ini menjadi penutup dari rangkaian Pekan Suci, namun sekaligus menjadi awal yang baru. Sebab iman tidak berhenti di altar, melainkan dihidupi dalam keseharian.

Perayaan berakhir dalam sukacita yang melimpah, namun pesan Paskah tetap tinggal: bahwa Kristus yang bangkit terus hidup, dan mengundang setiap umat untuk bangkit bersama-Nya, menjadi pribadi yang baru, penuh iman, harapan, dan kasih.

“Terang Kristus Menghalau Kegelapan: Vigili Paskah, Malam Kebangkitan yang Membaharui Iman”


Sabtu, 4 April 2026 – Vigili Paskah
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Malam itu, kegelapan bukan lagi sekadar suasana, ia menjadi simbol. Simbol dari dunia yang menantikan terang, dari hati yang merindukan harapan. Dalam keheningan malam, umat berkumpul di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo untuk merayakan Vigili Paskah, puncak dari seluruh rangkaian Pekan Suci.

Perayaan yang dilaksanakan pada Sabtu, 4 April 2026 ini dipimpin oleh Romo FX Murdi Susanto, yang mengajak umat memasuki misteri kebangkitan dengan hati yang terbuka dan penuh iman.

Sebelum perayaan dimulai, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menerima kunjungan singkat dari wakil Bupati Sleman, Bapak Danang Maharsa. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan sambutan singkat kepada umat, sebelum kemudian melanjutkan agenda lainnya. Kehadiran ini menjadi bentuk perhatian dan dukungan terhadap kehidupan umat beriman di tengah masyarakat.

Vigili Paskah diawali dalam suasana gelap. Dari luar gereja, cahaya kecil mulai dinyalakan, api baru yang kemudian menyalakan Lilin Paskah. Dari satu nyala, terang itu dibagikan kepada umat. Perlahan, gereja yang tadinya gelap dipenuhi cahaya lilin, menjadi tanda bahwa kegelapan tidak pernah mampu mengalahkan terang.

Dalam nyanyian pujian Exsultet, Gereja bersukacita atas karya keselamatan yang agung. Malam ini bukan malam biasa, ini adalah malam kemenangan, malam ketika maut dikalahkan dan kehidupan dimenangkan oleh Yesus Kristus.

Sukacita itu semakin lengkap dengan pelaksanaan sakramen baptis, di mana 9 orang menerima rahmat pembaptisan. Dalam momen ini, Gereja menyambut anggota baru yang dilahirkan kembali dalam Kristus, sebuah tanda nyata bahwa kehidupan baru terus bertumbuh dalam iman.

Liturgi Sabda mengajak umat menelusuri kembali sejarah keselamatan, dari penciptaan hingga janji keselamatan yang digenapi dalam kebangkitan Kristus. Setiap bacaan menjadi pengingat bahwa Tuhan selalu setia menyertai umat-Nya, bahkan dalam saat-saat tergelap sekalipun.

Puncak sukacita semakin terasa ketika Alleluia kembali dikumandangkan, sebuah seruan yang lama “berdiam” selama masa prapaskah, kini bergema dengan penuh kemenangan. Hati umat pun seakan ikut bangkit, dipenuhi harapan baru.

Vigili Paskah bukan hanya perayaan liturgi, tetapi juga perayaan iman. Ia mengajak setiap orang untuk meninggalkan kegelapan lama dan berjalan dalam terang yang baru. Dalam terang Kristus yang bangkit, setiap luka menemukan harapan, setiap kegelapan menemukan arti.

Perayaan malam itu berakhir bukan dengan keheningan, melainkan dengan sukacita yang hidup. Sebab dari malam yang gelap, telah lahir terang yang tak akan pernah padam.

“Dalam Keheningan Salib: Ibadat Jumat Agung, Saat Kasih Disempurnakan dalam Pengorbanan”


Jumat Agung, 3 April 2026 – Pukul 15.00 WIB
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Jumat Agung selalu datang dengan suasana yang tidak biasa. Ia bukan sekadar hari peringatan, melainkan hari ketika Gereja berhenti sejenak, diam, dan memandang salib, tempat di mana kasih mencapai puncaknya.

Siang itu, sekitar pukul 12.00 WIB, langit masih tampak cerah. Matahari bersinar seperti hari-hari biasa, seolah dunia berjalan tanpa perubahan. Namun perlahan, waktu membawa suasana yang berbeda. Menjelang pukul 15.00 WIB, jam yang dikenang sebagai saat wafatnya Yesus Kristus, langit berubah. Awan mendung mulai menyelimuti, cahaya meredup, dan suasana menjadi lebih hening, seakan seluruh alam turut mengambil bagian dalam misteri agung ini.

Pada pukul 15.00 WIB, umat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk mengikuti Ibadat Jumat Agung. Dalam keheningan yang khas, tanpa dentang lonceng dan tanpa nyanyian pembuka yang meriah, perayaan dimulai. Semua terasa lebih sederhana, namun justru di situlah letak kedalamannya.

Jumat Agung bukanlah perayaan Ekaristi, melainkan ibadat yang mengajak umat untuk merenungkan sengsara dan wafat Kristus. Pusat perhatian tertuju pada salib, lambang yang dahulu menjadi tanda kehinaan, kini menjadi tanda keselamatan.

Dalam liturgi yang berlangsung, umat diajak untuk mendengarkan Kisah Sengsara, mendoakan intensi dunia, serta memasuki momen penghormatan salib. Satu per satu umat datang mendekat, bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai ungkapan iman: bahwa dari kayu salib itu, mengalir kasih yang tak terbatas.

Perubahan langit dari terang menjadi gelap seakan menjadi tanda yang menguatkan permenungan hari itu. Seperti alam yang ikut berduka, umat pun diajak untuk menyadari betapa besar pengorbanan yang telah diberikan. Dalam gelapnya langit, justru tersimpan terang harapan, bahwa kasih tidak pernah kalah oleh penderitaan.

Jumat Agung mengajarkan bahwa dalam diam, Tuhan berkarya. Dalam penderitaan, kasih dinyatakan. Dan dalam wafat, kehidupan justru dipulihkan.

Perayaan berakhir dalam suasana hening. Tidak ada penutup yang meriah, hanya keheningan yang dibawa pulang, sebuah undangan untuk terus merenungkan, bahwa dari salib itulah, keselamatan dunia dimulai.

“Tujuh Sabda dari Salib: Hening yang Berbicara, Kasih yang Tersampaikan”


Ibadat 7 Sabda – Jumat Agung Pagi, 3 April 2026
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Pagi itu, suasana di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo terasa berbeda. Tidak ada kemeriahan, tidak ada sorak puji, yang ada hanyalah keheningan yang dalam. Dalam hening itulah umat berkumpul, membuka hati untuk merenungkan tujuh sabda terakhir dari Yesus Kristus di kayu salib.

Ibadat Tujuh Sabda pada Jumat pagi, 3 April 2026, menjadi momen permenungan yang mengajak umat masuk lebih dalam ke dalam misteri penderitaan dan kasih. Setiap sabda yang diucapkan bukan sekadar kata-kata terakhir, melainkan ungkapan kasih yang paling jujur, lahir dari penderitaan, namun penuh pengampunan dan harapan.

Dari sabda pertama tentang pengampunan, hingga sabda terakhir penyerahan diri kepada Bapa, umat diajak untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan. Dalam setiap jeda, dalam setiap keheningan, seakan Tuhan sendiri berbicara secara pribadi kepada hati yang mau membuka diri.

Ibadat ini tidak berlangsung dengan gegap gempita, melainkan dengan kesederhanaan yang justru menghadirkan kedalaman. Setiap refleksi membawa umat pada satu pertanyaan yang sama: sudahkah kita sungguh memahami kasih yang begitu besar ini?

Di kayu salib, Yesus tidak hanya menanggung penderitaan, tetapi juga menunjukkan arti cinta yang sejati, cinta yang tetap mengampuni di tengah luka, yang tetap berharap di tengah kegelapan, dan yang tetap menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa.

Ibadat Tujuh Sabda ini menjadi ruang bagi umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan, untuk diam, dan untuk mendengarkan. Sebab dalam keheningan itulah, seringkali Tuhan berbicara paling jelas.

Perayaan mungkin sederhana, namun maknanya begitu mendalam. Dari salib, kasih itu terus mengalir, menyentuh, mengubah, dan mengundang setiap hati untuk kembali.

“Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku: Perayaan Kamis Putih sebagai Awal Misteri Kasih yang Terserahkan”


Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, Kamis 2 April 2026

Kamis Putih selalu hadir dengan suasana yang hening namun sarat makna. Ia bukan sekadar perayaan, melainkan pintu masuk menuju Misteri Paskah—saat Gereja mengenang kasih yang diwujudkan secara nyata oleh Yesus Kristus dalam Perjamuan Terakhir bersama para murid-Nya.

Pada hari inilah, Yesus menetapkan Ekaristi, menghadirkan diri-Nya dalam rupa roti dan anggur sebagai santapan keselamatan. Bukan hanya itu, Ia juga memberikan teladan kerendahan hati melalui tindakan membasuh kaki para murid, sebuah pesan yang melampaui kata-kata: bahwa kasih sejati selalu siap untuk melayani.

Perayaan Kamis Putih di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) tahun ini dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan selaku Romo Paroki Kalasan. Sebanyak 1.233 umat hadir dan memenuhi gereja dalam suasana yang khidmat, membawa kerinduan untuk ambil bagian dalam perjamuan kasih Tuhan.

Sejak awal perayaan, nuansa liturgi terasa begitu mendalam. Setiap bagian ibadat mengajak umat untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga mengalami kembali kasih yang diberikan tanpa syarat. Dalam keheningan doa dan nyanyian, umat diajak masuk dalam peristiwa agung: saat Tuhan menyerahkan diri-Nya sepenuhnya.

Kamis Putih bukan hanya tentang perjamuan, tetapi juga tentang penyerahan diri. Dalam Ekaristi, umat diajak untuk belajar memberi, seperti Kristus yang memberi diri-Nya. Dalam teladan pembasuhan kaki, umat diingatkan bahwa iman yang hidup selalu terwujud dalam pelayanan yang rendah hati.

Usai perayaan Ekaristi, umat tidak langsung beranjak pulang. Malam itu dilanjutkan dengan tuguran, sebuah saat berjaga bersama Tuhan dalam keheningan dan doa. Umat diajak untuk menemani Yesus dalam saat-saat terakhir-Nya sebelum sengsara, menghadirkan diri dalam kesetiaan yang sederhana namun mendalam.

Tuguran dilaksanakan secara bergiliran oleh wilayah-wilayah, dimulai dari Wilayah Sang Timur, dilanjutkan oleh Wilayah Don Bosco, kemudian Wilayah Ignatius Loyola, dan ditutup oleh Wilayah De Britto. Dalam suasana yang hening dan penuh doa, setiap wilayah mengambil bagian dalam menjaga keheningan malam, seolah menjadi murid-murid yang setia berjaga bersama Sang Guru.

Perayaan ini menjadi awal dari perjalanan iman yang lebih dalam, menuju Jumat Agung dan akhirnya Paskah. Sebuah perjalanan dari kasih yang diberikan, menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju kemenangan kehidupan.

Gema kasih itu tidak berhenti di dalam gereja. Ia diharapkan hidup dalam setiap tindakan, dalam setiap pelayanan, dan dalam setiap hati umat yang telah mengambil bagian dalam perjamuan suci ini.