Rapat Evaluasi Perayaan Natal GMBA 2025 Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo berlangsung pada Senin, 5 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi momen refleksi bersama atas seluruh rangkaian perayaan Natal yang telah terlaksana dengan baik dan lancar. Dalam rapat tersebut, Ketua Panitia Natal GMBA 2025, Bapak Felix Ferdian, secara resmi menyerahkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepada Ketua Stasi GMBA, Bapak Yohanes Agung Prasetya. Penyerahan LPJ ini menjadi tanda berakhirnya masa tugas kepanitiaan sekaligus wujud transparansi dan tanggung jawab pelayanan kepada umat.
Ketua Stasi GMBA, Bapak Yohanes Agung Prasetya, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia serta umat yang telah terlibat aktif. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Perayaan Natal GMBA 2025 merupakan buah dari kerja sama yang solid, semangat gotong royong, dan pelayanan yang dilandasi iman serta kasih. Rapat evaluasi juga diisi dengan penyampaian masukan dan refleksi dari berbagai bidang. Berbagai catatan positif mengemuka, mulai dari koordinasi panitia yang berjalan baik, partisipasi umat yang tinggi, hingga suasana perayaan Natal yang khidmat, tertib, dan penuh sukacita. Beberapa catatan teknis turut menjadi bahan pembelajaran untuk penyelenggaraan kegiatan di masa mendatang.
Rapat evaluasi ini menghasilkan kesimpulan yang membahagiakan, yakni Perayaan Natal GMBA 2025 dinilai sukses dan membawa dampak positif bagi kehidupan menggereja umat. Semangat kebersamaan semakin kuat, rasa syukur semakin mendalam, dan nilai-nilai Natal sungguh dihidupi dalam pelayanan nyata.
Minggu, 4 Januari 2026 menjadi hari yang penuh makna bagi keluarga besar Stasi Maguwo, karena bertepatan dengan perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani) — sebuah perayaan liturgi yang mengingatkan kita akan penampakan Kristus sebagai Terang bagi semua bangsa. Epifani sendiri berasal dari kata Yunani epiphaneia yang berarti penampakan atau manifestasi, merujuk pada bagaimana Yesus Kristus dinyatakan kepada dunia, terutama melalui kunjungan para Majus dari Timur yang datang menyembah-Nya sebagai Raja dan Juruselamat. Catholic Holidays
Perayaan misa di Stasi Maguwo berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan sukacita. Liturgi dipenuhi oleh parade koor dari 17 lingkungan yang menyemarakkan suasana misa dengan nyanyian yang mengangkat pujian kepada Allah. Harmoni suara yang bergema di gereja menjadi doa dan syukur umat atas penyertaan Tuhan dalam setiap langkah hidup dan pelayanan.
Misa dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr, yang menyampaikan homili penuh inspirasi. Dalam khotbahnya, Romo Dadang mengajak seluruh umat untuk merenungkan misteri Epifani sebagai momen di mana Yesus Kristus dinyatakan kepada seluruh umat manusia, dan bagaimana peristiwa ini mengajak kita semua untuk hidup sebagai saksi terang di tengah dunia. Catholic Holidays
Momentum semakin sakral ketika ujub misa disematkan untuk memperingati pesta nama pelindung gereja, yaitu Santa Maria Bunda Allah. Ujub ini menjadi bentuk penghormatan dan doa umat kepada Santa Maria sebagai Bunda Yesus Kristus — teladan iman yang taat dan hamba Allah yang setia — sekaligus pengharapan kepada Maria sebagai Bunda yang menuntun kita untuk selalu mendekatkan hati kepada Kristus.
Puncak Perayaan: Pelantikan Dewan Stasi 2026–2028
Puncak dari perayaan ini adalah **pelantikan Dewan Stasi serta Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan seluruh Tim Pelayanan Stasi Maguwo periode 2026–2028. Dengan penuh khidmat, para pengurus baru mengucapkan janji pelayanan di hadapan Allah, imam, dan seluruh umat yang hadir.
Suasana gereja dipenuhi dengan rasa hormat dan haru ketika satu per satu pengurus maju untuk mengikrarkan komitmen mereka — janji untuk melayani dengan setia, rendah hati, dan penuh kasih. Momen ini bukan sekadar seremonial organisasi, tetapi merupakan tindakan iman yang mendalam, di mana setiap pengurus menyadari tugas dan panggilan mereka sebagai pelayan umat dalam gereja. Janji yang diucapkan bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi di hadapan Allah, yang menjadi sumber kekuatan dan pengharapan dalam setiap pelayanan.
Wejangan Penutup Rohani
Di akhir misa, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr memberikan wejangan yang menguatkan. Beliau menegaskan bahwa pelayanan bukanlah sekadar tugas administratif, tetapi panggilan hidup yang harus dijalani dengan hati yang penuh iman, semangat, dan ketulusan kasih. Romo Dadang mengajak pengurus terlantik untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah pelayanan, menjadikan setiap tindakan sebagai saksi kasih Kristus yang membawa terang ke tengah umat.
Perayaan pelantikan ini menjadi tanda bahwa komunitas Stasi Maguwo terus melangkah maju dalam iman dan pelayanan, membawa terang Kristus yang bersinar di tengah dunia, sebagaimana diwartakan dalam makna Hari Raya Penampakan Tuhan. Semoga setiap pengurus baru dapat hidup dalam terang kasih Kristus, setia melayani, dan menjadi berkat bagi seluruh umat Stasi Maguwo.
Senin malam, 8 Desember 2025, Stasi Maguwo menorehkan langkah bersejarah melalui pelaksanaan supervisi perdana. Untuk pertama kalinya, seluruh tata di stasi Maguwo menjalani proses pendampingan, peninjauan, dan evaluasi menyeluruh dari Kevikepan Jogja Timur dan Keuskupan Agung Semarang. Supervisi ini dipimpin langsung oleh Romo Maradiyo, Pr, selaku Vikep Kevikepan Jogja Timur, bersama tim supervisi gabungan yang memiliki pengalaman luas dalam tata kelola gereja.
Hadir pula Romo Antonius Dadang Hermawan Pr Pastor Paroki Kalasan, dan Romo Yohanes Ngatmo Pr Vikaris Paroki, yang memberikan dukungan penuh bagi pengembangan Stasi Maguwo. Kehadiran kedua romo tersebut menghadirkan suasana penuh semangat dan mempertegas bahwa perjalanan pastoral Stasi Maguwo selalu mendapat pendampingan yang hangat.
Suasana Supervisi: Serius Tapi Santai, Formal Tapi Tetap Hangat
Sejak para romo dan tim supervisi tiba, suasana sudah terasa akrab. Tidak ada ketegangan, tidak ada kesan “diadili”—yang ada justru semangat dialog, belajar, dan bertumbuh bersama.
Setelah doa pembuka, supervisi dibagi ke dalam tiga kelompok tata yang dikerjakan secara paralel:
1. Tata Kelola Administrasi
Peninjauan meliputi dokumen-dokumen penting, tata arsip, alur surat-menyurat, pelaporan kegiatan, hingga sistem komunikasi internal.
2. Tata Kelola Harta Benda
Tim meninjau inventaris gereja, aset, mekanisme penggunaan dana, transparansi pengelolaan, serta perencanaan pengembangan sarana prasarana.
3. Tata Penggembalaan
Pada bagian ini, pembahasan berlangsung cukup mendalam. Bidang pewartaan menjadi sorotan khusus melalui evaluasi atas program FIBB (Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan)—apakah sudah berjalan, bagaimana pendampingannya, dan sejauh mana program ini membantu memperkuat iman umat di lingkungan.
Selain pewartaan, supervisi juga meninjau bidang:
Kemasyarakatan
Litbang
Liturgi dan Peribadatan
Paguyuban
Rumah Tangga Gereja
Seluruh bidang ini dievaluasi menggunakan checklist supervisi resmi, sehingga jelas mana yang sudah baik, mana yang perlu diperkuat, dan mana yang butuh pendampingan lanjutan. Prosesnya berjalan hangat, penuh tanya jawab, diselingi tawa kecil yang membuat suasana tetap ringan meskipun yang dibahas serius.
Dalam diskusi, banyak insight muncul, seperti pentingnya perencanaan pastoral yang lebih menyentuh kebutuhan umat, penguatan komunikasi antarbidang, serta penyusunan program FIBB yang lebih terarah.
Belajar Bersama, Bertumbuh Bersama
Nilai utama supervisi malam itu adalah kemitraan. Tim supervisi tidak hanya menilai, tetapi juga memberi contoh, masukan, dan pengalaman terbaik. Pengurus Stasi Maguwo menyambut semua masukan dengan terbuka. Banyak catatan positif dicatat sebagai kekuatan stasi—mulai dari semangat para pengurus, kerapian data, hingga kreativitas dalam menyelenggarakan kegiatan umat.
Pembacaan Rekomendasi: Menyusun Arah Langkah ke Depan
Menjelang akhir, seluruh peserta berkumpul kembali untuk mendengarkan rekomendasi-rekomendasi dari ketiga tata. Rekomendasi ini menjadi pegangan penting bagi pengurus untuk menyusun langkah tindak lanjut, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Mulai dari perbaikan administrasi, penataan aset, hingga penguatan pastoral dan pengelolaan harta benda
Penutup yang Hangat: Makan Malam Bersama
Acara kemudian ditutup dengan makan malam bersama di teras depan gereja. Pengurus stasi, para romo, serta tim supervisi duduk bercampur, berbagi cerita ringan, dan menikmati suasana malam Maguwo yang sejuk. Kehangatan itu menjadi pengingat bahwa Gereja bukan hanya soal laporan dan data, tetapi komunitas yang hidup dan terus bertumbuh bersama.
Melangkah Maju Bersama
Supervisi perdana ini bukan sekadar agenda formal—melainkan sebuah tonggak bagi Stasi Maguwo untuk melihat diri, memperbaiki kekurangan, dan menguatkan apa yang sudah berjalan baik. Dengan semangat yang sama, Stasi Maguwo siap melangkah menuju tata kelola, pelayanan, dan penggembalaan yang semakin tertata dan semakin melayani.
Hari Minggu, 23 November 2025 menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi, Stasi Maguwo. Setelah beberapa minggu mempersiapkan acara, akhirnya kegiatan Ziarah dan Rekreasi yang sudah lama dirindukan ini dapat terlaksana. Tahun ini, rombongan mengunjungi empat lokasi sekaligus: Kerkof Muntilan, Goa Maria Pereng, Bukit Cinta Rawapening, dan Kebun Bagus Salatiga.
Selain untuk memperdalam iman melalui ziarah, kegiatan ini juga dirancang agar umat lintas usia, anak-anak, OMK, dewasa, hingga para lansia bisa saling mengenal, bercengkrama, dan menikmati waktu yang penuh sukacita. Dari 50 orang yang mendaftar, sebanyak 42 umat hadir dan berangkat bersama. Meskipun jumlahnya sedikit berkurang, semangat kebersamaan tetap terasa penuh sejak pagi.
Pagi Dimulai Dengan Doa dan Sukacita
Rombongan mulai berkumpul sejak pagi di kediaman Ibu Lita. Setelah semua siap, kami memulai perjalanan panjang hari itu dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon, Bapak Yuli.
Tak lupa, kami mengambil momen untuk berfoto bersama dan merekam video yel-yel khas lingkungan Asisi: “Asisi, Bersama, Bahagia, Beriman!” Suasana pagi itu terasa hangat, penuh antusiasme, seperti layaknya satu keluarga besar yang hendak berwisata bersama.
Pukul 06.45, bus besar membawa kami memulai perjalanan.
Perhentian Pertama: Kerkof Muntilan
Perjalanan menuju Muntilan berjalan lancar, dan kami tiba sekitar pukul 07.30. Cuaca cerah membuat suasana ziarah di Kerkof terasa damai. Setelah foto bersama, umat diberi waktu untuk doa pribadi di area pemakaman yang penuh sejarah ini. Masing-masing membawa doa, harapan, dan rasa syukur dalam hati.
Setelah sekitar 30 menit, kami kembali naik bus dan melanjutkan perjalanan ke Goa Maria Pereng Salatiga.
Karaoke, Kuis, dan Tawa Sepanjang Jalan
Perjalanan menuju Goa Maria Pereng memakan waktu sekitar 90 menit. Namun kebersamaan selalu membuat waktu berlalu lebih cepat. Di dalam bus, panitia memutar lagu-lagu yang langsung disambut heboh oleh umat. Karaoke spontan pun pecah.
Panitia juga menyiapkan kuis berhadiah doorprize, yang membuat suasana makin meriah. Ada yang serius menjawab, ada yang asal tebak sambil tertawa, semuanya dinikmati dengan gembira.
Perhentian Kedua: Goa Maria Pereng, Hening Dalam Doa
Kami tiba di Goa Maria Pereng pukul 09.45. Setelah berfoto bersama, umat melaksanakan Jalan Salib dengan suasana hening dan penuh penghayatan. Setiap perhentian mengingatkan kami untuk kembali menata hati dan memaknai perjalanan hidup masing-masing.
Selesai Jalan Salib, umat diberi waktu untuk doa pribadi di sekitar goa. Tempat yang teduh dan sejuk menambah kekhusyukan. Setelah semuanya selesai, rombongan bersiap menuju destinasi berikutnya.
Perhentian Ketiga: Bukit Cinta, Piknik Sederhana yang Membahagiakan
Kami tiba di Bukit Cinta Rawapening sekitar pukul 11.50. Begitu turun dari bus, udara sejuk dan pemandangan danau langsung menyambut.
Setelah menemukan lokasi yang nyaman di bawah pepohonan, umat bersama-sama menggelar tikar. Kemudian dimulailah momen yang paling ditunggu-tunggu: makan siang bersama.
Menu sederhana, nasi putih, ayam goreng, bakmi goreng, oseng tempe, dan lotis segar satu container penuh, terasa nikmat luar biasa saat disantap ramai-ramai. Sambil bersantap, Ketua Lingkungan Bapak Jondit sempat berkata: “Sing penting wareg lan waras, wis marai bahagia.” Dan benar saja, siang itu semuanya makan dengan lahap dan hati bahagia.
Setelah makan, anak-anak bermain di playground kecil, beberapa umat berjalan menyusuri area danau, sementara yang lain duduk bercerita sambil menikmati angin dan pemandangan.
Acara Keakraban: Joged, Game dan Doorprize
Setelah beristirahat sejenak, acara keakraban dimulai. Dipandu dengan penuh semangat oleh Ibu Silvia dan Ibu Retno, kami semua ikut joged bersama. Para ibu menunjukkan gerakan paling luwes dan penuh energi, hingga bapak-bapak pun diberi tugas memilih siapa yang paling semangat untuk menerima doorprize.
Setelah itu, berbagai permainan digelar:
Tebak bisik untuk para uti-uti, hasilnya sangat lucu karena yang berbisik dan mendengar kadang salah menangkap kata.
Tebak gaya untuk bapak-bapak, ini yang paling mengundang tawa karena gaya bapak-bapak yang kelewat lucu.
Lalu permainan kecil untuk OMK dan anak-anak.
Semua game berlangsung santai namun penuh tawa. Kebersamaan benar-benar terasa hidup siang itu.
Acara ditutup dengan pembagian semua doorprize yang sudah disiapkan panitia.
Perhentian Keempat: Kebun Bagus, Sejuk, Segar, dan Menyenangkan
Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Bagus Salatiga dan tiba sekitar pukul 15.30. Karena bus besar tidak dapat masuk, kami harus naik kereta odong-odong dari SPBU terdekat. Justru bagian inilah yang menjadi salah satu momen paling seru, banyak umat yang baru pertama kali naik odong-odong, dan semua langsung minta difoto!
Sesampainya di Kebun Bagus, udara sejuk dan suasana kebun yang asri membuat banyak umat spontan melepas alas kaki untuk menikmati dinginnya tanah. Ada yang langsung belanja buah segar, melon renyah manis, mangga ranum, alpukat, hingga jeruk bali.
Sebagian menikmati minuman dari mini coffee shop: jus segar, es dawet, kopi, teh, dan camilan. Anak-anak ikut memberi makan kambing, sementara beberapa umat mengikuti tur kebun yang disediakan.
Yang lain memilih duduk santai sambil menikmati pemandangan dan berbincang. Sebelum pulang, tentu saja kami berfoto bersama dan meneriakan yel-yel Asisi sebagai kenang-kenangan.
Pulang Dengan Hati Penuh Syukur
Rombongan kembali menuju bus dengan odong-odong, dan sekali lagi, semua tampak sangat menikmati perjalanan singkat itu. Kami berangkat pulang pukul 17.00 dan tiba di Jogja sekitar pukul 18.30.
Semua peserta kembali dengan sehat, penuh sukacita, dan membawa pengalaman indah yang mempererat persaudaraan umat.
Hari itu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa: Bahagia itu sebenarnya sederhana, asal kita mau saling berbagi, bersyukur, dan menikmatinya bersama.
Tak terasa kita segera memasuki masa Adven 2025, saat mempersiapkan hati untuk menyambut kedatangan-Nya di tengah-tengah hati kita. Tak terasa pula kita akan menyelesaikan ARDAS KAS (Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang) VIII di akhir tahun 2025 ini. Ini berarti mulai tahun 2026-2030 kita akan memasuki ARDAS IX dengan tema dan semangat baru.
Bahan permenungan atau katekese Adven 2025 ini disusun dalam rangka menghantar dan memperkenalkan Ardas IX kepada umat di Keuskupan Agung Semarang ini. Ada tiga (3) kata kunci yang akan menjadi penghayatan dan pergulatan selama lima (5) tahun ke depan yakni, Bahagia, Inspiratif (Menginsipasi) dan Menyejahterakan. Semangat yang mau dihidupi adalah umat Allah Keuskupan Agung Semarang mewujudnyatakan dirinya sebagai Gereja yang bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan. Tiga (3) kata kunci itu jugalah yang akan mewarnai isi dari permenungan dan ketekekese Adven 2025.
Permenungan Adven 2025 ini akan dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni:
Minggu I: Menantikan Kristus dalam Kebahagiaan Iman
Minggu II: Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi
Minggu III: Menjadi Gereja yang Menyejahterakan.
Minggu IV tidak dilakukan permenungan dan ketekese Adven tetapi Ibadat Keluarga Kudus di lingkungan dengan tema, “Menghadiran Gereja yang Bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan.”
Kepada para pemandu Adven di lingkungan, dipersilakan membaca dan mempelajari secara cermat gagasan dasar Adven 2025 yang kami sajikan pada bagian awal buku panduan ini. Harapannya para pemandu sungguh memahami gagasan dan kerangka dasarnya sehingga memudahkan untuk pelaksanaan dalam pertemuannya.
Sebagai catatan akhir, buku yang tersaji ini adalah “Buku Panduan”. Para pemandu diberi keleluasaan seluas-luasnya untuk mengembangkan dan menyesuaikan panduan ini sesuai dengan situasi-kondisi umat setempat. Yang terpenting adalah pesan pokok dari permenungan Adven ini sungguh “sampai” dan dapat dimengerti serta dihayati umat. Selamat memasuki permenungan Adven 2025 ini. Berkah Dalem.
Magelang, Oktober 2025
Stepanus Istata Raharjo,Pr (Ketua Umum Komisi Kateketik KAS)
Kadisoka, 17 November 2025 — Lingkungan St. Gregorius kembali mengadakan Misa Lingkungan pada Senin malam, 17 November 2025 pukul 19.00 WIB. Sekitar 70 umat, dari anak hingga lanjut usia, hadir memenuhi area misa dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur.
Rm. FX. Murdi Susanto Pr
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo FX. Murdi Susanto, Pr, imam dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Dalam homilinya yang diambil dari Injil Lukas 18:35–43, Romo Murdi menegaskan tentang iman yang memampukan seseorang melihat terang dan mengalami karya keselamatan Tuhan. Kisah penyembuhan seorang buta di pinggir jalan Yerikho menjadi ajakan bagi umat untuk semakin percaya, memohon, dan membuka hati pada karya kasih Allah dalam perjalanan kehidupan sehari-hari.
Misa berlangsung dengan khidmat
Homili tersebut juga mengingatkan umat bahwa mukjizat Tuhan kerap hadir ketika seseorang berani datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan kesederhanaan iman.
Misa dihadiri oleh berbagai usia
Sebelum misa ditutup, Gregorius Henry, selaku Ketua Lingkungan St. Gregorius, menyampaikan sambutan singkat. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran umat serta menegaskan pentingnya merawat kerukunan, keterlibatan aktif, dan semangat pelayanan. Ia berharap bahwa kegiatan misa lingkungan dapat terus mempererat tali persaudaraan dan menjaga kehangatan komunitas.
Sejumlah 70 umat hadir
Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan wawan hati dan ramah tamah dan diabadikan dengan foto bersama. Suasana hangat dan akrab tampak dalam perbincangan umat yang saling menyapa, berbagi cerita, hingga berdiskusi ringan mengenai kegiatan lingkungan yang akan datang. Momen kebersamaan ini menjadi ruang bagi umat untuk saling mengenal lebih dekat, memperkuat hubungan, dan membangun semangat keluarga besar St. Gregorius.
Umat kemudian pulang dengan hati gembira dan penuh syukur, membawa pulang semangat untuk terus bertumbuh dalam iman, kasih, dan pelayanan di tengah keluarga maupun masyarakat.
Pelatihan Kerasulan Awam ini diselenggarakan pada Sabtu, 8 November 2025, bertempat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwoharjo. Acara ini ditujukan khusus bagi Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Pengurus Lingkungan yang akan mengemban tugas pelayanan selama periode 2026-2028.Momentum ini krusial sebagai titik tolak spiritual dan strategis, di mana para pemimpin komunitas dibekali untuk mengimplementasikan visi Gereja di tingkat basis, berlandaskan seruan Injil Matius 5:13-16: “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia.”
Sdr. Danang Afriadi berperan sebagai Fasilitator dan Moderator utama. Keahlian beliau dalam komunikasi publik dan pengembangan komunitas menjadi kunci dalam menjembatani materi teologis yang mendalam dengan diskusi praktis dan terarah. Danang Afriadi bertanggung jawab memastikan alur pelatihan berjalan efektif, interaktif, dan menghasilkan komitmen aksi yang jelas dari para peserta, Sdr. A.M. Bebet Dermawan adalah narasumber utama yang memberikan pondasi teologis dan strategis. Sebagai seorang awam yang matang dalam spiritualitas dan kepemimpinan pastoral, Bebet Dermawan dikenal mampu membongkar Makna Kerasulan Awam dan merumuskan Panjang Strategi pelayanan yang berakar pada iman Katolik serta relevan dengan tantangan pastoral.
Sesi yang dibawakan oleh Sdr. A.M. Bebet Dermawan memfokuskan pada Makna Kerasulan Awam, sebagai dasar untuk mencegah pelayanan menjadi hambar atau tersembunyi.Garam (Sal): Kualitas Internal dan Integritas.Makna Teologis: Garam adalah lambang perjanjian, pemurnian, dan pelestarian. Ini menuntut para pemimpin awam memiliki integritas diri dan kedalaman spiritual yang otentik, yang mengalir dari Sakramen. Pelayanan yang sejati adalah kesaksian hidup yang berkualitas.Implementasi: Garam ini harus terasa dalam transparansi pengelolaan dana lingkungan dan kejujuran dalam berinteraksi, menciptakan kepercayaan umat.Terang (Lux): Keterlibatan dan Kesaksian Eksternal.Makna Pastoral: Terang harus diletakkan di atas kaki dian. Ini adalah tuntutan untuk keterlibatan aktif di tengah masyarakat (sekolah, pekerjaan, sosial-politik) yang dapat menerangi kegelapan ketidakadilan atau keacuhan.Implementasi: Menjadi Terang berarti berani bersuara untuk kebenaran dan keadilan, serta memimpin dengan teladan etis di ranah publik (RT/RW), sejalan dengan cita-cita Gereja yang MENGINSPIRASI.
Pelatihan ini membekali para pemimpin Paroki Maria Bunda Allah Maguwoharjo dengan Makna teologis dan Panjang strategi yang diperlukan untuk mewujudkan Kerasulan Awam yang hidup dan berdampak. Dengan komitmen sinergi, para Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Pengurus Lingkungan diutus untuk menjadi Garam dan Terang Dunia yang sesungguhnya.
Sabtu, 18 Oktober 2025, menjadi malam penuh kemuliaan dan sukacita bagi dunia musik rohani Katolik di Yogyakarta. Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma menjadi saksi hadirnya harmoni agung dalam konser Grego Julius Orchestra bertema “Simfoni bagi Sang Pencipta, Saat Nada Menjadi Doa.”
Di tengah gemerlap cahaya dan alunan orkestra yang megah, Tim Cantores Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) tampil dengan penuh percaya diri dan penghayatan mendalam. Suara mereka berpadu indah bersama orkestra dan paduan suara lain seperti Mary Ignacio Choir, Swara Sekawan, Kidung Tyas Dalem, Vox Norte, dan Duta Voice — membentuk satu persembahan rohani yang menyentuh hati.
Bagi Cantores GMBA, malam itu bukan sekadar sebuah penampilan. Itu adalah puncak dari perjalanan panjang, latihan demi latihan, doa demi doa yang mereka jalani dengan setia. Di bawah bimbingan mas FX. Kristanto Nugroho, tim ini menempuh proses latihan yang penuh disiplin dan semangat, demi mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.
Kesempatan berharga ini lahir berkat peran mas Antonius Henri Yulianto, salah satu arranger lagu-lagu karya pak Grego Julius, yang mengajukan nama Cantores Maguwo (CM) untuk turut ambil bagian dalam konser besar ini. Sebuah langkah yang tidak hanya membawa nama Gereja Maguwo ke panggung luas, tetapi juga memperlihatkan bahwa pelayanan musik liturgi dapat menjadi wujud kesaksian iman yang menginspirasi.
Di balik penampilan yang menggetarkan hati itu, berdirilah para penyanyi luar biasa yang membentuk tubuh paduan suara Cantores GMBA:
Sopran: Mia, Nining, Ipuk, Yulia, Rospita, Purna, Amy, Woro, Yuliana, dan Vera. Alto: Ismawan, Dyah, Lusi, C. Supartini, Flaviana, dan Endang. Tenor: Tri Mulyono, Danang, Heru, dan Donny. Bass: Rinto, Wiwid, Bani, Teguh, Reno, Henry, dan Kristanto.
Mereka semua adalah bagian dari keluarga besar Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo yang mempersembahkan talenta mereka bagi Tuhan, bukan untuk kemegahan pribadi, tetapi untuk kemuliaan nama-Nya.
Ketika suara Cantores GMBA mengalun di ruang auditorium yang megah, setiap nada terasa membawa pesan: bahwa musik gerejawi bukan sekadar seni, melainkan doa yang hidup. Suara-suara yang terlatih dan hati-hati yang berapi-api berpadu dalam harmoni yang memuliakan Sang Pencipta. Banyak penonton yang terdiam, larut dalam keindahan musik yang begitu sakral dan menggetarkan jiwa.
Penampilan Cantores GMBA malam itu menjadi buah dari ketekunan, persaudaraan, dan semangat pelayanan. Mereka tidak hanya tampil mewakili sebuah komunitas, tetapi juga membawa wajah Gereja yang penuh kasih, muda, dan bersukacita.
Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa begitu hangat pada Minggu pagi, 12 Oktober 2025. Di tengah udara sejuk yang menyelimuti kawasan gereja, satu per satu para pelayan liturgi dari berbagai lingkungan datang dengan wajah penuh semangat. Hari itu, mereka berkumpul bukan hanya untuk berlatih tata perayaan, tetapi juga untuk belajar dan memperdalam pemahaman tentang makna liturgi, dalam kegiatan bertajuk “Belajar Liturgi Bersama”.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Liturgi dan Peribadatan Stasi Maguwo, dan diikuti oleh tim liturgi lingkungan serta para prodiakon yang setiap minggunya dengan setia melayani umat dalam berbagai perayaan ekaristi maupun ibadat sabda di wilayah masing-masing.
Pembuka yang Hangat dan Menggugah
Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Ibu Elisabeth Purna, mengundang seluruh peserta untuk menenangkan diri dan menyerahkan hati dalam suasana doa.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Stasi, yang diwakili oleh Sekretaris Stasi ibu Elisabet AmyAndriani menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pembelajaran liturgi ini. Beliau menekankan bahwa pelayanan liturgi adalah salah satu bentuk kesetiaan umat dalam mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.
“Menjadi pelayan liturgi bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk menghadirkan wajah Kristus yang penuh kasih dalam setiap perayaan Ekaristi,” ungkap beliau dalam sambutan yang disambut dengan tepuk tangan hangat para peserta.
Pengantar yang Menyadarkan Arti Persiapan Liturgi
Sesi berikutnya diisi oleh Bapak Y. Saptanto Sarwo Basuki yang memberikan pengantar dengan sangat sistematis dan aplikatif. Beliau mengajak peserta untuk memahami proses menyiapkan perayaan misa secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, koordinasi dengan pastor, hingga pelaksanaan di lapangan.
Beliau juga menekankan pentingnya prosedur perizinan misa, koordinasi dengan pihak paroki atau pastor, serta penyiapan buku-buku liturgi yang tepat, mulai dari Misale, Tata Perayaan Ekaristi, Madah Bakti, hingga Puji Syukur. Semua itu menjadi bagian dari tanggung jawab tim liturgi untuk memastikan bahwa perayaan iman berlangsung dengan penuh hormat dan teratur.
Pendalaman Liturgi Bersama Romo Yohanes Ngatmo, Pr
Setelah pengantar yang membuka wawasan, sesi dilanjutkan dengan materi utama yang dibawakan oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr. Dengan gaya khasnya yang ramah dan penuh humor, Romo Ngatmo mengajak seluruh peserta untuk menyelami liturgi bukan hanya sebagai aturan atau urutan perayaan, tetapi sebagai pengalaman iman yang hidup.
“Liturgi bukan sekadar hafal kapan berdiri, duduk, atau menjawab. Liturgi adalah doa bersama Gereja yang mempersatukan kita dengan Kristus. Maka, setiap gerak dan kata dalam liturgi mengandung makna yang mendalam,” ujar Romo Ngatmo yang berhasil membuat seluruh peserta menyimak dengan penuh perhatian.
Romo juga menegaskan bahwa pelayan liturgi harus memahami makna dari setiap bagian misa — mulai dari ritus pembuka, liturgi sabda, hingga liturgi ekaristi — agar dapat membantu umat berpartisipasi secara sadar dan penuh iman.
Diskusi, Game, dan Pembelajaran Interaktif
Selepas sesi materi, suasana menjadi lebih santai dan interaktif. Ibu Y.V. Retno Wulandari memandu sesi permainan dan diskusi kelompok per wilayah: Loyola, Sang Timur, De Britto, dan Don Bosco.
Di dalam game ini masing-masing kelompok diberikan soal yang berbeda. Soal tersebut didiskusikan bersama dalam kelompok untuk kemudian di presentasikan dan saling memberikan feedback. Soal-soal tersebut berisi hidden subject dimana masing-masing kelompok harus memahami jenis misa khusus yang sering dihadapi oleh tim liturgi di lingkungan, seperti:
Misa Memule dengan lebih dari satu ujud (intensi misa), yang perlu disiapkan dengan tertib agar setiap niat umat tersampaikan dengan benar.
Misa pemberkatan jenazah, di mana kepekaan pastoral dan ketepatan liturgi sangat dibutuhkan agar keluarga yang berduka mendapatkan penghiburan sejati.
Misa tirakatan jenazah, yang menjadi kesempatan bagi umat untuk berdoa bagi jiwa yang dipanggil Tuhan, sembari meneguhkan iman akan kebangkitan.
Pemberkatan perkawinan beda agama, yang memerlukan pemahaman mendalam mengenai prosedur izin misa dan tata cara yang sesuai dengan ketentuan Gereja.
Tiap kelompok diminta untuk menjelaskan bagaimana cara menyiapkan : mulai dari prosedur, tata cara misa / panduan doa dan peralatan liturgi yang digunakan.
Dalam suasana akrab dan penuh tawa, para peserta berdiskusi mengenai berbagai situasi liturgi yang sering terjadi di lapangan — seperti bagaimana menghadapi perubahan mendadak dalam misa, atau bagaimana berkoordinasi jika imam datang terlambat. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, dan melalui feedback yang diberikan, peserta dapat saling belajar dari pengalaman nyata di lapangan.
Kegiatan ini tidak hanya mengasah pengetahuan, tetapi juga memperkuat kebersamaan antar pelayan liturgi lintas lingkungan. “Rasanya seperti retret mini,” ujar salah satu peserta sambil tersenyum. “Kita jadi saling mengenal, saling belajar, dan yang paling penting, semakin cinta pada pelayanan ini.”
Pengenalan Alat-Alat Liturgi oleh Misdinar
Menjelang akhir acara, suasana kembali semarak ketika tiga misdinar muda — Valent, Marlin, dan Ratna — tampil memperkenalkan berbagai alat liturgi yang digunakan dalam misa. Dengan percaya diri dan gaya yang ringan, mereka menjelaskan fungsi dari setiap alat, mulai dari piala, sibori, patena, ampul, hingga wirug dan navikula.
Sesi ini bukan hanya informatif, tetapi juga menyentuh hati, karena memperlihatkan bagaimana generasi muda turut mengambil bagian dalam kehidupan liturgi Gereja. Melihat semangat para misdinar ini, banyak peserta tersenyum bangga, menyadari bahwa pelayanan Gereja terus tumbuh di tangan yang muda dan penuh semangat.
Peneguhan: Menjadi Pelayan yang Setia dan Rendah Hati
Sebagai penutup, Ibu J.F. Ita Rinawati, selaku Ketua Bidang Liturgi& Peribadatan, memberikan peneguhan rohani yang kuat dan menyentuh. Beliau mengingatkan bahwa pelayanan liturgi tidak hanya soal keterampilan, tetapi juga soal kerendahan hati dan kesetiaan dalam panggilan. Pelayanan liturgi membutuhkan pemahaman untuk masing-masing misa khusus yang berbeda.
“Setiap kali kita membantu di altar, kita sedang melayani Kristus sendiri. Maka lakukan dengan hati yang bersih, dengan doa, dan dengan cinta. Dari situlah keindahan liturgi terpancar,” ucapnya dengan lembut, menutup kegiatan dengan suasana hening dan penuh refleksi.
Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh bapak Justinus Catur Budi Hantoro dan sapaan akrab antar peserta. Wajah-wajah lelah kini berganti dengan senyum puas — senyum dari mereka yang telah belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama dalam pelayanan.
Kegiatan “Belajar Liturgi Bersama” ini menjadi ruang perjumpaan yang indah, di mana setiap pelayan liturgi disegarkan kembali dalam semangatnya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya. Semoga semangat kebersamaan dan pembelajaran ini terus berlanjut, menjadikan tim liturgi Stasi Maguwo semakin siap, terampil, dan setia menghadirkan kehadiran Kristus dalam setiap perayaan iman.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo