Misa Lingkungan St. Gregorius Kadisoka: Momen Syukur yang Meneguhkan Iman Umat

Kadisoka, 17 November 2025 — Lingkungan St. Gregorius kembali mengadakan Misa Lingkungan pada Senin malam, 17 November 2025 pukul 19.00 WIB. Sekitar 70 umat, dari anak hingga lanjut usia, hadir memenuhi area misa dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur.

Rm. FX. Murdi Susanto Pr

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo FX. Murdi Susanto, Pr, imam dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Dalam homilinya yang diambil dari Injil Lukas 18:35–43, Romo Murdi menegaskan tentang iman yang memampukan seseorang melihat terang dan mengalami karya keselamatan Tuhan. Kisah penyembuhan seorang buta di pinggir jalan Yerikho menjadi ajakan bagi umat untuk semakin percaya, memohon, dan membuka hati pada karya kasih Allah dalam perjalanan kehidupan sehari-hari.

Misa berlangsung dengan khidmat

Homili tersebut juga mengingatkan umat bahwa mukjizat Tuhan kerap hadir ketika seseorang berani datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan kesederhanaan iman.

Misa dihadiri oleh berbagai usia

Sebelum misa ditutup, Gregorius Henry, selaku Ketua Lingkungan St. Gregorius, menyampaikan sambutan singkat. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran umat serta menegaskan pentingnya merawat kerukunan, keterlibatan aktif, dan semangat pelayanan. Ia berharap bahwa kegiatan misa lingkungan dapat terus mempererat tali persaudaraan dan menjaga kehangatan komunitas.

Sejumlah 70 umat hadir

Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan wawan hati dan ramah tamah dan diabadikan dengan foto bersama. Suasana hangat dan akrab tampak dalam perbincangan umat yang saling menyapa, berbagi cerita, hingga berdiskusi ringan mengenai kegiatan lingkungan yang akan datang. Momen kebersamaan ini menjadi ruang bagi umat untuk saling mengenal lebih dekat, memperkuat hubungan, dan membangun semangat keluarga besar St. Gregorius.

Umat kemudian pulang dengan hati gembira dan penuh syukur, membawa pulang semangat untuk terus bertumbuh dalam iman, kasih, dan pelayanan di tengah keluarga maupun masyarakat.

Pelatihan Kerasulan Awam(menjadi garam dan terang dunia)

Pelatihan Kerasulan Awam ini diselenggarakan pada Sabtu, 8 November 2025, bertempat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwoharjo. Acara ini ditujukan khusus bagi Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Pengurus Lingkungan yang akan mengemban tugas pelayanan selama periode 2026-2028.​Momentum ini krusial sebagai titik tolak spiritual dan strategis, di mana para pemimpin komunitas dibekali untuk mengimplementasikan visi Gereja di tingkat basis, berlandaskan seruan Injil Matius 5:13-16: “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia.”

​Sdr. Danang Afriadi berperan sebagai Fasilitator dan Moderator utama. Keahlian beliau dalam komunikasi publik dan pengembangan komunitas menjadi kunci dalam menjembatani materi teologis yang mendalam dengan diskusi praktis dan terarah. Danang Afriadi bertanggung jawab memastikan alur pelatihan berjalan efektif, interaktif, dan menghasilkan komitmen aksi yang jelas dari para peserta, Sdr. A.M. Bebet Dermawan adalah narasumber utama yang memberikan pondasi teologis dan strategis. Sebagai seorang awam yang matang dalam spiritualitas dan kepemimpinan pastoral, Bebet Dermawan dikenal mampu membongkar Makna Kerasulan Awam dan merumuskan Panjang Strategi pelayanan yang berakar pada iman Katolik serta relevan dengan tantangan pastoral.

​Sesi yang dibawakan oleh Sdr. A.M. Bebet Dermawan memfokuskan pada Makna Kerasulan Awam, sebagai dasar untuk mencegah pelayanan menjadi hambar atau tersembunyi.​Garam (Sal): Kualitas Internal dan Integritas.​Makna Teologis: Garam adalah lambang perjanjian, pemurnian, dan pelestarian. Ini menuntut para pemimpin awam memiliki integritas diri dan kedalaman spiritual yang otentik, yang mengalir dari Sakramen. Pelayanan yang sejati adalah kesaksian hidup yang berkualitas.​Implementasi: Garam ini harus terasa dalam transparansi pengelolaan dana lingkungan dan kejujuran dalam berinteraksi, menciptakan kepercayaan umat.​Terang (Lux): Keterlibatan dan Kesaksian Eksternal.​Makna Pastoral: Terang harus diletakkan di atas kaki dian. Ini adalah tuntutan untuk keterlibatan aktif di tengah masyarakat (sekolah, pekerjaan, sosial-politik) yang dapat menerangi kegelapan ketidakadilan atau keacuhan.​Implementasi: Menjadi Terang berarti berani bersuara untuk kebenaran dan keadilan, serta memimpin dengan teladan etis di ranah publik (RT/RW), sejalan dengan cita-cita Gereja yang MENGINSPIRASI.

​Pelatihan ini membekali para pemimpin Paroki Maria Bunda Allah Maguwoharjo dengan Makna teologis dan Panjang strategi yang diperlukan untuk mewujudkan Kerasulan Awam yang hidup dan berdampak. Dengan komitmen sinergi, para Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Pengurus Lingkungan diutus untuk menjadi Garam dan Terang Dunia yang sesungguhnya.

Saat Nada Menjadi Doa: Cantores GMBA dalam Panggung Grego Julius Orchestra


Sabtu, 18 Oktober 2025, menjadi malam penuh kemuliaan dan sukacita bagi dunia musik rohani Katolik di Yogyakarta. Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma menjadi saksi hadirnya harmoni agung dalam konser Grego Julius Orchestra bertema “Simfoni bagi Sang Pencipta, Saat Nada Menjadi Doa.”

Di tengah gemerlap cahaya dan alunan orkestra yang megah, Tim Cantores Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) tampil dengan penuh percaya diri dan penghayatan mendalam. Suara mereka berpadu indah bersama orkestra dan paduan suara lain seperti Mary Ignacio Choir, Swara Sekawan, Kidung Tyas Dalem, Vox Norte, dan Duta Voice — membentuk satu persembahan rohani yang menyentuh hati.

Bagi Cantores GMBA, malam itu bukan sekadar sebuah penampilan. Itu adalah puncak dari perjalanan panjang, latihan demi latihan, doa demi doa yang mereka jalani dengan setia. Di bawah bimbingan mas FX. Kristanto Nugroho, tim ini menempuh proses latihan yang penuh disiplin dan semangat, demi mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.

Kesempatan berharga ini lahir berkat peran mas Antonius Henri Yulianto, salah satu arranger lagu-lagu karya pak Grego Julius, yang mengajukan nama Cantores Maguwo (CM) untuk turut ambil bagian dalam konser besar ini. Sebuah langkah yang tidak hanya membawa nama Gereja Maguwo ke panggung luas, tetapi juga memperlihatkan bahwa pelayanan musik liturgi dapat menjadi wujud kesaksian iman yang menginspirasi.

Di balik penampilan yang menggetarkan hati itu, berdirilah para penyanyi luar biasa yang membentuk tubuh paduan suara Cantores GMBA:

Sopran: Mia, Nining, Ipuk, Yulia, Rospita, Purna, Amy, Woro, Yuliana, dan Vera.
Alto: Ismawan, Dyah, Lusi, C. Supartini, Flaviana, dan Endang.
Tenor: Tri Mulyono, Danang, Heru, dan Donny.
Bass: Rinto, Wiwid, Bani, Teguh, Reno, Henry, dan Kristanto.

Mereka semua adalah bagian dari keluarga besar Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo yang mempersembahkan talenta mereka bagi Tuhan, bukan untuk kemegahan pribadi, tetapi untuk kemuliaan nama-Nya.

Ketika suara Cantores GMBA mengalun di ruang auditorium yang megah, setiap nada terasa membawa pesan: bahwa musik gerejawi bukan sekadar seni, melainkan doa yang hidup. Suara-suara yang terlatih dan hati-hati yang berapi-api berpadu dalam harmoni yang memuliakan Sang Pencipta. Banyak penonton yang terdiam, larut dalam keindahan musik yang begitu sakral dan menggetarkan jiwa.

Penampilan Cantores GMBA malam itu menjadi buah dari ketekunan, persaudaraan, dan semangat pelayanan. Mereka tidak hanya tampil mewakili sebuah komunitas, tetapi juga membawa wajah Gereja yang penuh kasih, muda, dan bersukacita.

Latihan Liturgi Bersama: Belajar, Berbagi, dan Bertumbuh dalam Semangat Pelayanan


Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa begitu hangat pada Minggu pagi, 12 Oktober 2025. Di tengah udara sejuk yang menyelimuti kawasan gereja, satu per satu para pelayan liturgi dari berbagai lingkungan datang dengan wajah penuh semangat. Hari itu, mereka berkumpul bukan hanya untuk berlatih tata perayaan, tetapi juga untuk belajar dan memperdalam pemahaman tentang makna liturgi, dalam kegiatan bertajuk “Belajar Liturgi Bersama”.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Liturgi dan Peribadatan Stasi Maguwo, dan diikuti oleh tim liturgi lingkungan serta para prodiakon yang setiap minggunya dengan setia melayani umat dalam berbagai perayaan ekaristi maupun ibadat sabda di wilayah masing-masing.

Pembuka yang Hangat dan Menggugah

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Ibu Elisabeth Purna, mengundang seluruh peserta untuk menenangkan diri dan menyerahkan hati dalam suasana doa.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Stasi, yang diwakili oleh Sekretaris Stasi ibu Elisabet Amy Andriani menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pembelajaran liturgi ini. Beliau menekankan bahwa pelayanan liturgi adalah salah satu bentuk kesetiaan umat dalam mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

“Menjadi pelayan liturgi bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk menghadirkan wajah Kristus yang penuh kasih dalam setiap perayaan Ekaristi,” ungkap beliau dalam sambutan yang disambut dengan tepuk tangan hangat para peserta.

Pengantar yang Menyadarkan Arti Persiapan Liturgi

Sesi berikutnya diisi oleh Bapak Y. Saptanto Sarwo Basuki yang memberikan pengantar dengan sangat sistematis dan aplikatif. Beliau mengajak peserta untuk memahami proses menyiapkan perayaan misa secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, koordinasi dengan pastor, hingga pelaksanaan di lapangan.

Beliau juga menekankan pentingnya prosedur perizinan misa, koordinasi dengan pihak paroki atau pastor, serta penyiapan buku-buku liturgi yang tepat, mulai dari Misale, Tata Perayaan Ekaristi, Madah Bakti, hingga Puji Syukur. Semua itu menjadi bagian dari tanggung jawab tim liturgi untuk memastikan bahwa perayaan iman berlangsung dengan penuh hormat dan teratur.

Pendalaman Liturgi Bersama Romo Yohanes Ngatmo, Pr

Setelah pengantar yang membuka wawasan, sesi dilanjutkan dengan materi utama yang dibawakan oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr. Dengan gaya khasnya yang ramah dan penuh humor, Romo Ngatmo mengajak seluruh peserta untuk menyelami liturgi bukan hanya sebagai aturan atau urutan perayaan, tetapi sebagai pengalaman iman yang hidup.

“Liturgi bukan sekadar hafal kapan berdiri, duduk, atau menjawab. Liturgi adalah doa bersama Gereja yang mempersatukan kita dengan Kristus. Maka, setiap gerak dan kata dalam liturgi mengandung makna yang mendalam,” ujar Romo Ngatmo yang berhasil membuat seluruh peserta menyimak dengan penuh perhatian.

Romo juga menegaskan bahwa pelayan liturgi harus memahami makna dari setiap bagian misa — mulai dari ritus pembuka, liturgi sabda, hingga liturgi ekaristi — agar dapat membantu umat berpartisipasi secara sadar dan penuh iman.

Diskusi, Game, dan Pembelajaran Interaktif

Selepas sesi materi, suasana menjadi lebih santai dan interaktif. Ibu Y.V. Retno Wulandari memandu sesi permainan dan diskusi kelompok per wilayah: Loyola, Sang Timur, De Britto, dan Don Bosco.

Di dalam game ini masing-masing kelompok diberikan soal yang berbeda. Soal tersebut didiskusikan bersama dalam kelompok untuk kemudian di presentasikan dan saling memberikan feedback. Soal-soal tersebut berisi hidden subject dimana masing-masing kelompok harus memahami jenis misa khusus yang sering dihadapi oleh tim liturgi di lingkungan, seperti:

  1. Misa Memule dengan lebih dari satu ujud (intensi misa), yang perlu disiapkan dengan tertib agar setiap niat umat tersampaikan dengan benar.
  2. Misa pemberkatan jenazah, di mana kepekaan pastoral dan ketepatan liturgi sangat dibutuhkan agar keluarga yang berduka mendapatkan penghiburan sejati.
  3. Misa tirakatan jenazah, yang menjadi kesempatan bagi umat untuk berdoa bagi jiwa yang dipanggil Tuhan, sembari meneguhkan iman akan kebangkitan.
  4. Pemberkatan perkawinan beda agama, yang memerlukan pemahaman mendalam mengenai prosedur izin misa dan tata cara yang sesuai dengan ketentuan Gereja.

Tiap kelompok diminta untuk menjelaskan bagaimana cara menyiapkan : mulai dari prosedur, tata cara misa / panduan doa dan peralatan liturgi yang digunakan.

Dalam suasana akrab dan penuh tawa, para peserta berdiskusi mengenai berbagai situasi liturgi yang sering terjadi di lapangan — seperti bagaimana menghadapi perubahan mendadak dalam misa, atau bagaimana berkoordinasi jika imam datang terlambat. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, dan melalui feedback yang diberikan, peserta dapat saling belajar dari pengalaman nyata di lapangan.

Kegiatan ini tidak hanya mengasah pengetahuan, tetapi juga memperkuat kebersamaan antar pelayan liturgi lintas lingkungan. “Rasanya seperti retret mini,” ujar salah satu peserta sambil tersenyum. “Kita jadi saling mengenal, saling belajar, dan yang paling penting, semakin cinta pada pelayanan ini.”

Pengenalan Alat-Alat Liturgi oleh Misdinar

Menjelang akhir acara, suasana kembali semarak ketika tiga misdinar muda — Valent, Marlin, dan Ratna — tampil memperkenalkan berbagai alat liturgi yang digunakan dalam misa. Dengan percaya diri dan gaya yang ringan, mereka menjelaskan fungsi dari setiap alat, mulai dari piala, sibori, patena, ampul, hingga wirug dan navikula.

Sesi ini bukan hanya informatif, tetapi juga menyentuh hati, karena memperlihatkan bagaimana generasi muda turut mengambil bagian dalam kehidupan liturgi Gereja. Melihat semangat para misdinar ini, banyak peserta tersenyum bangga, menyadari bahwa pelayanan Gereja terus tumbuh di tangan yang muda dan penuh semangat.

Peneguhan: Menjadi Pelayan yang Setia dan Rendah Hati

Sebagai penutup, Ibu J.F. Ita Rinawati, selaku Ketua Bidang Liturgi & Peribadatan, memberikan peneguhan rohani yang kuat dan menyentuh. Beliau mengingatkan bahwa pelayanan liturgi tidak hanya soal keterampilan, tetapi juga soal kerendahan hati dan kesetiaan dalam panggilan. Pelayanan liturgi membutuhkan pemahaman untuk masing-masing misa khusus yang berbeda.

“Setiap kali kita membantu di altar, kita sedang melayani Kristus sendiri. Maka lakukan dengan hati yang bersih, dengan doa, dan dengan cinta. Dari situlah keindahan liturgi terpancar,” ucapnya dengan lembut, menutup kegiatan dengan suasana hening dan penuh refleksi.

Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh bapak Justinus Catur Budi Hantoro dan sapaan akrab antar peserta. Wajah-wajah lelah kini berganti dengan senyum puas — senyum dari mereka yang telah belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama dalam pelayanan.

Kegiatan “Belajar Liturgi Bersama” ini menjadi ruang perjumpaan yang indah, di mana setiap pelayan liturgi disegarkan kembali dalam semangatnya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya. Semoga semangat kebersamaan dan pembelajaran ini terus berlanjut, menjadikan tim liturgi Stasi Maguwo semakin siap, terampil, dan setia menghadirkan kehadiran Kristus dalam setiap perayaan iman.

“Hidup yang Menjadi Doa: Kesaksian Iman Mas Yuda”


Tulisan kesaksian iman ini ditulis oleh Maria Verawati Alvares sebagai ungkapan syukur atas karya Tuhan yang nyata dalam diri almarhum Mas Yuda. Dalam doa dan perjumpaan sederhana di kamarnya, tampak betapa indahnya hidup yang dipersembahkan kepada Allah melalui altar kecil, kidung pujian, dan kesetiaan dalam doa. Semoga melalui kesaksian ini, kita semua diajak untuk semakin menyadari bahwa kasih Tuhan bekerja dengan cara yang lembut namun mendalam, bahkan dalam ruang-ruang sederhana kehidupan sehari-hari.


Bapak, Ibu, dan rekan muda saat ini Saya bersama dengan Suster Yohanina,OP dan Bapak Ibu Gusadi (orang tua mas Yuda) berada di dalam kamar mas Yuda untuk berdoa bersama.

Luar biasa keren dan hebat mas Yuda.

Berikut adalah foto Altar Mini tempat biasa mas Yuda selalu berdoa di dalam kamarnya. Sungguh tertata rapi, lengkap dengan lilin, salib, patung Yesus dan keluarga Kudus serta buku2 doa.

Dan luar biasa menginspirasi kita semua. Ternyata mas Yuda juga punya bakat dan kebiasaan atau bisa bermain keyboard. Dia adalah pribadi muda yang rendah hati dan penuh spiritual.

Di dalam kamarnya ada keyboard dimana sudah menjadi kebiasaannya setelah berdoa di depan Altar Mini tersebut dia bersenandung menyanyikan kidung pujian terutama saat dia ingin berangkat ke Gereja.

Yuda, kamu keren banget.. Terimakasih sudah menjadi inspirator dan guru kami


(Saya sudah mendapatkan ijin dari keluarga untuk membagikan warta baik ini kepada Bapak, Ibu, dan rekan muda)

Mengenang Pelayan Muda GMBA: Jejak Iman dan Kasih Imanuel Anggara Wirayuda

Rabu, 1 Oktober 2025 merupakan rabu kelabu bagi segenap umat Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), kami kehilangan sosok muda inspiratif dan penuh kasih: Imanuel Anggara Wirayuda. Sosok yang akrab disapa ‘Mas Yuda’, berpulang setelah berjuang melawan rasa sakit.

Kepergiannya kepada Bapa meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan segenap umat GMBA. Ia yang lahir pada 25 Desember 2001, seolah membawa makna mendalam sesuai namanya, “Imanuel” yang berarti Allah beserta kita.

Sosoknya yang tinggi, kurus, dengan rambut gondrong, mengingatkan banyak orang akan kehadiran Yesus. Bukan hanya penampilannya yang menjadikannya istimewa, melainkan api pelayanan tulus darinya yang tiada pernah padam.

Pelayan yang Selalu Ada

“Ada Mas Yuda”, sering terdengar khususnya di ruang lingkup pelayan liturgi. Celetukan tersebut seolah menghadirkan rasa tenang bagi seluruh pelayan liturgi, seolah tahu bahwa kehadirannya memberikan jaminan bahwa semua akan berjalan lancar.

Sebagai prodiakon muda, Mas Yuda adalah sosok yang energik, cekatan, dan ringan tangan. Ia tak hanya aktif dalam tim prodiakon, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelayanan liturgi GMBA di bawah komando Ibu Ita Rinawati.

Hampir setiap minggu, Mas Yuda setia bersiap membantu siapa pun yang membutuhkan. Sebagai bagian dari tim ‘wira-wiri’, bersama dengan tim pelayanan peribadatan lainnya, seperti Ibu Purna, Bapak Saptanto, dan Ibu Retno, senantiasa hadir bukan karena kewajiban tapi karena panggilan hati.

Sikapnya yang bisa melakukan apa saja selagi mampu, membuatnya menjadi sosok yang diandalkan bagi banyak orang di GMBA. Candaan khasnya yang sedikit sarkas tapi jujur, membuat suasana pelayanan menjadi lebih berwarna. Ia melayani dengan caranya sendiri, otentik dan tanpa kepalsuan.

Mas Yuda merupakan sosok pemuda Katolik yang memberikan inspirasi bahwa menjadi pelayan, khususnya pelayan liturgi, bukan hanya urusan “orang tua”. Melalui Mas Yuda, kita tahu bahwa pelayanan dapat tumbuh dan dijalani dengan semangat kaum muda masa kini.

Sejarawan Muda yang Menghidupkan Iman

Mas Yuda belum lama ini menyelesaikan studi di Program Studi Sejarah, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan diwisuda pada bulan Agustus yang lalu. Kecintaannya pada sejarah dan iman Katolik, Ia tuangkan dalam berbagai bentuk edukasi kreatif. Mas Yuda kerap membagikan tulisan-tulisan reflektif di media sosial, mengangkat kisah gereja bersejarah dan peristiwa penting dalam iman Katolik.

Tak hanya itu, ia juga menyalurkan passion-nya melalui gim Minecraft. Ia menciptakan map bangunan gereja seperti Katedral St. Petrus dan Paulus, terinspirasi dari Basilika St. Petrus lama. Bagi Mas Yuda, sejarah bukan sekadar masa lalu, tetapi jendela untuk memahami iman dan memperkuat komunitas Gereja.

Warisan Kebaikan yang Abadi

Putra dari Bapak Agustinus Gus Adi/KMT. Prajanalausada dan Ibu Yuliana Subaryati ini telah dimakamkan hari ini, Kamis, 2 Oktober 2025, di TPU Modinan, Sambilegi.

Sebelumnya, jenazah disemayamkan di rumah duka: Gg. Udang, Jl. Anggrek, Sambilegi Lor, Depok, Sleman. Misa requiem dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr., dalam suasana penuh syukur dan haru. Doa-doa dipanjatkan, pujian dilantunkan, dan kenangan akan Mas Yuda mengalir dalam benak pelayat yang hadir.

Suasana rumah duka dipenuhi oleh pelayat dari berbagai kalangan, termasuk rekan-rekan alumni SMA Kolese De Britto. Dalam momen penuh haru, mereka memberikan penghormatan terakhir dengan menyanyikan Mars De Britto di depan peti jenazah Mas Yuda, sebuah tradisi khas yang menggambarkan persaudaraan, semangat, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Nyanyian itu menjadi simbol bahwa Mas Yuda telah menjalani hidupnya dengan nilai-nilai yang ia pelajari dan hayati: menjadi manusia yang utuh, peduli, dan berani.

Meski raganya telah tiada, kebaikannya tetap hidup dalam kenangan banyak orang. Ia adalah pelayan muda yang menjadi terang, penyelamat kecil bagi gereja masa kini. Kepergiannya yang mendadak membuat banyak hati terhenyak. Namun kita percaya, Tuhan memanggilnya karena Ia melihat betapa besar kasih dan kerja keras yang telah Mas Yuda berikan. Ia telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan kini tibalah saat baginya untuk beristirahat dalam damai. Mari kita lanjutkan estafet pelayanan yang telah Ia jalankan.

Selamat jalan, Mas Yuda. Terima kasih telah menjadi teladan pelayanan, cinta, dan iman. Doa kami menyertaimu, dan kisahmu akan terus hidup dalam setiap sudut gereja yang pernah kau bantu, setiap liturgi yang kau layani, dan setiap hati yang pernah kau sentuh.

never imagined goodbye would be come this fast, rest easy Mas Yuda.

Pertemuan I, II, III, IV Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi: Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.

Setiap bulan September, Gereja Katolik di seluruh Indonesia merayakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tahun 2025 ini, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama-sama mengadakan empat kali pertemuan dengan tema besar:

“Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.”

Melalui pertemuan yang penuh doa, sharing, dan kehangatan, umat diajak untuk memperbarui relasi, mulai dari dengan diri sendiri, sesama, keluarga, hingga dengan Allah. Suasana sederhana di rumah-rumah umat menghadirkan pengalaman iman yang kaya dan berkesan.

Berikut rangkuman suasana penuh sukacita dari pertemuan BKSN I hingga IV.

Pertemuan I – Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri

Kamis, 4 September 2025
Kediaman Ibu Suprapto
Dihadiri 30 umat

Pertemuan pertama dipimpin oleh Mbak Tiya dan Mbak Monica. Suasana hening dan akrab terasa sejak awal, ketika tema “Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri” dibuka.

Lewat Kitab Suci, umat diajak menyadari bahwa menerima diri apa adanya adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Menerima diri berarti berani berdamai dengan masa lalu, tidak lagi larut dalam amarah, penyesalan, atau “andai saja” yang kerap membebani hati.

Rangkaian refleksi malam itu membuat umat merenung: kita tak bisa sungguh-sungguh mengasihi orang lain bila belum mengizinkan diri untuk dikasihi terlebih dahulu oleh Allah. Kasih sejati lahir dari hati yang terlebih dahulu dipulihkan.

Dari pendalaman ini, umat menuliskan aksi nyata pribadi, misalnya dengan berani mengakui kelebihan dan kekurangan diri, serta melakukan langkah pertobatan kecil setiap hari. Pertemuan pertama ini menjadi semacam “pintu masuk” untuk perjalanan iman BKSN selanjutnya, jalan pulang kepada Tuhan yang selalu menanti.

Pertemuan II – Pembaruan Relasi dengan Sesama

Jumat, 12 September 2025
Kediaman Bapak Maryoto
Dihadiri 28 umat

Pertemuan kedua dipandu oleh Bapak Bono dan Bapak Wawan. Tema “Pembaruan Relasi dengan Sesama” mengingatkan umat bahwa ibadah yang sejati kepada Allah selalu berjalan beriringan dengan tindakan kasih kepada sesama.

Setelah pendalaman Kitab Suci, umat dibagi menjadi tiga kelompok: Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan OMK (Orang Muda Katolik). Masing-masing kelompok mendiskusikan aksi nyata yang bisa dilakukan untuk orang sakit, orang miskin, penyandang difabel, atau mereka yang sedang mengalami kemalangan.

Hasil diskusi sungguh menarik. Kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu menghasilkan diskusi klasik nan realistis, seperti membantu dengan dana, mendoakan, atau mengunjungi mereka yang sakit. Namun, kelompok OMK tampil sangat kreatif dengan ide-ide segar, misalnya:

  • Menghubungkan para pengangguran dengan organisasi-organisasi nirlaba untuk memberikan pelatihan keterampilan, agar mereka bisa mandiri atau bahkan membuka usaha sendiri.
  • Mendorong umat yang memiliki usaha untuk membuka peluang kerja bagi penyandang difabel, tanpa membeda-bedakan, sehingga mereka juga bisa berkarya dengan layak.
  • Membuat aksi kecil di media sosial untuk menggalang dukungan atau doa bagi sesama yang membutuhkan.

Ide-ide ini membuat semua umat yang hadir terkesan. OMK menunjukkan bahwa semangat kasih bisa diwujudkan tidak hanya secara tradisional, tetapi juga dengan cara kreatif dan visioner. Perbedaan perspektif antar generasi justru memperkaya hasil pertemuan, membuat malam itu semakin bermakna.

Pertemuan III – Pembaruan Relasi dengan Keluarga

Jumat, 19 September 2025
Kediaman Bapak Terr Pratiknyo
Dihadiri 37 umat

Pertemuan ketiga bertema “Pembaruan Relasi dengan Keluarga.” Dipandu oleh Ibu Retno dan Ibu Aning, suasana malam itu penuh tawa, nostalgia, sekaligus kehangatan keluarga.

Salah satu dinamika kreatif yang dilakukan adalah permainan pasangan. Delapan pasangan suami-istri yang hadir diminta menulis atau menggambar sesuatu yang menurut mereka akan langsung dikenali oleh pasangan masing-masing. Kertas-kertas itu kemudian dicocokkan oleh Bapak-bapak yang mencari kertas pasangannya masing-masing.

Hasilnya, enam pasangan berhasil menebak pasangannya dengan tepat. Namun, dua pasangan justru tertukar, dan uniknya, mereka adalah pasangan senior dengan pernikahan hampir menginjak 50 tahun pernikahan! Suasana pun pecah oleh tawa, namun sekaligus menyentuh hati: pernikahan panjang ternyata tetap penuh dinamika, namun kasih setia membuat mereka selalu bertahan bersama.

BKSN III mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pertama kita belajar setia, menerima, dan saling menopang.

Pertemuan IV – Pembaruan Relasi dengan Allah

Jumat, 26 September 2025
Kediaman Ibu Agnes Minar Lukito
Dihadiri 22 umat

Pertemuan terakhir dipimpin oleh Bapak Jondit dan Bapak Yulius, dengan tema puncak: “Pembaruan Relasi dengan Allah.”

Lewat dinamika sharing, umat diajak untuk menceritakan pengalaman pribadi dalam doa. Topik yang diberikan oleh pemandu beragam: tentang doa Rosario, doa Salam Maria, waktu doa terbaik, doa syukur, hingga lagu rohani favorit. Umat dibebaskan untuk memilih topiknya masing-masing untuk kemudian kisahnya dibagikan ke seluruh umat.

Beberapa kisah yang dibagikan begitu menyentuh. Ibu Rus, misalnya, bercerita tentang pengalaman doa tengah malam di bawah langit terbuka, ketika ia sedang bergumul dengan kesedihan. Doa sederhana itu menjadi titik terang bagi masalah yang dihadapinya.

Sementara itu, Ibu Minar mengingatkan pentingnya doa syukur. Menurutnya, sering kali manusia mudah bersyukur saat bahagia, namun lupa bersyukur di tengah kesedihan. Padahal, justru doa syukur memberi energi baru dan membuka hati untuk berkat-berkat selanjutnya.

Sharing malam itu memperdalam kesadaran bahwa relasi dengan Allah bukan hanya soal permohonan, tetapi juga syukur yang tulus. Di sanalah iman kita dikuatkan, hingga kita bisa merasakan keselamatan sejati yang datang dari Allah.

Iman yang Diperbarui

Rangkaian empat pertemuan BKSN 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi bukan hanya kegiatan rohani, melainkan perjalanan iman yang hangat dan penuh warna. Dari diri sendiri, sesama, keluarga, hingga Allah, umat diajak untuk memperbarui relasi secara menyeluruh.

Malam-malam sederhana di rumah umat menjadi saksi bagaimana Kitab Suci sungguh hidup dan berbicara, mengikat umat dalam kasih Tuhan. Semoga semangat BKSN ini terus berbuah dalam keseharian, sehingga iman kita semakin kokoh, relasi semakin erat, dan kasih Allah semakin nyata di tengah kehidupan.

Malam Penuh Syukur: Misa Lingkungan St. Fransiskus Asisi Bersama Romo FX. Murdi Susanto, Pr

Hari Rabu, 24 September 2025 menjadi hari yang istimewa bagi umat St. Fransiskus Asisi. Malam itu, kami mendapat kunjungan dari Romo FX. Murdi Susanto, Pr., yang memimpin Misa Lingkungan bersama umat. Sebanyak 51 umat hadir dengan sukacita, memenuhi ruangan sederhana di Warung Makan Brongkos Dapur Anget, tempat misa diselenggarakan.

Pukul 19.00, misa dimulai tepat waktu. Nyanyian pembukaan mengalun merdu, dipimpin oleh organis muda lingkungan, mbak Lauda. Iringan musik sederhana membuat suasana menjadi syahdu dan penuh rasa syukur. Sejak awal, misa terasa begitu dekat dengan keseharian umat, sederhana, hangat, dan penuh makna.

Pesan Kehidupan dari Homili

Dalam homilinya, Romo Murdi mengajak umat untuk merenungkan kehidupan keluarga di lingkungan kami. Beliau dengan penuh keakraban bertanya: siapa yang tinggal seorang diri, siapa yang tinggal berdua, dan siapa yang hidup bersama keluarga lebih besar. Pertanyaan itu terdengar ringan, namun justru membuka mata kami tentang gambaran nyata keluarga umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Ternyata, sebagian besar keluarga terdiri dari tiga orang.

Dari refleksi sederhana ini, Romo menekankan pentingnya keterlibatan setiap umat dalam kegiatan lingkungan maupun di tingkat stasi. “Kehidupan Gereja hanya akan tumbuh subur bila kita bersama-sama menanam dan merawatnya,” begitu kira-kira pesan beliau yang terasa menancap dalam hati umat.

Pemberkatan Pengurus Baru

Menjelang akhir misa, suasana semakin hangat ketika Romo diperkenalkan dan kemudian memberkati pengurus baru Lingkungan St. Fransiskus Asisi periode 2026–2028. Sebagian besar umat terlibat langsung dalam kepengurusan ini, yang menunjukkan tingginya semangat kebersamaan. Romo pun menegaskan bahwa keterlibatan ini bukan hanya soal struktur, melainkan juga wujud nyata pelayanan iman di tengah umat.

Santap Malam dan Nostalgia

Usai misa, kami melanjutkan kebersamaan dengan santap malam dan ramah tamah. Aroma brongkos hangat menyambut kami, tersaji lengkap dengan nasi dan kerupuk yang renyah. Tak ketinggalan, ada kue soes potong, camilan lezat, serta buah-buahan segar yang berlimpah. Sambil makan, canda tawa dan obrolan ringan mengisi malam, menjadikan suasana semakin akrab.

Di sela-sela perbincangan, Romo Murdi sempat bernostalgia. Beliau kembali mengenang masa pelayanannya sebagai Romo Paroki di Paroki Mlati (1981–1987). Nostalgia itu muncul karena salah satu umat, Ibu Dyah bersama ibunda, ternyata pernah menjadi umat paroki beliau pada masa itu. Dengan senyum hangat, Romo bergurau ketika mengetahui bahwa Ibu Dyah kini sudah memiliki tiga anak. “Saya bersyukur masih diberi kesehatan dan kehidupan hingga bisa melihat umat saya dulu kini tumbuh bersama keluarganya,” ujar beliau.

Tanya Jawab dan Pengayaan Iman

Selain nostalgia, sesi tanya jawab juga memberi warna tersendiri. Beberapa umat mengajukan pertanyaan seputar liturgi, seperti tentang kapan sebaiknya membuat tanda salib dalam misa, serta makna tanda salib kecil di dahi, mulut, dan dada sebelum bacaan Injil. Romo menjelaskan dengan sabar, membuat kami semua lebih memahami kekayaan simbol iman Katolik.

Tidak hanya itu, Romo juga menyinggung tentang surat edaran Mahkamah Agung mengenai pernikahan beda agama. Penjelasan beliau membuka wawasan baru bagi umat, terutama terkait tantangan iman dalam kehidupan keluarga modern.

Malam yang Berkesan

Misa Lingkungan bersama Romo Murdi malam itu benar-benar meninggalkan kesan mendalam. Tidak hanya karena doa dan perayaan Ekaristi, tetapi juga karena suasana hangat, keakraban, serta pesan-pesan yang membekas di hati. Malam itu seakan menjadi pengingat bahwa iman tumbuh bukan hanya di gedung gereja, tetapi juga di ruang-ruang sederhana tempat umat berkumpul, berdoa, dan berbagi hidup bersama.

Semoga kebersamaan ini semakin mempererat relasi antar umat sekaligus hubungan dengan Romo paroki sebagai gembala yang selalu hadir menuntun kami dalam perjalanan iman.

KRISMA 2025: Dikuatkan dalam Roh, Diutus sebagai Murid


Seluruh umat Paroki Kalasan patut bersukacita sebab pada Sabtu, 6 September 2025, sebanyak 288 umat yang berbahagia telah menerima sakramen penguatan di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Stasi Maguwo. Perayaan Ekaristi di GMBA kali ini memiliki nuansa berbeda karena dilangsungkan Penerimaan Sakramen Penguatan bagi calon penerima Sakramen Krisma dari seluruh wilayah Paroki Kalasan.

Perayaan Penerimaan Sakramen dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko sebagai selebran utama, didampingi oleh Pastor Paroki, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. dan Romo Yohanes Ngatmo, Pr. Ekaristi berlangsung meriah, dihadiri oleh 1.297 umat yang memenuhi bagian dalam hingga luar gereja.

Dalam homilinya, Uskup Mgr. Rubiyatmoko mengajak para umat, khususnya para penerima Sakramen Krisma untuk menghayati kehendak Allah dan membuka diri terhadap karya Roh Kudus. Ia menekankan pentingnya menanggapi panggilan Allah menjadi murid Kristus yang aktif berksaksi dalam kehidupan sehati-hari. Homili berlangsung secara interaktif, dimana Bapak Uskup berdialog langsung dengan para calon serta memberikan cincin rosario kepada mereka yang berani menjawab pertanyaan atau berbagi refleksi iman. Suasana homili yang hangat mencairkan ketegangan dalam diri calon penerima krisma agar lebih mantap dalam menerima Roh Kudus. Selain itu, momen ini turut menjadi ruang pembelajaran iman yang membekas di hati para umat yang hadir.

Rangkaian liturgi Sakramen Penguatan diawali dengan pemberkatan para wali krisma dari masing-masing wilayah agar para wali dapat menjadi teladan dan pendoa yang baik bagi krismawan dan krismawati. Selanjutnya, dilakukan pembaruan janji baptis oleh para calon dan kemudian dilanjutkan dengan pengurapan minyak krisma secara bergantian oleh Bapak Uskup. Meski jumlah penerima sakramen cukup besar, prosesi berlangsung tertib dan lancar. Mgr. Rubiyatmoko mengapresiasi semangat dan kesiapan yang terpancar dari krismawan-krismawati sehingga meski berlangsung cukup lama, menurutnya tidak terasa melelahkan.

Selain itu, misa turut dimeriahkan oleh Cantores GMBA dan Pemusik Muda GMBA (PMG) yang sepenuh hati mempersembahkan lagu-lagu pengiring. Sebanyak 29 lagu dibawakan dengan apik, diiringi alunan kendang, keyboard, violin, hingga flute. Persembahan lagu tersebut merupakan hasil kerja keras sepenuh hati yang dilakukan oleh para petugas guna mendukung suasana yang khusyuk dan meriah. Menurut Bapak Uskup, selain semangat dan kebahagiaan yang terpancar dari krismawan-krismawati, iringan lagu yang indah dan meriah menambah sukacita Perayaan Ekaristi yang tidak terasa panjang meski berlangsung kurang lebih selama 3 jam. Bapak Uskup turut mengapresiasi kelompok pemusik yang bertugas dan berharap dapat menjadi pemantik bagi kaum muda untuk terlibat dalam pelayanan Gereja.

Bravo dan proficiat kepada segenap tim yang telah bekerja bahu-membahu dengan penuh dedikasi, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan Penerimaan Sakramen Penguatan kali ini. Puji dan syukur kepada Allah karena perayaan dapat berlangsung dengan lancar, khusyuk, dan penuh sukacita. Terima kasih setulus hati kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi mendukung kelancaran perayaan ini, termasuk segenap Dewan Pastoral Paroki Maria Marganingsih Kalasan, Dewan Pastoral Stasi Maria Bunda Allah, Panitia, para Katekis, serta petugas liturgi yang telah melayani sepenuh hati mulai dari misdinar, prodiakon, lektor, koor, pemusik, petugas among tamu dari Wilayah Ignasius Loyola yang cekatan dan memukau dengan dresscode pakaian adat Nusantaranya, serta tim tata bunga & tata altar yang telah menghias dengan apik dan cantik. Terima kasih secara mendalam juga kepada seluruh tim KOMSOS, AV & Monitor, Soundsystem GMBA, parkir warga Kampung Karangploso (Parjo), dan tim keamanan (PAMDAL), serta seluruh elemen yang telah membantu, yang bekerja di balik layar dan tidak dapat disebutkan satu persatu.

Perayaan Sakramen Krisma ini merupakan momen penting dalam perjalanan iman umat Paroki Kalasan. Sebagai kepenuhan inisiasi, mari kita rayakan Sakramen Krisma ini sebagai penanda semangat iman dalam kehidupan sehari-hari bahwa kita telah dikuatkan dan diteguhkan dalam Roh Kudus. Maka mari kita menanggapi panggilan-Nya untuk menjadi murid Kristus yang siap bersaksi di tengah dunia. Amin.

Dokumentasi kegiatan dapat diakses melalui tautan berikut: https://drive.google.com/drive/folders/1YLp1zVk1pkSZbB509TGl9kpkzGrCX8G_

Menghitung Hari Menuju Sakramen Penguatan: Triduum I, Membuka Hati untuk Tujuh Karunia Roh Kudus

Semakin dekat, hari ini menandai langkah mantap bagi para calon penerima Sakramen Krisma. Gereja Paroki Maria Marganingsih Kalasan pada Senin, 1 September 2025 melaksanakan Triduum I yang bertempat di Gereja Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo. Kegiatan tersebut mengawali Triduum menuju penerimaan Sakramen Krisma yang akan dilangsungkan pada Sabtu, 6 September 2025 nanti. Sebagai pemandu, Bapak Felix Sukardi mengajak dan membimbing calon penerima sakramen krisma untuk memohon tujuh karunia Roh Kudus.

Apa itu Triduum?

Kata “Triduum” berasal dari bahasa Latin yang merupakan gabungan dari kata “tri-” yang berarti “tiga” dan “dies” yang berarti “hari”. Secara harfiah, Triduum bermakna “tiga hari” dan dalam konteks Gereja Katolik, Triduum merujuk pada tiga hari menjelang suatu perayaan penting yang dipenuhi dengan persiapan rohani. Pada konteks Sakramen Krisma, Triduum dimaknai sebagai tiga hari persiapan rohani bagi calon penerima sakramen untuk mempersiapkan hati sebelum menerima perutusan sebagai saksi Kristus melalui Sakramen Krisma. Triduum tersebut merupakan masa penting bagi para calon penerima Sakramen Krisma karena membantu para calon penerima sakramen untuk merenungkan makna Sakramen Krisma secara lebih dalam dan memohon bimbangan serta karunia Roh Kudus dalam hati mereka.

Pada Triduum I ini, fokus utama adalah membuka hati para calon penerima Sakramen Krisma dengan mendoakan Doa Mohon Tujuh Karunia Roh Kudus (PS. 93). Sebagai pemandu, Bapak Felix Sukardi mengajak calon penerima sakramen untuk memohon kehadiran Roh Kudus agar menjadi kekuatan dalam menghadapi tantangan kehidupan masa kini. Tujuh Karunia Roh Kudus tersebut yaitu:
1. Roh Kebijaksanaan, agar dapat memandang berbagai hal dengan terang Illahi;
2. Roh Pengertian, dalam memahami kebenaran iman dalam keseharian;
3. Roh Nasihat, untuk membimbing menuju jalan hidup seturut kehendak Allah;
4. Roh Keperkasaan, agar senantiasa teguh dalam iman;
5. Roh Pengenalan akan Allah, supaya kian dekat dengan kemuliaan-Nya;
6. Roh Kesalehan, mohon hidup dalam kasih dan hormat kepada Allah;
7. Roh Takut akan Allah, agar senantiasa tunduk dalam kuasa dan kebesaran Allah.

Kegiatan Triduum I ini berperan penting dalam memantapkan hati para calon penerima sakramen karena Sakramen Krisma tidak sebatas sebagai tahapan dalam kehidupan Gereja Katolik, melainkan sebuah perutusan untuk menjadi Garam dan Terang di dunia.

Menghitung Hari Menuju Sakramen Krisma 2025

Kegiatan menuju Sakramen Krisma telah dimulai sejak Rekoleksi yang dilaksanakan pada Sabtu, 23 Agustus 2025 di Syantikara Youth Center sebagai momen pembuka pembinaan rohani secara intensif dalam mempersiapkan calon penerima sakramen. Selanjutnya, rangkaian dilanjutkan dengan Penguatan oleh Romo Paroki, yakni Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr., dan Ujian Tulis pada Minggu, 31 Agustus 2025. Rangkaian Triduum dilaksanakan pada 1-3 September 2025 untuk mempersiapkan batin para calon penerima Sakramen Krisma secara lebih matang. Selain itu, pada Rabu, 3 September 2025 turut dilaksanakan Pembekalan Wali Krisma. Puncaknya, yakni Penerimaan Sakramen Krisma yang dilaksanakan pada Sabtu, 6 September 2025 di GMBA Maguwo.


Seluruh rangkaian menuju penerimaan Sakramen Krisma dirancang untuk membekali calon penerima secara menyeluruh baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual agar siap menerima rahmat karunia besar dalam Sakramen Krisma. Semoga melalui rangkaian tersebut, para calon penerima Sakramen Krisma dapat melangkah dengan mantap sebagai Saksi Kristus yang penuh sukacita dan tanggung jawab. Mari kita turut menyongsong sukacita dan mendoakan para calon penerima Sakramen Krisma agar dapat mengikuti dengan baik dan menjadi garam dan terang dunia, mewartakan kasih Kristus di tengah keluarga, sekolah, lingkungan kerja, maupun masyarakat luas.

Dokumentasi kegiatan Triduum I Krisma 2025 dapat diakses melalui tautan berikut:

https://drive.google.com/drive/folders/1uNw2IZgCYmSK4NWIWsU9p0Bh2GMt2Uef

https://www.instagram.com/p/DOD8nvkkTmS/?img_index=9&igsh=bGc1Ymc3bXljOWE0