Pertemuan I, II, III, IV Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi: Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.

Setiap bulan September, Gereja Katolik di seluruh Indonesia merayakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tahun 2025 ini, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama-sama mengadakan empat kali pertemuan dengan tema besar:

“Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.”

Melalui pertemuan yang penuh doa, sharing, dan kehangatan, umat diajak untuk memperbarui relasi, mulai dari dengan diri sendiri, sesama, keluarga, hingga dengan Allah. Suasana sederhana di rumah-rumah umat menghadirkan pengalaman iman yang kaya dan berkesan.

Berikut rangkuman suasana penuh sukacita dari pertemuan BKSN I hingga IV.

Pertemuan I – Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri

Kamis, 4 September 2025
Kediaman Ibu Suprapto
Dihadiri 30 umat

Pertemuan pertama dipimpin oleh Mbak Tiya dan Mbak Monica. Suasana hening dan akrab terasa sejak awal, ketika tema “Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri” dibuka.

Lewat Kitab Suci, umat diajak menyadari bahwa menerima diri apa adanya adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Menerima diri berarti berani berdamai dengan masa lalu, tidak lagi larut dalam amarah, penyesalan, atau “andai saja” yang kerap membebani hati.

Rangkaian refleksi malam itu membuat umat merenung: kita tak bisa sungguh-sungguh mengasihi orang lain bila belum mengizinkan diri untuk dikasihi terlebih dahulu oleh Allah. Kasih sejati lahir dari hati yang terlebih dahulu dipulihkan.

Dari pendalaman ini, umat menuliskan aksi nyata pribadi, misalnya dengan berani mengakui kelebihan dan kekurangan diri, serta melakukan langkah pertobatan kecil setiap hari. Pertemuan pertama ini menjadi semacam “pintu masuk” untuk perjalanan iman BKSN selanjutnya, jalan pulang kepada Tuhan yang selalu menanti.

Pertemuan II – Pembaruan Relasi dengan Sesama

Jumat, 12 September 2025
Kediaman Bapak Maryoto
Dihadiri 28 umat

Pertemuan kedua dipandu oleh Bapak Bono dan Bapak Wawan. Tema “Pembaruan Relasi dengan Sesama” mengingatkan umat bahwa ibadah yang sejati kepada Allah selalu berjalan beriringan dengan tindakan kasih kepada sesama.

Setelah pendalaman Kitab Suci, umat dibagi menjadi tiga kelompok: Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan OMK (Orang Muda Katolik). Masing-masing kelompok mendiskusikan aksi nyata yang bisa dilakukan untuk orang sakit, orang miskin, penyandang difabel, atau mereka yang sedang mengalami kemalangan.

Hasil diskusi sungguh menarik. Kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu menghasilkan diskusi klasik nan realistis, seperti membantu dengan dana, mendoakan, atau mengunjungi mereka yang sakit. Namun, kelompok OMK tampil sangat kreatif dengan ide-ide segar, misalnya:

  • Menghubungkan para pengangguran dengan organisasi-organisasi nirlaba untuk memberikan pelatihan keterampilan, agar mereka bisa mandiri atau bahkan membuka usaha sendiri.
  • Mendorong umat yang memiliki usaha untuk membuka peluang kerja bagi penyandang difabel, tanpa membeda-bedakan, sehingga mereka juga bisa berkarya dengan layak.
  • Membuat aksi kecil di media sosial untuk menggalang dukungan atau doa bagi sesama yang membutuhkan.

Ide-ide ini membuat semua umat yang hadir terkesan. OMK menunjukkan bahwa semangat kasih bisa diwujudkan tidak hanya secara tradisional, tetapi juga dengan cara kreatif dan visioner. Perbedaan perspektif antar generasi justru memperkaya hasil pertemuan, membuat malam itu semakin bermakna.

Pertemuan III – Pembaruan Relasi dengan Keluarga

Jumat, 19 September 2025
Kediaman Bapak Terr Pratiknyo
Dihadiri 37 umat

Pertemuan ketiga bertema “Pembaruan Relasi dengan Keluarga.” Dipandu oleh Ibu Retno dan Ibu Aning, suasana malam itu penuh tawa, nostalgia, sekaligus kehangatan keluarga.

Salah satu dinamika kreatif yang dilakukan adalah permainan pasangan. Delapan pasangan suami-istri yang hadir diminta menulis atau menggambar sesuatu yang menurut mereka akan langsung dikenali oleh pasangan masing-masing. Kertas-kertas itu kemudian dicocokkan oleh Bapak-bapak yang mencari kertas pasangannya masing-masing.

Hasilnya, enam pasangan berhasil menebak pasangannya dengan tepat. Namun, dua pasangan justru tertukar, dan uniknya, mereka adalah pasangan senior dengan pernikahan hampir menginjak 50 tahun pernikahan! Suasana pun pecah oleh tawa, namun sekaligus menyentuh hati: pernikahan panjang ternyata tetap penuh dinamika, namun kasih setia membuat mereka selalu bertahan bersama.

BKSN III mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pertama kita belajar setia, menerima, dan saling menopang.

Pertemuan IV – Pembaruan Relasi dengan Allah

Jumat, 26 September 2025
Kediaman Ibu Agnes Minar Lukito
Dihadiri 22 umat

Pertemuan terakhir dipimpin oleh Bapak Jondit dan Bapak Yulius, dengan tema puncak: “Pembaruan Relasi dengan Allah.”

Lewat dinamika sharing, umat diajak untuk menceritakan pengalaman pribadi dalam doa. Topik yang diberikan oleh pemandu beragam: tentang doa Rosario, doa Salam Maria, waktu doa terbaik, doa syukur, hingga lagu rohani favorit. Umat dibebaskan untuk memilih topiknya masing-masing untuk kemudian kisahnya dibagikan ke seluruh umat.

Beberapa kisah yang dibagikan begitu menyentuh. Ibu Rus, misalnya, bercerita tentang pengalaman doa tengah malam di bawah langit terbuka, ketika ia sedang bergumul dengan kesedihan. Doa sederhana itu menjadi titik terang bagi masalah yang dihadapinya.

Sementara itu, Ibu Minar mengingatkan pentingnya doa syukur. Menurutnya, sering kali manusia mudah bersyukur saat bahagia, namun lupa bersyukur di tengah kesedihan. Padahal, justru doa syukur memberi energi baru dan membuka hati untuk berkat-berkat selanjutnya.

Sharing malam itu memperdalam kesadaran bahwa relasi dengan Allah bukan hanya soal permohonan, tetapi juga syukur yang tulus. Di sanalah iman kita dikuatkan, hingga kita bisa merasakan keselamatan sejati yang datang dari Allah.

Iman yang Diperbarui

Rangkaian empat pertemuan BKSN 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi bukan hanya kegiatan rohani, melainkan perjalanan iman yang hangat dan penuh warna. Dari diri sendiri, sesama, keluarga, hingga Allah, umat diajak untuk memperbarui relasi secara menyeluruh.

Malam-malam sederhana di rumah umat menjadi saksi bagaimana Kitab Suci sungguh hidup dan berbicara, mengikat umat dalam kasih Tuhan. Semoga semangat BKSN ini terus berbuah dalam keseharian, sehingga iman kita semakin kokoh, relasi semakin erat, dan kasih Allah semakin nyata di tengah kehidupan.

Misa Lingkungan St. Yohanes Pembaptis


Pada hari Rabu, 25 September 2025, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis berkumpul dalam suasana penuh kekeluargaan untuk merayakan Misa Lingkungan yang diadakan di kediaman Bapak Titus. Misa ini dipimpin oleh Romo Murdi, yang dengan penuh sukacita memimpin perayaan Ekaristi bersama umat yang hadir.

Sejak sore hari, rumah Pak Titus mulai dipenuhi oleh umat yang datang dengan semangat kebersamaan dan kerinduan akan perjumpaan rohani. Lingkungan yang biasanya tenang berubah menjadi tempat yang hidup, dipenuhi doa, nyanyian pujian, dan sapaan hangat antar sesama umat.

Misa berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Kehadiran Romo Murdi memberikan semangat baru bagi umat lingkungan, yang merasa diteguhkan dalam iman dan kebersamaan. Liturgi berjalan lancar, dengan partisipasi aktif dari umat dalam tugas-tugas liturgis seperti lektor, pemazmur, dan petugas koor.

Lingkungan Yohanes Pembaptis juga dikenal memiliki tradisi yang indah dan penuh makna, yaitu memberikan kenang-kenangan kepada para penerima Sakramen Penguatan (Krisma) dan Komuni Pertama. Tradisi ini merupakan bentuk dukungan dan kasih dari komunitas lingkungan kepada anak-anak dan remaja yang telah mengambil langkah penting dalam perjalanan iman mereka. Kenang-kenangan tersebut menjadi simbol bahwa mereka diterima dan didoakan oleh seluruh umat lingkungan.

Setelah misa selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana. Hidangan khas rumahan disajikan, dan suasana penuh canda tawa serta cerita hangat mengisi malam itu. Anak-anak bermain bersama, orang tua saling bertukar kabar, dan semuanya bersatu dalam semangat Yohanes Pembaptis: hidup dalam terang dan kasih Kristus.

Misa lingkungan ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan dan semangat pelayanan tetap hidup dan tumbuh di tengah umat, memperkuat ikatan sebagai satu keluarga besar dalam iman.

Malam Penuh Syukur: Misa Lingkungan St. Fransiskus Asisi Bersama Romo FX. Murdi Susanto, Pr

Hari Rabu, 24 September 2025 menjadi hari yang istimewa bagi umat St. Fransiskus Asisi. Malam itu, kami mendapat kunjungan dari Romo FX. Murdi Susanto, Pr., yang memimpin Misa Lingkungan bersama umat. Sebanyak 51 umat hadir dengan sukacita, memenuhi ruangan sederhana di Warung Makan Brongkos Dapur Anget, tempat misa diselenggarakan.

Pukul 19.00, misa dimulai tepat waktu. Nyanyian pembukaan mengalun merdu, dipimpin oleh organis muda lingkungan, mbak Lauda. Iringan musik sederhana membuat suasana menjadi syahdu dan penuh rasa syukur. Sejak awal, misa terasa begitu dekat dengan keseharian umat, sederhana, hangat, dan penuh makna.

Pesan Kehidupan dari Homili

Dalam homilinya, Romo Murdi mengajak umat untuk merenungkan kehidupan keluarga di lingkungan kami. Beliau dengan penuh keakraban bertanya: siapa yang tinggal seorang diri, siapa yang tinggal berdua, dan siapa yang hidup bersama keluarga lebih besar. Pertanyaan itu terdengar ringan, namun justru membuka mata kami tentang gambaran nyata keluarga umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Ternyata, sebagian besar keluarga terdiri dari tiga orang.

Dari refleksi sederhana ini, Romo menekankan pentingnya keterlibatan setiap umat dalam kegiatan lingkungan maupun di tingkat stasi. “Kehidupan Gereja hanya akan tumbuh subur bila kita bersama-sama menanam dan merawatnya,” begitu kira-kira pesan beliau yang terasa menancap dalam hati umat.

Pemberkatan Pengurus Baru

Menjelang akhir misa, suasana semakin hangat ketika Romo diperkenalkan dan kemudian memberkati pengurus baru Lingkungan St. Fransiskus Asisi periode 2026–2028. Sebagian besar umat terlibat langsung dalam kepengurusan ini, yang menunjukkan tingginya semangat kebersamaan. Romo pun menegaskan bahwa keterlibatan ini bukan hanya soal struktur, melainkan juga wujud nyata pelayanan iman di tengah umat.

Santap Malam dan Nostalgia

Usai misa, kami melanjutkan kebersamaan dengan santap malam dan ramah tamah. Aroma brongkos hangat menyambut kami, tersaji lengkap dengan nasi dan kerupuk yang renyah. Tak ketinggalan, ada kue soes potong, camilan lezat, serta buah-buahan segar yang berlimpah. Sambil makan, canda tawa dan obrolan ringan mengisi malam, menjadikan suasana semakin akrab.

Di sela-sela perbincangan, Romo Murdi sempat bernostalgia. Beliau kembali mengenang masa pelayanannya sebagai Romo Paroki di Paroki Mlati (1981–1987). Nostalgia itu muncul karena salah satu umat, Ibu Dyah bersama ibunda, ternyata pernah menjadi umat paroki beliau pada masa itu. Dengan senyum hangat, Romo bergurau ketika mengetahui bahwa Ibu Dyah kini sudah memiliki tiga anak. “Saya bersyukur masih diberi kesehatan dan kehidupan hingga bisa melihat umat saya dulu kini tumbuh bersama keluarganya,” ujar beliau.

Tanya Jawab dan Pengayaan Iman

Selain nostalgia, sesi tanya jawab juga memberi warna tersendiri. Beberapa umat mengajukan pertanyaan seputar liturgi, seperti tentang kapan sebaiknya membuat tanda salib dalam misa, serta makna tanda salib kecil di dahi, mulut, dan dada sebelum bacaan Injil. Romo menjelaskan dengan sabar, membuat kami semua lebih memahami kekayaan simbol iman Katolik.

Tidak hanya itu, Romo juga menyinggung tentang surat edaran Mahkamah Agung mengenai pernikahan beda agama. Penjelasan beliau membuka wawasan baru bagi umat, terutama terkait tantangan iman dalam kehidupan keluarga modern.

Malam yang Berkesan

Misa Lingkungan bersama Romo Murdi malam itu benar-benar meninggalkan kesan mendalam. Tidak hanya karena doa dan perayaan Ekaristi, tetapi juga karena suasana hangat, keakraban, serta pesan-pesan yang membekas di hati. Malam itu seakan menjadi pengingat bahwa iman tumbuh bukan hanya di gedung gereja, tetapi juga di ruang-ruang sederhana tempat umat berkumpul, berdoa, dan berbagi hidup bersama.

Semoga kebersamaan ini semakin mempererat relasi antar umat sekaligus hubungan dengan Romo paroki sebagai gembala yang selalu hadir menuntun kami dalam perjalanan iman.

PERTEMUAN BKSN 4 denganTema: “Pembaruan Relasi dengan Allah” (Mal. 3:13-18)


Stasi Maguwo memasuki Pertemuan ke-4 Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 dengan tema “Pembaruan Relasi dengan Allah”. Pertemuan ini mengajak umat untuk kembali melihat relasi pribadi dengan Allah: apakah selama ini kita sungguh setia, atau justru membiarkan iman menjadi hambar dan jauh dari-Nya.

Kitab Maleakhi menegaskan bahwa ada perbedaan nyata antara orang yang setia kepada Allah dan yang tidak. Relasi yang benar dengan Allah bukanlah sekadar kewajiban, melainkan sikap hati yang penuh kasih dan kepercayaan. Allah merindukan umat-Nya kembali dengan tulus, bukan hanya dalam doa atau ibadat lahiriah, tetapi juga dalam seluruh sikap hidup sehari-hari.

Suasana pertemuan BKSN kali ini dipenuhi semangat doa dan permenungan. Umat diajak untuk mengevaluasi relasi pribadinya dengan Tuhan: apakah kita masih sering meragukan kasih-Nya, ataukah kita tetap percaya dan setia walau menghadapi tantangan hidup? Dalam diskusi dan sharing iman, banyak umat menyadari bahwa menjaga relasi dengan Allah berarti menjaga kesetiaan dalam hal-hal kecil—setia berdoa, setia menghadiri Ekaristi, setia dalam pelayanan, serta setia dalam menghidupi kasih di tengah keluarga dan masyarakat.

Pertemuan ini menjadi undangan bagi setiap umat untuk memperbarui komitmen imannya. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya; Ia selalu mencatat dan mengenal mereka yang setia kepada-Nya. Relasi yang erat dengan Allah akan memberi kekuatan baru untuk menghadapi pergumulan hidup, sekaligus menjadi sumber berkat bagi sesama.

Lingkungan yang melaksanakan BKSN Pertemuan 4:

  1. Lingkungan St. Antonius

2. Lingkungan St. Petrus

Lingkungan St Clara

Lingkungan St Gregorius

Lingkungan St Elisabet

Lingkungan St Paulus

Lingkungan St Maria Asumpta

Lingkungan St Monica

Semoga pertemuan BKSN ini meneguhkan iman umat, agar semakin setia dan tekun menjaga relasi dengan Allah yang penuh kasih dan setia.

Pertemuan BKSN 3 dan 4 Lingkungan St Gabriel

Pada hari Jumat, 19 September 2025, Lingkungan St. Gabriel melaksanakan Pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) ke-3 dan ke-4 bertempat di rumah keluarga Antonius Subiyanto. BKSN ke 3 dipimpin oleh Maria Suprapti, Lita, Ona Kilok dan Qaaley. Sedangkan BKSN ke 4 dipimpin oleh Intan, Ika, Nana, dan Aurel. Pertemuan dimulai pukul 19.00 WIB dan dihadiri sekitar 30 orang umat yang terdiri dari bapak, ibu, kaum muda dan anak-anak.

Kegiatan diawali dengan doa pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan BKSN sesuai tema. Suasana pertemuan berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan, umat terlibat aktif dalam doa maupun sharing iman.

Untuk BKSN ke-3, tema yang diangkat adalah: “Pembaruan Relasi dalam Keluarga” (Mal. 2:10-16)

Tujuan: Peserta semakin menyadari bahwa Allah menghendaki agar mereka hidup benar di dalam keluarga dengan berlaku setia kepada keluarganya.

Untuk BKSN ke-4, tema yang diangkat adalah: “Pembaruan Relasi dengan Allah” (Mal. 3:13–18)

Tujuan: Peserta semakin menyadari bahwa Allah menghendaki agar mereka selalu memperbarui relasi dengan-Nya, dengan bertobat dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya, sehingga memperoleh keselamatan.

Setelah BKSN selesai, acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan untuk Krismawati dari Lingkungan St. Gabriel, kemudian PWK (Pertemuan Wanita Katolik), penyampaian pengumuman-pengumuman penting, dan sarasehan bersama umat.

Pertemuan berakhir pada pukul 21.15 WIB dengan doa penutup. Secara keseluruhan, kegiatan berjalan dengan baik, tertib, penuh kebersamaan, dan semakin mempererat relasi antarumat di Lingkungan St. Gabriel.

BKSN III&IV Lingkungan St. Yohanes Pembaptis

BKSN (Bulan Kitab Suci Nasional) selalu menjadi momen yang indah bagi umat Katolik untuk kembali merenungkan betapa berharganya Sabda Allah dalam hidup sehari-hari. Sabda yang kita dengarkan bukan sekadar cerita dari masa lalu, melainkan sungguh-sungguh hidup, berbicara, dan menuntun kita di masa kini. Pada minggu ke-3 dan ke-4, tema yang kita renungkan mengarah kepada relasi kita dengan keluarga serta relasi kita dengan Allah. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan, karena keluarga adalah anugerah Allah, dan Allah adalah sumber kasih yang menopang setiap keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama di mana kita belajar tentang arti kasih, pengorbanan, dan kesetiaan. Dari ayah, ibu, dan saudara, kita mengenal apa itu perhatian, kebersamaan, dan tanggung jawab. Keluarga adalah sekolah kehidupan, tempat di mana nilai-nilai iman diajarkan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui teladan nyata.

Namun, kita juga tidak menutup mata bahwa dalam keluarga sering muncul konflik, perbedaan pendapat, bahkan kekecewaan. Ada saatnya kita merasa tidak dipahami, atau justru kita sendiri gagal memahami orang lain dalam keluarga. Di sinilah Sabda Tuhan mengajak kita untuk terus membangun kasih dan pengampunan. Kasih dalam keluarga bukanlah kasih yang instan, melainkan kasih yang diperjuangkan, dipelihara, dan diperbarui setiap hari.

Yesus sendiri menunjukkan betapa pentingnya keluarga. Ia tumbuh dalam keluarga Nazaret yang sederhana, di mana Yusuf dan Maria menjadi teladan iman, ketaatan, dan kasih. Kehidupan Yesus bersama keluarganya menjadi gambaran bagaimana keluarga yang dipenuhi kasih Allah akan melahirkan buah-buah kebaikan. Maka, ketika kita berusaha membangun keluarga yang penuh cinta, kita sesungguhnya sedang menghadirkan wajah Allah di dunia. Keluarga yang rukun, saling mendukung, dan menghidupi nilai iman akan menjadi bukti nyata bagi orang lain tentang kasih Allah yang hidup.Namun, hubungan kita tidak berhenti hanya pada lingkup keluarga.

Relasi dengan Allah adalah dasar dan kekuatan bagi segalanya. Kita bisa memiliki keluarga yang hangat, damai, dan penuh cinta, hanya jika kita terlebih dahulu berakar dalam kasih Allah. Relasi dengan Allah terjalin dalam doa pribadi, doa bersama keluarga, perayaan Ekaristi, dan keterbukaan hati terhadap Sabda-Nya. Allah bukanlah sosok yang jauh dan menakutkan, melainkan Bapa yang penuh kasih, yang selalu menyertai dan mendengarkan kita. Ketika kita memberi waktu untuk berdoa dan merenungkan firman, kita sesungguhnya sedang memperbarui ikatan cinta kita dengan Allah.Relasi dengan Allah juga mengajarkan kita untuk berserah dan percaya.

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada rencana yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Ada kegagalan, sakit hati, atau jalan yang terasa buntu. Namun, ketika kita memiliki hubungan yang erat dengan Allah, kita belajar untuk percaya bahwa segala sesuatu terjadi dalam rencana-Nya yang penuh kasih. Dalam keheningan doa, kita menemukan kekuatan untuk tetap melangkah, sekalipun jalan hidup terasa berat.


PERTEMUAN BKSN 3 Umat Stasi Maguwo dengan Tema: “Pembaruan Relasi dalam Keluarga” (Mal. 2:10-16)


Umat Stasi Maguwo kembali melaksanakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025, kali ini memasuki pertemuan ke-3 dengan tema “Pembaruan Relasi dalam Keluarga”. Pertemuan ini menjadi kesempatan berharga untuk meneguhkan setiap keluarga agar tetap setia pada panggilannya, hidup dalam kasih, serta menjadi saksi iman di tengah dunia.

Dalam bacaan dari Kitab Maleakhi, umat diajak untuk menyadari bahwa kita semua berasal dari satu Bapa yang sama. Karena itu, keluarga dipanggil untuk menjaga kesetiaan, mengutamakan kasih, dan menjauhi perpecahan. Nabi Maleakhi dengan tegas mengingatkan bahwa relasi yang rapuh, penuh konflik, atau tanpa kesetiaan akan merusak keharmonisan keluarga. Sebaliknya, keluarga yang dibangun atas dasar kasih akan menjadi berkat, bukan hanya bagi anggotanya sendiri, tetapi juga bagi lingkungan sekitar.

Suasana pertemuan BKSN di berbagai lingkungan pun terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Umat bersama-sama merenungkan Firman Tuhan, berdiskusi, dan berbagi pengalaman hidup sehari-hari dalam keluarga. Lewat sharing iman yang sederhana, setiap peserta semakin diteguhkan bahwa keluarga adalah “sekolah kasih” di mana pengampunan dipelajari, kesabaran dilatih, dan kesetiaan dijaga.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk tidak berhenti memperbarui diri dalam lingkup keluarga. Kasih yang hidup di dalam keluarga diharapkan dapat menjadi dasar untuk membangun relasi yang lebih luas, baik di gereja maupun di masyarakat.

Lingkungan St Gregorius

Lingkungan St Yohanes Pembabtis

Lingkungan St Stefanus

Lingkungan St Theresia

Lingkungan St Monica

Lingkungan St Clara

Lingkungan St Bartolomeus

Lingkungan St Gabriel

Lingkungan St Petrus

Lingkungan St Paulus

Lingkungan St Fransiskus Asisi

Lingkungan St Antonius

Semoga pertemuan BKSN ini semakin meneguhkan setiap keluarga untuk hidup dalam kasih, setia pada janji, dan menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia.

Sembayangan BKSN II di Lingkungan St. Yohanes Pembaptis


Kamis, 11 September 2025, umat Lingkungan St. Yohanes Pembaptis kembali berkumpul dalam semangat kebersamaan untuk mengikuti Sembayangan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) II, yang kali ini diselenggarakan di rumah keluarga Bapak Isaac.

Kegiatan doa bersama ini dipandu dengan penuh semangat dan kekhusyukan oleh Ibu Yati dan Ibu Fitri selaku pemandu ibadat. Suasana akrab dan hangat terasa sejak awal pertemuan, memperkuat ikatan iman dan persaudaraan antarumat.

Tema BKSN tahun ini mengajak kita untuk lebih mendalami Sabda Tuhan dan menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pembacaan Kitab Suci dan permenungan bersama, umat diajak untuk tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku firman Tuhan dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, di mana umat saling bertukar cerita, berbagi sukacita, dan mempererat relasi satu sama lain. Semoga kegiatan BKSN ini semakin membangkitkan semangat umat untuk mencintai dan menghidupi Sabda Tuhan dalam keseharian, serta memperkuat persaudaraan sejati dalam komunitas.

Misa Kunjungan Romo ke Lingkungan St Gabriel

Misa kunjungan romo ke lingkungan merupakan salah satu program pastoral dari Pastor Paroki Marganingsih Kalasan. Tujuannya:

  • Menjalin kedekatan antara umat lingkungan dengan gembala paroki.
  • Membantu umat merasakan kehadiran Gereja secara nyata di tengah keluarga/lingkungan.
  • Memberi kesempatan bagi romo untuk mendengar langsung pengalaman, kebutuhan, maupun dinamika umat di basis.
  • Menghidupkan semangat kebersamaan dan persaudaraan iman dalam lingkup lingkungan.

Program ini umumnya diatur dalam jadwal tahunan paroki, sehingga setiap lingkungan mendapat giliran dikunjungi dan dirayakan misa bersama.

Pada hari Kamis, 11 September 2025 bertempat di rumah keluarga Donatus Jumadi, Lingkungan St. Gabriel mendapat kesempatan untuk melaksanakan Misa Kunjungan Romo sesuai program pastoral Paroki Marganingsih Kalasan.

Sejak pukul 10.00 pagi, umat lingkungan bergotong-royong mengadakan kerja bakti: ada yang memasak, menata tempat, mempersiapkan altar, menghias bunga, serta menyiapkan segala kebutuhan untuk misa. Suasana kebersamaan terasa hangat dan penuh semangat pelayanan.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo F.X. Murdi Susanto, Pr. dan dihadiri 48 umat, terdiri dari bapak-ibu, OMK, remaja, dan anak-anak PIA. Misa berlangsung khidmat dan meriah.

Melalui misa kunjungan ini, umat semakin diteguhkan dalam iman serta dikuatkan dalam persaudaraan.

Dalam Bacaan Pertama Kolose 3:12-17 memiliki pesan yang sangat indah untuk menguatkan umat lingkungan:

  • Hidup penuh kasih dan saling mengampuni.
  • Menjadi saksi Kristus dalam perbuatan sehari-hari.
  • Menjadikan syukur sebagai dasar kehidupan bersama.

Injil: Lukas 6:27-38

✨ Pesan Injil Lukas 6:27-38 ini sangat kuat bila dihubungkan dengan kehidupan umat di lingkungan: dipanggil untuk hidup dalam kasih, pengampunan, dan kemurahan hati, tidak hanya kepada sesama umat tetapi juga dalam relasi sehari-hari.

Acara ditutup dengan ramah tamah sederhana yang semakin mempererat persaudaraan.

Lingkungan St. Gabriel mengucapkan terima kasih kepada Romo, pengurus lingkungan, serta seluruh umat yang telah hadir dan mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

Misa ini menjadi sarana mempererat kebersamaan, memperdalam iman, serta menghadirkan Gereja di tengah-tengah umat lingkungan. Kehadiran romo juga menjadi kesempatan bagi umat untuk menyampaikan pengalaman serta harapan dalam kehidupan menggereja di Lingkungan St. Gabriel.

Misa Lingkungan St. Clara: Sabda Bahagia untuk Umat Bahagia

Hari yang ceria bagi umat St. Clara pada Rabu, 10 September 2025 karena dapat kembali menggelar Misa Lingkungan sebagai bagian dari kegiatan paguyuban umat lingkungan St. Clara. Perayaan ekaristi bertempat di kediaman Bapak Hugo Tridjoko, dengan dipimpin oleh Romo F.X. Murdi Susanto, Pr. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan rohani yang sederhana dan hangat, dimana pada hari itu umat St. Clara kembali merenungkan sabda bahagia yang menjadi pengingat kita akan kekuatan iman dalam menghadapi tantangan dunia.

Sebagaimana tertuang dalam bacaan Injil, yakni Lukas 6:20-26, melalui homilinya, Romo Murdi kembali menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari hal-hal yang bersifat fana, melainkan buah atas keyakinan umat Kristus dalam memuliakan penderitaan hidup. Memuliakan penderitaan bukan dimaknai sebagai hidup seadanya, tetapi menjadi sarana bagi kita, umat-Nya, untuk selalu memperkuat relasi dengan Allah. Sukacita yang lahir dari iman yang tidak tergoncangkan oleh hambatan dan tantangan hidup adalah kebahagiaan sejati dalam hidup orang beriman akan Kristus. Umat lingkungan St. Clara diajak untuk senantiasa berpegang teguh pada iman dalam menghadapi getirnya kehidupan yang silih berganti sebagai sarana penguatan diri menuju kehidupan yang beriman dan seturut kehendak-Nya.

Perayaan liturgi dapat berjalan dengan lancar dan khidmat berkat dukungan umat lingkungan yang dengan rendah hati bersuka cita untuk melayani. Dengan penuh semangat, diantaranya yaitu Bapak Catur sebagai prodiakon, Ibu Amy sebagai Lektor, Ibu Yulia sebagai pemandu lagu, dan Mas Henri sebagai organis. Tidak lupa, kontribusi yang patut diapresiasi dari anak muda yaitu Rachel yang bersama Ibu Tanti untuk menghaturkan doa umat kepada Bapa. Tentu, kehadiran segenap umat lingkungan menjadi pelengkap suasana yang hangat sehingga momen Misa Lingkungan kali ini menjadi pengalaman hangat dan penuh kebahagiaan, sebagaimana yel-yel umat lingkungan St. Clara, yaitu Clara Ceria, Bahagia, Ya! Ya! Ya! Sangat mencerminkan umat yang bahagia. Tak lupa, setiap umat memiliki peran masing-masing dalam mengupayakan momen ceria berjalan lancar, tidak hanya melalui petugas liturgi, namun juga sikap nyengkuyung mempersiapkan lokasi hingga jamuan.

Selepas perayaan ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan sesi sharing yang hangat nan santai. Salah satu topik mengemuka dalam diskusi yaitu terkait dengan Perkawinan Beda Agama. Seluruh umat mengikutinya dengan antusias, suatu isu yang cukup populer dan relevan masa kini, khususnya di kalangan anak muda. Diskusi berlangsung terbuka dan saling menghargai, membuka ruang reflektif bagi umat untuk memahami dinamika kehidupan beriman dalam konteks relasi lintas keyakinan. Melalui diskusi ini juga menjadi bentuk bagaimana kendala berupa perbedaan perlu ditanggapi dengan penuh Iman demi mewujudkan kebahagiaan kekal bersama. Selain itu, diskusi tersebut menjadi bentuk nyata semangat sabda bahagia dalam umat lingkungan St. Clara dalam membangun basis komunitas yang tidak hanya aktif secara liturgi, tetapi juga pedulu terhadap isu-isu nyata dalam kehidupan umat. Terima kasih atas partisipasi umat, semoga kebersamaan dan pembinaan iman dalam lingkungan St. Clara kian tumbuh dan menjadi berkat bagi seluruh umat maupun masyarakat. Amin.

Santa Clara? Ceria! Bahagia! Ya! Ya! Ya!