Pesta Nama Maria Immaculata: Merawat Iman dalam Sukacita Kebersamaan

Lingkungan Maria Immaculata Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo merayakan Pesta Nama Maria Immaculata pada Senin, 8 Desember 2025, bertempat di rumah Bapak Sikun Pribadi. Perayaan ini berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus penuh kehangatan, serta dihadiri oleh sekitar 35 umat Lingkungan Maria Immaculata.

Acara diawali dengan ibadah syukur yang dipimpin oleh Prodiakon Lingkungan. Dalam suasana doa yang sederhana namun mendalam, umat diajak untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan serta meneladani iman Bunda Maria sebagai Bunda Allah yang tak bernoda.

Usai ibadah, kebersamaan semakin terasa dalam ramah tamah antarumat. Suasana menjadi semakin meriah ketika anak-anak lingkungan menampilkan beberapa lagu rohani dengan penuh semangat dan keceriaan. Kegiatan ini dilengkapi dengan pembagian doorprize bagi anak-anak, yang menambah sukacita dan tawa seluruh hadirin.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sarasehan iman yang mengangkat tema peran Bunda Maria sebagai pilihan Allah untuk melahirkan Juruselamat dunia. Sarasehan ini dibawakan oleh Bapak Sikun Pribadi dan Bapak Purwoharsanto, yang mengajak umat untuk semakin mengenal dan meneladani keutamaan hidup Bunda Maria.

Dari sarasehan tersebut, umat diajak untuk merefleksikan bahwa Bunda Maria merupakan teladan utama bagi setiap orang beriman, terutama dalam tiga hal pokok, yaitu:

  1. Penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan,
  2. Ketaatan penuh pada kehendak Allah, dan
  3. Kesetiaan dalam menanggung penderitaan dengan iman dan harapan.

Perayaan Pesta Nama Maria Immaculata ini menjadi momen yang tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga memperdalam iman dan semangat hidup Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Semoga teladan Bunda Maria senantiasa menguatkan umat Lingkungan Maria Immaculata untuk terus berjalan setia dalam panggilan iman.

Pertemuan Adven ke-3 lingkungan Antonius

Pertemuan dimulai pkl. 19.30 wib di rumah bpk. Totok. Pertemuan dihadiri kurang lebih 25 orang umat. Dipandu oleh pak Arief, pak Rusiawan, bu Bagus, pak Wiwid dan pak Andreas. Pertemuan diramaikan dengan menyusun puzzle secara bergantian hingga membentuk suatu gambar utuh.

Ziarah dan Rekreasi Bersama Umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi

“Bersama Asisi, Bahagia, Beriman”

Hari Minggu, 23 November 2025 menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi, Stasi Maguwo. Setelah beberapa minggu mempersiapkan acara, akhirnya kegiatan Ziarah dan Rekreasi yang sudah lama dirindukan ini dapat terlaksana. Tahun ini, rombongan mengunjungi empat lokasi sekaligus: Kerkof Muntilan, Goa Maria Pereng, Bukit Cinta Rawapening, dan Kebun Bagus Salatiga.

Selain untuk memperdalam iman melalui ziarah, kegiatan ini juga dirancang agar umat lintas usia, anak-anak, OMK, dewasa, hingga para lansia bisa saling mengenal, bercengkrama, dan menikmati waktu yang penuh sukacita. Dari 50 orang yang mendaftar, sebanyak 42 umat hadir dan berangkat bersama. Meskipun jumlahnya sedikit berkurang, semangat kebersamaan tetap terasa penuh sejak pagi.

Pagi Dimulai Dengan Doa dan Sukacita

Rombongan mulai berkumpul sejak pagi di kediaman Ibu Lita. Setelah semua siap, kami memulai perjalanan panjang hari itu dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon, Bapak Yuli.

Tak lupa, kami mengambil momen untuk berfoto bersama dan merekam video yel-yel khas lingkungan Asisi:
“Asisi, Bersama, Bahagia, Beriman!”
Suasana pagi itu terasa hangat, penuh antusiasme, seperti layaknya satu keluarga besar yang hendak berwisata bersama.

Pukul 06.45, bus besar membawa kami memulai perjalanan.

Perhentian Pertama: Kerkof Muntilan

Perjalanan menuju Muntilan berjalan lancar, dan kami tiba sekitar pukul 07.30. Cuaca cerah membuat suasana ziarah di Kerkof terasa damai. Setelah foto bersama, umat diberi waktu untuk doa pribadi di area pemakaman yang penuh sejarah ini. Masing-masing membawa doa, harapan, dan rasa syukur dalam hati.

Setelah sekitar 30 menit, kami kembali naik bus dan melanjutkan perjalanan ke Goa Maria Pereng Salatiga.

Karaoke, Kuis, dan Tawa Sepanjang Jalan

Perjalanan menuju Goa Maria Pereng memakan waktu sekitar 90 menit. Namun kebersamaan selalu membuat waktu berlalu lebih cepat.
Di dalam bus, panitia memutar lagu-lagu yang langsung disambut heboh oleh umat. Karaoke spontan pun pecah.

Panitia juga menyiapkan kuis berhadiah doorprize, yang membuat suasana makin meriah. Ada yang serius menjawab, ada yang asal tebak sambil tertawa, semuanya dinikmati dengan gembira.

Perhentian Kedua: Goa Maria Pereng, Hening Dalam Doa

Kami tiba di Goa Maria Pereng pukul 09.45. Setelah berfoto bersama, umat melaksanakan Jalan Salib dengan suasana hening dan penuh penghayatan. Setiap perhentian mengingatkan kami untuk kembali menata hati dan memaknai perjalanan hidup masing-masing.

Selesai Jalan Salib, umat diberi waktu untuk doa pribadi di sekitar goa. Tempat yang teduh dan sejuk menambah kekhusyukan. Setelah semuanya selesai, rombongan bersiap menuju destinasi berikutnya.

Perhentian Ketiga: Bukit Cinta, Piknik Sederhana yang Membahagiakan

Kami tiba di Bukit Cinta Rawapening sekitar pukul 11.50. Begitu turun dari bus, udara sejuk dan pemandangan danau langsung menyambut.

Setelah menemukan lokasi yang nyaman di bawah pepohonan, umat bersama-sama menggelar tikar. Kemudian dimulailah momen yang paling ditunggu-tunggu: makan siang bersama.

Menu sederhana, nasi putih, ayam goreng, bakmi goreng, oseng tempe, dan lotis segar satu container penuh, terasa nikmat luar biasa saat disantap ramai-ramai. Sambil bersantap, Ketua Lingkungan Bapak Jondit sempat berkata:
“Sing penting wareg lan waras, wis marai bahagia.”
Dan benar saja, siang itu semuanya makan dengan lahap dan hati bahagia.

Setelah makan, anak-anak bermain di playground kecil, beberapa umat berjalan menyusuri area danau, sementara yang lain duduk bercerita sambil menikmati angin dan pemandangan.

Acara Keakraban: Joged, Game dan Doorprize

Setelah beristirahat sejenak, acara keakraban dimulai. Dipandu dengan penuh semangat oleh Ibu Silvia dan Ibu Retno, kami semua ikut joged bersama. Para ibu menunjukkan gerakan paling luwes dan penuh energi, hingga bapak-bapak pun diberi tugas memilih siapa yang paling semangat untuk menerima doorprize.

Setelah itu, berbagai permainan digelar:

  • Tebak bisik untuk para uti-uti, hasilnya sangat lucu karena yang berbisik dan mendengar kadang salah menangkap kata.
  • Tebak gaya untuk bapak-bapak, ini yang paling mengundang tawa karena gaya bapak-bapak yang kelewat lucu.
  • Lalu permainan kecil untuk OMK dan anak-anak.

Semua game berlangsung santai namun penuh tawa. Kebersamaan benar-benar terasa hidup siang itu.

Acara ditutup dengan pembagian semua doorprize yang sudah disiapkan panitia.

Perhentian Keempat: Kebun Bagus, Sejuk, Segar, dan Menyenangkan

Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Bagus Salatiga dan tiba sekitar pukul 15.30. Karena bus besar tidak dapat masuk, kami harus naik kereta odong-odong dari SPBU terdekat. Justru bagian inilah yang menjadi salah satu momen paling seru, banyak umat yang baru pertama kali naik odong-odong, dan semua langsung minta difoto!

Sesampainya di Kebun Bagus, udara sejuk dan suasana kebun yang asri membuat banyak umat spontan melepas alas kaki untuk menikmati dinginnya tanah. Ada yang langsung belanja buah segar, melon renyah manis, mangga ranum, alpukat, hingga jeruk bali.

Sebagian menikmati minuman dari mini coffee shop: jus segar, es dawet, kopi, teh, dan camilan. Anak-anak ikut memberi makan kambing, sementara beberapa umat mengikuti tur kebun yang disediakan.

Yang lain memilih duduk santai sambil menikmati pemandangan dan berbincang.
Sebelum pulang, tentu saja kami berfoto bersama dan meneriakan yel-yel Asisi sebagai kenang-kenangan.

Pulang Dengan Hati Penuh Syukur

Rombongan kembali menuju bus dengan odong-odong, dan sekali lagi, semua tampak sangat menikmati perjalanan singkat itu. Kami berangkat pulang pukul 17.00 dan tiba di Jogja sekitar pukul 18.30.

Semua peserta kembali dengan sehat, penuh sukacita, dan membawa pengalaman indah yang mempererat persaudaraan umat.

Hari itu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa:
Bahagia itu sebenarnya sederhana, asal kita mau saling berbagi, bersyukur, dan menikmatinya bersama.

Misa Lingkungan St. Gregorius Kadisoka: Momen Syukur yang Meneguhkan Iman Umat

Kadisoka, 17 November 2025 — Lingkungan St. Gregorius kembali mengadakan Misa Lingkungan pada Senin malam, 17 November 2025 pukul 19.00 WIB. Sekitar 70 umat, dari anak hingga lanjut usia, hadir memenuhi area misa dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur.

Rm. FX. Murdi Susanto Pr

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo FX. Murdi Susanto, Pr, imam dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Dalam homilinya yang diambil dari Injil Lukas 18:35–43, Romo Murdi menegaskan tentang iman yang memampukan seseorang melihat terang dan mengalami karya keselamatan Tuhan. Kisah penyembuhan seorang buta di pinggir jalan Yerikho menjadi ajakan bagi umat untuk semakin percaya, memohon, dan membuka hati pada karya kasih Allah dalam perjalanan kehidupan sehari-hari.

Misa berlangsung dengan khidmat

Homili tersebut juga mengingatkan umat bahwa mukjizat Tuhan kerap hadir ketika seseorang berani datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan kesederhanaan iman.

Misa dihadiri oleh berbagai usia

Sebelum misa ditutup, Gregorius Henry, selaku Ketua Lingkungan St. Gregorius, menyampaikan sambutan singkat. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran umat serta menegaskan pentingnya merawat kerukunan, keterlibatan aktif, dan semangat pelayanan. Ia berharap bahwa kegiatan misa lingkungan dapat terus mempererat tali persaudaraan dan menjaga kehangatan komunitas.

Sejumlah 70 umat hadir

Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan wawan hati dan ramah tamah dan diabadikan dengan foto bersama. Suasana hangat dan akrab tampak dalam perbincangan umat yang saling menyapa, berbagi cerita, hingga berdiskusi ringan mengenai kegiatan lingkungan yang akan datang. Momen kebersamaan ini menjadi ruang bagi umat untuk saling mengenal lebih dekat, memperkuat hubungan, dan membangun semangat keluarga besar St. Gregorius.

Umat kemudian pulang dengan hati gembira dan penuh syukur, membawa pulang semangat untuk terus bertumbuh dalam iman, kasih, dan pelayanan di tengah keluarga maupun masyarakat.

Pertemuan I, II, III, IV Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi: Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.

Setiap bulan September, Gereja Katolik di seluruh Indonesia merayakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tahun 2025 ini, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama-sama mengadakan empat kali pertemuan dengan tema besar:

“Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.”

Melalui pertemuan yang penuh doa, sharing, dan kehangatan, umat diajak untuk memperbarui relasi, mulai dari dengan diri sendiri, sesama, keluarga, hingga dengan Allah. Suasana sederhana di rumah-rumah umat menghadirkan pengalaman iman yang kaya dan berkesan.

Berikut rangkuman suasana penuh sukacita dari pertemuan BKSN I hingga IV.

Pertemuan I – Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri

Kamis, 4 September 2025
Kediaman Ibu Suprapto
Dihadiri 30 umat

Pertemuan pertama dipimpin oleh Mbak Tiya dan Mbak Monica. Suasana hening dan akrab terasa sejak awal, ketika tema “Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri” dibuka.

Lewat Kitab Suci, umat diajak menyadari bahwa menerima diri apa adanya adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Menerima diri berarti berani berdamai dengan masa lalu, tidak lagi larut dalam amarah, penyesalan, atau “andai saja” yang kerap membebani hati.

Rangkaian refleksi malam itu membuat umat merenung: kita tak bisa sungguh-sungguh mengasihi orang lain bila belum mengizinkan diri untuk dikasihi terlebih dahulu oleh Allah. Kasih sejati lahir dari hati yang terlebih dahulu dipulihkan.

Dari pendalaman ini, umat menuliskan aksi nyata pribadi, misalnya dengan berani mengakui kelebihan dan kekurangan diri, serta melakukan langkah pertobatan kecil setiap hari. Pertemuan pertama ini menjadi semacam “pintu masuk” untuk perjalanan iman BKSN selanjutnya, jalan pulang kepada Tuhan yang selalu menanti.

Pertemuan II – Pembaruan Relasi dengan Sesama

Jumat, 12 September 2025
Kediaman Bapak Maryoto
Dihadiri 28 umat

Pertemuan kedua dipandu oleh Bapak Bono dan Bapak Wawan. Tema “Pembaruan Relasi dengan Sesama” mengingatkan umat bahwa ibadah yang sejati kepada Allah selalu berjalan beriringan dengan tindakan kasih kepada sesama.

Setelah pendalaman Kitab Suci, umat dibagi menjadi tiga kelompok: Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan OMK (Orang Muda Katolik). Masing-masing kelompok mendiskusikan aksi nyata yang bisa dilakukan untuk orang sakit, orang miskin, penyandang difabel, atau mereka yang sedang mengalami kemalangan.

Hasil diskusi sungguh menarik. Kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu menghasilkan diskusi klasik nan realistis, seperti membantu dengan dana, mendoakan, atau mengunjungi mereka yang sakit. Namun, kelompok OMK tampil sangat kreatif dengan ide-ide segar, misalnya:

  • Menghubungkan para pengangguran dengan organisasi-organisasi nirlaba untuk memberikan pelatihan keterampilan, agar mereka bisa mandiri atau bahkan membuka usaha sendiri.
  • Mendorong umat yang memiliki usaha untuk membuka peluang kerja bagi penyandang difabel, tanpa membeda-bedakan, sehingga mereka juga bisa berkarya dengan layak.
  • Membuat aksi kecil di media sosial untuk menggalang dukungan atau doa bagi sesama yang membutuhkan.

Ide-ide ini membuat semua umat yang hadir terkesan. OMK menunjukkan bahwa semangat kasih bisa diwujudkan tidak hanya secara tradisional, tetapi juga dengan cara kreatif dan visioner. Perbedaan perspektif antar generasi justru memperkaya hasil pertemuan, membuat malam itu semakin bermakna.

Pertemuan III – Pembaruan Relasi dengan Keluarga

Jumat, 19 September 2025
Kediaman Bapak Terr Pratiknyo
Dihadiri 37 umat

Pertemuan ketiga bertema “Pembaruan Relasi dengan Keluarga.” Dipandu oleh Ibu Retno dan Ibu Aning, suasana malam itu penuh tawa, nostalgia, sekaligus kehangatan keluarga.

Salah satu dinamika kreatif yang dilakukan adalah permainan pasangan. Delapan pasangan suami-istri yang hadir diminta menulis atau menggambar sesuatu yang menurut mereka akan langsung dikenali oleh pasangan masing-masing. Kertas-kertas itu kemudian dicocokkan oleh Bapak-bapak yang mencari kertas pasangannya masing-masing.

Hasilnya, enam pasangan berhasil menebak pasangannya dengan tepat. Namun, dua pasangan justru tertukar, dan uniknya, mereka adalah pasangan senior dengan pernikahan hampir menginjak 50 tahun pernikahan! Suasana pun pecah oleh tawa, namun sekaligus menyentuh hati: pernikahan panjang ternyata tetap penuh dinamika, namun kasih setia membuat mereka selalu bertahan bersama.

BKSN III mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pertama kita belajar setia, menerima, dan saling menopang.

Pertemuan IV – Pembaruan Relasi dengan Allah

Jumat, 26 September 2025
Kediaman Ibu Agnes Minar Lukito
Dihadiri 22 umat

Pertemuan terakhir dipimpin oleh Bapak Jondit dan Bapak Yulius, dengan tema puncak: “Pembaruan Relasi dengan Allah.”

Lewat dinamika sharing, umat diajak untuk menceritakan pengalaman pribadi dalam doa. Topik yang diberikan oleh pemandu beragam: tentang doa Rosario, doa Salam Maria, waktu doa terbaik, doa syukur, hingga lagu rohani favorit. Umat dibebaskan untuk memilih topiknya masing-masing untuk kemudian kisahnya dibagikan ke seluruh umat.

Beberapa kisah yang dibagikan begitu menyentuh. Ibu Rus, misalnya, bercerita tentang pengalaman doa tengah malam di bawah langit terbuka, ketika ia sedang bergumul dengan kesedihan. Doa sederhana itu menjadi titik terang bagi masalah yang dihadapinya.

Sementara itu, Ibu Minar mengingatkan pentingnya doa syukur. Menurutnya, sering kali manusia mudah bersyukur saat bahagia, namun lupa bersyukur di tengah kesedihan. Padahal, justru doa syukur memberi energi baru dan membuka hati untuk berkat-berkat selanjutnya.

Sharing malam itu memperdalam kesadaran bahwa relasi dengan Allah bukan hanya soal permohonan, tetapi juga syukur yang tulus. Di sanalah iman kita dikuatkan, hingga kita bisa merasakan keselamatan sejati yang datang dari Allah.

Iman yang Diperbarui

Rangkaian empat pertemuan BKSN 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi bukan hanya kegiatan rohani, melainkan perjalanan iman yang hangat dan penuh warna. Dari diri sendiri, sesama, keluarga, hingga Allah, umat diajak untuk memperbarui relasi secara menyeluruh.

Malam-malam sederhana di rumah umat menjadi saksi bagaimana Kitab Suci sungguh hidup dan berbicara, mengikat umat dalam kasih Tuhan. Semoga semangat BKSN ini terus berbuah dalam keseharian, sehingga iman kita semakin kokoh, relasi semakin erat, dan kasih Allah semakin nyata di tengah kehidupan.

Ibadat Lingk St. Gregorius dan Sosialisasi Pemilihan Ketua Stasi serta Ketua Lingkungan

Kadisoka, 29 Juli 2025 — Dalam semangat persaudaraan dan pelayanan, umat Lingkungan St. Gregorius berkumpul untuk mengikuti Ibadat Lingkungan sekaligus sosialisasi pemilihan Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, dan Ketua Wilayah. Acara ini dilaksanakan pada Selasa malam pukul 19.00 WIB, bertempat di kediaman Bapak Paulus Supit yang beralamat di Perum Soka Asri Permai Blok S10.

Suasana malam itu terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Sebanyak 35 umat hadir dari berbagai usia—mulai dari anak-anak, remaja, orang muda Katolik (OMK), hingga para orang tua—mencerminkan semangat kebersamaan yang hidup di tengah komunitas.

Ibadat dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit, yang mengajak umat untuk bersyukur atas segala berkat Tuhan dan memohon penyertaan Roh Kudus, khususnya dalam proses pemilihan para pemimpin baru di tingkat stasi, lingkungan, dan wilayah. Dalam renungannya, beliau menekankan bahwa kepemimpinan dalam Gereja bukanlah soal jabatan, melainkan bentuk pelayanan kasih yang dilandasi kerendahan hati.

Umat dengan khusyuk mengikuti ibadat

Setelah ibadat, umat berkesempatan menikmati ramah tamah dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan. Momen ini menjadi ajang saling menyapa, bercengkerama, dan menguatkan persaudaraan. Kehangatan obrolan terlihat dari wajah-wajah yang tersenyum, menandakan eratnya ikatan persaudaraan iman di Lingkungan St. Gregorius.

Memasuki sesi sosialisasi, Bapak Gregorius Henry selaku Ketua Lingkungan menyampaikan penjelasan mengenai mekanisme dan tata cara pemilihan Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, dan Ketua Wilayah. Beliau menegaskan bahwa proses ini sangat penting, karena akan menentukan arah pelayanan pastoral di tingkat akar rumput selama periode mendatang.

Sesi ini berlangsung interaktif dan terbuka. Umat diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, usul, maupun masukan terkait proses dan kriteria kepemimpinan. Beberapa umat mengungkapkan pengalaman mereka bekerja sama dengan pengurus sebelumnya, sementara yang lain menyampaikan harapan agar pemimpin yang terpilih kelak benar-benar memiliki hati untuk melayani. Diskusi yang hidup ini berlangsung dalam suasana saling menghargai dan penuh kasih persaudaraan.

Sosialisasi Pemilihan Ketua Stasi dan Ketua Lingkungan Baru

Melalui proses yang berjalan dengan lancar, akhirnya umat mencapai satu keputusan bersama yang disepakati secara bulat. Keputusan ini diambil bukan hanya sebagai hasil musyawarah, tetapi juga sebagai bentuk ketaatan pada bimbingan Roh Kudus.

Acara resmi selesai sekitar pukul 21.00 WIB. Umat meninggalkan tempat dengan hati yang gembira, membawa pulang sukacita dan semangat baru untuk terus membangun Gereja sebagai persekutuan umat Allah. Semoga semangat kebersamaan dan kasih Kristus yang terpancar pada malam itu terus menguatkan pelayanan di Lingkungan St. Gregorius, demi kemuliaan nama Tuhan.

Bersyukur dan Memohon: Pembelajaran Doa di Lingkungan St. Monica

Pada malam Kamis, 19 Juni 2025, umat Lingkungan St. Monica berkumpul untuk mengikuti acara Doa Lingkungan yang dipandu oleh Bapak Sugiyono. Acara ini diadakan di kediaman Ibu Merry, dimulai pukul 19.00 WIB. Sebagai bagian dari acara rohani, tema utama malam itu adalah tentang “Cara Berdoa yang Baik dan Benar,” di mana umat diajak untuk lebih memahami bagaimana seharusnya berdoa dalam hidup sehari-hari.

Doa lingkungan ini, tidak hanya menjadi waktu untuk berdoa bersama, tetapi juga untuk saling memperdalam pemahaman iman, khususnya mengenai cara berdoa yang benar sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

Bapak Sugiyono, yang bertindak sebagai pemandu doa, membuka acara dengan penjelasan yang mendalam mengenai cara berdoa yang baik dan benar menurut ajaran Gereja. Beliau mengingatkan bahwa berdoa bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga suatu bentuk hubungan yang dalam dengan Tuhan. Salah satu poin penting yang beliau sampaikan adalah tentang pentingnya memulai doa dengan bersyukur terlebih dahulu sebelum memohon. Dalam hidup, sering kali kita terlalu fokus pada permintaan dan harapan kita kepada Tuhan, namun kita seringkali lupa untuk mengucapkan terima kasih atas segala berkat yang telah diberikan. Rasa syukur ini menjadi kunci dalam mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperkuat hubungan kita dengan-Nya.

Beliau juga menjelaskan bahwa dalam doa, kita harus mengutamakan persatuan hati dengan Tuhan, di mana kita tidak hanya meminta, tetapi juga mendengarkan apa yang Tuhan ingin katakan kepada kita. Doa yang baik bukanlah doa yang penuh dengan permintaan, tetapi doa yang dimulai dengan hati yang penuh rasa syukur. Selain itu, Bapak Sugiyono juga mengajak umat untuk lebih memahami Doa Bapa Kami, yang merupakan doa yang diajarkan langsung oleh Yesus kepada para murid-Nya. Beliau menjelaskan bahwa Doa Bapa Kami mencakup semua aspek penting dalam doa Kristen Katolik.

Selama ibadat, umat diajak untuk berdoa secara pribadi dan bersama, menyampaikan rasa syukur, permohonan, serta doa untuk umat yang membutuhkan. Kehidupan spiritual yang penuh pengharapan dan sukacita tampak jelas terlihat di wajah setiap peserta, yang mengikuti setiap langkah doa dengan sepenuh hati.


Di akhir acara doa lingkungan ini, panitia “Refresh Jiwa” Lingkungan St. Monica melaporkan pertanggungjawaban dana acara. Acara berjalan dengan lancar dan penuh berkat. Kehadiran umat yang antusias menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan dalam mempererat iman umat lingkungan. Panitia yang rata-rata terdiri dari kaum muda akan terus mengadakan kegiatan serupa di masa yang akan datang, dengan tujuan untuk membantu umat terus berkembang dalam kehidupan doa dan iman. Panitia juga berencana untuk mengadakan acara serupa secara berkala.

Berkah Dalem!

Sukacita Penuh Syukur di Hari Ulang Tahun Gereja Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Minggu, 1 Juni 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi umat di Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Dalam semangat persaudaraan dan penuh rasa syukur, umat berkumpul untuk merayakan acara puncak Hari Ulang Tahun Stasi, sebuah perayaan iman yang dirangkai dalam dua bagian utama: Misa Syukur dan Pesta Umat.

Rangkaian acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang khidmat. Dalam misa ini, umat diajak untuk kembali mengenang perjalanan iman Stasi yang penuh berkat.

Homili yang disampaikan mengajak seluruh umat untuk terus menumbuhkan semangat melayani dan membangun komunitas yang saling menopang.

Doa-doa dan lagu-lagu pujian mengalun merdu sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun-tahun pelayanan di Stasi tercinta ini.

Usai misa, halaman gereja menjadi pusat keramaian dalam Pesta Umat. Sajian soto dan bakso hangat menjadi menu andalan yang dinikmati bersama. Sederhana namun sarat makna, hidangan ini merekatkan rasa kebersamaan dan cinta kasih antar umat.

Acara berlanjut dengan hiburan yang berlangsung secara spontan. Ada umat yang maju menyanyi, dan tak sedikit pula yang mengajak tertawa bersama lewat candaan khas umat Maguwo. Tentu saja, doorprize turut memeriahkan suasana dan menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan.

Namun kejutan sesungguhnya datang dari mereka yang selama ini diam-diam bekerja di belakang layar — ibu-ibu panitia. mereka maju ke tengah halaman dan mempersembahkan sebuah flashmob penuh semangat!


Dengan gerakan ceria dan kekompakan yang tak kalah dari generasi muda, para ibu sukses memecah suasana dengan tawa, decak kagum, dan tepuk tangan meriah. Tarian mereka bukan hanya hiburan, tapi juga simbol sukacita dan semangat pelayanan yang luar biasa.

Hari ini bukan sekadar perayaan ulang tahun — tapi juga perayaan persaudaraan, pelayanan, dan semangat menjadi satu tubuh dalam Kristus. Sebuah hari yang meninggalkan kesan hangat dalam hati setiap umat yang hadir.

Selamat Ulang Tahun untuk Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo!
Umur hanyalah angka, tetapi cinta, iman, dan kebersamaan yang tumbuh di tengah umat adalah harta sejati.
Semoga Stasi ini terus menjadi rumah iman yang hidup, tempat bertumbuh, melayani, dan memberi terang bagi sesama.
Terima kasih untuk setiap senyum, peluh, dan doa yang telah membangun komunitas ini — mari terus melangkah bersama, dalam terang Tuhan.

 

foto bisa di akses di link https://drive.google.com/drive/folders/1fE6f_mPVCyrrtY8i8JzmcvadSQarGa_T

 

Peziarah Pengharapan: Jejak Iman Umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi di Tahun Yubelium 2025

Hari ini, 29 Mei 2025, langit tampak cerah seolah ikut bersukacita menyambut langkah-langkah kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 42 orang, anak-anak, orang muda, hingga para lansia, berkumpul dengan semangat yang sama, melangkah bersama dalam sebuah ziarah iman di Tahun Yubelium, tahun yang dikhususkan oleh Gereja Katolik sebagai momen pengampunan, pembaruan, dan rekonsiliasi.

Tahun Yubelium bukanlah sekadar tradisi. Ini adalah panggilan. Sebuah undangan untuk kembali, kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada ciptaan. Tahun ini, Paus Fransiskus mengangkat tema yang begitu menyentuh: “Peziarah Pengharapan.” Dan kami menjawabnya dengan sungguh-sungguh, lewat perjalanan rohani menuju tiga tempat suci: Taman Doa Maria Oblat, Kapel Salib Suci Gunung Sempu, dan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran.

Langkah Awal: Berangkat Dengan Semangat

Titik kumpul kami di rumah Pak Cahyo, yang sudah ramai selepas Misa Kenaikan Yesus. Senyum, tawa, dan doa-doa kecil mengiringi keberangkatan kami. Tepat pukul 09.30 WIB, setelah semua terbagi dalam 9 mobil, rombongan kami berangkat menuju Taman Doa Maria Oblat.. Tak ada yang membawa beban, yang ada hanya semangat untuk mendekat kepada Tuhan dan saling menguatkan sebagai satu keluarga iman. Perjalanan 20 menit terasa ringan, diiringi canda dan harapan yang memenuhi hati.

Perhentian Pertama: Taman Doa Maria Oblat

Setibanya di sana, kami langsung larut dalam keheningan. Di antara pepohonan yang menyejukkan dan suasana damai, kami menyebar, mencari sudut masing-masing untuk tenggelam dalam doa pribadi, menyerahkan pergumulan, menyampaikan syukur, dan membuka hati bagi kasih Allah. Hati ini terasa lega, seolah beban pelan-pelan dilepaskan.

Perhentian Kedua: Gereja Salib Suci Gunung Sempu

Pukul 10.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sempu, tempat berdirinya Gereja Salib Suci yang menawan. Meski ramai oleh para peziarah lain, ada ketenangan yang tak tergantikan, kami tetap dapat berdoa dengan khidmat. Kami mengadakan ibadat singkat yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon lingkungan, Bapak Yuli, kami mendaraskan doa Rosario bersama, lalu melanjutkan dengan doa pribadi. Hati kami dipenuhi damai dalam kebersamaan. Di momen ini, kami seperti diingatkan: harapan itu nyata, dan ia tumbuh dari iman yang dibagikan bersama.

Perhentian Ketiga: Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran

Ganjuran selalu punya tempat spesial di hati umat Katolik Yogyakarta, simbol iman Katolik yang begitu khas dengan gaya arsitektur Jawa yang sarat makna. Setibanya di sana, sekitar pukul 12.30, kami berdoa secara pribadi, lalu menikmati waktu bebas. Beberapa dari kami mengunjungi museum yang menggugah sejarah iman di Ganjuran, ibu-ibu berbelanja oleh-oleh dan berfoto ria, anak-anak berlarian bebas dengan tawa riang, sementara yang lain duduk menikmati semilir angin. Semuanya terasa seperti pelukan hangat dari Tuhan.

Berbagi Cerita di Meja Makan

Sekitar pukul 14.00, kami menuju Restaurant Parangtritis untuk makan siang bersama. Inilah momen yang tak kalah berharga. Setiap meja menjadi ruang berbagi cerita. Bapak-bapak asyik berdiskusi tentang tembakau, cerutu, dan tentu saja diselingi dengan topik politik. Di sisi lain, ibu-ibu ramai berbagi gosip hangat dan berbincang tentang tugas-tugas pelayanan yang menanti. Sungguh suasana yang hangat, akrab, dan penuh sukacita.

Pulang Dengan Hati Yang Penuh Syukur

Pukul 15.00, kami mengakhiri kegiatan dan kembali ke rumah masing-masing. Namun bukan hanya tubuh kami yang kembali, hati kami pun pulang dengan semangat baru, dengan sukacita yang sulit dijelaskan.

Hari ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah perjalanan hati. Sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, kita selalu punya ruang untuk kembali. Kembali kepada Tuhan. Kembali kepada komunitas. Kembali kepada harapan.

Kami percaya, kegiatan seperti ini bukan hanya menguatkan iman, tapi juga mempererat tali persaudaraan. Kami pulang lebih dekat satu sama lain, lebih semangat dalam tugas, dan lebih sadar akan indahnya berjalan bersama dalam iman.

“Berbahagialah mereka yang berjalan dalam iman, sebab di sanalah harapan tumbuh dan kasih berkembang.”

30 Tahun Perjalanan Iman dan Kebersamaan: HUT Lingk. St. Gregorius

Kadisoka, 25 Mei 2025 — Dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan, umat Lingkungan St. Gregorius merayakan 30 tahun perjalanan iman mereka melalui sebuah Ibadat Syukur yang diadakan pada Minggu malam, 25 Mei 2025, pukul 19.00 WIB. Bertempat di lingkungan setempat, acara tersebut menjadi momen reflektif sekaligus penuh kegembiraan, dihadiri oleh lebih dari 55 umat dari berbagai usia.

Umat hadir dari berbagai usia

Acara dimulai dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit. Dalam ibadat tersebut, umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, serta memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.

Prodiakon Paulus Supit memimpin jalannya ibadat syukur dengan khidmat

Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan, Bapak Gregorius Henry Prasista Kurniawan, yang menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas lingkungan ini selama tiga dekade terakhir. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh umat yang telah setia mendukung dan membangun lingkungan sejak awal berdiri hingga kini.

Sebagai pembawa acara (MC), Mbak Anik memandu jalannya acara dengan penuh kehangatan dan keteraturan. Momen yang paling simbolis dan menyentuh hati adalah prosesi pemotongan tumpeng, sebuah tradisi yang sarat makna baik secara budaya maupun spiritual.

Filosofi Tumpeng: Simbol Syukur dan Harapan

Dalam penjelasannya, MC menyampaikan bahwa tumpeng, makanan khas berbentuk kerucut yang terbuat dari nasi kuning, bukan sekadar sajian pesta. Dalam budaya Jawa, tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (puncak kerucut), serta hubungan horizontal antara sesama manusia (lingkaran di sekeliling tumpeng). Nasi kuning sebagai simbol kemuliaan dan kebahagiaan juga mencerminkan harapan akan masa depan yang gemilang.

Tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan

Secara iman Katolik, makna tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan dan penyertaan Tuhan. Puncak tumpeng menggambarkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala berkat, sementara aneka lauk di sekitarnya mencerminkan keberagaman umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan.

Pemotongan tumpeng oleh Ketua Lingkungan St. Gregorius

Pemotongan dan pembagian tumpeng juga menjadi simbol pengutusan: bahwa berkat yang diterima bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada sesama.

Dalam prosesi tersebut, pemotongan dilakukan oleh Ketua Lingkungan, kemudian diberikan secara simbolis kepada dua perwakilan umat:

  1. Bapak Petrus Soekamso, sebagai wakil sesepuh, perintis dan generasi pendahulu, serta
  2. adik Avika, sebagai wakil generasi muda dan harapan masa depan lingkungan.

Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan umat senior

Potongan tumpeng kedua diberikan kepada perwakilan generasi penerus

Keduanya menerima potongan tumpeng dengan penuh haru dan sukacita, menyimbolkan keberlanjutan semangat dan warisan nilai-nilai iman lintas generasi.

Past, present and future

Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan

Usai prosesi, para umat melakukan sesi foto bersama yang diikuti dengan ramah tamah. Suasana terasa hangat dan akrab, diwarnai tawa anak-anak, canda para remaja, serta obrolan ringan para sesepuh.

Antusiasme umat Lingkungan St. Gregorius

Pada kesempatan tersebut, Bapak Petrus Soekamso menyampaikan kisah berdirinya Lingkungan St. Gregorius, mengajak umat mengenang kembali momen awal terbentuknya lingkungan sebagai hasil pemekaran dari Lingkungan St. Fransiskus Xaverius Purwomartani. Beliau menuturkan bagaimana dinamika umat, pertumbuhan jumlah keluarga Katolik, dan semangat pelayanan mendorong terbentuknya lingkungan baru yang diberi nama St. Gregorius.

Seiring waktu, lingkungan ini sendiri mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhirnya melahirkan dua lingkungan baru melalui proses pemekaran, yaitu:

  1. Lingkungan St. Bartholomeus, dan
  2. Lingkungan St. Stefanus

Fakta ini menunjukkan bahwa Lingkungan St. Gregorius bukan hanya tumbuh, tetapi juga turut berkontribusi dalam perkembangan pastoral wilayah setempat. Bapak Petrus juga mengajak umat untuk tetap menjaga semangat pelayanan lintas generasi, agar lingkungan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari tubuh Gereja.

Bpk Petrus Soekamso menceritakan awal berdirinya lingkungan St. Gregorius

Penutup yang Penuh Sukacita.

Acara malam itu ditutup dengan suasana hangat dan penuh sukacita. Seluruh umat pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Lingkungan St. Gregorius. Dalam usia 30 tahun, lingkungan ini tidak hanya menunjukkan kedewasaan dalam iman, tetapi juga keteguhan dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan penuh kasih.

Semua bersyukur, semua gembira

Proficiat untuk Lingkungan St. Gregorius!
Semoga tetap menjadi garam dan terang bagi sesama, serta terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.