“Lingkungan Yohanes Pembaptis: Merajut Kasih, Menyebar Sukacita”


Satu Hati dalam Sukacita: Tradisi Ujung Natal Lingkungan Yohanes Pembaptis
​Fajar baru saja menyingsing setelah Misa Natal usai, namun suasana di Lingkungan Yohanes Pembaptis sudah terasa begitu hidup. Hari ini bukan sekadar tentang perayaan formal, melainkan tentang menghidupkan kembali tradisi “Ujung”—sebuah perjalanan kasih yang menghubungkan satu pintu ke pintu lainnya.

Sejak pagi, rombongan warga mulai berkumpul. Tidak ada batasan usia; dari yang sepuh hingga yang paling muda, semua berbaur menjadi satu keluarga besar. Tradisi muter ke rumah-rumah ini adalah cara kami berkumpul kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan setahun terakhir. Setiap rumah yang dikunjungi menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan hangat, seolah mengatakan, “Rumahku adalah rumahmu juga.”
Pesta Kecil bagi Para “Pemburu” Jajan
​Pemandangan yang paling ikonik tentu saja datang dari anak-anak. Dengan penuh semangat, mereka menenteng tas besar—bahkan ada yang membawa tas belanja kain berukuran ekstra—yang siap terisi.
Bagi mereka, Natal adalah “panen raya” kebahagiaan. Di setiap meja tamu, toples-toples berisi kue nastar, putri salju, hingga berbagai snack kekinian telah menanti. Tak butuh waktu lama, tas yang kosong tadi mulai menggelembung penuh dengan aneka rupa jajanan. Suara gemerisik bungkus plastik dan tawa renyah mereka saat membandingkan “hasil buruan” menjadi latar musik yang paling merdu sepanjang perjalanan.

Lebih dari Sekadar Snack dan Silaturahmi
​Namun, di balik tas-tas yang berat berisi makanan dan rute panjang yang ditempuh, ada makna yang lebih dalam. Tradisi Ujung di Lingkungan Yohanes Pembaptis adalah tentang:
​Kerendahan Hati: Saling memaafkan dan membuka diri.
​Kedermawanan: Berbagi berkat sekecil apa pun kepada sesama.
​Pewarisan Iman: Mengajarkan anak-anak bahwa Gereja bukan hanya bangunan, tapi komunitas orang-orang yang saling mengasihi.
​Lelah di kaki seolah tak terasa karena hati telah penuh oleh sukacita. Inilah wajah Natal kita—sederhana, guyub, dan penuh berkat.
​Selamat merayakan Natal, Lingkungan Yohanes Pembaptis! Semoga semangat silaturahmi ini terus menyala di hati kita semua.

Dokumentasi ujung Lingkungan Yepe:

https://drive.google.com/drive/folders/1kgUQBCqzUeY5RkURDGZ7_wzXW_QcpUUD

Perayaan Natal Bersama Lingkungan Santo Petrus

Lingkungan Santo Petrus mengadakan perayaan Natal bersama yang berlangsung dengan penuh sukacita dan kebersamaan pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 17.00 WIB, bertempat di rumah ketua lingkungan, Ibu Lely. Acara ini dihadiri oleh warga Lingkungan Santo Petrus serta undangan dari lingkungan lain, dengan jumlah kehadiran sekitar 47 orang.

Perayaan Natal diawali dengan ibadat Natal yang dipimpin oleh Ibu Tiwik. Dalam suasana yang khidmat dan penuh makna, umat diajak untuk kembali merenungkan makna kelahiran Yesus Kristus sebagai wujud kasih Allah yang hadir di tengah kehidupan, sekaligus mempererat persaudaraan antarumat.

Setelah ibadat, acara dilanjutkan dengan serah terima Ketua Wilayah Yohanes Don Bosco. Ketua wilayah lama, Ibu Yohana Fransiska Lina Setyaningsih, secara resmi menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepada ketua wilayah yang baru, Bapak Laurentius Triyono. Momen ini menjadi ungkapan syukur atas pelayanan yang telah dijalankan sekaligus harapan akan semangat baru dalam melayani umat di wilayah Yohanes Don Bosco.

Selanjutnya, umat mengikuti sosialisasi dari Tim Renovasi Pembangunan Gereja GMBA yang disampaikan oleh Bapak Bagyo bersama tim. Sosialisasi ini memberikan penjelasan mengenai rencana, proses, serta ajakan bagi umat untuk turut mendukung pembangunan gereja sebagai wujud kebersamaan dan tanggung jawab bersama.

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah, yang dilanjutkan dengan makan malam bersama dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan. Kegembiraan semakin terasa dengan adanya pembagian door prize yang menambah semarak perayaan Natal Lingkungan Santo Petrus.

Melalui perayaan ini, diharapkan semangat Natal semakin menguatkan iman, persaudaraan, dan kebersamaan umat, serta menumbuhkan komitmen untuk terus aktif dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

Pesta Nama Maria Immaculata: Merawat Iman dalam Sukacita Kebersamaan

Lingkungan Maria Immaculata Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo merayakan Pesta Nama Maria Immaculata pada Senin, 8 Desember 2025, bertempat di rumah Bapak Sikun Pribadi. Perayaan ini berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus penuh kehangatan, serta dihadiri oleh sekitar 35 umat Lingkungan Maria Immaculata.

Acara diawali dengan ibadah syukur yang dipimpin oleh Prodiakon Lingkungan. Dalam suasana doa yang sederhana namun mendalam, umat diajak untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan serta meneladani iman Bunda Maria sebagai Bunda Allah yang tak bernoda.

Usai ibadah, kebersamaan semakin terasa dalam ramah tamah antarumat. Suasana menjadi semakin meriah ketika anak-anak lingkungan menampilkan beberapa lagu rohani dengan penuh semangat dan keceriaan. Kegiatan ini dilengkapi dengan pembagian doorprize bagi anak-anak, yang menambah sukacita dan tawa seluruh hadirin.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sarasehan iman yang mengangkat tema peran Bunda Maria sebagai pilihan Allah untuk melahirkan Juruselamat dunia. Sarasehan ini dibawakan oleh Bapak Sikun Pribadi dan Bapak Purwoharsanto, yang mengajak umat untuk semakin mengenal dan meneladani keutamaan hidup Bunda Maria.

Dari sarasehan tersebut, umat diajak untuk merefleksikan bahwa Bunda Maria merupakan teladan utama bagi setiap orang beriman, terutama dalam tiga hal pokok, yaitu:

  1. Penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan,
  2. Ketaatan penuh pada kehendak Allah, dan
  3. Kesetiaan dalam menanggung penderitaan dengan iman dan harapan.

Perayaan Pesta Nama Maria Immaculata ini menjadi momen yang tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga memperdalam iman dan semangat hidup Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Semoga teladan Bunda Maria senantiasa menguatkan umat Lingkungan Maria Immaculata untuk terus berjalan setia dalam panggilan iman.

Pertemuan Adven ke-3 lingkungan Antonius

Pertemuan dimulai pkl. 19.30 wib di rumah bpk. Totok. Pertemuan dihadiri kurang lebih 25 orang umat. Dipandu oleh pak Arief, pak Rusiawan, bu Bagus, pak Wiwid dan pak Andreas. Pertemuan diramaikan dengan menyusun puzzle secara bergantian hingga membentuk suatu gambar utuh.

Doa Adven IV Ibadat Keluarga Kudus Lingkungan Petrus: Bersama-sama Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan


Dalam rangka menyambut Hari Raya Natal, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan Doa Adven IV Ibadat Keluarga Kudus dengan tema “Bersama-sama Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan”. Ibadat ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah Mba Rosita. Kegiatan doa dihadiri oleh 13 orang umat dan dipimpin oleh Pastor Jona Joakhim Pinem.

Ibadat berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kehangatan keluarga. Dalam suasana Adven IV yang semakin mendekatkan umat pada perayaan kelahiran Yesus Kristus, umat diajak untuk merenungkan makna kehadiran Keluarga Kudus sebagai teladan hidup beriman. Doa, lagu-lagu Adven, serta bacaan Kitab Suci membantu umat untuk semakin membuka hati dalam menyambut Sang Juruselamat.

Dalam homilinya, Pastor Jona Joakhim Pinem mengajak seluruh umat untuk meneladani Keluarga Kudus Nazaret—Yesus, Maria, dan Yosef—yang hidup dalam kesederhanaan, ketaatan, kasih, dan saling mendukung. Pastor menekankan bahwa keluarga adalah Gereja kecil (Ecclesia Domestica) yang menjadi tempat pertama iman ditumbuhkan. Dari keluarga yang penuh kasih dan iman, akan lahir Gereja yang bahagia, mampu menginspirasi sesama, serta membawa kesejahteraan bagi lingkungan sekitar.

Melalui doa Adven IV ini, umat diingatkan bahwa menghadirkan Gereja tidak harus selalu melalui hal-hal besar, tetapi dapat dimulai dari kehidupan keluarga sehari-hari: saling mendengarkan, mengampuni, berbagi, dan peduli terhadap sesama. Dengan semangat kebersamaan dan teladan Keluarga Kudus, umat diharapkan semakin siap menyambut Natal dengan hati yang penuh damai dan sukacita.

Ibadat ditutup dengan doa penutup dan kebersamaan sederhana yang semakin mempererat tali persaudaraan antarumat. Semoga semangat Adven IV ini terus hidup dalam keluarga dan lingkungan, sehingga Gereja sungguh hadir sebagai sumber kebahagiaan, inspirasi, dan kesejahteraan bagi semua.

Doa Adven III Lingkungan Santo Petrus : “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan”

Doa Adven III Lingkungan Santo Petrus dilaksanakan pada Selasa, 9 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah Mba Lely. Ibadat ini dipimpin oleh Ibu Mulyadi dan dihadiri oleh 15 umat yang mengikuti dengan penuh keakraban dan sukacita.

Dengan tema “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan”, suasana doa diisi dengan renungan mengenai panggilan Gereja untuk menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi sesama. Bukan hanya kesejahteraan lahiriah, tetapi juga kesejahteraan batin, kasih, perhatian, dan kepedulian.

Salah satu bagian paling menarik dalam acara ini adalah permainan menyusun puzzle gambar yang disiapkan sebagai sarana refleksi. Setiap umat diberikan beberapa potongan puzzle yang tampaknya sederhana, namun menyimpan makna mendalam.

Permainan ini ingin menggambarkan bahwa kesejahteraan sejati adalah hasil dari upaya bersama. Sama seperti puzzle, tanpa satu bagian pun, gambar tidak akan pernah menjadi lengkap. Begitu pula dalam kehidupan komunitas: satu orang yang terabaikan akan membuat gambaran kesejahteraan menjadi tidak utuh.

Setiap potongan puzzle melambangkan setiap pribadi dalam masyarakat, masing-masing dengan keunikan, kebutuhan, dan peran penting yang tidak dapat digantikan. Menjadi Gereja yang menyejahterakan berarti kita tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi aktif mencari, memperhatikan, dan merangkul mereka yang “hilang” atau “tersembunyi”—mereka yang mungkin tersisihkan, lemah, atau membutuhkan uluran tangan.

Ketika semua potongan puzzle tersusun dengan baik, tampaklah sebuah gambar yang indah dan sempurna. Hal ini menjadi simbol bahwa sebuah komunitas yang sejahtera adalah komunitas di mana setiap orang merasa dihargai, diakui, dan memiliki tempat. Tidak ada yang tersisih, dan semua berperan dalam membangun kebahagiaan bersama.

Doa Adven III ini menjadi momen berharga bagi umat Lingkungan Santo Petrus untuk meneguhkan komitmen sebagai Gereja yang hidup bagi sesama—menghadirkan kesejahteraan, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata dan kepedulian setiap hari. Dengan semangat Adven, umat diajak terus mempersiapkan diri menyambut Kristus Sang Damai yang datang membawa harapan dan kesejahteraan bagi seluruh dunia.

Doa Lingkungan Santo Petrus – Adven II

Doa lingkungan Santo Petrus untuk Adven II tahun ini berlangsung hangat dan penuh sukacita. Pertemuan yang digelar pada Kamis, 4 Desember pukul 19.00 di rumah Ibu Wati ini dipimpin oleh Ibu Maya dan dihadiri oleh 15 umat. Cuaca yang sebelumnya sempat diguyur hujan akhirnya cerah kembali, sehingga banyak umat dapat hadir dan mengikuti doa dengan penuh semangat.

Suasana Doa yang Hangat dan Bersahabat

Pertemuan dimulai dengan pengantar mengenai tema Adven II, yaitu “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi.” Ibu Maya mengajak umat untuk merenungkan bagaimana setiap pribadi dipanggil untuk menjadi terang dan inspirasi di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Dengan bacaan dan renungan Adven, umat diajak untuk melihat bahwa perjalanan Gereja bukanlah perjalanan satu orang saja, melainkan perjalanan bersama—di mana setiap umat berperan dalam menghadirkan kasih, pengharapan, dan damai Kristus.

Permainan Kolaboratif: Satu Goresan, Satu Peran

Salah satu momen menarik dalam pertemuan ini adalah permainan sederhana namun sarat makna. Setiap peserta diberi selembar kertas kosong dan secara bergiliran diminta membuat satu goresan kecil. Goresan-goresan tersebut, meski berbeda bentuk dan arah, perlahan menyatu menjadi sebuah gambar utuh.

Melalui permainan ini, umat diingatkan bahwa:

  • Setiap orang memiliki peran penting dalam komunitas.
  • Tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil.
  • Saat setiap pribadi memberikan bagian terbaiknya, maka terbentuklah kesatuan yang indah—seperti Gereja yang tumbuh karena kontribusi seluruh umatnya.

Gambar akhir yang terbentuk menjadi simbol nyata bahwa perjalanan sebagai Gereja dilakukan bersama, saling melengkapi, dan saling menguatkan.

Penutup yang Penuh Sukacita

Doa lingkungan ditutup dengan berkat dan harapan agar umat semakin siap menyambut kedatangan Tuhan dalam masa Adven. Pertemuan berakhir dengan ramah tamah sederhana yang mempererat kebersamaan antarumat.

Doa Adven II ini tidak hanya memperdalam iman, tetapi juga menguatkan semangat untuk terus berjalan bersama sebagai Gereja yang menginspirasi—mulai dari hal-hal kecil, dari setiap pribadi yang mau berkontribusi.

Misa Memule 1000 Hari Ibu Anna Maria Trihenaningsih

Pada hari Minggu, 30 November 2025, umat lingkungan Santo Petrus bersama keluarga berkumpul dalam perayaan misa memule 1000 hari mengenang almarhumah Ibu Anna Maria Trihenaningsih. Misa berlangsung pukul 19.00 di kediaman Bapak Winarso, Nanggulan, dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Sarce, dan dihadiri sekitar 30 umat dari lingkungan serta keluarga yang datang untuk mendoakan dan mengenang sosok almarhumah. Dalam homilinya, Romo Sarce mengajak umat untuk mengenang Ibu Anna Maria melalui karya-karya baik yang pernah ia lakukan semasa hidup, serta meneladani imannya yang sederhana dan setia.

Suasana doa berlangsung tenang dan penuh harapan kristiani, mengingatkan bahwa wafat bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal bersama Tuhan. Umat bersama-sama memohon agar jiwa Ibu Anna Maria diterima dengan penuh cinta dalam kerahiman Allah.

Setelah misa, keluarga menyampaikan ucapan terima kasih kepada umat yang hadir dan turut mendukung mereka dalam masa-masa duka ini. Kehadiran umat tidak hanya menjadi bentuk solidaritas, tetapi juga memperteguh iman dan persaudaraan dalam komunitas lingkungan.

Perayaan malam itu menjadi momen yang menghangatkan hati—sebuah ungkapan cinta, doa, dan pengharapan untuk almarhumah serta penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga jiwa Ibu Anna Maria Trihenaningsih beristirahat dalam damai Tuhan. Amin.

Doa Adven I Lingkungan Santo Petrus “Menantikan Kristus Dalam Kebahagiaan Iman”

Doa Adven I Lingkungan Santo Petrus berlangsung dengan penuh sukacita dan kehangatan pada hari Kamis, 27 November 2025 pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah Bapak Muscapwanto. Ibadat dipimpin oleh Ibu Retno dan dihadiri oleh 16 umat yang berkumpul dalam semangat persaudaraan untuk memulai masa penantian akan kedatangan Kristus.

Dengan tema “Menantikan Kristus dalam Kebahagiaan Iman”, umat diajak untuk merenungkan bahwa sukacita sejati bukan berasal dari hal-hal duniawi, tetapi dari hati yang siap menyambut Tuhan. Lagu-lagu sederhana, suasana hening, dan untaian doa membuka pertemuan dengan nuansa damai khas masa Adven.

Salah satu bagian yang membuat kegiatan ini terasa berbeda dan lebih hidup adalah adanya permainan rohani. Setiap peserta diminta untuk menuliskan momen bahagia dalam hidup mereka, lalu membagikan pengalaman tersebut kepada umat lain. Beragam cerita mengalir—mulai dari pengalaman keluarga, peristiwa kecil yang menyentuh hati, hingga kesaksian tentang campur tangan Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Permainan ini tidak hanya menumbuhkan rasa syukur, tetapi juga mempererat kebersamaan antarumat.

Melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santo Petrus semakin diteguhkan bahwa menantikan Kristus bukanlah sekadar kewajiban liturgis, melainkan sebuah perjalanan iman yang penuh sukacita, saling menguatkan, dan membawa harapan baru. Doa ditutup dengan berkat penutup dan ramah tamah sederhana, menambah kehangatan kebersamaan di awal masa Adven.

Semoga sukacita iman yang dialami dalam doa Adven I ini menjadi awal yang indah untuk mempersiapkan hati menyambut kelahiran Sang Juru Selamat.

Ziarah dan Rekreasi Bersama Umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi

“Bersama Asisi, Bahagia, Beriman”

Hari Minggu, 23 November 2025 menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi, Stasi Maguwo. Setelah beberapa minggu mempersiapkan acara, akhirnya kegiatan Ziarah dan Rekreasi yang sudah lama dirindukan ini dapat terlaksana. Tahun ini, rombongan mengunjungi empat lokasi sekaligus: Kerkof Muntilan, Goa Maria Pereng, Bukit Cinta Rawapening, dan Kebun Bagus Salatiga.

Selain untuk memperdalam iman melalui ziarah, kegiatan ini juga dirancang agar umat lintas usia, anak-anak, OMK, dewasa, hingga para lansia bisa saling mengenal, bercengkrama, dan menikmati waktu yang penuh sukacita. Dari 50 orang yang mendaftar, sebanyak 42 umat hadir dan berangkat bersama. Meskipun jumlahnya sedikit berkurang, semangat kebersamaan tetap terasa penuh sejak pagi.

Pagi Dimulai Dengan Doa dan Sukacita

Rombongan mulai berkumpul sejak pagi di kediaman Ibu Lita. Setelah semua siap, kami memulai perjalanan panjang hari itu dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon, Bapak Yuli.

Tak lupa, kami mengambil momen untuk berfoto bersama dan merekam video yel-yel khas lingkungan Asisi:
“Asisi, Bersama, Bahagia, Beriman!”
Suasana pagi itu terasa hangat, penuh antusiasme, seperti layaknya satu keluarga besar yang hendak berwisata bersama.

Pukul 06.45, bus besar membawa kami memulai perjalanan.

Perhentian Pertama: Kerkof Muntilan

Perjalanan menuju Muntilan berjalan lancar, dan kami tiba sekitar pukul 07.30. Cuaca cerah membuat suasana ziarah di Kerkof terasa damai. Setelah foto bersama, umat diberi waktu untuk doa pribadi di area pemakaman yang penuh sejarah ini. Masing-masing membawa doa, harapan, dan rasa syukur dalam hati.

Setelah sekitar 30 menit, kami kembali naik bus dan melanjutkan perjalanan ke Goa Maria Pereng Salatiga.

Karaoke, Kuis, dan Tawa Sepanjang Jalan

Perjalanan menuju Goa Maria Pereng memakan waktu sekitar 90 menit. Namun kebersamaan selalu membuat waktu berlalu lebih cepat.
Di dalam bus, panitia memutar lagu-lagu yang langsung disambut heboh oleh umat. Karaoke spontan pun pecah.

Panitia juga menyiapkan kuis berhadiah doorprize, yang membuat suasana makin meriah. Ada yang serius menjawab, ada yang asal tebak sambil tertawa, semuanya dinikmati dengan gembira.

Perhentian Kedua: Goa Maria Pereng, Hening Dalam Doa

Kami tiba di Goa Maria Pereng pukul 09.45. Setelah berfoto bersama, umat melaksanakan Jalan Salib dengan suasana hening dan penuh penghayatan. Setiap perhentian mengingatkan kami untuk kembali menata hati dan memaknai perjalanan hidup masing-masing.

Selesai Jalan Salib, umat diberi waktu untuk doa pribadi di sekitar goa. Tempat yang teduh dan sejuk menambah kekhusyukan. Setelah semuanya selesai, rombongan bersiap menuju destinasi berikutnya.

Perhentian Ketiga: Bukit Cinta, Piknik Sederhana yang Membahagiakan

Kami tiba di Bukit Cinta Rawapening sekitar pukul 11.50. Begitu turun dari bus, udara sejuk dan pemandangan danau langsung menyambut.

Setelah menemukan lokasi yang nyaman di bawah pepohonan, umat bersama-sama menggelar tikar. Kemudian dimulailah momen yang paling ditunggu-tunggu: makan siang bersama.

Menu sederhana, nasi putih, ayam goreng, bakmi goreng, oseng tempe, dan lotis segar satu container penuh, terasa nikmat luar biasa saat disantap ramai-ramai. Sambil bersantap, Ketua Lingkungan Bapak Jondit sempat berkata:
“Sing penting wareg lan waras, wis marai bahagia.”
Dan benar saja, siang itu semuanya makan dengan lahap dan hati bahagia.

Setelah makan, anak-anak bermain di playground kecil, beberapa umat berjalan menyusuri area danau, sementara yang lain duduk bercerita sambil menikmati angin dan pemandangan.

Acara Keakraban: Joged, Game dan Doorprize

Setelah beristirahat sejenak, acara keakraban dimulai. Dipandu dengan penuh semangat oleh Ibu Silvia dan Ibu Retno, kami semua ikut joged bersama. Para ibu menunjukkan gerakan paling luwes dan penuh energi, hingga bapak-bapak pun diberi tugas memilih siapa yang paling semangat untuk menerima doorprize.

Setelah itu, berbagai permainan digelar:

  • Tebak bisik untuk para uti-uti, hasilnya sangat lucu karena yang berbisik dan mendengar kadang salah menangkap kata.
  • Tebak gaya untuk bapak-bapak, ini yang paling mengundang tawa karena gaya bapak-bapak yang kelewat lucu.
  • Lalu permainan kecil untuk OMK dan anak-anak.

Semua game berlangsung santai namun penuh tawa. Kebersamaan benar-benar terasa hidup siang itu.

Acara ditutup dengan pembagian semua doorprize yang sudah disiapkan panitia.

Perhentian Keempat: Kebun Bagus, Sejuk, Segar, dan Menyenangkan

Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Bagus Salatiga dan tiba sekitar pukul 15.30. Karena bus besar tidak dapat masuk, kami harus naik kereta odong-odong dari SPBU terdekat. Justru bagian inilah yang menjadi salah satu momen paling seru, banyak umat yang baru pertama kali naik odong-odong, dan semua langsung minta difoto!

Sesampainya di Kebun Bagus, udara sejuk dan suasana kebun yang asri membuat banyak umat spontan melepas alas kaki untuk menikmati dinginnya tanah. Ada yang langsung belanja buah segar, melon renyah manis, mangga ranum, alpukat, hingga jeruk bali.

Sebagian menikmati minuman dari mini coffee shop: jus segar, es dawet, kopi, teh, dan camilan. Anak-anak ikut memberi makan kambing, sementara beberapa umat mengikuti tur kebun yang disediakan.

Yang lain memilih duduk santai sambil menikmati pemandangan dan berbincang.
Sebelum pulang, tentu saja kami berfoto bersama dan meneriakan yel-yel Asisi sebagai kenang-kenangan.

Pulang Dengan Hati Penuh Syukur

Rombongan kembali menuju bus dengan odong-odong, dan sekali lagi, semua tampak sangat menikmati perjalanan singkat itu. Kami berangkat pulang pukul 17.00 dan tiba di Jogja sekitar pukul 18.30.

Semua peserta kembali dengan sehat, penuh sukacita, dan membawa pengalaman indah yang mempererat persaudaraan umat.

Hari itu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa:
Bahagia itu sebenarnya sederhana, asal kita mau saling berbagi, bersyukur, dan menikmatinya bersama.