Pesta Nama Lingkungan St. Antonius Meriah di Warung Eyup Cangkringan


Suasana penuh kekeluargaan dan sukacita mewarnai Pesta Nama Lingkungan St. Antonius yang diselenggarakan di Warung Eyup, Cangkringan, pada hari Minggu, 13 Juli 2025. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 45 umat dari Lingkungan St. Antonius, yang berkumpul untuk mengenang dan meneladani kehidupan serta karya St. Antonius.

Kegiatan diawali dengan pemaparan singkat mengenai sejarah dan teladan hidup St. Antonius, yang dikenal sebagai pelindung orang miskin dan pencari barang hilang. Pemaparan ini mengajak umat untuk lebih mengenal sosok kudus yang menjadi pelindung lingkungan mereka, serta menginspirasi untuk hidup dalam kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama.

Momen istimewa terjadi saat lingkungan memberikan kenang-kenangan kepada tiga anak yang beberapa waktu lalu menerima Komuni Pertama. Penyerahan ini dilakukan secara simbolis sebagai bentuk dukungan dan kasih dari lingkungan kepada anak-anak dalam perjalanan iman mereka.

Sebagai penutup, seluruh umat bersama-sama menyanyikan Hymne Lingkungan St. Antonius dalam suasana yang khidmat namun penuh semangat. Lagu ini menjadi ungkapan syukur dan kebanggaan akan identitas lingkungan yang bernaung di bawah perlindungan St. Antonius.

Video Hymne Lingkungan St. Antonius dapat disaksikan melalui tautan berikut:
https://youtu.be/IFu4-tJlvRo?si=OGujxTwmf7rXOmOg


Doa Rutin Lingkungan Santo Petrus Kamis, 10 Juli 2025

Pada hari Kamis, 10 Juli 2025, umat Lingkungan Santo Petrus kembali mengadakan doa rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah Ibu Lina pada pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini dipimpin oleh Ibu Maya dan dihadiri oleh 15 umat.

Doa rutin dimulai dengan bacaan Kitab Suci, yang menjadi dasar permenungan bersama. Setelah itu, umat yang hadir saling berbagi pengalaman hidup dan refleksi pribadi melalui sesi sharing iman. Suasana penuh kehangatan, keterbukaan, dan kekeluargaan sangat terasa dalam pertemuan ini.

Kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana memperdalam iman, tetapi juga mempererat persaudaraan antarumat di lingkungan. Doa dan sharing yang dilakukan bersama menjadi penguat satu sama lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai umat beriman.

Semoga kegiatan doa rutin seperti ini terus berjalan dengan semangat dan komitmen, menjadi sumber berkat bagi seluruh anggota lingkungan.

Tuhan memberkati.

Ibadat Syukur Ngunduh Mantu: Robertus Ade Kristian & Chatarina Adinda Febrianty

Pada hari Sabtu, tanggal 5 Juli 2025, pukul 19.00 WIB, telah dilaksanakan ibadat syukur Ngunduh Mantu atas pernikahan Robertus Ade Kristian dan Chatarina Adinda Febrianty. Ibadat ini diselenggarakan di kediaman Bapak YE. Hananto dan dipimpin oleh Ibu Prodiakon Tiwik.

Acara ibadat berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh rasa syukur, di mana keluarga besar memanjatkan doa sebagai ungkapan terima kasih atas berkat sakramen pernikahan yang telah diterima oleh kedua mempelai. Ibadat ini juga menjadi momen untuk mempererat tali kasih antar keluarga, lingkungan, dan umat.

Sekitar 40 umat turut hadir dalam ibadat ini, terdiri dari umat Lingkungan Santo Petrus maupun dari lingkungan lain. Kehadiran para umat menjadi bentuk dukungan dan doa bersama untuk kehidupan rumah tangga Robertus dan Chatarina, agar senantiasa dilimpahi berkat, damai, dan kesetiaan dalam membangun keluarga Katolik yang kokoh dalam iman dan kasih.

Semoga pasangan pengantin baru ini senantiasa diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan pernikahan yang penuh sukacita, saling melengkapi, dan menjadi saksi kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat menempuh hidup baru, Robertus & Chatarina. Tuhan memberkati.

Menapaki Jejak Iman: Ziarah Porta Sancta Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Magelang, 5 Juli 2025 — Dalam semangat memperdalam iman dan merayakan Tahun Yubileum Suci, umat Lingkungan St. Gregorius Stasi GMBA Maguwo, Paroki Maria Marganingsih Kalasan mengadakan ziarah rohani ke Porta Sancta (Pintu Suci) yang berlangsung pada Sabtu, 5 Juli 2025

Perjalanan penuh makna ini menyatukan 44 orang peziarah dari berbagai usia—anak-anak hingga lansia—dalam satu hati dan satu langkah menuju tiga lokasi suci: Goa Maria Sendangsono, Gereja Ignatius Magelang, dan Kerkhof Muntilan, makam Romo Sanjaya.

Ziarah ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan lingkungan dalam menyambut Tahun Yubileum 2025 yang dicanangkan oleh Paus Fransiskus dengan tema “Peziarah Harapan.” Di tengah kesibukan dan rutinitas harian, ziarah ini menjadi kesempatan langka bagi umat untuk berhenti sejenak, menengok kembali perjalanan hidup rohani mereka, dan memperbaharui semangat iman.

Suasana Hening di Sendangsono

Gerbang Memasuki Goa Maria Sendangsono

Perhentian pertama adalah Goa Maria Sendangsono, tempat bersejarah yang disebut sebagai “Lourdes-nya Indonesia.” Di sinilah iman Katolik pertama kali bersemi di Tanah Jawa. Dikelilingi rimbunnya pepohonan dan gemericik air sendang, para peziarah memulai hari dengan doa bersama yang dipimpin oleh Prodiakon Paulus Supit dibantu oleh Katekis Agnes Gunarti. Jalan salib pun dilaksanakan dengan khidmat, menyusuri stasi demi stasi dengan permenungan mendalam atas kisah sengsara Yesus Kristus.

Prodiakon mengajak seluruh umat merenungkan arti penderitaan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana setiap orang dipanggil untuk memanggul salib masing-masing dengan iman dan pengharapan. “Jalan salib bukan hanya mengenang penderitaan Tuhan, tapi juga mengajak kita melihat bagaimana Tuhan hadir dalam luka dan beban hidup kita,” ujarnya.

Napak Tilas Iman di Gereja Ignatius Magelang

Di depan Gereja Ignasius Magelang

Usai dari Sendangsono, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gereja Santo Ignatius, Magelang. Gereja tua yang dibangun sejak abad ke-19 ini menyimpan banyak sejarah pewartaan iman Katolik di Jawa Tengah. Di sini, para peziarah diajak merenungkan keteladanan St. Ignatius Loyola—pendiri Serikat Yesus—dalam menjalani hidup yang penuh penyerahan dan discernment (pembedaan roh).

Berdoa di depan Taman Doa yang berada di belakang Gereja

Doa pribadi dan devosi di depan patung Maria (terletak di belakang Gereja) menjadi waktu yang sunyi namun kuat secara spiritual. Suasana hening dan arsitektur lingkungan gereja yang asri memberi ruang bagi setiap umat untuk berdiam diri dalam hadirat Allah.

Ziarah Ditutup dengan Doa di Kerkhof Muntilan

Berdoa di Kerkhof Muntilan

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke perhentian terakhir: Kerkhof Muntilan, kompleks makam para imam dan tokoh Katolik di Keuskupan Agung Semarang. Di tempat inilah terbaring jasad Romo Sanjaya, seorang imam pribumi yang dikenal gigih dalam karya kerasulan dan pendidikan. Di makam Romo Sanjaya, umat mendaraskan doa mohon syafaat para kudus dan mendoakan para imam yang telah mendahului.

Kami tetap semangat menyelesaikan ziarah Porta Sancta

“Ziarah ini mengingatkan kita bahwa iman bukanlah perjalanan singkat. Ia seperti napak tilas hidup, dari kelahiran hingga kembali ke rumah Bapa,” ungkap Gregorius Henry, Ketua Lingkungan St. Gregorius, dalam refleksi singkatnya. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas partisipasi seluruh umat yang telah mengikuti ziarah ini dengan antusias dan penuh semangat.

Kebersamaan yang Menyegarkan Iman

Selain sebagai pengalaman rohani, ziarah ini juga mempererat tali persaudaraan antarumat lingkungan. Sepanjang perjalanan, tawa, nyanyian, dan cerita iman dibagikan satu sama lain. Di tengah tantangan zaman yang serba cepat dan individualistis, kegiatan seperti ini menjadi oase bagi kebersamaan yang sejati.

Ketua lingkungan dan tim panitia juga memberikan apresiasi kepada para donatur dan sponsor yang telah berkontribusi, serta kepada para peserta yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan ini dengan tertib dan penuh sukacita. “Kami mohon maaf jika dalam pelayanan selama ziarah masih ada kekurangan. Namun kami percaya bahwa semangat kita bersama telah membuat perjalanan ini berbuah,” ujar Henry.

Ziarah Porta Sancta ini ditutup dengan doa penutup sebelum perjalanan pulang. Wajah-wajah lelah namun penuh damai dan kebahagiaan menjadi bukti bahwa ziarah bukan sekadar bepergian secara fisik, melainkan perjalanan batin yang meneguhkan.

Bersyukur dan Memohon: Pembelajaran Doa di Lingkungan St. Monica

Pada malam Kamis, 19 Juni 2025, umat Lingkungan St. Monica berkumpul untuk mengikuti acara Doa Lingkungan yang dipandu oleh Bapak Sugiyono. Acara ini diadakan di kediaman Ibu Merry, dimulai pukul 19.00 WIB. Sebagai bagian dari acara rohani, tema utama malam itu adalah tentang “Cara Berdoa yang Baik dan Benar,” di mana umat diajak untuk lebih memahami bagaimana seharusnya berdoa dalam hidup sehari-hari.

Doa lingkungan ini, tidak hanya menjadi waktu untuk berdoa bersama, tetapi juga untuk saling memperdalam pemahaman iman, khususnya mengenai cara berdoa yang benar sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

Bapak Sugiyono, yang bertindak sebagai pemandu doa, membuka acara dengan penjelasan yang mendalam mengenai cara berdoa yang baik dan benar menurut ajaran Gereja. Beliau mengingatkan bahwa berdoa bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga suatu bentuk hubungan yang dalam dengan Tuhan. Salah satu poin penting yang beliau sampaikan adalah tentang pentingnya memulai doa dengan bersyukur terlebih dahulu sebelum memohon. Dalam hidup, sering kali kita terlalu fokus pada permintaan dan harapan kita kepada Tuhan, namun kita seringkali lupa untuk mengucapkan terima kasih atas segala berkat yang telah diberikan. Rasa syukur ini menjadi kunci dalam mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperkuat hubungan kita dengan-Nya.

Beliau juga menjelaskan bahwa dalam doa, kita harus mengutamakan persatuan hati dengan Tuhan, di mana kita tidak hanya meminta, tetapi juga mendengarkan apa yang Tuhan ingin katakan kepada kita. Doa yang baik bukanlah doa yang penuh dengan permintaan, tetapi doa yang dimulai dengan hati yang penuh rasa syukur. Selain itu, Bapak Sugiyono juga mengajak umat untuk lebih memahami Doa Bapa Kami, yang merupakan doa yang diajarkan langsung oleh Yesus kepada para murid-Nya. Beliau menjelaskan bahwa Doa Bapa Kami mencakup semua aspek penting dalam doa Kristen Katolik.

Selama ibadat, umat diajak untuk berdoa secara pribadi dan bersama, menyampaikan rasa syukur, permohonan, serta doa untuk umat yang membutuhkan. Kehidupan spiritual yang penuh pengharapan dan sukacita tampak jelas terlihat di wajah setiap peserta, yang mengikuti setiap langkah doa dengan sepenuh hati.


Di akhir acara doa lingkungan ini, panitia “Refresh Jiwa” Lingkungan St. Monica melaporkan pertanggungjawaban dana acara. Acara berjalan dengan lancar dan penuh berkat. Kehadiran umat yang antusias menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan dalam mempererat iman umat lingkungan. Panitia yang rata-rata terdiri dari kaum muda akan terus mengadakan kegiatan serupa di masa yang akan datang, dengan tujuan untuk membantu umat terus berkembang dalam kehidupan doa dan iman. Panitia juga berencana untuk mengadakan acara serupa secara berkala.

Berkah Dalem!

Doa Rutin Lingkungan St. Petrus: Menghidupi Iman Lewat Katekese Sejarah KAS

Pada hari Kamis, 12 Juni 2025, umat Lingkungan St. Petrus kembali berkumpul dalam doa rutin bulanan yang dilaksanakan di rumah ibu kaling, Mba Lely. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal kegiatan yang dipimpin oleh Ibu Mulyadi ini.

Sebanyak 12 umat hadir dalam kegiatan ini, menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian untuk terus memperkuat iman dalam komunitas kecil. Doa bersama menjadi momen penyegaran rohani, sekaligus ruang refleksi atas pengalaman hidup sehari-hari dalam terang firman Tuhan.

Menariknya, kegiatan kali ini juga diisi dengan katekese tentang Sejarah Keuskupan Agung Semarang (KAS). Katekese tersebut mengajak umat mengenal lebih dalam perjalanan panjang Gereja KAS dari masa awal hingga sekarang, mulai dari peran para misionaris awal, perkembangan paroki-paroki, hingga semangat pelayanan yang terus hidup dalam berbagai bidang pastoral.

Ibu Mulyadi menyampaikan bahwa memahami sejarah KAS bukan hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga memperkuat identitas sebagai bagian dari Gereja lokal yang aktif dan berakar. Katekese ini memunculkan antusiasme dan diskusi ringan di antara umat, yang merasa terinspirasi untuk lebih berkontribusi dalam kehidupan menggereja.

Doa ditutup dengan harapan agar umat Lingkungan St. Petrus terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih, serta tetap setia dalam pelayanan dan kebersamaan. Kebersamaan pun dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana yang mempererat tali persaudaraan.

Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sumber semangat bagi umat untuk menapaki jalan kekudusan bersama.

Semangat Toleransi: Umat Katolik Lingkungan St. Yohanes Pembaptis Maguwo Turut Menjaga Keamanan Idul Adha

Jumat, 6 Juni 2025 — Hari ini, suasana di sekitar wilayah Stasi Maguwo terasa begitu hidup. Bukan hanya karena keramaian perayaan Idul Adha yang dirayakan penuh khidmat oleh saudara-saudari Muslim, tetapi juga karena hadirnya semangat kebersamaan yang menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.

Sejak pagi hari, umat Katolik dari Lingkungan St. Yohanes Pembaptis turut ambil bagian dalam menjaga kelancaran dan keamanan perayaan Idul Adha yang diselenggarakan di beberapa titik sekitar wilayah Maguwo. Kehadiran para bapak dari Lingkungan Yohanaes Pembabtis ( YP ) menjadi pemandangan yang menarik sekaligus membanggakan……… Dengan rompi merah khas mereka, para bapak ini berdiri sigap di berbagai titik jalan dan area sekitar lokasi salat Id dan penyembelihan hewan kurban.

Bukan sekadar hadir, mereka benar-benar terlibat. Mengatur lalu lintas, mengarahkan warga, membantu menjaga ketertiban, bahkan turut menyapa dengan ramah setiap orang yang melintas. Tak sedikit dari mereka yang harus berdiri berjam-jam di bawah sinar matahari pagi yang hangat, dan semua dilakukan dengan hati yang tulus dan wajah yang tetap tersenyum.

Sementara itu, para ibu dari lingkungan pun tak tinggal diam. Di balik layar, mereka mengambil peran yang tak kalah penting. Sejak pagi, para ibu ini menyiapkan konsumsi untuk para petugas dan relawan — mulai dari air minum, teh hangat, hingga makanan ringan — semua disiapkan dengan penuh kasih. Dukungan mereka menjadi penguat dan penyemangat tersendiri bagi para bapak yang bertugas di lapangan.

Apa yang terjadi hari ini adalah cermin dari semangat toleransi dan persaudaraan yang tumbuh subur di tengah masyarakat Maguwo. Tidak ada sekat agama, tidak ada perbedaan yang membatasi. Yang ada adalah niat yang sama: menjaga kedamaian, saling membantu, dan merayakan kemanusiaan bersama.

Lingkungan St. Yohanes Pembaptis sekali lagi menunjukkan bahwa iman bukan hanya soal doa dan ibadah di dalam gereja, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir untuk sesama tanpa memandang latar belakang, tanpa syarat, dan tanpa pamrih. Inilah wajah Gereja yang hidup dan nyata di tengah masyarakat.

Terima kasih untuk para bapak lingkungan YP dengan rompi merahnya, dan untuk para ibu yang telah memberikan dukungan penuh. Semoga semangat seperti ini terus tumbuh, mengakar, dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Bulan Mei: Bulan Devosi dan Katekese di Lingkungan St. Yusup, Stasi Maguwo

Mei bagi umat Katolik merupakan bulan istimewa yang didedikasikan untuk devosi kepada Bunda Maria. Dalam semangat yang sama, Keuskupan Agung Semarang mengajak seluruh umat untuk memperdalam devosi kepada Bunda Maria sekaligus menjalani Bulan Katekese Yubelium dengan tema sentral Gereja yang Bahagia, sebagai bagian dari rangkaian perayaan 85 tahun perjalanan karya Gereja KAS.

Menanggapi ajakan tersebut, umat St. Yusuf, Stasi Maguwo, telah dengan tekun melaksanakan devosi bersama kepada Bunda Maria sekaligus mendalami Katekese Yubelium selama satu bulan penuh, mulai tanggal 1 hingga 31 Mei 2025. Setiap malam, sekitar 26 orang umat berkumpul untuk mendaraskan doa Rosario dan terlebih dahulu mendalami empat subtema utama Katekese Yubelium, yakni:

  1. Komunitas Pengharapan
  2. Menjadi Gereja yang semakin Katolik
  3. Menjadi Gereja yang semakin Apostolik
  4. Menjadi Gereja yang Bahagia

Kegiatan devosi dan pendalaman iman ini menjadi momen yang mempererat kebersamaan umat serta memperdalam pemahaman akan jati diri Gereja dalam terang Yubileum. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan penuh syukur dan sukacita pada tanggal 31 Mei 2025, bertepatan dengan pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet, sebagai puncak perayaan kasih dan iman umat kepada Bunda Maria.

Doa Rosario dan Katekese Lingkungan Santo Petrus: Membangun Gereja yang Bahagia

Pada hari Rabu, 28 Mei 2025 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di kediaman Ketua Lingkungan, Mba Lely, untuk melaksanakan doa Rosario dan katekese rutin. Kegiatan ini dihadiri oleh 12 umat yang datang dengan semangat kebersamaan dan iman.

Doa Rosario dipimpin dengan khidmat oleh Ibu Mulyadi. Suasana doa berlangsung tenang dan penuh penghayatan, mengundang umat untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus dan Bunda Maria serta memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan.

Usai Rosario, kegiatan dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Retno. Tema katekese kali ini adalah “Gereja yang Bahagia: ARDAS 2026”. Dalam penyampaiannya, Ibu Retno menekankan pentingnya mewujudkan komunitas gerejawi yang penuh sukacita, saling mendukung, dan berlandaskan kasih Kristus. Katekese ini mengajak umat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kehidupan menggereja dan menjadikan Lingkungan sebagai tempat bertumbuh dalam iman dan kebersamaan.

Pertemuan malam itu menjadi momen yang mempererat tali persaudaraan antar umat dan menguatkan semangat pelayanan dalam terang ARDAS 2026. Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sarana berkat bagi umat dan mendorong terciptanya Gereja yang semakin hidup, bersukacita, dan misioner.

30 Tahun Perjalanan Iman dan Kebersamaan: HUT Lingk. St. Gregorius

Kadisoka, 25 Mei 2025 — Dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan, umat Lingkungan St. Gregorius merayakan 30 tahun perjalanan iman mereka melalui sebuah Ibadat Syukur yang diadakan pada Minggu malam, 25 Mei 2025, pukul 19.00 WIB. Bertempat di lingkungan setempat, acara tersebut menjadi momen reflektif sekaligus penuh kegembiraan, dihadiri oleh lebih dari 55 umat dari berbagai usia.

Umat hadir dari berbagai usia

Acara dimulai dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit. Dalam ibadat tersebut, umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, serta memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.

Prodiakon Paulus Supit memimpin jalannya ibadat syukur dengan khidmat

Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan, Bapak Gregorius Henry Prasista Kurniawan, yang menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas lingkungan ini selama tiga dekade terakhir. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh umat yang telah setia mendukung dan membangun lingkungan sejak awal berdiri hingga kini.

Sebagai pembawa acara (MC), Mbak Anik memandu jalannya acara dengan penuh kehangatan dan keteraturan. Momen yang paling simbolis dan menyentuh hati adalah prosesi pemotongan tumpeng, sebuah tradisi yang sarat makna baik secara budaya maupun spiritual.

Filosofi Tumpeng: Simbol Syukur dan Harapan

Dalam penjelasannya, MC menyampaikan bahwa tumpeng, makanan khas berbentuk kerucut yang terbuat dari nasi kuning, bukan sekadar sajian pesta. Dalam budaya Jawa, tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (puncak kerucut), serta hubungan horizontal antara sesama manusia (lingkaran di sekeliling tumpeng). Nasi kuning sebagai simbol kemuliaan dan kebahagiaan juga mencerminkan harapan akan masa depan yang gemilang.

Tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan

Secara iman Katolik, makna tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan dan penyertaan Tuhan. Puncak tumpeng menggambarkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala berkat, sementara aneka lauk di sekitarnya mencerminkan keberagaman umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan.

Pemotongan tumpeng oleh Ketua Lingkungan St. Gregorius

Pemotongan dan pembagian tumpeng juga menjadi simbol pengutusan: bahwa berkat yang diterima bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada sesama.

Dalam prosesi tersebut, pemotongan dilakukan oleh Ketua Lingkungan, kemudian diberikan secara simbolis kepada dua perwakilan umat:

  1. Bapak Petrus Soekamso, sebagai wakil sesepuh, perintis dan generasi pendahulu, serta
  2. adik Avika, sebagai wakil generasi muda dan harapan masa depan lingkungan.

Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan umat senior

Potongan tumpeng kedua diberikan kepada perwakilan generasi penerus

Keduanya menerima potongan tumpeng dengan penuh haru dan sukacita, menyimbolkan keberlanjutan semangat dan warisan nilai-nilai iman lintas generasi.

Past, present and future

Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan

Usai prosesi, para umat melakukan sesi foto bersama yang diikuti dengan ramah tamah. Suasana terasa hangat dan akrab, diwarnai tawa anak-anak, canda para remaja, serta obrolan ringan para sesepuh.

Antusiasme umat Lingkungan St. Gregorius

Pada kesempatan tersebut, Bapak Petrus Soekamso menyampaikan kisah berdirinya Lingkungan St. Gregorius, mengajak umat mengenang kembali momen awal terbentuknya lingkungan sebagai hasil pemekaran dari Lingkungan St. Fransiskus Xaverius Purwomartani. Beliau menuturkan bagaimana dinamika umat, pertumbuhan jumlah keluarga Katolik, dan semangat pelayanan mendorong terbentuknya lingkungan baru yang diberi nama St. Gregorius.

Seiring waktu, lingkungan ini sendiri mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhirnya melahirkan dua lingkungan baru melalui proses pemekaran, yaitu:

  1. Lingkungan St. Bartholomeus, dan
  2. Lingkungan St. Stefanus

Fakta ini menunjukkan bahwa Lingkungan St. Gregorius bukan hanya tumbuh, tetapi juga turut berkontribusi dalam perkembangan pastoral wilayah setempat. Bapak Petrus juga mengajak umat untuk tetap menjaga semangat pelayanan lintas generasi, agar lingkungan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari tubuh Gereja.

Bpk Petrus Soekamso menceritakan awal berdirinya lingkungan St. Gregorius

Penutup yang Penuh Sukacita.

Acara malam itu ditutup dengan suasana hangat dan penuh sukacita. Seluruh umat pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Lingkungan St. Gregorius. Dalam usia 30 tahun, lingkungan ini tidak hanya menunjukkan kedewasaan dalam iman, tetapi juga keteguhan dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan penuh kasih.

Semua bersyukur, semua gembira

Proficiat untuk Lingkungan St. Gregorius!
Semoga tetap menjadi garam dan terang bagi sesama, serta terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.