Umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan misa arwah 7 hari untuk mendoakan almarhumah Ibu Caecilia Supartijah pada hari Jumat, 13 Maret 2026 pukul 19.00 WIB. Misa dilaksanakan dalam suasana khidmat dan penuh doa, dipimpin oleh Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap, serta dihadiri oleh sekitar 27 orang umat.
Ibu Caecilia Supartijah merupakan salah satu umat Lingkungan Santo Petrus yang telah dipanggil Tuhan pada hari Minggu, 8 Maret 2026. Kehadiran umat dalam misa ini menjadi bentuk kebersamaan dan dukungan doa bagi keluarga yang ditinggalkan, sekaligus ungkapan kasih kepada almarhumah.
Dalam perayaan Ekaristi ini, umat diajak untuk mendoakan agar almarhumah memperoleh kedamaian abadi di hadapan Tuhan. Suasana doa bersama ini juga menjadi pengingat bagi umat akan harapan iman akan kehidupan kekal serta pentingnya saling menguatkan dalam komunitas.
Melalui misa arwah 7 hari ini, umat Lingkungan Santo Petrus menunjukkan semangat persaudaraan dan kepedulian dengan bersama-sama memanjatkan doa bagi almarhumah Ibu Caecilia Supartijah, agar Tuhan menerima beliau dalam kebahagiaan abadi di surga.
Umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan pertemuan doa APP IV dan V pada hari Kamis, 12 Maret 2026 pukul 19.00 WIB di rumah Bapak Hananto. Pertemuan ini dihadiri oleh 12 orang umat yang dengan penuh semangat mengikuti rangkaian kegiatan doa dan refleksi bersama.
Pada awal pertemuan, umat diajak melakukan sebuah aktivitas sederhana namun bermakna. Setiap orang diminta untuk membuat satu goresan gambar yang harus menyambung dengan goresan sebelumnya tanpa adanya instruksi tertentu.
Setelah semua umat memberikan goresannya, terbentuklah sebuah gambar yang oleh sebagian orang diinterpretasikan sebagai seseorang yang sedang membungkuk sambil mengambil mangga. Namun, bentuk gambar tersebut terlihat sangat tidak jelas dan memiliki penafsiran yang berbeda-beda.
Selanjutnya, umat diminta kembali membuat satu goresan gambar, tetapi kali ini dengan mengikuti instruksi yang diberikan, yaitu menggambar pemandangan dua buah gunung. Hasilnya jauh lebih jelas dan terarah. Gambar yang terbentuk memperlihatkan dua gunung dengan sebuah gereja di puncak gunung.
Kegiatan sederhana ini menjadi sarana refleksi yang selaras dengan tema pertemuan APP. Tema pertemuan IV menekankan pentingnya pedoman atau “instruksi” dalam sebuah gerakan agar arah dan tujuan menjadi lebih jelas. Sementara itu, tema pertemuan V mengajak umat untuk berani mengambil langkah pertama dalam menolong sesama.
Pedoman sangat penting dalam kehidupan karena menjadi arah dan dasar dalam bertindak. Dengan adanya pedoman, seseorang dapat mengetahui tujuan yang jelas serta langkah yang tepat untuk mencapainya. Tanpa pedoman, tindakan yang dilakukan sering kali menjadi tidak terarah dan dapat menimbulkan kebingungan atau perbedaan penafsiran.
Pedoman juga membantu seseorang mengambil keputusan yang benar dan bertanggung jawab. Dalam kehidupan bersama, pedoman membuat setiap orang dapat bergerak dengan tujuan yang sama sehingga tercipta keteraturan dan kerja sama yang baik.
Dalam kehidupan beriman, pedoman dapat berupa ajaran Tuhan, nilai-nilai moral, maupun nasihat yang membantu umat menjalani hidup dengan benar. Dengan mengikuti pedoman tersebut, seseorang dapat bertindak lebih bijaksana dan mampu melakukan kebaikan, termasuk dalam menolong sesama.
Pada akhir pertemuan, umat saling berbagi pengalaman (sharing) mengenai bagaimana mereka dapat menerapkan kedua tema tersebut dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam mengikuti tuntunan yang baik dan berani memulai tindakan nyata untuk membantu sesama.
Pertemuan doa ditutup dengan doa bersama dalam suasana kebersamaan dan semangat untuk semakin peduli terhadap sesama di masa Prapaskah ini.
Pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP) ke-2 Lingkungan St. Theresia kembali dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026, bertempat di rumah Ibu Nanik selaku Ketua Lingkungan. Kegiatan ini dihadiri oleh umat lingkungan yang berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk mengikuti doa dan pendalaman iman selama masa APP.
Dalam pertemuan ini, umat merenungkan tema “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya.”Kegiatan diawali dengan doa pembuka dan dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 4:32–37, yang menggambarkan kehidupan jemaat perdana yang hidup dalam persatuan hati dan saling berbagi dengan sesama. Bacaan Kitab Suci ini mengajak umat untuk meneladani semangat solidaritas, di mana segala yang dimiliki dipergunakan untuk kepentingan bersama dan membantu mereka yang membutuhkan.
Selanjutnya, umat mendapatkan pemaparan mengenai berbagai bentuk dana sosial dalam Gereja menurut tingkatannya. Pada tingkat nasional, dana sosial dikelola oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sebagai bentuk kepedulian Gereja secara luas terhadap kebutuhan sosial masyarakat. Kemudian pada tingkat keuskupan, dana sosial digunakan untuk mendukung berbagai karya pastoral dan pelayanan sosial di wilayah keuskupan. Pada tingkat kevikepan, dana sosial berfungsi membantu koordinasi serta pelayanan antar paroki dalam satu wilayah kevikepan. Sementara itu, pada tingkat paroki, dana sosial dimanfaatkan secara langsung untuk membantu umat yang membutuhkan serta mendukung kegiatan sosial di lingkungan paroki.
Pertemuan ini dihadiri oleh umat Lingkungan St. Theresia yang dengan antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Setelah pemaparan materi, umat juga diajak untuk sharing dan refleksi bersama, sehingga setiap peserta dapat memahami lebih dalam pentingnya dana sosial sebagai wujud nyata kepedulian dan kasih kepada sesama.
Kegiatan APP ke-2 ini berlangsung dengan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, dimulai dari doa pembuka, pembacaan Kitab Suci, pendalaman materi, sharing bersama, hingga ditutup dengan doa penutup.
Melalui pertemuan ini, umat diharapkan semakin menyadari bahwa dana sosial gereja merupakan sarana untuk mewujudkan semangat solidaritas, kebersamaan, dan pelayanan kasih, sehingga Gereja dapat terus hadir membantu sesama, terutama mereka yang membutuhkan.
Pada tanggal 4 Maret 2026, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan kunjungan ke rumah Bapak Donal Sinaga. Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan dukungan, semangat, dan mendoakan kesembuhan untuk Bapak Donal Sinaga yang sempat opname di Rumah Sakit beberapa hari yang lalu. Kegiatan ini seringkali dilakukan di Lingkungan St. Elisabeth tiap ada umat di lingkungan yang menderita sakit. Aksi ini sebagai wujud kepedulian antarumat di lingkungan.
Kepedulian terhadap sesama merupakan nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap ini mencerminkan rasa empati, solidaritas, dan keinginan untuk saling membantu di tengah kehidupan yang sering kali dipenuhi kesibukan. Salah satu bentuk kepedulian yang sederhana namun sangat bermakna adalah menjenguk orang sakit di lingkungan sekitar serta mendoakan kesembuhannya.
Menjenguk orang yang sedang sakit bukan sekadar kunjungan biasa. Kehadiran kita dapat menjadi sumber semangat bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit. Ketika seseorang sakit, sering kali ia merasakan kelemahan, kesedihan, bahkan kesepian. Dengan datang menjenguk, kita menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dan masih ada orang yang peduli terhadap kondisi mereka.
Selain memberikan dukungan moral, aksi ini juga mempererat hubungan sosial antarumat. Interaksi yang terjadi saat menjenguk dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan. Hal ini penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis, di mana setiap individu merasa diperhatikan dan dihargai.
Doa juga memiliki peran penting dalam aksi sosial ini. Mendoakan kesembuhan orang yang sakit merupakan bentuk dukungan spiritual yang memberikan harapan dan ketenangan bagi mereka. Doa yang tulus dapat memberikan kekuatan batin, baik bagi orang yang sakit, keluarga, maupun bagi orang yang mendoakannya.
Aksi sosial seperti ini tidak memerlukan biaya besar atau persiapan yang rumit. Hal yang terpenting adalah niat tulus untuk peduli dan berbagi perhatian. Bahkan kunjungan singkat dengan kata-kata penyemangat dapat memberikan dampak yang sangat berarti bagi orang yang sedang sakit.
Dengan membiasakan diri menjenguk orang sakit dan mendoakan kesembuhannya, kita turut menumbuhkan budaya kepedulian dalam masyarakat. Jika setiap orang memiliki rasa empati dan saling memperhatikan, maka lingkungan akan menjadi tempat yang lebih hangat, penuh kasih, dan saling mendukung.
Pada akhirnya, kepedulian terhadap sesama adalah fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang sehat. Melalui tindakan sederhana seperti menjenguk orang sakit, kita belajar untuk lebih peka terhadap kondisi orang lain serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Instagram : Tak selalu harus dengan banyak kata, kadang kehadiran sederhana sudah cukup menyembuhkan.
Dalam kunjungan ini, kami belajar bahwa kasih itu nyata, hadir, mendengar, menggenggam, dan mendoakan.
Lingkungan Santa Elizabeth Stasi Maguwo, berjalan bersama dalam kasih, menguatkan dalam harapan.
Bayangkan taman yang besar di mana hanya satu sudut kecil yang diberi air cukup sampai tergenang. Sementara itu, area lain tampak kering sehingga tanaman di tempat itu menjadi layu dan mati. Kecantikan taman ini akan lenyap akibat ketidakseimbangan tersebut. Citra ini menyerupai kehidupan sosial kita. Gereja tidak dapat berkembang menjadi taman yang indah jika hanya merawat dirinya sendiri di dalam dinding sakristi. Di luar sana, komunitas sedang berjuang melawan kemiskinan dan putus asa. Tema APP 2026, “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera,” menjadi panggilan untuk menjadi “tukang kebun” Allah yang berani menyalurkan air kehidupan ke lahan yang kering.
Perjuangan untuk membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bukanlah hanya soal program sosial sementara. Ini adalah bukti nyata iman kita. Bagi orang Kristiani, kebahagiaan sejati terjadi saat setiap orang dihargai dan hak-haknya terpenuhi. Gereja harus hadir bukan sebagai tempat yang jauh dari kenyataan, tapi sebagai teman perjalanan bagi mereka yang terpinggirkan. Kita harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan keadilan sosial. Kita diajak untuk peduli bahwa kesejahteraan sesama juga merupakan tanggung jawab iman kita. Kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini ditandai dengan tercukupinya kebutuhan mereka yang paling membutuhkan.
Masa Prapaskah tahun ini adalah kesempatan untuk memeriksa gaya hidup kita. Apakah cara kita hidup selama ini justru merugikan orang lain? Atau apakah kesederhanaan kita memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh?
Melalui puasa dan pantang, kita melatih diri untuk lebih peduli pada ketimpangan di sekitar kita. Uang yang kita kumpulkan bukan hanya uang receh, tapi simbol pengorbanan dan komitmen kita untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan bermartabat. Secara teologis, kesejahteraan yang kita perjuangkan adalah kesejahteraan yang utuh, yang menyentuh aspek jasmani sekaligus rohani. Ketika Gereja terlibat aktif dalam memberdayakan ekonomi umat, menjaga kelestarian lingkungan, dan menyuarakan kejujuran di ruang publik, saat itulah Gereja sedang menghadirkan wajah Allah yang memelihara. Kebahagiaan masyarakat akan terwujud apabila ada rasa aman, rasa cukup, dan rasa dihargai sebagai sesama citra Allah. Oleh karena itu, perjuangan ini menuntut ketekunan dan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik, tanpa memandang perbedaan latar belakang.
Oleh karena itu, marilah kita menyadari bahwa aksi puasa adalah motor penggerak perubahan sosial yang nyata. Mari kita melangkah keluar dengan keberanian untuk menjadi agen kesejahteraan, mengubah keluhan menjadi harapan, dan mengubah kemiskinan menjadi kecukupan. Hari ini, biarlah dunia melihat bahwa Gereja tidak hanya berkhotbah tentang kasih, tetapi sungguh-sungguh berjuang hingga kebahagiaan itu menjadi milik semua orang.
Nb : Foto ini diambil pada Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth, tgl 12 Februari 2026, di Ruman Bpk. Hary Mulyono, dengan petugas Ibu Jatuh Padmi. Sembahyangan ini dihadiri 28 orang.
Umat Lingkungan Santo Petrus bersama keluarga mengadakan Misa Requiem untuk mendoakan almarhumah Ibu Caecilia Supartiyah yang telah dipanggil Tuhan pada Minggu, 8 Maret 2026. Misa Requiem dilaksanakan pada hari Senin, 9 Maret 2026 pukul 09.00 pagi.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Jona Joakim Pinem, OFMCap. Dalam suasana doa yang khidmat, umat bersama keluarga memanjatkan doa agar almarhumah Ibu Caecilia Supartiyah mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan abadi di sisi Tuhan. Misa ini juga menjadi penguatan iman bagi keluarga yang ditinggalkan agar tetap berharap pada kasih Tuhan.
Setelah misa selesai, dilanjutkan dengan upacara pelepasan jenazah yang dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan umat lingkungan. Selanjutnya jenazah dimakamkan di Sasana Loyo sebagai tempat peristirahatan terakhir almarhumah.
Pada malam harinya, keluarga dan umat kembali berkumpul untuk melaksanakan doa hari ketiga. Doa ini dipimpin oleh ibu prodiakon, Ibu Tiwi. Dalam doa tersebut, umat kembali mendoakan arwah almarhumah serta memohon agar keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan, penghiburan, dan damai dari Tuhan.
Umat Lingkungan Santo Petrus mengenang almarhumah Ibu Bernadetta Sumaryati yang telah dipanggil Tuhan pada tanggal 29 Januari 2026. Kepergian beliau meninggalkan duka bagi keluarga dan umat lingkungan, namun juga menjadi momen untuk semakin memperkuat iman dan kebersamaan dalam doa.
Sejak hari pertama berpulangnya almarhumah, umat bersama keluarga mengadakan doa-doa untuk mendoakan keselamatan jiwa beliau. Rangkaian doa dimulai dengan doa tirakatan yang dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan umat lingkungan.
Suasana doa berlangsung dengan khusyuk sebagai bentuk pengharapan agar almarhumah memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan.
Selanjutnya dilaksanakan Misa Requiem yang dipimpin oleh Rm Yohanes Ngatmo Pr sebagai perayaan Ekaristi untuk mendoakan arwah almarhumah.
Dalam misa tersebut, umat bersama-sama memohon belas kasih Tuhan agar almarhumah diterima dalam kehidupan kekal.
Setelah pemakaman, doa-doa terus dilanjutkan melalui doa hari kedua hingga hari ketujuh. Umat Lingkungan Santo Petrus dengan setia hadir untuk mendampingi keluarga serta mendoakan almarhumah dalam kebersamaan iman.
Hari ke 2
Hari ke 3
hari ke 4
Hari ke 5
Hari ke 6 (Malam ke 7). Diadakan misa yang dipimpin oleh Rm Yohanes Ngatmo Pr
Sebagai penutup dari rangkaian doa, dilaksanakan misa 40 hari yang diadakan pada hari Minggu, 8 Maret 2026. Misa dipimpin oleh Rm Ignatius Fajar Kristianto Pr. Doa ini menjadi kesempatan bagi keluarga dan umat untuk kembali mengenang kebaikan serta teladan hidup almarhumah Ibu Bernadetta Sumaryati.
Semoga almarhumah Ibu Bernadetta Sumaryati memperoleh kebahagiaan abadi di rumah Bapa di surga, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan, penghiburan, serta damai sejahtera dari Tuhan.
Umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan doa tirakatan untuk mendoakan almarhumah Ibu Caecilia Supartiyah yang telah dipanggil Tuhan pada Minggu, 8 Maret 2026 pukul 20.30. Doa tirakatan ini dipimpin oleh ibu prodiakon : Ibu Tiwi. Doa Tirakatan dilaksanakan sebagai ungkapan iman dan kebersamaan umat dalam mendoakan arwah almarhumah serta memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Dalam suasana doa yang khusyuk, umat memanjatkan doa agar almarhumah Ibu Caecilia Supartiyah mendapatkan kedamaian abadi di sisi Tuhan. Kehadiran umat lingkungan menunjukkan rasa persaudaraan dan kepedulian kepada keluarga yang sedang berduka.
Rencananya, Misa Requiem untuk almarhumah akan dilaksanakan pada hari Senin, 9 Maret 2026 pukul 09.00 pagi. Setelah misa selesai, jenazah akan langsung dimakamkan di Sasono Loyo pada pukul 10.00.
Semoga Tuhan memberikan tempat yang layak bagi almarhumah di surga dan memberikan kekuatan serta penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Lingkungan Santo Petrus mendapat tugas koor pada hari Minggu, 8 Maret 2026. Sebelum melaksanakan tugas tersebut, umat lingkungan terlebih dahulu mengadakan beberapa kali latihan koor agar dapat mempersiapkan lagu-lagu dengan baik. Latihan koor dilaksanakan pada Selasa, 24 Februari 2026; Sabtu, 28 Februari 2026; dan Selasa, 3 Maret 2026. Latihan ini diikuti oleh umat lingkungan yang dengan semangat mempersiapkan diri untuk pelayanan koor.
Namun, pada subuh hari tanggal 8 Maret 2026, umat menerima kabar duka karena salah satu umat lingkungan, yaitu Ibu Caecilia Supartiyah, meninggal dunia. Karena adanya kabar duka tersebut, beberapa umat tidak dapat mengikuti tugas koor karena harus mempersiapkan dan mendampingi keluarga yang berduka.
Meskipun demikian, tugas koor tetap dapat berjalan dengan baik. Koor Lingkungan Santo Petrus dibantu oleh tim Cantores yang dengan penuh semangat membantu menaikkan lagu-lagu pujian selama perayaan Ekaristi berlangsung. Kehadiran dan bantuan dari tim Cantores sangat berarti sehingga pelayanan koor tetap dapat terlaksana dengan baik. Untuk itu, umat Lingkungan Santo Petrus mengucapkan terima kasih kepada tim Cantores atas kesediaan dan kerelaan hati mereka dalam membantu pelayanan ini.
Setelah selesai melaksanakan tugas koor, umat Lingkungan Santo Petrus bersama-sama menuju rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir dan mendampingi keluarga Ibu Caecilia Supartiyah yang sedang berduka. Semoga almarhumah mendapatkan kedamaian abadi di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta penghiburan.
Tim Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Gereja Katolik berperan sebagai perpanjangan tangan Gereja dalam mewujudkan kepedulian sosial yang profesional, terorganisir, dan berlandaskan Ajaran Sosial Gereja. Kegiatan PSE difokuskan pada pemberdayaan kelompok kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD) melalui aksi karitatif berupa bantuan langsung serta pemberdayaan ekonomi.
Salah satu program yang dijalankan oleh Tim PSE Bidang Kemasyarakatan Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo adalah pemberian bantuan sosial bagi umat miskin dan rentan miskin, yang dikenal dengan istilah Jadup (Jaminan Hidup). Pembagian Jadup berupa paket sembako dilakukan di gereja, yang diambil per lingkungan pada hari Sabtu, 28 Februari, bertempat di teras depan GMBA Maguwo.
Lingkungan St. Gabriel ditugaskan untuk mengambil bantuan tersebut, dengan Bapak Simbolon selaku Seksi PSE Lingkungan sebagai penanggung jawab. Distribusi kepada umat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing penerima. Umat lansia menerima bantuan langsung di rumah, sedangkan umat lainnya menerima bantuan pada saat pertemuan APP 3 yang dilaksanakan pada hari Kamis, 5 Maret.
Secara keseluruhan, jumlah penerima bantuan dari Lingkungan St. Gabriel adalah 7 kepala keluarga. Pelaksanaan program ini menunjukkan komitmen Tim PSE GMBA Maguwo dalam mewujudkan kepedulian sosial yang nyata dan berkesinambungan bagi umat yang membutuhkan.
Dengan selesainya pembagian Jadup ini, semoga setiap paket bantuan tidak hanya meringankan kebutuhan sehari-hari umat yang membutuhkan, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan, kepedulian, dan kasih di antara seluruh anggota jemaat. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Gereja hadir nyata di tengah masyarakat, mendampingi dan memberdayakan mereka yang lemah dan rentan, serta menegaskan bahwa kepedulian sosial adalah wujud iman yang hidup. Semoga semangat pelayanan ini terus berkembang dan menginspirasi seluruh komunitas untuk bersama-sama mewujudkan kasih Kristiani dalam tindakan nyata.