Serunya Umat Maguwo Ikut Workshop TikTok for Business


Beberapa umat dari Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo punya pengalaman seru minggu ini. Mereka ikutan Workshop TikTok for Business 2025 yang digelar oleh Billa Creative bareng Rumah BUMN Yogyakarta. Suasananya santai tapi penuh ilmu, apalagi buat mereka yang pengin mengembangkan usaha dengan cara yang lebih kekinian.

Acara ini menghadirkan Deddy Susanto, Chief Operating Officer dari Billa Creative, yang berbagi banyak trik soal bikin konten TikTok. Bukan sekadar bikin video lucu-lucuan, tapi gimana caranya konten bisa jadi pintu rezeki, mengenalkan usaha, bahkan membangun brand yang kuat. Cara penyampaiannya enak, gampang dicerna, dan bikin peserta betah menyimak sampai akhir.

Umat Maguwo yang ikut merasa dapat insight baru. Mereka jadi sadar kalau TikTok bukan cuma aplikasi hiburan, tapi juga peluang besar untuk usaha. Dengan sedikit kreativitas, konsistensi, dan keberanian untuk mencoba, siapa pun bisa berkembang di dunia digital.


Belajar hal baru kayak gini bikin kita makin yakin bahwa talenta yang Tuhan kasih bisa dipakai di mana aja—termasuk di dunia digital. Bikin konten nggak melulu soal viral, tapi bisa juga jadi cara sederhana untuk berbagi kebaikan dan menghadirkan terang Kristus lewat kreativitas.

Kunjungan Kasih Timpel PIUL: Merangkai Doa, Persaudaraan, dan Kenangan Pelayanan


Dalam semangat persaudaraan seiman dan kepedulian terhadap para lansia, Timpel PIUL kembali melaksanakan karya pelayanan kasih melalui kunjungan ke rumah umat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari perhatian Gereja kepada mereka yang telah lebih dahulu menabur benih iman dan pengabdian di tengah komunitas.

Kunjungan pertama dilakukan ke kediaman Bapak YB Hardjito dan Ibu Fransiska Jumirah. Suasana akrab dan penuh kekeluargaan begitu terasa sejak awal perjumpaan. Setelah diawali dengan doa bersama, tim kemudian mendampingi Bapak Hardjito untuk pemeriksaan kesehatan oleh Bapak Y. Sudiharto. Pemeriksaan meliputi tensi darah, kadar gula, asam urat, dan kolesterol. Hasilnya pun dibicarakan dengan ringan dan penuh perhatian, menjadi sarana untuk saling menguatkan dalam menjaga kesehatan di usia lanjut.

Dalam percakapan hangat, tersingkaplah kembali kisah perjalanan pelayanan Bapak Hardjito. Beliau pernah menjadi Koordinator sekaligus Pelatih musik inkulturasi gamelan Jawa untuk liturgi. Dengan penuh semangat, beliau menceritakan kembali pengalamannya mengiringi puji-pujian Gereja dengan lantunan gamelan, sebuah warisan budaya sekaligus wujud iman yang indah. Meskipun kini usia telah sepuh dan sudah lama fakum, semangatnya tetap menyala ketika berbicara tentang gamelan liturgi. Pandangan matanya seakan kembali hidup, menandakan betapa besar cinta yang pernah beliau berikan untuk Gereja melalui seni musik.

Perjalanan pelayanan kasih dilanjutkan ke Lingkungan St. Gabriel, mengunjungi Bapak Jumadi. Beliau pun memiliki kisah yang serupa: dahulu aktif sebagai pemusik gamelan yang memegang gong, ikut serta menghidupi suasana liturgi dengan indahnya harmoni tradisi Jawa. Saat ini, meski harus berjuang dengan kondisi kesehatan akibat Parkinson, semangat imannya tetap kokoh. Beliau masih berusaha hadir di Gereja setiap kali ada kesempatan, menjadi teladan kesetiaan dan ketekunan dalam menghidupi iman di tengah keterbatasan.

Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang pemeriksaan kesehatan fisik, melainkan juga menjadi ruang perjumpaan hati, di mana doa, cerita, kenangan, dan semangat pelayanan kembali dirangkai bersama. Melalui kisah para lansia, kita diajak merenungkan betapa iman dan pengabdian yang telah mereka taburkan merupakan harta berharga bagi Gereja.

Semoga karya pelayanan sederhana ini semakin meneguhkan bahwa Gereja adalah rumah yang saling menopang, tempat di mana setiap pribadi – muda maupun sepuh – dihargai dan dicintai. Kehadiran Timpel PIUL menjadi tanda bahwa kasih Kristus terus mengalir, menyapa, dan menguatkan semua umat-Nya.

Taman Eden di Rumah: Menciptakan Surga Kecil dalam Keluarga Katolik

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kasih, karena atas rahmat dan penyelenggaraan-Nya, Timpel PIOD ( Pendamping Iman Orang Dewasa ) GMBA, dibawah Bidang Pewarta melaksanakan kegiatan Sarasehan Keluarga Stasi Santa Maria Bunda Allah – Maguwo dapat terselenggara dengan penuh sukacita dan kekeluargaan pada hari Sabtu, 26 Juli 2025, bertempat di Erista Garden, Pakem.

Acara ini mengambil tema yang sangat relevan dan menyentuh, yaitu: “Taman Eden di Rumah: Menciptakan Surga Kecil dalam Keluarga Katolik”. Sebuah tema yang tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi seluruh umat, bahwa keluarga adalah ladang pertama dan utama dalam menanam, menumbuhkan, serta merawat cinta kasih Kristiani.

Sarasehan ini dihadiri oleh para keluarga dari berbagai lingkungan di Stasi Maguwo, dengan suasana yang hangat, penuh semangat, dan kebersamaan yang terasa sangat kental. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang refleksi, tetapi juga menjadi sarana rekreasi rohani bersama keluarga tercinta, di tengah padatnya rutinitas dan tantangan zaman.

Kami merasa sangat diberkati karena pada kesempatan ini, hadir dua narasumber luar biasa yang memberikan pencerahan dan motivasi mendalam.

  1. Romo Dr. Ag. Tri Edi Warsono, Pr., seorang imam dan akademisi yang memberikan refleksi teologis yang sangat menyentuh tentang makna keluarga sebagai “Gambaran Taman Eden” masa kini—sebuah tempat di mana cinta Allah dinyatakan dan dihidupi secara nyata.
  2. Ibu F. Netty Kuswandari, S.Pd., M.Si., seorang pendidik sekaligus praktisi keluarga, yang membagikan banyak tips dan pengalaman praktis mengenai bagaimana menciptakan suasana rumah yang penuh kasih, komunikasi yang sehat, serta membina relasi yang harmonis antara suami, istri, dan anak-anak dalam terang iman Katolik.

Kegiatan ini dibalut dengan berbagai sesi interaktif seperti diskusi kelompok, tanya jawab, sharing pengalaman antar keluarga, serta games ringan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Semua itu mempererat rasa persaudaraan dan meneguhkan kembali komitmen umat untuk menjadikan keluarga sebagai “Gereja Mini” yang hidup, berkembang, dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.

Tak lupa, keindahan alam Erista Garden yang sejuk dan menenangkan menjadi pelengkap sempurna bagi acara ini. Alam yang terbuka mengajak setiap peserta untuk kembali merefleksikan keindahan ciptaan Tuhan, serta mengingatkan bahwa keharmonisan dalam keluarga pun adalah bagian dari kehendak Allah untuk menciptakan dunia yang lebih baik, dimulai dari rumah.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber, seluruh panitia, para peserta, serta semua pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan ini. Semoga sarasehan ini membawa buah yang nyata dalam kehidupan keluarga-keluarga Katolik, dan menjadi benih bagi tumbuhnya keluarga-keluarga kudus yang diberkati dan menjadi berkat.

Stasi Santa Maria Bunda Allah – Maguwo
“Bersama Keluarga, Membangun Surga Kecil di Dunia”


Kunjungi Instagram komsos GMBA:https://www.instagram.com/reel/DMXPNS7Rt4y

KWT Mentari Belajar Membuat Ecoprint

Bukti kebesaran Tuhan terpatri pada ecoprint. Dedaunan ciptaanNya dapat menghasilkan motif indah pada selembar kain. Setiap jenis tanaman bisa memunculkan warna yang berbeda. Sungguh luar biasa!

Keunikan pembuatan motif kain dengan bahan-bahan alami ini menarik minat ibu-ibu KWT (Kelompok Wanita Tani) Mentari untuk mempelajarinya. Alhasil, KWT Mentari kemudian mengundang Ibu Sih Sujati untuk berbagi ilmu kepada para ibu.

Sebanyak 15 anggota KWT Mentari mengikuti pelatihan pembuatan ecoprint dengan teknik pengukusan bersama Ibu Sih Sujati. Pelatihan ini berlangsung pada hari Minggu, 13 Juli 2025 di Gazebo GMBA.

Olah kreativitas

Sebelum sesi praktik, Ibu Jati — sapaan akrab Ibu Sih Sujati, menjelaskan sejumlah prinsip dasar. Di antaranya, motif akan lebih mudah tercipta menggunakan daun dengan kandungan tanin tinggi.

“Misalnya daun lanang, daun jati, daun talok atau kersen, daun jarak dan daun eucalyptus. Yang banyak di sekitar kita misalnya daun kelor dan kenikir,” jelas Bu Jati.

Selain daun, bunga, akar, dan batang tanaman bertanin juga bisa dipakai menciptakan motif. Kreativitas kita akan menghasilkan motif yang berbeda-beda.

Pemrosesan kain

Adapun kain yang cocok untuk ecoprint adalah yang terbuat dari serat alami seperti katun, rayon, dan sutra. Kain harus melalui proses scouring, yaitu dibersihkan dari kotoran dengan merendamnya dalam larutan TRO (Turkish Red Oil).

Setelah scouring, kain diproses mordanting. Proses ini antara lain bertujuan mempermudah main menyerap zat warna tumbuhan. Selain itu, mordanting juga berfungsi menguatkan warna alami agar tidak mudah luntur.

Bahan-bahan mordant merupakan bahan ramah lingkungan seperti cuka, tawas, tunjung, soda kue dan soda ash. Kain direndam dalam larutan mordant sekitar 15 menit dan dikucek-kucek, kemudian diperas dan dijemur hingga kering. Setelah itu cuci kain dengan air kapur dan siap digunakan untuk mencetak motif.

Pemberdayaan perempuan

Ibu-ibu KWT Mentari mengikuti pelatihan dengan antusias. Menata daun, menginjak-injak daun di kain untuk mencetak motif, hingga menunggu hasil motif yang tercipta menjadi rangkaian aktivitas yang mengasyikkan. Selama menunggu kain dikukus, Bu Jati juga memberikan pelatihan membuat bros sederhana pada para peserta.

Pelatihan ecoprint kali ini merupakan salah satu kegiatan KWT Mentari yang bertujuan meningkatkan kapasitas para anggota. Secara rutin, KWT Mentari menyelenggarakan berbagai pelatihan mulai dari membuat olahan makanan hingga urban farming.

Peserta pelatihan-pelatihan tersebut tak hanya anggota, tapi juga masyarakat sekitar seperti ibu-ibu Padukuhan Karangploso. Selaras dengan tujuan awal pendiriannya saat masih bernama IKM Mentari, KWT Mentari berharap dapat berkontribusi pada pemberdayaan perempuan dan masyarakat.

Nah, seperti apa keseruan ibu-ibu KWT Mentari belajar membuat ecoprint? Simak di video berikut ini! Dan jangan lupa follow Instagram KWT Mentari @kwtmentari yaa 😀

Bonus video: Fashion Show ala KWT Mentari! ><

kunjungi Instagram komsos GMBA : https://www.instagram.com/p/DMH8WksR5LZ/?igsh=MXR1djk3MTNkajFtNg==

Yustina Munarti: “More than words, She proclaims life “

“More than words, she proclaims life.”Her name may not often be heard from the pulpit or in the media, but to many children and parishioners in her community, she is deeply significant. Yustina Munarti, a humble 73-year-old woman, has made her life a true offering to God—through quiet yet profound work: her ministry as a catechist.

Her journey of faith began in 1968, when she wholeheartedly received the Sacrament of Baptism and embraced the Catholic faith. From that moment, seeds of love for God and others began to grow within her, slowly but surely taking root in every step of her life.

In March 1980, at the young age of 27, she experienced a stirring in her heart. She witnessed a reality that deeply moved her: children in her neighborhood wandering aimlessly, without spiritual guidance, without anyone to accompany them in faith. It was a scene that many might consider ordinary—but not Yustina. To her, it was God speaking through the restlessness in her heart.

Encouraged by her own child, she decided to step into the Lord’s vineyard and become a catechist. She didn’t just want to teach—she wanted to accompany, to live the faith, and to proclaim God’s love in its most tangible form: presence.

Being a catechist has never been an easy path. Challenges and hardships came and went. Not every child was easy to reach, not every parent was supportive, and not every environment was encouraging. But for Yustina, these were not stumbling blocks—they were stepping stones to rely more fully on God. She learned that every soul touched by Christ’s love—even just one—is a great victory in her ministry.

Her joy cannot be measured in words. She feels her life has been enriched through simple yet meaningful experiences: seeing the children she once guided grow into people of faith, with some even continuing in her footsteps of service.

The days continue to pass, yet her spirit never fades. At the age of 73, Yustina remains present—with her smile, her laughter, and her burning passion. She is a living testament that ministry is not about age, but about love—love that asks for nothing in return, only to give, give, and keep giving.

“I will offer this life in the Lord’s vineyard,” she declares firmly. And it’s more than just words—that’s exactly what she has lived for decades, through her faithfulness, sincerity, and humility. She has not only taught the faith through words, but lived it with her whole being.Because for her, proclaiming the Gospel is not merely about teaching. It is a way of life.


Yustina Munarti: “Lebih dari kata, Ia mewartakan hidup”

“Lebih dari kata, ia mewartakan hidup.”Nama itu mungkin tak sering terdengar dari mimbar atau media, namun bagi banyak anak dan umat di komunitasnya, sosoknya begitu berarti. Yustina Munarti, seorang perempuan sederhana berusia 73 tahun, telah menjadikan hidupnya persembahan sejati bagi Tuhan—melalui karya sunyi, namun mendalam: pelayanan sebagai katekis.

Perjalanan imannya dimulai pada tahun 1968, saat ia dengan sepenuh hati menerima Sakramen Baptis dan memeluk iman Katolik. Dari situ, benih kasih kepada Tuhan dan sesama mulai tumbuh dalam dirinya, perlahan tapi pasti mengakar kuat dalam setiap langkah hidupnya.

Pada Maret 1980, di usia yang masih muda—27 tahun—sebuah panggilan batin mengetuk hatinya. Ia melihat kenyataan yang menyentuh nuraninya: anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya berkeliaran tanpa tujuan, tanpa pendamping rohani, tanpa bimbingan iman. Suatu pemandangan yang bagi banyak orang mungkin dianggap biasa, namun tidak bagi Yustina. Di sanalah ia merasa bahwa Tuhan sedang berbicara melalui kegelisahan hatinya.

Dengan dorongan dari anaknya sendiri, ia memutuskan melangkah ke ladang Tuhan, menjadi seorang katekis. Ia bukan hanya ingin mengajar, tetapi lebih dari itu—ia ingin mendampingi, menghidupi iman, dan mewartakan kasih Allah dalam bentuk paling nyata: kehadiran.

Menjadi katekis bukanlah jalan yang selalu mudah. Duka dan tantangan silih berganti. Tidak semua anak mudah disentuh hatinya, tidak semua orang tua peduli, dan tidak semua lingkungan mendukung. Namun bagi Ibu Yustina, semua itu bukan batu sandungan, melainkan batu loncatan untuk semakin mengandalkan Tuhan. Ia belajar bahwa setiap jiwa yang disentuh oleh kasih Kristus—meski hanya satu—adalah kemenangan besar dalam pelayanan.

Sukacitanya pun tak dapat diukur dengan kata. Ia merasa hidupnya diperkaya oleh pengalaman-pengalaman sederhana namun penuh makna: melihat anak-anak yang dulu ia bimbing kini tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang beriman, bahkan ada yang meneruskan jejak pelayanannya.

Hari-hari pun terus berlalu, namun semangatnya tak pernah padam. Di usianya yang ke-73, Ibu Yustina tetap hadir dengan senyum, tawa, dan semangat yang membara. Ia adalah gambaran nyata bahwa pelayanan bukan soal usia, melainkan soal cinta—cinta yang tak pernah menuntut balasan, hanya memberi, memberi, dan terus memberi.

Saya akan mempersembahkan hidup ini di ladang Tuhan,” tuturnya dengan mantap. Dan bukan hanya perkataan belaka—itulah yang selama puluhan tahun telah ia wujudkan, lewat kesetiaan, ketulusan, dan kerendahan hati. Ia bukan hanya mengajarkan iman dengan kata-kata, tetapi menghidupinya dengan seluruh dirinya.Karena baginya, mewartakan Injil bukan semata soal pengajaran. Itu adalah cara hidup.

Semangat Toleransi: Umat Katolik Lingkungan St. Yohanes Pembaptis Maguwo Turut Menjaga Keamanan Idul Adha

Jumat, 6 Juni 2025 — Hari ini, suasana di sekitar wilayah Stasi Maguwo terasa begitu hidup. Bukan hanya karena keramaian perayaan Idul Adha yang dirayakan penuh khidmat oleh saudara-saudari Muslim, tetapi juga karena hadirnya semangat kebersamaan yang menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.

Sejak pagi hari, umat Katolik dari Lingkungan St. Yohanes Pembaptis turut ambil bagian dalam menjaga kelancaran dan keamanan perayaan Idul Adha yang diselenggarakan di beberapa titik sekitar wilayah Maguwo. Kehadiran para bapak dari Lingkungan Yohanaes Pembabtis ( YP ) menjadi pemandangan yang menarik sekaligus membanggakan……… Dengan rompi merah khas mereka, para bapak ini berdiri sigap di berbagai titik jalan dan area sekitar lokasi salat Id dan penyembelihan hewan kurban.

Bukan sekadar hadir, mereka benar-benar terlibat. Mengatur lalu lintas, mengarahkan warga, membantu menjaga ketertiban, bahkan turut menyapa dengan ramah setiap orang yang melintas. Tak sedikit dari mereka yang harus berdiri berjam-jam di bawah sinar matahari pagi yang hangat, dan semua dilakukan dengan hati yang tulus dan wajah yang tetap tersenyum.

Sementara itu, para ibu dari lingkungan pun tak tinggal diam. Di balik layar, mereka mengambil peran yang tak kalah penting. Sejak pagi, para ibu ini menyiapkan konsumsi untuk para petugas dan relawan — mulai dari air minum, teh hangat, hingga makanan ringan — semua disiapkan dengan penuh kasih. Dukungan mereka menjadi penguat dan penyemangat tersendiri bagi para bapak yang bertugas di lapangan.

Apa yang terjadi hari ini adalah cermin dari semangat toleransi dan persaudaraan yang tumbuh subur di tengah masyarakat Maguwo. Tidak ada sekat agama, tidak ada perbedaan yang membatasi. Yang ada adalah niat yang sama: menjaga kedamaian, saling membantu, dan merayakan kemanusiaan bersama.

Lingkungan St. Yohanes Pembaptis sekali lagi menunjukkan bahwa iman bukan hanya soal doa dan ibadah di dalam gereja, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir untuk sesama tanpa memandang latar belakang, tanpa syarat, dan tanpa pamrih. Inilah wajah Gereja yang hidup dan nyata di tengah masyarakat.

Terima kasih untuk para bapak lingkungan YP dengan rompi merahnya, dan untuk para ibu yang telah memberikan dukungan penuh. Semoga semangat seperti ini terus tumbuh, mengakar, dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Cek Kesehatan Gratis di Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo, 25 Mei 2025

Dalam rangka ulang tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo, diadakan kegiatan bakti sosial yang super bermanfaat: cek kesehatan gratis! Acara ini diadakan pada hari Minggu, 25 Mei 2025, dan terbuka untuk semua warga sekitar yang mau ngecek kesehatan.

Kegiatan ini seru banget karena didukung penuh sama Rumah Sakit Panti Rini yang hadir dengan tim dokter dan paramedisnya, Kimia Farma yang bawa alat andalan Quantum, dan Puskesmas Depok yang lengkap dengan dokter dan obat-obatannya. Tim kesehatan dari Stasi Santa Maria Bunda Allah juga turun langsung bantuin acara ini, jadi makin kompak.

Warga sekitar yang ikut juga rame banget, mulai dari RT 5 Sambilegi Kidul, RT 6 Kembang, RT 01-05 Karangploso, sampai para pengurus DPH. Suasana hangat dan penuh kebersamaan benar-benar terasa sepanjang acara.

Keren banget, acara ini juga ditinjau langsung sama petinggi dari Rumah Sakit Panti Rini, Puskesmas Depok, dan Kimia Farma. Mereka semua ngasih support penuh supaya acara ini makin sukses.

Dan yang bikin tambah semangat, dari target 150 orang peserta, kegiatan ini berhasil ngumpulin 148 orang. Berarti udah 98,67% target tercapai, keren banget kan?

Semoga kegiatan ini bermanfaat buat semua warga dan makin mempererat kebersamaan di sekitar gereja. Sampai jumpa di acara seru berikutnya.

Bincang Sehat Gereja St. Maria Bunda Allah

Minggu, 11 Mei 2025

Di era serba cepat ini, saat semua serba online dan sibuk mengejar target harian, ada satu hal penting yang sering terlupakan: ingatan itu sendiri. Mulai dari lupa naruh kunci, lupa bawa dompet, sampai lupa kenapa tadi berdiri depan kulkas—banyak dari kita yang menganggap itu hal biasa. Tapi… benarkah semua itu cuma “pelupa wajar”?

Hari ini, Tim Pelayanan Kesehatan Gereja St. Maria Bunda Allah di bawah naungan Bidang Kemasyarakatan, mengajak kita untuk tidak lagi menyepelekan gejala tersebut lewat acara Bincang Sehat dengan tema:
“Pentingnya Deteksi Dini Dimensia atau Pikun.”

Karena dimensia bukan sekadar bagian dari proses menua. Ia adalah kondisi serius yang memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, berkomunikasi, bahkan melakukan aktivitas sehari-hari. Dan justru karena itu, deteksi dini sangat penting—agar kita bisa menyiapkan perawatan, pendampingan, dan dukungan yang terbaik sejak awal.


Acara ini dipandu oleh sosok berpengalaman dan komunikatif, dr. Tri Djoko Endro Susilo, SpPK, yang akan menjadi moderator dalam menggali informasi dari narasumber utama kita : dr. Lothar Matheus M. V., Sp.N., seorang dokter spesialis Neurologi dari RS. Siloam yang membagikan pengetahuan, pengalaman, sekaligus tips-tips penting dalam mengenali dan menghadapi dimensia dengan bijak dan penuh empati.

Yang membuat acara ini semakin istimewa adalah kehadiran teman-teman mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang tengah menyusun tugas akhir tentang keberagaman hidup beragama. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa ruang dialog antariman dan pendidikan bisa berjalan harmonis dan saling memperkaya.

Para peserta pun hadir dengan wajah cerah, hati yang senang, dan rasa penasaran yang tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan:
“Ini aku cuma pelupa atau perlu periksa?”
“Apa tanda-tanda awal dimensia?”
“Bagaimana cara merawat orang terdekat yang mulai mengalami penurunan daya ingat?”

Pertanyaan itu muncul bukan karena takut, tapi karena peduli. Karena sehat bukan hanya tentang bebas dari penyakit, tetapi juga tentang menjaga kejernihan pikiran, kualitas hidup, dan martabat di usia lanjut.

Dan hari ini, kita belajar bersama:
Bahwa mengingat itu bukan sekadar fungsi otak—tapi juga bagian dari jati diri, hubungan sosial, dan makna kehidupan itu sendiri.

Semoga setiap informasi hari ini menjadi berkat bagi kita semua, untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Tuhan memberkati.


materi bisa di download pada link dibawah ini.

Berkreasi Mengolah Camilan Sehat dari Pangan Lokal

Bumi Indonesia memiliki pangan lokal yang berlimpah. Berbekal kreativitas, sayur dan buah lokal juga dapat tersaji sebagai camilan modern kekinian yang sarat gizi dan kaya manfaat.

Tema ini menjadi inti pelatihan yang diselenggarakan Tim Pelayanan PSE Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) bekerja sama dengan Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FTB UAJY) pada Sabtu, 3 Mei 2025 di Gazebo GMBA.

Dalam pelatihan ini, lima dosen Jurusan Teknologi Pangan FTB UAJY bersama dua staf laboratorium dan tiga asisten mahasiswa berbagi ilmu kepada umat GMBA. Mereka mengajak peserta berkreasi mengolah pangan lokal menjadi empat jenis camilan yang sehat, bergizi, dan lezat.

Popping boba buah naga dan semangka

Resep boba racikan tim FTB UAJY ini memanfaatkan buah naga dan semangka sebagai pewarna alami sehingga menjadi minuman yang lebih sehat sekaligus bernutrisi bagi keluarga, terutama untuk anak-anak. Ternyata, proses membuatnya pun relatif mudah. Membentuk bobanya saja yang cukup menantang. Maksud hati mau menghasilkan boba bulat, eh, jadinya kecebong :p

Membuat boba dari buah naga
Boba cantik nan bergizi sudah siap

Kue bebek mandi dan labu mandi

Dari namanya, unik dan membuat penasaran, ya? Bahan utama pangan lokal dalam kreasi kedua ini antara lain labu kuning dan ubi ungu. Cita rasa Nusantara juga hadir dalam isiannya berupa kelapa parut, gula merah, dan daun pandan. Begitu pula fla yang “merendam” kue terbuat dari santan bercampur daun pandan.

“Labu dan ubi kaya serat. Selain itu juga bisa menjadi pengganti terigu untuk yang menghindari gluten,” jelas LM. Ekawati Purwijantiningsih, S.Si., M.Si, yang akrab disapa Bu Eka. FYI, Bu Eka pernah menjadi umat GMBA, tepatnya di Lingkungan YP, lho.

Bu Eka (paling depan) membimbing praktik kelompok kue mandi
Kue mandi ini terlalu gemas untuk disantap!

Bola-bola labu

Labu kuning kembali menjadi bintang utama di sajian camilan sehat ini. Kreasi ketiga ini mirip kroket kentang sehingga ibu-ibu peserta pun dalam waktu singkat sudah bisa menguasai pembuatannya. Bola labu bisa diisi sesuai selera, seperti cokelat batang, keju cheddar, keju mozarella, dan sebagainya.

Serius menyimak tips menggoreng bola labu
Ini bukan kroket, tapi bola labu lho ^^

Nugget dan kaki naga sehat

Kaki naga? Apakah harus pindah dimensi dulu untuk berburu naga ala Harry Potter? Rupanya, namanya saja yang “seram”. Bahannya mudah dibeli di mana saja karena tinggal mencampur daging ayam, telur, tepung terigu, dan tepung tapioka ditambah bumbu-bumbu menjadi adonan. Istimewanya, nugget dan kaki naga ala FTB UAJY ini tidak menggunakan pengawet dan penambah rasa sintetis. Beda dengan buatan pabrik, ya, Bundd….

Meracik bahan nugget dan kaki naga
Kaki naga yang lezat dan enggak ada seram-seramnya

Usai praktik, bahan pangan lokal pun bertransformasi menjadi camilan sehat sarat gizi. Tampilannya juga sangat menggugah selera. Tak heran, sebagian hasil praktik sudah mendarat di perut peserta sebelum sempat ditata cantik di piring saji >.<

“Kami jadi tambah ilmunya lewat pelatihan ini. Bisa untuk mengisi acara pertemuan di lingkungan dan PKK,” puji Ibu Sulasih Andreas dari Lingkungan Asisi.

Melihat respons yang sangat positif dari peserta, ucapan terima kasih kami haturkan kepada Tim FTB UAJY yang telah berbagi ilmu kepada umat GMBA melalui program pengabdian masyarakatnya. Pelatihan hari ini yang penuh suasana keakraban dan keceriaan, menjadi cermin jalinan sinergi indah antara Gereja dan dunia pendidikan.

Tim Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Jadi, tunggu apa lagi? Mari berkreasi hadirkan camilan sehat serta bergizi, dari pangan lokal Ibu Pertiwi tercinta.

Suatu Harapan Akan Kehangatan

You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂

Rm. Harto, Rm. Yadi, Rm. Rio, Rm. Bambang, Rm. Suhartono, Mgr. Blasius, Rm. Hartanto

Sejalan dengan Pertemuan 1 APP 2025: Menggali Semangat Dasar Gerakan APP, umat diajak untuk berbagi kasih dan perhatian sebagai bentuk pertobatan yang konkret—sebagaimana tertulis dalam 2 Korintus 9:6-15: “Memberi dengan sukacita membawa berkat,” umat Lingkungan St. Theresia, Stasi Maguwo melaksanakan kegiatan kunjungan Para Romo Sepuh di Domus Pacis, St. Petrus Banteng.

Kunjungan ini diisi dengan canda, tawa, dan obrolan yang hangat namun juga mendalam. Salah satu topik yang muncul adalah mengenai sakramen tobat, dan mengapa kita masih perlu mengaku dosa kepada romo. Rm. Bambang menjelaskan bahwa sakramen adalah puncak liturgi, di mana pengampunan dosa tidak hanya dimohon, tetapi diberikan secara nyata melalui tangan imam tertahbis. Pengakuan dosa kepada romo bukan formalitas, melainkan tindakan iman yang diiringi dengan niat sungguh untuk bertobat dan memperbaiki hidup.

Dalam suasana kekeluargaan tersebut, terselip pula suatu harapan dari para romo sepuh: agar semakin banyak umat yang berkenan berkunjung, agar mereka tidak merasa sendiri atau sepi dalam masa tua. Kehadiran umat, meskipun sebentar, membawa sukacita yang mendalam. Namun, mereka juga berpesan agar setiap kunjungan mengikuti aturan Domus Pacis, demi menjaga kesehatan dan kenyamanan bersama.

Romo Bambang mengingatkan bahwa hidup dalam iman berarti juga hidup dalam persekutuan kasih, manunggaling kawula mring Gusti, dan kasih itu salah satunya diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama, termasuk para gembala sepuh yang telah setia melayani Gereja. Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa perhatian kecil bisa menjadi berkat besar. Umat yang hadir pun pulang membawa semangat baru: untuk lebih peduli, lebih bersyukur, dan lebih bersukacita dalam berbagi kasih.

Terima kasih umat Lingkungan St. Theresia