Perayaan Ekaristi syukur HUT RI ke-80 di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo kali ini benar-benar beda vibes-nya. Soalnya, ada yang super spesial: ibu-ibu Stasi Maguwo kompak banget jadi petugas misa.
Dengan dresscode kebaya merah yang anggun dan penuh semangat, ditambah stiker merah putih di pipi yang bikin penampilan makin nasionalis, ibu-ibu tampil percaya diri melayani altar Tuhan. Aura kemerdekaan langsung kerasa sejak awal misa.
Mereka all out di berbagai tugas: koor yang bikin suasana meriah dengan nyanyian penuh semangat, among tamu yang menyambut umat dengan senyum hangat, kolekte dan persembahan yang berjalan rapi dan penuh syukur, sampai lektor yang membacakan sabda Tuhan dengan suara lantang dan penuh penghayatan. Nggak ada yang setengah-setengah, semuanya total demi pelayanan terbaik.
Yang bikin makin berkesan, pelayanan ini bukan cuma sekadar jadwal liturgi, tapi juga jadi wujud nyata semangat kemerdekaan. Lewat doa, lagu, dan kebersamaan, ibu-ibu Stasi Maguwo menunjukkan bahwa cinta tanah air bisa dihidupi dalam pelayanan sederhana, namun penuh makna.
Misa syukur pun jadi terasa khidmat sekaligus meriah. Ada nuansa syukur kepada Tuhan yang berpadu manis dengan semangat nasionalisme. Singkatnya, ibu-ibu Stasi Maguwo berhasil bikin misa ini nggak cuma jadi perayaan liturgi, tapi juga jadi pesta iman dan pesta kemerdekaan yang penuh warna
Malam tirakatan 17 Agustus menjadi salah satu tradisi yang terus dijaga oleh masyarakat Indonesia sebagai wujud syukur atas kemerdekaan bangsa. Tirakatan bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan untuk mendoakan para pahlawan, menumbuhkan semangat nasionalisme, serta mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, umat Katolik Stasi Maguwo turut serta mengambil bagian dalam acara tirakatan yang digelar di berbagai wilayah sekitar. Kehadiran umat Katolik kali ini bukan hanya sebagai tamu, tetapi juga berperan aktif dalam memeriahkan dan menyukseskan jalannya acara.
Acara tirakatan tersebar di berbagai titik wilayah, antara lain:
Ringinsari RW 49: umat Katolik hadir berbaur bersama warga dalam doa bersama dan acara kebersamaan.
Kradenan RT 011 RW 69: umat Katolik terlibat aktif sebagai dirigen paduan suara yang mengiringi jalannya acara, sekaligus bertugas di seksi dokumentasi untuk mengabadikan momen penting tirakatan.
Sambilegi Lor RT 01 dan 02 RW 53: umat Katolik GMBA dipercaya menjadi MC dan juga mengisi acara pesan dan kesan dari sesepuh, yang menambah kekhidmatan dan kehangatan suasana tirakatan.
Sambilegi Kidul RW 54: umat Katolik Stasi Maguwo mengisi acara dengan paduan suara umat Katolik, menghadirkan nuansa syukur yang indah dan menggugah semangat kebersamaan.
Sambilegi Lor RT 05 RW 55: umat Katolik berbaur bersama warga setempat, ikut mendukung jalannya acara dan mendoakan bangsa dengan penuh khidmat.
RW 40 Pasekan, Maguwoharjo: umat Katolik bersama warga berkumpul dalam suasana kekeluargaan, menyalakan semangat kebersamaan demi menjaga persatuan.
RW 33 RT 08, 09, dan 10 Tegalrejo Tapanrejo – Tajem – Maguwoharjo: umat Katolik berperan aktif dalam acara tirakatan, ikut menjaga semangat nasionalisme di tengah masyarakat.
Karang Ploso RT 04 RW 60: umat Katolik hadir mendukung jalannya acara, berbaur dengan masyarakat dalam doa dan kebersamaan.
Keterlibatan umat Katolik Stasi Maguwo dalam tirakatan ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan program garapan kebangsaan, kerjasama, dan sinergi Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Melalui program ini, umat diajak untuk menghadirkan Gereja yang terbuka, bersinergi dengan masyarakat, serta terlibat langsung dalam membangun persaudaraan kebangsaan.
Suasana tirakatan tahun ini sungguh menghadirkan rasa persatuan tanpa sekat. Doa dan renungan bersama, kesaksian para sesepuh, serta lantunan lagu-lagu kebangsaan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika benar-benar terasa hidup di tengah warga.
Dengan hati penuh syukur dan semangat kebersamaan, umat Katolik Stasi Maguwo bersama masyarakat sekitar meneguhkan kembali bahwa kemerdekaan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk terus diperjuangkan dan dihayati. Persatuan, gotong royong, serta cinta tanah air menjadi roh yang menyertai perjalanan bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
Hari Minggu, 9 Agustus 2025, pengurus Misdinar Maguwo mengadakan pertemuan perdana nihh dengan angkatan Komuni Pertama angkatan 2025 yang akan segera di lantik menjadi anggota Misdinar.
Pertama, kita melakukan registrasi. Setelah registrasi, kita mulai dengan sambutan dari Kak Yohanes Theo Widodo sebagai ketua Misdinar yang kece dan keren.. Selanjutnya disambut oleh Bapak Agung selaku Ketua Dewan Stasi. Yang terakhir kita ada sambutan dari Ketua Bidang Liturgi yaitu Ibu Ita Rinawati dan dilanjutkan dengan materi singkat tentang liturgi di gereja. Sebagai pengurus, tentu kita juga perkenalan dongg karena ada pepatah tak kenal maka tak sayang
Setelah itu karena masih fresh nih yaa, jadinya kita adakan foto bersama duluu yeyy… lalu di lanjut dengan perkenalan alat misa bersama kak Valent dan kak Ganes. Ternyata pada excited untuk nyoba dan menghapal nihhh, kerenn sihhh!!!
Untuk menguji daya ingat, kita melakukan games yaitu “Remember Me” dengan kak Marlin yang menjadi koordinator games. Games hanya diberikan waktu sekitar 15 menit untuk menyelesaikan. Ternyata ga di sangka sangka, jawaban mereka bener semuaaa lhooo!! keren banget yaa. Setelah itu kita ada pembagian hadian tapi bukan berdasarkan juara, tetapi sebagai apresiasi pengurus kepada calon Misdinar angkatan 25. Yang terakhir, ada tuker kado silangg nihhh, seru banget kado nya di rollingg dan akhirnya sayonara.
Minggu, 10 Agustus 2025, dua perwakilan Orang Muda Katolik (OMK) Maguwo—Dominic Atta dan Galang Tetasjuang—mengikuti kegiatan Pembekalan Orang Muda Peduli Lansia yang diadakan di Gereja Paroki St. Alfonsus de Liguori, Nandan. Acara ini merupakan program Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur yang mengajak kaum muda untuk lebih peka, peduli, dan terlibat dalam pelayanan bagi para lansia di lingkungan Gereja.
Sejak pagi, peserta yang hadir langsung disambut hangat dan diberi snack untuk dinikmati sebelum acara dimulai. Tepat pukul 10.00 WIB, kegiatan dibuka oleh Romo Suparman. Setelah itu, Ibu Yulianti menyampaikan materi inspiratif yang mengajak orang muda untuk memahami peran penting mereka dalam merawat, menghormati, dan mengasihi lansia—baik dalam keluarga maupun kehidupan menggereja.
Memasuki sesi interaktif, peserta dibagi menjadi kelompok dan diajak bermain team building: menyusun puzzle bergambar gereja. Pada percobaan pertama, komunikasi dilarang—hasilnya puzzle tak juga jadi. Saat percobaan diulang dengan komunikasi diizinkan, puzzle langsung tersusun rapi, menjadi pelajaran nyata bahwa kerja sama dan komunikasi adalah kunci keberhasilan.
Setelah itu, tiap kelompok berdiskusi untuk merumuskan aksi nyata yang bisa dilakukan di paroki masing-masing demi meningkatkan kepedulian kepada lansia. Beberapa ide yang muncul antara lain kunjungan rutin, misa khusus lansia, senam sehat bersama, membantu mengantar ke gereja, hingga membiasakan menyapa dan memberi salam penuh kehangatan.
Anak-anak muda menunjukkan antusiasme luar biasa saat mempresentasikan hasil diskusi. Semua kelompok tampil percaya diri, termasuk Dominic Atta dan Galang Tetasjuang sebagai wakil OMK Maguwo.
Acara diakhiri pada pukul 13.00 WIB dengan doa penutup yang dipimpin kembali oleh Romo Suparman. Setelah itu, seluruh peserta menikmati makan siang bersama, mempererat kebersamaan yang telah terjalin sepanjang hari.
Pembekalan ini diharapkan menjadi pemicu semangat bagi orang muda untuk membawa kasih dalam tindakan nyata, sehingga hidup menjadi lebih bermanfaat—seperti semangat tema kegiatan: “Berteman Yuuk!!! Supaya hidup lebih bermanfaat”
Di penghujung acara, Romo juga berpesan agar OMK berkomitmen melaksanakan apa yang telah didiskusikan dengan bekerja sama atau bersinergi dengan Tim Pelayanan PIUL. Dengan demikian, keterlibatan OMK dalam mendukung para lansia di paroki akan semakin nyata dan terasa manfaatnya bagi seluruh umat.
Refleksi & Diskusi Lingkungan Yohanes Pembaptis – 7 Agustus 2025
Kamis malam, 7 Agustus 2025, keluarga-keluarga Lingkungan Yohanes Pembaptis berkumpul dalam suasana hangat dan penuh persaudaraan di rumah bapak Hardjito. Pertemuan kali ini mengangkat tema “Keluarga menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan dan semangat kerasulan“ yang mengajak umat merenungkan kembali makna janji perkawinan Katolik dan mengaitkannya dengan semangat Katakese Kebangsaan.
Diskusi diawali dengan pengingat bahwa janji perkawinan bukan hanya ikrar untuk saling setia, tetapi juga komitmen mendidik anak secara Katolik, membangun keluarga sebagai “Gereja mini”, dan menumbuhkan iman di rumah. Dari rumah yang beriman inilah lahir pribadi-pribadi yang siap melayani Gereja dan masyarakat.
Poin-poin penting yang dibahas meliputi:
Menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan dalam keluarga melalui doa bersama, misa, Kitab Suci, dan perayaan hari raya Gereja.
Semangat kerasulan — menjadi pewarta kasih Kristus melalui tindakan nyata di lingkungan, baik di Gereja maupun masyarakat luas.
Budaya srawung — perjumpaan interpersonal yang membangun persaudaraan dengan sesama umat dan masyarakat lintas agama, sebagai wujud nyata Katakese Kebangsaan.
Keterkaitan iman dan kebangsaan — keluarga Katolik bukan hanya membentuk anak beriman, tetapi juga warga negara yang menjunjung toleransi, menghargai keberagaman, dan peduli pada keadilan sosial.
Tantangan dan solusinya — mulai dari kesibukan, perbedaan pola didik, pengaruh lingkungan, hingga konflik rumah tangga; diatasi dengan komunikasi yang baik, pembiasaan doa, keterlibatan dalam komunitas, dan saling menguatkan dalam Tuhan.
Dalam suasana diskusi, umat saling berbagi pengalaman tentang bagaimana iman Katolik yang hidup dapat menyatu dengan semangat kebangsaan. Seorang peserta menegaskan, “Kalau kita mau anak-anak kita jadi Katolik yang baik, mereka juga harus jadi warga negara yang baik. Iman dan cinta tanah air itu sejalan.”
Pertemuan ditutup dengan doa pengharapan, memohon agar Tuhan memberi kekuatan untuk setia pada janji perkawinan, mendidik anak dalam iman, serta menjadi keluarga yang membawa terang bagi Gereja dan bangsa.
National Catechesis Month – Families that Nurture and Hand Down Catholic Faith and the Apostolic Spirit
Reflection & Discussion – St. John the Baptist Community Gathering, August 7, 2025
On Thursday evening, August 7, 2025, the families of the St. John the Baptist Community gathered in a warm and fraternal atmosphere at the home of Mr. Hardjito. This meeting carried the theme “Families Nurturing and Preserving Catholicism and the Spirit of Apostleship”, inviting the faithful to reflect once again on the meaning of the Catholic marriage vows and to connect it with the spirit of National Catechesis.
The discussion began with a reminder that the marriage vow is not merely a pledge to remain faithful to one another, but also a lifelong commitment to raise children in the Catholic faith, to build the family as a “domestic church,” and to nurture faith at home. From such faith-filled homes emerge individuals ready to serve both the Church and society.
Key points discussed included:
Nurturing and preserving Catholic traditions in the family through regular prayer, attending Mass together, reading Scripture, and celebrating the liturgical feasts at home.
The spirit of apostleship — being witnesses of Christ’s love through concrete actions in both Church and community life.
The culture of srawung — interpersonal encounters that foster fellowship with fellow Catholics and people of other faiths, as a living expression of National Catechesis.
The connection between faith and patriotism — a Catholic family not only forms children in faith but also as responsible citizens who value tolerance, respect diversity, and care for social justice.
Challenges and solutions — from busy schedules, different parenting styles, outside influences, to family conflicts; these can be overcome through open communication, regular prayer, active involvement in the community, and mutual encouragement in the Lord.
During the discussion, participants shared real-life experiences on how a living Catholic faith can be united with a spirit of patriotism. One participant affirmed, “If we want our children to be good Catholics, they must also be good citizens. Faith and love for the nation go hand in hand.”
The gathering concluded with a prayer of hope, asking God for strength to remain faithful to marriage vows, to raise children in faith, and to be families that bring light to both the Church and the nation.
“From faithful Catholic families come citizens of faith, compassion, and readiness to serve.”
Sakramen Baptis adalah gerbang utama menuju kehidupan Kristiani dalam Gereja Katolik. Melalui baptisan, seseorang dibersihkan dari dosa asal dan menjadi anggota resmi dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja. Sakramen ini bukan sekadar upacara simbolis, melainkan sebuah peristiwa rohani yang mendalam, di mana Allah sendiri menyentuh dan menguduskan hidup seseorang.
Dalam tradisi Katolik, baptisan biasanya diberikan kepada bayi, sebagai tanda bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang mendahului usaha manusia. Namun, orang dewasa yang belum dibaptis juga dapat menerima sakramen ini setelah menjalani masa katekumenat, yaitu masa persiapan dan pendalaman iman. Air yang dicurahkan ke atas kepala atau dengan cara pencelupan menjadi lambang pembersihan rohani, sekaligus tanda kehidupan baru dalam Kristus.
Baptis juga menyatukan kita dengan misteri wafat dan kebangkitan Kristus. Melalui baptisan, kita mati terhadap dosa dan bangkit menjadi ciptaan baru. Oleh karena itu, setelah dibaptis, seseorang dipanggil untuk hidup dalam terang Kristus, menjadi murid yang setia, serta terlibat dalam kehidupan Gereja dan masyarakat dengan kasih, pengharapan, dan iman.
Sakramen ini menunjukkan kasih Allah yang tak terbatas, yang menyambut setiap orang tanpa syarat. Dalam keluarga Katolik, momen baptisan menjadi saat sukacita dan harapan, ketika seorang anak atau orang dewasa diterima secara penuh dalam komunitas iman, siap untuk berjalan bersama Kristus sepanjang hidupnya.
Baptis bayi di Minggu I bulan Agustus 2025 ini diterimakan oleh romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Selamat menjadi anggota gereja Katolik anak Francis Rivaille Risardi, bertumbuhlah dalam iman akan Yesus Kristus.
Bukan sekedar panggilan, namun menjadi ajang yang seru dan pendorong agar semakin dekat dengan Yesus melalui firman-Nya. Siapa bilang membaca Kitab Suci itu susah?? baca Kitab Suci mudah asal membaca dengan sepenuh hati yaaa
Hari Minggu, 27 Juli 2025, tim Lektor GMBA mengadakan lomba Lektor lhooo. Lomba ini di ikuti oleh 25 peserta dengan 2 kategori yaitu kategori dewasa dan kategori remaja serta 3 dewan juri yaitu Bapak Ignatius Sunaryo, Suster Bernadeta Nunur, RMI, dan Ibu A. Eddayari Yuliantiningsih.
It’s not just a simple calling — it’s an exciting moment and a great push to get closer to Jesus through His Word. Who says reading the Bible is hard?? It’s not difficult if you read it wholeheartedly!
On Sunday, July 27, 2025, the GMBA Lectors Team held a Lector Competition! This event was joined by 25 participants in two categories: adult and youth. The competition was judged by three esteemed jury members: Mr. Ignatius Sunaryo, Sister Bernadeta Nunur, RMI, and Ms. A. Eddayari Yuliantiningsih.
Sebelum lomba di mulai, ada sambutan dari Bapak Yohanes Agung Prasetya selaku Ketua Dewan Stasi dan Mbak Caroline Denis Noverly sebagai Ketua Lomba Lektor kali ini. Lalu ada peraturan yang dijelaskan oleh Ibu Vera dan di bantu dengan Tian untuk teknis lomba Lektor. Lomba ini juga di selingi oleh ice breaking dengan menggunakan gerak dan lagu “Happy ya ya ya”, “KASIH” dan “Aku Cinta Yesus” dengan penuh antusias dan agar tidak ngantuk xixixixiii…
Before the competition began, opening remarks were delivered by Mr. Yohanes Agung Prasetya as the Head of the Stasi Council, and Miss Caroline Denis Noverly as the Head of the Competition. The rules were then explained by Mrs. Vera, assisted by Tian who handled the technical side of the competition. The event also featured some fun ice-breaking activities with action songs like “Happy Ya Ya Ya,” “KASIH,” and “Aku Cinta Yesus” — full of enthusiasm and perfect to keep everyone awake and energized, xixixixiii…
Bacaan yang dibacakan dipilih random dengan mengambil 1 kertas yang berisikan 1 pilihan acak dari 3 pilihan bacaan. Lomba Lektor berjalan dengan lancar dan tentunya para peserta memiliki suara dan gaya membaca yang unik dan beragam lhoo… keren keren deh pokoknyaa!! Setelah semua selesai membaca kita adakan sesi foto peserta sebagai kenang kenangan dan apresiasi karena sudah mengikuti lomba dengan baikk.
Each reading passage was chosen randomly by drawing one slip of paper containing one of three possible Scripture readings. The competition ran smoothly, and each participant showcased their own unique voice and reading style — it was super impressive all around!
After all participants had read, we had a photo session to commemorate the moment and to appreciate everyone for joining the competition wholeheartedly.
hohohooo akhirnya waktu yang di tunggu tunggu yaitu makan sianggg sambil nunggu juri selesai menilai karena proses penilaian cukup lama. Makan siang kali ini dengan soto yang enakk.
Hohohooo, finally the moment everyone had been waiting for — lunchtime! While waiting for the judges to finalize their scores (which took quite a while), we enjoyed a delicious bowl of soto. Yum…
Selesai makan, akhirnya pengumuman juara nihhh, pengumuman juara dibacakan oleh dewan juri yaitu Bapak Sunaryo. Juri mengambil 3 pemenang dengan kategori dewasa dan 3 pemenang dari kategori remaja. Pemenang Kategori Dewasa : juara 1 : Sisilia Maria Magdalena linkungan Paulus Juara 2 : Paulus Supit lingkungan Gregorius Juara 3 : Maria Septia Lingkungan Petrus
Pemenang Kategori Remaja Juara 1 : Benecdito Deva lingkungan Bartholomeus Juara 2 : Eufrasia Lauda lingkungan Fransiskus Asisi Juara 3 : Joachim Nuansa lingkungan Maria Assumpta
After lunch, it was time to announce the winners! The results were read out by the jury, Mr. Sunaryo. There were three winners selected in each category.
Adult Category Winners:
Sisilia Maria Magdalena (Paulus community)
Paulus Supit (Gregorius community)
Maria Septia (Petrus community)
Youth Category Winners:
Benecdito Deva (Bartholomeus community)
Eufrasia Lauda (Francis of Assisi community)
Joachim Nuansa (Maria Assumpta community)
Selamat yaa untuk para pemenang!!! Untuk yang belum menang jangan berkecil hati yaa, tetap semangat melayani Tuhan dengan sepenuh hati.
Sampai Jumpa di Lomba Lektor selanjunyaa Tuhan memberkati bye byeee
Congratulations to all the winners!!! For those who didn’t win this time, don’t be discouraged — keep serving the Lord with all your heart.
See you at the next Lector Competition! God bless you all. Bye byeeee……
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kasih, karena atas rahmat dan penyelenggaraan-Nya, Timpel PIOD ( Pendamping Iman Orang Dewasa ) GMBA, dibawah Bidang Pewarta melaksanakan kegiatan Sarasehan Keluarga Stasi Santa Maria Bunda Allah – Maguwo dapat terselenggara dengan penuh sukacita dan kekeluargaan pada hari Sabtu, 26 Juli 2025, bertempat di Erista Garden, Pakem.
Acara ini mengambil tema yang sangat relevan dan menyentuh, yaitu: “Taman Eden di Rumah: Menciptakan Surga Kecil dalam Keluarga Katolik”. Sebuah tema yang tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi seluruh umat, bahwa keluarga adalah ladang pertama dan utama dalam menanam, menumbuhkan, serta merawat cinta kasih Kristiani.
Sarasehan ini dihadiri oleh para keluarga dari berbagai lingkungan di Stasi Maguwo, dengan suasana yang hangat, penuh semangat, dan kebersamaan yang terasa sangat kental. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang refleksi, tetapi juga menjadi sarana rekreasi rohani bersama keluarga tercinta, di tengah padatnya rutinitas dan tantangan zaman.
Kami merasa sangat diberkati karena pada kesempatan ini, hadir dua narasumber luar biasa yang memberikan pencerahan dan motivasi mendalam.
Romo Dr. Ag. Tri Edi Warsono, Pr., seorang imam dan akademisi yang memberikan refleksi teologis yang sangat menyentuh tentang makna keluarga sebagai “Gambaran Taman Eden” masa kini—sebuah tempat di mana cinta Allah dinyatakan dan dihidupi secara nyata.
Ibu F. Netty Kuswandari, S.Pd., M.Si., seorang pendidik sekaligus praktisi keluarga, yang membagikan banyak tips dan pengalaman praktis mengenai bagaimana menciptakan suasana rumah yang penuh kasih, komunikasi yang sehat, serta membina relasi yang harmonis antara suami, istri, dan anak-anak dalam terang iman Katolik.
Kegiatan ini dibalut dengan berbagai sesi interaktif seperti diskusi kelompok, tanya jawab, sharing pengalaman antar keluarga, serta games ringan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Semua itu mempererat rasa persaudaraan dan meneguhkan kembali komitmen umat untuk menjadikan keluarga sebagai “Gereja Mini” yang hidup, berkembang, dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.
Tak lupa, keindahan alam Erista Garden yang sejuk dan menenangkan menjadi pelengkap sempurna bagi acara ini. Alam yang terbuka mengajak setiap peserta untuk kembali merefleksikan keindahan ciptaan Tuhan, serta mengingatkan bahwa keharmonisan dalam keluarga pun adalah bagian dari kehendak Allah untuk menciptakan dunia yang lebih baik, dimulai dari rumah.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber, seluruh panitia, para peserta, serta semua pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan ini. Semoga sarasehan ini membawa buah yang nyata dalam kehidupan keluarga-keluarga Katolik, dan menjadi benih bagi tumbuhnya keluarga-keluarga kudus yang diberkati dan menjadi berkat.
Stasi Santa Maria Bunda Allah – Maguwo “Bersama Keluarga, Membangun Surga Kecil di Dunia”
Minggu, 20 Juli 2025, hembusan angin sejuk dan semilir aroma dedaunan di Erista Garden, Pakem, Sleman, menjadi saksi sebuah perjalanan batin para pengurus harian Dewan Pastoral Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Di tengah kesibukan dan dinamika pelayanan, mereka berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan dan harapan untuk mengikuti kegiatan Pembekalan Spiritualitas Pelayanan.
On Sunday, July 20, 2025, the cool breeze and gentle scent of leaves at Erista Garden, Pakem, Sleman, bore witness to a spiritual journey taken by the daily board members of the Pastoral Council of Santa Maria Bunda Allah Maguwo Station. Amid the busyness and challenges of ministry, they gathered in an atmosphere of gladness and hope to participate in the Spirituality Formation for Service program.
Lebih dari sekadar acara formal, kegiatan ini menjadi ruang kontemplasi bagi para pelayan Gereja untuk kembali menengok makna terdalam dari panggilan mereka: melayani bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan hati yang tulus dan penuh kasih.
More than a formal gathering, the event became a space of contemplation for the Church servants to revisit the deepest meaning of their calling: to serve not only with their hands, but with hearts filled with sincerity and love.
Dipandu oleh Ibu F. Netty Kuswandari, S.Pd., M.Si., para peserta diajak menyelami sesi pertama yang membuka cakrawala batin tentang pertumbuhan pribadi dalam pelayanan. Dengan pendekatan yang hangat dan menyentuh, beliau menyampaikan bahwa menjadi pelayan Tuhan bukanlah tentang kesempurnaan, tetapi tentang kesetiaan dalam setiap hal kecil. Tangis haru dan senyuman muncul silih berganti—sebuah tanda bahwa hati-hati ini tersentuh.
Guided by Mrs. F. Netty Kuswandari, S.Pd., M.Si., the participants were invited to delve into the first session, which opened their hearts to the inner journey of personal growth in service. With warmth and compassion, she conveyed that being a servant of God is not about perfection, but about faithfulness in every little thing. Tears and smiles flowed in turn—a sign that these hearts were being touched.
Suasana kemudian berubah menjadi lebih ringan namun tetap bermakna dalam sesi bersama GMBA Joyful Team. Melalui gerak, tawa, dan refleksi sederhana, mereka diingatkan bahwa sukacita adalah bagian tak terpisahkan dari pelayanan. Kelelahan bisa datang, tetapi hati yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk tetap berjalan.
The atmosphere then shifted into something lighter yet still meaningful during the session with the GMBA Joyful Team. Through movement, laughter, and simple reflection, they were reminded that joy is an inseparable part of ministry. Fatigue may come, but a grateful heart will always find a reason to keep going.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan sistematis mengenai mekanisme dan jadwal pemilihan Ketua Stasi, Ketua Wilayah, serta Ketua Lingkungan. Di tengah transisi zaman dan tantangan regenerasi, sesi ini menjadi momentum penting untuk memastikan bahwa tongkat estafet pelayanan diteruskan kepada pribadi-pribadi yang siap dan layak.
The program continued with a systematic explanation of the mechanisms and timeline for the upcoming elections of the Station Head, Regional Heads, and Neighborhood Heads. Amidst generational transitions and challenges in regeneration, this session became a vital moment to ensure that the torch of service would be passed on to capable and ready hands.
Di penghujung acara, dalam suasana yang semakin hening dan sakral, Romo Ant. Dadang Hermawan, Pr., memberikan penguatan rohani dan pengutusan. Dalam doa dan berkat yang disampaikan, setiap peserta seakan diingatkan kembali pada akar panggilan mereka—bahwa pelayanan adalah bagian dari perutusan Kristus, dan setiap langkah kecil yang diambil dalam kasih akan membawa dampak besar bagi umat.
As the event neared its end, in an atmosphere growing increasingly solemn and sacred, Romo Ant. Dadang Hermawan, Pr., offered spiritual strengthening and a sending forth. Through his prayers and blessings, each participant was reminded of their true calling—that ministry is part of Christ’s mission, and every small act done in love can bring profound impact to the faithful.