KOMSOS GMBA di Pekan Suci 2025: Diam-diam Sibuk, Diam-diam Berdampak

Di balik megahnya perayaan Pekan Suci 2025 di Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo, ada satu tim yang diam-diam sibuk, diam-diam berdampak besar: tim Komunikasi Sosial (KOMSOS).
Mereka adalah “pasukan senyap” yang memastikan setiap momen suci tidak hanya berlangsung khusyuk di tempat, tapi juga bisa dinikmati umat yang berhalangan hadir melalui tayangan, dokumentasi, dan media sosial.

Saat umat berarak di Minggu Palma, saat altar bersinar di Kamis Putih, saat lilin-lilin kecil bersinar di Vigili Paskah, hingga saat sukacita Paskah bergema—tim KOMSOS selalu ada, mengabadikan setiap detik penuh makna itu.

Mereka bekerja di balik layar, tapi hasilnya nyata. Mulai dari foto-foto penuh haru, video dokumentasi yang menyentuh hati, hingga update berita kegiatan yang menghangatkan dunia maya umat GMBA. Semua dilakukan dengan semangat pelayanan, penuh sukacita, meski kadang harus rela skip duduk nyaman di bangku gereja, demi pegang kamera

Tak jarang, saat umat sedang khusyuk berdoa, tim KOMSOS malah sibuk cari sudut terbaik—kadang jongkok, kadang berdiri di ujung tangga—demi satu jepretan yang bercerita lebih dari seribu kata.

Terima kasih untuk seluruh pejuang KOMSOS GMBA yang setia melayani dalam diam.
Karya kalian tak hanya memenuhi ruang media, tapi juga mengetuk hati banyak orang.
Semangat terus, tetap kreatif, tetap rendah hati. Karena dalam setiap klik, setiap rekaman, setiap postingan, kalian sedang mewartakan kasih Tuhan dengan cara yang unik dan penuh berkat

Suatu Harapan Akan Kehangatan

You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂

Rm. Harto, Rm. Yadi, Rm. Rio, Rm. Bambang, Rm. Suhartono, Mgr. Blasius, Rm. Hartanto

Sejalan dengan Pertemuan 1 APP 2025: Menggali Semangat Dasar Gerakan APP, umat diajak untuk berbagi kasih dan perhatian sebagai bentuk pertobatan yang konkret—sebagaimana tertulis dalam 2 Korintus 9:6-15: “Memberi dengan sukacita membawa berkat,” umat Lingkungan St. Theresia, Stasi Maguwo melaksanakan kegiatan kunjungan Para Romo Sepuh di Domus Pacis, St. Petrus Banteng.

Kunjungan ini diisi dengan canda, tawa, dan obrolan yang hangat namun juga mendalam. Salah satu topik yang muncul adalah mengenai sakramen tobat, dan mengapa kita masih perlu mengaku dosa kepada romo. Rm. Bambang menjelaskan bahwa sakramen adalah puncak liturgi, di mana pengampunan dosa tidak hanya dimohon, tetapi diberikan secara nyata melalui tangan imam tertahbis. Pengakuan dosa kepada romo bukan formalitas, melainkan tindakan iman yang diiringi dengan niat sungguh untuk bertobat dan memperbaiki hidup.

Dalam suasana kekeluargaan tersebut, terselip pula suatu harapan dari para romo sepuh: agar semakin banyak umat yang berkenan berkunjung, agar mereka tidak merasa sendiri atau sepi dalam masa tua. Kehadiran umat, meskipun sebentar, membawa sukacita yang mendalam. Namun, mereka juga berpesan agar setiap kunjungan mengikuti aturan Domus Pacis, demi menjaga kesehatan dan kenyamanan bersama.

Romo Bambang mengingatkan bahwa hidup dalam iman berarti juga hidup dalam persekutuan kasih, manunggaling kawula mring Gusti, dan kasih itu salah satunya diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama, termasuk para gembala sepuh yang telah setia melayani Gereja. Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa perhatian kecil bisa menjadi berkat besar. Umat yang hadir pun pulang membawa semangat baru: untuk lebih peduli, lebih bersyukur, dan lebih bersukacita dalam berbagi kasih.

Terima kasih umat Lingkungan St. Theresia

Pelayan Keindahan di Balik Altar: Tim Tata Bunga GMBA

Di balik altar yang selalu tampak anggun dan menawan, tersembunyi tangan-tangan terampil yang bekerja dengan hati—Tim Tata Bunga Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo. Mereka bukan hanya sekadar menyusun bunga. Mereka adalah seniman rohani yang setiap pekan menghadirkan keindahan sebagai ungkapan cinta dan hormat kepada Tuhan.

Dengan penuh kesabaran dan kreativitas, tim ini merangkai bunga-bunga segar, memilih warna-warna yang sesuai dengan kalender liturgi, dan menata dengan harmoni agar setiap umat yang datang merasakan damai dan kekhusyukan begitu memasuki gereja. Mulai dari misa harian, mingguan, sampai perayaan besar seperti Natal, Paskah, dan Hari Raya lainnya—Tim Tata Bunga selalu hadir, diam-diam tapi berdampak besar.

Yang bikin kagum, mereka nggak hanya datang, hias, terus pulang. Tapi benar-benar merencanakan, berdiskusi, bahkan kadang menanam sendiri bunga-bunga yang akan digunakan. Semangat gotong royong, kekompakan, dan sukacita selalu mewarnai setiap pertemuan mereka. Tak jarang, gelak tawa dan cerita lucu ikut menghiasi proses merangkai bunga—karena bagi mereka, ini bukan tugas, tapi pelayanan penuh cinta.

Terima kasih untuk semua anggota tim Tata Bunga GMBA yang selalu setia menjaga keindahan rumah Tuhan. Dalam senyap kalian bekerja, namun karya kalian begitu terasa. Semoga Tuhan membalas dengan berkat yang melimpah dan sukacita yang tak habis-habis.

Keindahan bunga di altar adalah pantulan keindahan hati kalian. Teruslah berkarya, teruslah melayani. Gereja kita terasa lebih hidup karena kalian ada.

terima kasih untuk ibu Valentina Isti Rudati sebagai koordinator tim tata bunga GMBA dan semua tim tata bunga dari lingkungan yang sudah membuat Gereja St Maria Bunda Allah menjadi indah di setiap perayaan Ekaristi

Bunga melati harum mewangi,
Disusun rapi di atas altar.
Tangan terampil bekerja sunyi,
Namun hasilnya sungguh mempesona dan segar!

Kerja di gereja bukan soal gaji,
Tapi soal hati yang mau melayani.
Tim tata bunga keren sekali,
Bikin suasana misa jadi lebih berseri

Misa Requiem untuk Bapa Paus Fransiskus: Doa dan Cinta dari Maguwo

 

Dalam suasana duka yang penuh haru dan rasa syukur, umat Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul dalam Misa Requiem untuk Paus Fransiskus, pada hari ini, Rabu, 23 April 2025, yang disiarkan langsung dari Katedral Semarang dan dipimpin oleh Bapa Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Misa live streaming ini dimulai pukul 18.00 WIB dan berlangsung hingga selesai, diikuti dengan penuh khidmat oleh 415 umat yang hadir secara langsung di gereja. Dalam keheningan dan doa, umat mengenang sosok gembala agung yang telah memberi hidupnya sepenuhnya bagi Gereja dan dunia.

 

Malam ini, dari Maguwo yang kecil, kami mengirimkan cinta yang besar kepada surga.

Selamat jalan Bapa Suci kami, Paus Fransiskus.

Engkau telah mengajarkan kami arti belas kasih,
menunjukkan bagaimana Gereja bisa menjadi rumah yang ramah,
dan meyakinkan bahwa Tuhan senantiasa lebih besar dari segala dosa dan kelemahan kami.

Engkau kini telah kembali ke pelukan Sang Bapa,
namun inspirasimu tetap hidup dalam hati kami—
dalam doa, dalam pelayanan, dan dalam cara kami mencintai sesama.

Terima kasih, Bapa Paus. Sampai jumpa di surga.

Misa ini bukan hanya menjadi penghormatan, tetapi juga sebuah pengingat bahwa kasih dan keteladanan Bapa Paus Fransiskus akan terus hidup di hati kita.


Selamat jalan, Bapa Paus.
Engkau telah menunjukkan kepada kami bahwa menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan, bahwa kasih Tuhan itu nyata dalam tindakan kecil yang penuh makna. Doakan kami dari surga, agar kami pun setia berjalan dalam terang Kristus seperti engkau telah melakukannya.



terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras demi kelancaran misa ini:

Tim Tata Bunga yang sigap dan penuh kreativitas menghias altar dengan indah dan elegan,
Tim Paramenta yang mempersiapkan perlengkapan liturgi dengan penuh ketelitian,
Tim Video Monitor dan Tim Soundsystem yang memastikan kelancaran visual dan audio selama misa berlangsung,
Prodiakon yang setia melayani umat di altar,
Dan seluruh umat serta para petugas yang terlibat dari balik layar—tanpa sorotan, tapi berjasa besar dalam menghadirkan suasana yang layak bagi penghormatan terakhir untuk Paus tercinta.



 

Silaturahmi Lintas Iman: Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Kunjungi Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo

Maguwo, Sabtu 19 April 2025 — Suasana halaman gereja pagi ini terasa berbeda. Senyum hangat, sapaan akrab, dan semangat kebersamaan lintas keyakinan memenuhi udara saat mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta datang bersilaturahmi ke Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo.

Kedatangan mereka disambut langsung oleh para pengurus stasi, antara lain: Ketua Stasi Bapak Agung Prasetyo, Kabid Kemasyarakatan Bapak Al Bagio. M, Koordinator PAMDAL Bapak Antonius Sumaryono, Bendahara Stasi sekaligus Ketua KWT Ibu Sri Harnani, Sekretaris Stasi Ibu Elisabet Amy, serta Ibu Nurul, yang juga merupakan dosen di UIN Sunan Kalijaga.

Dalam suasana santai dan penuh rasa ingin tahu, para mahasiswa berbincang dengan para pengurus stasi, mengajukan berbagai pertanyaan seputar kehidupan umat Katolik, ajaran dasar Gereja Katolik, praktik toleransi, serta hubungan erat antara gereja dan masyarakat sekitar. Salah satu yang menarik perhatian adalah kisah tentang “PARJO” (Parkir Gerejo)—sebuah kolaborasi nyata antara gereja dan warga sekitar dalam pengelolaan parkir yang menjadi model hidup berdampingan yang harmonis.

Tak hanya berbincang, para mahasiswa juga diajak berkeliling kompleks gereja, melihat secara langsung ruang-ruang pelayanan dan persiapan perayaan Paskah 2025 yang sedang dilakukan. Mereka menyaksikan altar yang dihias, petugas liturgi yang berlatih, dan berbagai aktivitas lain yang menyiapkan gereja menyambut puncak sukacita iman.

Kunjungan ini menjadi bagian dari tugas akademik mereka, sekaligus pengalaman berharga dalam membangun pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan umat beragama di Indonesia. Dialog lintas iman yang terjadi hari ini membuktikan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk saling belajar, menghargai, dan membangun kedamaian bersama.

Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atas kunjungan dan semangat belajarnya. Semoga momen ini menjadi benih persaudaraan sejati dalam keberagaman bangsa kita.


PAMDAL Stasi Maguwo: Di Balik Layar, Mereka Selalu Siaga

 

 

Ketika umat datang ke gereja dengan hati tenang dan nyaman, sering kali ada sekelompok orang orang yang diam-diam sudah lebih dulu bersiap. Mereka bukan imam, bukan petugas liturgi, dan bukan pula koor. Namun tanpa kehadiran mereka, rasa aman bisa jadi hilang, dan kekhidmatan misa bisa terganggu. Mereka adalah PAMDAL Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo—para penjaga ketertiban yang bekerja dalam diam, tapi berdampak besar.

Di bawah komando Bapak Antonius Sumaryono, tim PAMDAL terdiri dari para pria tangguh dan berdedikasi tinggi yang berasal dari berbagai lingkungan di Stasi. Mereka adalah umat biasa yang terpanggil untuk mengambil peran luar biasa: menjaga keamanan dan kelancaran setiap kegiatan gereja, dari misa harian hingga perayaan besar seperti Natal dan Pekan Suci.

Namun, tugas mereka tidak hanya berhenti di pengamanan saat ibadat berlangsung. Tahun 2025 ini, Tim PAMDAL aktif dalam berbagai kegiatan strategis yang menunjukkan bahwa peran mereka semakin luas dan penuh semangat kolaboratif.

Beberapa kegiatan penting yang dijalani Tim PAMDAL sepanjang tahun ini antara lain:

  1. Ikut serta dalam gladi bersih Pekan Suci 2025, memastikan alur acara berjalan tertib dan aman dari awal hingga akhir. Mereka bukan hanya hadir di hari-H, tapi juga terlibat aktif dalam persiapan.

  2. Menghadiri rapat koordinasi dengan Panitia Pekan Suci 2025, demi menyatukan persepsi, membahas potensi risiko, serta menyusun strategi teknis demi kelancaran ibadat yang melibatkan ribuan umat.

  3. Berperan dalam kolaborasi bersama BANSER DIY di Posko Mudik Kalasan 2025, sebagai bentuk solidaritas dan pengabdian lintas organisasi untuk pelayanan masyarakat yang lebih luas.

  4. Bersinergi dengan elemen aparat keamanan dan masyarakat sekitar gereja, menunjukkan bahwa PAMDAL tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari jalinan kerja sama yang lebih besar demi menciptakan suasana ibadah yang aman, nyaman, dan tertib.

Dengan semangat pelayanan dan loyalitas yang tinggi, Tim PAMDAL tidak hanya menjadi penjaga fisik gereja, tetapi juga simbol kedewasaan iman umat, yang siap melayani secara nyata di balik layar. Mereka tidak selalu terlihat, tapi kehadiran dan peran mereka sungguh terasa.

Terima kasih, Tim PAMDAL  Stasi Maguwo. Karena kalian, umat bisa beribadah dengan tenang. Karena kalian, suasana gereja tetap kondusif dan bersahabat.

 

Mari Ambil Bagian: Bersama Mewujudkan Rumah Tuhan di Maguwo

Setelah disahkannya Masterplan Kawasan Gereja Santa Maria Bunda Allah – Stasi Maguwo oleh Tim Pembangunan Keuskupan Agung Semarang, kini kita memasuki babak baru dalam perjalanan iman kita bersama: penggalangan dana untuk pembangunan.

Saudara-saudariku terkasih,
Pembangunan kawasan gereja ini bukanlah proyek duniawi semata. Ini adalah karya iman. Ini adalah bentuk nyata cinta kita kepada Tuhan dan kepada Gereja-Nya. Kita sedang tidak hanya membangun gedung — kita sedang meletakkan dasar bagi generasi mendatang untuk berdoa, bertumbuh dalam iman, dan melayani sesama.

Melalui kawasan ini, akan hadir:
– Tempat ibadah yang lebih layak dan nyaman
– Pusat pelayanan pastoral untuk anak-anak, OMK, keluarga, lansia, dan seluruh umat
– Ruang perjumpaan sosial yang terbuka bagi masyarakat luas

Namun, semua itu tidak mungkin terwujud tanpa dukungan nyata dari seluruh umat.

Kami mengajak Anda untuk turut ambil bagian dalam gerakan kasih ini.
Dukung pembangunan ini dengan:
Doa yang tulus
Partisipasi aktif dalam kegiatan umat
Kontribusi dana sesuai kemampuan

Besarnya sumbangan bukan yang utama — yang terpenting adalah hati yang mau memberi, dan semangat yang percaya bahwa bersama, kita bisa mewujudkan sesuatu yang besar.

Kami percaya:
Berkat Tuhan tidak pernah kurang bagi orang yang murah hati.
Apa yang kita tanam hari ini, akan menjadi berkat bagi banyak jiwa esok hari.
Gereja ini akan berdiri bukan karena kekuatan satu dua orang, tetapi karena cinta dan kerja sama seluruh umat.

Mari kita buktikan bahwa Gereja ini milik kita semua, dan tanggung jawab kita bersama.
Berikan yang terbaik. Doakan yang terbaik. Dan percayalah, Tuhan akan melipatgandakan setiap kebaikan yang kita tabur.

Untuk informasi penggalangan dana, cara berdonasi, atau berpartisipasi dalam tim pembangunan, silakan hubungi panitia atau pengurus lingkungan setempat. Kami akan segera menyampaikan detail dan tata cara penyaluran bantuan secara transparan dan akuntabel.

Bersama kita bangun. Bersama kita wujudkan.
Bersama kita persembahkan karya ini untuk kemuliaan Tuhan.

Ad maiorem Dei gloriam.

 

 

 

 



 

Tonggak Sejarah Baru: Masterplan Kawasan Gereja Santa Maria Bunda Allah Resmi Disetujui oleh Tim Pembangunan KAS

 

Hari ini, Kamis, 10 April 2025, menjadi momen yang tak terlupakan dalam perjalanan umat Stasi Maguwo. Di tengah harapan dan kerja keras yang telah dirintis sejak lama, satu langkah besar telah tercapai: Masterplan Kawasan Gereja Santa Maria Bunda Allah – Stasi Maguwo telah resmi disahkan dan disetujui oleh Tim Pembangunan Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Momen ini adalah buah dari proses yang penuh ketekunan, refleksi, dan kolaborasi. Sebuah visi besar tentang bagaimana Gereja seharusnya hadir di tengah umat dan masyarakat telah dituangkan secara konkret ke dalam rencana yang matang dan menyeluruh—bukan sekadar menggambar bangunan, tapi merancang masa depan.

Proses pemaparan dilakukan dengan penuh semangat dan keyakinan oleh Tim Pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah, di bawah kepemimpinan Bapak Al. Bagio M., dan didampingi oleh Saudara Martinus Ervin selaku perancang masterplan. Bersama para anggota tim lainnya, mereka mempersembahkan lebih dari sekadar presentasi. Mereka mempersembahkan sebuah mimpi umat, sebuah cita-cita bersama yang lahir dari doa, diskusi, dan kerinduan untuk menjadikan Gereja sebagai rumah yang hidup.

Setelah pemaparan mendalam dan sesi tanya jawab, rombongan Tim Pembangunan KAS melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Udara pagi Maguwo menyambut langkah-langkah penuh harapan itu. Dan di tengah gereja ini yang akan menjadi pusat perjumpaan ilahi dan manusia itu, sebuah keputusan penting diambil………………………….

“Kami menyetujui masterplan ini.”

Kalimat singkat itu bukan hanya persetujuan administratif. ini adalah pengesahan atas harapan. Ini adalah jawaban atas doa. Dan ini menjadi panggilan bagi kita semua untuk melangkah ke tahap selanjutnya — bersama.

Masterplan ini memuat lebih dari sekadar gedung atau batas tanah. Ia merancang rumah Tuhan yang menumbuhkan iman, menyediakan ruang pelayanan pastoral yang membentuk karakter, dan membuka pintu sosial Gereja bagi siapa pun yang mengetuk.

Kini, saatnya kita bergerak maju. Dengan restu Keuskupan, kita diundang untuk melanjutkan proses ini dengan penuh semangat dan komitmen: mempersiapkan penggalangan dana, perencanaan teknis lanjutan, dan pelaksanaan pembangunan secara bertahap.


Perjalanan ini adalah perjalanan kita bersama.
Bukan tentang membangun dinding dan atap, tetapi membangun warisan iman bagi anak cucu kita. Bukan semata menyusun bata demi bata, tapi menyusun kasih, pengharapan, dan pelayanan dalam wajah Gereja yang nyata.

Mari kita tanggapi anugerah hari ini dengan hati yang bersyukur dan tangan yang siap terulur. Sebab dengan bersama, kita bisa menghadirkan sesuatu yang besar, indah, dan bermakna—demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama.

Ad maiorem Dei gloriam – Demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.


 

terima kasih kepada :
bapak Al. Bagio. M ketua tim pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah
Martinus Ervin, desainer masterplan Gereja Santa Maria Bunda Allah
Tim pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah



Mengenal Lebih Dekat Tugas Pengurus Dewan Stasi Maria Bunda Allah Maguwo periode 2023 – 2025

Gereja yang hidup dan bertumbuh tidak lepas dari peran banyak tangan yang bekerja dalam diam namun penuh semangat. Di balik setiap kegiatan liturgi, pelayanan sosial, pembinaan umat, hingga urusan rumah tangga gereja—ada sekelompok orang yang dengan rendah hati memberi waktu, tenaga, dan hati mereka untuk melayani.

Mari kita mengenal jajaran Pengurus Dewan Stasi Maria Bunda Allah Maguwo periode 2023 – 2025, yang siap berjalan bersama umat dan mendampingi setiap langkah pertumbuhan iman di stasi kita tercinta:



Pelayan Bukan Bos, Tapi Sahabat Iman

Yang perlu diingat, para pengurus ini bukanlah “atasan” umat, tapi sahabat seperjalanan dalam peziarahan iman. Mereka adalah pribadi-pribadi biasa yang juga bekerja, mengurus keluarga, menghadapi kesulitan… tapi memilih untuk tetap melayani.

Tugas mereka tidak selalu mudah, bahkan sering kali melelahkan. Namun dengan dukungan umat, semangat doa, dan kerja sama yang erat, kita percaya bahwa bersama-sama kita bisa menjadikan Stasi Maria Bunda Allah Maguwo sebagai gereja kecil yang hidup, hangat, dan penuh harapan.

 

 

 



 

Profil Ibu Hebat Stasi Maguwo: Menabur Cinta, Menuai Kehidupan Lewat Laudato Si’

Di tengah kesibukan mengurus rumah, memasak, menemani anak belajar, bahkan mengurus kegiatan lingkungan… para ibu-ibu Stasi Maria Bunda Allah Maguwo tetap punya satu hal yang tidak pernah ketinggalan: cinta pada bumi dan ciptaan Tuhan.

Bukan hanya lewat kata-kata, mereka membuktikan kasih itu lewat tindakan nyata, terinspirasi dari ajaran Laudato Si’ karya Paus Fransiskus. Ensiklik ini mengajak seluruh umat Katolik untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama, dan para ibu hebat ini sudah lama melakukannya—dengan semangat, sukacita, dan tentunya… banyak cerita lucu di baliknya.

Bank Sampah Bukan Tempat Horor, Tapi Harapan

Salah satu program unggulan yang mereka jalankan adalah bank sampah, tempat di mana sampah bukan lagi jadi masalah, tapi jadi berkah.

Setiap bulan, para ibu mengumpulkan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan kaleng—lalu disortir dan ditukar dengan dana kas lingkungan, bahkan sebagian dialokasikan untuk aksi sosial.

“Daripada nyampah, mending bantu sesama,” ujar salah satu ibu sambil senyum, tangannya tetap sibuk merapikan botol plastik.

Kerja Sama dengan Lingkungan, Semangatnya Luar Biasa

Yang paling keren, para ibu ini nggak jalan sendiri. Mereka menggandeng tim lingkungan, ketua lingkungan, dan bahkan generasi muda untuk ikut serta.

Dalam acara lingkungan atau pertemuan warga, mereka sering mengisi sesi edukasi kecil-kecilan:
bagaimana bikin kompos, cara mudah mengurangi plastik, bahkan demo membuat sabun dari minyak jelantah!

Mereka tidak hanya mengajak, tapi menulari semangat cinta bumi dengan kasih dan keceriaan.

Iman yang Hidup Lewat Aksi Nyata

Apa yang dilakukan para ibu ini sejatinya bukan sekadar program lingkungan. Tapi bentuk iman yang hidup dan bekerja lewat kasih, seperti yang diajarkan dalam Laudato Si’.

Dengan tangan-tangan penuh cinta dan semangat pelayanan, mereka merawat bumi ini seperti merawat keluarga sendiri—karena bagi mereka, merawat bumi = merawat masa depan anak cucu.

 

 

Terima Kasih, Ibu-Ibu Hebat Stasi Maguwo

Kisah mereka menginspirasi kita semua untuk tidak menunda kebaikan, memulai dari hal kecil, dan melakukannya dengan sukacita.

Karena bumi ini bukan milik kita sendiri—tapi warisan untuk generasi selanjutnya, yang Tuhan titipkan untuk kita pelihara bersama.