Maguwo, 24 Agustus 2025 – Ibu-ibu Stasi Maguwo bersama Tim Pelayanan KCLH kembali melaksanakan kegiatan pengumpulan Bahan Daur Ulang (BDU) pada sore hari ini. Kegiatan yang secara rutin dijalankan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan ajaran Laudato Si, ensiklik Paus Fransiskus tentang kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.
Melalui gerakan sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin peka terhadap kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan kembali barang-barang yang bisa didaur ulang. Selain mengurangi sampah, hasil pengumpulan BDU juga menjadi sarana untuk mendukung berbagai kebutuhan pastoral di stasi.
Semangat kebersamaan ibu-ibu stasi dan timpel KCLH menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya sebatas wacana, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata. Dengan langkah kecil yang dilakukan bersama, diharapkan tumbuh kesadaran ekologis yang semakin kuat di tengah umat, sehingga cita-cita “Gereja yang ramah lingkungan” dapat terus digelorakan.
Minggu, 24 September 2025, Stasi Maguwo kembali menunjukkan kepedulian terhadap sesama dengan memberikan bantuan kepada tiga keluarga warga Lingkungan Santo Yusuf yang rumahnya terdampak angin puting beliung.
Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung oleh Ketua Stasi Maguwo, Bapak Agung, dan disaksikan oleh Ketua Bidang Kemasyarakatan, Bapak Al Bagio, serta Ketua Lingkungan Santo Yusuf, Bapak Sugeng.
Adapun penerima bantuan adalah:
Yohanes Surahmin
Theresia Ngatinem
Christina Waliti
Melalui kegiatan ini, Stasi Maguwo berharap dapat meringankan beban keluarga terdampak serta memperkuat semangat kebersamaan dan solidaritas antarumat. Bantuan yang diberikan diharapkan dapat membantu proses pemulihan dan menjadi wujud nyata kasih serta perhatian gereja terhadap umatnya.
“Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan beban saudara-saudara kita dan menjadi pengingat bahwa kita adalah satu keluarga dalam iman dan kasih,”
Stasi Maguwo berkomitmen untuk terus hadir dan memberikan dukungan kepada umat yang membutuhkan, terutama dalam situasi darurat dan musibah.
Jumat, 22 Agustus 2025, umat Stasi Maguwo berkumpul dalam suasana penuh sukacita untuk mengikuti sosialisasi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan umat agar semakin siap menyambut bulan yang secara khusus didedikasikan untuk mendalami dan menghidupi Sabda Tuhan.
Acara ini dihadiri oleh Bapak/Ibu Ketua Lingkungan (Kaling), para Pewarta Lingkungan, serta turut hadir pula Suster, yang memberikan dukungan penuh dan meneguhkan semangat kebersamaan. Kehadiran mereka menambah kekhidmatan dan keseriusan umat dalam memahami pesan serta arah dasar pelaksanaan BKSN tahun ini.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan tema besar BKSN 2025 beserta bahan pendalaman yang akan digunakan di lingkungan. Para pewarta juga mendapat pengarahan bagaimana menyampaikan bahan bacaan secara sederhana namun mendalam, sehingga umat dapat lebih mudah memahami isi Kitab Suci dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Sosialisasi ini bukan sekadar teknis penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan, dialog, dan pembekalan rohani bersama. Semua yang hadir diajak untuk menyadari bahwa Bulan Kitab Suci adalah kesempatan emas untuk menimba inspirasi hidup dari Sabda Allah, baik di tengah keluarga, lingkungan, maupun masyarakat luas.
Suasana pertemuan terasa hangat, akrab, dan penuh semangat sinodalitas—semangat berjalan bersama sebagai umat beriman. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan seluruh lingkungan di Stasi Maguwo siap melaksanakan rangkaian kegiatan BKSN 2025 dengan penuh antusias, sehingga Sabda Allah sungguh hidup dan bertumbuh di tengah umat.
Perayaan Ekaristi syukur HUT RI ke-80 di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo kali ini benar-benar beda vibes-nya. Soalnya, ada yang super spesial: ibu-ibu Stasi Maguwo kompak banget jadi petugas misa.
Dengan dresscode kebaya merah yang anggun dan penuh semangat, ditambah stiker merah putih di pipi yang bikin penampilan makin nasionalis, ibu-ibu tampil percaya diri melayani altar Tuhan. Aura kemerdekaan langsung kerasa sejak awal misa.
Mereka all out di berbagai tugas: koor yang bikin suasana meriah dengan nyanyian penuh semangat, among tamu yang menyambut umat dengan senyum hangat, kolekte dan persembahan yang berjalan rapi dan penuh syukur, sampai lektor yang membacakan sabda Tuhan dengan suara lantang dan penuh penghayatan. Nggak ada yang setengah-setengah, semuanya total demi pelayanan terbaik.
Yang bikin makin berkesan, pelayanan ini bukan cuma sekadar jadwal liturgi, tapi juga jadi wujud nyata semangat kemerdekaan. Lewat doa, lagu, dan kebersamaan, ibu-ibu Stasi Maguwo menunjukkan bahwa cinta tanah air bisa dihidupi dalam pelayanan sederhana, namun penuh makna.
Misa syukur pun jadi terasa khidmat sekaligus meriah. Ada nuansa syukur kepada Tuhan yang berpadu manis dengan semangat nasionalisme. Singkatnya, ibu-ibu Stasi Maguwo berhasil bikin misa ini nggak cuma jadi perayaan liturgi, tapi juga jadi pesta iman dan pesta kemerdekaan yang penuh warna
Malam tirakatan 17 Agustus menjadi salah satu tradisi yang terus dijaga oleh masyarakat Indonesia sebagai wujud syukur atas kemerdekaan bangsa. Tirakatan bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan untuk mendoakan para pahlawan, menumbuhkan semangat nasionalisme, serta mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, umat Katolik Stasi Maguwo turut serta mengambil bagian dalam acara tirakatan yang digelar di berbagai wilayah sekitar. Kehadiran umat Katolik kali ini bukan hanya sebagai tamu, tetapi juga berperan aktif dalam memeriahkan dan menyukseskan jalannya acara.
Acara tirakatan tersebar di berbagai titik wilayah, antara lain:
Ringinsari RW 49: umat Katolik hadir berbaur bersama warga dalam doa bersama dan acara kebersamaan.
Kradenan RT 011 RW 69: umat Katolik terlibat aktif sebagai dirigen paduan suara yang mengiringi jalannya acara, sekaligus bertugas di seksi dokumentasi untuk mengabadikan momen penting tirakatan.
Sambilegi Lor RT 01 dan 02 RW 53: umat Katolik GMBA dipercaya menjadi MC dan juga mengisi acara pesan dan kesan dari sesepuh, yang menambah kekhidmatan dan kehangatan suasana tirakatan.
Sambilegi Kidul RW 54: umat Katolik Stasi Maguwo mengisi acara dengan paduan suara umat Katolik, menghadirkan nuansa syukur yang indah dan menggugah semangat kebersamaan.
Sambilegi Lor RT 05 RW 55: umat Katolik berbaur bersama warga setempat, ikut mendukung jalannya acara dan mendoakan bangsa dengan penuh khidmat.
RW 40 Pasekan, Maguwoharjo: umat Katolik bersama warga berkumpul dalam suasana kekeluargaan, menyalakan semangat kebersamaan demi menjaga persatuan.
RW 33 RT 08, 09, dan 10 Tegalrejo Tapanrejo – Tajem – Maguwoharjo: umat Katolik berperan aktif dalam acara tirakatan, ikut menjaga semangat nasionalisme di tengah masyarakat.
Karang Ploso RT 04 RW 60: umat Katolik hadir mendukung jalannya acara, berbaur dengan masyarakat dalam doa dan kebersamaan.
Keterlibatan umat Katolik Stasi Maguwo dalam tirakatan ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan program garapan kebangsaan, kerjasama, dan sinergi Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Melalui program ini, umat diajak untuk menghadirkan Gereja yang terbuka, bersinergi dengan masyarakat, serta terlibat langsung dalam membangun persaudaraan kebangsaan.
Suasana tirakatan tahun ini sungguh menghadirkan rasa persatuan tanpa sekat. Doa dan renungan bersama, kesaksian para sesepuh, serta lantunan lagu-lagu kebangsaan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika benar-benar terasa hidup di tengah warga.
Dengan hati penuh syukur dan semangat kebersamaan, umat Katolik Stasi Maguwo bersama masyarakat sekitar meneguhkan kembali bahwa kemerdekaan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk terus diperjuangkan dan dihayati. Persatuan, gotong royong, serta cinta tanah air menjadi roh yang menyertai perjalanan bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
Hari Minggu, 9 Agustus 2025, pengurus Misdinar Maguwo mengadakan pertemuan perdana nihh dengan angkatan Komuni Pertama angkatan 2025 yang akan segera di lantik menjadi anggota Misdinar.
Pertama, kita melakukan registrasi. Setelah registrasi, kita mulai dengan sambutan dari Kak Yohanes Theo Widodo sebagai ketua Misdinar yang kece dan keren.. Selanjutnya disambut oleh Bapak Agung selaku Ketua Dewan Stasi. Yang terakhir kita ada sambutan dari Ketua Bidang Liturgi yaitu Ibu Ita Rinawati dan dilanjutkan dengan materi singkat tentang liturgi di gereja. Sebagai pengurus, tentu kita juga perkenalan dongg karena ada pepatah tak kenal maka tak sayang
Setelah itu karena masih fresh nih yaa, jadinya kita adakan foto bersama duluu yeyy… lalu di lanjut dengan perkenalan alat misa bersama kak Valent dan kak Ganes. Ternyata pada excited untuk nyoba dan menghapal nihhh, kerenn sihhh!!!
Untuk menguji daya ingat, kita melakukan games yaitu “Remember Me” dengan kak Marlin yang menjadi koordinator games. Games hanya diberikan waktu sekitar 15 menit untuk menyelesaikan. Ternyata ga di sangka sangka, jawaban mereka bener semuaaa lhooo!! keren banget yaa. Setelah itu kita ada pembagian hadian tapi bukan berdasarkan juara, tetapi sebagai apresiasi pengurus kepada calon Misdinar angkatan 25. Yang terakhir, ada tuker kado silangg nihhh, seru banget kado nya di rollingg dan akhirnya sayonara.
Minggu, 10 Agustus 2025, dua perwakilan Orang Muda Katolik (OMK) Maguwo—Dominic Atta dan Galang Tetasjuang—mengikuti kegiatan Pembekalan Orang Muda Peduli Lansia yang diadakan di Gereja Paroki St. Alfonsus de Liguori, Nandan. Acara ini merupakan program Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur yang mengajak kaum muda untuk lebih peka, peduli, dan terlibat dalam pelayanan bagi para lansia di lingkungan Gereja.
Sejak pagi, peserta yang hadir langsung disambut hangat dan diberi snack untuk dinikmati sebelum acara dimulai. Tepat pukul 10.00 WIB, kegiatan dibuka oleh Romo Suparman. Setelah itu, Ibu Yulianti menyampaikan materi inspiratif yang mengajak orang muda untuk memahami peran penting mereka dalam merawat, menghormati, dan mengasihi lansia—baik dalam keluarga maupun kehidupan menggereja.
Memasuki sesi interaktif, peserta dibagi menjadi kelompok dan diajak bermain team building: menyusun puzzle bergambar gereja. Pada percobaan pertama, komunikasi dilarang—hasilnya puzzle tak juga jadi. Saat percobaan diulang dengan komunikasi diizinkan, puzzle langsung tersusun rapi, menjadi pelajaran nyata bahwa kerja sama dan komunikasi adalah kunci keberhasilan.
Setelah itu, tiap kelompok berdiskusi untuk merumuskan aksi nyata yang bisa dilakukan di paroki masing-masing demi meningkatkan kepedulian kepada lansia. Beberapa ide yang muncul antara lain kunjungan rutin, misa khusus lansia, senam sehat bersama, membantu mengantar ke gereja, hingga membiasakan menyapa dan memberi salam penuh kehangatan.
Anak-anak muda menunjukkan antusiasme luar biasa saat mempresentasikan hasil diskusi. Semua kelompok tampil percaya diri, termasuk Dominic Atta dan Galang Tetasjuang sebagai wakil OMK Maguwo.
Acara diakhiri pada pukul 13.00 WIB dengan doa penutup yang dipimpin kembali oleh Romo Suparman. Setelah itu, seluruh peserta menikmati makan siang bersama, mempererat kebersamaan yang telah terjalin sepanjang hari.
Pembekalan ini diharapkan menjadi pemicu semangat bagi orang muda untuk membawa kasih dalam tindakan nyata, sehingga hidup menjadi lebih bermanfaat—seperti semangat tema kegiatan: “Berteman Yuuk!!! Supaya hidup lebih bermanfaat”
Di penghujung acara, Romo juga berpesan agar OMK berkomitmen melaksanakan apa yang telah didiskusikan dengan bekerja sama atau bersinergi dengan Tim Pelayanan PIUL. Dengan demikian, keterlibatan OMK dalam mendukung para lansia di paroki akan semakin nyata dan terasa manfaatnya bagi seluruh umat.
Refleksi & Diskusi Lingkungan Yohanes Pembaptis – 7 Agustus 2025
Kamis malam, 7 Agustus 2025, keluarga-keluarga Lingkungan Yohanes Pembaptis berkumpul dalam suasana hangat dan penuh persaudaraan di rumah bapak Hardjito. Pertemuan kali ini mengangkat tema “Keluarga menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan dan semangat kerasulan“ yang mengajak umat merenungkan kembali makna janji perkawinan Katolik dan mengaitkannya dengan semangat Katakese Kebangsaan.
Diskusi diawali dengan pengingat bahwa janji perkawinan bukan hanya ikrar untuk saling setia, tetapi juga komitmen mendidik anak secara Katolik, membangun keluarga sebagai “Gereja mini”, dan menumbuhkan iman di rumah. Dari rumah yang beriman inilah lahir pribadi-pribadi yang siap melayani Gereja dan masyarakat.
Poin-poin penting yang dibahas meliputi:
Menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan dalam keluarga melalui doa bersama, misa, Kitab Suci, dan perayaan hari raya Gereja.
Semangat kerasulan — menjadi pewarta kasih Kristus melalui tindakan nyata di lingkungan, baik di Gereja maupun masyarakat luas.
Budaya srawung — perjumpaan interpersonal yang membangun persaudaraan dengan sesama umat dan masyarakat lintas agama, sebagai wujud nyata Katakese Kebangsaan.
Keterkaitan iman dan kebangsaan — keluarga Katolik bukan hanya membentuk anak beriman, tetapi juga warga negara yang menjunjung toleransi, menghargai keberagaman, dan peduli pada keadilan sosial.
Tantangan dan solusinya — mulai dari kesibukan, perbedaan pola didik, pengaruh lingkungan, hingga konflik rumah tangga; diatasi dengan komunikasi yang baik, pembiasaan doa, keterlibatan dalam komunitas, dan saling menguatkan dalam Tuhan.
Dalam suasana diskusi, umat saling berbagi pengalaman tentang bagaimana iman Katolik yang hidup dapat menyatu dengan semangat kebangsaan. Seorang peserta menegaskan, “Kalau kita mau anak-anak kita jadi Katolik yang baik, mereka juga harus jadi warga negara yang baik. Iman dan cinta tanah air itu sejalan.”
Pertemuan ditutup dengan doa pengharapan, memohon agar Tuhan memberi kekuatan untuk setia pada janji perkawinan, mendidik anak dalam iman, serta menjadi keluarga yang membawa terang bagi Gereja dan bangsa.
National Catechesis Month – Families that Nurture and Hand Down Catholic Faith and the Apostolic Spirit
Reflection & Discussion – St. John the Baptist Community Gathering, August 7, 2025
On Thursday evening, August 7, 2025, the families of the St. John the Baptist Community gathered in a warm and fraternal atmosphere at the home of Mr. Hardjito. This meeting carried the theme “Families Nurturing and Preserving Catholicism and the Spirit of Apostleship”, inviting the faithful to reflect once again on the meaning of the Catholic marriage vows and to connect it with the spirit of National Catechesis.
The discussion began with a reminder that the marriage vow is not merely a pledge to remain faithful to one another, but also a lifelong commitment to raise children in the Catholic faith, to build the family as a “domestic church,” and to nurture faith at home. From such faith-filled homes emerge individuals ready to serve both the Church and society.
Key points discussed included:
Nurturing and preserving Catholic traditions in the family through regular prayer, attending Mass together, reading Scripture, and celebrating the liturgical feasts at home.
The spirit of apostleship — being witnesses of Christ’s love through concrete actions in both Church and community life.
The culture of srawung — interpersonal encounters that foster fellowship with fellow Catholics and people of other faiths, as a living expression of National Catechesis.
The connection between faith and patriotism — a Catholic family not only forms children in faith but also as responsible citizens who value tolerance, respect diversity, and care for social justice.
Challenges and solutions — from busy schedules, different parenting styles, outside influences, to family conflicts; these can be overcome through open communication, regular prayer, active involvement in the community, and mutual encouragement in the Lord.
During the discussion, participants shared real-life experiences on how a living Catholic faith can be united with a spirit of patriotism. One participant affirmed, “If we want our children to be good Catholics, they must also be good citizens. Faith and love for the nation go hand in hand.”
The gathering concluded with a prayer of hope, asking God for strength to remain faithful to marriage vows, to raise children in faith, and to be families that bring light to both the Church and the nation.
“From faithful Catholic families come citizens of faith, compassion, and readiness to serve.”
Sakramen Baptis adalah gerbang utama menuju kehidupan Kristiani dalam Gereja Katolik. Melalui baptisan, seseorang dibersihkan dari dosa asal dan menjadi anggota resmi dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja. Sakramen ini bukan sekadar upacara simbolis, melainkan sebuah peristiwa rohani yang mendalam, di mana Allah sendiri menyentuh dan menguduskan hidup seseorang.
Dalam tradisi Katolik, baptisan biasanya diberikan kepada bayi, sebagai tanda bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang mendahului usaha manusia. Namun, orang dewasa yang belum dibaptis juga dapat menerima sakramen ini setelah menjalani masa katekumenat, yaitu masa persiapan dan pendalaman iman. Air yang dicurahkan ke atas kepala atau dengan cara pencelupan menjadi lambang pembersihan rohani, sekaligus tanda kehidupan baru dalam Kristus.
Baptis juga menyatukan kita dengan misteri wafat dan kebangkitan Kristus. Melalui baptisan, kita mati terhadap dosa dan bangkit menjadi ciptaan baru. Oleh karena itu, setelah dibaptis, seseorang dipanggil untuk hidup dalam terang Kristus, menjadi murid yang setia, serta terlibat dalam kehidupan Gereja dan masyarakat dengan kasih, pengharapan, dan iman.
Sakramen ini menunjukkan kasih Allah yang tak terbatas, yang menyambut setiap orang tanpa syarat. Dalam keluarga Katolik, momen baptisan menjadi saat sukacita dan harapan, ketika seorang anak atau orang dewasa diterima secara penuh dalam komunitas iman, siap untuk berjalan bersama Kristus sepanjang hidupnya.
Baptis bayi di Minggu I bulan Agustus 2025 ini diterimakan oleh romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Selamat menjadi anggota gereja Katolik anak Francis Rivaille Risardi, bertumbuhlah dalam iman akan Yesus Kristus.