Kenalan Yuk Sama Christian Melody – Suara Emas dari Stasi Maguwo

Namanya Christian Melody Dharma Saputra, dan seperti namanya, hidupnya memang penuh melodi, nggak berlebihan kalau dibilang suara emasnya udah jadi berkat buat banyak orang, terutama di Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Lahir di Sleman pada 1 Desember 2008, Christian saat ini sedang menapaki masa remajanya di salah satu SMA favorit, SMA Negeri 3 Yogyakarta. Tapi jangan salah, meskipun sibuk sekolah, pelayanan di gereja tetap jalan terus.

Christian adalah salah satu contoh anak muda yang aktif, berprestasi, dan punya semangat pelayanan tinggi. Di bidang tarik suara, prestasinya udah nggak diragukan lagi. Suaranya nggak cuma merdu, tapi juga punya penghayatan yang bikin suasana doa makin hidup. Nggak heran kalau dia sering dipercaya jadi pemazmur, baik di misa-misa rutin maupun acara besar di GMBA.

mau tau apa saja prestasinya ?

  1. Medali Perak International Applied Science Project Olympiad (i2ASPO) Katergori Research On Children with Special Needs
  2. Juara 2 Lomba Peneliti Belia Bidang Fisika Tingkat DIY
  3. Juara 3 Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  4. Juara 2 Lomba Solo Vokal Putra FLS3N Kota Yogyakarta
  5. Medali Emas Mazmur Remaja Pesparani Nasional II
  6. Medali Emas Paduan Suara Anak Pesparawi Nasional XIII
  7. Juara 1 Mazmur Anak Pesparani DIY
  8. Juara 3 Festival Paduan Suara Anak Indonesia Ode Bentara
  9. Juara 1 Tryout Wicofest
  10. Juara 3 Nine Tryout #3
  11. Juara 1 Mortar Stampher Tryout ASPD #3

luar biasa bukan ?

Selain itu, Christian juga aktif sebagai putra altar—setia membantu di altar dengan penuh tanggung jawab. Dan nggak berhenti sampai di situ, dia juga turut melatih teman-temannya di grup Pemusik Muda GMBA (PMG). Ya, Christian adalah salah satu pelatih nyanyi di PMG, berbagi ilmunya sambil tetap belajar bersama.

Yang bikin salut, semua itu dijalaninya dengan rendah hati dan senyum khasnya yang selalu ramah. Nggak banyak bicara, tapi karyanya terasa. Dari balik mimbar, suara Christian jadi pengantar doa yang syahdu dan menguatkan.

Christian adalah contoh bahwa remaja Katolik bisa keren, aktif, dan berprestasi tanpa harus jauh dari gereja. Semoga semangatnya bisa menular ke teman-teman sebayanya, dan terus tumbuh jadi pribadi yang membawa damai dan sukacita lewat musik dan pelayanan.

Keep shining, Christian…………………………………………. Suaramu bukan cuma indah, tapi juga jadi jembatan bagi banyak hati untuk bertemu Tuhan.

Minggu Ceria Bersama PIA St. Angelus: Mengenal Rosario dan Bunda Maria bersama Ibu ibu Stasi Maguwo

Minggu, 8 Juni 2025 – Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Minggu pagi biasanya identik dengan suasana santai dan waktu berkualitas bareng keluarga. Tapi kali ini, ada yang spesial banget di Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Soalnya, para ibu dari Paguyuban Ibu-Ibu Stasi turun gunung buat nemenin adik-adik PIA St. Angelus dalam kegiatan seru yang penuh makna.

Bertempat di ruang PIA, anak-anak yang biasanya ceria dan aktif kali ini duduk manis (meskipun kadang masih goyang-goyang sedikit mendengarkan cerita seru dari para ibu tentang Rosario dan Bunda Maria. Tapi tenang, ini bukan sesi ceramah yang bikin ngantuk kok. Justru dibawakan dengan gaya yang ringan, hangat, dan penuh kasih sayang. Anak-anak diajak kenalan sama siapa sih Bunda Maria itu, kenapa kita mendoakan Rosario, dan gimana sih cara mendoakannya.

Dengan penuh semangat dan kelembutan khas seorang ibu, mereka membimbing anak-anak untuk mengenal dan mencintai doa Rosario sebagai salah satu bentuk devosi Katolik yang mendalam. Melalui cerita-cerita sederhana, lagu-lagu rohani, serta aktivitas kreatif yang menyenangkan, anak-anak diajak untuk lebih dekat dengan Bunda Maria sebagai teladan iman dan kasih.

Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan rohani anak-anak, tetapi juga mempererat hubungan antar umat lintas generasi. Tampak jelas keceriaan di wajah anak-anak saat mereka memegang rosario masing-masing dan mulai memahami makna setiap bagiannya.

Paguyuban ibu-ibu berharap, benih-benih iman yang ditanam hari ini akan bertumbuh menjadi cinta sejati kepada Yesus melalui Bunda Maria. Terima kasih kepada tim PIA St. Angelus atas kesempatan yang diberikan, dan semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan demi membangun iman anak-anak sejak dini.

“Merayakan Syukur, Menyemai Kebersamaan” Pembubaran Panitia HUT Stasi Santa Maria Bunda Allah

Minggu, 8 Juni 2025 menjadi penanda resmi berakhirnya seluruh rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Gereja Stasi Santa Maria Bunda Allah. Sebuah momen penuh syukur digelar sebagai bentuk penutupan: pembubaran panitia yang telah bekerja keras dan melayani dengan sepenuh hati.

Sejak awal, perayaan HUT tahun ini bukan sekadar selebrasi, melainkan juga menjadi perjalanan iman bersama umat. Rangkaian kegiatan dimulai pada 25 Mei 2025 dengan bakti sosial berupa cek kesehatan untuk masyarakat sekitar gereja sebagai wujud nyata kasih dan kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.

Perjalanan dilanjutkan dengan ziarah ke makam para leluhur pendiri Gereja pada 29 Mei 2025—sebuah langkah penuh hormat dan doa bagi mereka yang telah lebih dulu berpulang dalam iman. Suasana doa yang khusyuk memperkuat ikatan batin umat dengan sejarah, warisan iman, dan keluarga besar gereja.

Puncaknya terjadi pada 1 Juni 2025, dengan Misa Syukur sebagai inti perayaan, disambung dengan pesta umat yang penuh sukacita, keakraban, dan semangat persaudaraan. Semua lapisan umat ambil bagian, dari anak-anak hingga lansia, menjadikan hari itu bukan hanya meriah, tapi juga menghangatkan hati.

Hari ini, saat panitia secara resmi dibubarkan, yang tersisa bukan hanya laporan kegiatan atau dokumentasi acara. Yang paling berharga adalah pengalaman melayani bersama, tawa yang dibagi, keringat yang jatuh diam-diam, dan semangat gotong royong yang mempererat ikatan umat satu sama lain.

Terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh panitia—yang telah berjerih lelah, berdoa dalam diam, bekerja dalam kesederhanaan, dan memberi dalam kasih. Semoga semua benih kebaikan yang ditanam dalam perayaan HUT ini tumbuh menjadi buah-buah berkat bagi gereja dan sesama.

Sampai jumpa di pelayanan selanjutnya. Karena gereja adalah kita, dan kita semua adalah bagian dari karya kasih-Nya yang terus berjalan.

Bulan Mei: Bulan Devosi dan Katekese di Lingkungan St. Yusup, Stasi Maguwo

Mei bagi umat Katolik merupakan bulan istimewa yang didedikasikan untuk devosi kepada Bunda Maria. Dalam semangat yang sama, Keuskupan Agung Semarang mengajak seluruh umat untuk memperdalam devosi kepada Bunda Maria sekaligus menjalani Bulan Katekese Yubelium dengan tema sentral “Gereja yang Bahagia”, sebagai bagian dari rangkaian perayaan 85 tahun perjalanan karya Gereja KAS.

Menanggapi ajakan tersebut, umat St. Yusuf, Stasi Maguwo, telah dengan tekun melaksanakan devosi bersama kepada Bunda Maria sekaligus mendalami Katekese Yubelium selama satu bulan penuh, mulai tanggal 1 hingga 31 Mei 2025. Setiap malam, sekitar 26 orang umat berkumpul untuk mendaraskan doa Rosario dan terlebih dahulu mendalami empat subtema utama Katekese Yubelium, yakni:

  1. Komunitas Pengharapan
  2. Menjadi Gereja yang semakin Katolik
  3. Menjadi Gereja yang semakin Apostolik
  4. Menjadi Gereja yang Bahagia

Kegiatan devosi dan pendalaman iman ini menjadi momen yang mempererat kebersamaan umat serta memperdalam pemahaman akan jati diri Gereja dalam terang Yubileum. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan penuh syukur dan sukacita pada tanggal 31 Mei 2025, bertepatan dengan pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet, sebagai puncak perayaan kasih dan iman umat kepada Bunda Maria.

Sukacita Penuh Syukur di Hari Ulang Tahun Gereja Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Minggu, 1 Juni 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi umat di Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Dalam semangat persaudaraan dan penuh rasa syukur, umat berkumpul untuk merayakan acara puncak Hari Ulang Tahun Stasi, sebuah perayaan iman yang dirangkai dalam dua bagian utama: Misa Syukur dan Pesta Umat.

Rangkaian acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang khidmat. Dalam misa ini, umat diajak untuk kembali mengenang perjalanan iman Stasi yang penuh berkat.

Homili yang disampaikan mengajak seluruh umat untuk terus menumbuhkan semangat melayani dan membangun komunitas yang saling menopang.

Doa-doa dan lagu-lagu pujian mengalun merdu sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun-tahun pelayanan di Stasi tercinta ini.

Usai misa, halaman gereja menjadi pusat keramaian dalam Pesta Umat. Sajian soto dan bakso hangat menjadi menu andalan yang dinikmati bersama. Sederhana namun sarat makna, hidangan ini merekatkan rasa kebersamaan dan cinta kasih antar umat.

Acara berlanjut dengan hiburan yang berlangsung secara spontan. Ada umat yang maju menyanyi, dan tak sedikit pula yang mengajak tertawa bersama lewat candaan khas umat Maguwo. Tentu saja, doorprize turut memeriahkan suasana dan menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan.

Namun kejutan sesungguhnya datang dari mereka yang selama ini diam-diam bekerja di belakang layar — ibu-ibu panitia. mereka maju ke tengah halaman dan mempersembahkan sebuah flashmob penuh semangat!


Dengan gerakan ceria dan kekompakan yang tak kalah dari generasi muda, para ibu sukses memecah suasana dengan tawa, decak kagum, dan tepuk tangan meriah. Tarian mereka bukan hanya hiburan, tapi juga simbol sukacita dan semangat pelayanan yang luar biasa.

Hari ini bukan sekadar perayaan ulang tahun — tapi juga perayaan persaudaraan, pelayanan, dan semangat menjadi satu tubuh dalam Kristus. Sebuah hari yang meninggalkan kesan hangat dalam hati setiap umat yang hadir.

Selamat Ulang Tahun untuk Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo!
Umur hanyalah angka, tetapi cinta, iman, dan kebersamaan yang tumbuh di tengah umat adalah harta sejati.
Semoga Stasi ini terus menjadi rumah iman yang hidup, tempat bertumbuh, melayani, dan memberi terang bagi sesama.
Terima kasih untuk setiap senyum, peluh, dan doa yang telah membangun komunitas ini — mari terus melangkah bersama, dalam terang Tuhan.

 

foto bisa di akses di link https://drive.google.com/drive/folders/1fE6f_mPVCyrrtY8i8JzmcvadSQarGa_T

 

Ziarah Penuh Kasih: Menghormati Jejak Para Sesepuh dan Pendiri Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Kamis 29 Mei 2025, selepas Misa Kenaikan Yesus menjadi momen istimewa yang sarat makna bagi para pengurus Dewan Pastoral Stasi Maguwo. Diwakili oleh Ibu Amy, Ibu Tinung, Ibu Woro, Ibu Manis, Ibu Lely, Ibu Munarti, Bapak Bagio, Bapak Paul, Bapak Anton, Bapak Parno, Bapak Teteng, Bapak Nanto, Bapak Yulius, dan Bapak Naryo, mereka bersama-sama melaksanakan ziarah ke makam para sesepuh dan pendiri Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Ziarah ini adalah bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Lebih dari sekadar ritual, ziarah ini menjadi bentuk penghormatan yang tulus dan penuh kasih kepada para tokoh yang telah berjasa besar bagi gereja dan umatnya. Mereka adalah almarhum Bapak Lazarus Djayeng Adisubrata, almarhum Ibu Lusia Daliyah Djayeng Adisubrata, almarhum Bapak Paulus Yadiwiyono, dan almarhum Bapak YB Kandari. Masing-masing dari mereka adalah pilar penting yang menorehkan jejak iman dan pengabdian tanpa pamrih.

Dalam suasana yang penuh hening dan haru, para pengurus berdoa di pusara para pendahulu, mengenang segala kebaikan, pengorbanan, dan kasih yang telah mereka tanamkan. Setiap doa yang terucap menjadi untaian syukur dan penghormatan atas segala jasa mereka. Hembusan angin yang lembut seolah menjadi saksi betapa besarnya cinta kasih yang diwariskan oleh para sesepuh bagi kehidupan iman umat di Maguwo.

Ziarah ini menjadi pengingat mendalam akan nilai-nilai luhur yang mereka ajarkan: ketulusan hati, kesetiaan dalam pelayanan, dan kerendahan hati yang memancar dalam setiap langkah. Warisan semangat dan cinta kasih yang mereka tinggalkan menjadi lentera yang menuntun langkah para pengurus dan umat untuk terus berkarya demi kebaikan bersama.

Semoga melalui ziarah penuh kasih ini, seluruh umat semakin dikuatkan dalam iman, disatukan dalam semangat persaudaraan, dan diteguhkan untuk meneruskan karya pelayanan yang penuh pengharapan. Kehadiran para pendahulu dalam kenangan dan doa hari ini menjadi tanda bahwa cinta mereka tak pernah pudar, dan pengabdian mereka akan selalu hidup dalam hati kita semua.


Cek Kesehatan Gratis di Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo, 25 Mei 2025

Dalam rangka ulang tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo, diadakan kegiatan bakti sosial yang super bermanfaat: cek kesehatan gratis! Acara ini diadakan pada hari Minggu, 25 Mei 2025, dan terbuka untuk semua warga sekitar yang mau ngecek kesehatan.

Kegiatan ini seru banget karena didukung penuh sama Rumah Sakit Panti Rini yang hadir dengan tim dokter dan paramedisnya, Kimia Farma yang bawa alat andalan Quantum, dan Puskesmas Depok yang lengkap dengan dokter dan obat-obatannya. Tim kesehatan dari Stasi Santa Maria Bunda Allah juga turun langsung bantuin acara ini, jadi makin kompak.

Warga sekitar yang ikut juga rame banget, mulai dari RT 5 Sambilegi Kidul, RT 6 Kembang, RT 01-05 Karangploso, sampai para pengurus DPH. Suasana hangat dan penuh kebersamaan benar-benar terasa sepanjang acara.

Keren banget, acara ini juga ditinjau langsung sama petinggi dari Rumah Sakit Panti Rini, Puskesmas Depok, dan Kimia Farma. Mereka semua ngasih support penuh supaya acara ini makin sukses.

Dan yang bikin tambah semangat, dari target 150 orang peserta, kegiatan ini berhasil ngumpulin 148 orang. Berarti udah 98,67% target tercapai, keren banget kan?

Semoga kegiatan ini bermanfaat buat semua warga dan makin mempererat kebersamaan di sekitar gereja. Sampai jumpa di acara seru berikutnya.

Bincang Sehat Gereja St. Maria Bunda Allah

Minggu, 11 Mei 2025

Di era serba cepat ini, saat semua serba online dan sibuk mengejar target harian, ada satu hal penting yang sering terlupakan: ingatan itu sendiri. Mulai dari lupa naruh kunci, lupa bawa dompet, sampai lupa kenapa tadi berdiri depan kulkas—banyak dari kita yang menganggap itu hal biasa. Tapi… benarkah semua itu cuma “pelupa wajar”?

Hari ini, Tim Pelayanan Kesehatan Gereja St. Maria Bunda Allah di bawah naungan Bidang Kemasyarakatan, mengajak kita untuk tidak lagi menyepelekan gejala tersebut lewat acara Bincang Sehat dengan tema:
“Pentingnya Deteksi Dini Dimensia atau Pikun.”

Karena dimensia bukan sekadar bagian dari proses menua. Ia adalah kondisi serius yang memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, berkomunikasi, bahkan melakukan aktivitas sehari-hari. Dan justru karena itu, deteksi dini sangat penting—agar kita bisa menyiapkan perawatan, pendampingan, dan dukungan yang terbaik sejak awal.


Acara ini dipandu oleh sosok berpengalaman dan komunikatif, dr. Tri Djoko Endro Susilo, SpPK, yang akan menjadi moderator dalam menggali informasi dari narasumber utama kita : dr. Lothar Matheus M. V., Sp.N., seorang dokter spesialis Neurologi dari RS. Siloam yang membagikan pengetahuan, pengalaman, sekaligus tips-tips penting dalam mengenali dan menghadapi dimensia dengan bijak dan penuh empati.

Yang membuat acara ini semakin istimewa adalah kehadiran teman-teman mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang tengah menyusun tugas akhir tentang keberagaman hidup beragama. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa ruang dialog antariman dan pendidikan bisa berjalan harmonis dan saling memperkaya.

Para peserta pun hadir dengan wajah cerah, hati yang senang, dan rasa penasaran yang tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan:
“Ini aku cuma pelupa atau perlu periksa?”
“Apa tanda-tanda awal dimensia?”
“Bagaimana cara merawat orang terdekat yang mulai mengalami penurunan daya ingat?”

Pertanyaan itu muncul bukan karena takut, tapi karena peduli. Karena sehat bukan hanya tentang bebas dari penyakit, tetapi juga tentang menjaga kejernihan pikiran, kualitas hidup, dan martabat di usia lanjut.

Dan hari ini, kita belajar bersama:
Bahwa mengingat itu bukan sekadar fungsi otak—tapi juga bagian dari jati diri, hubungan sosial, dan makna kehidupan itu sendiri.

Semoga setiap informasi hari ini menjadi berkat bagi kita semua, untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Tuhan memberkati.


materi bisa di download pada link dibawah ini.

Indahnya Persaudaraan Dalam Keberagaman

PERAYAAN EKARISTI – MINGGU PRAPAASKAH IV – MINGGU PANGGILAN
11 Mei 2025

Kebersamaan dalam perbedaan menjadi nyata dalam Perayaan Ekaristi Minggu Prapaskah IV – Minggu Panggilan yang diselenggarakan di Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo pada 11 Mei 2025. Perayaan ini dipimpin oleh Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr., dan dimeriahkan oleh koor para suster dari tiga tarekat religius: Dominikan – Ordo Praedicatorum (OP), Servarum Spiritus Sancti (SSpS), dan Religius Maria Imakulata (RMI), yang bersama-sama mengangkat puji-pujian dalam keindahan liturgi yang khusyuk dan menggugah.

Dalam homilinya, Rm. Antonius berbagi kisah panggilan hidupnya. Ia menceritakan bagaimana benih keinginannya menjadi imam sempat memudar di masa remaja karena banyaknya kegiatan bersama teman-temannya. Namun, Tuhan memiliki cara-Nya sendiri. Sebuah peristiwa kecelakaan membuatnya harus banyak beristirahat di rumah, dan justru di situlah ia menemukan kembali suara panggilan Tuhan yang lama terpendam. Dalam keheningan dan permenungan, ia diteguhkan hingga akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Kisah ini menjadi pengingat bahwa panggilan Tuhan bisa tumbuh bahkan dari peristiwa yang tak terduga.

Perayaan ini semakin istimewa dengan hadirnya tujuh mahasiswa dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mereka mengikuti misa dalam rangka Observasi Kegiatan Moderasi Beragama. Di akhir misa, mereka diperkenalkan kepada umat oleh Rm. Antonius dan disambut dengan tepuk tangan meriah sebagai tanda penerimaan yang hangat.

Usai perayaan, suasana persaudaraan begitu terasa. Para mahasiswa berfoto bersama Romo dan para suster, serta menyapa umat satu per satu dalam suasana akrab dan damai. Momen ini menjadi cerminan nyata dari indahnya persaudaraan dalam keberagaman, di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi tembok, melainkan jembatan kasih dan pengertian.

Terima kasih kepada Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr. yang telah membuka pintu Gereja dan hati bagi para mahasiswa UIN, serta kepada Dewan Pastoral Stasi Maguwo yang turut memfasilitasi. Kehadiran para mahasiswa ini menjadi simbol harapan: bahwa masa depan Indonesia bisa dibangun di atas pondasi keharmonisan, keterbukaan, dan saling menghargai antar umat beragama.

Ketika Suara Kecil Menyentuh Langit Hati

Hari ini seperti biasa saat saya sedang break dari kegiatan, Jari saya sibuk scroll Instagram, tanpa tujuan. Cuma nyari hiburan ringan, ngisi waktu luang, atau sekadar kabur sebentar dari rutinitas yang kadang bikin kepala berat. Timeline penuh video lucu, berita viral, hal-hal receh. Tapi tiba-tiba… saya berhenti.

Sebuah video muncul. Seorang anak sedang menyanyi. Biasa? Tidak. Anak itu dari SLB A Karya Murni Ruteng. Seorang tuna netra. Tapi bukan itu yang bikin saya terpaku. Suaranya… beda. Ada sesuatu di cara dia menyanyikan lagu itu—tulus, jujur, tanpa beban gaya. Langsung menembus ke hati.

“Dengarlah Tuhan memanggilmu… jangan kau terlena membisu…”

Saya merinding. Terdiam. Dunia yang tadinya ribut di kepala saya, mendadak senyap. Seolah lagu itu sedang bicara langsung ke saya. Bukan hanya lirik. Tapi pesan. Panggilan. Ajakannya terasa lembut tapi kuat.

Tanpa pikir panjang, saya buka YouTube. Cari lagu itu. Dapat dua versi. Dan saya dengarkan berulang-ulang. Semakin saya dengar, semakin terasa dalam. Bukan hanya karena liriknya indah, tapi karena saya sadar—saya sedang diingatkan akan sesuatu yang sering saya abaikan.

“Yesus cinta kan pribadimu, dan tak kan pernah meninggalkanmu…”
“Dengarlah lonceng gereja sayup-sayup di sana, pertanda waktunya engkau tinggalkan semuanya…”
“Datanglah engkau bersujud, mohon pengampunan-Nya… sampai saat kau berada di pelukan-Nya.”

Jujur… saya jadi diam. Lama.

Bukan karena sedih. Tapi karena tersentuh. Lagu ini bukan cuma tentang iman. Tapi tentang pulang. Tentang kasih Tuhan yang nggak pernah maksa, tapi selalu nunggu. Tentang panggilan yang kadang kita abaikan karena sibuk ngejar dunia.

Dan yang bikin saya makin mikir… kenapa pesan sebesar ini justru saya terima dari seorang anak kecil yang bahkan tak bisa melihat?

Mungkin itu cara Tuhan bicara. Kadang, Dia nggak pakai mimbar tinggi atau kata-kata sulit. Tapi cukup lewat suara sederhana dari hati yang bersih. Lewat video pendek yang nyempil di tengah scroll-scroll iseng. Lewat lagu yang nggak populer tapi penuh kuasa.

Malam itu, saya duduk lama. Nggak ngapa-ngapain. Cuma dengerin lagu itu sambil mikir…
Kapan terakhir kali saya benar-benar mendengarkan Tuhan?


Dan kamu yang lagi baca ini… entah kenapa saya pengen bilang:
Kalau hari-harimu lagi berat, atau hatimu lagi kosong, atau kamu cuma capek aja tanpa tahu kenapa… mungkin ini juga panggilan buatmu. Nggak usah buru-buru. Nggak harus langsung berubah besar-besaran.

Kadang, cukup diam sebentar. Dengarkan pelan-pelan.
Mungkin ada suara lembut yang udah lama kamu abaikan—tapi sebenarnya dia cuma nunggu kamu menoleh.

Tuhan nggak pernah jauh. Kita aja yang sering jalan terlalu jauh. Tapi kabar baiknya: jalan pulang itu nggak pernah ditutup.

Jadi… siapa tahu, ini waktunya kamu juga pulang