Umat Stasi Maguwo Laksanakan Pertemuan Pertama BKSN 2025: Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri


Memasuki bulan September, umat Katolik di seluruh Indonesia diajak untuk semakin mendalami Sabda Tuhan melalui Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 dengan tema besar “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup” (Za. 1:3). Tema ini mengingatkan bahwa Allah selalu menghendaki umat-Nya untuk memperbarui relasi, baik dengan diri sendiri, dengan sesama, maupun dengan Allah dan seluruh ciptaan.

Di Stasi Maguwo, pertemuan pertama BKSN tahun ini dilaksanakan dengan tema khusus:
“Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri” (Za. 1:1-6).

Pertemuan perdana ini diadakan serentak di beberapa lingkungan, yaitu:

Lingkungan Santa Monica

Lingkungan Santo Paulus

Lingkungan Santo Stefanus

Lingkungan Santo Gregorius

Lingkungan Santo Yohanes Pembaptis

Lingkungan Santo Fransiskus Asisi

Lingkungan Santo Gabriel

Lingkungan St Petrus

Makna Tema Pertemuan

Kitab Zakharia menegaskan pentingnya berbalik kepada Tuhan. Pembaruan hidup dimulai dari dalam diri: berani mengoreksi kelemahan, menyesali kesalahan, dan membuka hati bagi kasih karunia Allah. Relasi dengan diri sendiri berarti berani jujur, berdamai dengan masa lalu, dan membangun niat untuk hidup lebih baik sesuai kehendak Allah.

Dalam pertemuan ini, umat diajak merenungkan bahwa pertobatan pribadi adalah langkah pertama menuju pembaruan relasi dengan sesama dan Allah. Tanpa pembaruan dari dalam, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong.

Suasana Pertemuan di Lingkungan

Setiap lingkungan menggelar pertemuan dengan penuh sukacita dan kekeluargaan. Umat berkumpul, berdoa, membaca Kitab Suci, dan mendalami makna pertobatan sejati. Banyak sharing iman yang menguatkan: ada yang berbagi pengalaman perjuangan mengatasi kelemahan pribadi, ada yang menuturkan bagaimana doa dan Kitab Suci menjadi penolong dalam menghadapi tantangan hidup.

Pertemuan ini juga menjadi sarana untuk saling mendukung. Umat disadarkan bahwa pembaruan diri tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan doa, semangat, dan dukungan dari sesama dalam komunitas iman.

Harapan dan Buah Rohani

Melalui pertemuan pertama BKSN ini, umat Stasi Maguwo diteguhkan untuk memulai pembaruan hidup dari dalam diri. Dengan hati yang diperbarui, umat akan semakin siap membangun relasi yang baik dengan sesama dan semakin setia kepada Allah.

Doa, sharing, dan firman Tuhan yang direnungkan bersama menjadi sumber kekuatan untuk berjalan dalam pertobatan sejati. Dengan demikian, pertemuan pertama ini menjadi fondasi yang kokoh bagi pertemuan-pertemuan BKSN selanjutnya, agar seluruh umat sungguh mengalami Allah sebagai sumber pembaruan relasi dalam hidup.

Umat Stasi Maguwo Laksanakan BKSN Kedua: Pembaruan Relasi dengan Sesama


Setiap bulan September, Gereja Katolik di seluruh Indonesia menghidupi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) sebagai kesempatan khusus untuk semakin akrab dengan Sabda Allah. Tahun 2025 ini, tema besar yang diusung adalah:

“Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup” (Za. 1:3 — “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku pun akan kembali kepadamu”).

Tema ini mengingatkan kita semua bahwa Allah senantiasa memanggil umat-Nya untuk memperbarui relasi, baik dengan Dia, dengan sesama, maupun dengan seluruh ciptaan.

Pertemuan Kedua: Pembaruan Relasi dengan Sesama

Memasuki pertemuan kedua, umat Stasi Maguwo merenungkan tema khusus:
“Pembaruan Relasi dengan Sesama” (Za. 7:1-14).

Pertemuan ini dilaksanakan di berbagai lingkungan, yaitu

Lingkungan Bartolomeus

Yohanes Pembaptis

Lingkungan St. Elisabet

Lingkungan St. Clara

Lingkungan St. Stefanus

Lingkungan St Monica

Lingkungan St Antonius

Lingkungang St Theresia

Lingkungan St Gregorius.

Lingkungan St Petrus

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, umat berkumpul di rumah-rumah umat untuk berdoa, membaca Kitab Suci, dan berbagi pengalaman iman. kaum muda, orangtua, hingga para lansia hadir dengan semangat yang sama: ingin semakin memahami kehendak Allah melalui firman-Nya.

Makna Pertemuan

Bacaan dari Kitab Zakharia (Za. 7:1-14) mengajak umat untuk menyadari bahwa ibadah sejati bukan hanya soal rutinitas doa atau ritual, tetapi harus melahirkan kasih yang nyata kepada sesama. Tuhan menegur umat Israel yang rajin berpuasa tetapi melupakan keadilan, belas kasih, dan kepedulian terhadap yang lemah.

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan kita sekarang. Relasi dengan sesama seringkali retak karena egoisme, perbedaan pendapat, atau sikap tidak peduli. Melalui pertemuan BKSN ini, umat diajak untuk memperbarui relasi tersebut dengan sikap kasih, kepedulian, dan pengampunan.

Suasana Pertemuan di Lingkungan

Dalam setiap pertemuan, suasana sederhana namun penuh makna selalu tercipta. Doa bersama, nyanyian pujian, dan sharing pengalaman hidup membuat pertemuan semakin hidup. Ada umat yang berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka belajar sabar dalam keluarga, ada juga yang menuturkan perjuangan untuk saling menguatkan di tengah kesulitan ekonomi. Semua itu menjadi wujud nyata bahwa firman Tuhan benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya memperdalam iman, BKSN juga mempererat ikatan persaudaraan. Pertemuan di lingkungan menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, saling mendoakan, dan saling meneguhkan. Dari lingkup kecil inilah wajah Gereja yang penuh kasih tampak nyata.

Harapan ke Depan

Melalui pertemuan kedua BKSN 2025 ini, umat Stasi Maguwo berharap semakin diteguhkan dalam iman, khususnya dalam menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan nyata. Relasi dengan sesama hendaknya terus diperbarui, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan yang nyata: membantu yang membutuhkan, menguatkan yang lemah, dan menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

Dengan demikian, ibadah yang dijalankan bukan sekadar rutinitas, melainkan sungguh-sungguh ibadah yang menghidupkan kasih. Dari Sabda yang direnungkan, umat dikuatkan untuk mewartakan kasih Allah dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas.

Ziarah dan Rekreasi (ZIAREK) Lingkungan St. Yohanes Pembaptis


Menguatkan Iman, Menyegarkan Semangat Pelayanan

Pada hari Minggu, 7 September 2025, umat Lingkungan St. Yohanes Pembaptis mengadakan kegiatan Ziarah dan Rekreasi (ZIAREK) sebagai wujud pembinaan iman dan penguatan kebersamaan umat. Kegiatan ini diikuti oleh 62 umat, yang antusias mengikuti rangkaian acara dari pagi hingga sore hari.

Ziarah ke Goa Maria Pereng: Dalam Hening, Iman Diteguhkan

Tujuan pertama adalah Goa Maria Pereng, sebuah tempat ziarah yang dikenal karena suasananya yang tenang dan mendukung refleksi batin. Di lokasi ini, umat bersama-sama melaksanakan:

  • Jalan Salib, mengenang penderitaan Kristus sebagai bentuk permenungan atas pengorbanan-Nya.
  • Doa pribadi, memberikan kesempatan bagi setiap umat untuk mendekatkan diri secara personal kepada Tuhan dan Bunda Maria.

Suasana doa yang khusyuk dan penuh penghayatan menjadi pengalaman spiritual yang memperkaya perjalanan iman para peserta.

Makan Siang Bersama dan Pemilihan Ketua Lingkungan Baru

Usai kegiatan rohani, seluruh peserta menikmati makan siang bersama yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Momen ini tidak hanya menjadi waktu istirahat, tetapi juga ajang saling berbagi cerita dan keakraban antarsesama umat.

Pada kesempatan yang sama, dilakukan juga Pemilihan Ketua Lingkungan Periode 2026-2028 dengan dipandu oleh OMK St. Lucius sebagai Panitia. Proses pemilihan berlangsung secara demokratis dan tertib. Dari 32 nama umat di lingkungan yang memenuhi kriteria sebagai Ketua Lingkungan, terpilihlah 3 orang nama tertinggi untuk menjadi Calon Ketua Lingkungan. Pemilihan dilakukan dengan cara mencoblos para Calon Ketua Lingkungan pada Kertas Suara yang disediakan. Hasil pemilihan tersebut diumumkan pada hari yang sama dan dengan skor 35 suara maka Bapak Y. B Dwi Ariyono Wibowo terpilih sebagai ketua lingkungan yang baru, meneruskan kepemimpinan sebelumnya. Diharapkan, ketua baru ini dapat terus membawa semangat dan arah baru dalam pelayanan umat di lingkungan.

Rekreasi ke Rawa Pening: Menyatu dengan Alam dan Sukacita

Setelah sesi rohani dan kegiatan internal lingkungan, perjalanan dilanjutkan ke Rawa Pening, destinasi wisata alam yang menyuguhkan keindahan dan kesejukan danau. Umat menikmati waktu santai, berfoto bersama, menaiki kapal dan menikmati panorama alam yang menyegarkan.

Perjalanan ditutup dengan membeli oleh-oleh di pedagang sekitar Rawa Pening yang menyajikan berbagai makanan tradisional dan hasil alam sekitar. ZIAREK ini menjadi bukti bahwa iman dan kebersamaan bisa berjalan beriringan. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus menjadi agenda rutin yang membangun, baik secara rohani maupun sosial, bagi umat Lingkungan St. Yohanes Pembaptis.

Pertemuan BKSN 1 dan 2 Lingkungan St Gabriel

Bulan September dalam gereja Katholik merupakan Bulan Kitab Suci Nasional atau yang sering disingkat BKSN. LBI menetapkan tema BKSN 2025 adalah “Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup” (Belajar dari Nubuat Zakharia dan Nubuat Maleakhi). Penentuan tema ini dipengaruhi oleh bulla Paus Fransiskus berkaitan dengan Tahun Yubileum 2025 yang berjudul Spes non Confundit (Pengharapan tidak Mengecewakan). Tema BKSN 2025 ini didalami dalam empat subtema, yakni:
1. Pembaruan Relasi Dengan Diri Sendiri (Za. 1:1-6),
2. Pembaruan Relasi Dengan Sesama (Za. 7:1 -14),
3. Pembaruan Relasi Dalam Keluarga (Mal. 2:10-16),
4. Pembaruan Relasi Dengan Allah (Mal. 3:13-18).

Lingkungan St Gabriel mengadakan pertemuan BKSN 1 dan 2 pada hari Jumat tanggal 5 September 2025 bertempat di rumah keluarga Rudy Manik. Umat yang hadir dalam pertemuan ini terdiri dari bapak, ibu, remaja dan anak berjumlah 26 orang. Pertemuan BKSN 1 dipimpin oleh Jiwo, Arif, Anang dan Natra. Sedangkan pertemuan BKSN 2 dipimpin oleh Candra, Anton, Rudy dan Joseph. Pada pertemuan BKSN 1 kita diajak untuk semakin menyadari bahwa Allah menghendaki manusia mengalami pembaruan relasi dengan diri sendiri,dengan bertobat dan kembali kepada jati dirinya sebagai anak Allah. Petemuan BKSN 2 kita diajak untuk semakin menyadari bahwa ibadah yang sejati kepada Allah senantiasa disertai dengan tindakan yang penuh kasih kepada sesama. Pertemuan BKSN ini ditutup pukul 21.00 WIB.

Pengumpulan Bahan Daur Ulang sebagai Wujud Pengamalan Laudato Si


Maguwo, 24 Agustus 2025 – Ibu-ibu Stasi Maguwo bersama Tim Pelayanan KCLH kembali melaksanakan kegiatan pengumpulan Bahan Daur Ulang (BDU) pada sore hari ini. Kegiatan yang secara rutin dijalankan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan ajaran Laudato Si, ensiklik Paus Fransiskus tentang kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.

Melalui gerakan sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin peka terhadap kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan kembali barang-barang yang bisa didaur ulang. Selain mengurangi sampah, hasil pengumpulan BDU juga menjadi sarana untuk mendukung berbagai kebutuhan pastoral di stasi.

Semangat kebersamaan ibu-ibu stasi dan timpel KCLH menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya sebatas wacana, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata. Dengan langkah kecil yang dilakukan bersama, diharapkan tumbuh kesadaran ekologis yang semakin kuat di tengah umat, sehingga cita-cita “Gereja yang ramah lingkungan” dapat terus digelorakan.

Bulan Katakese Kebangsaan, “Keluarga menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan dan semangat kerasulan”

Refleksi & Diskusi Lingkungan Yohanes Pembaptis – 7 Agustus 2025


Kamis malam, 7 Agustus 2025, keluarga-keluarga Lingkungan Yohanes Pembaptis berkumpul dalam suasana hangat dan penuh persaudaraan di rumah bapak Hardjito. Pertemuan kali ini mengangkat tema “Keluarga menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan dan semangat kerasulan“ yang mengajak umat merenungkan kembali makna janji perkawinan Katolik dan mengaitkannya dengan semangat Katakese Kebangsaan.

Diskusi diawali dengan pengingat bahwa janji perkawinan bukan hanya ikrar untuk saling setia, tetapi juga komitmen mendidik anak secara Katolik, membangun keluarga sebagai “Gereja mini”, dan menumbuhkan iman di rumah. Dari rumah yang beriman inilah lahir pribadi-pribadi yang siap melayani Gereja dan masyarakat.

Poin-poin penting yang dibahas meliputi:

  1. Menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan dalam keluarga melalui doa bersama, misa, Kitab Suci, dan perayaan hari raya Gereja.
  2. Semangat kerasulan — menjadi pewarta kasih Kristus melalui tindakan nyata di lingkungan, baik di Gereja maupun masyarakat luas.
  3. Budaya srawung — perjumpaan interpersonal yang membangun persaudaraan dengan sesama umat dan masyarakat lintas agama, sebagai wujud nyata Katakese Kebangsaan.
  4. Keterkaitan iman dan kebangsaan — keluarga Katolik bukan hanya membentuk anak beriman, tetapi juga warga negara yang menjunjung toleransi, menghargai keberagaman, dan peduli pada keadilan sosial.
  5. Tantangan dan solusinya — mulai dari kesibukan, perbedaan pola didik, pengaruh lingkungan, hingga konflik rumah tangga; diatasi dengan komunikasi yang baik, pembiasaan doa, keterlibatan dalam komunitas, dan saling menguatkan dalam Tuhan.

Dalam suasana diskusi, umat saling berbagi pengalaman tentang bagaimana iman Katolik yang hidup dapat menyatu dengan semangat kebangsaan. Seorang peserta menegaskan, “Kalau kita mau anak-anak kita jadi Katolik yang baik, mereka juga harus jadi warga negara yang baik. Iman dan cinta tanah air itu sejalan.”

Pertemuan ditutup dengan doa pengharapan, memohon agar Tuhan memberi kekuatan untuk setia pada janji perkawinan, mendidik anak dalam iman, serta menjadi keluarga yang membawa terang bagi Gereja dan bangsa.



“From faithful Catholic families come citizens of faith, compassion, and readiness to serve.”

Pembekalan Spiritualitas Pelayanan Pengurus Stasi :Say Yes I Do Love and Serve You


Minggu, 20 Juli 2025, hembusan angin sejuk dan semilir aroma dedaunan di Erista Garden, Pakem, Sleman, menjadi saksi sebuah perjalanan batin para pengurus harian Dewan Pastoral Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Di tengah kesibukan dan dinamika pelayanan, mereka berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan dan harapan untuk mengikuti kegiatan Pembekalan Spiritualitas Pelayanan.

Lebih dari sekadar acara formal, kegiatan ini menjadi ruang kontemplasi bagi para pelayan Gereja untuk kembali menengok makna terdalam dari panggilan mereka: melayani bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan hati yang tulus dan penuh kasih.

Dipandu oleh Ibu F. Netty Kuswandari, S.Pd., M.Si., para peserta diajak menyelami sesi pertama yang membuka cakrawala batin tentang pertumbuhan pribadi dalam pelayanan. Dengan pendekatan yang hangat dan menyentuh, beliau menyampaikan bahwa menjadi pelayan Tuhan bukanlah tentang kesempurnaan, tetapi tentang kesetiaan dalam setiap hal kecil. Tangis haru dan senyuman muncul silih berganti—sebuah tanda bahwa hati-hati ini tersentuh.

Suasana kemudian berubah menjadi lebih ringan namun tetap bermakna dalam sesi bersama GMBA Joyful Team. Melalui gerak, tawa, dan refleksi sederhana, mereka diingatkan bahwa sukacita adalah bagian tak terpisahkan dari pelayanan. Kelelahan bisa datang, tetapi hati yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk tetap berjalan.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan sistematis mengenai mekanisme dan jadwal pemilihan Ketua Stasi, Ketua Wilayah, serta Ketua Lingkungan. Di tengah transisi zaman dan tantangan regenerasi, sesi ini menjadi momentum penting untuk memastikan bahwa tongkat estafet pelayanan diteruskan kepada pribadi-pribadi yang siap dan layak.

Di penghujung acara, dalam suasana yang semakin hening dan sakral, Romo Ant. Dadang Hermawan, Pr., memberikan penguatan rohani dan pengutusan. Dalam doa dan berkat yang disampaikan, setiap peserta seakan diingatkan kembali pada akar panggilan mereka—bahwa pelayanan adalah bagian dari perutusan Kristus, dan setiap langkah kecil yang diambil dalam kasih akan membawa dampak besar bagi umat.

kunjung Instagram Komsos GMBA di : https://www.instagram.com/reel/DMXPNS7Rt4y/?igsh=MW10M3Nuem93YnBrMQ==

Semangat Toleransi: Umat Katolik Lingkungan St. Yohanes Pembaptis Maguwo Turut Menjaga Keamanan Idul Adha

Jumat, 6 Juni 2025 — Hari ini, suasana di sekitar wilayah Stasi Maguwo terasa begitu hidup. Bukan hanya karena keramaian perayaan Idul Adha yang dirayakan penuh khidmat oleh saudara-saudari Muslim, tetapi juga karena hadirnya semangat kebersamaan yang menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.

Sejak pagi hari, umat Katolik dari Lingkungan St. Yohanes Pembaptis turut ambil bagian dalam menjaga kelancaran dan keamanan perayaan Idul Adha yang diselenggarakan di beberapa titik sekitar wilayah Maguwo. Kehadiran para bapak dari Lingkungan Yohanaes Pembabtis ( YP ) menjadi pemandangan yang menarik sekaligus membanggakan……… Dengan rompi merah khas mereka, para bapak ini berdiri sigap di berbagai titik jalan dan area sekitar lokasi salat Id dan penyembelihan hewan kurban.

Bukan sekadar hadir, mereka benar-benar terlibat. Mengatur lalu lintas, mengarahkan warga, membantu menjaga ketertiban, bahkan turut menyapa dengan ramah setiap orang yang melintas. Tak sedikit dari mereka yang harus berdiri berjam-jam di bawah sinar matahari pagi yang hangat, dan semua dilakukan dengan hati yang tulus dan wajah yang tetap tersenyum.

Sementara itu, para ibu dari lingkungan pun tak tinggal diam. Di balik layar, mereka mengambil peran yang tak kalah penting. Sejak pagi, para ibu ini menyiapkan konsumsi untuk para petugas dan relawan — mulai dari air minum, teh hangat, hingga makanan ringan — semua disiapkan dengan penuh kasih. Dukungan mereka menjadi penguat dan penyemangat tersendiri bagi para bapak yang bertugas di lapangan.

Apa yang terjadi hari ini adalah cermin dari semangat toleransi dan persaudaraan yang tumbuh subur di tengah masyarakat Maguwo. Tidak ada sekat agama, tidak ada perbedaan yang membatasi. Yang ada adalah niat yang sama: menjaga kedamaian, saling membantu, dan merayakan kemanusiaan bersama.

Lingkungan St. Yohanes Pembaptis sekali lagi menunjukkan bahwa iman bukan hanya soal doa dan ibadah di dalam gereja, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir untuk sesama tanpa memandang latar belakang, tanpa syarat, dan tanpa pamrih. Inilah wajah Gereja yang hidup dan nyata di tengah masyarakat.

Terima kasih untuk para bapak lingkungan YP dengan rompi merahnya, dan untuk para ibu yang telah memberikan dukungan penuh. Semoga semangat seperti ini terus tumbuh, mengakar, dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Peziarah Pengharapan: Jejak Iman Umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi di Tahun Yubelium 2025

Hari ini, 29 Mei 2025, langit tampak cerah seolah ikut bersukacita menyambut langkah-langkah kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 42 orang, anak-anak, orang muda, hingga para lansia, berkumpul dengan semangat yang sama, melangkah bersama dalam sebuah ziarah iman di Tahun Yubelium, tahun yang dikhususkan oleh Gereja Katolik sebagai momen pengampunan, pembaruan, dan rekonsiliasi.

Tahun Yubelium bukanlah sekadar tradisi. Ini adalah panggilan. Sebuah undangan untuk kembali, kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada ciptaan. Tahun ini, Paus Fransiskus mengangkat tema yang begitu menyentuh: “Peziarah Pengharapan.” Dan kami menjawabnya dengan sungguh-sungguh, lewat perjalanan rohani menuju tiga tempat suci: Taman Doa Maria Oblat, Kapel Salib Suci Gunung Sempu, dan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran.

Langkah Awal: Berangkat Dengan Semangat

Titik kumpul kami di rumah Pak Cahyo, yang sudah ramai selepas Misa Kenaikan Yesus. Senyum, tawa, dan doa-doa kecil mengiringi keberangkatan kami. Tepat pukul 09.30 WIB, setelah semua terbagi dalam 9 mobil, rombongan kami berangkat menuju Taman Doa Maria Oblat.. Tak ada yang membawa beban, yang ada hanya semangat untuk mendekat kepada Tuhan dan saling menguatkan sebagai satu keluarga iman. Perjalanan 20 menit terasa ringan, diiringi canda dan harapan yang memenuhi hati.

Perhentian Pertama: Taman Doa Maria Oblat

Setibanya di sana, kami langsung larut dalam keheningan. Di antara pepohonan yang menyejukkan dan suasana damai, kami menyebar, mencari sudut masing-masing untuk tenggelam dalam doa pribadi, menyerahkan pergumulan, menyampaikan syukur, dan membuka hati bagi kasih Allah. Hati ini terasa lega, seolah beban pelan-pelan dilepaskan.

Perhentian Kedua: Gereja Salib Suci Gunung Sempu

Pukul 10.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sempu, tempat berdirinya Gereja Salib Suci yang menawan. Meski ramai oleh para peziarah lain, ada ketenangan yang tak tergantikan, kami tetap dapat berdoa dengan khidmat. Kami mengadakan ibadat singkat yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon lingkungan, Bapak Yuli, kami mendaraskan doa Rosario bersama, lalu melanjutkan dengan doa pribadi. Hati kami dipenuhi damai dalam kebersamaan. Di momen ini, kami seperti diingatkan: harapan itu nyata, dan ia tumbuh dari iman yang dibagikan bersama.

Perhentian Ketiga: Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran

Ganjuran selalu punya tempat spesial di hati umat Katolik Yogyakarta, simbol iman Katolik yang begitu khas dengan gaya arsitektur Jawa yang sarat makna. Setibanya di sana, sekitar pukul 12.30, kami berdoa secara pribadi, lalu menikmati waktu bebas. Beberapa dari kami mengunjungi museum yang menggugah sejarah iman di Ganjuran, ibu-ibu berbelanja oleh-oleh dan berfoto ria, anak-anak berlarian bebas dengan tawa riang, sementara yang lain duduk menikmati semilir angin. Semuanya terasa seperti pelukan hangat dari Tuhan.

Berbagi Cerita di Meja Makan

Sekitar pukul 14.00, kami menuju Restaurant Parangtritis untuk makan siang bersama. Inilah momen yang tak kalah berharga. Setiap meja menjadi ruang berbagi cerita. Bapak-bapak asyik berdiskusi tentang tembakau, cerutu, dan tentu saja diselingi dengan topik politik. Di sisi lain, ibu-ibu ramai berbagi gosip hangat dan berbincang tentang tugas-tugas pelayanan yang menanti. Sungguh suasana yang hangat, akrab, dan penuh sukacita.

Pulang Dengan Hati Yang Penuh Syukur

Pukul 15.00, kami mengakhiri kegiatan dan kembali ke rumah masing-masing. Namun bukan hanya tubuh kami yang kembali, hati kami pun pulang dengan semangat baru, dengan sukacita yang sulit dijelaskan.

Hari ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah perjalanan hati. Sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, kita selalu punya ruang untuk kembali. Kembali kepada Tuhan. Kembali kepada komunitas. Kembali kepada harapan.

Kami percaya, kegiatan seperti ini bukan hanya menguatkan iman, tapi juga mempererat tali persaudaraan. Kami pulang lebih dekat satu sama lain, lebih semangat dalam tugas, dan lebih sadar akan indahnya berjalan bersama dalam iman.

“Berbahagialah mereka yang berjalan dalam iman, sebab di sanalah harapan tumbuh dan kasih berkembang.”

Pembukaan Bulan Maria – Stasi St. Maria Bunda Allah Maguwo

Saudara-saudari umat Allah yang terkasih,

Hari ini, Kamis 1 Mei 2025, Bersama seluruh Gereja, kita memasuki Bulan Maria, masa penuh rahmat, ketika hati umat Katolik diarahkan secara khusus kepada Santa Perawan Maria, Bunda Tuhan kita. Dalam bulan ini, kita diajak untuk merenungkan kehadiran Bunda Maria dalam hidup kita, meneladani imannya yang total, dan membuka hati bagi karya keselamatan yang diwartakan melalui hidup dan tindakannya.

Dalam semangat iman dan devosi yang mendalam, Stasi Maria Bunda Allah memulai Bulan Maria dengan sebuah peristiwa rohani yang sungguh indah dan menyentuh: doa Rosario serentak oleh seluruh lingkungan, dilaksanakan di waktu yang sama, namun di tempat yang tersebar di tiap lingkungan masing-masing. Walau secara fisik terpisah, tetapi umat dipersatukan dalam satu semangat, satu intensi, dan satu hati di hadapan Allah, melalui perantaraan Bunda Maria.

Masing-masing lingkungan menyalakan terang devosi dari tempatnya sendiri, namun bersama-sama membentuk satu untaian doa yang harum di hadapan Tuhan. Satu demi satu, butir-butir Rosario dinaikkan sebagai persembahan cinta dan harapan, sebagai bentuk syukur dan permohonan, sebagai tanda kesetiaan umat kepada Allah melalui hati seorang ibu Maria, yang senantiasa mendoakan dan mendampingi anak-anaknya.

Inilah kekuatan Gereja: bersatu dalam doa, meskipun tak berada dalam satu ruangan. Seperti cahaya lilin di malam hari, yang terpisah namun menyatu dalam terang, demikian pula umat Stasi Maria Bunda Allah malam ini menghadirkan kehangatan iman dalam lingkup masing-masing, namun menggemakan satu suara kepada Surga.

Semoga rangkaian doa Rosario yang kita mulai malam ini menjadi sumber berkat bagi setiap keluarga, lingkungan, dan stasi kita. Semoga melalui perantaraan Bunda Maria, hidup kita pun makin dibentuk menjadi pribadi yang rendah hati, taat pada kehendak Allah, dan penuh kasih terhadap sesama.

putar audio di bawah ini, kemudian pejamkan mata anda………..

Santa Maria, Bunda Allah,
Doakanlah kami yang berlindung kepadamu.
Amin
.