BKSN III&IV Lingkungan St. Yohanes Pembaptis

BKSN (Bulan Kitab Suci Nasional) selalu menjadi momen yang indah bagi umat Katolik untuk kembali merenungkan betapa berharganya Sabda Allah dalam hidup sehari-hari. Sabda yang kita dengarkan bukan sekadar cerita dari masa lalu, melainkan sungguh-sungguh hidup, berbicara, dan menuntun kita di masa kini. Pada minggu ke-3 dan ke-4, tema yang kita renungkan mengarah kepada relasi kita dengan keluarga serta relasi kita dengan Allah. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan, karena keluarga adalah anugerah Allah, dan Allah adalah sumber kasih yang menopang setiap keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama di mana kita belajar tentang arti kasih, pengorbanan, dan kesetiaan. Dari ayah, ibu, dan saudara, kita mengenal apa itu perhatian, kebersamaan, dan tanggung jawab. Keluarga adalah sekolah kehidupan, tempat di mana nilai-nilai iman diajarkan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui teladan nyata.

Namun, kita juga tidak menutup mata bahwa dalam keluarga sering muncul konflik, perbedaan pendapat, bahkan kekecewaan. Ada saatnya kita merasa tidak dipahami, atau justru kita sendiri gagal memahami orang lain dalam keluarga. Di sinilah Sabda Tuhan mengajak kita untuk terus membangun kasih dan pengampunan. Kasih dalam keluarga bukanlah kasih yang instan, melainkan kasih yang diperjuangkan, dipelihara, dan diperbarui setiap hari.

Yesus sendiri menunjukkan betapa pentingnya keluarga. Ia tumbuh dalam keluarga Nazaret yang sederhana, di mana Yusuf dan Maria menjadi teladan iman, ketaatan, dan kasih. Kehidupan Yesus bersama keluarganya menjadi gambaran bagaimana keluarga yang dipenuhi kasih Allah akan melahirkan buah-buah kebaikan. Maka, ketika kita berusaha membangun keluarga yang penuh cinta, kita sesungguhnya sedang menghadirkan wajah Allah di dunia. Keluarga yang rukun, saling mendukung, dan menghidupi nilai iman akan menjadi bukti nyata bagi orang lain tentang kasih Allah yang hidup.Namun, hubungan kita tidak berhenti hanya pada lingkup keluarga.

Relasi dengan Allah adalah dasar dan kekuatan bagi segalanya. Kita bisa memiliki keluarga yang hangat, damai, dan penuh cinta, hanya jika kita terlebih dahulu berakar dalam kasih Allah. Relasi dengan Allah terjalin dalam doa pribadi, doa bersama keluarga, perayaan Ekaristi, dan keterbukaan hati terhadap Sabda-Nya. Allah bukanlah sosok yang jauh dan menakutkan, melainkan Bapa yang penuh kasih, yang selalu menyertai dan mendengarkan kita. Ketika kita memberi waktu untuk berdoa dan merenungkan firman, kita sesungguhnya sedang memperbarui ikatan cinta kita dengan Allah.Relasi dengan Allah juga mengajarkan kita untuk berserah dan percaya.

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada rencana yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Ada kegagalan, sakit hati, atau jalan yang terasa buntu. Namun, ketika kita memiliki hubungan yang erat dengan Allah, kita belajar untuk percaya bahwa segala sesuatu terjadi dalam rencana-Nya yang penuh kasih. Dalam keheningan doa, kita menemukan kekuatan untuk tetap melangkah, sekalipun jalan hidup terasa berat.


PERTEMUAN BKSN 3 Umat Stasi Maguwo dengan Tema: “Pembaruan Relasi dalam Keluarga” (Mal. 2:10-16)


Umat Stasi Maguwo kembali melaksanakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025, kali ini memasuki pertemuan ke-3 dengan tema “Pembaruan Relasi dalam Keluarga”. Pertemuan ini menjadi kesempatan berharga untuk meneguhkan setiap keluarga agar tetap setia pada panggilannya, hidup dalam kasih, serta menjadi saksi iman di tengah dunia.

Dalam bacaan dari Kitab Maleakhi, umat diajak untuk menyadari bahwa kita semua berasal dari satu Bapa yang sama. Karena itu, keluarga dipanggil untuk menjaga kesetiaan, mengutamakan kasih, dan menjauhi perpecahan. Nabi Maleakhi dengan tegas mengingatkan bahwa relasi yang rapuh, penuh konflik, atau tanpa kesetiaan akan merusak keharmonisan keluarga. Sebaliknya, keluarga yang dibangun atas dasar kasih akan menjadi berkat, bukan hanya bagi anggotanya sendiri, tetapi juga bagi lingkungan sekitar.

Suasana pertemuan BKSN di berbagai lingkungan pun terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Umat bersama-sama merenungkan Firman Tuhan, berdiskusi, dan berbagi pengalaman hidup sehari-hari dalam keluarga. Lewat sharing iman yang sederhana, setiap peserta semakin diteguhkan bahwa keluarga adalah “sekolah kasih” di mana pengampunan dipelajari, kesabaran dilatih, dan kesetiaan dijaga.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk tidak berhenti memperbarui diri dalam lingkup keluarga. Kasih yang hidup di dalam keluarga diharapkan dapat menjadi dasar untuk membangun relasi yang lebih luas, baik di gereja maupun di masyarakat.

Lingkungan St Gregorius

Lingkungan St Yohanes Pembabtis

Lingkungan St Stefanus

Lingkungan St Theresia

Lingkungan St Monica

Lingkungan St Clara

Lingkungan St Bartolomeus

Lingkungan St Gabriel

Lingkungan St Petrus

Lingkungan St Paulus

Lingkungan St Fransiskus Asisi

Lingkungan St Antonius

Semoga pertemuan BKSN ini semakin meneguhkan setiap keluarga untuk hidup dalam kasih, setia pada janji, dan menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia.

Sembayangan BKSN II di Lingkungan St. Yohanes Pembaptis


Kamis, 11 September 2025, umat Lingkungan St. Yohanes Pembaptis kembali berkumpul dalam semangat kebersamaan untuk mengikuti Sembayangan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) II, yang kali ini diselenggarakan di rumah keluarga Bapak Isaac.

Kegiatan doa bersama ini dipandu dengan penuh semangat dan kekhusyukan oleh Ibu Yati dan Ibu Fitri selaku pemandu ibadat. Suasana akrab dan hangat terasa sejak awal pertemuan, memperkuat ikatan iman dan persaudaraan antarumat.

Tema BKSN tahun ini mengajak kita untuk lebih mendalami Sabda Tuhan dan menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pembacaan Kitab Suci dan permenungan bersama, umat diajak untuk tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku firman Tuhan dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, di mana umat saling bertukar cerita, berbagi sukacita, dan mempererat relasi satu sama lain. Semoga kegiatan BKSN ini semakin membangkitkan semangat umat untuk mencintai dan menghidupi Sabda Tuhan dalam keseharian, serta memperkuat persaudaraan sejati dalam komunitas.

Misa Kunjungan Romo ke Lingkungan St Gabriel

Misa kunjungan romo ke lingkungan merupakan salah satu program pastoral dari Pastor Paroki Marganingsih Kalasan. Tujuannya:

  • Menjalin kedekatan antara umat lingkungan dengan gembala paroki.
  • Membantu umat merasakan kehadiran Gereja secara nyata di tengah keluarga/lingkungan.
  • Memberi kesempatan bagi romo untuk mendengar langsung pengalaman, kebutuhan, maupun dinamika umat di basis.
  • Menghidupkan semangat kebersamaan dan persaudaraan iman dalam lingkup lingkungan.

Program ini umumnya diatur dalam jadwal tahunan paroki, sehingga setiap lingkungan mendapat giliran dikunjungi dan dirayakan misa bersama.

Pada hari Kamis, 11 September 2025 bertempat di rumah keluarga Donatus Jumadi, Lingkungan St. Gabriel mendapat kesempatan untuk melaksanakan Misa Kunjungan Romo sesuai program pastoral Paroki Marganingsih Kalasan.

Sejak pukul 10.00 pagi, umat lingkungan bergotong-royong mengadakan kerja bakti: ada yang memasak, menata tempat, mempersiapkan altar, menghias bunga, serta menyiapkan segala kebutuhan untuk misa. Suasana kebersamaan terasa hangat dan penuh semangat pelayanan.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo F.X. Murdi Susanto, Pr. dan dihadiri 48 umat, terdiri dari bapak-ibu, OMK, remaja, dan anak-anak PIA. Misa berlangsung khidmat dan meriah.

Melalui misa kunjungan ini, umat semakin diteguhkan dalam iman serta dikuatkan dalam persaudaraan.

Dalam Bacaan Pertama Kolose 3:12-17 memiliki pesan yang sangat indah untuk menguatkan umat lingkungan:

  • Hidup penuh kasih dan saling mengampuni.
  • Menjadi saksi Kristus dalam perbuatan sehari-hari.
  • Menjadikan syukur sebagai dasar kehidupan bersama.

Injil: Lukas 6:27-38

✨ Pesan Injil Lukas 6:27-38 ini sangat kuat bila dihubungkan dengan kehidupan umat di lingkungan: dipanggil untuk hidup dalam kasih, pengampunan, dan kemurahan hati, tidak hanya kepada sesama umat tetapi juga dalam relasi sehari-hari.

Acara ditutup dengan ramah tamah sederhana yang semakin mempererat persaudaraan.

Lingkungan St. Gabriel mengucapkan terima kasih kepada Romo, pengurus lingkungan, serta seluruh umat yang telah hadir dan mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

Misa ini menjadi sarana mempererat kebersamaan, memperdalam iman, serta menghadirkan Gereja di tengah-tengah umat lingkungan. Kehadiran romo juga menjadi kesempatan bagi umat untuk menyampaikan pengalaman serta harapan dalam kehidupan menggereja di Lingkungan St. Gabriel.

Misa Lingkungan St. Clara: Sabda Bahagia untuk Umat Bahagia

Hari yang ceria bagi umat St. Clara pada Rabu, 10 September 2025 karena dapat kembali menggelar Misa Lingkungan sebagai bagian dari kegiatan paguyuban umat lingkungan St. Clara. Perayaan ekaristi bertempat di kediaman Bapak Hugo Tridjoko, dengan dipimpin oleh Romo F.X. Murdi Susanto, Pr. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan rohani yang sederhana dan hangat, dimana pada hari itu umat St. Clara kembali merenungkan sabda bahagia yang menjadi pengingat kita akan kekuatan iman dalam menghadapi tantangan dunia.

Sebagaimana tertuang dalam bacaan Injil, yakni Lukas 6:20-26, melalui homilinya, Romo Murdi kembali menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari hal-hal yang bersifat fana, melainkan buah atas keyakinan umat Kristus dalam memuliakan penderitaan hidup. Memuliakan penderitaan bukan dimaknai sebagai hidup seadanya, tetapi menjadi sarana bagi kita, umat-Nya, untuk selalu memperkuat relasi dengan Allah. Sukacita yang lahir dari iman yang tidak tergoncangkan oleh hambatan dan tantangan hidup adalah kebahagiaan sejati dalam hidup orang beriman akan Kristus. Umat lingkungan St. Clara diajak untuk senantiasa berpegang teguh pada iman dalam menghadapi getirnya kehidupan yang silih berganti sebagai sarana penguatan diri menuju kehidupan yang beriman dan seturut kehendak-Nya.

Perayaan liturgi dapat berjalan dengan lancar dan khidmat berkat dukungan umat lingkungan yang dengan rendah hati bersuka cita untuk melayani. Dengan penuh semangat, diantaranya yaitu Bapak Catur sebagai prodiakon, Ibu Amy sebagai Lektor, Ibu Yulia sebagai pemandu lagu, dan Mas Henri sebagai organis. Tidak lupa, kontribusi yang patut diapresiasi dari anak muda yaitu Rachel yang bersama Ibu Tanti untuk menghaturkan doa umat kepada Bapa. Tentu, kehadiran segenap umat lingkungan menjadi pelengkap suasana yang hangat sehingga momen Misa Lingkungan kali ini menjadi pengalaman hangat dan penuh kebahagiaan, sebagaimana yel-yel umat lingkungan St. Clara, yaitu Clara Ceria, Bahagia, Ya! Ya! Ya! Sangat mencerminkan umat yang bahagia. Tak lupa, setiap umat memiliki peran masing-masing dalam mengupayakan momen ceria berjalan lancar, tidak hanya melalui petugas liturgi, namun juga sikap nyengkuyung mempersiapkan lokasi hingga jamuan.

Selepas perayaan ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan sesi sharing yang hangat nan santai. Salah satu topik mengemuka dalam diskusi yaitu terkait dengan Perkawinan Beda Agama. Seluruh umat mengikutinya dengan antusias, suatu isu yang cukup populer dan relevan masa kini, khususnya di kalangan anak muda. Diskusi berlangsung terbuka dan saling menghargai, membuka ruang reflektif bagi umat untuk memahami dinamika kehidupan beriman dalam konteks relasi lintas keyakinan. Melalui diskusi ini juga menjadi bentuk bagaimana kendala berupa perbedaan perlu ditanggapi dengan penuh Iman demi mewujudkan kebahagiaan kekal bersama. Selain itu, diskusi tersebut menjadi bentuk nyata semangat sabda bahagia dalam umat lingkungan St. Clara dalam membangun basis komunitas yang tidak hanya aktif secara liturgi, tetapi juga pedulu terhadap isu-isu nyata dalam kehidupan umat. Terima kasih atas partisipasi umat, semoga kebersamaan dan pembinaan iman dalam lingkungan St. Clara kian tumbuh dan menjadi berkat bagi seluruh umat maupun masyarakat. Amin.

Santa Clara? Ceria! Bahagia! Ya! Ya! Ya!

Umat Stasi Maguwo Laksanakan Pertemuan Pertama BKSN 2025: Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri


Memasuki bulan September, umat Katolik di seluruh Indonesia diajak untuk semakin mendalami Sabda Tuhan melalui Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 dengan tema besar “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup” (Za. 1:3). Tema ini mengingatkan bahwa Allah selalu menghendaki umat-Nya untuk memperbarui relasi, baik dengan diri sendiri, dengan sesama, maupun dengan Allah dan seluruh ciptaan.

Di Stasi Maguwo, pertemuan pertama BKSN tahun ini dilaksanakan dengan tema khusus:
“Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri” (Za. 1:1-6).

Pertemuan perdana ini diadakan serentak di beberapa lingkungan, yaitu:

Lingkungan Santa Monica

Lingkungan Santo Paulus

Lingkungan Santo Stefanus

Lingkungan Santo Gregorius

Lingkungan Santo Yohanes Pembaptis

Lingkungan Santo Fransiskus Asisi

Lingkungan Santo Gabriel

Lingkungan St Petrus

Makna Tema Pertemuan

Kitab Zakharia menegaskan pentingnya berbalik kepada Tuhan. Pembaruan hidup dimulai dari dalam diri: berani mengoreksi kelemahan, menyesali kesalahan, dan membuka hati bagi kasih karunia Allah. Relasi dengan diri sendiri berarti berani jujur, berdamai dengan masa lalu, dan membangun niat untuk hidup lebih baik sesuai kehendak Allah.

Dalam pertemuan ini, umat diajak merenungkan bahwa pertobatan pribadi adalah langkah pertama menuju pembaruan relasi dengan sesama dan Allah. Tanpa pembaruan dari dalam, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong.

Suasana Pertemuan di Lingkungan

Setiap lingkungan menggelar pertemuan dengan penuh sukacita dan kekeluargaan. Umat berkumpul, berdoa, membaca Kitab Suci, dan mendalami makna pertobatan sejati. Banyak sharing iman yang menguatkan: ada yang berbagi pengalaman perjuangan mengatasi kelemahan pribadi, ada yang menuturkan bagaimana doa dan Kitab Suci menjadi penolong dalam menghadapi tantangan hidup.

Pertemuan ini juga menjadi sarana untuk saling mendukung. Umat disadarkan bahwa pembaruan diri tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan doa, semangat, dan dukungan dari sesama dalam komunitas iman.

Harapan dan Buah Rohani

Melalui pertemuan pertama BKSN ini, umat Stasi Maguwo diteguhkan untuk memulai pembaruan hidup dari dalam diri. Dengan hati yang diperbarui, umat akan semakin siap membangun relasi yang baik dengan sesama dan semakin setia kepada Allah.

Doa, sharing, dan firman Tuhan yang direnungkan bersama menjadi sumber kekuatan untuk berjalan dalam pertobatan sejati. Dengan demikian, pertemuan pertama ini menjadi fondasi yang kokoh bagi pertemuan-pertemuan BKSN selanjutnya, agar seluruh umat sungguh mengalami Allah sebagai sumber pembaruan relasi dalam hidup.

Umat Stasi Maguwo Laksanakan BKSN Kedua: Pembaruan Relasi dengan Sesama


Setiap bulan September, Gereja Katolik di seluruh Indonesia menghidupi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) sebagai kesempatan khusus untuk semakin akrab dengan Sabda Allah. Tahun 2025 ini, tema besar yang diusung adalah:

“Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup” (Za. 1:3 — “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku pun akan kembali kepadamu”).

Tema ini mengingatkan kita semua bahwa Allah senantiasa memanggil umat-Nya untuk memperbarui relasi, baik dengan Dia, dengan sesama, maupun dengan seluruh ciptaan.

Pertemuan Kedua: Pembaruan Relasi dengan Sesama

Memasuki pertemuan kedua, umat Stasi Maguwo merenungkan tema khusus:
“Pembaruan Relasi dengan Sesama” (Za. 7:1-14).

Pertemuan ini dilaksanakan di berbagai lingkungan, yaitu

Lingkungan Bartolomeus

Yohanes Pembaptis

Lingkungan St. Elisabet

Lingkungan St. Clara

Lingkungan St. Stefanus

Lingkungan St Monica

Lingkungan St Antonius

Lingkungang St Theresia

Lingkungan St Gregorius.

Lingkungan St Petrus

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, umat berkumpul di rumah-rumah umat untuk berdoa, membaca Kitab Suci, dan berbagi pengalaman iman. kaum muda, orangtua, hingga para lansia hadir dengan semangat yang sama: ingin semakin memahami kehendak Allah melalui firman-Nya.

Makna Pertemuan

Bacaan dari Kitab Zakharia (Za. 7:1-14) mengajak umat untuk menyadari bahwa ibadah sejati bukan hanya soal rutinitas doa atau ritual, tetapi harus melahirkan kasih yang nyata kepada sesama. Tuhan menegur umat Israel yang rajin berpuasa tetapi melupakan keadilan, belas kasih, dan kepedulian terhadap yang lemah.

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan kita sekarang. Relasi dengan sesama seringkali retak karena egoisme, perbedaan pendapat, atau sikap tidak peduli. Melalui pertemuan BKSN ini, umat diajak untuk memperbarui relasi tersebut dengan sikap kasih, kepedulian, dan pengampunan.

Suasana Pertemuan di Lingkungan

Dalam setiap pertemuan, suasana sederhana namun penuh makna selalu tercipta. Doa bersama, nyanyian pujian, dan sharing pengalaman hidup membuat pertemuan semakin hidup. Ada umat yang berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka belajar sabar dalam keluarga, ada juga yang menuturkan perjuangan untuk saling menguatkan di tengah kesulitan ekonomi. Semua itu menjadi wujud nyata bahwa firman Tuhan benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya memperdalam iman, BKSN juga mempererat ikatan persaudaraan. Pertemuan di lingkungan menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, saling mendoakan, dan saling meneguhkan. Dari lingkup kecil inilah wajah Gereja yang penuh kasih tampak nyata.

Harapan ke Depan

Melalui pertemuan kedua BKSN 2025 ini, umat Stasi Maguwo berharap semakin diteguhkan dalam iman, khususnya dalam menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan nyata. Relasi dengan sesama hendaknya terus diperbarui, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan yang nyata: membantu yang membutuhkan, menguatkan yang lemah, dan menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

Dengan demikian, ibadah yang dijalankan bukan sekadar rutinitas, melainkan sungguh-sungguh ibadah yang menghidupkan kasih. Dari Sabda yang direnungkan, umat dikuatkan untuk mewartakan kasih Allah dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas.

Ziarah dan Rekreasi (ZIAREK) Lingkungan St. Yohanes Pembaptis


Menguatkan Iman, Menyegarkan Semangat Pelayanan

Pada hari Minggu, 7 September 2025, umat Lingkungan St. Yohanes Pembaptis mengadakan kegiatan Ziarah dan Rekreasi (ZIAREK) sebagai wujud pembinaan iman dan penguatan kebersamaan umat. Kegiatan ini diikuti oleh 62 umat, yang antusias mengikuti rangkaian acara dari pagi hingga sore hari.

Ziarah ke Goa Maria Pereng: Dalam Hening, Iman Diteguhkan

Tujuan pertama adalah Goa Maria Pereng, sebuah tempat ziarah yang dikenal karena suasananya yang tenang dan mendukung refleksi batin. Di lokasi ini, umat bersama-sama melaksanakan:

  • Jalan Salib, mengenang penderitaan Kristus sebagai bentuk permenungan atas pengorbanan-Nya.
  • Doa pribadi, memberikan kesempatan bagi setiap umat untuk mendekatkan diri secara personal kepada Tuhan dan Bunda Maria.

Suasana doa yang khusyuk dan penuh penghayatan menjadi pengalaman spiritual yang memperkaya perjalanan iman para peserta.

Makan Siang Bersama dan Pemilihan Ketua Lingkungan Baru

Usai kegiatan rohani, seluruh peserta menikmati makan siang bersama yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Momen ini tidak hanya menjadi waktu istirahat, tetapi juga ajang saling berbagi cerita dan keakraban antarsesama umat.

Pada kesempatan yang sama, dilakukan juga Pemilihan Ketua Lingkungan Periode 2026-2028 dengan dipandu oleh OMK St. Lucius sebagai Panitia. Proses pemilihan berlangsung secara demokratis dan tertib. Dari 32 nama umat di lingkungan yang memenuhi kriteria sebagai Ketua Lingkungan, terpilihlah 3 orang nama tertinggi untuk menjadi Calon Ketua Lingkungan. Pemilihan dilakukan dengan cara mencoblos para Calon Ketua Lingkungan pada Kertas Suara yang disediakan. Hasil pemilihan tersebut diumumkan pada hari yang sama dan dengan skor 35 suara maka Bapak Y. B Dwi Ariyono Wibowo terpilih sebagai ketua lingkungan yang baru, meneruskan kepemimpinan sebelumnya. Diharapkan, ketua baru ini dapat terus membawa semangat dan arah baru dalam pelayanan umat di lingkungan.

Rekreasi ke Rawa Pening: Menyatu dengan Alam dan Sukacita

Setelah sesi rohani dan kegiatan internal lingkungan, perjalanan dilanjutkan ke Rawa Pening, destinasi wisata alam yang menyuguhkan keindahan dan kesejukan danau. Umat menikmati waktu santai, berfoto bersama, menaiki kapal dan menikmati panorama alam yang menyegarkan.

Perjalanan ditutup dengan membeli oleh-oleh di pedagang sekitar Rawa Pening yang menyajikan berbagai makanan tradisional dan hasil alam sekitar. ZIAREK ini menjadi bukti bahwa iman dan kebersamaan bisa berjalan beriringan. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus menjadi agenda rutin yang membangun, baik secara rohani maupun sosial, bagi umat Lingkungan St. Yohanes Pembaptis.

Pertemuan BKSN 1 dan 2 Lingkungan St Gabriel

Bulan September dalam gereja Katholik merupakan Bulan Kitab Suci Nasional atau yang sering disingkat BKSN. LBI menetapkan tema BKSN 2025 adalah “Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup” (Belajar dari Nubuat Zakharia dan Nubuat Maleakhi). Penentuan tema ini dipengaruhi oleh bulla Paus Fransiskus berkaitan dengan Tahun Yubileum 2025 yang berjudul Spes non Confundit (Pengharapan tidak Mengecewakan). Tema BKSN 2025 ini didalami dalam empat subtema, yakni:
1. Pembaruan Relasi Dengan Diri Sendiri (Za. 1:1-6),
2. Pembaruan Relasi Dengan Sesama (Za. 7:1 -14),
3. Pembaruan Relasi Dalam Keluarga (Mal. 2:10-16),
4. Pembaruan Relasi Dengan Allah (Mal. 3:13-18).

Lingkungan St Gabriel mengadakan pertemuan BKSN 1 dan 2 pada hari Jumat tanggal 5 September 2025 bertempat di rumah keluarga Rudy Manik. Umat yang hadir dalam pertemuan ini terdiri dari bapak, ibu, remaja dan anak berjumlah 26 orang. Pertemuan BKSN 1 dipimpin oleh Jiwo, Arif, Anang dan Natra. Sedangkan pertemuan BKSN 2 dipimpin oleh Candra, Anton, Rudy dan Joseph. Pada pertemuan BKSN 1 kita diajak untuk semakin menyadari bahwa Allah menghendaki manusia mengalami pembaruan relasi dengan diri sendiri,dengan bertobat dan kembali kepada jati dirinya sebagai anak Allah. Petemuan BKSN 2 kita diajak untuk semakin menyadari bahwa ibadah yang sejati kepada Allah senantiasa disertai dengan tindakan yang penuh kasih kepada sesama. Pertemuan BKSN ini ditutup pukul 21.00 WIB.

Pengumpulan Bahan Daur Ulang sebagai Wujud Pengamalan Laudato Si


Maguwo, 24 Agustus 2025 – Ibu-ibu Stasi Maguwo bersama Tim Pelayanan KCLH kembali melaksanakan kegiatan pengumpulan Bahan Daur Ulang (BDU) pada sore hari ini. Kegiatan yang secara rutin dijalankan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan ajaran Laudato Si, ensiklik Paus Fransiskus tentang kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.

Melalui gerakan sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin peka terhadap kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan kembali barang-barang yang bisa didaur ulang. Selain mengurangi sampah, hasil pengumpulan BDU juga menjadi sarana untuk mendukung berbagai kebutuhan pastoral di stasi.

Semangat kebersamaan ibu-ibu stasi dan timpel KCLH menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya sebatas wacana, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata. Dengan langkah kecil yang dilakukan bersama, diharapkan tumbuh kesadaran ekologis yang semakin kuat di tengah umat, sehingga cita-cita “Gereja yang ramah lingkungan” dapat terus digelorakan.