Ibadat Tujuh Sabda: Merenungkan Kasih di Tengah Sunyi

Maguwo, Jumat 18 April 2025

Dalam keheningan pagi Jumat Agung, umat Paroki Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk mengikuti Ibadat Tujuh Sabda, sebuah ibadat yang sarat makna untuk mengenangkan tujuh perkataan terakhir Yesus di kayu salib. Ibadat dilaksanakan pada pagi hari, dan menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian perayaan Tri Hari Suci.

Yang menjadi keistimewaan tahun ini, seluruh ibadat dibawakan dengan penuh penghayatan oleh para remaja Orang Muda Katolik (OMK) Maguwo. Dengan semangat pelayanan yang tulus, para OMK membacakan teks-teks sabda, doa-doa pengantar, serta menyampaikan renungan singkat untuk setiap sabda. Renungan yang disampaikan mencerminkan suara dan hati generasi muda, yang mencoba memahami dan meresapi makna penderitaan serta kasih pengorbanan Kristus dalam konteks hidup mereka saat ini.

Setiap renungan yang dibawakan tidak hanya menyentuh hati, tapi juga mengajak umat untuk melihat kembali bagaimana Sabda Yesus masih berbicara dengan kuat hingga hari ini—tentang pengampunan, pengharapan, cinta, dan penyerahan total kepada Bapa.

Suasana ibadat semakin syahdu dengan kehadiran Tim Cantorez, yang mengisi bagian musikal sepanjang ibadat. Lagu-lagu yang dibawakan dengan penuh perasaan mengalun lembut, menyatu dengan suasana reflektif, membawa umat masuk lebih dalam ke dalam permenungan. Tim Cantorez tidak hanya mengiringi, tetapi benar-benar memperkuat suasana kontemplatif lewat paduan suara yang tenang dan menyentuh.

Ibadat ini bukan hanya menjadi sarana doa, tetapi juga momen edukatif rohani bagi OMK dan seluruh umat. Gereja sungguh dihidupkan oleh semangat keterlibatan lintas generasi—di mana para remaja mengambil peran aktif, dan para penggiat musik turut mempersembahkan talenta mereka untuk memuliakan Tuhan.

Lewat Ibadat Tujuh Sabda yang penuh penghayatan ini, umat diajak untuk tidak hanya mengingat penderitaan Kristus, tetapi juga menjawab kasih-Nya dengan hidup yang penuh cinta, pengampunan, dan pelayanan.

terimakasih

Davina, Helena, Fira, Valent, Jannete, Sasia, Kian, Otto, Yudha



Ibadat Jumat Agung: Dalam Sunyi dan Hujan, Umat Merenungkan Salib-Nya

Maguwo, 18 April 2025 — Suasana langit yang kelabu dan rintik hujan yang turun sejak siang hari tidak menghalangi semangat umat  Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo untuk mengikuti Ibadat Jumat Agung, yang dilangsungkan pada pukul 15.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Fajar Kristianto, Pr.

Sekitar 1.092 umat hadir memenuhi gereja, menghayati momen suci mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Ibadat yang berlangsung hingga pukul 17.00 WIB ini dilaksanakan dalam suasana hening, penuh penghayatan, dan sarat makna.

Jumat Agung adalah satu-satunya hari dalam tahun liturgi Gereja di mana Ekaristi tidak dirayakan. Sebagai gantinya, umat diajak untuk merenungkan kisah sengsara Yesus , mendengarkan renungan, menyampaikan doa umat yang merangkul seluruh dunia, dan kemudian menghormati salib—tanda kasih yang mengalahkan dosa dan kematian.

Meski di luar hujan turun, di dalam gereja suasana terasa hangat oleh kehadiran umat yang tekun berdoa dan merenung. Suara bacaan dan doa menggema lembut, berpadu dengan tetes hujan yang jatuh di atap, seolah ikut meratapi penderitaan Sang Juruselamat. Salib yang dihadirkan dan dihormati umat menjadi titik pusat perhatian, simbol pengorbanan agung dan kasih tanpa batas.

Dalam homilinya, Romo Fajar mengajak umat untuk tidak hanya melihat salib sebagai lambang penderitaan, tetapi sebagai tanda harapan, bahwa dalam setiap luka dan pergumulan hidup, ada kasih Tuhan yang menyelamatkan. Ia menekankan bahwa Jumat Agung bukan hanya hari duka, tetapi juga hari kasih—kasih yang ditunjukkan dengan cara paling radikal: pengorbanan diri sepenuhnya.

Perayaan ini menjadi momen permenungan yang dalam, di mana setiap umat diajak untuk diam, melihat ke dalam hati, dan bertanya: “Apa makna salib dalam hidupku hari ini?”

Di tengah hujan, Gereja tetap penuh. Umat tetap hadir. Hati tetap terbuka. Karena kasih Tuhan, bahkan di hari tergelap, tetap bersinar.



Kamis Putih: Malam Penuh Cinta, Kaki, dan Kontemplasi

 

 

 

Maguwo, 17 April 2025

Dalam suasana yang khusyuk dan penuh penghayatan, umat Paroki Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk merayakan Kamis Putih, perayaan yang mengawali rangkaian Tri Hari Suci menjelang Hari Raya Paskah. Perayaan Ekaristi dimulai tepat pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr., dan dihadiri oleh 1.214 umat yang memadati area gereja.

 

Kamis Putih mengajak umat untuk mengenangkan dua momen penting dalam kehidupan Yesus: Perjamuan Terakhir, di mana Ia menetapkan Sakramen Ekaristi, dan pembasuhan kaki murid-murid-Nya, sebuah tindakan kasih dan kerendahan hati yang luar biasa. Dalam homilinya, Romo Ngatmo menekankan bahwa peristiwa Kamis Putih bukan sekadar kenangan sejarah, tetapi panggilan nyata bagi setiap umat untuk menghadirkan kasih melalui pelayanan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Bagian pembasuhan kaki menjadi salah satu momen yang menyentuh, ketika Romo Ngatmo membasuh kaki perwakilan umat sebagai simbol kasih yang tidak pilih-pilih, kasih yang melayani dan merendahkan diri, seperti yang telah diteladankan oleh Kristus.

Setelah liturgi Ekaristi, perayaan dilanjutkan dengan pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan sementara, melambangkan Yesus yang memasuki saat-saat penderitaan di Taman Getsemani. Gereja kemudian memasuki suasana hening, mengajak umat untuk masuk dalam doa dan permenungan yang lebih dalam.

Usai misa, kegiatan dilanjutkan dengan tuguran atau doa berjaga, yang dibagi dalam empat sesi oleh perwakilan wilayah: Sang Timur, Loyola, Don Bosco, dan De Britto. Masing-masing wilayah memimpin umat dalam doa dan pujian, menjaga suasana tenang dan sakral sebagai bentuk kesetiaan menemani Yesus dalam pergulatan-Nya di malam menjelang penangkapan.

Perayaan Kamis Putih ini menjadi pengingat yang kuat bahwa iman bukan hanya soal ke gereja, tetapi juga soal hadir, melayani, dan mencintai—dengan rendah hati, seperti Kristus telah lakukan.

 

dokumen bisa di akses melalui :

https://drive.google.com/drive/folders/1UBbJWGnaTZVreJn9tEy1k9o6csEiTsbw



Minggu Palma di St. Maria Bunda Allah Maguwo:

Arak-arakan Iman, Daun Palma, dan Langkah Menuju Kasih Sejati

 

Minggu, 13 April 2025. Udara pagi masih sejuk, tapi halaman belakang Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo sudah ramai sejak sebelum matahari sepenuhnya naik. Ada yang datang sambil menenteng daun palma dari kebun, ada yang bawa yang sudah dianyam mirip bunga (atau ayam jago? siapa yang tahu…), dan tentu saja ada yang datang sambil bisik-bisik, “Ini bener nggak sih bawa palem dari pot ruang tamu?”

 

Tepat pukul 07.00 WIB, umat berkumpul dan siap memulai Perayaan Minggu Palma yang dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr. Di tengah semilir angin pagi dan iringan lagu pujian, Romo memberkati daun palma yang menjadi simbol semangat kita menyambut Kristus, Sang Raja Damai.
Tapi jangan salah, ini bukan cuma acara tabur daun lalu pulang. Ini awal dari sebuah perjalanan iman!

Usai diberkati, ratusan umat mulai berarak dari halaman belakang menuju dalam gereja. Suasananya mirip pawai kecil—tapi bukan pawai biasa. Ini pawai iman. Ada yang melambai-lambaikan daun palma dengan semangat (bahkan lebih semangat dari suporter bola), ada yang jalan sambil nyanyi, dan ada yang… sudah ngos-ngosan di tengah jalan tapi tetap semangat karena “ini kan cuma pemanasan sebelum jalan salib!”

 

Setibanya di dalam gereja, suasana menjadi lebih hening dan sakral. Dalam homilinya, Romo Maradiyo mengajak umat untuk tidak hanya jadi pengikut Kristus saat dielu-elukan, tapi juga saat Ia memanggul salib.

“Kita semua hari ini ikut arak-arakan penuh sukacita. Tapi jangan berhenti di sini. Siapkah kita tetap berjalan bersama Yesus, meski jalan-Nya penuh luka?”

Seketika, suasana berubah. Semua kembali merenung—bahwa daun palma hanyalah awal dari sebuah perjalanan yang lebih dalam: perjalanan menuju salib, dan akhirnya menuju kebangkitan.

 

Perayaan ini tidak hanya mengingatkan kita pada kisah dua ribu tahun lalu, tetapi juga mengajak kita semua untuk menghidupi semangatnya hari ini: dalam keluarga, di tempat kerja, di jalanan, dan dalam komunitas. Bahwa iman bukan hanya tentang seremoni, tapi keberanian untuk terus mengikuti Yesus, bahkan saat dunia tak lagi bersorak.

 

 

Minggu Palma kali ini bukan hanya penuh daun, tapi juga penuh harapan. Umat pulang dengan tangan menggenggam palma—dan hati menggenggam semangat baru untuk menyambut Pekan Suci dengan iman yang hidup.

 


Tonggak Sejarah Baru: Masterplan Kawasan Gereja Santa Maria Bunda Allah Resmi Disetujui oleh Tim Pembangunan KAS

 

Hari ini, Kamis, 10 April 2025, menjadi momen yang tak terlupakan dalam perjalanan umat Stasi Maguwo. Di tengah harapan dan kerja keras yang telah dirintis sejak lama, satu langkah besar telah tercapai: Masterplan Kawasan Gereja Santa Maria Bunda Allah – Stasi Maguwo telah resmi disahkan dan disetujui oleh Tim Pembangunan Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Momen ini adalah buah dari proses yang penuh ketekunan, refleksi, dan kolaborasi. Sebuah visi besar tentang bagaimana Gereja seharusnya hadir di tengah umat dan masyarakat telah dituangkan secara konkret ke dalam rencana yang matang dan menyeluruh—bukan sekadar menggambar bangunan, tapi merancang masa depan.

Proses pemaparan dilakukan dengan penuh semangat dan keyakinan oleh Tim Pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah, di bawah kepemimpinan Bapak Al. Bagio M., dan didampingi oleh Saudara Martinus Ervin selaku perancang masterplan. Bersama para anggota tim lainnya, mereka mempersembahkan lebih dari sekadar presentasi. Mereka mempersembahkan sebuah mimpi umat, sebuah cita-cita bersama yang lahir dari doa, diskusi, dan kerinduan untuk menjadikan Gereja sebagai rumah yang hidup.

Setelah pemaparan mendalam dan sesi tanya jawab, rombongan Tim Pembangunan KAS melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Udara pagi Maguwo menyambut langkah-langkah penuh harapan itu. Dan di tengah gereja ini yang akan menjadi pusat perjumpaan ilahi dan manusia itu, sebuah keputusan penting diambil………………………….

“Kami menyetujui masterplan ini.”

Kalimat singkat itu bukan hanya persetujuan administratif. ini adalah pengesahan atas harapan. Ini adalah jawaban atas doa. Dan ini menjadi panggilan bagi kita semua untuk melangkah ke tahap selanjutnya — bersama.

Masterplan ini memuat lebih dari sekadar gedung atau batas tanah. Ia merancang rumah Tuhan yang menumbuhkan iman, menyediakan ruang pelayanan pastoral yang membentuk karakter, dan membuka pintu sosial Gereja bagi siapa pun yang mengetuk.

Kini, saatnya kita bergerak maju. Dengan restu Keuskupan, kita diundang untuk melanjutkan proses ini dengan penuh semangat dan komitmen: mempersiapkan penggalangan dana, perencanaan teknis lanjutan, dan pelaksanaan pembangunan secara bertahap.


Perjalanan ini adalah perjalanan kita bersama.
Bukan tentang membangun dinding dan atap, tetapi membangun warisan iman bagi anak cucu kita. Bukan semata menyusun bata demi bata, tapi menyusun kasih, pengharapan, dan pelayanan dalam wajah Gereja yang nyata.

Mari kita tanggapi anugerah hari ini dengan hati yang bersyukur dan tangan yang siap terulur. Sebab dengan bersama, kita bisa menghadirkan sesuatu yang besar, indah, dan bermakna—demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama.

Ad maiorem Dei gloriam – Demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.


 

terima kasih kepada :
bapak Al. Bagio. M ketua tim pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah
Martinus Ervin, desainer masterplan Gereja Santa Maria Bunda Allah
Tim pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah



Dua Berkat, Satu Sukacita: Baptis dan Peneguhan di GMBA Maguwo

Minggu 6 April 2025, suasana di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa sedikit lebih manis dan penuh senyum dari biasanya. Bukan karena pendinginnya nyala maksimal atau karena koor-nya nyanyi lagu favorit umat, tapi karena kita semua ikut menyaksikan dua momen sakral dan membahagiakan: pembaptisan satu anak dan peneguhan satu anak remaja.

Satu anak resmi “masuk anggota” penuh keluarga besar umat Allah lewat sakramen baptis. anak itu tersenyum waktu disiram air baptis bisa jadi karena kaget airnya agak dingin, tapi kami percaya itu adalah air sukacita yang membasuh dan menyegarkan jiwa. Selamat datang dalam kehidupan iman, dek! Satu langkah kecil bagimu, tapi langkah besar menuju surga

Di saat yang hampir bersamaan, seorang anak remaja kita juga menerima sakramen peneguhan tanda bahwa ia siap jadi pribadi yang lebih kokoh dalam iman. Kalau sebelumnya dibimbing, sekarang mulai siap membimbing. Walau mungkin masih suka lupa naruh kunci rumah, semoga tidak pernah lupa kalau dirinya sudah dipenuhi Roh Kudus

Kedua peristiwa ini adalah pengingat kecil bahwa Gereja bukan cuma bangunan, tapi keluarga yang terus bertumbuh. Ada yang baru bergabung, ada yang diteguhkan, dan ada kita semua yang selalu diingatkan: iman itu hidup, dan harus terus ditumbuhkan bersama.

Selamat untuk kedua anak dan keluarganya! Terima kasih juga untuk semua umat yang hadir, ikut tersenyum, dan tentu saja—ikut berdoa (meski sambil ngelirik jam, takut terlambat sarapan kedua)

 

terima kasih romo Dadang

 

 

 



Bersama Menyukseskan Pekan Suci 2025: Sinergi Dewan Harian, Panitia Paskah, dan Umat Stasi Maguwo

Pekan Suci merupakan puncak dari perjalanan iman umat Katolik dalam masa Prapaskah. Di tahun 2025 ini, semangat persiapan dan pelayanan untuk menyambut kebangkitan Tuhan sungguh terasa di tengah umat Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Segala kegiatan dan persiapan tidak lepas dari kerja sama yang solid antara Dewan Harian Stasi dan Panitia Paskah 2025, serta dukungan luas dari berbagai elemen umat.

Dalam semangat sinodalitas—berjalan bersama dalam iman dan pelayanan—Panitia Paskah 2025 bekerja bahu-membahu dengan Dewan Harian Stasi untuk merancang, mengoordinasikan, dan melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan liturgi selama Pekan Suci, mulai dari Minggu Palma hingga Perayaan Paskah.

Tahun ini, Wilayah Don Bosco dan Wilayah Loyola mendapat kepercayaan sebagai panitia utama, dan telah menunjukkan komitmen luar biasa dalam menggerakkan umat dan membangun koordinasi lintas wilayah. Dukungan penuh juga datang dari 17 Ketua Lingkungan (Kaling) di Stasi Maguwo, yang turut mengorganisir partisipasi umat di setiap perayaan dan mendukung kelancaran teknis maupun liturgis.

Tidak ketinggalan, tim-tim pendukung lainnya seperti liturgi, dekorasi, koor, prodiakon, tim keamanan, konsumsi, tim kesehatan dan soundsystem juga memainkan peran penting dalam menciptakan suasana ibadat yang khusyuk dan tertib. Seluruh tim bekerja dalam satu semangat: pelayanan yang tulus untuk memuliakan Tuhan dan membangun kebersamaan umat.

Dengan kerja sama yang erat ini, Pekan Suci 2025 bukan hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa ketika umat saling mendukung dan bersatu dalam pelayanan, kehadiran Tuhan sungguh nyata di tengah komunitas.

Semoga seluruh rangkaian ibadat dan kegiatan dalam Pekan Suci 2025 berjalan lancar dan menjadi berkat bagi seluruh umat di Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Proses Menuju Masa Depan Pembuatan dan Pengajuan Masterplan Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Membangun bukan sekadar soal mendirikan fisik, tetapi menata harapan, merancang masa depan, dan menyusun ruang-ruang yang akan menjadi tempat perjumpaan umat dengan Tuhan dan sesama. Itulah semangat yang mengiringi seluruh proses penyusunan masterplan Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo—sebuah proses panjang yang dilandasi doa, dialog, dan kerinduan akan ruang ibadah yang semakin hidup dan mendukung dinamika iman umat.

Proses ini dimulai dari pertemuan-pertemuan awal, ketika umat bersama tim pastoral dan tokoh-tokoh lingkungan mulai menggagas perlunya pengembangan sarana dan prasarana gereja. Dalam diskusi yang terbuka, berbagai harapan dikumpulkan: ruang ibadat yang lebih representatif, fasilitas pastoral yang mendukung kegiatan kategorial, hingga area parkir dan ruang terbuka yang nyaman untuk beraktivitas dan bersosialisasi.

Berangkat dari semangat sinodalitas—berjalan bersama dalam mendengarkan dan merancang—dibentuklah tim perumus yang bekerja sama dengan tenaga ahli untuk mulai menyusun masterplan yang menyeluruh. Tahapan demi tahapan dijalani: mulai dari survei kondisi eksisting, studi kebutuhan umat, penyusunan konsep awal, hingga pematangan desain arsitektural dan fungsional. Seluruh proses ini tidak lepas dari berbagai revisi dan penyesuaian, yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab demi menghadirkan rencana pembangunan yang realistis, berkelanjutan, dan selaras dengan semangat liturgi serta pastoral Gereja Katolik.

Setiap masukan dari umat, dewan Stasi GMBA, hingga arahan dari pihak romo paroki menjadi bagian penting yang membentuk dan memperkaya rencana ini. Dengan semangat gotong royong, niat baik, dan kerja keras banyak pihak, masterplan akhirnya rampung dan secara resmi telah diajukan ke Keuskupan Agung Semarang untuk mendapatkan pertimbangan dan persetujuan.

Tahap pengajuan ini menjadi langkah besar yang menandai awal dari perjalanan berikutnya—sebuah proses yang tentu masih panjang, tetapi penuh harapan. Pengajuan ini adalah buah dari kerja kolektif seluruh komunitas stasi, dan menjadi ungkapan iman bahwa pembangunan gereja bukan semata-mata membangun bangunan, melainkan membangun hidup bersama yang semakin kuat dalam kasih dan pelayanan.

Semoga proses yang telah dilalui ini menjadi dasar yang kokoh untuk tahap selanjutnya. Dan kiranya, segala niat baik umat stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo mendapat berkat dan penyertaan Tuhan, hingga pada waktunya, masterplan ini bisa diwujudkan demi pelayanan dan pertumbuhan iman umat yang semakin hidup dan dinamis.

terima kasih untuk Tim pembangunan GMBA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Keikut sertaan Tim Soundsystem GMBA dalam Gladi Paskah 2025 Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Menjelang perayaan Paskah 2025, berbagai tim pelayanan di lingkungan Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) mulai mempersiapkan diri untuk menyambut momen puncak dalam tahun liturgi dengan penuh kesungguhan dan sukacita. Salah satu tim yang turut ambil bagian secara aktif adalah tim soundsystem GMBA, yang hadir dan terlibat penuh dalam gladi bersih persiapan Paskah yang diselenggarakan di gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Keterlibatan tim soundsystem bukan sekadar urusan teknis semata, tetapi menjadi bagian penting dari keseluruhan atmosfer liturgi. Dalam gladi ini, tim bekerja sama erat dengan tim liturgi, tim koor, prodiakon, lektor, serta petugas-petugas ibadat lainnya, guna memastikan setiap rangkaian perayaan berjalan harmonis dan tanpa hambatan, khususnya dalam hal pendukung suara dan audio.

Selama gladi, tim melakukan pengecekan menyeluruh terhadap seluruh perangkat soundsystem, termasuk mixer, speaker, mikrofon kabel maupun wireless, serta memastikan posisi dan volume alat telah diatur dengan baik sesuai kebutuhan liturgi. Gladi ini juga menjadi ajang simulasi—bagaimana suara pemimpin ibadat, pembaca, serta koor bisa terdengar jelas dan merata di seluruh penjuru gereja. Tak jarang, beberapa penyesuaian teknis dilakukan di tempat demi mendapatkan hasil yang optimal.

Tidak hanya berfokus pada aspek teknis, keikutsertaan tim dalam gladi ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat semangat kebersamaan dan pelayanan lintas tim. Suasana latihan yang penuh semangat, didukung oleh komunikasi yang terbuka dan saling menghargai, menciptakan keharmonisan yang sangat diperlukan dalam pelayanan gerejawi. Tim soundsystem GMBA pun menunjukkan semangat siap melayani, siap berkolaborasi, dan siap memberikan yang terbaik demi mendukung kelancaran perayaan Paskah.

Gladi ini menjadi cerminan dari semangat Paskah itu sendiri: kerja sama, pengorbanan waktu dan tenaga, serta kerinduan untuk menghadirkan suasana ibadat yang sungguh mendalam dan menyentuh hati umat. Melalui pelayanan teknis yang mungkin tak selalu terlihat oleh umat secara langsung, tim soundsystem percaya bahwa setiap suara yang terdengar dengan jernih dan setiap kata yang tersampaikan dengan baik adalah bagian dari pewartaan kabar sukacita kebangkitan Tuhan.

Dengan penuh syukur dan antusiasme, tim soundsystem GMBA siap menyambut perayaan Paskah 2025. Semoga setiap hal kecil yang dipersiapkan dalam gladi ini menjadi bagian dari kemuliaan Tuhan, dan umat dapat merasakan kehadiran-Nya secara nyata dalam setiap detik ibadat yang akan dijalani.



Ziarah Suara dan Doa – Sebuah Perjalanan Iman

Dalam semangat kebersamaan dan iman yang terus menyala, 5 april 2025 tim soundsystem GMBA memulai perjalanan ziarah rohani ke sembilan tempat suci, menapaki jejak-jejak kasih Tuhan dalam keheningan dan doa. Ziarah ini bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin, menyatu dalam syukur, harapan, dan pembaruan diri.

  1. Ibu Maria Damparing Kawicaksanan (Turi Sleman)
    Perjalanan dimulai dengan menapaki jalan sejuk di lereng Merapi, menuju tempat yang penuh damai: Ibu Maria Damparing Kawicaksanan. Di tengah hijaunya alam, kami memulai doa, menyerahkan niat dan permohonan di bawah naungan Bunda yang penuh kebijaksanaan.
  2. Sendang Sono (Kalibawang Kulonprogo)
    Lalu kami melangkah ke “Lourdes-nya Indonesia”, Sendang Sono. Di tempat ini, kami merefleksikan sejarah iman dan ketekunan misionaris, seraya membasuh hati dengan air sendang yang menyegarkan jiwa.
  3. Bunda Maria Penolong Abadi (Minggir Sleman)
    Dalam keheningan yang teduh, kami tiba di tempat ziarah Bunda Maria Penolong Abadi. Di sini, kami membawa segala beban hidup untuk dititipkan pada Bunda yang tak pernah lelah menolong anak-anaknya.
  4. Jatiningsih (Klepu Sleman)
    Suasana syahdu menyambut di Jatiningsih. Deretan pohon jati menjadi saksi keheningan doa-doa yang kami panjatkan. Kami memohon keteguhan iman dalam menjalani panggilan hidup sehari-hari.
  5. Jurang Metes (Sedayu Bantul)
    Jurang Metes memberikan nuansa alam yang memukau. Di tengah denting air dan udara sejuk, kami merenungkan makna pertobatan dan kesetiaan dalam mengikuti Kristus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup.
  6. Candi Maria (Sedayu Bantul)
    Tak jauh dari sana, Candi Maria menawarkan keheningan khas tempat ziarah. Dalam balutan arsitektur yang unik, kami merasakan kehadiran Maria sebagai Ibu Gereja yang selalu menyertai perjalanan umatnya.
  7. Gua Maria Semanggi (Kasongan Bantul)
    Di tengah kehidupan seni Kasongan, Gua Maria Semanggi menjadi tempat hening yang membumi. Kami bersyukur atas karya-karya kami dan memohon agar setiap pelayanan kami—termasuk dalam bidang soundsystem—senantiasa menjadi berkat.
  8. Wajah Yesus (Pajangan Bantul)
    Kami kemudian menghadap Wajah Yesus di Pajangan, tempat kontemplatif yang menghadirkan kedekatan pribadi dengan Sang Penebus. Tatapan-Nya mengajak kami merenung dan memperbarui diri dalam kasih dan pengampunan.
  9. Ganjuran (Bambanglipuro Bantul)
    Ziarah ditutup di Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, simbol perjumpaan antara iman dan budaya. Di altar Jawa yang agung, kami menutup perjalanan dengan misa syukur, memohon berkat untuk karya, keluarga, dan seluruh kehidupan kami.

Ziarah ini menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Lewat setiap langkah, doa, dan perhentian, kami disegarkan dalam iman dan persaudaraan. Semoga kasih Tuhan yang kami alami sepanjang perjalanan ini terus memancar lewat pelayanan kami, tak hanya dalam suara yang terdengar, tapi juga dalam hati yang tersentuh.