Dari Sampah Jadi Energi: Cerita Tim KCLH Maguwo di Workshop Laudato Si


Minggu, 21 September 2025, perwakilan Tim KCLH Stasi Maguwo ikut hadir di acara Peringatan 10 Tahun Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus. Kegiatan ini digelar di Rumah Pengolahan Sampah Plastik Pirolisis, Cupuwatu II – Kalasan, sekaligus jadi bagian dari gerakan global Musim Penciptaan (1 September–4 Oktober). Acara berlangsung dari jam 09.00 sampai 12.00 WIB, penuh dengan edukasi dan praktik nyata.

Topik utama yang dibahas adalah pengelolaan sampah plastik dengan teknologi pirolisis. Jadi, plastik yang biasanya cuma numpuk atau dibakar bisa diubah jadi energi: bensin, solar, minyak tanah, sampai briket. Pegiat lingkungan Fransisca Supriyani Wulandari menjelaskan, pirolisis jauh lebih ramah lingkungan ketimbang insinerator atau sekadar dibakar, karena pembakaran plastik justru bikin polusi makin parah. Hasil pirolisis ini juga tidak dijual, tapi dipakai untuk operasional dan edukasi masyarakat.

Beliau juga mengingatkan kalau krisis plastik makin serius karena kita masih terbiasa pakai plastik sekali pakai (sedotan, cup, kresek), dan belum disiplin memilah sampah. Sementara itu, Agustinus Irawan menyoroti krisis air bersih di Sleman. Berdasarkan penelitian 2022–2024, hampir semua mata air di Sleman tercemar bakteri E.coli. Penyebabnya mulai dari pupuk kandang yang tidak difermentasi sampai limbah cair rumah tangga yang masuk sungai. Ditambah lagi, tren minuman sekali pakai seperti es teh jumbo nyumbang banyak sampah plastik.

Dari sisi gereja, Kianto Atmodjo dari Tim Laudato Si Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengenalkan konsep Paroki Hijau. Artinya, paroki-paroki didorong untuk lebih ramah lingkungan: mulai dari mengganti bunga potong dengan tanaman hidup, mengurangi plastik dalam liturgi dan kegiatan gereja, sampai mengelola sampah lewat bank sampah paroki. Menurutnya, ini bukan cuma soal kesadaran, tapi soal keterampilan dan kebiasaan hidup bertanggung jawab. Beberapa paroki yang sudah menerapkan bank sampah bahkan bisa mengumpulkan puluhan juta rupiah dari hasil pengelolaan.

Acara ditutup dengan semangat bahwa menjaga bumi adalah panggilan iman. Dari hal sederhana seperti mengurangi plastik, tidak membuang sampah sembarangan, sampai mendukung program paroki hijau. Semua itu jadi bentuk nyata kita ikut mewujudkan ajakan Laudato Si: merawat bumi sebagai rumah bersama.

dikutip dari :

Workshop Pirolisis Dorong Solusi Nyata Sampah Plastik dalam Peringatan 10 Tahun Laudato Si – Keuskupan Agung Semarang

“Dari Maguwo untuk Lansia: Orang Muda Hadir Membawa Harapan”


Pada hari Minggu, 21 September 2025, Kaum Muda Maguwo turut ambil bagian dalam kegiatan Tindak Lanjut Pembekalan Orang Muda Peduli Lansia yang diselenggarakan oleh Komisi Musyawarah Lansia (Kimusi Lansia) Kevikepan Yogyakarta Timur, bertempat di Aula Paroki Bintaran. Kegiatan ini mengusung tema: “Sahabat Lansia, Siap Melayani.”

Setiap paroki diundang dengan perwakilan dua orang muda dan satu anggota Tim PIUL. Namun khusus untuk Maguwo, diperkenankan hadir tiga orang muda: Mbak Dysi, Mas Reno, dan Mas Daniel, yang didampingi oleh dua Tim Pelayanan PIUL, yaitu Bp. Franz dan Bp. Sudiharto.

Setibanya di lokasi, para peserta langsung dikelompokkan sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan. Perwakilan Maguwo ditempatkan dalam Kelompok D Santa Maria, bersama dengan peserta dari Paroki Babadan, Kalasan, Macanan, dan Minomartani.

Acara dimulai tepat pukul 10.30 dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Hymne Yubelium, doa pembukaan, serta doa Yubelium. Dalam sambutannya, Bapak Bambang, selaku Wakil Ketua Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur, menekankan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam kepedulian terhadap para lansia. Beliau berharap OMK tidak hanya mendukung kegiatan PIUL, tetapi juga dapat menginisiasi pelayanan yang digerakkan oleh kaum muda sendiri.

Materi utama pertemuan disampaikan oleh Ibu Yulianti, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok.

  • Diskusi Tahap 1 membahas tentang pembentukan dua grup WA sebagai sarana komunikasi dan koordinasi. Untuk Kelompok St. Maria, diskusi dipandu oleh dr. Dysi.
  • Diskusi Tahap 2 berfokus pada penyusunan rencana kegiatan Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur. Di kelompok St. Maria, Mas Daniel bertindak sebagai pemandu, Mas Reno mencatat jalannya diskusi, dan Mbak Dysi menuangkan ide-ide dalam bentuk slogan dan ilustrasi.

Hasil diskusi kemudian dipresentasikan. Sebagai moderator, Bapak Bambang memberikan kesempatan kepada lima kelompok untuk menyampaikan gagasannya. Kelompok St. Maria turut ambil bagian, dengan presentasi disampaikan oleh Mas Daniel dan Mas Reno. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan para peserta mulai merasa lapar, semangat diskusi tetap terjaga hingga akhirnya hanya tiga kelompok yang memaparkan hasil secara penuh, sementara dua kelompok lainnya cukup menyampaikan inti pembahasan.

Pertemuan ditutup dengan doa penutup sekaligus doa makan pada pukul 13.30. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh semangat persaudaraan, menjadi tanda nyata bahwa kaum muda pun siap menjadi sahabat bagi para lansia dalam pelayanan Gereja.

Serunya Umat Maguwo Ikut Workshop TikTok for Business


Beberapa umat dari Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo punya pengalaman seru minggu ini. Mereka ikutan Workshop TikTok for Business 2025 yang digelar oleh Billa Creative bareng Rumah BUMN Yogyakarta. Suasananya santai tapi penuh ilmu, apalagi buat mereka yang pengin mengembangkan usaha dengan cara yang lebih kekinian.

Acara ini menghadirkan Deddy Susanto, Chief Operating Officer dari Billa Creative, yang berbagi banyak trik soal bikin konten TikTok. Bukan sekadar bikin video lucu-lucuan, tapi gimana caranya konten bisa jadi pintu rezeki, mengenalkan usaha, bahkan membangun brand yang kuat. Cara penyampaiannya enak, gampang dicerna, dan bikin peserta betah menyimak sampai akhir.

Umat Maguwo yang ikut merasa dapat insight baru. Mereka jadi sadar kalau TikTok bukan cuma aplikasi hiburan, tapi juga peluang besar untuk usaha. Dengan sedikit kreativitas, konsistensi, dan keberanian untuk mencoba, siapa pun bisa berkembang di dunia digital.


Belajar hal baru kayak gini bikin kita makin yakin bahwa talenta yang Tuhan kasih bisa dipakai di mana aja—termasuk di dunia digital. Bikin konten nggak melulu soal viral, tapi bisa juga jadi cara sederhana untuk berbagi kebaikan dan menghadirkan terang Kristus lewat kreativitas.

Kunjungan Kasih Timpel PIUL: Merangkai Doa, Persaudaraan, dan Kenangan Pelayanan


Dalam semangat persaudaraan seiman dan kepedulian terhadap para lansia, Timpel PIUL kembali melaksanakan karya pelayanan kasih melalui kunjungan ke rumah umat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari perhatian Gereja kepada mereka yang telah lebih dahulu menabur benih iman dan pengabdian di tengah komunitas.

Kunjungan pertama dilakukan ke kediaman Bapak YB Hardjito dan Ibu Fransiska Jumirah. Suasana akrab dan penuh kekeluargaan begitu terasa sejak awal perjumpaan. Setelah diawali dengan doa bersama, tim kemudian mendampingi Bapak Hardjito untuk pemeriksaan kesehatan oleh Bapak Y. Sudiharto. Pemeriksaan meliputi tensi darah, kadar gula, asam urat, dan kolesterol. Hasilnya pun dibicarakan dengan ringan dan penuh perhatian, menjadi sarana untuk saling menguatkan dalam menjaga kesehatan di usia lanjut.

Dalam percakapan hangat, tersingkaplah kembali kisah perjalanan pelayanan Bapak Hardjito. Beliau pernah menjadi Koordinator sekaligus Pelatih musik inkulturasi gamelan Jawa untuk liturgi. Dengan penuh semangat, beliau menceritakan kembali pengalamannya mengiringi puji-pujian Gereja dengan lantunan gamelan, sebuah warisan budaya sekaligus wujud iman yang indah. Meskipun kini usia telah sepuh dan sudah lama fakum, semangatnya tetap menyala ketika berbicara tentang gamelan liturgi. Pandangan matanya seakan kembali hidup, menandakan betapa besar cinta yang pernah beliau berikan untuk Gereja melalui seni musik.

Perjalanan pelayanan kasih dilanjutkan ke Lingkungan St. Gabriel, mengunjungi Bapak Jumadi. Beliau pun memiliki kisah yang serupa: dahulu aktif sebagai pemusik gamelan yang memegang gong, ikut serta menghidupi suasana liturgi dengan indahnya harmoni tradisi Jawa. Saat ini, meski harus berjuang dengan kondisi kesehatan akibat Parkinson, semangat imannya tetap kokoh. Beliau masih berusaha hadir di Gereja setiap kali ada kesempatan, menjadi teladan kesetiaan dan ketekunan dalam menghidupi iman di tengah keterbatasan.

Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang pemeriksaan kesehatan fisik, melainkan juga menjadi ruang perjumpaan hati, di mana doa, cerita, kenangan, dan semangat pelayanan kembali dirangkai bersama. Melalui kisah para lansia, kita diajak merenungkan betapa iman dan pengabdian yang telah mereka taburkan merupakan harta berharga bagi Gereja.

Semoga karya pelayanan sederhana ini semakin meneguhkan bahwa Gereja adalah rumah yang saling menopang, tempat di mana setiap pribadi – muda maupun sepuh – dihargai dan dicintai. Kehadiran Timpel PIUL menjadi tanda bahwa kasih Kristus terus mengalir, menyapa, dan menguatkan semua umat-Nya.

“Wujud Kasih dan Kepedulian: Stasi Maguwo Salurkan Bantuan kepada Warga Terdampak Bencana”


Minggu, 24 September 2025, Stasi Maguwo kembali menunjukkan kepedulian terhadap sesama dengan memberikan bantuan kepada tiga keluarga warga Lingkungan Santo Yusuf yang rumahnya terdampak angin puting beliung.

Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung oleh Ketua Stasi Maguwo, Bapak Agung, dan disaksikan oleh Ketua Bidang Kemasyarakatan, Bapak Al Bagio, serta Ketua Lingkungan Santo Yusuf, Bapak Sugeng.

Adapun penerima bantuan adalah:

  1. Yohanes Surahmin
  2. Theresia Ngatinem
  3. Christina Waliti

Melalui kegiatan ini, Stasi Maguwo berharap dapat meringankan beban keluarga terdampak serta memperkuat semangat kebersamaan dan solidaritas antarumat. Bantuan yang diberikan diharapkan dapat membantu proses pemulihan dan menjadi wujud nyata kasih serta perhatian gereja terhadap umatnya.

“Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan beban saudara-saudara kita dan menjadi pengingat bahwa kita adalah satu keluarga dalam iman dan kasih,”

Stasi Maguwo berkomitmen untuk terus hadir dan memberikan dukungan kepada umat yang membutuhkan, terutama dalam situasi darurat dan musibah.

Taman Eden di Rumah: Menciptakan Surga Kecil dalam Keluarga Katolik

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kasih, karena atas rahmat dan penyelenggaraan-Nya, Timpel PIOD ( Pendamping Iman Orang Dewasa ) GMBA, dibawah Bidang Pewarta melaksanakan kegiatan Sarasehan Keluarga Stasi Santa Maria Bunda Allah – Maguwo dapat terselenggara dengan penuh sukacita dan kekeluargaan pada hari Sabtu, 26 Juli 2025, bertempat di Erista Garden, Pakem.

Acara ini mengambil tema yang sangat relevan dan menyentuh, yaitu: “Taman Eden di Rumah: Menciptakan Surga Kecil dalam Keluarga Katolik”. Sebuah tema yang tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi seluruh umat, bahwa keluarga adalah ladang pertama dan utama dalam menanam, menumbuhkan, serta merawat cinta kasih Kristiani.

Sarasehan ini dihadiri oleh para keluarga dari berbagai lingkungan di Stasi Maguwo, dengan suasana yang hangat, penuh semangat, dan kebersamaan yang terasa sangat kental. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang refleksi, tetapi juga menjadi sarana rekreasi rohani bersama keluarga tercinta, di tengah padatnya rutinitas dan tantangan zaman.

Kami merasa sangat diberkati karena pada kesempatan ini, hadir dua narasumber luar biasa yang memberikan pencerahan dan motivasi mendalam.

  1. Romo Dr. Ag. Tri Edi Warsono, Pr., seorang imam dan akademisi yang memberikan refleksi teologis yang sangat menyentuh tentang makna keluarga sebagai “Gambaran Taman Eden” masa kini—sebuah tempat di mana cinta Allah dinyatakan dan dihidupi secara nyata.
  2. Ibu F. Netty Kuswandari, S.Pd., M.Si., seorang pendidik sekaligus praktisi keluarga, yang membagikan banyak tips dan pengalaman praktis mengenai bagaimana menciptakan suasana rumah yang penuh kasih, komunikasi yang sehat, serta membina relasi yang harmonis antara suami, istri, dan anak-anak dalam terang iman Katolik.

Kegiatan ini dibalut dengan berbagai sesi interaktif seperti diskusi kelompok, tanya jawab, sharing pengalaman antar keluarga, serta games ringan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Semua itu mempererat rasa persaudaraan dan meneguhkan kembali komitmen umat untuk menjadikan keluarga sebagai “Gereja Mini” yang hidup, berkembang, dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.

Tak lupa, keindahan alam Erista Garden yang sejuk dan menenangkan menjadi pelengkap sempurna bagi acara ini. Alam yang terbuka mengajak setiap peserta untuk kembali merefleksikan keindahan ciptaan Tuhan, serta mengingatkan bahwa keharmonisan dalam keluarga pun adalah bagian dari kehendak Allah untuk menciptakan dunia yang lebih baik, dimulai dari rumah.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber, seluruh panitia, para peserta, serta semua pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan ini. Semoga sarasehan ini membawa buah yang nyata dalam kehidupan keluarga-keluarga Katolik, dan menjadi benih bagi tumbuhnya keluarga-keluarga kudus yang diberkati dan menjadi berkat.

Stasi Santa Maria Bunda Allah – Maguwo
“Bersama Keluarga, Membangun Surga Kecil di Dunia”


Kunjungi Instagram komsos GMBA:https://www.instagram.com/reel/DMXPNS7Rt4y

A Precious Jewel of the Church: Birgitta Valent Reynanda Putri

God continues to grace His Church with exceptional young people—those who not only excel academically but also shine through their faith, service, and character. One of the brightest gems to emerge from the community is Birgitta Valent Reynanda Putri, lovingly known as Valent, a proud daughter of St. Gabriel Community, Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Born in Sleman on March 8, 2009, Valent has consistently displayed brilliance from an early age. Her intelligence, leadership, creativity, and perseverance make her not only a pride to her family and school, but also to the faith community she actively serves.

As an Altar Server, active member of OMK, Lector, and a young singer-musician in GMBA (PMG) , Valent places service at the heart of her identity. Amidst the demands of school and scientific competitions, she faithfully serves at the altar, offers her voice in worship, and brings the liturgy to life through music.

In academics, her accomplishments are simply outstanding. Valent represents what it means to be a Catholic student of integrity—pursuing knowledge with excellence, while remaining rooted in values of faith and humility. Here are some of her remarkable achievements:

SD Kanisius Kadirojo:

  • 1st Place – District Science Olympiad (OSN)
  • Top 7 – Regency Level OSN (Science)
  • Top 14 – Provincial OSN Finalist
  • Highest ASPD Score in the District

SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta:

  • Student Council President (2023/2024)
  • 1st Place – Museum Quiz (City Level)
  • Runner-up – Museum Quiz (Provincial Level)
  • Finalist – National OPSI 2023, Applied Physics
  • Finalist – OPSI City Level, Applied Physics
  • Consistent Class Top Performer
  • Best Graduation Certificate
  • Highest Final Exam Score in School

SMA Negeri 8 Yogyakarta:

  • Honorable Mention – NASFIA 2024 (National Science Fair for Indonesian Adolescents)
  • Honorable Mention – Youth Researcher Competition, DIY Province 2024
  • Representative of Indonesia at the international Junior School Researchers Event – SISTEMIC (Singapore International STEM Innovation Challenge), Singapore 2025

Valent is living testimony that intelligence is a blessing, service is a calling, and humility is true strength. She inspires not only her classmates, but also her faith community at Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

May she continue to grow in wisdom, faith, and grace, and may her light shine ever brighter—reminding us all that God works through those who are willing to serve with love, talent, and a sincere heart.


Serving God, Excelling in the World: Heinrich “Ricky” Ciando, a Young Karate Champion from Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo

In the midst of a rapidly changing world and the many challenges faced by today’s youth, God continues to call and send young people to be the light in their communities. One such figure is Heinrich Zanker Bonnie Ciando, affectionately known as Ricky, a proud son of the St. Clara Community, Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Born in Semarang on June 15, 2008, Ricky is a shining example of how faith and achievement can walk hand in hand, strengthening and uplifting one another.

Ricky is not only a black belt karate athlete who has brought pride to his region through a series of impressive victories. He is also a devoted servant in the Church, actively participating as an Altar Server, a member of the Catholic Youth (OMK), and a musician in the Church Pemusik Muda GMBA (PMG). Despite his rigorous training schedule and academic responsibilities as a student at SMA Negeri 1 Depok, Ricky faithfully puts his service to God and the Church at the center of his life.

His passion for ministry mirrors his determination on the competition mat. For Ricky, every moment of serving at the altar or playing music at Mass is a form of spiritual discipline—one that shapes humility, perseverance, and a heart that cares deeply for others. His accomplishments are not only achievements of the body, but also of the soul.

Here are Ricky’s recent accolades in the world of karate:

3rd Place, Individual Kumite -68 kg (Male)DIY POPDA, May 22, 2025

1st Place, Individual Kata (Junior Male)Kejurkab FORKI Sleman, July 7, 2024

3rd Place, Individual Kata (Junior Male)POLTEKES Kemenkes Yogyakarta Cup, October 5–6, 2024

3rd Place, Individual Kata (Junior Male)Yogyakarta WTA Open Karate Championship, Ministry of Youth and Sports, December 27–29, 2024

2nd Place, Individual Kata (Junior Male)Kejurda FORKI DIY, February 26–27, 2025

3rd Place, Individual Kumite -68 kg (Junior Male)Kejurda FORKI DIY, February 26–27, 2025


Behind every medal and victory lies a stream of prayer from the altar, the support of the Stasi community, and the unshakable spirit of a young Catholic man who refuses to give up. Ricky is living proof that being an athlete does not mean distancing oneself from the Church—on the contrary, it becomes a powerful witness to God’s glory through the talents He has given.

May Ricky continue to grow in love, faith, and excellence, inspiring other young people at Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo and beyond, and reminding us all that God works powerfully through the youth who are faithful, humble, and willing to serve.

And there’s more—Ricky is also a talented musician who especially loves playing the piano. It’s not just a hobby for him; it’s a gift.

His ability to express beauty and harmony through music is just another way he glorifies God and inspires others. Whether on the mat or behind the keyboard, Ricky excels with grace, passion, and purpose.



Melayani Tuhan, Berprestasi di Dunia: Heinrich “Ricky” Ciando, Karateka Muda dari Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Di tengah arus zaman yang kian cepat dan tantangan hidup remaja yang semakin kompleks, Tuhan tetap memanggil dan mengutus anak-anak muda untuk menjadi terang di dunia. Salah satunya adalah Heinrich Zanker Bonnie Ciando, atau yang akrab disapa Ricky, putra dari Lingkungan St. Clara, Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Lahir di Semarang, 15 Juni 2008, Ricky adalah teladan nyata bahwa iman dan prestasi dapat berjalan selaras, saling menguatkan, dan saling menyemangati.

Ricky bukan hanya dikenal sebagai seorang karateka pemegang sabuk hitam yang telah mengharumkan nama daerah dalam berbagai kejuaraan bergengsi. Lebih dari itu, ia juga dikenal sebagai pribadi yang aktif melayani di stasi, baik sebagai Putra Altar, anggota Orang Muda Katolik (OMK), maupun pemain musik di kelompok Pemusik Muda GMBA (PMG). Di tengah jadwal latihan yang padat dan tuntutan akademik di SMA Negeri 1 Depok, Ricky tetap setia menempatkan pelayanan sebagai prioritas hidupnya.

Semangatnya dalam melayani tak kalah dengan semangatnya saat bertanding di atas matras. Baginya, setiap pelayanan di altar maupun di komunitas muda adalah bagian dari latihan rohani yang membentuk disiplin, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama. Inilah yang membuat prestasinya tidak hanya membanggakan secara lahiriah, tetapi juga menyentuh secara batiniah.

Berikut deretan prestasi Ricky dalam dunia karate yang patut diacungi jempol:

  • Juara 1 Kata Perorangan Junior PutraKejurkab FORKI Sleman, 7 Juli 2024
  • Juara 3 Kata Perorangan Junior PutraPOLTEKES Kemenkes Yogyakarta Cup, 5–6 Oktober 2024
  • Juara 3 Kata Perorangan Junior PutraYogyakarta WTA Open Karate Championship, Piala Kemenpora RI, 27–29 Desember 2024
  • Juara 2 Kata Perorangan Junior PutraKejurda FORKI DIY, 26–27 Februari 2025
  • Juara 3 Komite Perorangan Junior Putra -68 kgKejurda FORKI DIY, 26–27 Februari 2025
  • Juara 3 Komite Perorangan Putra -68 kgPOPDA DIY, 22 Mei 2025

Di balik setiap kemenangan, ada doa-doa yang terucap di altar, ada dukungan dari komunitas stasi, dan ada semangat pantang menyerah dari seorang anak muda Katolik yang tidak hanya ingin menang, tetapi juga hidup dalam terang Kristus.

Semoga Ricky terus bertumbuh dalam kasih, iman, dan prestasi, menjadi inspirasi bagi teman-teman sebayanya, serta menjadi berkat bagi Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo dan Gereja secara lebih luas. Ia adalah bukti nyata bahwa Tuhan berkarya melalui kaum muda yang setia, rendah hati, dan mau menyerahkan diri untuk melayani.

Dan tak hanya itu—Ricky juga memiliki bakat luar biasa di bidang musik, terutama dalam memainkan piano. Bukan sekadar suka, ia benar-benar piawai memainkan nada demi nada dengan keindahan yang mengalir dari hati.

Musik bukan hanya hobi baginya, tetapi salah satu cara untuk memuliakan Tuhan dan menyentuh jiwa orang-orang di sekitarnya. Entah saat bertanding di arena karate atau mengalun di balik tuts piano, Ricky selalu menghadirkan semangat, ketulusan, dan kualitas yang menginspirasi.

Yustina Munarti: “More than words, She proclaims life “

“More than words, she proclaims life.”Her name may not often be heard from the pulpit or in the media, but to many children and parishioners in her community, she is deeply significant. Yustina Munarti, a humble 73-year-old woman, has made her life a true offering to God—through quiet yet profound work: her ministry as a catechist.

Her journey of faith began in 1968, when she wholeheartedly received the Sacrament of Baptism and embraced the Catholic faith. From that moment, seeds of love for God and others began to grow within her, slowly but surely taking root in every step of her life.

In March 1980, at the young age of 27, she experienced a stirring in her heart. She witnessed a reality that deeply moved her: children in her neighborhood wandering aimlessly, without spiritual guidance, without anyone to accompany them in faith. It was a scene that many might consider ordinary—but not Yustina. To her, it was God speaking through the restlessness in her heart.

Encouraged by her own child, she decided to step into the Lord’s vineyard and become a catechist. She didn’t just want to teach—she wanted to accompany, to live the faith, and to proclaim God’s love in its most tangible form: presence.

Being a catechist has never been an easy path. Challenges and hardships came and went. Not every child was easy to reach, not every parent was supportive, and not every environment was encouraging. But for Yustina, these were not stumbling blocks—they were stepping stones to rely more fully on God. She learned that every soul touched by Christ’s love—even just one—is a great victory in her ministry.

Her joy cannot be measured in words. She feels her life has been enriched through simple yet meaningful experiences: seeing the children she once guided grow into people of faith, with some even continuing in her footsteps of service.

The days continue to pass, yet her spirit never fades. At the age of 73, Yustina remains present—with her smile, her laughter, and her burning passion. She is a living testament that ministry is not about age, but about love—love that asks for nothing in return, only to give, give, and keep giving.

“I will offer this life in the Lord’s vineyard,” she declares firmly. And it’s more than just words—that’s exactly what she has lived for decades, through her faithfulness, sincerity, and humility. She has not only taught the faith through words, but lived it with her whole being.Because for her, proclaiming the Gospel is not merely about teaching. It is a way of life.


Yustina Munarti: “Lebih dari kata, Ia mewartakan hidup”

“Lebih dari kata, ia mewartakan hidup.”Nama itu mungkin tak sering terdengar dari mimbar atau media, namun bagi banyak anak dan umat di komunitasnya, sosoknya begitu berarti. Yustina Munarti, seorang perempuan sederhana berusia 73 tahun, telah menjadikan hidupnya persembahan sejati bagi Tuhan—melalui karya sunyi, namun mendalam: pelayanan sebagai katekis.

Perjalanan imannya dimulai pada tahun 1968, saat ia dengan sepenuh hati menerima Sakramen Baptis dan memeluk iman Katolik. Dari situ, benih kasih kepada Tuhan dan sesama mulai tumbuh dalam dirinya, perlahan tapi pasti mengakar kuat dalam setiap langkah hidupnya.

Pada Maret 1980, di usia yang masih muda—27 tahun—sebuah panggilan batin mengetuk hatinya. Ia melihat kenyataan yang menyentuh nuraninya: anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya berkeliaran tanpa tujuan, tanpa pendamping rohani, tanpa bimbingan iman. Suatu pemandangan yang bagi banyak orang mungkin dianggap biasa, namun tidak bagi Yustina. Di sanalah ia merasa bahwa Tuhan sedang berbicara melalui kegelisahan hatinya.

Dengan dorongan dari anaknya sendiri, ia memutuskan melangkah ke ladang Tuhan, menjadi seorang katekis. Ia bukan hanya ingin mengajar, tetapi lebih dari itu—ia ingin mendampingi, menghidupi iman, dan mewartakan kasih Allah dalam bentuk paling nyata: kehadiran.

Menjadi katekis bukanlah jalan yang selalu mudah. Duka dan tantangan silih berganti. Tidak semua anak mudah disentuh hatinya, tidak semua orang tua peduli, dan tidak semua lingkungan mendukung. Namun bagi Ibu Yustina, semua itu bukan batu sandungan, melainkan batu loncatan untuk semakin mengandalkan Tuhan. Ia belajar bahwa setiap jiwa yang disentuh oleh kasih Kristus—meski hanya satu—adalah kemenangan besar dalam pelayanan.

Sukacitanya pun tak dapat diukur dengan kata. Ia merasa hidupnya diperkaya oleh pengalaman-pengalaman sederhana namun penuh makna: melihat anak-anak yang dulu ia bimbing kini tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang beriman, bahkan ada yang meneruskan jejak pelayanannya.

Hari-hari pun terus berlalu, namun semangatnya tak pernah padam. Di usianya yang ke-73, Ibu Yustina tetap hadir dengan senyum, tawa, dan semangat yang membara. Ia adalah gambaran nyata bahwa pelayanan bukan soal usia, melainkan soal cinta—cinta yang tak pernah menuntut balasan, hanya memberi, memberi, dan terus memberi.

Saya akan mempersembahkan hidup ini di ladang Tuhan,” tuturnya dengan mantap. Dan bukan hanya perkataan belaka—itulah yang selama puluhan tahun telah ia wujudkan, lewat kesetiaan, ketulusan, dan kerendahan hati. Ia bukan hanya mengajarkan iman dengan kata-kata, tetapi menghidupinya dengan seluruh dirinya.Karena baginya, mewartakan Injil bukan semata soal pengajaran. Itu adalah cara hidup.

Martinus Ervin Andres Rinaldi: The Young Architect Behind the Masterplan of St. Mary Mother of God Church, Maguwo

Martinus Ervin Andres Rinaldi was born in Sleman, on September 21, 1995. Raised in a Catholic family rooted in simplicity, faith, and integrity, Ervin grew up in an environment where values like responsibility, service, and devotion were instilled early. From a young age, he showed an innate interest in structures and design—keenly observing spaces and sketching alternative layouts from his imagination.

He began his formal education at Kanisius Kalasan Junior High School, a school well-known for nurturing character and promoting Ignatian values. This foundation shaped his intellectual curiosity and social awareness. His passion for the built environment deepened during his time at STM Pembangunan Yogyakarta (now SMK Negeri 2 Depok), where he developed essential technical skills in construction and building design.

His path became clearer when he was admitted to the Faculty of Engineering, Architecture Department at Atma Jaya Yogyakarta University, class of 2016. During his university years, Ervin was known not only for his diligence and creativity but also for his reflective approach to architecture. To him, design is not just about aesthetics or structure—it’s about the soul of a space, the relationship between place and people, form and meaning.

As the masterplan designer for St. Mary Mother of God Church in Maguwo, Ervin was entrusted with a significant mission: to design not only a physical structure but to articulate the identity and pastoral direction of a living faith community. He approached the task with humility and depth—listening to the needs of the faithful, studying the church’s history, observing the social and environmental context, and aligning the design with the spirit of Catholic liturgy.

In his masterplan, Ervin envisioned a sacred space that harmonizes with nature and community. The spatial arrangement considers liturgical flow, natural lighting, accessibility, and movement of the congregation. He also designed supporting facilities to encourage pastoral outreach, faith education, and communal interaction. All elements are grounded in one essential principle: a church is not merely a place of prayer, but a shared home shaped and enlivened by its people.

Ervin’s design style can be described as modest yet meaningful. He avoids excessive visual grandeur, instead favoring simplicity imbued with depth and purpose. His work reflects clean geometry, inclusive spatial planning, and the thoughtful use of local materials. He skillfully incorporates symbolic elements of the Catholic faith—such as the cross, light, and altar orientation—into a design that feels both contemporary and sacred.

His involvement in this project goes beyond professional duty. Ervin is a man of faith, and for him, designing a church is a spiritual journey—one that demands prayer, reflection, and sincere dialogue. He does not design from ego, but from a heart that seeks to serve and glorify God through his talents.

Through his dedication and thoughtful design, St. Mary Mother of God Church in Maguwo will stand not only as an impressive architectural structure, but more importantly as a spiritual home—a place that gathers, nurtures, and sends forth the faithful into the world.

Martinus Ervin Andres Rinaldi is a shining example of today’s Catholic youth: talented, principled, and spiritually grounded. Through his hands and heart, he has helped shape a space where heaven touches earth, where community finds its soul, and where faith takes form in brick and light.



Martinus Ervin Andres Rinaldi: Arsitek Muda di Balik Masterplan Gereja St. Maria Bunda Allah Stasi Maguwo

Martinus Ervin Andres Rinaldi lahir di Sleman, 21 September 1995. Ia tumbuh besar dalam lingkungan keluarga Katolik yang sederhana namun penuh nilai, di mana iman, tanggung jawab, dan kepedulian sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sejak usia muda, Ervin menunjukkan minat pada dunia visual dan bentuk. Ia senang mengamati bangunan, menggambar denah, dan membayangkan ulang ruang-ruang hidup dalam perspektifnya sendiri.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SMP Kanisius Kalasan, sekolah yang dikenal dengan nilai-nilai pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian. Di sinilah benih semangat intelektual dan kepedulian sosialnya mulai tumbuh. Ia kemudian melanjutkan ke STM Pembangunan Yogyakarta—kini dikenal sebagai SMK Negeri 2 Depok—dan mulai mendalami dunia teknik bangunan secara lebih spesifik. Di sini, minatnya terhadap desain bangunan semakin menguat, dan keahliannya mulai terasah secara teknis.

Langkahnya semakin mantap saat ia diterima di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta, angkatan 2016. Selama masa kuliah, Ervin dikenal sebagai mahasiswa yang tidak hanya tekun dan kreatif, tetapi juga reflektif dalam memaknai ruang dan desain. Baginya, arsitektur bukan sekadar estetika atau struktur fisik, tetapi juga tentang jiwa dari sebuah tempat—tentang relasi antara ruang dan manusia, antara bentuk dan makna.

Sebagai desainer masterplan Gereja Santa Maria Bunda Allah di Maguwo, Ervin diamanahi sebuah tanggung jawab besar—merancang bukan hanya fisik bangunan, tetapi juga merumuskan identitas dan arah pastoral sebuah komunitas umat. Ia memulai proses ini dengan pendekatan mendalam: mendengarkan kebutuhan umat, memahami sejarah gereja, memperhatikan dinamika lingkungan, hingga menyelaraskan desain dengan semangat liturgi Katolik.

Dalam masterplan rancangannya, Ervin menghadirkan ruang ibadat yang menyatu dengan alam dan komunitas. Penataan ruang memperhatikan sirkulasi umat, tata letak liturgis, pencahayaan alami, dan aksesibilitas untuk semua kalangan. Ia juga merancang area penunjang yang mendukung kegiatan pastoral, pendidikan iman, dan interaksi sosial. Seluruh konsep berpijak pada prinsip bahwa gereja bukan hanya tempat berdoa, tetapi rumah bersama yang membentuk dan dihidupi oleh umat.

Gaya desain Ervin dapat dikatakan bersahaja namun bernas. Ia tidak mengejar kemewahan visual, tetapi lebih memilih kesederhanaan yang mendalam dan kuat secara makna. Material lokal, bentuk geometris yang bersih, dan tata ruang yang inklusif menjadi ciri khasnya. Ia juga piawai dalam memadukan elemen-elemen simbolik iman Katolik—seperti salib, cahaya, dan orientasi altar—dalam rancangan yang modern namun tetap sakral.

Keterlibatan Ervin dalam proyek ini bukan semata-mata sebagai seorang profesional, melainkan juga sebagai pribadi beriman yang ingin mempersembahkan karya terbaiknya bagi Tuhan dan Gereja. Bagi Ervin, merancang gereja adalah proses spiritual yang menuntut doa, refleksi, dan dialog yang tulus. Ia tidak datang dengan ego desain, melainkan dengan kerendahan hati dan semangat melayani.

Dengan segala pemikiran dan ketekunan yang ia curahkan, Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo tidak hanya akan menjadi bangunan megah yang berdiri secara fisik, tetapi menjadi rumah rohani yang menyatukan umat, menumbuhkan iman, dan mengutus setiap orang untuk membawa terang Kristus dalam kehidupan nyata.

Martinus Ervin Andres Rinaldi adalah sosok arsitek muda yang merepresentasikan generasi Katolik masa kini: berintegritas, berbakat, dan berspiritualitas mendalam. Melalui karyanya, ia telah menorehkan sejarah, tidak hanya di atas kertas gambar, tetapi dalam hidup umat dan dalam perjalanan iman sebuah komunitas.