Pada hari Minggu, 31 Agustus 2025, Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo mendapat berkat istimewa melalui pelayanan bakti liturgi dari Joanes Bosco School (JBS). Dalam perayaan Ekaristi pagi ini, para siswa bersama para pendidik mempersembahkan talenta terbaik mereka untuk memuliakan Tuhan dan mendukung umat dalam doa serta pujian.
Koor yang dipimpin oleh Ibu Maria Verawati Alvares mengalun indah, mengangkat hati umat untuk semakin menghayati misteri Ekaristi Kudus. Suara nyanyian yang jernih dan penuh semangat iman berpadu dengan iringan musik ansambel yang dibimbing oleh Miss Desy, menghadirkan harmoni yang syahdu dan mendalam. Liturgi menjadi semakin hidup, khidmat, dan membawa umat masuk dalam suasana doa yang lebih dekat dengan Sang Sabda dan Tubuh Kristus.
Kehadiran JBS dalam bakti liturgi ini bukan hanya sebuah persembahan musik, melainkan juga ungkapan syukur dan kesaksian iman. Melalui nyanyian dan lantunan nada, mereka mewartakan kasih Allah serta mengajak umat untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.
Semoga semangat pelayanan dari keluarga besar Joanes Bosco School ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus mengabdikan talenta dan karya kita demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan Gereja-Nya.
Hari ini, 30 Agustus 2025, Tim Pelayanan PIUL Stasi Maguwo kembali melaksanakan kunjungan kasih kepada para lansia. Kegiatan ini menjadi wujud nyata perhatian, kepedulian, sekaligus ungkapan syukur atas kehadiran para lansia yang telah menapaki perjalanan panjang dalam iman dan menjadi teladan bagi generasi penerus.
Dalam kesempatan tersebut, tim bersama dr. Dysi — seorang dokter sekaligus anggota OMK Stasi Maguwo — menyambangi:
Bapak FX. Radjio (81 tahun) beserta istri tercinta, Ibu Th. M. Tri Nusaningsih.
Ibu Henrica Soeratmi (91 tahun), yang meski telah lanjut usia tetap setia dan bersemangat dalam kehidupan beriman.
Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan tercipta sejak awal kunjungan. Para lansia yang ditemui tampak begitu gembira dan bersyukur atas perhatian yang diberikan. Bahkan, suasana menjadi haru ketika dr. Dysi berbincang penuh kelembutan dengan Ibu Soeratmi, yang menyambutnya dengan wajah berseri dan hati penuh rasa syukur.
Kegiatan ini terlaksana berkat pendampingan langsung dari Bapak Franz Sarjiana selaku Koordinator Tim PIUL Stasi Maguwo. Hadir pula Bapak Sudiharto yang dengan telaten membantu pengecekan kesehatan para lansia, Ibu Munarti yang memimpin Doa untuk lansia,ibu Sudiharto dan Bpk/Ibu Rusdiyanto selaku Pendamping Keluarga Lingkungan St Fransiskus Asisi, serta Bapak Jondith, Ketua Lingkungan St. Fransiskus Asisi, yang turut serta menemani dan menyemangati para lansia di lingkungannya.
Bagi kami, kunjungan ini bukan sekadar agenda pelayanan, melainkan kesempatan untuk merajut persaudaraan, meneguhkan iman, sekaligus belajar dari ketabahan dan kesetiaan para lansia. Mereka adalah pilar doa dan sumber inspirasi bagi seluruh umat.
Semoga melalui perhatian sederhana namun tulus ini, para lansia semakin merasakan kasih Tuhan yang nyata, dan semoga semangat pelayanan Tim PIUL Stasi Maguwo terus berkembang demi mendampingi para lansia dengan penuh cinta.
Maguwo, 24 Agustus 2025 – Ibu-ibu Stasi Maguwo bersama Tim Pelayanan KCLH kembali melaksanakan kegiatan pengumpulan Bahan Daur Ulang (BDU) pada sore hari ini. Kegiatan yang secara rutin dijalankan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan ajaran Laudato Si, ensiklik Paus Fransiskus tentang kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.
Melalui gerakan sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin peka terhadap kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan kembali barang-barang yang bisa didaur ulang. Selain mengurangi sampah, hasil pengumpulan BDU juga menjadi sarana untuk mendukung berbagai kebutuhan pastoral di stasi.
Semangat kebersamaan ibu-ibu stasi dan timpel KCLH menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya sebatas wacana, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata. Dengan langkah kecil yang dilakukan bersama, diharapkan tumbuh kesadaran ekologis yang semakin kuat di tengah umat, sehingga cita-cita “Gereja yang ramah lingkungan” dapat terus digelorakan.
Hari Rabu, 20 Agustus 2025, akan selalu tercatat sebagai momen istimewa bagi umat Stasi Maguwo. Bertempat di Gereja Santa Maria Bunda Allah, umat menyambut dengan sukacita Visitasi dari Keuskupan Agung Semarang (KAS), sebuah proses penting yang menjadi pintu gerbang menuju status baru sebagai Paroki Administratif.
Tim visitasi dari Keuskupan Agung Semarang dipimpin oleh Vikaris Jenderal KAS, Romo FX. Sugiono Pr, yang hadir bersama Romo Kevikepan Jogja Timur Romo Andrianus Maradiyo Pr serta Romo Paroki Kalasan Romo Antonius Dadang Hermawan Pr. Kehadiran para gembala Gereja ini tidak sekadar memenuhi agenda administratif, melainkan menjadi tanda kasih dan perhatian Gereja induk kepada umat Maguwo yang terus bertumbuh dalam iman.
Turut hadir pula Dewan Harian Paroki Kalasan, para Ketua Wilayah dan Ketua Lingkungan, perwakilan Katekis, perwakilan Suster Kongregasi, dan kaum muda. Kehadiran mereka menjadi cerminan indah bahwa perjalanan menuju paroki administratif bukanlah jalan yang ditempuh sendirian, melainkan langkah bersama dalam semangat sinodalitas: berjalan bersama, mendengarkan, dan saling meneguhkan.
Rangkaian acara berlangsung penuh khidmat. Pembukaan dipandu oleh Saudara Danang Afriadi, dilanjutkan dengan presentasi profil Stasi Maguwo oleh Bapak Andreas Keso Muda, yang menampilkan wajah Gereja yang hidup: umat yang aktif, pelayanan yang berjalan, dan iman yang terus bertumbuh. Tim visitasi kemudian memberikan tanggapan dengan menyoroti tiga bidang utama: tata penggembalaan, tata kelola harta benda dan keuangan, serta tata kelola administrasi. Semua catatan yang diberikan ibarat lentera, yang menerangi jalan Stasi Maguwo menuju kedewasaan dalam menggereja.
Acara visitasi ditutup dengan room tour serta makan malam bersama. Lebih dari sekadar melihat gedung dan fasilitas, momen ini menghadirkan keakraban, persaudaraan, dan sukacita yang sederhana namun penuh makna.
Harapan Iman Umat Maguwo
Visitasi ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru perjalanan iman. Umat Stasi Maguwo diajak untuk semakin tekun, setia, dan terbuka dalam membangun Gereja yang melayani. Harapan kami, semoga catatan dan arahan dari tim visitasi menjadi dasar kuat untuk pembenahan dan pertumbuhan, sehingga seluruh bidang pelayanan dapat semakin kokoh.
Dengan tuntunan Roh Kudus, pendampingan para Romo, serta dukungan penuh Keuskupan Agung Semarang, umat Stasi Maguwo percaya bahwa status Paroki Administratif bukan sekadar gelar, melainkan panggilan untuk semakin menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.
Semoga Tuhan yang telah memulai karya baik ini, menyempurnakan dan memberkati perjalanan umat Stasi Maguwo, agar semakin menjadi Gereja yang hidup, bersaudara, dan misioner.
“Visitasi ini mengingatkan kita bahwa Gereja bukan hanya bangunan, melainkan persekutuan umat yang berjalan bersama menuju Kristus. Semoga langkah menuju Paroki Administratif menjadi jalan berkat bagi seluruh umat Stasi Maguwo.”
Padukuhan Sambilegi benar-benar ramai dan penuh warna dalam perayaan karnaval HUT ke-80 Republik Indonesia. Semangat kebersamaan tampak nyata saat umat Katolik Stasi Maguwo ikut berbaur dengan masyarakat, menampilkan kekompakan dari berbagai kelompok dengan gaya khas masing-masing.
Yang paling mencuri perhatian tentu saja ibu-ibu Stasi Maguwo. Mereka tampil anggun sekaligus gagah dengan busana lurik merah yang dipadukan dengan caping di kepala. Suasana jadi meriah sekaligus penuh nuansa tradisional Jawa yang hangat.
klik ” play ” untuk melihat video
Tak kalah bersemangat, RBM (Remaja Bunda Maria) dan OMK (Orang Muda Katolik) hadir dengan pakaian perjuangan. Wajah mereka memancarkan semangat juang 45, membawa energi muda yang penuh semangat dan keceriaan. Ada yang berperan layaknya pejuang, ada pula yang tampil atraktif dengan gaya khas anak muda, membuat barisan karnaval semakin hidup dan penuh sorak-sorai.
Lebih dari sekadar tampil, keikutsertaan umat Stasi Maguwo dalam karnaval ini juga menjadi wujud nyata pelaksanaan program garapan kebangsaan, sinergi, dan kerja sama. Tidak hanya bergabung sebagai peserta, umat Katolik juga ikut berpartisipasi aktif dengan menyumbang minuman untuk para rombongan karnaval, sehingga menambah suasana kebersamaan dan solidaritas.
Kehadiran Stasi Maguwo di tengah karnaval ini membuktikan bahwa umat Katolik bukan hanya hadir sebagai bagian dari masyarakat, tetapi juga ikut memberi warna, berkontribusi, dan mempererat persaudaraan. Dengan senyum, tawa, dan langkah penuh semangat, mereka membawa pesan bahwa cinta tanah air bisa dirayakan lewat kebersamaan sederhana namun penuh makna.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan untuk Ibu-Ibu Stasi Maguwo, OMK, dan RBM yang sudah rela meluangkan waktu, tenaga, dan semangat untuk terlibat aktif dalam acara ini. Keterlibatan dan partisipasi kalian sungguh menjadi berkat, sekaligus teladan nyata bagaimana umat berkontribusi bagi bangsa dan gereja.
Karnaval Sambilegi tahun ini pun menjadi bukti nyata: umat Katolik Stasi Maguwo hadir, terlibat, bersinergi, dan meneguhkan semangat kebangsaan bersama seluruh warga
Perayaan Ekaristi syukur HUT RI ke-80 di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo kali ini benar-benar beda vibes-nya. Soalnya, ada yang super spesial: ibu-ibu Stasi Maguwo kompak banget jadi petugas misa.
Dengan dresscode kebaya merah yang anggun dan penuh semangat, ditambah stiker merah putih di pipi yang bikin penampilan makin nasionalis, ibu-ibu tampil percaya diri melayani altar Tuhan. Aura kemerdekaan langsung kerasa sejak awal misa.
Mereka all out di berbagai tugas: koor yang bikin suasana meriah dengan nyanyian penuh semangat, among tamu yang menyambut umat dengan senyum hangat, kolekte dan persembahan yang berjalan rapi dan penuh syukur, sampai lektor yang membacakan sabda Tuhan dengan suara lantang dan penuh penghayatan. Nggak ada yang setengah-setengah, semuanya total demi pelayanan terbaik.
Yang bikin makin berkesan, pelayanan ini bukan cuma sekadar jadwal liturgi, tapi juga jadi wujud nyata semangat kemerdekaan. Lewat doa, lagu, dan kebersamaan, ibu-ibu Stasi Maguwo menunjukkan bahwa cinta tanah air bisa dihidupi dalam pelayanan sederhana, namun penuh makna.
Misa syukur pun jadi terasa khidmat sekaligus meriah. Ada nuansa syukur kepada Tuhan yang berpadu manis dengan semangat nasionalisme. Singkatnya, ibu-ibu Stasi Maguwo berhasil bikin misa ini nggak cuma jadi perayaan liturgi, tapi juga jadi pesta iman dan pesta kemerdekaan yang penuh warna
Malam tirakatan 17 Agustus menjadi salah satu tradisi yang terus dijaga oleh masyarakat Indonesia sebagai wujud syukur atas kemerdekaan bangsa. Tirakatan bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan untuk mendoakan para pahlawan, menumbuhkan semangat nasionalisme, serta mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, umat Katolik Stasi Maguwo turut serta mengambil bagian dalam acara tirakatan yang digelar di berbagai wilayah sekitar. Kehadiran umat Katolik kali ini bukan hanya sebagai tamu, tetapi juga berperan aktif dalam memeriahkan dan menyukseskan jalannya acara.
Acara tirakatan tersebar di berbagai titik wilayah, antara lain:
Ringinsari RW 49: umat Katolik hadir berbaur bersama warga dalam doa bersama dan acara kebersamaan.
Kradenan RT 011 RW 69: umat Katolik terlibat aktif sebagai dirigen paduan suara yang mengiringi jalannya acara, sekaligus bertugas di seksi dokumentasi untuk mengabadikan momen penting tirakatan.
Sambilegi Lor RT 01 dan 02 RW 53: umat Katolik GMBA dipercaya menjadi MC dan juga mengisi acara pesan dan kesan dari sesepuh, yang menambah kekhidmatan dan kehangatan suasana tirakatan.
Sambilegi Kidul RW 54: umat Katolik Stasi Maguwo mengisi acara dengan paduan suara umat Katolik, menghadirkan nuansa syukur yang indah dan menggugah semangat kebersamaan.
Sambilegi Lor RT 05 RW 55: umat Katolik berbaur bersama warga setempat, ikut mendukung jalannya acara dan mendoakan bangsa dengan penuh khidmat.
RW 40 Pasekan, Maguwoharjo: umat Katolik bersama warga berkumpul dalam suasana kekeluargaan, menyalakan semangat kebersamaan demi menjaga persatuan.
RW 33 RT 08, 09, dan 10 Tegalrejo Tapanrejo – Tajem – Maguwoharjo: umat Katolik berperan aktif dalam acara tirakatan, ikut menjaga semangat nasionalisme di tengah masyarakat.
Karang Ploso RT 04 RW 60: umat Katolik hadir mendukung jalannya acara, berbaur dengan masyarakat dalam doa dan kebersamaan.
Keterlibatan umat Katolik Stasi Maguwo dalam tirakatan ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan program garapan kebangsaan, kerjasama, dan sinergi Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Melalui program ini, umat diajak untuk menghadirkan Gereja yang terbuka, bersinergi dengan masyarakat, serta terlibat langsung dalam membangun persaudaraan kebangsaan.
Suasana tirakatan tahun ini sungguh menghadirkan rasa persatuan tanpa sekat. Doa dan renungan bersama, kesaksian para sesepuh, serta lantunan lagu-lagu kebangsaan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika benar-benar terasa hidup di tengah warga.
Dengan hati penuh syukur dan semangat kebersamaan, umat Katolik Stasi Maguwo bersama masyarakat sekitar meneguhkan kembali bahwa kemerdekaan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk terus diperjuangkan dan dihayati. Persatuan, gotong royong, serta cinta tanah air menjadi roh yang menyertai perjalanan bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
Sabtu, 9 Agustus 2025, di Ruang Sekretariat Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) dilaksanakan kegiatan penting dalam rangka mempersiapkan peningkatan status dari stasi menjadi paroki administratif.
Kegiatan ini diawali dengan simulasi visitasi, sebagai bentuk persiapan menyeluruh sebelum tim penilai resmi hadir. Simulasi ini mempresentasikan seluruh poin yang akan ditinjau dalam proses visitasi, mulai dari data administrasi, kegiatan liturgi, pelayanan umat, program pastoral, hingga kondisi sarana dan prasarana. Presentasi disampaikan oleh Bapak Andreas Keso Muda dengan durasi kurang lebih 45 menit. Pemaparan ini memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi dan capaian GMBA selama ini, sekaligus menunjukkan kesiapan stasi untuk naik status menjadi paroki administratif.
klik “play” untuk melihat video
Setelah presentasi, Romo Antonius Dadang Hermawan Pr, memberikan sejumlah masukan yang sangat berharga. Salah satunya terkait video pembuka presentasi yang disarankan agar memuat cuplikan nyata kegiatan-kegiatan GMBA, sehingga audiens dapat langsung menangkap semangat dan dinamika hidup umat. Romo juga menegaskan beberapa poin penting yang perlu diperbaiki, baik dalam struktur maupun isi, supaya materi presentasi menjadi lebih sempurna, informatif, dan menarik saat dipaparkan di hadapan tim visitasi.
Usai sesi simulasi, kegiatan dilanjutkan dengan rapat pengajuan masterplan pembangunan dan pembahasan mengenai sumber pendanaan. Rapat ini dipimpin langsung oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, dan dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Harian Stasi GMBA serta panitia inti Tim Pembangunan. Dalam rapat ini dibahas berbagai hal strategis, mulai dari rancangan pembangunan jangka panjang, prioritas fasilitas yang harus direalisasikan terlebih dahulu, hingga rencana penggalangan dana yang transparan dan terukur.
Keseluruhan kegiatan hari itu menjadi langkah penting dalam perjalanan GMBA menuju status paroki administratif. Dengan kerja sama yang solid, masukan yang membangun, dan semangat pelayanan yang terus menyala, GMBA diharapkan semakin mandiri, berkembang, dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh umatnya.
Minggu, 10 Agustus 2025, dua perwakilan Orang Muda Katolik (OMK) Maguwo—Dominic Atta dan Galang Tetasjuang—mengikuti kegiatan Pembekalan Orang Muda Peduli Lansia yang diadakan di Gereja Paroki St. Alfonsus de Liguori, Nandan. Acara ini merupakan program Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur yang mengajak kaum muda untuk lebih peka, peduli, dan terlibat dalam pelayanan bagi para lansia di lingkungan Gereja.
Sejak pagi, peserta yang hadir langsung disambut hangat dan diberi snack untuk dinikmati sebelum acara dimulai. Tepat pukul 10.00 WIB, kegiatan dibuka oleh Romo Suparman. Setelah itu, Ibu Yulianti menyampaikan materi inspiratif yang mengajak orang muda untuk memahami peran penting mereka dalam merawat, menghormati, dan mengasihi lansia—baik dalam keluarga maupun kehidupan menggereja.
Memasuki sesi interaktif, peserta dibagi menjadi kelompok dan diajak bermain team building: menyusun puzzle bergambar gereja. Pada percobaan pertama, komunikasi dilarang—hasilnya puzzle tak juga jadi. Saat percobaan diulang dengan komunikasi diizinkan, puzzle langsung tersusun rapi, menjadi pelajaran nyata bahwa kerja sama dan komunikasi adalah kunci keberhasilan.
Setelah itu, tiap kelompok berdiskusi untuk merumuskan aksi nyata yang bisa dilakukan di paroki masing-masing demi meningkatkan kepedulian kepada lansia. Beberapa ide yang muncul antara lain kunjungan rutin, misa khusus lansia, senam sehat bersama, membantu mengantar ke gereja, hingga membiasakan menyapa dan memberi salam penuh kehangatan.
Anak-anak muda menunjukkan antusiasme luar biasa saat mempresentasikan hasil diskusi. Semua kelompok tampil percaya diri, termasuk Dominic Atta dan Galang Tetasjuang sebagai wakil OMK Maguwo.
Acara diakhiri pada pukul 13.00 WIB dengan doa penutup yang dipimpin kembali oleh Romo Suparman. Setelah itu, seluruh peserta menikmati makan siang bersama, mempererat kebersamaan yang telah terjalin sepanjang hari.
Pembekalan ini diharapkan menjadi pemicu semangat bagi orang muda untuk membawa kasih dalam tindakan nyata, sehingga hidup menjadi lebih bermanfaat—seperti semangat tema kegiatan: “Berteman Yuuk!!! Supaya hidup lebih bermanfaat”
Di penghujung acara, Romo juga berpesan agar OMK berkomitmen melaksanakan apa yang telah didiskusikan dengan bekerja sama atau bersinergi dengan Tim Pelayanan PIUL. Dengan demikian, keterlibatan OMK dalam mendukung para lansia di paroki akan semakin nyata dan terasa manfaatnya bagi seluruh umat.