Bersyukur dalam Gerak, Bersatu dalam Sukacita: Senam Lansia Perdana Stasi Maguwo


Sabtu 4 oktober 2025, pagi hari yang penuh berkat, Stasi Maguwo memulai sebuah langkah baru dalam pelayanan pastoral umat lanjut usia. Melalui prakarsa TIM PIUL Stasi Maguwo, diadakanlah kegiatan senam lansia perdana yang berlangsung dengan penuh semangat dan sukacita.

Sejak pagi, sekitar 40 orang lansia sudah hadir dengan wajah penuh kegembiraan. Meski usia mereka tidak lagi muda, semangat yang terpancar begitu luar biasa. Kehadiran mereka menjadi tanda nyata bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus, yang patut dirawat dengan sukacita dan syukur.

Dipandu oleh Bapak Kusno, acara senam dimulai dengan gerakan pemanasan sederhana. Lalu, dilanjutkan dengan senam Ling Tien Kung, sebuah rangkaian gerakan lembut yang berasal dari negeri Tiongkok dan sangat cocok bagi lansia. Gerakan demi gerakan dijalani dengan penuh kesungguhan. Bukan sekadar menggerakkan tubuh, tetapi juga melatih ketenangan batin, kelenturan jiwa, dan kesadaran akan anugerah kesehatan yang masih diberikan Tuhan.

Keceriaan begitu terasa. Sesekali tawa kecil terdengar ketika ada peserta yang salah gerakan atau agak terlambat mengikuti. Namun, justru di situlah keindahannya: dalam kebersamaan, semua perbedaan dirangkul dengan sukacita. Senam ini bukan hanya untuk menguatkan jasmani, tetapi juga untuk mempererat tali persaudaraan umat beriman di Stasi Maguwo.

Setelah sesi senam, para peserta diajak beristirahat sejenak. Suasana menjadi semakin hangat ketika alunan lagu “Jogja Istimewa” mengiringi kebersamaan. Lagu itu seakan menjadi simbol bahwa kebersamaan umat, khususnya para lansia, adalah sesuatu yang istimewa dan patut dirayakan dengan penuh rasa syukur.

Kegiatan ini menjadi tanda nyata bahwa Gereja bukan hanya tempat berdoa, tetapi juga ruang hidup bersama yang menghadirkan sukacita, kesehatan, dan persaudaraan. Senam lansia perdana ini menjadi awal yang penuh harapan. Semoga dapat dilaksanakan secara rutin, sehingga para lansia senantiasa diberi semangat untuk menjaga kesehatan, merawat tubuh sebagai anugerah Allah, serta memperdalam persaudaraan dalam iman.

Akhirnya, kegiatan sederhana ini menjadi sebuah ungkapan syukur: bahwa di usia senja sekalipun, umat tetap dapat menghadirkan semangat hidup, kebahagiaan, dan doa dalam setiap gerakan tubuh. Dengan tubuh yang sehat dan hati yang gembira, para lansia Stasi Maguwo pun diajak untuk terus memuliakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi Berbuah Syukur: Pembubaran Panitia Krisma Kalasan–Maguwo


Bertempat di ruang rapat Paroki Kalasan, dilaksanakan pertemuan bersama antara DPH Paroki Kalasan dan DPH Stasi Maguwo dalam rangka pembubaran Panitia Krisma 2025. Pertemuan ini sekaligus menjadi momen kolaborasi yang indah, karena kepanitiaan Krisma tahun ini dijalankan bersama oleh Paroki Kalasan dan Stasi Maguwo.

Dalam kesempatan tersebut, panitia memaparkan hasil evaluasi pelaksanaan penerimaan Sakramen Krisma yang sebelumnya dihimpun melalui Google Form. Dari hasil evaluasi, disimpulkan bahwa penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo telah berjalan dengan baik dan lancar. Tentu masih ada beberapa kekurangan, namun semua itu akan menjadi bahan pembelajaran berharga untuk pelayanan pada kesempatan berikutnya.

Dengan penuh syukur, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr secara resmi membubarkan kepanitiaan Krisma Paroki Kalasan. Romo juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja sama, ketekunan, serta semangat pelayanan seluruh panitia.

Semoga pengalaman ini semakin meneguhkan semangat kolaborasi, dan menjadi bekal berharga untuk pelayanan gereja di masa mendatang.

Dari Sampah Jadi Energi: Cerita Tim KCLH Maguwo di Workshop Laudato Si


Minggu, 21 September 2025, perwakilan Tim KCLH Stasi Maguwo ikut hadir di acara Peringatan 10 Tahun Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus. Kegiatan ini digelar di Rumah Pengolahan Sampah Plastik Pirolisis, Cupuwatu II – Kalasan, sekaligus jadi bagian dari gerakan global Musim Penciptaan (1 September–4 Oktober). Acara berlangsung dari jam 09.00 sampai 12.00 WIB, penuh dengan edukasi dan praktik nyata.

Topik utama yang dibahas adalah pengelolaan sampah plastik dengan teknologi pirolisis. Jadi, plastik yang biasanya cuma numpuk atau dibakar bisa diubah jadi energi: bensin, solar, minyak tanah, sampai briket. Pegiat lingkungan Fransisca Supriyani Wulandari menjelaskan, pirolisis jauh lebih ramah lingkungan ketimbang insinerator atau sekadar dibakar, karena pembakaran plastik justru bikin polusi makin parah. Hasil pirolisis ini juga tidak dijual, tapi dipakai untuk operasional dan edukasi masyarakat.

Beliau juga mengingatkan kalau krisis plastik makin serius karena kita masih terbiasa pakai plastik sekali pakai (sedotan, cup, kresek), dan belum disiplin memilah sampah. Sementara itu, Agustinus Irawan menyoroti krisis air bersih di Sleman. Berdasarkan penelitian 2022–2024, hampir semua mata air di Sleman tercemar bakteri E.coli. Penyebabnya mulai dari pupuk kandang yang tidak difermentasi sampai limbah cair rumah tangga yang masuk sungai. Ditambah lagi, tren minuman sekali pakai seperti es teh jumbo nyumbang banyak sampah plastik.

Dari sisi gereja, Kianto Atmodjo dari Tim Laudato Si Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengenalkan konsep Paroki Hijau. Artinya, paroki-paroki didorong untuk lebih ramah lingkungan: mulai dari mengganti bunga potong dengan tanaman hidup, mengurangi plastik dalam liturgi dan kegiatan gereja, sampai mengelola sampah lewat bank sampah paroki. Menurutnya, ini bukan cuma soal kesadaran, tapi soal keterampilan dan kebiasaan hidup bertanggung jawab. Beberapa paroki yang sudah menerapkan bank sampah bahkan bisa mengumpulkan puluhan juta rupiah dari hasil pengelolaan.

Acara ditutup dengan semangat bahwa menjaga bumi adalah panggilan iman. Dari hal sederhana seperti mengurangi plastik, tidak membuang sampah sembarangan, sampai mendukung program paroki hijau. Semua itu jadi bentuk nyata kita ikut mewujudkan ajakan Laudato Si: merawat bumi sebagai rumah bersama.

dikutip dari :

Workshop Pirolisis Dorong Solusi Nyata Sampah Plastik dalam Peringatan 10 Tahun Laudato Si – Keuskupan Agung Semarang

Materi Bulan Kitab Suci Nasional, September 2025


Gereja Katolik Indonesia kembali memasuki bulan kitab suci, pada bulan September 2025 ini, atau yang sering disebut Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Ini merupakan kegiatan tahunan yang juga gerakan bersama Gereja Katolik untuk menggerakkan umat agar lebih mencintai Kitab Suci.

Sejarahnya, BKSN merupakan manifestasi Konsili Vatikan II/KV II (1962-1965). Khususnya sebagai langkah nyata implementasi dokumen Dei Verbum. Dokumen ini merupakan salah satu hasil dari KV II yang berisi tentang Kitab Suci. Dokumen ini menjadi panduan bagaimana Gereja memandang Kitab Suci dalam konteks dunia modern saat ini. Dokumen ini mengajak untuk semakin banyak orang yang membaca kitab suci.

Selanjutnya pada tahun 1975 ada kesadaran untuk menyambut terbitnya Alkitab lengkap ekumenis hasil kerja sama antara Lembaga Biblika Indonesia (LBI) yang berada di Bawah Majelis Waligereja Indonesia (MAWI) dan Lembaga Alkitab Indonesia (di bawah naungan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia). Saat itu, LBI menyarankan agar setiap paroki mengadakan Misa Syukur pada bulan Agustus 1975. Bahan-bahan liturgi dan saran-saran kegiatan yang dapat dilakukan beberapa bulan sebelumnya dikirimkan ke keuskupan-keuskupan. Percobaan kedua dilakukan pada tahun 1976. Bahan Ini sebagai materi untuk Hari Minggu Kitab Suci tanggal 24/25 Juli 1976. Walaupun dua kali percobaan itu tidak menghasilkan buah melimpah seperti yang diharapkan, LBI toh meyakini bahwa Hari Minggu Kitab Suci harus diteruskan.

Dalam sidang MAWI 1977 para uskup menetapkan agar satu Hari Minggu tertentu dalam tahun gerejani ditetapkan sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Hari Minggu yang dimaksudkan adalah Hari Minggu Pertama September.

Dalam perkembangan selanjutnya keinginan umat untuk membaca dan mendalami KS semakin berkembang. Satu Minggu dirasa tidak cukup lagi. Maka pada tahun 1978, kegiatan-kegiatan seputar Kitab Suci ini berlangsung sepanjang bulan September. Kebiasaan ini bertahan hingga sekarang yang dikenal sebagai Bulan Kitab Suci Nasional.

BKSN atau merupakan suatu tradisi gereja katolik yg selalu dilaksankan setiap bulan September oleh seluruh umat katolik di setiap Keuskupan. BKSN biasanya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang semakin mendekatkan kita dengan Kitab Suci, seperti pembacaan Kitab Suci, Renungan, ber-Mazmur dan kegiatan lainnya.

Berikut Ini Link materi dan Poster BKSN 2025 yang disiapkan Lembaga Biblika Indonesia:

Link Materi BKSN 2025 :

https://drive.google.com/drive/folders/1oKR9enMWeFBlt5kGUHW11chpaehAJb1d?usp=sharing

Umat Stasi Maguwo Laksanakan Pertemuan Pertama BKSN 2025: Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri


Memasuki bulan September, umat Katolik di seluruh Indonesia diajak untuk semakin mendalami Sabda Tuhan melalui Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 dengan tema besar “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup” (Za. 1:3). Tema ini mengingatkan bahwa Allah selalu menghendaki umat-Nya untuk memperbarui relasi, baik dengan diri sendiri, dengan sesama, maupun dengan Allah dan seluruh ciptaan.

Di Stasi Maguwo, pertemuan pertama BKSN tahun ini dilaksanakan dengan tema khusus:
“Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri” (Za. 1:1-6).

Pertemuan perdana ini diadakan serentak di beberapa lingkungan, yaitu:

Lingkungan Santa Monica

Lingkungan Santo Paulus

Lingkungan Santo Stefanus

Lingkungan Santo Gregorius

Lingkungan Santo Yohanes Pembaptis

Lingkungan Santo Fransiskus Asisi

Lingkungan Santo Gabriel

Lingkungan St Petrus

Makna Tema Pertemuan

Kitab Zakharia menegaskan pentingnya berbalik kepada Tuhan. Pembaruan hidup dimulai dari dalam diri: berani mengoreksi kelemahan, menyesali kesalahan, dan membuka hati bagi kasih karunia Allah. Relasi dengan diri sendiri berarti berani jujur, berdamai dengan masa lalu, dan membangun niat untuk hidup lebih baik sesuai kehendak Allah.

Dalam pertemuan ini, umat diajak merenungkan bahwa pertobatan pribadi adalah langkah pertama menuju pembaruan relasi dengan sesama dan Allah. Tanpa pembaruan dari dalam, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong.

Suasana Pertemuan di Lingkungan

Setiap lingkungan menggelar pertemuan dengan penuh sukacita dan kekeluargaan. Umat berkumpul, berdoa, membaca Kitab Suci, dan mendalami makna pertobatan sejati. Banyak sharing iman yang menguatkan: ada yang berbagi pengalaman perjuangan mengatasi kelemahan pribadi, ada yang menuturkan bagaimana doa dan Kitab Suci menjadi penolong dalam menghadapi tantangan hidup.

Pertemuan ini juga menjadi sarana untuk saling mendukung. Umat disadarkan bahwa pembaruan diri tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan doa, semangat, dan dukungan dari sesama dalam komunitas iman.

Harapan dan Buah Rohani

Melalui pertemuan pertama BKSN ini, umat Stasi Maguwo diteguhkan untuk memulai pembaruan hidup dari dalam diri. Dengan hati yang diperbarui, umat akan semakin siap membangun relasi yang baik dengan sesama dan semakin setia kepada Allah.

Doa, sharing, dan firman Tuhan yang direnungkan bersama menjadi sumber kekuatan untuk berjalan dalam pertobatan sejati. Dengan demikian, pertemuan pertama ini menjadi fondasi yang kokoh bagi pertemuan-pertemuan BKSN selanjutnya, agar seluruh umat sungguh mengalami Allah sebagai sumber pembaruan relasi dalam hidup.

Umat Stasi Maguwo Laksanakan BKSN Kedua: Pembaruan Relasi dengan Sesama


Setiap bulan September, Gereja Katolik di seluruh Indonesia menghidupi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) sebagai kesempatan khusus untuk semakin akrab dengan Sabda Allah. Tahun 2025 ini, tema besar yang diusung adalah:

“Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup” (Za. 1:3 — “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku pun akan kembali kepadamu”).

Tema ini mengingatkan kita semua bahwa Allah senantiasa memanggil umat-Nya untuk memperbarui relasi, baik dengan Dia, dengan sesama, maupun dengan seluruh ciptaan.

Pertemuan Kedua: Pembaruan Relasi dengan Sesama

Memasuki pertemuan kedua, umat Stasi Maguwo merenungkan tema khusus:
“Pembaruan Relasi dengan Sesama” (Za. 7:1-14).

Pertemuan ini dilaksanakan di berbagai lingkungan, yaitu

Lingkungan Bartolomeus

Yohanes Pembaptis

Lingkungan St. Elisabet

Lingkungan St. Clara

Lingkungan St. Stefanus

Lingkungan St Monica

Lingkungan St Antonius

Lingkungang St Theresia

Lingkungan St Gregorius.

Lingkungan St Petrus

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, umat berkumpul di rumah-rumah umat untuk berdoa, membaca Kitab Suci, dan berbagi pengalaman iman. kaum muda, orangtua, hingga para lansia hadir dengan semangat yang sama: ingin semakin memahami kehendak Allah melalui firman-Nya.

Makna Pertemuan

Bacaan dari Kitab Zakharia (Za. 7:1-14) mengajak umat untuk menyadari bahwa ibadah sejati bukan hanya soal rutinitas doa atau ritual, tetapi harus melahirkan kasih yang nyata kepada sesama. Tuhan menegur umat Israel yang rajin berpuasa tetapi melupakan keadilan, belas kasih, dan kepedulian terhadap yang lemah.

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan kita sekarang. Relasi dengan sesama seringkali retak karena egoisme, perbedaan pendapat, atau sikap tidak peduli. Melalui pertemuan BKSN ini, umat diajak untuk memperbarui relasi tersebut dengan sikap kasih, kepedulian, dan pengampunan.

Suasana Pertemuan di Lingkungan

Dalam setiap pertemuan, suasana sederhana namun penuh makna selalu tercipta. Doa bersama, nyanyian pujian, dan sharing pengalaman hidup membuat pertemuan semakin hidup. Ada umat yang berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka belajar sabar dalam keluarga, ada juga yang menuturkan perjuangan untuk saling menguatkan di tengah kesulitan ekonomi. Semua itu menjadi wujud nyata bahwa firman Tuhan benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya memperdalam iman, BKSN juga mempererat ikatan persaudaraan. Pertemuan di lingkungan menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, saling mendoakan, dan saling meneguhkan. Dari lingkup kecil inilah wajah Gereja yang penuh kasih tampak nyata.

Harapan ke Depan

Melalui pertemuan kedua BKSN 2025 ini, umat Stasi Maguwo berharap semakin diteguhkan dalam iman, khususnya dalam menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan nyata. Relasi dengan sesama hendaknya terus diperbarui, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan yang nyata: membantu yang membutuhkan, menguatkan yang lemah, dan menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

Dengan demikian, ibadah yang dijalankan bukan sekadar rutinitas, melainkan sungguh-sungguh ibadah yang menghidupkan kasih. Dari Sabda yang direnungkan, umat dikuatkan untuk mewartakan kasih Allah dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas.

Persiapan Krisma 2025 di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo


Minggu, 31 Agustus 2025 menjadi momentum penting bagi para calon penerima Sakramen Krisma di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Sebagai bagian dari perjalanan rohani, mereka mengikuti rangkaian kegiatan pembekalan yang menguatkan iman sekaligus memantapkan hati untuk menerima kepenuhan rahmat Roh Kudus.

Agenda pertama adalah Peneguhan oleh Romo Paroki, Romo Antonius Dadang Hermawan Pr, yang berlangsung pukul 10.00 – 11.30 WIB. Dalam suasana penuh doa dan keheningan, Romo menyapa para calon krismawan dan krismawati dengan kata-kata penguatan. Romo menegaskan kembali makna mendalam Sakramen Krisma, yakni anugerah Roh Kudus yang meneguhkan iman dan mengutus setiap orang untuk menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat. Melalui pengajaran, doa, dan berkat, para calon Krisma diteguhkan agar semakin siap membuka hati bagi karya Roh Kudus yang hidup dan berkarya.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan Ujian Tulis pada pukul 11.30 – 12.30 WIB. Ujian ini bukan sekadar evaluasi pengetahuan, melainkan juga kesempatan bagi para calon Krisma untuk merefleksikan pemahaman iman Katolik, ajaran Gereja, serta komitmen mereka dalam menghayati kehidupan Kristiani. Dengan demikian, mereka tidak hanya diperlengkapi secara intelektual, tetapi juga ditantang untuk menghidupi imannya dalam keseharian.

Melalui kedua agenda ini, para calon Krisma diajak untuk semakin menyadari bahwa penerimaan Sakramen Krisma bukan hanya sebuah ritual seremonial, melainkan sebuah panggilan untuk bertumbuh dewasa dalam iman, hidup dalam kasih, dan mewartakan Injil Kristus dengan kata serta perbuatan. Semoga Roh Kudus yang akan mereka terima kelak menjadi sumber kekuatan, peneguhan, dan sukacita dalam perjalanan hidup mereka sebagai bagian dari Gereja.

Bakti Liturgi JBS Joanes Bosco School di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo


Pada hari Minggu, 31 Agustus 2025, Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo mendapat berkat istimewa melalui pelayanan bakti liturgi dari Joanes Bosco School (JBS). Dalam perayaan Ekaristi pagi ini, para siswa bersama para pendidik mempersembahkan talenta terbaik mereka untuk memuliakan Tuhan dan mendukung umat dalam doa serta pujian.

Koor yang dipimpin oleh Ibu Maria Verawati Alvares mengalun indah, mengangkat hati umat untuk semakin menghayati misteri Ekaristi Kudus. Suara nyanyian yang jernih dan penuh semangat iman berpadu dengan iringan musik ansambel yang dibimbing oleh Miss Desy, menghadirkan harmoni yang syahdu dan mendalam. Liturgi menjadi semakin hidup, khidmat, dan membawa umat masuk dalam suasana doa yang lebih dekat dengan Sang Sabda dan Tubuh Kristus.

Kehadiran JBS dalam bakti liturgi ini bukan hanya sebuah persembahan musik, melainkan juga ungkapan syukur dan kesaksian iman. Melalui nyanyian dan lantunan nada, mereka mewartakan kasih Allah serta mengajak umat untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.

Semoga semangat pelayanan dari keluarga besar Joanes Bosco School ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus mengabdikan talenta dan karya kita demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan Gereja-Nya.


Kunjungan Tim Pelayanan PIUL Stasi Maguwo kepada Lansia Lingkungan St. Fransiskus Asisi


Hari ini, 30 Agustus 2025, Tim Pelayanan PIUL Stasi Maguwo kembali melaksanakan kunjungan kasih kepada para lansia. Kegiatan ini menjadi wujud nyata perhatian, kepedulian, sekaligus ungkapan syukur atas kehadiran para lansia yang telah menapaki perjalanan panjang dalam iman dan menjadi teladan bagi generasi penerus.

Dalam kesempatan tersebut, tim bersama dr. Dysi — seorang dokter sekaligus anggota OMK Stasi Maguwo — menyambangi:

  1. Bapak FX. Radjio (81 tahun) beserta istri tercinta, Ibu Th. M. Tri Nusaningsih.
  2. Ibu Henrica Soeratmi (91 tahun), yang meski telah lanjut usia tetap setia dan bersemangat dalam kehidupan beriman.

Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan tercipta sejak awal kunjungan. Para lansia yang ditemui tampak begitu gembira dan bersyukur atas perhatian yang diberikan. Bahkan, suasana menjadi haru ketika dr. Dysi berbincang penuh kelembutan dengan Ibu Soeratmi, yang menyambutnya dengan wajah berseri dan hati penuh rasa syukur.

Kegiatan ini terlaksana berkat pendampingan langsung dari Bapak Franz Sarjiana selaku Koordinator Tim PIUL Stasi Maguwo. Hadir pula Bapak Sudiharto yang dengan telaten membantu pengecekan kesehatan para lansia, Ibu Munarti yang memimpin Doa untuk lansia,ibu Sudiharto dan Bpk/Ibu Rusdiyanto selaku Pendamping Keluarga Lingkungan St Fransiskus Asisi, serta Bapak Jondith, Ketua Lingkungan St. Fransiskus Asisi, yang turut serta menemani dan menyemangati para lansia di lingkungannya.

Bagi kami, kunjungan ini bukan sekadar agenda pelayanan, melainkan kesempatan untuk merajut persaudaraan, meneguhkan iman, sekaligus belajar dari ketabahan dan kesetiaan para lansia. Mereka adalah pilar doa dan sumber inspirasi bagi seluruh umat.

Semoga melalui perhatian sederhana namun tulus ini, para lansia semakin merasakan kasih Tuhan yang nyata, dan semoga semangat pelayanan Tim PIUL Stasi Maguwo terus berkembang demi mendampingi para lansia dengan penuh cinta.

Pengumpulan Bahan Daur Ulang sebagai Wujud Pengamalan Laudato Si


Maguwo, 24 Agustus 2025 – Ibu-ibu Stasi Maguwo bersama Tim Pelayanan KCLH kembali melaksanakan kegiatan pengumpulan Bahan Daur Ulang (BDU) pada sore hari ini. Kegiatan yang secara rutin dijalankan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan ajaran Laudato Si, ensiklik Paus Fransiskus tentang kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.

Melalui gerakan sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin peka terhadap kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan kembali barang-barang yang bisa didaur ulang. Selain mengurangi sampah, hasil pengumpulan BDU juga menjadi sarana untuk mendukung berbagai kebutuhan pastoral di stasi.

Semangat kebersamaan ibu-ibu stasi dan timpel KCLH menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya sebatas wacana, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata. Dengan langkah kecil yang dilakukan bersama, diharapkan tumbuh kesadaran ekologis yang semakin kuat di tengah umat, sehingga cita-cita “Gereja yang ramah lingkungan” dapat terus digelorakan.