Dalam suasana doa yang khidmat dan penuh iman, keluarga besar Bapak Yahya Sudarto bersama umat mengadakan Misa Memule 1 tahun berpulangnya Ibu Chatarina Sri Murhariyani. Misa dilaksanakan pada Minggu, 14 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah keluarga Bapak Yahya Sudarto, Nanggulan. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, PR, dan dihadiri kurang lebih 80 umat.
Misa memule ini menjadi ungkapan syukur sekaligus doa bagi arwah Ibu Chatarina Sri Murhariyani yang telah dipanggil Tuhan satu tahun yang lalu. Dalam kebersamaan umat, keluarga mempersembahkan doa agar almarhumah memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan, serta memohon kekuatan dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Dalam homilinya, Romo Yohanes Ngatmo, PR mengajak umat untuk memaknai kematian dalam terang iman Kristiani, yakni sebagai jalan kembali kepada Bapa. Romo menegaskan bahwa kasih Tuhan tidak pernah berakhir oleh kematian, melainkan justru disempurnakan dalam kehidupan kekal. Kenangan akan kebaikan, kasih, dan keteladanan hidup almarhumah hendaknya menjadi inspirasi bagi keluarga dan umat untuk terus hidup dalam iman, harapan, dan kasih.
Suasana misa berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Doa-doa, bacaan Kitab Suci, serta nyanyian liturgi mengalun dengan tenang, menciptakan nuansa pengharapan akan kebangkitan dan hidup kekal. Kehadiran umat dalam jumlah yang besar menjadi tanda solidaritas, kepedulian, dan persaudaraan yang erat antara keluarga dan lingkungan.
Misa memule ini tidak hanya menjadi momen mengenang satu tahun berpulangnya Ibu Chatarina Sri Murhariyani, tetapi juga kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman dan memperkuat pengharapan akan janji keselamatan Tuhan. Semoga almarhumah beristirahat dalam damai di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa dikuatkan oleh kasih dan penghiburan-Nya.
Dalam rangka menyambut Hari Raya Natal, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan Doa Adven IV Ibadat Keluarga Kudus dengan tema “Bersama-sama Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan”. Ibadat ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah Mba Rosita. Kegiatan doa dihadiri oleh 13 orang umat dan dipimpin oleh Pastor Jona Joakhim Pinem.
Ibadat berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kehangatan keluarga. Dalam suasana Adven IV yang semakin mendekatkan umat pada perayaan kelahiran Yesus Kristus, umat diajak untuk merenungkan makna kehadiran Keluarga Kudus sebagai teladan hidup beriman. Doa, lagu-lagu Adven, serta bacaan Kitab Suci membantu umat untuk semakin membuka hati dalam menyambut Sang Juruselamat.
Dalam homilinya, Pastor Jona Joakhim Pinem mengajak seluruh umat untuk meneladani Keluarga Kudus Nazaret—Yesus, Maria, dan Yosef—yang hidup dalam kesederhanaan, ketaatan, kasih, dan saling mendukung. Pastor menekankan bahwa keluarga adalah Gereja kecil (Ecclesia Domestica) yang menjadi tempat pertama iman ditumbuhkan. Dari keluarga yang penuh kasih dan iman, akan lahir Gereja yang bahagia, mampu menginspirasi sesama, serta membawa kesejahteraan bagi lingkungan sekitar.
Melalui doa Adven IV ini, umat diingatkan bahwa menghadirkan Gereja tidak harus selalu melalui hal-hal besar, tetapi dapat dimulai dari kehidupan keluarga sehari-hari: saling mendengarkan, mengampuni, berbagi, dan peduli terhadap sesama. Dengan semangat kebersamaan dan teladan Keluarga Kudus, umat diharapkan semakin siap menyambut Natal dengan hati yang penuh damai dan sukacita.
Ibadat ditutup dengan doa penutup dan kebersamaan sederhana yang semakin mempererat tali persaudaraan antarumat. Semoga semangat Adven IV ini terus hidup dalam keluarga dan lingkungan, sehingga Gereja sungguh hadir sebagai sumber kebahagiaan, inspirasi, dan kesejahteraan bagi semua.
Sabtu, 13 Desember 2025, Dewan Harian Stasi Maguwo mengadakan kegiatan evaluasi dan penyegaran kepengurusan periode 2023–2025 di Kopi Banaran, Ambarawa. Dalam suasana yang santai namun penuh makna, para pengurus berkumpul di satu ruangan khusus untuk saling berbagi, merefleksikan, dan mensyukuri perjalanan pelayanan selama kurang lebih tiga tahun terakhir.
Kegiatan ini menjadi ruang jeda yang berharga—bukan sekadar pertemuan formal, tetapi momen untuk menengok ke belakang, melihat kembali langkah-langkah yang telah dilalui bersama, baik suka maupun duka dalam mengemban tugas sebagai pengurus Dewan Stasi.
Tiga Tahun Pelayanan yang Penuh Cerita
Periode 2023–2025 terasa berjalan begitu cepat. Dalam sesi sharing, para pengurus saling berbagi pengalaman: tantangan yang dihadapi, dinamika pelayanan, proses belajar bersama, hingga sukacita ketika melihat umat bertumbuh dan kegiatan gereja berjalan dengan baik.
Semua cerita itu menjadi bukti bahwa pelayanan bukanlah perjalanan yang selalu mudah, namun selalu bermakna ketika dijalani bersama, dengan semangat kebersamaan dan tanggung jawab.
Peneguhan dari Romo Paroki
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Romo Paroki Kalasan, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr, yang memberikan peneguhan kepada seluruh pengurus. Dalam pesannya, Romo menyampaikan apresiasi atas segala bentuk pelayanan yang telah dilakukan selama tiga tahun terakhir.
Romo menegaskan bahwa pelayanan di Gereja sering kali tidak terlihat dan tidak selalu mendapat pujian, namun setiap usaha yang dilakukan dengan tulus tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Peneguhan ini menjadi penguat batin bagi para pengurus untuk memaknai kembali panggilan melayani dengan hati yang penuh syukur.
Apresiasi dan Ucapan Terima Kasih
Di penghujung acara, Ketua Stasi 2023-2025, menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pengurus yang telah setia melayani selama periode 2023–2025, khususnya kepada:
Bapak Purwanto – Kabid Pewarta dan Evangelisasi
Bapak Arief Subyantoro – Kabid Paguyuban
Ibu Ita Rinawati – Kabid Liturgi dan Peribadatan
Bapak Pargiyono – Kabid Rumah Tangga
Bapak Bagio Murdianto – Kabid Kemasyarakatan
Bapak Andre Muda – Kabid Litbang
Mbak Amy dan Mbak Tinung – Sekretaris
Ibu Lusi, Ibu Sri Harnani, dan Ibu Nelly – Bendahara
Ucapan terima kasih ini disertai dengan harapan dan doa: “Jangan pernah lelah melayani dan membimbing kami, para pengurus Stasi.” Harapan yang sama juga dititipkan kepada Romo Paroki, sebagai gembala yang senantiasa mendampingi perjalanan umat Stasi Maguwo.
Menutup dengan Syukur dan Harapan
Kegiatan evaluasi dan penyegaran ini ditutup dengan rasa syukur yang mendalam. Tiga tahun pelayanan telah memberikan begitu banyak pengalaman, pembelajaran, dan kenangan yang tidak ternilai.
Dengan semangat “jangan lelah melayani”, para pengurus diajak untuk terus melangkah—entah dalam peran yang sama atau berbeda—tetap dengan hati yang terbuka, rendah hati, dan siap melayani Gereja serta umat Tuhan di Stasi Maguwo.
Umat Stasi Maguwo bersyukur dan berbangga karena salah satu putri terbaik dari Lingkungan St. Elisabet, Suster Rosita, SDP, merayakan 40 tahun hidup bakti dalam Kongregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi (SDP). Sebuah perjalanan panjang yang penuh kesetiaan, ketekunan, dan pengabdian bagi Gereja serta sesama.
Puncak perayaan syukur ini berlangsung dalam Perayaan Ekaristi di Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo, yang dipimpin oleh Romo FX Murdi Susanto, Pr. Suasana misa dipenuhi rasa syukur dan kegembiraan dari seluruh umat yang hadir.
Momen Mengharukan dalam Homili
Dalam homilinya, Romo Murdi tidak hanya mengajak umat merenungkan makna hidup bakti, tetapi juga secara khusus meminta Suster Rosita untuk bercerita tentang perjalanan panggilannya. Dengan suara lembut namun penuh keyakinan, Suster Rosita membagikan kisah masa mudanya—bagaimana keputusannya untuk masuk biara awalnya mendapat penolakan dari orang tua.
Nama asli : Warih Sujarwi Nama biara : Sr.Rosita, SDP Pendidikan : SPG Tempat / Tgl lahir : Sleman , 26 Juni 1960 Nama kongregasi : Sister of Divine Providence ( SDP ) dalam bahasa Indonesia Penyelenggaraan Ilahi ( PI ) Tempat bertugas : Susteran PROVIDENTIA Jakarta Masuk biara : 23 Juli 1985 ( 40 th ).
Riwayat panggilan hidup membiara Sr. Rosita, SDP
Selama 40 th sebagai suster mendapat tugas pelayanan di bidang pendidikan, pastoral : Di Jakarta :
di sekolah dan perburuhan kerja sama dengan Institut Serikat Jesus ( romo2 SJ ) Di Kudus :
karya pendidikan Di Timor ( Keuskupan Atambua ) :
karya pendidikan & asrama putri
Kalimantan Tengah ( Keuskupan Palangkaraya ) :
Asrama & pastoral di stasi pedalaman
Di Semarang:
( studi ) & mengajar
Di Banjarmasin & pegunungan:
Meratus ( sekolah , pastoral, pendampingan belajar anak usia dini & SD
Panggilan saya muncul: samar2 berusia 9 th ketika sering berjumpa dengan suster OP. Dimantapkan lagi saat mengikuti retret sekolah kls 2 SPG.
Motivasi awal saya ingin mengabdi Tuhan secara total dan ikut ambil bagian dalam pelayanan gereja yang masih sangat kekurangan tenaga khususnya di pedalaman.
Figur seorang suster yg ramah, sabar ; keprihatian gereja ( tuaian banyak, pekerja sedikit ) , kegiatan Legio yg banyak berkunjung ke orang sakit, miskin , terlantar sangat menginspirasi panggilan saya menjadi suster.
Moto saya ” Jangan takut , Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman “
Ajakan panggilan: Saya mengajak keluarga muda khususnya untuk menumbuhkan benih2 panggilan bagi anak – anak melalui pembiasaan sejak dini dan perkembangan berikutnya : berdoa bersama, ibadat di lingkungan, mengenalkan kisah orang Kudus, nyanyian rohani melalui medsos, mengikuti kegiatan lingk / gereja : PIA ,BIR , PA, dsb ; memiliki anak minimal 2 sehingga masih ada regenerasi ( jumlah anggota gereja katolik semakin berkurang karena banyak keluarga yang membatasi kelahiran ) , ikut memikirkan perkembangan gereja mendatang, jangan sampai seperti gereja di Eropa. Bagi orang muda ( gen ” Z ” ) ikut terlibat aktif dlm kegiatan gereja ( PA, OMK , koor, berbagai kegiatan rohani yg memberi bekal & memperkuat iman dlm menghadapi tantangan di jaman digital dan serba instan.
Suka duka : Selama 40 th dalam peziarahan hidup sebagai suster PI saya lebih banyak mengalami sukacita: merasakan persaudaraan, dukungan, semangat baik di biara maupun dalam pelayanan dan penyertaan kasih Allah melalui kemurahan hati sesama di mana saya diutus, dekat dengan anak2, umat khususnya mereka yg kurang diperhatikan, ada liburan bersama di komunitas, bisa ziarah ke Holly Land ( Tanah Suci ), libur di tengah2 keluarga, dapat melayani masyarakat di pedalaman, dsb.
Tantangannya :
Dalam tugas di sekolah menghadapi orang tua murid dan rekan kerja dengan berbagai karakter yg kadang membuat lelah ( di kota besar )
Medan yg berat : saat tugas di pedalaman, jalan berlumpur & berlubang, genangan air yg dalam yg sering menyebabkan orang jatuh , motor mogok di tengah hutan yg gelap & sunyi, saat musim kemarau sulit mengupayakan air, mendampingi umat yg hanya mementingkan pekerjaan dari pada beribadat, tidak ada signal sehingga komunikasi sangat terbatas, dsb.
Semua tantangan tsb menjadi kesempatan bagi saya untuk makin memurnikan motivasi panggilan, makin mengandalkan kekuatan Allah dan mensyukuri kasih Allah melalui dalam hal kecil sekalipun. ” ALLAH YG MENCINTAI, MEMANGGIL DAN MENGUTUS SAYA , ALLAH YG AKAN MENYELESAIKAN DENGAN BAIK “
Empat Dekade Pengabdian yang Menginspirasi
Perjalanan 40 tahun hidup bakti Suster Rosita menjadi tanda bahwa penyelenggaraan Tuhan bekerja melalui pribadi yang siap menyerahkan diri sepenuhnya. Selama empat dekade, beliau menghadirkan kasih Allah melalui:
pelayanan sederhana namun penuh kepedulian,
pendampingan umat di berbagai tempat tugas,
perhatian kepada mereka yang lemah dan membutuhkan,
serta hidup doa yang menjadi sumber kekuatan setiap hari.
Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, sekaligus menjadi kebanggaan bagi umat Stasi Maguwo, terutama Lingkungan St. Elisabet.
Perayaan Penuh Sukacita dan Harapan
Dalam Misa Syukur ini, umat bersama memanjatkan doa bagi Suster Rosita:
agar tetap diberi kesehatan dan sukacita,
agar semakin diteguhkan dalam pelayanan,
dan agar terus menjadi saluran berkat bagi sesama.
Momen ini juga mengingatkan umat bahwa Tuhan masih bekerja memanggil dan mengutus putra-putri dari tengah komunitas kita.
Terima Kasih, Suster Rosita
Terima kasih atas empat dekade perjalanan iman dan pelayanan penuh kasih. Terima kasih telah membawa nama Maguwo dalam karya Penyelenggaraan Ilahi yang begitu nyata.
Semoga Tuhan selalu menyertai langkah-langkahmu, Suster. Selamat merayakan 40 tahun hidup bakti—tetaplah menjadi berkat dan inspirasi di mana pun Tuhan mengutusmu.
Memasuki Minggu Adven II, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hening dan penuh harapan untuk mengikuti pertemuan dengan tema “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi.” Tema ini mengajak umat untuk berani melangkah, mengambil peran, dan menghadirkan terang kasih Tuhan di tengah masyarakat.
Pertemuan diawali dengan nyanyian dan doa pembuka, mengantar umat memasuki momen refleksi. Adven minggu kedua ini mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil bukan hanya untuk menantikan kedatangan Tuhan, tetapi juga menjadi tanda kehadiran-Nya melalui tindakan kasih yang nyata.
Tema: Mengambil Langkah Pertama untuk Peradaban Kasih
Dalam pengantar pertemuan, umat diajak menyadari bahwa dunia yang semakin kompleks membutuhkan pribadi-pribadi yang siap menjadi teladan. Gereja yang menginspirasi bukanlah Gereja yang pasif, tetapi Gereja yang berani mengambil langkah pertama untuk menyemai peradaban kasih.
Mulai dari tindakan kecil—menyapa, membantu, mendengarkan, memberi waktu—semua itu menjadi dasar yang membuat komunitas semakin hidup. Adven mengajak umat melihat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian sederhana seseorang untuk memulai.
Inspirasi Iman: Mengisi Kertas Kosong
Untuk memperdalam makna tema, pertemuan Adven II diisi dengan dinamika “Mengisi Kertas Kosong.” Pemandu menyediakan selembar kertas kosong serta beberapa spidol, lalu umat diajak hening sejenak sebelum permainan dimulai.
Satu per satu, setiap peserta diminta memberi satu goresan—entah garis, lingkaran, titik, atau bentuk sederhana lainnya. Goresan sederhana yang saling melengkapi ini perlahan membentuk sebuah gambar utuh.
Dinamika ini membawa pesan mendalam:
Sebuah karya besar selalu dimulai dari satu inisiatif kecil.
Setiap orang punya peran penting untuk mengisi kekosongan dalam komunitas.
Ketika setiap umat memberi kontribusinya, Gereja menjadi lebih indah dan lebih menginspirasi.
Tanpa kebersamaan, kertas tetap kosong. Namun dengan kerjasama, kertas itu berubah menjadi karya penuh makna.
Seperti gambar itu, hidup menggereja juga membutuhkan keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk berjalan bersama.
Peneguhan Sabda: Matius 3:1–12
Pertemuan kemudian diteguhkan dengan pembacaan Kitab Suci dari Matius 3:1–12, yang menghadirkan suara Yohanes Pembaptis sebagai pewarta pertobatan. Bacaan ini menegaskan bahwa setiap orang dipanggil untuk memperbarui diri, mempersiapkan jalan bagi Tuhan, dan menghasilkan buah-buah pertobatan dalam hidup sehari-hari.
Sabda ini menjadi dorongan agar umat tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi mengambil tindakan nyata untuk mewujudkan kasih Tuhan.
Penutup: Melangkah Bersama, Menginspirasi Sesama
Pertemuan Adven II ditutup dengan doa, memohon agar umat diberikan keberanian untuk menjadi Gereja yang bergerak, yang menghadirkan inspirasi, dan yang membangun kesejahteraan melalui aksi-aksi sederhana.
Melalui Adven minggu kedua ini, umat Stasi Maguwo diajak untuk terus melangkah bersama—mengubah “kertas kosong” kehidupan menjadi karya kasih yang hidup dan menginspirasi banyak orang.
Memasuki Minggu Adven III, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hangat untuk mengikuti pertemuan Adven dengan tema “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan.” Tema ini mengajak umat untuk semakin membuka hati, melihat sesama, dan menghadirkan kesejahteraan bagi banyak orang melalui bela rasa dan kerjasama. Setiap lingkungan berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh keakraban, dipersatukan oleh semangat yang sama: membangun Gereja yang semakin menyejahterakan.
Pertemuan dimulai dengan nyanyian pembuka, disusul doa pembuka yang membawa umat masuk dalam suasana doa dan penantian yang mendalam. Suasana hening dan kebersamaan malam ini menjadi tempat yang baik untuk menyiapkan hati menyambut kehadiran Sang Juru Selamat.
Pengantar: Menghidupi Semangat Bela Rasa
Dalam pengantar pertemuan, umat diajak merenungkan bahwa menjadi Gereja yang menyejahterakan bukan hanya tugas para pemimpin Gereja, tetapi panggilan setiap orang beriman. Kesejahteraan terwujud ketika kita mau hadir, peduli, dan menjadi tanda kasih Tuhan bagi sesama.
Gereja dipanggil untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi untuk keluar, melihat sekitar, dan terlibat menghadirkan kebaikan. Adven mengajak kita menyiapkan hati sekaligus menyiapkan tindakan nyata untuk mewujudkan kesejahteraan bersama—di keluarga, lingkungan, wilayah, dan stasi.
Inspirasi Iman: Puzzle Kesejahteraan
Pertemuan Adven III malam ini juga dilengkapi dengan dinamika menyusun puzzle, sebagai simbol bahwa kesejahteraan sejati adalah hasil karya bersama. Umat menerima potongan gambar dari berbagai bentuk—gambar keluarga harmonis, orang yang tersenyum, atau suasana damai—untuk dirangkai kembali menjadi gambar utuh.
Dinamika sederhana ini mengingatkan umat bahwa:
setiap orang membawa “potongan kebaikannya” sendiri,
setiap talenta saling melengkapi,
dan kesejahteraan hanya terwujud ketika semua bekerja bersama.
Sebagaimana puzzle tidak akan lengkap tanpa satu potongan pun, demikian pula Gereja tidak akan bisa menyejahterakan jika warganya berjalan sendiri-sendiri.
Refleksi Iman: Pesan Paus Fransiskus
Dalam refleksi, umat merenungkan pesan Paus Fransiskus yang menegaskan bahwa setiap manusia adalah saudara, tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang. Kesejahteraan menurut Gereja bukan sekadar kesejahteraan materi, tetapi kesejahteraan yang memanusiakan setiap orang.
Paus mengingatkan bahwa masyarakat yang terpecah-pecah tidak mungkin menciptakan kesejahteraan. Justru dengan berbela rasa, bekerjasama, saling peduli, dan membangun relasi yang hangat, kita dapat menghadirkan “keluarga manusia” yang sejati.
Peneguhan Kitab Suci
Sabda Tuhan yang dibacakan menjadi sumber kekuatan bagi umat untuk semakin memahami panggilan sebagai Gereja yang melayani kesejahteraan bersama. Sabda tersebut mengingatkan bahwa tindakan kasih adalah bagian dari karya keselamatan Tuhan yang hadir melalui setiap pribadi yang mau peduli.
Penutup
Pertemuan ditutup dengan doa bersama, memohon agar umat semakin mampu menghidupi semangat bela rasa dan kerjasama, sehingga Gereja sungguh menjadi tempat yang menumbuhkan harapan dan kesejahteraan bagi semua orang.
Melalui Adven III ini, umat Stasi Maguwo—khususnya lingkungan St. Monika, St. Klara, St. Yohanes Pembaptis, St. Gregorius, Bramin, St. Theresia, St. Stefanus, dan St. Yusuf—diajak untuk semakin siap menyambut kelahiran Kristus, Sang Sumber Sukacita dan Kesejahteraan sejati.
Stasi Maria Bunda Allah Maguwo kembali merilis Infografis Data Umat tahun 2024-2025 sebagai bentuk keterbukaan sekaligus cara mudah untuk melihat perkembangan komunitas umat kita. Infografis ini merangkum berbagai data penting tentang kehidupan menggereja, mulai dari jumlah umat, struktur wilayah, hingga sebaran lingkungan.
Data ini tidak hanya menjadi laporan, tetapi juga cermin bagi kita semua tentang betapa hidup dan dinamisnya Stasi Maguwo sebagai satu keluarga besar.
Potret Umum Umat 2025
Berikut beberapa fakta menarik yang tersaji dalam infografis tahun ini:
• 4 Wilayah
Stasi Maguwo saat ini terbagi ke dalam 4 wilayah pelayanan. Pembagian ini membantu pengurus dalam mengatur pelayanan pastoral agar lebih dekat dan efektif.
• 17 Lingkungan
Setiap lingkungan memiliki karakter dan dinamika umat yang unik, namun semuanya bergerak bersama sebagai bagian dari satu stasi yang sama.
• 1.798 Umat Katolik
Jumlah ini menunjukkan bahwa Stasi Maguwo merupakan komunitas besar yang terus bertumbuh, dengan aktivitas menggereja yang hidup di semua lini.
• 591 Kepala Keluarga
Komunitas keluarga menjadi fondasi kuat kehidupan pastoral di stasi. Keluarga-keluarga inilah yang menghidupkan doa lingkungan, ibadat, dan aneka kegiatan basis.
Data Sakramen Inisiasi
Infografis juga menampilkan data Penerima Sakramen Inisiasi tahun ini—mulai dari baptis, komuni pertama, hingga krisma. Data ini menunjukkan dinamika perkembangan iman umat, khususnya kaum muda dan keluarga baru yang terus bertumbuh dalam Gereja.
Sebaran Umat per Wilayah & Lingkungan
Visualisasi sebaran umat membantu kita melihat wilayah mana yang padat, mana yang sedang berkembang, dan mana yang memerlukan perhatian khusus dari tim pastoral. Dengan melihat data ini, pengurus bisa menyusun perencanaan program yang lebih tepat sasaran.
Realisasi Propel Rutin & Visioner 2024
Infografis juga memuat laporan singkat mengenai:
Realisasi Propel Rutin 2024
Realisasi Propel Visioner 2024
Kedua data ini menjadi bukti komitmen pengurus stasi dalam menjalankan program-program pelayanan yang sudah direncanakan bersama umat.
Pengurus DPS 2026–2028
Infografis menampilkan susunan Dewan Pastoral Stasi Maguwo periode 2026–2028. Dengan melihat struktur ini, umat semakin mengenal siapa saja yang melayani di bidang administrasi, pastoral, liturgi, hingga kemasyarakatan.
Kegiatan Umat Basis (KUB) 2026–2028
Data ini memperlihatkan gambaran program dan arah pelayanan KUB ke depan—mulai dari kegiatan rohani, sosial, lingkungan hidup, hingga penguatan paguyuban umat.
Master Plan Penataan Kawasan Gereja, Pastoran & Gedung Pastoral
Bagian akhir infografis berisi tampilan visual Master Plan Gereja, Gedung Pastoral, dan Pastoran Stasi Maguwo. Rencana besar ini menjadi cita-cita bersama umat untuk menghadirkan ruang pelayanan yang semakin layak, nyaman, dan mendukung perkembangan Gereja di masa datang.
Penutup
Lewat infografis ini, Stasi Maguwo ingin mengajak seluruh umat melihat perjalanan pastoral secara lebih terbuka dan terukur. Semoga data ini menjadi dasar bagi kita untuk terus memperbaiki pelayanan, memperkuat kebersamaan, dan menumbuhkan iman secara lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Doa Adven III Lingkungan Santo Petrus dilaksanakan pada Selasa, 9 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah Mba Lely. Ibadat ini dipimpin oleh Ibu Mulyadi dan dihadiri oleh 15 umat yang mengikuti dengan penuh keakraban dan sukacita.
Dengan tema “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan”, suasana doa diisi dengan renungan mengenai panggilan Gereja untuk menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi sesama. Bukan hanya kesejahteraan lahiriah, tetapi juga kesejahteraan batin, kasih, perhatian, dan kepedulian.
Salah satu bagian paling menarik dalam acara ini adalah permainan menyusun puzzle gambar yang disiapkan sebagai sarana refleksi. Setiap umat diberikan beberapa potongan puzzle yang tampaknya sederhana, namun menyimpan makna mendalam.
Permainan ini ingin menggambarkan bahwa kesejahteraan sejati adalah hasil dari upaya bersama. Sama seperti puzzle, tanpa satu bagian pun, gambar tidak akan pernah menjadi lengkap. Begitu pula dalam kehidupan komunitas: satu orang yang terabaikan akan membuat gambaran kesejahteraan menjadi tidak utuh.
Setiap potongan puzzle melambangkan setiap pribadi dalam masyarakat, masing-masing dengan keunikan, kebutuhan, dan peran penting yang tidak dapat digantikan. Menjadi Gereja yang menyejahterakan berarti kita tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi aktif mencari, memperhatikan, dan merangkul mereka yang “hilang” atau “tersembunyi”—mereka yang mungkin tersisihkan, lemah, atau membutuhkan uluran tangan.
Ketika semua potongan puzzle tersusun dengan baik, tampaklah sebuah gambar yang indah dan sempurna. Hal ini menjadi simbol bahwa sebuah komunitas yang sejahtera adalah komunitas di mana setiap orang merasa dihargai, diakui, dan memiliki tempat. Tidak ada yang tersisih, dan semua berperan dalam membangun kebahagiaan bersama.
Doa Adven III ini menjadi momen berharga bagi umat Lingkungan Santo Petrus untuk meneguhkan komitmen sebagai Gereja yang hidup bagi sesama—menghadirkan kesejahteraan, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata dan kepedulian setiap hari. Dengan semangat Adven, umat diajak terus mempersiapkan diri menyambut Kristus Sang Damai yang datang membawa harapan dan kesejahteraan bagi seluruh dunia.
Senin malam, 8 Desember 2025, Stasi Maguwo menorehkan langkah bersejarah melalui pelaksanaan supervisi perdana. Untuk pertama kalinya, seluruh tata di stasi Maguwo menjalani proses pendampingan, peninjauan, dan evaluasi menyeluruh dari Kevikepan Jogja Timur dan Keuskupan Agung Semarang. Supervisi ini dipimpin langsung oleh Romo Maradiyo, Pr, selaku Vikep Kevikepan Jogja Timur, bersama tim supervisi gabungan yang memiliki pengalaman luas dalam tata kelola gereja.
Hadir pula Romo Antonius Dadang Hermawan Pr Pastor Paroki Kalasan, dan Romo Yohanes Ngatmo Pr Vikaris Paroki, yang memberikan dukungan penuh bagi pengembangan Stasi Maguwo. Kehadiran kedua romo tersebut menghadirkan suasana penuh semangat dan mempertegas bahwa perjalanan pastoral Stasi Maguwo selalu mendapat pendampingan yang hangat.
Suasana Supervisi: Serius Tapi Santai, Formal Tapi Tetap Hangat
Sejak para romo dan tim supervisi tiba, suasana sudah terasa akrab. Tidak ada ketegangan, tidak ada kesan “diadili”—yang ada justru semangat dialog, belajar, dan bertumbuh bersama.
Setelah doa pembuka, supervisi dibagi ke dalam tiga kelompok tata yang dikerjakan secara paralel:
1. Tata Kelola Administrasi
Peninjauan meliputi dokumen-dokumen penting, tata arsip, alur surat-menyurat, pelaporan kegiatan, hingga sistem komunikasi internal.
2. Tata Kelola Harta Benda
Tim meninjau inventaris gereja, aset, mekanisme penggunaan dana, transparansi pengelolaan, serta perencanaan pengembangan sarana prasarana.
3. Tata Penggembalaan
Pada bagian ini, pembahasan berlangsung cukup mendalam. Bidang pewartaan menjadi sorotan khusus melalui evaluasi atas program FIBB (Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan)—apakah sudah berjalan, bagaimana pendampingannya, dan sejauh mana program ini membantu memperkuat iman umat di lingkungan.
Selain pewartaan, supervisi juga meninjau bidang:
Kemasyarakatan
Litbang
Liturgi dan Peribadatan
Paguyuban
Rumah Tangga Gereja
Seluruh bidang ini dievaluasi menggunakan checklist supervisi resmi, sehingga jelas mana yang sudah baik, mana yang perlu diperkuat, dan mana yang butuh pendampingan lanjutan. Prosesnya berjalan hangat, penuh tanya jawab, diselingi tawa kecil yang membuat suasana tetap ringan meskipun yang dibahas serius.
Dalam diskusi, banyak insight muncul, seperti pentingnya perencanaan pastoral yang lebih menyentuh kebutuhan umat, penguatan komunikasi antarbidang, serta penyusunan program FIBB yang lebih terarah.
Belajar Bersama, Bertumbuh Bersama
Nilai utama supervisi malam itu adalah kemitraan. Tim supervisi tidak hanya menilai, tetapi juga memberi contoh, masukan, dan pengalaman terbaik. Pengurus Stasi Maguwo menyambut semua masukan dengan terbuka. Banyak catatan positif dicatat sebagai kekuatan stasi—mulai dari semangat para pengurus, kerapian data, hingga kreativitas dalam menyelenggarakan kegiatan umat.
Pembacaan Rekomendasi: Menyusun Arah Langkah ke Depan
Menjelang akhir, seluruh peserta berkumpul kembali untuk mendengarkan rekomendasi-rekomendasi dari ketiga tata. Rekomendasi ini menjadi pegangan penting bagi pengurus untuk menyusun langkah tindak lanjut, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Mulai dari perbaikan administrasi, penataan aset, hingga penguatan pastoral dan pengelolaan harta benda
Penutup yang Hangat: Makan Malam Bersama
Acara kemudian ditutup dengan makan malam bersama di teras depan gereja. Pengurus stasi, para romo, serta tim supervisi duduk bercampur, berbagi cerita ringan, dan menikmati suasana malam Maguwo yang sejuk. Kehangatan itu menjadi pengingat bahwa Gereja bukan hanya soal laporan dan data, tetapi komunitas yang hidup dan terus bertumbuh bersama.
Melangkah Maju Bersama
Supervisi perdana ini bukan sekadar agenda formal—melainkan sebuah tonggak bagi Stasi Maguwo untuk melihat diri, memperbaiki kekurangan, dan menguatkan apa yang sudah berjalan baik. Dengan semangat yang sama, Stasi Maguwo siap melangkah menuju tata kelola, pelayanan, dan penggembalaan yang semakin tertata dan semakin melayani.
Kabar gembira untuk umat GMBA Proses restorasi patung Bunda Maria yang beberapa waktu terakhir dikerjakan kini resmi selesai. Patung yang selama ini menjadi tempat umat menepi dan berdoa, sekarang tampil jauh lebih cantik, bersih, dan seperti baru kembali.
Restorasi dilakukan dengan penuh perhatian, ketelitian, dan semangat pelayanan. Hasilnya benar-benar membawa suasana baru di area devosi Bunda Maria—lebih rapi, lebih terang, dan lebih mengundang umat untuk datang berdoa.
Sebagai tambahan, di depan patung kini juga telah disediakan tempat lilin yang bisa digunakan umat Maguwo sebagai sarana berdoa dan memanjatkan intensi. Harapannya, fasilitas kecil ini bisa membantu umat semakin dekat dengan Bunda Maria dan semakin tekun dalam kehidupan rohani.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada semua pihak yang sudah mendukung proses restorasi ini—baik yang menyumbang materi, tenaga, maupun doa.
Secara khusus, kami menyampaikan terima kasih kepada Mas Dedi dan Mas Puji, para koster GMBA, yang sudah bekerja dengan telaten, penuh bakat, dan memberikan sentuhan terbaik mereka untuk memulihkan keindahan patung ini. Talenta dan pelayanan mereka sungguh menjadi berkat bagi komunitas.
Semoga kehadiran patung Bunda Maria dengan wajah yang baru ini meneguhkan iman kita dan semakin menggerakkan hati untuk datang, berdoa, dan menyerahkan hidup kita kepada penyertaan Tuhan melalui Bunda-Nya.