Sukacita Sakramen Komuni Pertama

You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂

Sukacita Sakramen Komuni Pertama di Gereja Maria Bunda Allah, MaguwoharjoMinggu, 22 Juni 2025 | Pukul 08.00 WIB Dipimpin oleh: Rm. Yohanes Ngatmo, Pr. Maguwoharjo, Sleman – Hari Minggu, 22 Juni 2025

menjadi momen istimewa dan penuh rahmat di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, dengan dilangsungkannya Perayaan Komuni Pertama bagi 23 anak dari komunitas umat stasi. Misa Kudus dipimpin dengan penuh sukacita dan kekhidmatan oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr., mulai pukul 08.00 WIB. Misa Kudus: Awal Perjalanan Iman yang Lebih DalamSejak pagi, gereja dipenuhi suasana haru dan gembira. Anak-anak penerima Komuni Pertama mengenakan busana putih sebagai lambang kemurnian hati dan kesiapan menyambut Tubuh Kristus untuk pertama kalinya. Umat yang hadir, khususnya para orang tua dan keluarga, tampak antusias dan penuh sukacita. Dalam homilinya, Romo Yohanes menegaskan pentingnya peristiwa ini sebagai awal dari kedekatan pribadi dengan Yesus: “Yesus hari ini hadir sungguh dalam hidup kalian, anak-anak. Komuni bukan hanya soal menerima roti, tetapi menerima kasih Tuhan yang hidup. Jaga selalu hubungan ini, bukan hanya hari ini, tapi setiap hari dalam doa, dalam kasih, dan dalam tindakan.”Momen Sakral dan Penuh Haru setelah konsekrasi, satu per satu anak maju ke depan altar, menerima Tubuh Kristus dengan sikap penuh hormat dan khusyuk. Momen ini menjadi puncak spiritual yang menyentuh hati banyak umat, terutama orang tua yang turut menyaksikan dengan mata berkaca-kaca.

Para katekis yang telah mendampingi anak-anak juga turut bersyukur atas pencapaian rohani ini. Perayaan Syukur dan KeakrabanUsai Misa, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama di halaman gereja, diiringi ramah tamah sederhana yang dihadiri para katekis, keluarga, dan umat. Ucapan selamat dan doa berlimpah untuk anak-anak yang telah menerima sakramen penting ini. Penutup: Iman yang Tumbuh dalam Keluarga Romo Yohanes Ngatmo Pr menutup perayaan dengan ajakan kepada seluruh keluarga untuk terus menjadi sekolah iman pertama bagi anak-anak. Ia juga menyampaikan harapan agar anak-anak ini semakin aktif dalam kehidupan menggereja dan tumbuh sebagai pribadi Katolik yang penuh kasih dan pelayanan. “Komuni Pertama bukanlah akhir, tapi awal dari perjalanan panjang bersama Kristus. Biarlah setiap dari kita terus bertumbuh dalam cinta-Nya.” Perayaan ini menjadi pengingat indah bahwa iman bukan hanya dibangun dalam Gereja, tetapi juga dalam keluarga dan komunitas yang saling mendukung dalam kasih. Semoga anak-anak ini terus menjadi terang Kristus di tengah dunia.

kunjungi Instagram : https://www.instagram.com/p/DLOXAzDSEBj/?igsh=dHdqbHE1MWNmNGh1

Sosialisasi TCK Bersama PT BPR Shinta Daya

Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo – Minggu, 15 Juni 2025

Pada hari Minggu, 15 Juni 2025, bertempat di Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Tabungan Cinta Kasih (TCK) bersama PT BPR Shinta Daya. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Lingkungan, Pengurus TCK Lingkungan dan Stasi, Kabid Pelayanan Masyarakat, tim sekretaris, serta tim bendahara Stasi Maguwo.

Sesi pertama disampaikan oleh Ibu Lydia dan tim dari PT BPR Shinta Daya. Dalam pemaparannya, dijelaskan secara rinci mengenai arti, maksud, dan tujuan dari program TCK, yakni sebagai wadah untuk membangun semangat gotong royong dan solidaritas dalam mendukung kebutuhan pembangunan gereja melalui simpanan kolektif yang dikelola secara profesional.

Dijelaskan pula bahwa dana setoran TCK akan dimasukkan ke bank dalam bentuk deposito, dengan bunga khusus yang diberikan oleh bank: pada tahun pertama mengikuti suku bunga LPS, dan tahun-tahun berikutnya sebesar 0,5% di bawah suku bunga LPS. Jangka waktu simpanan disesuaikan dengan kesepakatan para peserta.

Sesi berikutnya diisi oleh Ibu Agnes Suratini selaku pengurus TCK Stasi Maguwo. Beliau menjelaskan mekanisme pembagian bunga tabungan untuk periode yang baru saja berakhir, yaitu 60% dialokasikan untuk dana pembangunan stasi dan 40% dibagikan ke lingkungan (dimasukkan ke kas lingkungan) berdasarkan jumlah saham masing-masing. Namun, untuk periode baru, sesuai arahan Romo Dadang dalam misa, seluruh bunga—100%—akan dialokasikan untuk mendukung dana pembangunan gereja. Kesepakatan bersama juga dicapai mengenai jangka waktu simpanan yang ditetapkan selama 24 bulan.

Dalam kesempatan yang sama, Bapak Bagio yang merupakan Kabid Kemasyarakatan juga sekaligus pimpro pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah turut menegaskan pentingnya dukungan dana melalui program TCK ini. Beliau menyampaikan bahwa Stasi Maguwo saat ini telah memiliki masterplan pengembangan gereja yang tentu memerlukan biaya besar. Oleh karena itu, keputusan untuk mengarahkan seluruh hasil bunga TCK demi pembangunan gereja menjadi langkah strategis yang sangat membantu.

Kegiatan sosialisasi berlangsung lancar dan hangat, diakhiri dengan sesi tanya jawab dan diskusi ringan antar peserta. Semoga semangat kebersamaan dalam membangun rumah Tuhan terus tumbuh dan mengakar dalam hati seluruh umat Stasi Maguwo.

“Refresh Jiwa Lingk. St. Monica” Menyapa Hati, Menyembuhkan Batin, Semangat Menggereja

Di tengah ritme kehidupan yang kian cepat dan padat, kita kerap tenggelam dalam rutinitas tanpa sempat bertanya: Bagaimana kabar jiwa kita hari ini? Pertanyaan sederhana itu menjadi dasar lahirnya sebuah kegiatan penuh makna yang diselenggarakan oleh Lingkungan Santa Monica, bertajuk “Refresh Jiwa”, sebuah inisiatif baru yang menghadirkan keheningan, refleksi, dan penyembuhan batin.

Perjalanan Spiritual ke Taman Doa Maria Penolong Abadi

Kegiatan ini berlangsung di Taman Doa Maria Penolong Abadi, yang berlokasi di Stasi Pojok, Paroki St. Petrus–Paulus, Minggir, Klepu. Dikelilingi suasana khas pedesaan yang alami dan tenang, tempat ini menjadi ruang yang tepat untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, dan menyatu dalam keheningan bersama Tuhan.

Taman doa ini tidak hanya menyuguhkan keindahan fisik, tetapi juga menghadirkan kekuatan spiritual yang menyentuh. Pendopo joglo sederhana, tempat berlangsungnya prosesi, disiapkan penuh kasih, dikelilingi alam hijau, diterangi lampu remang-remang, dan ditemani patung Bunda Maria dengan sentuhan budaya Jawa. Semua elemen ini menyatu menciptakan suasana yang intim, penuh damai, dan sangat mendukung pengalaman batin yang mendalam.

Kekuatan Unsur Hypnotherapy dalam Penyembuhan Jiwa

Hal yang menjadikan kegiatan ini unik dan berkesan adalah penggunaan unsur hypnotherapy spiritual, yang dipadukan dengan metode penyembuhan menggunakan energi Ilahi. Melalui bimbingan dan teknik-teknik relaksasi serta pemusatan pikiran, para peserta diajak untuk membuka diri, menerima kasih Tuhan, dan membiarkan setiap luka batin, kekhawatiran, serta beban hidup dipulihkan dalam kehadiran-Nya.

Sekitar 50 umat, dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga para lansia, dengan penuh kesadaran dan keterbukaan mengikuti setiap proses. Mereka diajak untuk menyapa jiwa, mengendapkan emosi, menyadari kehadiran Tuhan di balik segala peristiwa hidup. Tidak sedikit peserta yang merasakan ketenangan, kesegaran jiwa, bahkan mengalami momen spiritual yang mendalam.

Diprakarsai oleh Kaum Muda yang Penuh Semangat

Salah satu keistimewaan kegiatan ini adalah keterlibatan kaum muda sebagai motor penggerak utama. Mas Wilfred, Mbak Sulis, dan Mas Vincent tampil sebagai inisiator dan fasilitator utama, dibantu Bapak Lasiman selaku Ketua Lingkungan Monica. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat pelayanan dan inovasi rohani tidak mengenal usia, dan bahwa generasi muda dapat mengambil peran penting dalam membangun kehidupan menggereja yang hidup dan relevan.

Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa gereja bisa hadir dengan cara yang kreatif, menyentuh, dan tetap setia pada nilai-nilai spiritual yang hakiki.

Membangun Komunitas yang Guyub dan Bersemangat

“Refresh Jiwa” tidak hanya memberi pengalaman pribadi yang menguatkan, tetapi juga mempererat tali persaudaraan di antara umat. Dalam suasana yang akrab, para peserta saling mendukung, berbagi cerita, mendoakan satu sama lain. Kegiatan ini menghidupkan kembali spirit Santa Monica, pelindung lingkungan ini, yang dikenal sebagai sosok ibu penuh kasih, tabah, dan teguh dalam doa demi keselamatan keluarganya.

Melalui kegiatan ini, harapannya umat Lingkungan Monica semakin guyub, solid, dan antusias dalam keterlibatan pastoral, baik di lingkungan maupun di Stasi. Semangat melayani, semangat berbagi, dan semangat memuliakan Tuhan bersama-sama menjadi bekal penting untuk terus membangun Gereja yang hidup dan berakar dalam iman.

“Refresh Jiwa bukan hanya soal rehat sejenak, tapi tentang mendengarkan bisikan jiwa, menyentuh kasih Tuhan, dan pulang dengan semangat baru untuk mencintai lebih sungguh.”

Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi lingkungan lain untuk menciptakan ruang-ruang penyembuhan batin yang nyata, sederhana namun berdampak besar bagi kehidupan rohani umat.

Berkah Dalem

foto lengkap bisa dilihat di link google drive :

https://drive.google.com/drive/folders/1Oltv2L3DEKz55adJK8a9Xtzb4A2vWkyx

Doa Rutin Lingkungan St. Petrus: Menghidupi Iman Lewat Katekese Sejarah KAS

Pada hari Kamis, 12 Juni 2025, umat Lingkungan St. Petrus kembali berkumpul dalam doa rutin bulanan yang dilaksanakan di rumah ibu kaling, Mba Lely. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal kegiatan yang dipimpin oleh Ibu Mulyadi ini.

Sebanyak 12 umat hadir dalam kegiatan ini, menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian untuk terus memperkuat iman dalam komunitas kecil. Doa bersama menjadi momen penyegaran rohani, sekaligus ruang refleksi atas pengalaman hidup sehari-hari dalam terang firman Tuhan.

Menariknya, kegiatan kali ini juga diisi dengan katekese tentang Sejarah Keuskupan Agung Semarang (KAS). Katekese tersebut mengajak umat mengenal lebih dalam perjalanan panjang Gereja KAS dari masa awal hingga sekarang, mulai dari peran para misionaris awal, perkembangan paroki-paroki, hingga semangat pelayanan yang terus hidup dalam berbagai bidang pastoral.

Ibu Mulyadi menyampaikan bahwa memahami sejarah KAS bukan hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga memperkuat identitas sebagai bagian dari Gereja lokal yang aktif dan berakar. Katekese ini memunculkan antusiasme dan diskusi ringan di antara umat, yang merasa terinspirasi untuk lebih berkontribusi dalam kehidupan menggereja.

Doa ditutup dengan harapan agar umat Lingkungan St. Petrus terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih, serta tetap setia dalam pelayanan dan kebersamaan. Kebersamaan pun dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana yang mempererat tali persaudaraan.

Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sumber semangat bagi umat untuk menapaki jalan kekudusan bersama.

“Merayakan Syukur, Menyemai Kebersamaan” Pembubaran Panitia HUT Stasi Santa Maria Bunda Allah

Minggu, 8 Juni 2025 menjadi penanda resmi berakhirnya seluruh rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Gereja Stasi Santa Maria Bunda Allah. Sebuah momen penuh syukur digelar sebagai bentuk penutupan: pembubaran panitia yang telah bekerja keras dan melayani dengan sepenuh hati.

Sejak awal, perayaan HUT tahun ini bukan sekadar selebrasi, melainkan juga menjadi perjalanan iman bersama umat. Rangkaian kegiatan dimulai pada 25 Mei 2025 dengan bakti sosial berupa cek kesehatan untuk masyarakat sekitar gereja sebagai wujud nyata kasih dan kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.

Perjalanan dilanjutkan dengan ziarah ke makam para leluhur pendiri Gereja pada 29 Mei 2025—sebuah langkah penuh hormat dan doa bagi mereka yang telah lebih dulu berpulang dalam iman. Suasana doa yang khusyuk memperkuat ikatan batin umat dengan sejarah, warisan iman, dan keluarga besar gereja.

Puncaknya terjadi pada 1 Juni 2025, dengan Misa Syukur sebagai inti perayaan, disambung dengan pesta umat yang penuh sukacita, keakraban, dan semangat persaudaraan. Semua lapisan umat ambil bagian, dari anak-anak hingga lansia, menjadikan hari itu bukan hanya meriah, tapi juga menghangatkan hati.

Hari ini, saat panitia secara resmi dibubarkan, yang tersisa bukan hanya laporan kegiatan atau dokumentasi acara. Yang paling berharga adalah pengalaman melayani bersama, tawa yang dibagi, keringat yang jatuh diam-diam, dan semangat gotong royong yang mempererat ikatan umat satu sama lain.

Terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh panitia—yang telah berjerih lelah, berdoa dalam diam, bekerja dalam kesederhanaan, dan memberi dalam kasih. Semoga semua benih kebaikan yang ditanam dalam perayaan HUT ini tumbuh menjadi buah-buah berkat bagi gereja dan sesama.

Sampai jumpa di pelayanan selanjutnya. Karena gereja adalah kita, dan kita semua adalah bagian dari karya kasih-Nya yang terus berjalan.

Rekoleksi Calon Penerima Komuni Pertama se-Paroki Kalasan

Sabtu pagi, 7 Juni 2025, kompleks Biara SCJ di Jalan Kaliurang dipenuhi dengan wajah-wajah penuh semangat dan harapan. Hari itu, rekoleksi calon penerima Komuni Pertama se-Paroki Kalasan digelar sebagai bagian penting dari persiapan rohani anak-anak sebelum menyambut Sakramen Maha Kudus untuk pertama kalinya.

Sebanyak 192 anak calon penerima Komuni Pertama dan 300 orang tua turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Dari jumlah tersebut, Stasi Maguwo mengutus 23 anak dan 60 orang tua—sebuah angka yang menunjukkan antusiasme dan keterlibatan nyata dari komunitas dalam mendampingi pertumbuhan iman anak-anaknya.

Dengan mengangkat tema “Keluargaku sebagai Sekolah Iman dan Kehidupan”, rekoleksi ini mengajak peserta untuk menyadari bahwa keluarga bukan hanya tempat tinggal, melainkan juga ruang pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai Kristiani. Dalam dinamika keluarga—dalam kasih, pengampunan, dan keteladanan—iman itu tumbuh dan menjadi nyata.

Acara dimulai sejak pukul 07.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 13.00 WIB. Para peserta mendapatkan siraman rohani dan wawasan hidup dari tiga narasumber inspiratif:

  • Romo Marwoto SCJ, yang mengajak orang tua merenungkan kembali peran mereka sebagai pendidik iman di rumah,
  • Dr. Victorius Didik S., yang menyampaikan pentingnya pendekatan yang manusiawi dan mendalam dalam mendampingi tumbuh kembang anak secara psikologis dan spiritual,
  • serta Suster Erna RMI, yang dengan pendekatan ceria dan penuh kasih memandu anak-anak mengenal Yesus dengan bahasa yang sederhana dan menyentuh hati.

Sesi demi sesi berlangsung dalam suasana penuh kehangatan, kekeluargaan, dan keheningan rohani yang menyegarkan. Anak-anak tidak hanya diajak untuk paham secara intelektual, tapi juga disentuh hatinya—belajar untuk mencintai Ekaristi dan memahami makna kehadiran Yesus dalam hidup mereka.

Sementara itu, orang tua diajak untuk kembali menyadari bahwa mereka adalah “guru iman” pertama dan utama bagi anak-anak. Rekoleksi ini menjadi momen reflektif dan sekaligus pemantik semangat untuk semakin hadir, menyemangati, dan menjadi teladan dalam hidup beriman sehari-hari.

Sebagai puncak dan penutup, seluruh rangkaian acara ditutup dengan Perayaan Ekaristi, yang menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan peneguhan iman seluruh peserta. Misa ini menjadi pengingat bahwa perjalanan iman bukanlah perjalanan sendiri, tetapi selalu bersama: bersama keluarga, bersama komunitas, dan terutama bersama Tuhan.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia, para narasumber, para pendamping, dan semua pihak yang telah melayani dengan hati. Semoga anak-anak kita siap menyambut Komuni Pertama bukan hanya sebagai momen seremoni, tetapi sebagai awal hidup baru bersama Kristus yang hadir nyata dalam Sakramen-Nya.

Sukacita Penuh Syukur di Hari Ulang Tahun Gereja Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Minggu, 1 Juni 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi umat di Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Dalam semangat persaudaraan dan penuh rasa syukur, umat berkumpul untuk merayakan acara puncak Hari Ulang Tahun Stasi, sebuah perayaan iman yang dirangkai dalam dua bagian utama: Misa Syukur dan Pesta Umat.

Rangkaian acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang khidmat. Dalam misa ini, umat diajak untuk kembali mengenang perjalanan iman Stasi yang penuh berkat.

Homili yang disampaikan mengajak seluruh umat untuk terus menumbuhkan semangat melayani dan membangun komunitas yang saling menopang.

Doa-doa dan lagu-lagu pujian mengalun merdu sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun-tahun pelayanan di Stasi tercinta ini.

Usai misa, halaman gereja menjadi pusat keramaian dalam Pesta Umat. Sajian soto dan bakso hangat menjadi menu andalan yang dinikmati bersama. Sederhana namun sarat makna, hidangan ini merekatkan rasa kebersamaan dan cinta kasih antar umat.

Acara berlanjut dengan hiburan yang berlangsung secara spontan. Ada umat yang maju menyanyi, dan tak sedikit pula yang mengajak tertawa bersama lewat candaan khas umat Maguwo. Tentu saja, doorprize turut memeriahkan suasana dan menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan.

Namun kejutan sesungguhnya datang dari mereka yang selama ini diam-diam bekerja di belakang layar — ibu-ibu panitia. mereka maju ke tengah halaman dan mempersembahkan sebuah flashmob penuh semangat!


Dengan gerakan ceria dan kekompakan yang tak kalah dari generasi muda, para ibu sukses memecah suasana dengan tawa, decak kagum, dan tepuk tangan meriah. Tarian mereka bukan hanya hiburan, tapi juga simbol sukacita dan semangat pelayanan yang luar biasa.

Hari ini bukan sekadar perayaan ulang tahun — tapi juga perayaan persaudaraan, pelayanan, dan semangat menjadi satu tubuh dalam Kristus. Sebuah hari yang meninggalkan kesan hangat dalam hati setiap umat yang hadir.

Selamat Ulang Tahun untuk Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo!
Umur hanyalah angka, tetapi cinta, iman, dan kebersamaan yang tumbuh di tengah umat adalah harta sejati.
Semoga Stasi ini terus menjadi rumah iman yang hidup, tempat bertumbuh, melayani, dan memberi terang bagi sesama.
Terima kasih untuk setiap senyum, peluh, dan doa yang telah membangun komunitas ini — mari terus melangkah bersama, dalam terang Tuhan.

 

foto bisa di akses di link https://drive.google.com/drive/folders/1fE6f_mPVCyrrtY8i8JzmcvadSQarGa_T

 

Peziarah Pengharapan: Jejak Iman Umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi di Tahun Yubelium 2025

Hari ini, 29 Mei 2025, langit tampak cerah seolah ikut bersukacita menyambut langkah-langkah kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 42 orang, anak-anak, orang muda, hingga para lansia, berkumpul dengan semangat yang sama, melangkah bersama dalam sebuah ziarah iman di Tahun Yubelium, tahun yang dikhususkan oleh Gereja Katolik sebagai momen pengampunan, pembaruan, dan rekonsiliasi.

Tahun Yubelium bukanlah sekadar tradisi. Ini adalah panggilan. Sebuah undangan untuk kembali, kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada ciptaan. Tahun ini, Paus Fransiskus mengangkat tema yang begitu menyentuh: “Peziarah Pengharapan.” Dan kami menjawabnya dengan sungguh-sungguh, lewat perjalanan rohani menuju tiga tempat suci: Taman Doa Maria Oblat, Kapel Salib Suci Gunung Sempu, dan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran.

Langkah Awal: Berangkat Dengan Semangat

Titik kumpul kami di rumah Pak Cahyo, yang sudah ramai selepas Misa Kenaikan Yesus. Senyum, tawa, dan doa-doa kecil mengiringi keberangkatan kami. Tepat pukul 09.30 WIB, setelah semua terbagi dalam 9 mobil, rombongan kami berangkat menuju Taman Doa Maria Oblat.. Tak ada yang membawa beban, yang ada hanya semangat untuk mendekat kepada Tuhan dan saling menguatkan sebagai satu keluarga iman. Perjalanan 20 menit terasa ringan, diiringi canda dan harapan yang memenuhi hati.

Perhentian Pertama: Taman Doa Maria Oblat

Setibanya di sana, kami langsung larut dalam keheningan. Di antara pepohonan yang menyejukkan dan suasana damai, kami menyebar, mencari sudut masing-masing untuk tenggelam dalam doa pribadi, menyerahkan pergumulan, menyampaikan syukur, dan membuka hati bagi kasih Allah. Hati ini terasa lega, seolah beban pelan-pelan dilepaskan.

Perhentian Kedua: Gereja Salib Suci Gunung Sempu

Pukul 10.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sempu, tempat berdirinya Gereja Salib Suci yang menawan. Meski ramai oleh para peziarah lain, ada ketenangan yang tak tergantikan, kami tetap dapat berdoa dengan khidmat. Kami mengadakan ibadat singkat yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon lingkungan, Bapak Yuli, kami mendaraskan doa Rosario bersama, lalu melanjutkan dengan doa pribadi. Hati kami dipenuhi damai dalam kebersamaan. Di momen ini, kami seperti diingatkan: harapan itu nyata, dan ia tumbuh dari iman yang dibagikan bersama.

Perhentian Ketiga: Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran

Ganjuran selalu punya tempat spesial di hati umat Katolik Yogyakarta, simbol iman Katolik yang begitu khas dengan gaya arsitektur Jawa yang sarat makna. Setibanya di sana, sekitar pukul 12.30, kami berdoa secara pribadi, lalu menikmati waktu bebas. Beberapa dari kami mengunjungi museum yang menggugah sejarah iman di Ganjuran, ibu-ibu berbelanja oleh-oleh dan berfoto ria, anak-anak berlarian bebas dengan tawa riang, sementara yang lain duduk menikmati semilir angin. Semuanya terasa seperti pelukan hangat dari Tuhan.

Berbagi Cerita di Meja Makan

Sekitar pukul 14.00, kami menuju Restaurant Parangtritis untuk makan siang bersama. Inilah momen yang tak kalah berharga. Setiap meja menjadi ruang berbagi cerita. Bapak-bapak asyik berdiskusi tentang tembakau, cerutu, dan tentu saja diselingi dengan topik politik. Di sisi lain, ibu-ibu ramai berbagi gosip hangat dan berbincang tentang tugas-tugas pelayanan yang menanti. Sungguh suasana yang hangat, akrab, dan penuh sukacita.

Pulang Dengan Hati Yang Penuh Syukur

Pukul 15.00, kami mengakhiri kegiatan dan kembali ke rumah masing-masing. Namun bukan hanya tubuh kami yang kembali, hati kami pun pulang dengan semangat baru, dengan sukacita yang sulit dijelaskan.

Hari ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah perjalanan hati. Sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, kita selalu punya ruang untuk kembali. Kembali kepada Tuhan. Kembali kepada komunitas. Kembali kepada harapan.

Kami percaya, kegiatan seperti ini bukan hanya menguatkan iman, tapi juga mempererat tali persaudaraan. Kami pulang lebih dekat satu sama lain, lebih semangat dalam tugas, dan lebih sadar akan indahnya berjalan bersama dalam iman.

“Berbahagialah mereka yang berjalan dalam iman, sebab di sanalah harapan tumbuh dan kasih berkembang.”

Doa Rosario dan Katekese Lingkungan Santo Petrus: Membangun Gereja yang Bahagia

Pada hari Rabu, 28 Mei 2025 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di kediaman Ketua Lingkungan, Mba Lely, untuk melaksanakan doa Rosario dan katekese rutin. Kegiatan ini dihadiri oleh 12 umat yang datang dengan semangat kebersamaan dan iman.

Doa Rosario dipimpin dengan khidmat oleh Ibu Mulyadi. Suasana doa berlangsung tenang dan penuh penghayatan, mengundang umat untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus dan Bunda Maria serta memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan.

Usai Rosario, kegiatan dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Retno. Tema katekese kali ini adalah “Gereja yang Bahagia: ARDAS 2026”. Dalam penyampaiannya, Ibu Retno menekankan pentingnya mewujudkan komunitas gerejawi yang penuh sukacita, saling mendukung, dan berlandaskan kasih Kristus. Katekese ini mengajak umat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kehidupan menggereja dan menjadikan Lingkungan sebagai tempat bertumbuh dalam iman dan kebersamaan.

Pertemuan malam itu menjadi momen yang mempererat tali persaudaraan antar umat dan menguatkan semangat pelayanan dalam terang ARDAS 2026. Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sarana berkat bagi umat dan mendorong terciptanya Gereja yang semakin hidup, bersukacita, dan misioner.

Ziarah Penuh Kasih: Menghormati Jejak Para Sesepuh dan Pendiri Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Kamis 29 Mei 2025, selepas Misa Kenaikan Yesus menjadi momen istimewa yang sarat makna bagi para pengurus Dewan Pastoral Stasi Maguwo. Diwakili oleh Ibu Amy, Ibu Tinung, Ibu Woro, Ibu Manis, Ibu Lely, Ibu Munarti, Bapak Bagio, Bapak Paul, Bapak Anton, Bapak Parno, Bapak Teteng, Bapak Nanto, Bapak Yulius, dan Bapak Naryo, mereka bersama-sama melaksanakan ziarah ke makam para sesepuh dan pendiri Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Ziarah ini adalah bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Lebih dari sekadar ritual, ziarah ini menjadi bentuk penghormatan yang tulus dan penuh kasih kepada para tokoh yang telah berjasa besar bagi gereja dan umatnya. Mereka adalah almarhum Bapak Lazarus Djayeng Adisubrata, almarhum Ibu Lusia Daliyah Djayeng Adisubrata, almarhum Bapak Paulus Yadiwiyono, dan almarhum Bapak YB Kandari. Masing-masing dari mereka adalah pilar penting yang menorehkan jejak iman dan pengabdian tanpa pamrih.

Dalam suasana yang penuh hening dan haru, para pengurus berdoa di pusara para pendahulu, mengenang segala kebaikan, pengorbanan, dan kasih yang telah mereka tanamkan. Setiap doa yang terucap menjadi untaian syukur dan penghormatan atas segala jasa mereka. Hembusan angin yang lembut seolah menjadi saksi betapa besarnya cinta kasih yang diwariskan oleh para sesepuh bagi kehidupan iman umat di Maguwo.

Ziarah ini menjadi pengingat mendalam akan nilai-nilai luhur yang mereka ajarkan: ketulusan hati, kesetiaan dalam pelayanan, dan kerendahan hati yang memancar dalam setiap langkah. Warisan semangat dan cinta kasih yang mereka tinggalkan menjadi lentera yang menuntun langkah para pengurus dan umat untuk terus berkarya demi kebaikan bersama.

Semoga melalui ziarah penuh kasih ini, seluruh umat semakin dikuatkan dalam iman, disatukan dalam semangat persaudaraan, dan diteguhkan untuk meneruskan karya pelayanan yang penuh pengharapan. Kehadiran para pendahulu dalam kenangan dan doa hari ini menjadi tanda bahwa cinta mereka tak pernah pudar, dan pengabdian mereka akan selalu hidup dalam hati kita semua.