30 Tahun Perjalanan Iman dan Kebersamaan: HUT Lingk. St. Gregorius

Kadisoka, 25 Mei 2025 — Dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan, umat Lingkungan St. Gregorius merayakan 30 tahun perjalanan iman mereka melalui sebuah Ibadat Syukur yang diadakan pada Minggu malam, 25 Mei 2025, pukul 19.00 WIB. Bertempat di lingkungan setempat, acara tersebut menjadi momen reflektif sekaligus penuh kegembiraan, dihadiri oleh lebih dari 55 umat dari berbagai usia.

Umat hadir dari berbagai usia

Acara dimulai dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit. Dalam ibadat tersebut, umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, serta memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.

Prodiakon Paulus Supit memimpin jalannya ibadat syukur dengan khidmat

Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan, Bapak Gregorius Henry Prasista Kurniawan, yang menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas lingkungan ini selama tiga dekade terakhir. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh umat yang telah setia mendukung dan membangun lingkungan sejak awal berdiri hingga kini.

Sebagai pembawa acara (MC), Mbak Anik memandu jalannya acara dengan penuh kehangatan dan keteraturan. Momen yang paling simbolis dan menyentuh hati adalah prosesi pemotongan tumpeng, sebuah tradisi yang sarat makna baik secara budaya maupun spiritual.

Filosofi Tumpeng: Simbol Syukur dan Harapan

Dalam penjelasannya, MC menyampaikan bahwa tumpeng, makanan khas berbentuk kerucut yang terbuat dari nasi kuning, bukan sekadar sajian pesta. Dalam budaya Jawa, tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (puncak kerucut), serta hubungan horizontal antara sesama manusia (lingkaran di sekeliling tumpeng). Nasi kuning sebagai simbol kemuliaan dan kebahagiaan juga mencerminkan harapan akan masa depan yang gemilang.

Tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan

Secara iman Katolik, makna tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan dan penyertaan Tuhan. Puncak tumpeng menggambarkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala berkat, sementara aneka lauk di sekitarnya mencerminkan keberagaman umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan.

Pemotongan tumpeng oleh Ketua Lingkungan St. Gregorius

Pemotongan dan pembagian tumpeng juga menjadi simbol pengutusan: bahwa berkat yang diterima bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada sesama.

Dalam prosesi tersebut, pemotongan dilakukan oleh Ketua Lingkungan, kemudian diberikan secara simbolis kepada dua perwakilan umat:

  1. Bapak Petrus Soekamso, sebagai wakil sesepuh, perintis dan generasi pendahulu, serta
  2. adik Avika, sebagai wakil generasi muda dan harapan masa depan lingkungan.

Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan umat senior

Potongan tumpeng kedua diberikan kepada perwakilan generasi penerus

Keduanya menerima potongan tumpeng dengan penuh haru dan sukacita, menyimbolkan keberlanjutan semangat dan warisan nilai-nilai iman lintas generasi.

Past, present and future

Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan

Usai prosesi, para umat melakukan sesi foto bersama yang diikuti dengan ramah tamah. Suasana terasa hangat dan akrab, diwarnai tawa anak-anak, canda para remaja, serta obrolan ringan para sesepuh.

Antusiasme umat Lingkungan St. Gregorius

Pada kesempatan tersebut, Bapak Petrus Soekamso menyampaikan kisah berdirinya Lingkungan St. Gregorius, mengajak umat mengenang kembali momen awal terbentuknya lingkungan sebagai hasil pemekaran dari Lingkungan St. Fransiskus Xaverius Purwomartani. Beliau menuturkan bagaimana dinamika umat, pertumbuhan jumlah keluarga Katolik, dan semangat pelayanan mendorong terbentuknya lingkungan baru yang diberi nama St. Gregorius.

Seiring waktu, lingkungan ini sendiri mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhirnya melahirkan dua lingkungan baru melalui proses pemekaran, yaitu:

  1. Lingkungan St. Bartholomeus, dan
  2. Lingkungan St. Stefanus

Fakta ini menunjukkan bahwa Lingkungan St. Gregorius bukan hanya tumbuh, tetapi juga turut berkontribusi dalam perkembangan pastoral wilayah setempat. Bapak Petrus juga mengajak umat untuk tetap menjaga semangat pelayanan lintas generasi, agar lingkungan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari tubuh Gereja.

Bpk Petrus Soekamso menceritakan awal berdirinya lingkungan St. Gregorius

Penutup yang Penuh Sukacita.

Acara malam itu ditutup dengan suasana hangat dan penuh sukacita. Seluruh umat pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Lingkungan St. Gregorius. Dalam usia 30 tahun, lingkungan ini tidak hanya menunjukkan kedewasaan dalam iman, tetapi juga keteguhan dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan penuh kasih.

Semua bersyukur, semua gembira

Proficiat untuk Lingkungan St. Gregorius!
Semoga tetap menjadi garam dan terang bagi sesama, serta terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.

Cek Kesehatan Gratis di Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo, 25 Mei 2025

Dalam rangka ulang tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo, diadakan kegiatan bakti sosial yang super bermanfaat: cek kesehatan gratis! Acara ini diadakan pada hari Minggu, 25 Mei 2025, dan terbuka untuk semua warga sekitar yang mau ngecek kesehatan.

Kegiatan ini seru banget karena didukung penuh sama Rumah Sakit Panti Rini yang hadir dengan tim dokter dan paramedisnya, Kimia Farma yang bawa alat andalan Quantum, dan Puskesmas Depok yang lengkap dengan dokter dan obat-obatannya. Tim kesehatan dari Stasi Santa Maria Bunda Allah juga turun langsung bantuin acara ini, jadi makin kompak.

Warga sekitar yang ikut juga rame banget, mulai dari RT 5 Sambilegi Kidul, RT 6 Kembang, RT 01-05 Karangploso, sampai para pengurus DPH. Suasana hangat dan penuh kebersamaan benar-benar terasa sepanjang acara.

Keren banget, acara ini juga ditinjau langsung sama petinggi dari Rumah Sakit Panti Rini, Puskesmas Depok, dan Kimia Farma. Mereka semua ngasih support penuh supaya acara ini makin sukses.

Dan yang bikin tambah semangat, dari target 150 orang peserta, kegiatan ini berhasil ngumpulin 148 orang. Berarti udah 98,67% target tercapai, keren banget kan?

Semoga kegiatan ini bermanfaat buat semua warga dan makin mempererat kebersamaan di sekitar gereja. Sampai jumpa di acara seru berikutnya.

Doa Rosario dan Katekese Lingkungan St. Petrus: “Menjadi Apostolik”

Pada hari Kamis, 22 Mei 2025, umat Lingkungan St. Petrus berkumpul dalam semangat kekeluargaan untuk berdoa bersama dalam doa Rosario dan mendalami iman melalui katekese. Kegiatan ini dilangsungkan di rumah Ibu Tris, yang terletak di Nanggulan, dan dimulai pukul 19.00 WIB.

Meskipun malam itu diguyur hujan, antusiasme umat tidak surut. Sebanyak 14 umat hadir, menunjukkan semangat kebersamaan dan iman yang teguh. Doa Rosario dipimpin oleh Ibu Merry, yang membimbing umat dengan penuh kesungguhan dan kelembutan hati dalam setiap peristiwa yang direnungkan.

Setelah Rosario, acara dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Maya. Topik katekese malam itu adalah “Menjadi Apostolik”, sebuah tema yang mengajak umat untuk merenungkan dan memahami salah satu ciri Gereja yang kudus: sifat apostolik. Ibu Maya menjelaskan bahwa menjadi apostolik berarti melanjutkan misi para rasul, yaitu mewartakan Injil dan menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Umat diajak untuk menyadari peran mereka sebagai pewarta kabar baik di tengah masyarakat, dengan tindakan nyata dalam kasih dan pelayanan.

Suasana hangat dan penuh semangat terasa sepanjang acara. Diskusi berlangsung aktif, dan umat saling berbagi pandangan serta pengalaman hidup beriman yang memperkaya satu sama lain.

Kegiatan ini tidak hanya mempererat tali persaudaraan antarumat di lingkungan, tetapi juga memperdalam penghayatan iman Katolik. Semangat apostolik yang dikobarkan malam itu diharapkan terus menyala dalam kehidupan sehari-hari seluruh umat St. Petrus.

Doa Rosario Lingkungan Santo Petrus dan Katekese Mei: Menjadi Katolik

Pada hari Kamis, 15 Mei 2025, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di rumah Bapak Bayu untuk melaksanakan Doa Rosario dan Katekese Mei yang bertemakan Menjadi Katolik. Meskipun hujan mengguyur dengan cukup deras, semangat umat untuk hadir dan berdoa bersama tetap tinggi. Tepat pukul 19.00, acara dimulai dengan penuh kekhusyukan.

Doa Rosario dipimpin oleh Ibu Wiwid yang dengan penuh penghayatan memandu setiap peristiwa Rosario. Para umat yang hadir mengikuti doa dengan khidmat, menyatukan hati dalam untaian doa kepada Bunda Maria. Hujan yang turun seakan menjadi latar alamiah yang menambah kehangatan dalam kebersamaan.

Setelah Doa Rosario, acara dilanjutkan dengan Katekese yang dibawakan oleh Bapak Heri. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Heri menjelaskan makna menjadi seorang Katolik yang sejati, termasuk pentingnya hidup dalam iman, harapan, dan kasih. Para umat yang hadir tampak antusias mendengarkan dan berdiskusi, menambah wawasan tentang penghayatan iman Katolik.

Acara ini dihadiri oleh 12 orang umat yang dengan penuh semangat dan sukacita mengikuti seluruh rangkaian doa dan katekese. Walaupun cuaca kurang bersahabat, kekhusyukan doa dan kebersamaan yang terjalin tidak berkurang sedikit pun.

Pertemuan ditutup dengan doa bersama, memohon berkat dan perlindungan Tuhan bagi seluruh umat Lingkungan Santo Petrus. Semoga semangat berdoa dan memperdalam iman semakin tumbuh dalam setiap hati umat.

Paskahan Wilayah Sang Timur : Bersama Kembali ke Jalan Allah

Senin, 12 Mei 2025 – Suasana hangat, meriah, dan penuh sukacita terpancar dari area dalam dan halaman Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo saat umat Wilayah Sang Timur berkumpul untuk merayakan Paskahan bersama. Acara yang digagas oleh Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah Sang Timur ini berlangsung dari pukul 17.00 hingga 20.30 WIB, dengan mengangkat tema “Berkelana: Bersama Kembali ke Jalan Allah”.

Ramainya Umat yang hadir mengikuti Paskahan Wilayah Sang Timur

Acara Paskahan tahun ini tak sekadar menjadi momentum sukacita atas kebangkitan Kristus, tetapi juga menjadi momen penyatuan umat dari empat lingkungan di bawah naungan Wilayah Sang Timur: Lingkungan St. Bartholomeus, Lingkungan St. Gregorius, Lingkungan St. Stefanus, dan Lingkungan St. Antonius. Semua bersatu dalam semangat kebersamaan, memperkuat iman, dan saling berbagi kasih dalam perayaan penuh makna ini.

Keceriaan Hadiah dan Sukacita Anak-anak

Keceriaan Seluruh Umat Wilayah Sang Timur

Keceriaan tak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang hadir. Panitia telah menyiapkan parcel Paskah khusus bagi anak-anak, berisi aneka makanan ringan, minuman ringan, yang dibungkus dengan menarik dan kids friendly. Sementara itu, acara doorprize menjadi momen yang dinanti-nanti oleh seluruh umat. Hadiah yang beragam – mulai dari peralatan rumah tangga hingga bingkisan menarik – yang dibagikan di depan panggung yang telah disiapkan di area dalam Gereja.

Sambutan Hangat dari Para Pemimpin Wilayah

Suasana syukur dan persaudaraan semakin terasa saat para tokoh wilayah memberikan sambutan. Mikael Purwanto, perwakilan dari Stasi, membuka acara dengan ucapan terima kasih dan ajakan untuk terus menjaga semangat kebersamaan dalam hidup menggereja. “Paskah bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah perjalanan spiritual untuk kembali menapaki jalan Allah,” ujarnya penuh semangat.

Apresiasi dari panitia untuk Stasi GMBA Maguwo

Dilanjutkan dengan sambutan dari Mbak Dysi, Ketua OMK Wilayah Sang Timur, yang dengan antusias menyampaikan apresiasi kepada seluruh OMK yang telah bekerja keras mempersiapkan acara. “Ini bukti nyata bahwa OMK tidak hanya aktif, tapi juga kompak, solid, dan kreatif. Semangat ini harus terus dijaga,” ucapnya disambut tepuk tangan meriah.

Sambutan ketua OMK Wilayah Sang Timur

Tak ketinggalan, Bu Lia selaku Ketua Wilayah Sang Timur juga menyampaikan kebanggaannya atas keterlibatan aktif seluruh lingkungan. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya semangat ‘berkelana bersama’ sebagai panggilan untuk terus bertumbuh dalam iman dan pelayanan. “Dengan cinta dan kebersamaan, kita kembali ke jalan-Nya,” tuturnya.

Renungan yang Menyentuh Hati “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup”

Puncak spiritualitas acara diisi oleh renungan Paskah yang dibawakan oleh dua prodiakon, Pak Paul dan Pak Tri Mulyono. Renungan malam itu mengangkat bacaan Injil dari Yohanes 14:1–6, di mana Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”

Dengan refleksi yang mendalam, keduanya mengajak umat untuk memahami bahwa dalam hidup yang penuh tantangan dan pencarian, Yesus adalah satu-satunya jalan menuju pengharapan dan keselamatan. “Kadang kita merasa bingung, lelah, atau tersesat. Tapi Yesus sudah menunjukkan bahwa Dia adalah jalan yang pasti, jalan yang benar, dan hidup yang sejati,” ujar Pak Prodiakon, menguatkan umat yang hadir.

Renungan oleh prodiakon

Pak Paul menambahkan, “Berkelana dalam hidup iman memang tidak selalu mudah, tapi selama kita berjalan bersama Tuhan, kita tidak pernah benar-benar sendirian.” Suasana hening, penuh permenungan, menyelimuti ruangan saat umat merenungkan sabda tersebut dalam hati mereka masing-masing.

Sesi Ice Breaking & Quiz TTS : Gelak Tawa yang Mencairkan Suasana

Keseruan ice breaking yang membuat suasana lebih “hidup”

Usai renungan yang mendalam, suasana kembali cair dan penuh gelak tawa melalui sesi ice breaking yang dipandu oleh Pak Arif. Dengan caranya yang humoris dan energik, Pak Arif mengajak umat untuk bergerak bersama dalam permainan interaktif dan penuh tawa. Anak-anak, remaja, hingga para orang tua larut dalam permainan seru yang memecah keheningan, membangun kembali semangat dan energi menjelang acara puncak.

Umat dengan semangat mengikuti ice breaking

Permainan sederhana namun kreatif seperti “siapa cepat dia dapat”, dan “TTS (Teka Teki Silang)” membuat seluruh hadirin terlibat dan saling mengenal satu sama lain dengan cara yang menyenangkan. Tidak hanya menghibur, sesi ini juga mempererat kebersamaan lintas usia.

Pentas Seni: Ungkapan Iman Melalui Kreativitas

Acara puncak malam itu adalah pentas seni antar lingkungan, sebuah pertunjukan yang menunjukkan betapa iman bisa diekspresikan secara kreatif dan menyenangkan. Empat lingkungan tampil dengan ciri khas dan kekayaan budaya masing-masing, menciptakan suasana yang semarak sekaligus menyentuh.

  • Lingkungan Stefanus membuka panggung dengan tembang Mocopat, membawakan lantunan puisi Jawa yang sarat makna spiritual. Suasana menjadi syahdu, mengingatkan umat akan kearifan lokal yang berpadu dengan nilai iman Katolik.
  • Lingkungan Gregorius menyuguhkan tari tradisional yang dinamis, diikuti dengan sesi menyanyi dan joget bareng yang membuat seluruh hadirin ikut bergoyang. Keceriaan menjalar ke seluruh ruangan, menghapus sekat antar generasi.
  • Lingkungan Antonius memukau penonton dengan tari balet yang anggun, dilanjutkan dengan gerak dan lagu yang menggemaskan. Penampilan ini berhasil membangkitkan rasa bangga akan keberagaman bakat anak-anak lingkungan.
  • Lingkungan Bartholomeus menutup pentas dengan drama musikal bertema kebangkitan dan tari tradisional penuh semangat. Penampilan ini tidak hanya menghibur, tapi juga menyampaikan pesan rohani yang mendalam.

Setiap penampilan mendapat apresiasi luar biasa dari umat yang hadir. Tidak sedikit yang mengabadikan momen-momen tersebut melalui kamera ponsel mereka, menciptakan kenangan indah yang akan terus diingat.

Penutupan yang Mengharukan: “Kemesraan Ini Janganlah Cepat Berlalu”

Menjelang akhir acara, seluruh umat diajak menyanyikan lagu “Kemesraan” bersama-sama. Yang istimewa, seluruh lampu gereja dimatikan, dan hanya cahaya dari lampu-lampu handphone yang menerangi ruangan. Suasana menjadi begitu haru dan syahdu. Dalam balutan cahaya temaram, umat bergandengan tangan, menyanyikan lirik demi lirik dengan penuh perasaan. Momen ini menjadi penutup yang sempurna — mengikat kembali rasa cinta dan persaudaraan di antara umat Wilayah Sang Timur.

Suasana syahdu malam itu

Suksesnya Paskahan sebagai Buah Kebersamaan

Paskahan Wilayah Sang Timur tahun 2025 ini bukan hanya sekadar acara tahunan. Ia telah menjadi panggung kebersamaan, ruang pertumbuhan iman, dan bukti nyata bahwa ketika umat bersatu, segala hal menjadi mungkin. Keberhasilan acara ini tak lepas dari kerja keras OMK Wilayah Sang Timur, yang tidak hanya menunjukkan kapasitas organisasi mereka, tetapi juga kedewasaan iman yang terus bertumbuh.

Tim Konsumsi dengan sabar mempersiapkan konsumsi untuk semua hadirin

Dengan tema Berkelana: Bersama Kembali ke Jalan Allah, umat diajak tidak hanya merayakan Paskah secara lahiriah, tetapi juga menghayatinya sebagai perjalanan rohani bersama. Dalam canda, tawa, haru, dan doa, mereka kembali menemukan Tuhan dalam kebersamaan, dalam seni, dan dalam setiap wajah sesama.

OMK Wilayah Sang Timur

Semoga semangat Paskah ini terus menyala dalam kehidupan umat Wilayah Sang Timur — menuntun langkah mereka untuk terus berkelana bersama Tuhan, hari demi hari.

Bincang Sehat Gereja St. Maria Bunda Allah

Minggu, 11 Mei 2025

Di era serba cepat ini, saat semua serba online dan sibuk mengejar target harian, ada satu hal penting yang sering terlupakan: ingatan itu sendiri. Mulai dari lupa naruh kunci, lupa bawa dompet, sampai lupa kenapa tadi berdiri depan kulkas—banyak dari kita yang menganggap itu hal biasa. Tapi… benarkah semua itu cuma “pelupa wajar”?

Hari ini, Tim Pelayanan Kesehatan Gereja St. Maria Bunda Allah di bawah naungan Bidang Kemasyarakatan, mengajak kita untuk tidak lagi menyepelekan gejala tersebut lewat acara Bincang Sehat dengan tema:
“Pentingnya Deteksi Dini Dimensia atau Pikun.”

Karena dimensia bukan sekadar bagian dari proses menua. Ia adalah kondisi serius yang memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, berkomunikasi, bahkan melakukan aktivitas sehari-hari. Dan justru karena itu, deteksi dini sangat penting—agar kita bisa menyiapkan perawatan, pendampingan, dan dukungan yang terbaik sejak awal.


Acara ini dipandu oleh sosok berpengalaman dan komunikatif, dr. Tri Djoko Endro Susilo, SpPK, yang akan menjadi moderator dalam menggali informasi dari narasumber utama kita : dr. Lothar Matheus M. V., Sp.N., seorang dokter spesialis Neurologi dari RS. Siloam yang membagikan pengetahuan, pengalaman, sekaligus tips-tips penting dalam mengenali dan menghadapi dimensia dengan bijak dan penuh empati.

Yang membuat acara ini semakin istimewa adalah kehadiran teman-teman mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang tengah menyusun tugas akhir tentang keberagaman hidup beragama. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa ruang dialog antariman dan pendidikan bisa berjalan harmonis dan saling memperkaya.

Para peserta pun hadir dengan wajah cerah, hati yang senang, dan rasa penasaran yang tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan:
“Ini aku cuma pelupa atau perlu periksa?”
“Apa tanda-tanda awal dimensia?”
“Bagaimana cara merawat orang terdekat yang mulai mengalami penurunan daya ingat?”

Pertanyaan itu muncul bukan karena takut, tapi karena peduli. Karena sehat bukan hanya tentang bebas dari penyakit, tetapi juga tentang menjaga kejernihan pikiran, kualitas hidup, dan martabat di usia lanjut.

Dan hari ini, kita belajar bersama:
Bahwa mengingat itu bukan sekadar fungsi otak—tapi juga bagian dari jati diri, hubungan sosial, dan makna kehidupan itu sendiri.

Semoga setiap informasi hari ini menjadi berkat bagi kita semua, untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Tuhan memberkati.


materi bisa di download pada link dibawah ini.

Indahnya Persaudaraan Dalam Keberagaman

PERAYAAN EKARISTI – MINGGU PRAPAASKAH IV – MINGGU PANGGILAN
11 Mei 2025

Kebersamaan dalam perbedaan menjadi nyata dalam Perayaan Ekaristi Minggu Prapaskah IV – Minggu Panggilan yang diselenggarakan di Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo pada 11 Mei 2025. Perayaan ini dipimpin oleh Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr., dan dimeriahkan oleh koor para suster dari tiga tarekat religius: Dominikan – Ordo Praedicatorum (OP), Servarum Spiritus Sancti (SSpS), dan Religius Maria Imakulata (RMI), yang bersama-sama mengangkat puji-pujian dalam keindahan liturgi yang khusyuk dan menggugah.

Dalam homilinya, Rm. Antonius berbagi kisah panggilan hidupnya. Ia menceritakan bagaimana benih keinginannya menjadi imam sempat memudar di masa remaja karena banyaknya kegiatan bersama teman-temannya. Namun, Tuhan memiliki cara-Nya sendiri. Sebuah peristiwa kecelakaan membuatnya harus banyak beristirahat di rumah, dan justru di situlah ia menemukan kembali suara panggilan Tuhan yang lama terpendam. Dalam keheningan dan permenungan, ia diteguhkan hingga akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Kisah ini menjadi pengingat bahwa panggilan Tuhan bisa tumbuh bahkan dari peristiwa yang tak terduga.

Perayaan ini semakin istimewa dengan hadirnya tujuh mahasiswa dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mereka mengikuti misa dalam rangka Observasi Kegiatan Moderasi Beragama. Di akhir misa, mereka diperkenalkan kepada umat oleh Rm. Antonius dan disambut dengan tepuk tangan meriah sebagai tanda penerimaan yang hangat.

Usai perayaan, suasana persaudaraan begitu terasa. Para mahasiswa berfoto bersama Romo dan para suster, serta menyapa umat satu per satu dalam suasana akrab dan damai. Momen ini menjadi cerminan nyata dari indahnya persaudaraan dalam keberagaman, di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi tembok, melainkan jembatan kasih dan pengertian.

Terima kasih kepada Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr. yang telah membuka pintu Gereja dan hati bagi para mahasiswa UIN, serta kepada Dewan Pastoral Stasi Maguwo yang turut memfasilitasi. Kehadiran para mahasiswa ini menjadi simbol harapan: bahwa masa depan Indonesia bisa dibangun di atas pondasi keharmonisan, keterbukaan, dan saling menghargai antar umat beragama.

Aksi Sosial Lingkungan St. Yusup Sambilegi Kidul

Paskahan Bersama di Makam Modinan

Minggu, 20 April 2025

Dalam semangat pelayanan dan kasih, Lingkungan St. Yusup Sambilegi Kidul mengadakan kegiatan aksi sosial dalam bentuk Paskahan Bersama Para Tukang Gali Kubur di Makam Modinan. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Lingkungan, Bapak Antonius Sugeng Riyadi, dan diisi dengan pemberian bantuan berupa uang tunai dan paket sembako kepada para tukang gali kubur yang mayoritas berprofesi sebagai buruh harian lepas.

 

Doa Rosario dan Katekese Mei: Yubileum Komunitas Pengharapan di Lingkungan Santo Petrus

Pada hari Kamis, 8 Mei 2025, di rumah Bapak Agus Marjuni, berlangsung kegiatan doa Rosario dan katekese dalam rangka Yubileum Komunitas Pengharapan di lingkungan Santo Petrus. Acara ini dipimpin oleh Ibu Enni dan dihadiri oleh 13 orang yang merupakan bagian dari komunitas dan warga lingkungan setempat.

Kegiatan diawali dengan doa Rosario bersama yang dipimpin oleh Ibu Enni. Doa Rosario merupakan rangkaian doa yang terdiri dari doa-doa pokok, yaitu Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan. Selama doa Rosario, umat diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus Kristus dan Bunda Maria, sekaligus mempersembahkan doa syukur dan permohonan bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.

Setelah doa Rosario, acara dilanjutkan dengan katekese yang berfokus pada tema Yubileum Komunitas Pengharapan. Yubileum merupakan momen khusus untuk memperbarui iman dan mempererat tali persaudaraan dalam komunitas. Dalam suasana penuh kekeluargaan, peserta berbagi cerita tentang pengalaman iman dan pengharapan yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.

Acara berlangsung dengan penuh hikmat dan kekeluargaan. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan intensi doa pribadi, sehingga suasana menjadi semakin hangat dan penuh dengan rasa kebersamaan. Beberapa peserta juga menyampaikan kesan dan harapan mereka terhadap komunitas, agar semakin berkembang dan semakin dekat dengan Tuhan.

Pada akhir acara, Bapak Agus Marjuni selaku tuan rumah mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh peserta dan mengharapkan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai bentuk komitmen iman dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan dalam doa dan persekutuan mampu memperkuat iman dan semangat persaudaraan di antara umat. Yubileum Komunitas Pengharapan di Lingkungan Santo Petrus diharapkan menjadi titik awal bagi kebangkitan iman yang lebih kokoh dan solidaritas yang lebih kuat di tengah masyarakat.

Semoga semangat pengharapan dan kasih terus tumbuh di dalam komunitas ini dan menjadi teladan bagi lingkungan lainnya.

Habemus Papam! Bapa Paus Leo XIV

Dari Chicago ke Tahta Suci: Jejak Panjang Pelayan Tuhan

Setelah beberapa kali cerobong Kapel Sistina menghembuskan asap hitam—tanda bahwa para kardinal belum mencapai kesepakatan— Dengan kawalan “penjaga udara” burung camar yang selalu setia berada di depan cerobong, akhirnya pada 8 Mei 2025, langit Roma disambut asap putih yang mengepul dari Kapel Sistina.
Habemus Papam! Dunia Katolik bersukacita: seorang Paus baru telah terpilih.

Cerobong Kapel Sistina mengeluarkan asap putih

Sorak haru dan tepuk tangan membahana memenuhi Lapangan Santo Petrus, yang telah dipadati umat dari berbagai penjuru dunia. Suasana penuh kegembiraan dan kelegaan mengalir tak hanya di Vatikan, tetapi juga menjalar luas melalui media sosial—Habemus Papam pun segera menjadi trending topic global.

Dari antara para kardinal, terpilihlah Kardinal Robert Francis Prevost asal Amerika Serikat. Ia menerima panggilan luhur ini dan memilih nama Paus Leo XIV, menandai awal babak baru dalam sejarah Gereja Katolik.

Berikut adalah profil singkat beliau.

Nama Lengkap dan Asal Usul
Paus Leo XIV lahir dengan nama Robert Francis Prevost di Chicago, Amerika Serikat, pada 14 September 1955. Selain berkewarganegaraan Amerika, beliau juga menjadi warga negara Peru—negara yang begitu membentuk iman dan panggilannya sebagai gembala umat.

Kardinal Robert Francis Prevost dari Amerika Serikat terpilih menjadi Paus dan memilih nama Paus Leo XIV

Seorang Paus dari Ordo Agustinian
Beliau merupakan anggota Ordo Santo Agustinus (O.S.A.), sebuah komunitas religius yang mengutamakan hidup bersama, pencarian akan kebenaran, dan pelayanan kasih. Semangat Agustinian senantiasa membentuk cara berpikir dan memimpinnya.

Latar Belakang Akademik yang Kuat
Paus Leo XIV meraih gelar sarjana matematika dari Villanova University, melanjutkan studi teologi di Chicago, dan kemudian memperoleh lisensiat serta doktorat dalam hukum kanonik dari Universitas Angelicum di Roma.

Misionaris yang Mencintai Akar Rumput
Sejak 1985 hingga 1998, beliau melayani sebagai misionaris di Peru—menjadi kanselir keuskupan hingga pemimpin seminari. Dalam masa itulah, hatinya benar-benar tertambat pada kehidupan umat sederhana dan pelayanan pastoral yang nyata.

Pemimpin Tertinggi Ordo Agustinus
Dari tahun 2001 hingga 2013, ia terpilih sebagai Prior Jenderal Ordo Agustinus, memimpin ordo ini secara global selama dua belas tahun—sebuah tanda kepercayaan dan pengakuan atas kepemimpinan rohaninya.

Uskup dan Pelayan Gereja Universal
Pada tahun 2015, beliau diangkat sebagai Uskup Chiclayo, Peru. Kemudian pada 2023, Paus Fransiskus mempercayakan kepadanya jabatan Prefek Dikasteri untuk Para Uskup, sebuah peran strategis dalam penunjukan para uskup di seluruh dunia.

Kardinal Robert Francis Prevost (sekarang menjadi Paus Leo XIV) bersama Paus Fransiskus

Kardinal dan Penerus Warisan Gereja
Masih di bawah kepemimpinan Paus Fransiskus, pada tahun 2023 beliau masuk dalam Kolegium Kardinal—sebuah langkah penting yang memperkuat posisinya sebagai tokoh Gereja universal.

Terpilih sebagai Paus pada 8 Mei 2025
Setelah wafatnya Paus Fransiskus, Konklaf yang berlangsung dua hari menetapkan Robert F. Prevost sebagai Paus ke-267, dan beliau memilih nama Leo XIV sebagai nama kepausannya.

Makna Nama “Leo XIV”
Nama “Leo” melambangkan keberanian, kebijaksanaan, dan semangat reformasi—mewarisi warisan para pendahulu besar seperti Leo I (Santo Leo Agung) dan Leo XIII, tetapi dengan visi yang menyentuh zaman kini.

Paus Berwajah Global, Berhati Misioner
Dengan latar belakang Amerika, pengalaman pastoral di Amerika Latin, dan pelayanan di pusat Kuria Roma, Paus Leo XIV adalah gembala dengan pandangan global dan hati yang dekat dengan umat kecil. Ia hadir sebagai jembatan antar budaya dan zaman.

Semangat Baru untuk Dunia
Dari lorong-lorong seminari di Peru hingga balkon Basilika Santo Petrus, Paus Leo XIV datang membawa angin segar Gereja yang bersahabat, berpengharapan, dan berpijak pada realitas dunia. Dunia menantikan langkah-langkah besarnya.

Viva il Papa!

SAMBUTAN PERDANA PAUS LEO XIV

Saudara-saudari terkasih, Semoga damai menyertai kalian semua! Ini adalah salam yang diucapkan pertama oleh Kristus yang Bangkit, sang Gembala baik yang memberikan nyawanya untuk kawananNya. Saya pun ingin agar salam damai ini masuk ke dalam hati kalian, menjangkau keluarga kalian, dan semua orang dimanapun mereka berada, di seluruh penjuru bumi. Damai menyertai kalian semua!
Inilah damai dari Kristus yang bangkit. Damai tanpa senjata bahkan melucuti sencata, damai yang rendah hati dan gigih bertahan, berasal dari Allah, Allah yang mencintai kita semua tanpa syarat.
Masih kita kenang, suara lemah namun selalu berani dari Paus Fransiskus yang telah memberi berkat pada kota Roma. Paus Fransiskus yang memberi berkat juga pada dunia pada pagi hari paskah yang lalu. Kini izinkan saya juga untuk meneruskan berkat yang sama… Allah mencintaimu, Allah mencintai kamu semua… kejahatan tidak akan menang, kita semua berada di tangan Allah..
Oleh karena itu tanpa rasa takut, mari kita bersatu, bergandengan tangan satu sama lain, berjalan bersama Allah, bergerak maju. Kita adalah murid-murid Kristus, Kristus akan menyertai kita. Dunia sedang membutuhkan cahayanya, kemanusiaan membutuhkanNya, mari kita bangun jembatan agar cinta kasih Allah dapat meraih mereka yang membutuhkan. Mari kita saling bahu-membahu membangun jembatan melalui dialog, melalui perjumpaan yang menyatukan kita semua menjadi satu umat, selalu dalam damai.
Terimakasih pada Paus Fransiskus, dan juga kepada para saudara kardinal yang telah memilih saya menjadi pengganti Santo Petrus dan berjalan bersama dengan kalian semua, sebagai gereja yang satu selalu mencari perdamaian, keadilan, tetap setia pada Yesus Kristus, tanpa takut mewartakan kabar sukacita sebagai misionaris.
Saya adalah putra Santo Agustinus (anggota Ordo Santo Agustinus). Ia yang pernah mengatakan. “Bersama kalian, aku seorang kristen dan untuk kalian aku dalah seorang uskup”. Demikian kita semua dapat berjalan bersama menuju tanah air yang telah disiapkan Allah bagi kita.
Salam khusus saya sampaikan juga pada Gereja Roma. Mari kita berjalan bersama menjadi gereja misionaris, gereja yang membangun jembatan, membangun dialog, gereja yang selalu terbuka untuk menerima seperti bentuk dari alun2 santo Petrus ini, dengan tangan terbuka bagi semua yang membutuhkan cinta kasih kita, kehadiran kita dan dialog kasih.
(Dalam Bahasa Spanyol) Izinkanlah saya menyapa mereka yang pernah saya layani di Keuskupan Chiclayo, Peru. Dimana umat beriman mendampingi dengan setia uskup mereka menjadikan gereja yang setia pada Yesus Kristus.
Dan kepada kalian semua saudara-saudari terkasih, yang ada di Roma, di seluruh Italia dan seluruh dunia, kita jadikan gereja kita gereja yang sinodal, Gereja yang berjalan bersama, Gereja yang selalu mencari perdamaian, mencari selalu kasih, selalu berusaha untuk dekat dengan mereka yang menderita.
Hari ini adalah peringatan Bunda maria dari Pompey. Bunda kita Maria akan selalu berjalan bersama, dekat dengan kita. Membantu kita dengan perantaraannya dan dengan cintanya. Maka saya hendak berdoa bersama kalian semua, kita berdoa untuk tugas baru ini, dan tentu saja untuk seluruh gereja, dan untuk perdamaian dunia. Dan kita mohonkan ini rahmat khusus ini dengan perantaraan Bunda Maria, Bunda kita…
Salam Maria….