Pentingnya Pedoman dalam Gerakan Pelayanan Sosial: Pertemuan APP 4 Lingkungan St. Gabriel

Pertemuan APP ke-4 Lingkungan St. Gabriel dilaksanakan pada hari Kamis, 12 Maret 2026, bertempat di rumah keluarga Ibu Sumarni. Pertemuan ini dipimpin oleh Ibu Intan, Ibu Lita, dan Ibu Mariana Kilok. Kegiatan dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh 25 orang umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.

Tema Pertemuan APP 4 adalah “Pentingnya Pedoman dalam Sebuah Gerakan.” Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk memahami bahwa kegiatan pelayanan sosial bagi kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel) membutuhkan pedoman yang jelas. Pedoman tersebut berisi semangat dasar, prinsip kerja, nilai-nilai, serta petunjuk teknis yang menjadi dasar dalam menjalankan kegiatan pelayanan sosial. Pedoman tersebut memiliki peran penting sebagai petunjuk arah dalam pelaksanaan kegiatan, alat kontrol, alat ukur keberhasilan, serta sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam penggunaan dana sosial Gereja, yaitu dana APP. Dana APP yang dikumpulkan melalui kotak APP sangat bermanfaat bagi umat yang termasuk dalam kelompok KLMTD. Bahkan, dana tersebut tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh umat Katolik saja, tetapi juga dapat membantu umat beriman lainnya agar mereka dapat merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Dalam pemanfaatannya, dana APP tidak boleh digunakan secara sembarangan atau menurut kehendak pribadi. Oleh karena itu, diperlukan pedoman bersama agar pemanfaatan dana APP dalam pelayanan sosial kepada KLMTD dapat dilakukan secara tepat, yaitu tepat sasaran, tepat kebutuhan, dan tepat waktu. Pedoman tersebut juga membantu agar penggunaan dana APP dapat dilakukan secara terkontrol, terkoordinasi, serta dapat dipertanggungjawabkan dengan baik, sekaligus untuk menghindari terjadinya praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

Melalui bacaan Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 6:1–7, umat disadarkan bahwa pelayanan sosial bagi kaum miskin sebenarnya telah ada sejak masa Gereja Perdana dan menjadi salah satu ciri khas kehidupan umat Kristiani. Umat Gereja Perdana telah terbiasa melaksanakan gerakan berbagi berkat. Gereja pada masa sekarang dipanggil untuk melanjutkan praktik baik tersebut dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi saat ini. Kegiatan pelayanan sosial Gereja, khususnya dalam pemanfaatan dana APP bagi umat KLMTD, hendaknya dilaksanakan oleh kelompok atau tim yang dapat dipercaya dan memiliki hati untuk melayani, bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Selain itu, mereka juga perlu memiliki hikmat, yaitu kebijaksanaan dan kecerdasan dalam memanfaatkan dana APP sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan, sehingga dana tersebut benar-benar bermanfaat secara tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat kebutuhan. Dalam sesi sharing, beberapa umat menyampaikan berbagai usulan aksi APP yang dapat dilakukan oleh lingkungan. Usulan-usulan tersebut telah ditampung dan akan dibahas lebih lanjut dalam Pertemuan APP ke-5.

Setelah rangkaian pertemuan APP selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian beberapa pengumuman dan ramah tamah yang telah disediakan oleh tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan

instagram https://www.instagram.com/reel/DWaNyNZEzLW/?igsh=Z2o2bnI4dGM2d21n

Pelayanan Koor Lingkungan St. Gregorius Kadisoka dalam Perayaan Ekaristi Minggu, 15 Maret 2026

Pada hari Minggu, 15 Maret 2026, umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka memperoleh kesempatan untuk ambil bagian dalam pelayanan koor pada Perayaan Ekaristi hari ini. Tugas pelayanan ini merupakan salah satu bentuk partisipasi aktif umat dalam kehidupan menggereja, khususnya dalam mendukung kelancaran serta kekhidmatan perayaan liturgi melalui pujian dan nyanyian.

Sejak beberapa waktu sebelumnya, para anggota koor telah mempersiapkan diri melalui latihan bersama agar setiap lagu yang dibawakan dapat dinyanyikan dengan baik dan selaras. Persiapan tersebut tidak hanya berfokus pada kekompakan suara, tetapi juga pada penghayatan makna dari setiap lagu liturgi yang akan dinyanyikan selama misa berlangsung. Dengan demikian, nyanyian yang dipersembahkan tidak hanya menjadi pengiring liturgi, tetapi juga menjadi doa yang diungkapkan melalui musik dan suara.

alam perayaan Ekaristi, peran koor sangat penting untuk membantu umat masuk dalam suasana doa yang lebih mendalam. Melalui lagu-lagu pembuka, mazmur tanggapan, lagu persembahan, komuni, hingga lagu penutup, umat diajak untuk semakin menghayati sabda Tuhan dan makna perayaan yang sedang dirayakan. Nyanyian yang dibawakan oleh koor juga diharapkan dapat mengajak seluruh umat yang hadir untuk turut serta memuji dan memuliakan Tuhan dengan penuh sukacita.

Pelayanan koor dari Lingkungan St. Gregorius Kadisoka pada hari ini juga menjadi wujud nyata kebersamaan dan semangat melayani dalam kehidupan umat di lingkungan. Setiap anggota koor dengan tulus mempersembahkan talenta yang dimiliki sebagai bentuk syukur atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan mereka. Kebersamaan yang terjalin dalam latihan maupun dalam pelayanan ini sekaligus mempererat persaudaraan antarumat di lingkungan.

Selain menjadi sarana pelayanan, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa setiap umat memiliki peran dalam membangun kehidupan Gereja. Melalui talenta yang dimiliki, baik dalam bentuk nyanyian, musik, maupun bentuk pelayanan lainnya, umat diajak untuk terus ambil bagian secara aktif dalam kehidupan menggereja.

Semoga melalui pelayanan koor pada Perayaan Ekaristi hari ini, umat yang hadir dapat semakin merasakan suasana doa yang khusyuk, memperdalam iman, serta semakin dikuatkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh harapan dan kasih. Semoga pula semangat pelayanan ini terus tumbuh di tengah umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka.

Terima kasih kepada seluruh anggota koor yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk mempersiapkan pelayanan ini, serta kepada seluruh umat yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi hari ini. Kiranya Tuhan senantiasa memberkati setiap pelayanan dan karya yang dilakukan demi kemuliaan nama-Nya. 🙏

Media social Lingkungan St. Gregorius Kadisoka :

Instagram : https://www.instagram.com/reel/DV5DIuXD0Kr/?igsh=bzJ4b2Q2MndmYjk3

Youtube : https://youtu.be/–sDR8hTEww

Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSuac25q6/

Kunjungan Kasih Tim PIUL Stasi GMBA ke Rumah Mbah Sum Umat Lingk. St. Gregorius Kadisoka

Kunjungan Kasih Tim PIUL Stasi GMBA ke Rumah Mbah Sum

Pada hari Sabtu, 14 Maret 2026, Tim PIUL Stasi GMBA melaksanakan kunjungan pastoral kepada salah satu umat lansia di Lingkungan St. Gregorius Kadisoka, yaitu Mbah Sum. Kunjungan ini merupakan wujud perhatian dan kepedulian Gereja kepada para lanjut usia agar mereka tetap merasakan kasih, kebersamaan, serta pendampingan dalam kehidupan beriman.

Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, tim PIUL hadir untuk menyapa, berbincang, serta mendoakan Mbah Sum. Melalui percakapan sederhana dan kebersamaan tersebut, terjalin kedekatan yang menghadirkan sukacita dan semangat bagi umat yang dikunjungi.

Pada kesempatan ini, tim juga melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana untuk Mbah Sum sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi kesehatan para lansia. Pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu memantau kesehatan serta memberikan perhatian nyata kepada umat lanjut usia di lingkungan.

Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa para lansia tetap merupakan bagian penting dalam kehidupan Gereja. Kehadiran dan perhatian dari sesama umat diharapkan dapat memberikan penghiburan serta meneguhkan iman, sehingga mereka tetap merasakan bahwa Gereja selalu hadir dalam perjalanan hidup mereka.

Semoga melalui kunjungan kasih ini, semangat pelayanan dan kepedulian terhadap sesama, khususnya para lansia, semakin tumbuh di tengah umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka. Tuhan senantiasa memberkati setiap karya pelayanan yang dilakukan demi kemuliaan-Nya.

Instagram : https://www.instagram.com/reel/DV2ugZHjxaO/?igsh=MXBsbDQzdjY2Z2ttaQ==

Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSu5d1pYm/

Youtube : https://youtube.com/shorts/HjWb4QU6zgg

Kegiatan Pertemuan APP ke 3 Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Kegiatan Pertemuan APP ke-3 Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Lingkungan St. Gregorius Kadisoka kembali mengadakan kegiatan Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) ke-3 pada hari Kamis, 12 Maret 2026. Pertemuan kali ini dilaksanakan di rumah Mas Himawan dan dihadiri oleh umat lingkungan yang dengan penuh semangat berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan APP selama masa Prapaskah.

Kegiatan diawali dengan doa pembuka yang mengajak seluruh umat untuk mempersiapkan hati dan pikiran dalam menjalani masa pertobatan, refleksi, serta memperdalam iman. Selanjutnya, umat bersama-sama mengikuti pendalaman iman melalui bahan APP yang telah disiapkan. Dalam suasana yang penuh kebersamaan, peserta diajak untuk merefleksikan tema yang diangkat serta membagikan pengalaman iman dalam kehidupan sehari-hari.

Pertemuan berlangsung dengan suasana hangat, penuh kebersamaan, dan saling mendukung satu sama lain dalam perjalanan iman selama masa Prapaskah. Melalui pertemuan ini, umat diharapkan semakin dikuatkan untuk hidup dalam semangat pertobatan, kepedulian, serta tindakan nyata kepada sesama.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa penutup dan ramah tamah sederhana yang semakin mempererat tali persaudaraan antarumat di Lingkungan St. Gregorius Kadisoka.

Semoga melalui rangkaian kegiatan APP ini, umat semakin bertumbuh dalam iman dan mampu mewujudkan nilai-nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Instagram : https://www.instagram.com/reel/DVydCFyD_mt/?igsh=eDY3NTA0YnB4ajJn

Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSuPoXbFe/

Youtube : https://youtube.com/shorts/tpFn5Xbun6o

Misa Arwah 7 Hari Ibu Caecilia Supartijah

Umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan misa arwah 7 hari untuk mendoakan almarhumah Ibu Caecilia Supartijah pada hari Jumat, 13 Maret 2026 pukul 19.00 WIB. Misa dilaksanakan dalam suasana khidmat dan penuh doa, dipimpin oleh Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap, serta dihadiri oleh sekitar 27 orang umat.

Ibu Caecilia Supartijah merupakan salah satu umat Lingkungan Santo Petrus yang telah dipanggil Tuhan pada hari Minggu, 8 Maret 2026. Kehadiran umat dalam misa ini menjadi bentuk kebersamaan dan dukungan doa bagi keluarga yang ditinggalkan, sekaligus ungkapan kasih kepada almarhumah.

Dalam perayaan Ekaristi ini, umat diajak untuk mendoakan agar almarhumah memperoleh kedamaian abadi di hadapan Tuhan. Suasana doa bersama ini juga menjadi pengingat bagi umat akan harapan iman akan kehidupan kekal serta pentingnya saling menguatkan dalam komunitas.

Melalui misa arwah 7 hari ini, umat Lingkungan Santo Petrus menunjukkan semangat persaudaraan dan kepedulian dengan bersama-sama memanjatkan doa bagi almarhumah Ibu Caecilia Supartijah, agar Tuhan menerima beliau dalam kebahagiaan abadi di surga.

Doa APP IV dan V Lingkungan Santo Petrus: Pentingnya Pedoman dan Langkah Awal Menolong Sesama

Umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan pertemuan doa APP IV dan V pada hari Kamis, 12 Maret 2026 pukul 19.00 WIB di rumah Bapak Hananto. Pertemuan ini dihadiri oleh 12 orang umat yang dengan penuh semangat mengikuti rangkaian kegiatan doa dan refleksi bersama.

Pada awal pertemuan, umat diajak melakukan sebuah aktivitas sederhana namun bermakna. Setiap orang diminta untuk membuat satu goresan gambar yang harus menyambung dengan goresan sebelumnya tanpa adanya instruksi tertentu.

Setelah semua umat memberikan goresannya, terbentuklah sebuah gambar yang oleh sebagian orang diinterpretasikan sebagai seseorang yang sedang membungkuk sambil mengambil mangga. Namun, bentuk gambar tersebut terlihat sangat tidak jelas dan memiliki penafsiran yang berbeda-beda.

Selanjutnya, umat diminta kembali membuat satu goresan gambar, tetapi kali ini dengan mengikuti instruksi yang diberikan, yaitu menggambar pemandangan dua buah gunung. Hasilnya jauh lebih jelas dan terarah. Gambar yang terbentuk memperlihatkan dua gunung dengan sebuah gereja di puncak gunung.

Kegiatan sederhana ini menjadi sarana refleksi yang selaras dengan tema pertemuan APP. Tema pertemuan IV menekankan pentingnya pedoman atau “instruksi” dalam sebuah gerakan agar arah dan tujuan menjadi lebih jelas. Sementara itu, tema pertemuan V mengajak umat untuk berani mengambil langkah pertama dalam menolong sesama.

Pedoman sangat penting dalam kehidupan karena menjadi arah dan dasar dalam bertindak. Dengan adanya pedoman, seseorang dapat mengetahui tujuan yang jelas serta langkah yang tepat untuk mencapainya. Tanpa pedoman, tindakan yang dilakukan sering kali menjadi tidak terarah dan dapat menimbulkan kebingungan atau perbedaan penafsiran.

Pedoman juga membantu seseorang mengambil keputusan yang benar dan bertanggung jawab. Dalam kehidupan bersama, pedoman membuat setiap orang dapat bergerak dengan tujuan yang sama sehingga tercipta keteraturan dan kerja sama yang baik.

Dalam kehidupan beriman, pedoman dapat berupa ajaran Tuhan, nilai-nilai moral, maupun nasihat yang membantu umat menjalani hidup dengan benar. Dengan mengikuti pedoman tersebut, seseorang dapat bertindak lebih bijaksana dan mampu melakukan kebaikan, termasuk dalam menolong sesama.

Pada akhir pertemuan, umat saling berbagi pengalaman (sharing) mengenai bagaimana mereka dapat menerapkan kedua tema tersebut dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam mengikuti tuntunan yang baik dan berani memulai tindakan nyata untuk membantu sesama.

Pertemuan doa ditutup dengan doa bersama dalam suasana kebersamaan dan semangat untuk semakin peduli terhadap sesama di masa Prapaskah ini.

APP 2 Lingkungan St. Theresia : Potensi Dana Sosial Gereja, Fungsi Dan Sifatnya.

Pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP) ke-2 Lingkungan St. Theresia kembali dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026, bertempat di rumah Ibu Nanik selaku Ketua Lingkungan. Kegiatan ini dihadiri oleh umat lingkungan yang berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk mengikuti doa dan pendalaman iman selama masa APP.

Dalam pertemuan ini, umat merenungkan tema “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya.”Kegiatan diawali dengan doa pembuka dan dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 4:32–37, yang menggambarkan kehidupan jemaat perdana yang hidup dalam persatuan hati dan saling berbagi dengan sesama. Bacaan Kitab Suci ini mengajak umat untuk meneladani semangat solidaritas, di mana segala yang dimiliki dipergunakan untuk kepentingan bersama dan membantu mereka yang membutuhkan.

Selanjutnya, umat mendapatkan pemaparan mengenai berbagai bentuk dana sosial dalam Gereja menurut tingkatannya. Pada tingkat nasional, dana sosial dikelola oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sebagai bentuk kepedulian Gereja secara luas terhadap kebutuhan sosial masyarakat. Kemudian pada tingkat keuskupan, dana sosial digunakan untuk mendukung berbagai karya pastoral dan pelayanan sosial di wilayah keuskupan. Pada tingkat kevikepan, dana sosial berfungsi membantu koordinasi serta pelayanan antar paroki dalam satu wilayah kevikepan. Sementara itu, pada tingkat paroki, dana sosial dimanfaatkan secara langsung untuk membantu umat yang membutuhkan serta mendukung kegiatan sosial di lingkungan paroki.

Pertemuan ini dihadiri oleh umat Lingkungan St. Theresia yang dengan antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Setelah pemaparan materi, umat juga diajak untuk sharing dan refleksi bersama, sehingga setiap peserta dapat memahami lebih dalam pentingnya dana sosial sebagai wujud nyata kepedulian dan kasih kepada sesama.

Kegiatan APP ke-2 ini berlangsung dengan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, dimulai dari doa pembuka, pembacaan Kitab Suci, pendalaman materi, sharing bersama, hingga ditutup dengan doa penutup.

Melalui pertemuan ini, umat diharapkan semakin menyadari bahwa dana sosial gereja merupakan sarana untuk mewujudkan semangat solidaritas, kebersamaan, dan pelayanan kasih, sehingga Gereja dapat terus hadir membantu sesama, terutama mereka yang membutuhkan.

Kepedulian terhadap Sesama: Menjenguk Orang Sakit sebagai Aksi Sosial di Lingkungan

Pada tanggal 4 Maret 2026, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan kunjungan ke rumah Bapak Donal Sinaga. Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan dukungan, semangat, dan mendoakan kesembuhan untuk Bapak Donal Sinaga yang sempat opname di Rumah Sakit beberapa hari yang lalu. Kegiatan ini seringkali dilakukan di Lingkungan St. Elisabeth tiap ada umat di lingkungan yang menderita sakit. Aksi ini sebagai wujud kepedulian antarumat di lingkungan.

Kepedulian terhadap sesama merupakan nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap ini mencerminkan rasa empati, solidaritas, dan keinginan untuk saling membantu di tengah kehidupan yang sering kali dipenuhi kesibukan. Salah satu bentuk kepedulian yang sederhana namun sangat bermakna adalah menjenguk orang sakit di lingkungan sekitar serta mendoakan kesembuhannya.

Menjenguk orang yang sedang sakit bukan sekadar kunjungan biasa. Kehadiran kita dapat menjadi sumber semangat bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit. Ketika seseorang sakit, sering kali ia merasakan kelemahan, kesedihan, bahkan kesepian. Dengan datang menjenguk, kita menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dan masih ada orang yang peduli terhadap kondisi mereka.

Selain memberikan dukungan moral, aksi ini juga mempererat hubungan sosial antarumat. Interaksi yang terjadi saat menjenguk dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan. Hal ini penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis, di mana setiap individu merasa diperhatikan dan dihargai.

Doa juga memiliki peran penting dalam aksi sosial ini. Mendoakan kesembuhan orang yang sakit merupakan bentuk dukungan spiritual yang memberikan harapan dan ketenangan bagi mereka. Doa yang tulus dapat memberikan kekuatan batin, baik bagi orang yang sakit, keluarga, maupun bagi orang yang mendoakannya.

Aksi sosial seperti ini tidak memerlukan biaya besar atau persiapan yang rumit. Hal yang terpenting adalah niat tulus untuk peduli dan berbagi perhatian. Bahkan kunjungan singkat dengan kata-kata penyemangat dapat memberikan dampak yang sangat berarti bagi orang yang sedang sakit.

Dengan membiasakan diri menjenguk orang sakit dan mendoakan kesembuhannya, kita turut menumbuhkan budaya kepedulian dalam masyarakat. Jika setiap orang memiliki rasa empati dan saling memperhatikan, maka lingkungan akan menjadi tempat yang lebih hangat, penuh kasih, dan saling mendukung.

Pada akhirnya, kepedulian terhadap sesama adalah fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang sehat. Melalui tindakan sederhana seperti menjenguk orang sakit, kita belajar untuk lebih peka terhadap kondisi orang lain serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Instagram : Tak selalu harus dengan banyak kata,
kadang kehadiran sederhana sudah cukup menyembuhkan.

Dalam kunjungan ini, kami belajar bahwa kasih itu nyata,
hadir, mendengar, menggenggam, dan mendoakan.

Lingkungan Santa Elizabeth Stasi Maguwo,
berjalan bersama dalam kasih, menguatkan dalam harapan.

Instagram: https://www.instagram.com/reel/DW5rrl4j5-8/?igsh=MWxiejF3a2g1bW44ZA==

Sebuah Renungan : Menjadi Saluran Berkat dalam Mewujudkan Kesejahteraan Bersama

Oleh: Jatuh Padmi

Bayangkan taman yang besar di mana hanya satu sudut kecil yang diberi air cukup sampai tergenang. Sementara itu, area lain tampak kering sehingga tanaman di tempat itu menjadi layu dan mati. Kecantikan taman ini akan lenyap akibat ketidakseimbangan tersebut. Citra ini menyerupai kehidupan sosial kita. Gereja tidak dapat berkembang menjadi taman yang indah jika hanya merawat dirinya sendiri di dalam dinding sakristi. Di luar sana, komunitas sedang berjuang melawan kemiskinan dan putus asa. Tema APP 2026, “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera,” menjadi panggilan untuk menjadi “tukang kebun” Allah yang berani menyalurkan air kehidupan ke lahan yang kering.

Perjuangan untuk membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bukanlah hanya soal program sosial sementara. Ini adalah bukti nyata iman kita. Bagi orang Kristiani, kebahagiaan sejati terjadi saat setiap orang dihargai dan hak-haknya terpenuhi. Gereja harus hadir bukan sebagai tempat yang jauh dari kenyataan, tapi sebagai teman perjalanan bagi mereka yang terpinggirkan. Kita harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan keadilan sosial. Kita diajak untuk peduli bahwa kesejahteraan sesama juga merupakan tanggung jawab iman kita. Kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini ditandai dengan tercukupinya kebutuhan mereka yang paling membutuhkan.

Masa Prapaskah tahun ini adalah kesempatan untuk memeriksa gaya hidup kita. Apakah cara kita hidup selama ini justru merugikan orang lain? Atau apakah kesederhanaan kita memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh?

Melalui puasa dan pantang, kita melatih diri untuk lebih peduli pada ketimpangan di sekitar kita. Uang yang kita kumpulkan bukan hanya uang receh, tapi simbol pengorbanan dan komitmen kita untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan bermartabat. Secara teologis, kesejahteraan yang kita perjuangkan adalah kesejahteraan yang utuh, yang menyentuh aspek jasmani sekaligus rohani. Ketika Gereja terlibat aktif dalam memberdayakan ekonomi umat, menjaga kelestarian lingkungan, dan menyuarakan kejujuran di ruang publik, saat itulah Gereja sedang menghadirkan wajah Allah yang memelihara. Kebahagiaan masyarakat akan terwujud apabila ada rasa aman, rasa cukup, dan rasa dihargai sebagai sesama citra Allah. Oleh karena itu, perjuangan ini menuntut ketekunan dan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik, tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Oleh karena itu, marilah kita menyadari bahwa aksi puasa adalah motor penggerak perubahan sosial yang nyata. Mari kita melangkah keluar dengan keberanian untuk menjadi agen kesejahteraan, mengubah keluhan menjadi harapan, dan mengubah kemiskinan menjadi kecukupan. Hari ini, biarlah dunia melihat bahwa Gereja tidak hanya berkhotbah tentang kasih, tetapi sungguh-sungguh berjuang hingga kebahagiaan itu menjadi milik semua orang.

Nb : Foto ini diambil pada Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth, tgl 12 Februari 2026, di Ruman Bpk. Hary Mulyono, dengan petugas Ibu Jatuh Padmi. Sembahyangan ini dihadiri 28 orang.

Misa Requiem dan Upacara Pemakaman Ibu Caecilia Supartiyah

Umat Lingkungan Santo Petrus bersama keluarga mengadakan Misa Requiem untuk mendoakan almarhumah Ibu Caecilia Supartiyah yang telah dipanggil Tuhan pada Minggu, 8 Maret 2026. Misa Requiem dilaksanakan pada hari Senin, 9 Maret 2026 pukul 09.00 pagi.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Jona Joakim Pinem, OFMCap. Dalam suasana doa yang khidmat, umat bersama keluarga memanjatkan doa agar almarhumah Ibu Caecilia Supartiyah mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan abadi di sisi Tuhan. Misa ini juga menjadi penguatan iman bagi keluarga yang ditinggalkan agar tetap berharap pada kasih Tuhan.

Setelah misa selesai, dilanjutkan dengan upacara pelepasan jenazah yang dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan umat lingkungan. Selanjutnya jenazah dimakamkan di Sasana Loyo sebagai tempat peristirahatan terakhir almarhumah.

Pada malam harinya, keluarga dan umat kembali berkumpul untuk melaksanakan doa hari ketiga. Doa ini dipimpin oleh ibu prodiakon, Ibu Tiwi. Dalam doa tersebut, umat kembali mendoakan arwah almarhumah serta memohon agar keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan, penghiburan, dan damai dari Tuhan.