“Melodi Iman: Latihan Koor dan Tugas Koor Gereja Dari Lingkungan Santo Petrus”

Pada bulan Januari 2025, latihan koor Lingkungan Santo Petrus menjadi momen penting dalam persiapan untuk tugas gereja di Stasi Maguwo, Gereja Santa Maria Bunda Allah. Latihan dimulai pada tanggal 13 Januari di rumah Ibu Lely, seorang ibu kaling yang dengan penuh semangat mendukung kegiatan koor di lingkungannya.


Pada tanggal 13 Januari, anggota koor lingkungan Santo Petrus berkumpul di rumah Ibu Lely untuk latihan perdana. Ibu Lely sebagai tuan rumah menyambut dengan penuh kehangatan para anggota koor yang datang dengan semangat untuk mempersiapkan diri. Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, latihan dilaksanakan dengan penuh perhatian pada pemahaman lagu-lagu rohani yang akan dibawakan dalam tugas gereja.

Pada tanggal 16 Januari, latihan koor kembali dilanjutkan di rumah Ibu Lely. Pada sesi ini, anggota koor lebih fokus pada teknik vokal dan harmonisasi, serta bagaimana melantunkan lagu-lagu dengan penuh penghayatan. Para anggota koor diingatkan untuk menjaga kekompakan dan ketepatan dalam menyanyi agar dapat menyampaikan pesan-pesan rohani dengan maksimal.

Latihan Koor Bersama Organis di Gereja (18 Januari)
Setelah dua kali latihan di rumah Ibu Lely, pada tanggal 18 Januari, latihan koor dilanjutkan di gereja dengan melibatkan seorang organis. Ini merupakan latihan bersama yang lebih fokus pada penggabungan suara dengan alat musik organ yang menjadi bagian tak terpisahkan dari liturgi gereja. Dengan bantuan organis, latihan ini memberikan kesempatan kepada anggota koor untuk lebih memahami timing dan sinkronisasi dengan musik. Para anggota koor pun semakin siap untuk tampil dalam tugas gereja yang akan dilaksanakan pada tanggal 19 Januari.

Tugas Koor di Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Mauwo (19 Januari)
Akhirnya, pada tanggal 19 Januari, seluruh persiapan latihan koor mencapai puncaknya. Koor Lingkungan Santo Petrus tampil dengan baik di Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo. Penampilan ini menjadi bentuk persembahan rohani yang indah dalam mendukung perayaan liturgi gereja.

Dengan latihan yang konsisten di rumah Ibu Lely dan gereja, serta kerjasama yang erat antara anggota koor dan organis, tugas gereja ini berjalan dengan sukses. Kegiatan ini juga menjadi bentuk kebersamaan dan rasa solidaritas antar anggota lingkungan Santo Petrus, yang terus menjaga semangat pelayanan di gereja dan lingkungan sekitar.

“40 Hari Penuh Doa: Mengenang Ibu CH. Sri Murhariyani yang Telah Dipanggil Bapa di Surga”

Pada hari Rabu, 29 Januari 2025, pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus Nanggulan mengadakan doa memule 40 hari untuk arwah Ibu Ch. Sri Murhariyani, yang diadakan di rumah Bapak Yahya Sudarto, yang beralamat di Nanggulan RT. 04/RW. 16, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Doa ini dihadiri oleh sekitar 35 orang, yang terdiri dari umat Lingkungan Santo Petrus, tamu undangan dari lingkungan lain, serta saudara dan kerabat dekat almarhumah.

Suasana Doa yang Penuh Haru dan Penghayatan
Doa memule ini merupakan bentuk pengabdian dan doa bersama umat untuk mengenang dan mendoakan arwah Ibu Ch. Sri Murhariyani. Meskipun acara diadakan di rumah keluarga yang sederhana, namun suasana haru dan penuh penghayatan sangat terasa. Umat yang hadir, baik dari lingkungan Santo Petrus maupun dari lingkungan lain, serta saudara dan kerabat, berkumpul dengan tujuan yang sama, yaitu untuk mendoakan arwah Ibu Ch. Sri Murhariyani agar diterima di sisi Tuhan dan mendapatkan kedamaian abadi.

Doa dimulai dengan pembukaan yang penuh khidmat, diikuti dengan pembacaan doa-doa khusus untuk arwah, yang dipimpin oleh seorang prodiakon. Doa bersama ini bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi lebih sebagai ungkapan kasih sayang dan perhatian terhadap almarhumah, serta doa untuk memperkuat iman dan mempererat tali persaudaraan di antara umat yang hadir.

Kehadiran Saudara dan Kerabat
Kehadiran saudara dan kerabat Ibu Ch. Sri Murhariyani dalam acara ini menambah makna mendalam. Mereka yang datang tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan. Hal ini menunjukkan rasa kebersamaan dan kepedulian yang kuat dalam keluarga besar Lingkungan Santo Petrus dan juga dari lingkungan-lingkungan lain yang turut serta berpartisipasi dalam acara ini.

Harapan dan Doa untuk Arwah Ibu Ch. Sri Murhariyani
Acara doa memule ini diakhiri dengan doa penutup, yang menyampaikan harapan agar arwah Ibu Ch. Sri Murhariyani diterima di sisi Tuhan yang Maha Kuasa, diberi tempat yang layak, dan diberikan kedamaian abadi. Para umat dan keluarga yang hadir pun berdoa agar Tuhan memberikan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan untuk terus menjalani hidup dengan penuh harapan dan keteguhan iman.

Semoga melalui doa memule ini, keluarga yang ditinggalkan dapat merasakan kedamaian dan ketenangan hati, serta semakin dekat dengan Tuhan. Doa yang dipanjatkan juga menjadi sarana untuk mempererat rasa solidaritas antar umat, serta memperkuat tali kasih dan persaudaraan dalam komunitas Lingkungan Santo Petrus Nanggulan.

Mengawali Tahun 2025 dengan Doa Bersama di Lingkungan Santo Petrus

Pada hari Kamis, 23 Januari 2025, lingkungan Santo Petrus Nanggulan mengadakan doa rutin yang dilaksanakan di rumah Bapak Mulyadi. Acara ini dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh sekitar 16 orang umat yang dengan semangat berkumpul untuk berdoa bersama. Doa rutin lingkungan ini menjadi sarana untuk memperkuat ikatan rohani antar umat dan menciptakan suasana kedamaian dalam komunitas.

Suasana Doa yang Khusyuk dan Penuh Kehadiran Tuhan
Rumah Bapak Mulyadi yang menjadi tempat berlangsungnya doa malam itu terasa hangat dan penuh kedamaian. Meskipun jumlah peserta tidak terlalu banyak, namun kehadiran setiap umat yang hadir sangat terasa. Mereka berkumpul dalam suasana yang penuh kekeluargaan, saling mendukung dalam doa, serta merenungkan pesan-pesan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Doa yang dipimpin oleh Ibu Retno, dimulai dengan pembukaan yang penuh syukur atas segala berkat yang telah diterima oleh setiap umat. Dalam suasana hening, peserta doa merasakan kedekatan dengan Tuhan, baik melalui doa spontan maupun doa-doa yang sudah disusun sebelumnya. Doa-doa yang dipanjatkan mencakup permohonan untuk kesehatan, kedamaian, serta kekuatan dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan.

Makna Kebersamaan dalam Doa
Meskipun doa rutin ini dihadiri oleh sekitar 16 orang umat, kebersamaan yang tercipta sangatlah kuat. Umat saling mendoakan, menguatkan, dan berbagi harapan agar hidup mereka senantiasa diberkati dan dijaga oleh Tuhan. Doa ini juga menjadi kesempatan bagi umat untuk lebih mendalami firman Tuhan, mengingatkan satu sama lain akan pentingnya kasih dalam komunitas, serta memperdalam rasa saling peduli antar sesama.

Penutupan dan Harapan untuk Lingkungan
Acara doa rutin ini ditutup dengan doa penutup yang penuh harapan di awal tahun 2025, agar setiap umat yang hadir senantiasa diberkati dalam segala aspek kehidupan mereka. Meskipun jumlah umat yang hadir tidak begitu banyak, tetapi doa yang dipanjatkan terasa sangat kuat dan penuh makna. Lingkungan Santo Petrus Nanggulan berharap kegiatan doa rutin ini akan terus berjalan, mempererat persaudaraan umat, dan menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi setiap tantangan hidup.

Dengan diadakannya doa rutin ini, diharapkan umat semakin sadar akan pentingnya kehidupan rohani yang terjaga dengan baik melalui doa bersama. Semoga kebersamaan ini menjadi sarana untuk memperkuat iman dan mempererat hubungan antar umat dalam Lingkungan Santo Petrus Nanggulan.

Ibadat Lingkungan Rutin Santa Monica: Momen Khusyuk dan Khidmat di Rumah Ibu Merry dan Mas Vinsen

Ibadat Lingkungan Rutin Santa Monica: Momen Khusyuk dan Khidmat di Rumah Ibu Merry dan Mas Vinsen

Pada hari Kamis, 22 Januari 2025, umat Lingkungan Santa Monica kembali merasakan kedamaian dalam ibadat lingkungan rutin yang diselenggarakan dengan penuh rasa syukur dan kebersamaan. Acara ini dilaksanakan di rumah Ibu Merry dan Mas Vinsen, yang terletak di pinggir Ringroad Utara. Momen istimewa ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk berkumpul, tetapi juga untuk semakin mendalami makna rohani dan persaudaraan dalam gereja.

Ibadat yang dipimpin oleh prodiakon baru, Ibu Wiwiek, berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan suasana yang khusyuk. Keberadaan Ibu Wiwiek sebagai prodiakon baru menambah nuansa yang berbeda dalam ibadat malam itu. Sebagai seorang pemimpin, beliau mampu membawa umat dalam suasana doa yang mendalam, dengan setiap kata yang diucapkan kepada setiap jemaat yang hadir.

Acara ini juga dihadiri oleh banyak umat, yang tampak antusias untuk bersama-sama merayakan kebersamaan dalam iman. Dengan penuh rasa syukur, mereka berkumpul, saling berbagi, dan merenungkan Firman Tuhan, menambah kehangatan dalam ikatan persaudaraan yang semakin erat. Kehadiran umat yang begitu banyak menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan iman yang kuat terus tumbuh dalam komunitas lingkungan Santa Monica.

Rangkaian Acara yang Penuh Berkat

Acara ibadat dimulai dengan nyanyian pujian, menciptakan atmosfer yang penuh damai. Diikuti dengan pembacaan Kitab Suci yang menyentuh hati, yang mengingatkan umat akan kasih Tuhan yang tiada batasnya. Ibu Wiwiek kemudian memimpin refleksi dan doa yang mengajak umat untuk merenungkan makna hidup dalam komunitas dan pentingnya saling mendukung di dalam iman.

Kesederhanaan dalam pelaksanaan ibadat justru semakin memperkaya makna acara ini, di mana setiap detik terasa penuh dengan kedamaian yang berasal dari hati yang tulus berdoa. Umat yang hadir tidak hanya berfokus pada ibadat, tetapi juga menikmati kebersamaan dalam suasana penuh kasih sayang antar sesama.

Menguatkan Persaudaraan dan Iman

Kegiatan ibadat ini bukan sekadar rutinitas, melainkan menjadi sarana untuk menguatkan hubungan antar sesama umat dan juga dengan Tuhan. Ini adalah wujud nyata dari kebersamaan yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta kasih. Setiap doa dan pujian menjadi sarana bagi setiap umat untuk merasakan kedekatan dengan Tuhan, memperbaharui iman, dan memperdalam rasa persaudaraan dalam komunitas gereja.

Melalui kegiatan seperti ini, lingkungan Santa Monica semakin memperlihatkan betapa pentingnya ibadat lingkungan sebagai sarana untuk membangun semangat kebersamaan dalam iman. Tidak hanya untuk saling menguatkan, tetapi juga untuk mewujudkan kasih Tuhan yang sejati dalam setiap langkah kehidupan.

Dengan dihadirinya umat yang semakin banyak dan antusias, kegiatan ini menegaskan bahwa ibadat lingkungan rutin memiliki tempat khusus di hati umat Santa Monica. Setiap pertemuan adalah kesempatan untuk memperbaharui iman dan memperdalam makna hidup dalam kasih Tuhan.

PWK Lingkungan St Yohanes Pembaptis

PWK Lingkungan St Yohanes Pembaptis yang diadakan pada tanggal 23 Januari 2025 merupakan kegiatan rutin lingkungan yang diadakan setiap hari Kamis pada minggu ke-4 tiap bulannya yang bertujuan untuk membahas berbagai aspek penting terkait program kerja rutin dan tahunan lingkungan. Acara ini dihadiri oleh seluruh pengurus dan anggota lingkungan yang antusias untuk berpartisipasi dalam diskusi yang konstruktif untuk kemajuan lingkungan dan kehidupan rohani bersama.

Agenda utama dalam pertemuan ini meliputi pembahasan program kerja yang dilaksanakan secara rutin maupun tahunan. Program-program ini dirancang untuk mendukung kegiatan gereja dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Selain itu, acara ini juga membahas berbagai kegiatan yang sedang berjalan, serta evaluasi atas pencapaian dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaannya.

Tidak hanya itu, acara tersebut juga fokus pada rencana kegiatan di masa depan, di mana anggota komunitas merumuskan berbagai inisiatif yang akan dilakukan untuk lebih meningkatkan kebersamaan, pelayanan sosial, dan pengembangan iman. Rencana-rencana ini termasuk berbagai kegiatan sosial, pendidikan, serta upaya untuk mempererat tali persaudaraan di antara anggota Lingkungan St Yohanes Pembaptis.

Selain program dan kegiatan, diskusi juga mencakup permasalahan lingkungan yang perlu dihadapi dan diselesaikan bersama. Beberapa isu yang mungkin dibahas antara lain adalah tantangan dalam pelaksanaan program-program tertentu, kebutuhan untuk meningkatkan partisipasi anggota, serta bagaimana kelompok ini dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat sekitar, baik dalam hal sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Pada kesempatan ini, pengurus lingkungan juga diminta untuk menyampaikan laporan kegiatan pada tiap-tiap bidang di lingkungan.

Secara keseluruhan, pertemuan ini memberikan kesempatan bagi setiap anggota untuk berbagi pemikiran, merencanakan masa depan yang lebih baik, dan bersama-sama berusaha untuk mewujudkan visi dan misi dari PWK Lingkungan St Yohanes Pembaptis. Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin terbentuknya rasa kebersamaan dan semangat gotong royong dalam membangun komunitas yang lebih kuat dan penuh kasih.

Lingkungan Bramin Jadwalkan Ibadat Bahasa Jawa di 2025

Rapat pengurus Lingkungan Bramin, 21 Januari 2025

Sembahyangan rutin Lingkungan Brayat Minulya (Bramin) pada tahun 2025 akan diisi dengan ibadat dalam bahasa Jawa setiap Kamis minggu kedua. Kegiatan ini menjadi bagian dari rencana program kerja yang disusun para pengurus lingkungan pada Selasa, 21 Januari 2025, bertempat di kediaman Ibu Aryati Rob Sugiyanto.

Ide melaksanakan ibadat berbahasa Jawa muncul sebagai upaya melestarikan dan mengenalkan ritual peribadatan dalam bahasa Jawa kepada umat lingkungan, khususnya kepada remaja dan OMK sebagai generasi muda penerus Gereja.

Setiap umat lingkungan yang bisa berbahasa Jawa didorong untuk dapat memimpin ibadat tersebut. Bila petugas ibadat merasa kesulitan, pengurus lingkungan akan memfasilitasi dengan teks berbahasa Jawa yang sudah disiapkan sehingga petugas cukup membaca teks untuk memimpin ibadat.

Selain ibadat bahasa Jawa, salah satu kegiatan lingkungan yang akan dilaksanakan pada tahun ini adalah ziarah ke Gua Maria Tritis. Kegiatan ini direncanakan berlangsung pada bulan Agustus atau September, dengan pertimbangan memberikan cukup waktu bagi umat untuk menabung serta bulan-bulan tersebut tempat ziarah tidak terlalu dipadati pengunjung.

Ramah tamah usai rapat program kerja

Tak hanya soal sembahyangan dan ziarah, pengurus lingkungan juga bersepakat menghidupkan kembali pertemuan rutin ibu-ibu lingkungan yang vakum sejak pandemi. Pertemuan rutin sebulan sekali ini akan dilaksanakan bersamaan dengan jadwal sembahyangan yang dimulai bulan Februari 2025.

Berhubung keterbatasan waktu, belum semua rencana program kerja tuntas dibahas dalam rapat malam itu. Para pengurus akan mengagendakan pertemuan lanjutan untuk mendiskusikan program kerja 2025 selengkapnya. Pertemuan malam itu kemudian ditutup dengan ramah tamah sederhana penuh keakraban.

Doa lingkungan St. Theresia

Pada acara doa lingkungan yang berlangsung khusyuk, umat lingkungan St. Theresia berkumpul pada tanggal 7 November 2024, dengan sekitar 20 umat dan lima suster yang turut hadir. Acara dipandu oleh Suster Rosa, sementara Ibu Katrin bertugas sebagai pengangkat lagu.

Acara dibuka oleh Bapak Neo dan dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan, dimulai dengan lagu pembuka, doa pembuka, serta pembacaan Kitab Suci tentang domba yang hilang. Dalam homilinya, Suster Rosa menyampaikan bahwa kisah domba yang hilang adalah gambaran manusia yang menjauh dari Tuhan; domba yang hilang tidak bisa kembali dengan sendirinya, melainkan harus ditemukan dan diarahkan agar kembali ke jalan Tuhan.

Setelah doa penutup dan lagu penutup, acara diakhiri dengan kolekte. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan latihan koor untuk persiapan misa pada 17 November 2024, yang dipimpin oleh Ibu Mia.

Pertemuan BKSN ke-3 Lingkungan St. Theresia

Pada tanggal 19 September 2024, lingkungan St. Theresia mengadakan pertemuan BKSN ke-3 yang bertempat di rumah Bapak Suroyo. Acara ini dimulai pukul 19.00 dan dipandu oleh Bapak Saptanto dan Ibu Katrin.

Pertemuan kali ini berfokus pada pendalaman kitab Nabi Habakuk 2:1-5. Diskusi berlangsung dengan penuh antusiasme dan dihadiri oleh sekitar 20 orang warga lingkungan. Para peserta aktif berpartisipasi dalam diskusi dan berbagi pandangan mereka tentang pesan yang terkandung dalam kitab tersebut.

Acara ini berjalan dengan lancar dan penuh kehangatan, mencerminkan semangat kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan St. Theresia. Terima kasih kepada semua yang telah hadir dan berkontribusi dalam pertemuan ini.

Sepenggal Kisah dari OMK Ling. St.Petrus

Beberapa bulan yang lalu lingkungan St.Petrus baru saja merayakan pesta nama pelindung, untuk memeriahkan acara tersebut OMK St.Petrus yang memang saat itu sedang memiliki program untuk melestarikan musik tradisional Jawa yaitu Gamelan diberikan kesempatan untuk tampil perdana bermain gamelan untuk mengiiringi misa pada perayaan pesta nama di gereja Bunda Maria Maguwo.

Begitu banyak kisah dibalik penampilan perdana mereka, mulai dari telat datang latihan hingga masalah baju surjan yang kegedean namun itu semua tidak menghalangi kami untuk berkarya dan menunjukkan yang terbaik. Awal mula ketua mudika kami sempat sedikit putus asa karena hanya sedikit yang ingin berpartisipasi untuk bermain gamelan ini, namun setelah latihan hari pertama dengan hanya beberapa orang namun sudah cukup membuat orangtua kami begitu terpana karena diantara kami hanya 3 orang saja yang memang sudah menguasai gamelan dan yang lainnya semua mulai dari nol, cukup mengejutkan mungkin namun itulah kami, hehe .. ^_^

Setelah melalui proses latihan yang bisa dibilang begitu singkat, akhirnya tibalah saatnya kami menuunjukkan hasil kerja keras kami berlatih selama beberapa minggu. Cukup grogi untuk kami, namun semuanya itu sirna setelah kami mulai memainkan lagu pertama dan cukup sukses hingga acara Misa itu selesai. Sungguh pengalaman yang sangat berharga dan membanggakan bagi kami.

Dari sedikit cerita tentang usaha kaum muda yang mau dan rela meluangkan waktunya untuk berlatih hal atau sesuatu dalam bidang music yang bisa dibilang untuk kalangan muda di jaman sekarang adalah sesuatu yang membosankan, karena mereka lebih memilih music yang cenderung keras, dapat dikatakan bahwa gamelan merupakan sebuah permainan alat music yang dapat menyatukan semua unsur terutama unsure kebersamaan, kerja sama dan toleransi karena gamelan memang tidak bisa dimainkan seorang diri dan nada alat yang satu dengan yang lain memang harus selaras. Sama juga seperti keberagaman yang ada di negeri kita Indonesia ini, dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” diharapkan kaum muda saat ini lebih bisa menghargai budaya satu sama lain tanpa mengejek atau menjadikan bahan ejekan yang mengandung SARA, kaum muda juga diharapkan bisa melestarikan kebudayaan bangsa kita ini, bermain gamelan seperti diatas juga merupakan salah satu cara melestarikan budaya lho .. apalagi bidaya di Indonesia ini bisa dibilang cukup beragam, Karena terdapat banyak suku yang mempunyai kebudayaannya masing-masing.

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan pada 17 Agustus nanti, diharapkan kaum muda dapat berperan aktif dalam menyemarakkan peringatan tersebut. Cara paling sederhana adalah bagi teman – teman yang masih sekolah dapat mengikuti upacara bendera disekolahnya atau bahkan terlibat dalam kelompok PASKIBRAKA. Peran kaum muda saat ini sangat dibutuhkan sekali karena kaum muda merupakan penerus bangsa dan menjadi tumpuan untuk kemajuan bangsa ini. Intinya buat kaum muda, Mari bangkitlah dan berjuang dalam menghadapi jaman yang serba modern ini,jadilah penerus bangsa! Kalau bukan kita siapa lagi kawan .. DIRGAHAYU INDONESIAKU!!!