Lingkungan St. Gregorius – Kadisoka menggelar Sarasehan Kebangsaan pada Kamis, 14 Agustus 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di salah satu rumah umat. Acara yang berlangsung penuh keakraban ini dihadiri oleh sekitar 20 umat dari berbagai usia, mulai dari orang tua, kaum muda, hingga anak-anak.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebuah momen yang mengingatkan setiap peserta akan pentingnya rasa cinta tanah air sebagai bagian dari iman Kristiani. Suasana hening dan khidmat terasa ketika seluruh umat berdiri tegak, menyatukan hati dalam semangat kebangsaan.
Dalam sarasehan tersebut, materi utama yang diangkat adalah “Sikap Nasionalisme Umat Kristiani di Tengah Masyarakat dalam Menyongsong HUT ke-80 Republik Indonesia”. Pemateri mengajak umat untuk menyadari bahwa nasionalisme bukan hanya sebatas simbol atau seremoni, melainkan wujud nyata dari kasih dan pelayanan kepada bangsa.
Sesi dilanjutkan dengan sharing pengalaman umat Katolik dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Jawa. Beberapa peserta berbagi cerita mengenai bagaimana umat Katolik menjaga kerukunan, aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, dan tetap setia pada ajaran iman sambil menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk. Nilai gotong royong, toleransi, dan keterbukaan pun kembali ditegaskan sebagai ciri khas yang perlu terus dipelihara.
Melalui sarasehan ini, umat diajak untuk semakin menyadari bahwa panggilan iman tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab sebagai warga negara. Menjadi Katolik yang baik berarti juga menjadi warga negara yang baik—setia pada iman, setia pada bangsa.
Acara yang penuh semangat kebersamaan ini menjadi pengingat bahwa menyongsong HUT ke-80 Republik Indonesia bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga komitmen nyata dalam menghidupi semangat nasionalisme Kristiani di tengah kehidupan sehari-hari.
Kadisoka, 29 Juli 2025 — Dalam semangat persaudaraan dan pelayanan, umat Lingkungan St. Gregorius berkumpul untuk mengikuti Ibadat Lingkungan sekaligus sosialisasi pemilihan Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, dan Ketua Wilayah. Acara ini dilaksanakan pada Selasa malam pukul 19.00 WIB, bertempat di kediaman Bapak Paulus Supit yang beralamat di Perum Soka Asri Permai Blok S10.
Suasana malam itu terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Sebanyak 35 umat hadir dari berbagai usia—mulai dari anak-anak, remaja, orang muda Katolik (OMK), hingga para orang tua—mencerminkan semangat kebersamaan yang hidup di tengah komunitas.
Ibadat dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit, yang mengajak umat untuk bersyukur atas segala berkat Tuhan dan memohon penyertaan Roh Kudus, khususnya dalam proses pemilihan para pemimpin baru di tingkat stasi, lingkungan, dan wilayah. Dalam renungannya, beliau menekankan bahwa kepemimpinan dalam Gereja bukanlah soal jabatan, melainkan bentuk pelayanan kasih yang dilandasi kerendahan hati.
Umat dengan khusyuk mengikuti ibadat
Setelah ibadat, umat berkesempatan menikmati ramah tamah dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan. Momen ini menjadi ajang saling menyapa, bercengkerama, dan menguatkan persaudaraan. Kehangatan obrolan terlihat dari wajah-wajah yang tersenyum, menandakan eratnya ikatan persaudaraan iman di Lingkungan St. Gregorius.
Memasuki sesi sosialisasi, Bapak Gregorius Henry selaku Ketua Lingkungan menyampaikan penjelasan mengenai mekanisme dan tata cara pemilihan Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, dan Ketua Wilayah. Beliau menegaskan bahwa proses ini sangat penting, karena akan menentukan arah pelayanan pastoral di tingkat akar rumput selama periode mendatang.
Sesi ini berlangsung interaktif dan terbuka. Umat diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, usul, maupun masukan terkait proses dan kriteria kepemimpinan. Beberapa umat mengungkapkan pengalaman mereka bekerja sama dengan pengurus sebelumnya, sementara yang lain menyampaikan harapan agar pemimpin yang terpilih kelak benar-benar memiliki hati untuk melayani. Diskusi yang hidup ini berlangsung dalam suasana saling menghargai dan penuh kasih persaudaraan.
Sosialisasi Pemilihan Ketua Stasi dan Ketua Lingkungan Baru
Melalui proses yang berjalan dengan lancar, akhirnya umat mencapai satu keputusan bersama yang disepakati secara bulat. Keputusan ini diambil bukan hanya sebagai hasil musyawarah, tetapi juga sebagai bentuk ketaatan pada bimbingan Roh Kudus.
Acara resmi selesai sekitar pukul 21.00 WIB. Umat meninggalkan tempat dengan hati yang gembira, membawa pulang sukacita dan semangat baru untuk terus membangun Gereja sebagai persekutuan umat Allah. Semoga semangat kebersamaan dan kasih Kristus yang terpancar pada malam itu terus menguatkan pelayanan di Lingkungan St. Gregorius, demi kemuliaan nama Tuhan.
Pada hari Kamis 7 Agustus 2025 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di rumah Bapak Priyo untuk melaksanakan doa rutin lingkungan. Kegiatan ini dihadiri oleh 22 umat yang hadir dengan penuh semangat dan kekhidmatan. Doa dipimpin oleh Bapak Hery, yang memandu umat untuk bersama-sama memanjatkan pujian, syukur, serta doa permohonan kepada Tuhan.
Selain doa rutin, pertemuan kali ini juga diisi dengan sosialisasi pemilihan Ketua Dewan Stasi dan Ketua Lingkungan baru. Dalam sesi ini, umat diberikan informasi mengenai proses pemilihan, kriteria calon pemimpin, serta jadwal pelaksanaan pemilihan. Sosialisasi bertujuan agar umat semakin memahami perannya dalam menentukan pemimpin yang mampu melayani dengan penuh kasih, rendah hati, dan tanggung jawab.
Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Umat saling berbagi aspirasi dan harapan agar kepemimpinan yang terpilih nantinya dapat membawa Lingkungan Santo Petrus semakin maju dalam iman dan pelayanan. Pertemuan diakhiri dengan doa penutup, memohon berkat Tuhan atas proses pemilihan yang akan datang, agar berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin yang terbaik bagi umat.
Refleksi & Diskusi Lingkungan Yohanes Pembaptis – 7 Agustus 2025
Kamis malam, 7 Agustus 2025, keluarga-keluarga Lingkungan Yohanes Pembaptis berkumpul dalam suasana hangat dan penuh persaudaraan di rumah bapak Hardjito. Pertemuan kali ini mengangkat tema “Keluarga menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan dan semangat kerasulan“ yang mengajak umat merenungkan kembali makna janji perkawinan Katolik dan mengaitkannya dengan semangat Katakese Kebangsaan.
Diskusi diawali dengan pengingat bahwa janji perkawinan bukan hanya ikrar untuk saling setia, tetapi juga komitmen mendidik anak secara Katolik, membangun keluarga sebagai “Gereja mini”, dan menumbuhkan iman di rumah. Dari rumah yang beriman inilah lahir pribadi-pribadi yang siap melayani Gereja dan masyarakat.
Poin-poin penting yang dibahas meliputi:
Menumbuhkan dan mentradisikan kekatolikan dalam keluarga melalui doa bersama, misa, Kitab Suci, dan perayaan hari raya Gereja.
Semangat kerasulan — menjadi pewarta kasih Kristus melalui tindakan nyata di lingkungan, baik di Gereja maupun masyarakat luas.
Budaya srawung — perjumpaan interpersonal yang membangun persaudaraan dengan sesama umat dan masyarakat lintas agama, sebagai wujud nyata Katakese Kebangsaan.
Keterkaitan iman dan kebangsaan — keluarga Katolik bukan hanya membentuk anak beriman, tetapi juga warga negara yang menjunjung toleransi, menghargai keberagaman, dan peduli pada keadilan sosial.
Tantangan dan solusinya — mulai dari kesibukan, perbedaan pola didik, pengaruh lingkungan, hingga konflik rumah tangga; diatasi dengan komunikasi yang baik, pembiasaan doa, keterlibatan dalam komunitas, dan saling menguatkan dalam Tuhan.
Dalam suasana diskusi, umat saling berbagi pengalaman tentang bagaimana iman Katolik yang hidup dapat menyatu dengan semangat kebangsaan. Seorang peserta menegaskan, “Kalau kita mau anak-anak kita jadi Katolik yang baik, mereka juga harus jadi warga negara yang baik. Iman dan cinta tanah air itu sejalan.”
Pertemuan ditutup dengan doa pengharapan, memohon agar Tuhan memberi kekuatan untuk setia pada janji perkawinan, mendidik anak dalam iman, serta menjadi keluarga yang membawa terang bagi Gereja dan bangsa.
National Catechesis Month – Families that Nurture and Hand Down Catholic Faith and the Apostolic Spirit
Reflection & Discussion – St. John the Baptist Community Gathering, August 7, 2025
On Thursday evening, August 7, 2025, the families of the St. John the Baptist Community gathered in a warm and fraternal atmosphere at the home of Mr. Hardjito. This meeting carried the theme “Families Nurturing and Preserving Catholicism and the Spirit of Apostleship”, inviting the faithful to reflect once again on the meaning of the Catholic marriage vows and to connect it with the spirit of National Catechesis.
The discussion began with a reminder that the marriage vow is not merely a pledge to remain faithful to one another, but also a lifelong commitment to raise children in the Catholic faith, to build the family as a “domestic church,” and to nurture faith at home. From such faith-filled homes emerge individuals ready to serve both the Church and society.
Key points discussed included:
Nurturing and preserving Catholic traditions in the family through regular prayer, attending Mass together, reading Scripture, and celebrating the liturgical feasts at home.
The spirit of apostleship — being witnesses of Christ’s love through concrete actions in both Church and community life.
The culture of srawung — interpersonal encounters that foster fellowship with fellow Catholics and people of other faiths, as a living expression of National Catechesis.
The connection between faith and patriotism — a Catholic family not only forms children in faith but also as responsible citizens who value tolerance, respect diversity, and care for social justice.
Challenges and solutions — from busy schedules, different parenting styles, outside influences, to family conflicts; these can be overcome through open communication, regular prayer, active involvement in the community, and mutual encouragement in the Lord.
During the discussion, participants shared real-life experiences on how a living Catholic faith can be united with a spirit of patriotism. One participant affirmed, “If we want our children to be good Catholics, they must also be good citizens. Faith and love for the nation go hand in hand.”
The gathering concluded with a prayer of hope, asking God for strength to remain faithful to marriage vows, to raise children in faith, and to be families that bring light to both the Church and the nation.
“From faithful Catholic families come citizens of faith, compassion, and readiness to serve.”
Pertemuan rutin Lingk. Antonius dilaksanakan pada hari Kamis, 24 Juli 2025 pada pukul 19.30 di rumah Bapak Yosep. Tidak hanya pertemuan rutin, namun kegiatan juga diisi dengan acara mendoakan arwah ayahnda dari Bapak Yosep, yang 2 tahun lalu dipanggil Tuhan. Pertemuan diawali dengan sembhayangan yang dipimpin oleh Bapak Mikhael Purwanto dilanjutkan gendu-gendu rasa membicarakan pergantian Ketua Dewan Stasi.
Minggu, 20 Juli 2025, hembusan angin sejuk dan semilir aroma dedaunan di Erista Garden, Pakem, Sleman, menjadi saksi sebuah perjalanan batin para pengurus harian Dewan Pastoral Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Di tengah kesibukan dan dinamika pelayanan, mereka berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan dan harapan untuk mengikuti kegiatan Pembekalan Spiritualitas Pelayanan.
On Sunday, July 20, 2025, the cool breeze and gentle scent of leaves at Erista Garden, Pakem, Sleman, bore witness to a spiritual journey taken by the daily board members of the Pastoral Council of Santa Maria Bunda Allah Maguwo Station. Amid the busyness and challenges of ministry, they gathered in an atmosphere of gladness and hope to participate in the Spirituality Formation for Service program.
Lebih dari sekadar acara formal, kegiatan ini menjadi ruang kontemplasi bagi para pelayan Gereja untuk kembali menengok makna terdalam dari panggilan mereka: melayani bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan hati yang tulus dan penuh kasih.
More than a formal gathering, the event became a space of contemplation for the Church servants to revisit the deepest meaning of their calling: to serve not only with their hands, but with hearts filled with sincerity and love.
Dipandu oleh Ibu F. Netty Kuswandari, S.Pd., M.Si., para peserta diajak menyelami sesi pertama yang membuka cakrawala batin tentang pertumbuhan pribadi dalam pelayanan. Dengan pendekatan yang hangat dan menyentuh, beliau menyampaikan bahwa menjadi pelayan Tuhan bukanlah tentang kesempurnaan, tetapi tentang kesetiaan dalam setiap hal kecil. Tangis haru dan senyuman muncul silih berganti—sebuah tanda bahwa hati-hati ini tersentuh.
Guided by Mrs. F. Netty Kuswandari, S.Pd., M.Si., the participants were invited to delve into the first session, which opened their hearts to the inner journey of personal growth in service. With warmth and compassion, she conveyed that being a servant of God is not about perfection, but about faithfulness in every little thing. Tears and smiles flowed in turn—a sign that these hearts were being touched.
Suasana kemudian berubah menjadi lebih ringan namun tetap bermakna dalam sesi bersama GMBA Joyful Team. Melalui gerak, tawa, dan refleksi sederhana, mereka diingatkan bahwa sukacita adalah bagian tak terpisahkan dari pelayanan. Kelelahan bisa datang, tetapi hati yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk tetap berjalan.
The atmosphere then shifted into something lighter yet still meaningful during the session with the GMBA Joyful Team. Through movement, laughter, and simple reflection, they were reminded that joy is an inseparable part of ministry. Fatigue may come, but a grateful heart will always find a reason to keep going.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan sistematis mengenai mekanisme dan jadwal pemilihan Ketua Stasi, Ketua Wilayah, serta Ketua Lingkungan. Di tengah transisi zaman dan tantangan regenerasi, sesi ini menjadi momentum penting untuk memastikan bahwa tongkat estafet pelayanan diteruskan kepada pribadi-pribadi yang siap dan layak.
The program continued with a systematic explanation of the mechanisms and timeline for the upcoming elections of the Station Head, Regional Heads, and Neighborhood Heads. Amidst generational transitions and challenges in regeneration, this session became a vital moment to ensure that the torch of service would be passed on to capable and ready hands.
Di penghujung acara, dalam suasana yang semakin hening dan sakral, Romo Ant. Dadang Hermawan, Pr., memberikan penguatan rohani dan pengutusan. Dalam doa dan berkat yang disampaikan, setiap peserta seakan diingatkan kembali pada akar panggilan mereka—bahwa pelayanan adalah bagian dari perutusan Kristus, dan setiap langkah kecil yang diambil dalam kasih akan membawa dampak besar bagi umat.
As the event neared its end, in an atmosphere growing increasingly solemn and sacred, Romo Ant. Dadang Hermawan, Pr., offered spiritual strengthening and a sending forth. Through his prayers and blessings, each participant was reminded of their true calling—that ministry is part of Christ’s mission, and every small act done in love can bring profound impact to the faithful.
A Joyful Celebration of the Feast of St. Antonius Community at Warung Eyup, Cangkringan
Suasana penuh kekeluargaan dan sukacita mewarnai Pesta Nama Lingkungan St. Antonius yang diselenggarakan di Warung Eyup, Cangkringan, pada hari Minggu, 13 Juli 2025. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 45 umat dari Lingkungan St. Antonius, yang berkumpul untuk mengenang dan meneladani kehidupan serta karya St. Antonius.
A warm and joyful atmosphere filled the celebration of the Feast of the St. Antonius Community, held at Warung Eyup, Cangkringan, on Sunday, July 13, 2025. The event was attended by approximately 45 faithful from the St. Antonius Community, who gathered to remember and follow the life and legacy of St. Antonius.
Kegiatan diawali dengan pemaparan singkat mengenai sejarah dan teladan hidup St. Antonius, yang dikenal sebagai pelindung orang miskin dan pencari barang hilang. Pemaparan ini mengajak umat untuk lebih mengenal sosok kudus yang menjadi pelindung lingkungan mereka, serta menginspirasi untuk hidup dalam kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama.
The event began with a brief presentation on the history and exemplary life of St. Antonius, who is known as the patron saint of the poor and of lost things. This sharing invited the participants to get to know more deeply the holy figure who protects their community, and inspired them to live a life of simplicity and compassion for others.
Momen istimewa terjadi saat lingkungan memberikan kenang-kenangan kepada tiga anak yang beberapa waktu lalu menerima Komuni Pertama. Penyerahan ini dilakukan secara simbolis sebagai bentuk dukungan dan kasih dari lingkungan kepada anak-anak dalam perjalanan iman mereka.
A special moment occurred when the community presented a small gift to three children who had recently received their First Holy Communion. This symbolic gesture reflected the community’s support and love for the children as they continue their journey of faith.
Sebagai penutup, seluruh umat bersama-sama menyanyikan Hymne Lingkungan St. Antonius dalam suasana yang khidmat namun penuh semangat. Lagu ini menjadi ungkapan syukur dan kebanggaan akan identitas lingkungan yang bernaung di bawah perlindungan St. Antonius.
To conclude the event, all participants joined together in singing the St. Antonius Community Hymn in a spirit that was both reverent and full of enthusiasm. The hymn served as an expression of gratitude and pride in their identity as a community under the patronage of St. Antonius.
Pada hari Kamis, 10 Juli 2025, umat Lingkungan Santo Petrus kembali mengadakan doa rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah Ibu Lina pada pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini dipimpin oleh Ibu Maya dan dihadiri oleh 15 umat.
Doa rutin dimulai dengan bacaan Kitab Suci, yang menjadi dasar permenungan bersama. Setelah itu, umat yang hadir saling berbagi pengalaman hidup dan refleksi pribadi melalui sesi sharing iman. Suasana penuh kehangatan, keterbukaan, dan kekeluargaan sangat terasa dalam pertemuan ini.
Kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana memperdalam iman, tetapi juga mempererat persaudaraan antarumat di lingkungan. Doa dan sharing yang dilakukan bersama menjadi penguat satu sama lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai umat beriman.
Semoga kegiatan doa rutin seperti ini terus berjalan dengan semangat dan komitmen, menjadi sumber berkat bagi seluruh anggota lingkungan.
Pada hari Sabtu, tanggal 5 Juli 2025, pukul 19.00 WIB, telah dilaksanakan ibadat syukur Ngunduh Mantu atas pernikahan Robertus Ade Kristian dan Chatarina Adinda Febrianty. Ibadat ini diselenggarakan di kediaman Bapak YE. Hananto dan dipimpin oleh Ibu Prodiakon Tiwik.
Acara ibadat berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh rasa syukur, di mana keluarga besar memanjatkan doa sebagai ungkapan terima kasih atas berkat sakramen pernikahan yang telah diterima oleh kedua mempelai. Ibadat ini juga menjadi momen untuk mempererat tali kasih antar keluarga, lingkungan, dan umat.
Sekitar 40 umat turut hadir dalam ibadat ini, terdiri dari umat Lingkungan Santo Petrus maupun dari lingkungan lain. Kehadiran para umat menjadi bentuk dukungan dan doa bersama untuk kehidupan rumah tangga Robertus dan Chatarina, agar senantiasa dilimpahi berkat, damai, dan kesetiaan dalam membangun keluarga Katolik yang kokoh dalam iman dan kasih.
Semoga pasangan pengantin baru ini senantiasa diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan pernikahan yang penuh sukacita, saling melengkapi, dan menjadi saksi kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat menempuh hidup baru, Robertus & Chatarina. Tuhan memberkati.
Magelang, 5 Juli 2025 — Dalam semangat memperdalam iman dan merayakan Tahun Yubileum Suci, umat Lingkungan St. Gregorius Stasi GMBA Maguwo, Paroki Maria Marganingsih Kalasan mengadakan ziarah rohani ke Porta Sancta (Pintu Suci) yang berlangsung pada Sabtu, 5 Juli 2025
Perjalanan penuh makna ini menyatukan 44 orang peziarah dari berbagai usia—anak-anak hingga lansia—dalam satu hati dan satu langkah menuju tiga lokasi suci: Goa Maria Sendangsono, Gereja Ignatius Magelang, dan Kerkhof Muntilan, makam Romo Sanjaya.
Ziarah ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan lingkungan dalam menyambut Tahun Yubileum 2025 yang dicanangkan oleh Paus Fransiskus dengan tema “Peziarah Harapan.” Di tengah kesibukan dan rutinitas harian, ziarah ini menjadi kesempatan langka bagi umat untuk berhenti sejenak, menengok kembali perjalanan hidup rohani mereka, dan memperbaharui semangat iman.
Suasana Hening di Sendangsono
Gerbang Memasuki Goa Maria Sendangsono
Perhentian pertama adalah Goa Maria Sendangsono, tempat bersejarah yang disebut sebagai “Lourdes-nya Indonesia.” Di sinilah iman Katolik pertama kali bersemi di Tanah Jawa. Dikelilingi rimbunnya pepohonan dan gemericik air sendang, para peziarah memulai hari dengan doa bersama yang dipimpin oleh Prodiakon Paulus Supit dibantu oleh Katekis Agnes Gunarti. Jalan salib pun dilaksanakan dengan khidmat, menyusuri stasi demi stasi dengan permenungan mendalam atas kisah sengsara Yesus Kristus.
Prodiakon mengajak seluruh umat merenungkan arti penderitaan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana setiap orang dipanggil untuk memanggul salib masing-masing dengan iman dan pengharapan. “Jalan salib bukan hanya mengenang penderitaan Tuhan, tapi juga mengajak kita melihat bagaimana Tuhan hadir dalam luka dan beban hidup kita,” ujarnya.
Napak Tilas Iman di Gereja Ignatius Magelang
Di depan Gereja Ignasius Magelang
Usai dari Sendangsono, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gereja Santo Ignatius, Magelang. Gereja tua yang dibangun sejak abad ke-19 ini menyimpan banyak sejarah pewartaan iman Katolik di Jawa Tengah. Di sini, para peziarah diajak merenungkan keteladanan St. Ignatius Loyola—pendiri Serikat Yesus—dalam menjalani hidup yang penuh penyerahan dan discernment (pembedaan roh).
Berdoa di depan Taman Doa yang berada di belakang Gereja
Doa pribadi dan devosi di depan patung Maria (terletak di belakang Gereja) menjadi waktu yang sunyi namun kuat secara spiritual. Suasana hening dan arsitektur lingkungan gereja yang asri memberi ruang bagi setiap umat untuk berdiam diri dalam hadirat Allah.
Ziarah Ditutup dengan Doa di Kerkhof Muntilan
Berdoa di Kerkhof Muntilan
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke perhentian terakhir: Kerkhof Muntilan, kompleks makam para imam dan tokoh Katolik di Keuskupan Agung Semarang. Di tempat inilah terbaring jasad Romo Sanjaya, seorang imam pribumi yang dikenal gigih dalam karya kerasulan dan pendidikan. Di makam Romo Sanjaya, umat mendaraskan doa mohon syafaat para kudus dan mendoakan para imam yang telah mendahului.
Kami tetap semangat menyelesaikan ziarah Porta Sancta
“Ziarah ini mengingatkan kita bahwa iman bukanlah perjalanan singkat. Ia seperti napak tilas hidup, dari kelahiran hingga kembali ke rumah Bapa,” ungkap Gregorius Henry, Ketua Lingkungan St. Gregorius, dalam refleksi singkatnya. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas partisipasi seluruh umat yang telah mengikuti ziarah ini dengan antusias dan penuh semangat.
Kebersamaan yang Menyegarkan Iman
Selain sebagai pengalaman rohani, ziarah ini juga mempererat tali persaudaraan antarumat lingkungan. Sepanjang perjalanan, tawa, nyanyian, dan cerita iman dibagikan satu sama lain. Di tengah tantangan zaman yang serba cepat dan individualistis, kegiatan seperti ini menjadi oase bagi kebersamaan yang sejati.
Ketua lingkungan dan tim panitia juga memberikan apresiasi kepada para donatur dan sponsor yang telah berkontribusi, serta kepada para peserta yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan ini dengan tertib dan penuh sukacita. “Kami mohon maaf jika dalam pelayanan selama ziarah masih ada kekurangan. Namun kami percaya bahwa semangat kita bersama telah membuat perjalanan ini berbuah,” ujar Henry.
Ziarah Porta Sancta ini ditutup dengan doa penutup sebelum perjalanan pulang. Wajah-wajah lelah namun penuh damai dan kebahagiaan menjadi bukti bahwa ziarah bukan sekadar bepergian secara fisik, melainkan perjalanan batin yang meneguhkan.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo