Pada hari Kamis, 12 Juni 2025, umat Lingkungan St. Petrus kembali berkumpul dalam doa rutin bulanan yang dilaksanakan di rumah ibu kaling, Mba Lely. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal kegiatan yang dipimpin oleh Ibu Mulyadi ini.
Sebanyak 12 umat hadir dalam kegiatan ini, menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian untuk terus memperkuat iman dalam komunitas kecil. Doa bersama menjadi momen penyegaran rohani, sekaligus ruang refleksi atas pengalaman hidup sehari-hari dalam terang firman Tuhan.
Menariknya, kegiatan kali ini juga diisi dengan katekese tentang Sejarah Keuskupan Agung Semarang (KAS). Katekese tersebut mengajak umat mengenal lebih dalam perjalanan panjang Gereja KAS dari masa awal hingga sekarang, mulai dari peran para misionaris awal, perkembangan paroki-paroki, hingga semangat pelayanan yang terus hidup dalam berbagai bidang pastoral.
Ibu Mulyadi menyampaikan bahwa memahami sejarah KAS bukan hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga memperkuat identitas sebagai bagian dari Gereja lokal yang aktif dan berakar. Katekese ini memunculkan antusiasme dan diskusi ringan di antara umat, yang merasa terinspirasi untuk lebih berkontribusi dalam kehidupan menggereja.
Doa ditutup dengan harapan agar umat Lingkungan St. Petrus terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih, serta tetap setia dalam pelayanan dan kebersamaan. Kebersamaan pun dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana yang mempererat tali persaudaraan.
Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sumber semangat bagi umat untuk menapaki jalan kekudusan bersama.
Di antara banyak bintang muda yang bersinar, nama Helena Clarencia Cinta Prasetya patut jadi sorotan. Usianya baru 16 tahun, tapi suara dan prestasinya sudah melanglang buana ke berbagai panggung, dari festival pelajar hingga ajang bergengsi nasional. Helena, begitu ia akrab disapa, adalah salah satu putri berbakat dari Stasi Santa Maria Bunda Allah, Maguwo, yang kini menempuh pendidikan di SMA BOSA Yogyakarta.
Sejak kecil, dunia musik sudah jadi tempat yang nyaman bagi Helena. Dengan zodiak Aries yang dikenal berani dan penuh semangat, tak heran kalau ia terus melangkah pasti mengejar mimpinya menjadi penyanyi internasional. Bukan sekadar mimpi kosong, karena jejak langkahnya penuh dengan prestasi nyata yang bikin kagum siapa pun yang mengenalnya.
Bayangkan saja, sepanjang tahun 2023–2025, Helena telah mengumpulkan lebih dari 15 gelar juara dari berbagai lomba menyanyi dan festival band pelajar. Dari panggung FLS3N, Prambanan Jazz, hingga BRI Rei Property Expo, suara khas Helena sudah menemani banyak telinga, menggetarkan banyak hati. Bahkan, ia pernah tampil memukau di momen kenegaraan seperti upacara 17 Agustus di Balai Kota Yogyakarta dan peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Titik Nol KM Yogyakarta. Hebat, kan?
Tapi prestasi Helena nggak berhenti di luar saja. Di lingkungan gereja, ia juga aktif melayani sebagai putri altar, pemazmur, dan vokalis dalam PMG (Pemusik Muda GMBA). Helena bukan hanya menyanyikan lagu rohani dengan suara indah, tapi juga dengan hati penuh cinta. Ia menjadikan setiap bait lagu sebagai bentuk pelayanan dan persembahan terbaik untuk Tuhan.
tau nggak apa aja prestasi Helena dari tahun 2023 sampai 2025 ? nih mimin kasih tau ya…….
Juara 1 Lomba Menyanyi Tunggal FLS3N Kotamadya Yogyakarta – 2025
Juara 3 Lomba Band Pelajar Fist Cup Fakultas Ilmu Komunikasi Atma Jaya – 2025
Juara 1 Lomba Solo Vocal IMLEK Lampion Jagad di SMA BOSA – 2025
Juara 1 Lomba Band Pelajar WJNC Fest – 2024
Juara 1 National Online Singing Competition di Politeknik AA YKPN – 2024
Juara 1 Lomba Band Padztsuri #2 di SMA 3 – 2024
Juara 2 Online Singing Competition Econofest FEB UGM – 2024
Juara 1 Festival Band Pelajar di Warung Tik Tok – 2024
Perform menyanyi di Upacara Bendera 17 Agustus di Balai Kota Yogyakarta – 2024
Perform menyanyi di Acara Hari Kesaktian Pancasila di Titik Nol Yogyakarta – 2024
Juara 1 Lomba Solo Vokal Mahardika Nada Nusantara Kesbangpol – 2024
Juara 1 Lomba Solo Vokal Amazing BRI Rei Property Expo – 2024
Juara 3 Festival Band Pelajar di SMA Santa Maria – 2024
Juara 1 Festival Band Pelajar China Town di Sleman City Hall – 2024
Juara 1 Lomba Solo Vokal Simponi Negeriku di Hotel Merapi Merbabu – 2023
Finalis 10 Besar I‘m Jazz Kids di Prambanan Jazz – 2023
Juara 1 Festival Band Pelajar di SMM – 2023
Juara 1 Festival Band Pelajar di SMA Santa Maria – 2023
The Voice Kids Indonesia Season 4 – Tim Yura Rizky – 2021
Juara 1 Lomba Menyanyi Tunggal FLS2N tingkat kecamatan UPT Utara Yogyakarta – 2015
kalah jauh lah sama mimin…..mimin mah gak ada apa apanya……..hahahaha
Buat kamu yang penasaran dengan suara Helena, yuk langsung aja mampir dan follow channel-nya:
Dan kalau ada yang mau ngajak kerja sama atau undang perform, boleh banget kontak langsung ke 081227071710 ya………………………..
Helena adalah contoh nyata bahwa talenta yang dipupuk dengan cinta dan kerja keras bisa jadi berkat besar, bukan cuma untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk banyak orang. Kita doakan bersama, semoga Helena terus bersinar dan suatu hari nanti benar-benar berdiri di panggung dunia sebagai penyanyi internasional yang membawa damai dan sukacita lewat musiknya.
Dari altar kecil di Maguwo hingga gemerlap panggung dunia, Helena adalah bintang yang tak hanya bernyanyi, tapi juga menyinari.
Keep shining, girl……………………..
Langit bukan batasmu, tapi justru panggung berikutnya…………………
Jumat, 6 Juni 2025 — Hari ini, suasana di sekitar wilayah Stasi Maguwo terasa begitu hidup. Bukan hanya karena keramaian perayaan Idul Adha yang dirayakan penuh khidmat oleh saudara-saudari Muslim, tetapi juga karena hadirnya semangat kebersamaan yang menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.
Sejak pagi hari, umat Katolik dari Lingkungan St. Yohanes Pembaptis turut ambil bagian dalam menjaga kelancaran dan keamanan perayaan Idul Adha yang diselenggarakan di beberapa titik sekitar wilayah Maguwo. Kehadiran para bapak dari Lingkungan Yohanaes Pembabtis ( YP ) menjadi pemandangan yang menarik sekaligus membanggakan……… Dengan rompi merah khas mereka, para bapak ini berdiri sigap di berbagai titik jalan dan area sekitar lokasi salat Id dan penyembelihan hewan kurban.
Bukan sekadar hadir, mereka benar-benar terlibat. Mengatur lalu lintas, mengarahkan warga, membantu menjaga ketertiban, bahkan turut menyapa dengan ramah setiap orang yang melintas. Tak sedikit dari mereka yang harus berdiri berjam-jam di bawah sinar matahari pagi yang hangat, dan semua dilakukan dengan hati yang tulus dan wajah yang tetap tersenyum.
Sementara itu, para ibu dari lingkungan pun tak tinggal diam. Di balik layar, mereka mengambil peran yang tak kalah penting. Sejak pagi, para ibu ini menyiapkan konsumsi untuk para petugas dan relawan — mulai dari air minum, teh hangat, hingga makanan ringan — semua disiapkan dengan penuh kasih. Dukungan mereka menjadi penguat dan penyemangat tersendiri bagi para bapak yang bertugas di lapangan.
Apa yang terjadi hari ini adalah cermin dari semangat toleransi dan persaudaraan yang tumbuh subur di tengah masyarakat Maguwo. Tidak ada sekat agama, tidak ada perbedaan yang membatasi. Yang ada adalah niat yang sama: menjaga kedamaian, saling membantu, dan merayakan kemanusiaan bersama.
Lingkungan St. Yohanes Pembaptis sekali lagi menunjukkan bahwa iman bukan hanya soal doa dan ibadah di dalam gereja, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir untuk sesama tanpa memandang latar belakang, tanpa syarat, dan tanpa pamrih. Inilah wajah Gereja yang hidup dan nyata di tengah masyarakat.
Terima kasih untuk para bapak lingkungan YP dengan rompi merahnya, dan untuk para ibu yang telah memberikan dukungan penuh. Semoga semangat seperti ini terus tumbuh, mengakar, dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya.
Mei bagi umat Katolik merupakan bulan istimewa yang didedikasikan untuk devosi kepada Bunda Maria. Dalam semangat yang sama, Keuskupan Agung Semarang mengajak seluruh umat untuk memperdalam devosi kepada Bunda Maria sekaligus menjalani Bulan Katekese Yubelium dengan tema sentral “Gereja yang Bahagia”, sebagai bagian dari rangkaian perayaan 85 tahun perjalanan karya Gereja KAS.
Menanggapi ajakan tersebut, umat St. Yusuf, Stasi Maguwo, telah dengan tekun melaksanakan devosi bersama kepada Bunda Maria sekaligus mendalami Katekese Yubelium selama satu bulan penuh, mulai tanggal 1 hingga 31 Mei 2025. Setiap malam, sekitar 26 orang umat berkumpul untuk mendaraskan doa Rosario dan terlebih dahulu mendalami empat subtema utama Katekese Yubelium, yakni:
Komunitas Pengharapan
Menjadi Gereja yang semakin Katolik
Menjadi Gereja yang semakin Apostolik
Menjadi Gereja yang Bahagia
Kegiatan devosi dan pendalaman iman ini menjadi momen yang mempererat kebersamaan umat serta memperdalam pemahaman akan jati diri Gereja dalam terang Yubileum. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan penuh syukur dan sukacita pada tanggal 31 Mei 2025, bertepatan dengan pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet, sebagai puncak perayaan kasih dan iman umat kepada Bunda Maria.
Hari ini, 29 Mei 2025, langit tampak cerah seolah ikut bersukacita menyambut langkah-langkah kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 42 orang, anak-anak, orang muda, hingga para lansia, berkumpul dengan semangat yang sama, melangkah bersama dalam sebuah ziarah iman di Tahun Yubelium, tahun yang dikhususkan oleh Gereja Katolik sebagai momen pengampunan, pembaruan, dan rekonsiliasi.
Tahun Yubelium bukanlah sekadar tradisi. Ini adalah panggilan. Sebuah undangan untuk kembali, kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada ciptaan. Tahun ini, Paus Fransiskus mengangkat tema yang begitu menyentuh: “Peziarah Pengharapan.” Dan kami menjawabnya dengan sungguh-sungguh, lewat perjalanan rohani menuju tiga tempat suci: Taman Doa Maria Oblat, Kapel Salib Suci Gunung Sempu, dan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran.
Langkah Awal: Berangkat Dengan Semangat
Titik kumpul kami di rumah Pak Cahyo, yang sudah ramai selepas Misa Kenaikan Yesus. Senyum, tawa, dan doa-doa kecil mengiringi keberangkatan kami. Tepat pukul 09.30 WIB, setelah semua terbagi dalam 9 mobil, rombongan kami berangkat menuju Taman Doa Maria Oblat.. Tak ada yang membawa beban, yang ada hanya semangat untuk mendekat kepada Tuhan dan saling menguatkan sebagai satu keluarga iman. Perjalanan 20 menit terasa ringan, diiringi canda dan harapan yang memenuhi hati.
Perhentian Pertama: Taman Doa Maria Oblat
Setibanya di sana, kami langsung larut dalam keheningan. Di antara pepohonan yang menyejukkan dan suasana damai, kami menyebar, mencari sudut masing-masing untuk tenggelam dalam doa pribadi, menyerahkan pergumulan, menyampaikan syukur, dan membuka hati bagi kasih Allah. Hati ini terasa lega, seolah beban pelan-pelan dilepaskan.
Perhentian Kedua: Gereja Salib Suci Gunung Sempu
Pukul 10.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sempu, tempat berdirinya Gereja Salib Suci yang menawan. Meski ramai oleh para peziarah lain, ada ketenangan yang tak tergantikan, kami tetap dapat berdoa dengan khidmat. Kami mengadakan ibadat singkat yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon lingkungan, Bapak Yuli, kami mendaraskan doa Rosario bersama, lalu melanjutkan dengan doa pribadi. Hati kami dipenuhi damai dalam kebersamaan. Di momen ini, kami seperti diingatkan: harapan itu nyata, dan ia tumbuh dari iman yang dibagikan bersama.
Perhentian Ketiga: Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran
Ganjuran selalu punya tempat spesial di hati umat Katolik Yogyakarta, simbol iman Katolik yang begitu khas dengan gaya arsitektur Jawa yang sarat makna. Setibanya di sana, sekitar pukul 12.30, kami berdoa secara pribadi, lalu menikmati waktu bebas. Beberapa dari kami mengunjungi museum yang menggugah sejarah iman di Ganjuran, ibu-ibu berbelanja oleh-oleh dan berfoto ria, anak-anak berlarian bebas dengan tawa riang, sementara yang lain duduk menikmati semilir angin. Semuanya terasa seperti pelukan hangat dari Tuhan.
Berbagi Cerita di Meja Makan
Sekitar pukul 14.00, kami menuju Restaurant Parangtritis untuk makan siang bersama. Inilah momen yang tak kalah berharga. Setiap meja menjadi ruang berbagi cerita. Bapak-bapak asyik berdiskusi tentang tembakau, cerutu, dan tentu saja diselingi dengan topik politik. Di sisi lain, ibu-ibu ramai berbagi gosip hangat dan berbincang tentang tugas-tugas pelayanan yang menanti. Sungguh suasana yang hangat, akrab, dan penuh sukacita.
Pulang Dengan Hati Yang Penuh Syukur
Pukul 15.00, kami mengakhiri kegiatan dan kembali ke rumah masing-masing. Namun bukan hanya tubuh kami yang kembali, hati kami pun pulang dengan semangat baru, dengan sukacita yang sulit dijelaskan.
Hari ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah perjalanan hati. Sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, kita selalu punya ruang untuk kembali. Kembali kepada Tuhan. Kembali kepada komunitas. Kembali kepada harapan.
Kami percaya, kegiatan seperti ini bukan hanya menguatkan iman, tapi juga mempererat tali persaudaraan. Kami pulang lebih dekat satu sama lain, lebih semangat dalam tugas, dan lebih sadar akan indahnya berjalan bersama dalam iman.
“Berbahagialah mereka yang berjalan dalam iman, sebab di sanalah harapan tumbuh dan kasih berkembang.”
Pada hari Rabu, 28 Mei 2025 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di kediaman Ketua Lingkungan, Mba Lely, untuk melaksanakan doa Rosario dan katekese rutin. Kegiatan ini dihadiri oleh 12 umat yang datang dengan semangat kebersamaan dan iman.
Doa Rosario dipimpin dengan khidmat oleh Ibu Mulyadi. Suasana doa berlangsung tenang dan penuh penghayatan, mengundang umat untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus dan Bunda Maria serta memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan.
Usai Rosario, kegiatan dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Retno. Tema katekese kali ini adalah “Gereja yang Bahagia: ARDAS 2026”. Dalam penyampaiannya, Ibu Retno menekankan pentingnya mewujudkan komunitas gerejawi yang penuh sukacita, saling mendukung, dan berlandaskan kasih Kristus. Katekese ini mengajak umat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kehidupan menggereja dan menjadikan Lingkungan sebagai tempat bertumbuh dalam iman dan kebersamaan.
Pertemuan malam itu menjadi momen yang mempererat tali persaudaraan antar umat dan menguatkan semangat pelayanan dalam terang ARDAS 2026. Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi sarana berkat bagi umat dan mendorong terciptanya Gereja yang semakin hidup, bersukacita, dan misioner.
Kadisoka, 25 Mei 2025 — Dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan, umat Lingkungan St. Gregorius merayakan 30 tahun perjalanan iman mereka melalui sebuah Ibadat Syukur yang diadakan pada Minggu malam, 25 Mei 2025, pukul 19.00 WIB. Bertempat di lingkungan setempat, acara tersebut menjadi momen reflektif sekaligus penuh kegembiraan, dihadiri oleh lebih dari 55 umat dari berbagai usia.
Umat hadir dari berbagai usia
Acara dimulai dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit. Dalam ibadat tersebut, umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, serta memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.
Prodiakon Paulus Supit memimpin jalannya ibadat syukur dengan khidmat
Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan, Bapak Gregorius Henry Prasista Kurniawan, yang menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas lingkungan ini selama tiga dekade terakhir. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh umat yang telah setia mendukung dan membangun lingkungan sejak awal berdiri hingga kini.
Sebagai pembawa acara (MC), Mbak Anik memandu jalannya acara dengan penuh kehangatan dan keteraturan. Momen yang paling simbolis dan menyentuh hati adalah prosesi pemotongan tumpeng, sebuah tradisi yang sarat makna baik secara budaya maupun spiritual.
Filosofi Tumpeng: Simbol Syukur dan Harapan
Dalam penjelasannya, MC menyampaikan bahwa tumpeng, makanan khas berbentuk kerucut yang terbuat dari nasi kuning, bukan sekadar sajian pesta. Dalam budaya Jawa, tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (puncak kerucut), serta hubungan horizontal antara sesama manusia (lingkaran di sekeliling tumpeng). Nasi kuning sebagai simbol kemuliaan dan kebahagiaan juga mencerminkan harapan akan masa depan yang gemilang.
Tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan
Secara iman Katolik, makna tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan dan penyertaan Tuhan. Puncak tumpeng menggambarkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala berkat, sementara aneka lauk di sekitarnya mencerminkan keberagaman umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan.
Pemotongan tumpeng oleh Ketua Lingkungan St. Gregorius
Pemotongan dan pembagian tumpeng juga menjadi simbol pengutusan: bahwa berkat yang diterima bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada sesama.
Dalam prosesi tersebut, pemotongan dilakukan oleh Ketua Lingkungan, kemudian diberikan secara simbolis kepada dua perwakilan umat:
Bapak Petrus Soekamso, sebagai wakil sesepuh, perintis dan generasi pendahulu, serta
adik Avika, sebagai wakil generasi muda dan harapan masa depan lingkungan.
Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan umat senior
Potongan tumpeng kedua diberikan kepada perwakilan generasi penerus
Keduanya menerima potongan tumpeng dengan penuh haru dan sukacita, menyimbolkan keberlanjutan semangat dan warisan nilai-nilai iman lintas generasi.
Past, present and future
Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan
Usai prosesi, para umat melakukan sesi foto bersama yang diikuti dengan ramah tamah. Suasana terasa hangat dan akrab, diwarnai tawa anak-anak, canda para remaja, serta obrolan ringan para sesepuh.
Antusiasme umat Lingkungan St. Gregorius
Pada kesempatan tersebut, Bapak Petrus Soekamso menyampaikan kisah berdirinya Lingkungan St. Gregorius, mengajak umat mengenang kembali momen awal terbentuknya lingkungan sebagai hasil pemekaran dari Lingkungan St. Fransiskus Xaverius Purwomartani. Beliau menuturkan bagaimana dinamika umat, pertumbuhan jumlah keluarga Katolik, dan semangat pelayanan mendorong terbentuknya lingkungan baru yang diberi nama St. Gregorius.
Seiring waktu, lingkungan ini sendiri mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhirnya melahirkan dua lingkungan baru melalui proses pemekaran, yaitu:
Lingkungan St. Bartholomeus, dan
Lingkungan St. Stefanus
Fakta ini menunjukkan bahwa Lingkungan St. Gregorius bukan hanya tumbuh, tetapi juga turut berkontribusi dalam perkembangan pastoral wilayah setempat. Bapak Petrus juga mengajak umat untuk tetap menjaga semangat pelayanan lintas generasi, agar lingkungan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari tubuh Gereja.
Bpk Petrus Soekamso menceritakan awal berdirinya lingkungan St. Gregorius
Penutup yang Penuh Sukacita.
Acara malam itu ditutup dengan suasana hangat dan penuh sukacita. Seluruh umat pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Lingkungan St. Gregorius. Dalam usia 30 tahun, lingkungan ini tidak hanya menunjukkan kedewasaan dalam iman, tetapi juga keteguhan dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan penuh kasih.
Semua bersyukur, semua gembira
Proficiat untuk Lingkungan St. Gregorius! Semoga tetap menjadi garam dan terang bagi sesama, serta terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.
Pada hari Kamis, 22 Mei 2025, umat Lingkungan St. Petrus berkumpul dalam semangat kekeluargaan untuk berdoa bersama dalam doa Rosario dan mendalami iman melalui katekese. Kegiatan ini dilangsungkan di rumah Ibu Tris, yang terletak di Nanggulan, dan dimulai pukul 19.00 WIB.
Meskipun malam itu diguyur hujan, antusiasme umat tidak surut. Sebanyak 14 umat hadir, menunjukkan semangat kebersamaan dan iman yang teguh. Doa Rosario dipimpin oleh Ibu Merry, yang membimbing umat dengan penuh kesungguhan dan kelembutan hati dalam setiap peristiwa yang direnungkan.
Setelah Rosario, acara dilanjutkan dengan sesi katekese yang dibawakan oleh Ibu Maya. Topik katekese malam itu adalah “Menjadi Apostolik”, sebuah tema yang mengajak umat untuk merenungkan dan memahami salah satu ciri Gereja yang kudus: sifat apostolik. Ibu Maya menjelaskan bahwa menjadi apostolik berarti melanjutkan misi para rasul, yaitu mewartakan Injil dan menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Umat diajak untuk menyadari peran mereka sebagai pewarta kabar baik di tengah masyarakat, dengan tindakan nyata dalam kasih dan pelayanan.
Suasana hangat dan penuh semangat terasa sepanjang acara. Diskusi berlangsung aktif, dan umat saling berbagi pandangan serta pengalaman hidup beriman yang memperkaya satu sama lain.
Kegiatan ini tidak hanya mempererat tali persaudaraan antarumat di lingkungan, tetapi juga memperdalam penghayatan iman Katolik. Semangat apostolik yang dikobarkan malam itu diharapkan terus menyala dalam kehidupan sehari-hari seluruh umat St. Petrus.
Kamis malam, 15 Mei 2025 — Suasana hujan rintik-rintik, teduh dan penuh hikmat menyelimuti kediaman Ibu Ritta ketika sekitar sepuluh umat dari berbagai usia berkumpul untuk mengikuti Renungan Bulan Katekese yang diadakan pukul 19.00 WIB. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian pembinaan iman yang dilaksanakan secara sederhana namun sarat makna, di tengah kehidupan umat yang rindu akan penguatan rohani.
Renungan malam itu berfokus pada tujuh bacaan Injil yang dikutip dari kitab Yohanes. Setiap bacaan menyentuh tema-tema mendalam seputar pengharapan, kesetiaan, relasi personal dengan Tuhan, serta makna persekutuan dalam iman.
Berikut urutan bacaan yang direnungkan:
Pengharapan(Yohanes 6:56) – “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”
Setia pada Yesus(Yohanes 6:68) – “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.”
Dekat dan Lekat dengan Tuhan(Yohanes 10:29-30) – “Aku dan Bapa adalah satu.”
Pintu Menuju Keselamatan(Yohanes 10:9) – “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat.”
Beriman dengan Berelasi(Yohanes 15:9) – “Tinggallah di dalam kasih-Ku.”
Beriman dalam Persekutuan(Yohanes 13:20) – “Barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku.”
Setiap kutipan Injil dibacakan secara bergantian oleh umat yang hadir, disertai permenungan singkat dan refleksi pribadi. Meski berlangsung dalam lingkup kecil, nuansa kebersamaan dan semangat untuk bertumbuh dalam iman begitu terasa.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang untuk merenungkan firman Tuhan, tetapi juga mempererat ikatan sebagai satu Tubuh Kristus. Dalam semangat communio, umat diajak untuk tidak hanya mengimani Yesus dalam hati, tetapi juga menghadirkan-Nya dalam kehidupan sehari-hari melalui kesetiaan dan kasih.
Renungan Bulan Katekese akan dilanjutkan kembali pada Senin, 19 Mei 2025 di tempat yang akan diumumkan kemudian.
Pada hari Kamis, 15 Mei 2025, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di rumah Bapak Bayu untuk melaksanakan Doa Rosario dan Katekese Mei yang bertemakan Menjadi Katolik. Meskipun hujan mengguyur dengan cukup deras, semangat umat untuk hadir dan berdoa bersama tetap tinggi. Tepat pukul 19.00, acara dimulai dengan penuh kekhusyukan.
Doa Rosario dipimpin oleh Ibu Wiwid yang dengan penuh penghayatan memandu setiap peristiwa Rosario. Para umat yang hadir mengikuti doa dengan khidmat, menyatukan hati dalam untaian doa kepada Bunda Maria. Hujan yang turun seakan menjadi latar alamiah yang menambah kehangatan dalam kebersamaan.
Setelah Doa Rosario, acara dilanjutkan dengan Katekese yang dibawakan oleh Bapak Heri. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Heri menjelaskan makna menjadi seorang Katolik yang sejati, termasuk pentingnya hidup dalam iman, harapan, dan kasih. Para umat yang hadir tampak antusias mendengarkan dan berdiskusi, menambah wawasan tentang penghayatan iman Katolik.
Acara ini dihadiri oleh 12 orang umat yang dengan penuh semangat dan sukacita mengikuti seluruh rangkaian doa dan katekese. Walaupun cuaca kurang bersahabat, kekhusyukan doa dan kebersamaan yang terjalin tidak berkurang sedikit pun.
Pertemuan ditutup dengan doa bersama, memohon berkat dan perlindungan Tuhan bagi seluruh umat Lingkungan Santo Petrus. Semoga semangat berdoa dan memperdalam iman semakin tumbuh dalam setiap hati umat.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo