Doa Rosario IV Lingkungan Santo Petrus

Pada hari Kamis, 23 Oktober 2025, umat Lingkungan Santo Petrus kembali berkumpul untuk melaksanakan Doa Rosario IV di rumah Ibu Dewi. Doa dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Ibu Mery sebagai pemimpin doa. Meskipun hujan turun sepanjang sore hingga malam hari, semangat umat untuk berdevosi kepada Santa Perawan Maria tidak berkurang. Tercatat 14 orang umat hadir dan bersama-sama menghaturkan doa dengan penuh khidmat.

Suasana doa berlangsung hening, hangat, dan penuh kekeluargaan. Setiap umat mendaraskan Salam Maria sambil memohon berkat, perlindungan, dan bimbingan Tuhan, khususnya bagi keluarga, masyarakat, Gereja, serta bangsa dan negara. Hujan yang turun justru semakin menghadirkan suasana teduh, seakan menjadi simbol turunnya rahmat dan penyertaan Tuhan di tengah umat-Nya.

Melalui peristiwa-peristiwa dalam Rosario, umat diajak kembali merenungkan kasih Allah yang besar melalui Sang Putra, Yesus Kristus, dan meneladani kerendahan hati Bunda Maria dalam ketaatan kepada kehendak Tuhan. Doa Rosario ini juga menjadi sarana umat untuk saling meneguhkan dan mempererat persaudaraan sebagai satu keluarga Allah.

Acara ditutup dengan doa penutup dan dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana. Umat kemudian kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang damai, berharap agar kasih dan terang Tuhan senantiasa tinggal dalam keluarga dan kehidupan sehari-hari.

Semoga doa Rosario ini semakin menumbuhkan iman, harapan, dan kasih di tengah umat Lingkungan Santo Petrus. Salam damai Kristus dan Ave Maria

“Harmoni Muda di Misa Konvensi Nasional”


Harmoni Pembuka di Bawah Naungan Para Gembala

Malam itu, Ballroom The Rich Hotel Jogja bertransformasi menjadi sebuah tempat kudus yang megah, menjadi saksi bisu dimulainya sebuah perjalanan rohani. Seluruh umat berkumpul, menyambut Konvensi Nasional XV yang diselenggarakan oleh Badan Pelayanan Pembaharuan Karismatik Katolik (BPPKK).

Di tengah suasana yang sarat kekhidmatan itu, kelompok paduan suara dan Pemusik Muda GMBA tampil memukau. Dengan suara yang terlantun indah dan teratur, mereka bukan sekadar pengisi acara, melainkan petugas koor yang menghidupkan liturgi, menuntun hati setiap hadirin untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri iman. Setiap nada yang mereka bawakan terasa mengalun lembut, memeluk jiwa dan mempersiapkan hati untuk Perayaan Ekaristi Pembukaan.

Perayaan kemuliaan semakin terasa lengkap dengan kehadiran para Gembala Gereja. Perayaan Ekaristi tersebut dipengaruhi oleh kehadiran yang luar biasa, yakni lima Uskup dari berbagai Keuskupan di seluruh Indonesia, didampingi oleh lebih dari sepuluh Romo yang berdiri sebagai pelayan Kristus.

Puncak kekhidmatan terjadi saat Perayaan Ekaristi agung yang dipimpin langsung oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko, yang bertindak sebagai Selebran Utama. Di sekeliling altar, bersama Uskup-uskup lainnya, beliau memimpin umat dalam perayaan kurban Kristus yang mulia. Kolaborasi imam-imam tersebut menciptakan sebuah momen persatuan Gereja yang tak terlupakan, menjadi penanda suci dan penuh berkah bagi dimulainya Konvensi Nasional XV.

Sungguh, itu adalah malam pembukaan yang diselimuti harmoni ilahi, di mana pelayanan musik PMG bertemu dengan kehadiran para Uskup, menjadikan Konvensi Nasional ini resmi dimulai dalam naungan doa dan berkat Tuhan.

Pengurus Dewan Stasi GMBA Ikuti Temu Pastoral Keuskupan Agung Semarang 2025

“Mendalami ARDAS IX Tahun 2026–2030”


Pada hari Jumat, 17 Oktober 2025, para pengurus Dewan Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) mengikuti kegiatan Temu Pastoral (TEPAS) Keuskupan Agung Semarang secara daring. Kegiatan yang berlangsung di gazebo GMBA ini dimulai pukul 18.30 hingga 21.30 WIB, dengan semangat kebersamaan dan keterbukaan untuk mendalami arah dasar pastoral (ARDAS) Keuskupan yang baru.

Tema TEPAS tahun ini adalah “Mendalami ARDAS IX Tahun 2026–2030”, yang menghadirkan dua narasumber utama:

  • Romo YR Edy Purwanto, Pr., dan
  • Bapak Triwanggono,
    serta dimoderatori oleh Romo P. Bambang Irawan, SJ.

Melalui pertemuan ini, para peserta diajak untuk memahami lebih dalam latar belakang tema ARDAS, menerima pengayaan pastoral, dan melihat harapan capaian lima tahun ke depan bagi seluruh umat di wilayah Keuskupan Agung Semarang.

Kegiatan TEPAS diikuti secara daring oleh berbagai elemen Gereja, termasuk Dewan Konsultor, Dewan Moneter, Dewan Keuskupan, Dewan Imam, Dewan Pastoral KAS, Kevikepan, Paroki, dan Stasi pleno, serta komunitas religius dan seminari di KAS.

Bagi pengurus Dewan Stasi GMBA, kesempatan ini menjadi momen penting untuk menyatu dalam visi pastoral Keuskupan, memperdalam semangat sinodalitas, dan meneguhkan panggilan pelayanan di tengah umat. Dalam suasana doa dan refleksi bersama, para pengurus menyadari bahwa setiap langkah pelayanan Gereja harus berakar pada cinta Allah dan terarah pada kesejahteraan umat — sebagaimana semangat ARDAS yang akan menuntun perjalanan Gereja lima tahun ke depan.

Gereja Katolik Turut Memperingati Hari Pangan Sedunia

GMBA Hadirkan Ungkapan Syukur Lewat Hasil Bumi


Gereja Katolik senantiasa mengajak umat beriman untuk bersyukur atas anugerah ciptaan Tuhan, termasuk pangan yang menopang kehidupan manusia. Dalam semangat Laudato Si’ dan kasih terhadap bumi, Gereja turut memperingati Hari Pangan Sedunia, sebagai ungkapan syukur sekaligus ajakan untuk semakin peduli pada keberlanjutan alam dan kesejahteraan sesama.

Di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), semangat ini diwujudkan secara sederhana namun penuh makna. Tata altar dan hiasan di sekitar gereja pada hari Minggu ini dihiasi dengan hasil bumi — buah-buahan, sayuran, dan aneka panenan alam yang segar dan indah. Semua itu menjadi simbol nyata syukur umat atas rezeki Tuhan yang melimpah, sekaligus tanda kesadaran bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga.

Tahun 1982, Konferensi Wali Gereja Indonesia (dahulu masih bernama Majelis Agung Wali Gereja Indonesia) mengambil bagian secara aktif dalam peringatan dan perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS), baik di tingkat nasional maupun keuskupan. Sejak saat itu, Gerakan HPS Gereja Katolik Indonesia menjadi salah satu bentuk aktualisasi iman kristiani dalam menghargai pangan yang sehat, memuliakan lingkungan hidup yang lestari, dan menghormati para petani yang menyediakan bahan pangan bagi kehidupan.

Secara khusus, peringatan HPS dalam Gereja Katolik Indonesia dijadikan sarana untuk membangkitkan solidaritas dan menghimpun daya umat, guna ikut mengatasi situasi rawan pangan yang masih terjadi di berbagai wilayah tanah air — yang kerap menimbulkan penderitaan bagi masyarakat kecil.

Gerakan HPS Gereja Katolik berangkat dari iman yang dirayakan dan diwujudkan dalam realitas dunia. Dunia ini sesungguhnya adalah tempat di mana Allah, manusia, dan ciptaan lain disatukan oleh Roh Allah sendiri — sumber kehidupan yang memelihara dan menjaga keberlangsungan ciptaan. Melalui kontemplasi atas realitas ini, manusia dipanggil untuk menemukan dan menyadari cinta Allah yang hadir dalam diri sesama dan seluruh ciptaan.

Iman inilah yang menjiwai pelayanan Gereja dalam Gerakan HPS — iman yang peduli pada kecukupan, ketersediaan, dan keberlangsungan pangan yang sehat bagi hidup manusia. Dengan semangat itu, Gereja diharapkan mampu menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam tata kelola pangan di dunia, sebagai wujud nyata kasih dan penyelenggaraan Ilahi bagi seluruh ciptaan.

Melalui peringatan Hari Pangan Sedunia, umat GMBA diajak untuk bersyukur, berbagi, dan semakin mencintai bumi yang menjadi sumber kehidupan — sebagaimana Bunda Maria, yang dengan kesederhanaannya selalu menyimpan segala karya Allah dalam hati, dan menghadirkannya dalam kasih yang memberi hidup.

Kegiatan Jaga Kantin di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Kegiatan jaga kantin GMBA ini merupakan salah satu program dari paguyuban ibu-ibu stasi Maguwo. Program ini bertujuan untuk mendukung pelayanan umat melalui pengelolaan kantin gereja yang bersih, tertib, dan ramah, serta menjadi sarana kebersamaan dan gotong royong antar ibu-ibu lingkungan. Selain itu, hasil dari kegiatan kantin dapat digunakan untuk membantu kegiatan sosial maupun kebutuhan gereja.

Pada bulan Oktober, Lingkungan St. Gabriel mendapat giliran untuk menjaga kantin gereja. Sebagai bentuk koordinasi dan tanggung jawab, ketua paguyuban ibu lingkungan telah menyusun jadwal penjaga kantin untuk setiap minggu selama bulan Oktober, agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan baik dan teratur.

Setiap petugas hari Minggu diharapkan melakukan pembersihan meja dan ruang kantin pada hari Sabtu sebelumnya, sehingga pada hari Minggu pagi kantin sudah dalam keadaan bersih dan siap digunakan untuk berjualan.

Petugas hari Minggu diharapkan sudah standby di kantin pukul 05.30 pagi untuk menerima titipan dari para supplier. Para supplier ini berasal dari umat gereja maupun masyarakat sekitar yang berpartisipasi dalam sistem titip jual. Dalam sistem ini, supplier memberikan harga titip, kemudian petugas kantin menetapkan harga jual kepada pembeli. Keuntungan diperoleh dari selisih harga jual dan harga titip tersebut.

Setelah masa tugas satu bulan selesai, keuntungan hasil penjagaan kantin dibagi dengan ketentuan:

  • Sebagian disetor ke Paguyuban Ibu Stasi, sebagai bentuk dukungan untuk kegiatan bersama.
  • Sisanya dimasukkan ke kas Ibu Lingkungan St. Gabriel, untuk menunjang kegiatan lingkungan.

Kegiatan ini menjadi sarana pelayanan, kebersamaan, serta wujud partisipasi aktif ibu-ibu lingkungan dalam mendukung kegiatan dan kebutuhan gereja.

Workshop Pemantapan Sistem Keamanan Gereja Katolik

Oleh Tim PAMDAL GMBA – 19 Oktober 2025


Dalam semangat pelayanan dan tanggung jawab menjaga ketertiban di rumah Tuhan, Tim PAMDAL Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) melaksanakan program kerja tahun 2025 berupa Workshop Pemantapan Sistem Keamanan Gereja Katolik di GMBA dan Gereja se-DIY, pada Minggu, 19 Oktober 2025, pukul 10.00 WIB.

Acara ini berada di bawah tanggung jawab Bapak Antonius Sumaryanto, seorang purnawirawan TNI AD dari kesatuan Kopassus, yang dalam karier militernya lebih banyak berkecimpung di BNPT ( Badan Nasional Penenggulangan Terorisme ). Dengan pengalaman dan kedisiplinan yang telah teruji, beliau menjadi figur penting yang menuntun Tim PAMDAL GMBA untuk membangun sistem keamanan yang tangguh, tertata, dan berwawasan pelayanan.

Kegiatan ini menghadirkan AM. Bebet Darmawan beserta timnya sebagai pemateri. Turut hadir pula Tim Keamanan PAMDAL GMBA, empat ketua wilayah GMBA, Ketua Forum Keamanan Vikep Timur, Ibu Elisabeth (Ibu Elis), serta tamu undangan dari Tim Keamanan Gereja Babarsari dan Nandan.

Dalam suasana yang disiplin dan penuh semangat, narasumber menjelaskan pentingnya sistem keamanan yang terencana, sigap, dan terlatih. Paparan diawali dengan gambaran mengenai sistem keamanan di Roma dalam pengawalan Sri Paus, yang menjadi inspirasi bagi sistem keamanan di lingkungan gereja lokal. Para peserta diajak untuk memahami bagaimana profesionalisme, kerahasiaan, dan kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menjaga ketenangan jalannya ibadah.

Bagian yang paling menarik adalah saat tim dari Pak Bebet – Mas Doni dan Mas Satria – memimpin sesi simulasi lapangan. Dengan gaya pelatihan yang tegas namun tetap humanis, mereka memperagakan berbagai situasi darurat: mulai dari penanganan terhadap orang yang masuk gereja membawa senjata tajam, hingga teknik melumpuhkan pelaku dengan aman tanpa membahayakan umat. Suasana aula terasa intens, namun penuh rasa hormat akan tanggung jawab mulia menjaga keamanan umat yang sedang beribadah.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman teknis dan taktis, tetapi juga menumbuhkan jiwa kedisiplinan dan pelayanan di antara seluruh anggota PAMDAL. Dengan semangat semi-militer yang terarah pada kasih dan ketertiban, seluruh peserta menyadari bahwa keamanan gereja bukan hanya urusan fisik, tetapi juga bentuk nyata dari pelayanan dan perlindungan terhadap Tubuh Kristus yang hidup dalam umat-Nya.

Melalui workshop ini, Tim PAMDAL GMBA semakin diteguhkan dalam panggilannya.

Saat Nada Menjadi Doa: Cantores GMBA dalam Panggung Grego Julius Orchestra


Sabtu, 18 Oktober 2025, menjadi malam penuh kemuliaan dan sukacita bagi dunia musik rohani Katolik di Yogyakarta. Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma menjadi saksi hadirnya harmoni agung dalam konser Grego Julius Orchestra bertema “Simfoni bagi Sang Pencipta, Saat Nada Menjadi Doa.”

Di tengah gemerlap cahaya dan alunan orkestra yang megah, Tim Cantores Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) tampil dengan penuh percaya diri dan penghayatan mendalam. Suara mereka berpadu indah bersama orkestra dan paduan suara lain seperti Mary Ignacio Choir, Swara Sekawan, Kidung Tyas Dalem, Vox Norte, dan Duta Voice — membentuk satu persembahan rohani yang menyentuh hati.

Bagi Cantores GMBA, malam itu bukan sekadar sebuah penampilan. Itu adalah puncak dari perjalanan panjang, latihan demi latihan, doa demi doa yang mereka jalani dengan setia. Di bawah bimbingan mas FX. Kristanto Nugroho, tim ini menempuh proses latihan yang penuh disiplin dan semangat, demi mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.

Kesempatan berharga ini lahir berkat peran mas Antonius Henri Yulianto, salah satu arranger lagu-lagu karya pak Grego Julius, yang mengajukan nama Cantores Maguwo (CM) untuk turut ambil bagian dalam konser besar ini. Sebuah langkah yang tidak hanya membawa nama Gereja Maguwo ke panggung luas, tetapi juga memperlihatkan bahwa pelayanan musik liturgi dapat menjadi wujud kesaksian iman yang menginspirasi.

Di balik penampilan yang menggetarkan hati itu, berdirilah para penyanyi luar biasa yang membentuk tubuh paduan suara Cantores GMBA:

Sopran: Mia, Nining, Ipuk, Yulia, Rospita, Purna, Amy, Woro, Yuliana, dan Vera.
Alto: Ismawan, Dyah, Lusi, C. Supartini, Flaviana, dan Endang.
Tenor: Tri Mulyono, Danang, Heru, dan Donny.
Bass: Rinto, Wiwid, Bani, Teguh, Reno, Henry, dan Kristanto.

Mereka semua adalah bagian dari keluarga besar Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo yang mempersembahkan talenta mereka bagi Tuhan, bukan untuk kemegahan pribadi, tetapi untuk kemuliaan nama-Nya.

Ketika suara Cantores GMBA mengalun di ruang auditorium yang megah, setiap nada terasa membawa pesan: bahwa musik gerejawi bukan sekadar seni, melainkan doa yang hidup. Suara-suara yang terlatih dan hati-hati yang berapi-api berpadu dalam harmoni yang memuliakan Sang Pencipta. Banyak penonton yang terdiam, larut dalam keindahan musik yang begitu sakral dan menggetarkan jiwa.

Penampilan Cantores GMBA malam itu menjadi buah dari ketekunan, persaudaraan, dan semangat pelayanan. Mereka tidak hanya tampil mewakili sebuah komunitas, tetapi juga membawa wajah Gereja yang penuh kasih, muda, dan bersukacita.

Misa Lansia: Tetap Bersukacita dan Berpengharapan di Masa Tua


Pagi yang teduh menyelimuti Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo ketika lonceng misa belum lagi berdentang. Di antara desir angin dan cahaya matahari yang lembut, satu per satu umat lanjut usia mulai berdatangan. Ada yang berjalan tegap dengan langkah mantap, ada yang perlahan dengan tongkat di tangan, dan ada pula yang didorong dengan kursi roda oleh keluarga tercinta. Semua datang dengan hati yang sama: rindu akan perjumpaan dengan Kristus dalam Ekaristi Kudus.

klik to play

Tepat pukul 08.00, suasana gereja sudah terasa hidup dalam hening doa. Tim Pelayanan Legio Maria memimpin Doa Rosario, membuka hari dengan permenungan yang lembut tentang kasih Bunda Maria yang senantiasa menyertai umat-Nya. Setelah itu, umat bersiap menyambut Perayaan Ekaristi Lansia yang diprakarsai oleh Tim PIUL (Pelayanan Iman Umat Lansia) — sebuah bentuk perhatian dan pendampingan Gereja bagi para umat usia lanjut agar tetap hidup dalam kasih dan semangat iman.

Perayaan Misa dimulai pukul 08.50, dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Sebelum Liturgi Ekaristi dimulai, umat terlebih dahulu berdoa Doa Pembangunan Gereja Paroki St. Maria Marganingsih Kalasan, memohon agar setiap batu dan tenaga yang terlibat menjadi persembahan bagi kemuliaan Tuhan. Doa ini kemudian disusul dengan lagu medley dan lagu pembukaan “Hidup Cerah” yang dibawakan oleh kelompok koor PMG (Pemusik Muda Gereja) Stasi Maguwo, menandai awal perayaan dengan sukacita yang sederhana namun penuh makna.

Tema yang diangkat dalam Misa kali ini “Hidup dalam Sukacita dan Pengharapan di Masa Lansia” — seakan menggema dalam setiap wajah yang hadir. Di usia yang mungkin tak lagi muda, para lansia tetap menunjukkan bahwa iman tidak mengenal batas usia. Dalam khotbahnya, Romo Dadang dengan sapaan hangat dan gaya khasnya mengajak umat untuk meneladani semangat para murid dalam Injil Lukas 10:1–12, ketika Yesus mengutus tujuh puluh murid untuk mewartakan damai.

“Bagi para lansia,” ujar Romo, “pewartaan itu tidak harus dilakukan dengan langkah kaki yang jauh, tetapi dengan ojo ningalake Gusti Yesus — jangan pernah meninggalkan Tuhan Yesus. Biarlah hidup kita menjadi kesaksian bagi anak, cucu, dan sesama, agar mereka melihat kasih Allah melalui kelembutan hati dan kesetiaan kita.”

Suasana khidmat terasa ketika umat menerima Sakramen Ekaristi. Lagu “The Majesty” mengiringi langkah para prodiakon yang membagikan Tubuh Kristus kepada setiap umat dengan penuh hormat. Di tengah keterbatasan fisik, para lansia tetap mengulurkan tangan, menerima dan menyambut Sang Penyelamat dengan hati yang bersyukur.

Menjelang akhir perayaan, umat menerima berkat penutup dari Romo Dadang, disertai lagu “Yubelium” yang dinyanyikan dengan penuh semangat. Wajah-wajah yang telah renta tampak bercahaya—bukan karena muda kembali, melainkan karena dipenuhi oleh sukacita iman yang tidak lekang oleh waktu.

Usai misa, suasana keakraban mewarnai pelataran gereja. Ada yang saling menyapa setelah lama tak bertemu, ada pula yang hanya tersenyum dari kejauhan sambil menggenggam tangan satu sama lain. Dalam perjumpaan sederhana itu, kasih persaudaraan Gereja sungguh terasa nyata.

Dari data yang dihimpun, 215 umat lansia terdaftar mengikuti misa ini, dengan total kehadiran umat sekitar 280 orang. Satu jam yang singkat terasa begitu penuh rahmat—menjadi ruang di mana Gereja memberi tempat istimewa bagi mereka yang telah lama berjuang dalam iman, agar tetap setia, tetap bersyukur, dan tetap bersukacita dalam pengharapan kepada Tuhan.

Di masa ketika tubuh mungkin tak lagi sekuat dulu, Tuhan justru menghadirkan kesempatan untuk memancarkan kasih-Nya dengan cara yang lebih lembut—melalui senyum, doa, dan kesetiaan dalam iman. Sebab sukacita sejati tidak datang dari kekuatan fisik, melainkan dari hati yang tetap bersandar pada Tuhan, sumber pengharapan yang tak pernah pudar.

Doa Rosario III Lingkungan Santo Petrus

Pada hari Kamis, 16 Oktober 2025, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di rumah Ibu Dewi untuk melaksanakan doa Rosario bersama. Ibadat yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dipimpin oleh Ibu Indrawati.

Walaupun jumlah umat yang hadir hanya 11 orang, suasana doa terasa sangat khusyuk dan penuh kedamaian. Setiap umat mendaraskan doa dengan penuh penghayatan, memohon berkat dan perlindungan Bunda Maria bagi keluarga serta seluruh anggota lingkungan.

Kebersamaan dalam doa malam itu menjadi wujud nyata iman dan semangat persaudaraan umat Lingkungan Santo Petrus. Melalui doa Rosario ini, umat diingatkan kembali akan pentingnya bertekun dalam doa, terutama di tengah kesibukan dan tantangan hidup sehari-hari.

Pertemuan ditutup dengan saling bertegur sapa dan rasa syukur atas kesempatan untuk berdoa bersama dalam kasih Kristus.

H-2 Menuju Konser Grego Julius Orchestra — Tim Cantores GMBA Siap Menggema


Dua hari menjelang konser Grego Julius Orchestra yang akan digelar pada 18 Oktober 2025 di Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, suasana latihan tim Cantores GMBA semakin terasa penuh semangat.
Setiap anggota mempersiapkan diri dengan sepenuh hati — menyatukan suara, menajamkan harmoni, dan menata dinamika, agar persembahan yang akan dibawakan menjadi indah dan bermakna.

Konser ini bukan sekadar panggung besar bagi musik dan orkestra, tetapi juga menjadi kesempatan bagi tim Cantores GMBA untuk mempersembahkan pujian dan pelayanan dalam bentuk seni suara. Dalam setiap nada dan bait lagu, tersimpan doa dan kerinduan untuk menghadirkan kehangatan, harapan, serta sukacita bagi semua yang hadir.

Latihan demi latihan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Di sela tawa, kesalahan kecil, dan semangat yang terus tumbuh, tampak jelas bahwa kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama Cantores GMBA. Setiap suara yang berpadu adalah simbol persaudaraan, kerja sama, dan cinta pelayanan yang tulus.

Squad Cantores GMBA siap mempersembahkan harmoni terbaiknya bersama Grego Julius Orchestra — bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk dihayati sebagai ungkapan iman dan syukur.

Dua hari lagi menuju panggung besar.
Dua hari lagi menuju malam yang akan menggetarkan hati.

Road to Show — Grego Julius Orchestra | 18 Oktober 2025 | Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta