Misa Lingkungan St. Antonius Padua Tahun 2025

Misa Lingkungan St. Antonius dilaksanakan pd hari Selasa 18 November 2025 pkl. 19.00-20.30 wib, bertempat di rumah keluarga Bpk/Ibu Albertus Arief Subyantoro. Misa dipimpin oleh Romo Murdi Susanto, Pr dg dihadiri kurang lebih 70 orang.
Misa dimulai dg ice breaking menyanyikan gerak dan lagu “Jalan Serta Yesus”. Setelah misa, menyanyikan lagu hymne St. Antonius dan “Bapa Surgawi”. Acara dilanjutkan dg pembagian kenang2an utk para penerima krisma sebanyak 5 org, foto bersama dan tanya jawab dg romo.
Acara ditutup dg makan malam bersama.

Perayaan Ekaristi
Pemberian kenang-kenangan para penerima Sakramen Krisma
Ramah-tamah dengan Romo paroki

Misa Lingkungan St. Gregorius Kadisoka: Momen Syukur yang Meneguhkan Iman Umat

Kadisoka, 17 November 2025 — Lingkungan St. Gregorius kembali mengadakan Misa Lingkungan pada Senin malam, 17 November 2025 pukul 19.00 WIB. Sekitar 70 umat, dari anak hingga lanjut usia, hadir memenuhi area misa dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur.

Rm. FX. Murdi Susanto Pr

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo FX. Murdi Susanto, Pr, imam dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Dalam homilinya yang diambil dari Injil Lukas 18:35–43, Romo Murdi menegaskan tentang iman yang memampukan seseorang melihat terang dan mengalami karya keselamatan Tuhan. Kisah penyembuhan seorang buta di pinggir jalan Yerikho menjadi ajakan bagi umat untuk semakin percaya, memohon, dan membuka hati pada karya kasih Allah dalam perjalanan kehidupan sehari-hari.

Misa berlangsung dengan khidmat

Homili tersebut juga mengingatkan umat bahwa mukjizat Tuhan kerap hadir ketika seseorang berani datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan kesederhanaan iman.

Misa dihadiri oleh berbagai usia

Sebelum misa ditutup, Gregorius Henry, selaku Ketua Lingkungan St. Gregorius, menyampaikan sambutan singkat. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran umat serta menegaskan pentingnya merawat kerukunan, keterlibatan aktif, dan semangat pelayanan. Ia berharap bahwa kegiatan misa lingkungan dapat terus mempererat tali persaudaraan dan menjaga kehangatan komunitas.

Sejumlah 70 umat hadir

Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan wawan hati dan ramah tamah dan diabadikan dengan foto bersama. Suasana hangat dan akrab tampak dalam perbincangan umat yang saling menyapa, berbagi cerita, hingga berdiskusi ringan mengenai kegiatan lingkungan yang akan datang. Momen kebersamaan ini menjadi ruang bagi umat untuk saling mengenal lebih dekat, memperkuat hubungan, dan membangun semangat keluarga besar St. Gregorius.

Umat kemudian pulang dengan hati gembira dan penuh syukur, membawa pulang semangat untuk terus bertumbuh dalam iman, kasih, dan pelayanan di tengah keluarga maupun masyarakat.

Menjalani Tahun Rahmat: Ziarah Porta Sancta Lingkungan Santo Paulus


Pada Minggu, 16 November 2025, umat Lingkungan Santo Paulus melaksanakan Ziarah Porta Sancta sebagai bagian dari perjalanan rohani untuk memperdalam iman dan mengalami kembali limpahan rahmat Allah dalam Tahun Yubileum. Ziarah ini diikuti oleh umat lingkungan bersama para Suster SSpS serta para Romo SVD, sehingga nuansa kebersamaan dan semangat misioner terasa sangat kuat sepanjang perjalanan.

Perhentian pertama adalah Kerkoff Muntilan, tempat para misionaris awal—khususnya para Jesuit—dimakamkan. Di lokasi bersejarah ini, umat diajak mengenang pengorbanan dan dedikasi para pewarta Injil yang telah menanamkan dasar iman Katolik di tanah Jawa. Suasana hening dan penuh hormat menjadi momen refleksi mendalam bagi para peserta.

Ziarah kemudian berlanjut ke Gereja Santo Ignatius Magelang, sebuah gereja tua yang kaya akan spiritualitas Ignasian. Di sini umat berdoa dan memohon kekuatan untuk menjalani hidup dengan semangat discernment serta tekad untuk mencari dan menemukan Allah dalam segala hal.

Perhentian ketiga adalah Gereja Maria Penasihat Baik di Wates, tempat yang menjadi puncak pengalaman rohani bagi peserta ziarah. Di gereja ini, umat terlebih dahulu mengikuti pengakuan dosa, sebuah kesempatan untuk memurnikan hati dan mengalami kembali kasih pengampunan Tuhan. Setelah itu, umat merayakan Perayaan Ekaristi bersama tiga romo SVD: Romo Ryan, Romo Sunday, dan Romo Salu. Misa berlangsung dalam suasana penuh syukur, hangat, dan membawa kedalaman rohani bagi seluruh peserta.

Ziarah ditutup dengan kunjungan ke Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, sebuah pusat devosi yang sangat dikenal di Keuskupan Agung Semarang. Umat berdoa dalam keheningan dan kedamaian khas Ganjuran, merasakan sentuhan kasih Tuhan yang menguatkan dan menyegarkan kembali semangat iman.

Perjalanan rohani ini menjadi pengalaman yang mempererat persaudaraan umat Lingkungan Santo Paulus, memperdalam relasi dengan Tuhan, serta menghadirkan sukacita sebagai Gereja yang senantiasa berjalan bersama. Semoga ziarah ini membuahkan pembaruan hidup dan menumbuhkan semangat pelayanan dalam keseharian.

“Meresapi Sabda Tuhan: Sarasehan Kitab Suci Umat GMBA 2025”


Timpel Kerasulan dan Kitab Suci GMBA kembali menyelenggarakan sebuah kegiatan pendalaman iman melalui Sarasehan Kitab Suci pada Minggu, 16 November 2025 bertempat di Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Acara ini menjadi ruang perjumpaan umat untuk menyelami Sabda Tuhan secara lebih mendalam dan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 43 peserta dari berbagai lingkungan ikut ambil bagian, menunjukkan antusiasme umat terhadap pembinaan rohani yang berkelanjutan. Sarasehan ini menghadirkan narasumber Fr. Bramanda R. K., yang membawa umat masuk ke dalam refleksi Kitab Suci secara hangat, komunikatif, sekaligus kaya wawasan.

Melalui pemaparan beliau, umat diajak mengenal kembali makna panggilan, pertobatan, dan misi hidup dalam terang Kitab Suci, serta bagaimana Sabda Tuhan terus menuntun umat untuk hadir sebagai pribadi yang membawa damai, kasih, dan sukacita di tengah komunitas.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi kesempatan belajar, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan antarumat dari lingkungan-lingkungan di wilayah GMBA. Sarasehan diharapkan menjadi langkah awal hadirnya pembinaan Kitab Suci yang semakin rutin, kreatif, dan relevan bagi umat.

Rekoleksi Keluarga Katolik: Membangun Keluarga yang Tangguh, Bersukacita dalam Iman dan Kasih


Hari Minggu, 9 November 2025, menjadi hari yang penuh berkat bagi umat Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, khususnya bagi keluarga-keluarga Katolik yang hadir mengikuti kegiatan Rekoleksi Keluarga Katolik dengan tema besar “Keluarga Katolik yang Tangguh Bersukacita dalam Iman dan Kasih.”

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Pelayanan Keluarga Pastoral Stasi GMB Maguwo dan dihadiri oleh 80 peserta dari 17 lingkungan yang ada di wilayah Maguwo. Rekoleksi ini dipandu oleh Romo Yeremias Balapitu Duan, MSF, dari Paroki Santa Maria Gubug, Grobogan – Purwodadi, seorang imam yang selama ini dikenal penuh semangat dan dekat dengan umat.

Menimba Kekuatan dari Spirit Keluarga Kudus Nazaret

Rekoleksi ini menjadi saat berharga bagi para keluarga untuk berhenti sejenak dari rutinitas kehidupan, menata ulang hati, dan menimba kembali semangat hidup dalam terang kasih Allah. Dalam suasana doa dan kebersamaan yang hangat, Romo Yeremias mengajak para peserta merenungkan makna mendalam tentang keluarga yang tangguh — keluarga yang berakar pada iman, pengharapan, dan kasih.

Dalam pemaparannya, Romo Yeremias menegaskan bahwa keluarga Katolik yang tangguh bukan berarti keluarga tanpa persoalan, melainkan keluarga yang mampu menghadapi setiap tantangan dengan iman dan pengharapan kepada Tuhan.
Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang menjadikan nilai-nilai Injil sebagai dasar hidup bersama, saling menopang dalam suka dan duka, serta meneladani Keluarga Kudus Nazaret — Yesus, Maria, dan Yosef — sebagai model keluarga yang setia, sederhana, dan penuh kasih.

Romo juga menekankan bahwa keluarga Katolik harus menjadi sumber sukacita di tengah dunia yang sering kali dilanda kekhawatiran dan perpecahan. “Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang mampu tetap bersukacita meskipun berada dalam dukacita. Mereka tidak larut dalam kesulitan, tetapi justru menjadi pembawa pengharapan dan kekuatan bagi keluarga lain yang sedang bergumul,” tutur Romo Yeremias dengan penuh semangat.

Membangun Relasi yang Sehat dan Penuh Kasih

Selain penguatan rohani, sesi rekoleksi ini juga menyoroti pentingnya membangun relasi yang sehat dalam keluarga, terutama antara suami dan istri. Melalui kisah, refleksi, dan tanya jawab, para peserta diajak untuk menilai kembali bagaimana komunikasi, kejujuran, dan kesetiaan dijaga dalam keseharian hidup berkeluarga.

Romo Yeremias mengingatkan bahwa kasih sejati tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari — dalam saling mendengarkan, saling memaafkan, dan saling menopang dalam kelemahan.

“Relasi yang kuat antara suami dan istri adalah fondasi bagi ketahanan keluarga. Ketika pasangan saling menghormati dan terbuka, anak-anak pun tumbuh dalam suasana kasih yang sehat dan penuh damai,” tegasnya.

Sukacita, Tawa, dan Gerak Bersama

Suasana rekoleksi yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB terasa hidup dan penuh sukacita. Tidak hanya sesi refleksi, acara ini juga diwarnai dengan gerak dan lagu, permainan ringan, serta dinamika kelompok yang menumbuhkan keakraban antar keluarga.
Tawa dan semangat kebersamaan terdengar di seluruh ruang gereja, menciptakan suasana hangat yang mencerminkan kasih Kristus yang hidup di tengah umat-Nya.

Banyak peserta mengaku merasa diteguhkan dan disegarkan kembali. “Rekoleksi ini membuat kami sadar bahwa keluarga kami tidak sendiri. Kami belajar untuk saling menguatkan dan percaya bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap perjalanan keluarga,” ujar salah satu peserta dengan penuh rasa syukur.

Puncak Rekoleksi: Perayaan Ekaristi Kudus

Sebagai puncak dan penutup rekoleksi, seluruh peserta mengikuti Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin langsung oleh Romo Yeremias Balapitu Duan, MSF. Dalam homilinya, beliau mengajak setiap keluarga untuk menjadikan pengalaman rekoleksi ini sebagai titik awal pembaruan hidup rohani dan keluarga.

“Jadilah keluarga yang membawa terang dan sukacita bagi sesama. Jangan takut menghadapi badai hidup, karena Tuhan sendiri yang akan meneguhkan langkah-langkah keluarga kita,” pesan Romo dalam homili penutupnya.

Misa penutupan berlangsung khidmat dan penuh haru, diiringi dengan doa persembahan keluarga yang melambangkan penyerahan diri dan kasih setia kepada Allah.

Peneguhan dan Harapan

Melalui kegiatan ini, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo berharap agar setiap keluarga semakin menyadari panggilan sucinya: menjadi rumah iman, sekolah kasih, dan ladang kesetiaan. Keluarga yang tangguh bukanlah yang sempurna, tetapi yang setia saling meneguhkan dalam iman dan kasih Kristus.

Semoga semangat rekoleksi ini terus hidup di hati setiap peserta, dan setiap keluarga Katolik semakin kuat dalam menghadapi tantangan zaman — menjadi saksi kasih Allah yang hidup di tengah dunia.


Pelatihan Kerasulan Awam(menjadi garam dan terang dunia)

Pelatihan Kerasulan Awam ini diselenggarakan pada Sabtu, 8 November 2025, bertempat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwoharjo. Acara ini ditujukan khusus bagi Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Pengurus Lingkungan yang akan mengemban tugas pelayanan selama periode 2026-2028.​Momentum ini krusial sebagai titik tolak spiritual dan strategis, di mana para pemimpin komunitas dibekali untuk mengimplementasikan visi Gereja di tingkat basis, berlandaskan seruan Injil Matius 5:13-16: “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia.”

​Sdr. Danang Afriadi berperan sebagai Fasilitator dan Moderator utama. Keahlian beliau dalam komunikasi publik dan pengembangan komunitas menjadi kunci dalam menjembatani materi teologis yang mendalam dengan diskusi praktis dan terarah. Danang Afriadi bertanggung jawab memastikan alur pelatihan berjalan efektif, interaktif, dan menghasilkan komitmen aksi yang jelas dari para peserta, Sdr. A.M. Bebet Dermawan adalah narasumber utama yang memberikan pondasi teologis dan strategis. Sebagai seorang awam yang matang dalam spiritualitas dan kepemimpinan pastoral, Bebet Dermawan dikenal mampu membongkar Makna Kerasulan Awam dan merumuskan Panjang Strategi pelayanan yang berakar pada iman Katolik serta relevan dengan tantangan pastoral.

​Sesi yang dibawakan oleh Sdr. A.M. Bebet Dermawan memfokuskan pada Makna Kerasulan Awam, sebagai dasar untuk mencegah pelayanan menjadi hambar atau tersembunyi.​Garam (Sal): Kualitas Internal dan Integritas.​Makna Teologis: Garam adalah lambang perjanjian, pemurnian, dan pelestarian. Ini menuntut para pemimpin awam memiliki integritas diri dan kedalaman spiritual yang otentik, yang mengalir dari Sakramen. Pelayanan yang sejati adalah kesaksian hidup yang berkualitas.​Implementasi: Garam ini harus terasa dalam transparansi pengelolaan dana lingkungan dan kejujuran dalam berinteraksi, menciptakan kepercayaan umat.​Terang (Lux): Keterlibatan dan Kesaksian Eksternal.​Makna Pastoral: Terang harus diletakkan di atas kaki dian. Ini adalah tuntutan untuk keterlibatan aktif di tengah masyarakat (sekolah, pekerjaan, sosial-politik) yang dapat menerangi kegelapan ketidakadilan atau keacuhan.​Implementasi: Menjadi Terang berarti berani bersuara untuk kebenaran dan keadilan, serta memimpin dengan teladan etis di ranah publik (RT/RW), sejalan dengan cita-cita Gereja yang MENGINSPIRASI.

​Pelatihan ini membekali para pemimpin Paroki Maria Bunda Allah Maguwoharjo dengan Makna teologis dan Panjang strategi yang diperlukan untuk mewujudkan Kerasulan Awam yang hidup dan berdampak. Dengan komitmen sinergi, para Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Pengurus Lingkungan diutus untuk menjadi Garam dan Terang Dunia yang sesungguhnya.

Ziarah Porta Sancta & Rekreasi Lingkungan St. Gregorius

Kadisoka, 9 November 2025 – Sebanyak 39 umat dari Lingkungan St. Gregorius, Kadisoka, mengikuti kegiatan Ziarah Porta Sancta dan Rekreasi yang berlangsung penuh sukacita dan kebersamaan. Tujuan ziarah kali ini adalah Goa Maria Tritis di Gunungkidul dan dilanjutkan dengan rekreasi di Pantai Indrayanti.

Perjalanan dimulai sejak pagi hari dengan semangat doa dan kebersamaan. Setibanya di Goa Maria Tritis, para peserta mengikuti Ibadat Jalan Salib yang dipandu dengan khusyuk. Suasana alam di sekitar goa yang sejuk dan rindang menambah kekhusyukan doa. Cuaca juga sangat mendukung — tidak panas dan tidak hujan — sehingga seluruh rangkaian doa dapat dijalani dengan nyaman dan penuh makna.

Rombongan Sampai di Goa Maria Tritis

Goa Maria Tritis, yang dikenal sebagai tempat ziarah dengan nuansa alami dan tenang, menjadi momen perhentian batin bagi banyak peserta. Di sanalah umat diajak merenungkan perjalanan iman serta mengucap syukur atas kasih Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Jalan Salib

Usai menunaikan ziarah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Indrayanti. Meskipun sempat mengalami sedikit kemacetan di perjalanan, semangat peserta tetap tinggi. Setibanya di pantai, suasana berubah menjadi penuh keceriaan. Dengan pasir putih yang lembut, bibir pantai yang luas, dan air laut biru cemerlang, umat menikmati waktu kebersamaan sambil bercengkerama dan berfoto bersama.

Rekreasi di Pantai Indrayanti

Hari itu menjadi perpaduan indah antara ziarah rohani dan rekreasi persaudaraan. Semua peserta kembali ke Kadisoka dengan hati gembira dan penuh syukur, karena seluruh perjalanan berjalan dengan lancar dan selamat.

Melalui kegiatan ini, umat Lingkungan St. Gregorius semakin dipersatukan dalam semangat iman, persaudaraan, dan sukacita Kristiani — berjalan bersama menuju kasih Tuhan yang melimpah.

Penutupan Bulan Rosario, Bersatu Dalam Doa dan Syukur

Selama bulan Oktober, umat di berbagai lingkungan telah melaksanakan doa Rosario secara rutin. Setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus bersama Bunda Maria, sekaligus mempererat tali persaudaraan antarumat.

“Bersama Maria, kita diajak untuk terus bertekun dalam doa dan percaya akan penyertaan Tuhan dalam hidup kita.”

Makna Doa Rosario

Doa Rosario bukan sekadar rangkaian doa yang diulang-ulang, melainkan sebuah perjalanan iman yang membawa kita merenungkan misteri kehidupan Yesus Kristus bersama Bunda Maria.

  1. Doa yang Membawa Kita Dekat dengan Kristus

Melalui setiap peristiwa (misteri) dalam Rosario—sukacita, dukacita, kemuliaan, dan terang—kita diajak untuk memusatkan hati pada Yesus, merenungkan karya keselamatan-Nya dari kelahiran hingga kebangkitan.

  1. Maria sebagai Pendamping Doa

Dengan mendoakan Rosario, kita meneladani Bunda Maria yang setia merenungkan sabda Allah dalam hatinya (bdk. Lukas 2:19). Ia menjadi teladan bagi umat beriman untuk selalu percaya dan taat pada kehendak Tuhan.

  1. Doa yang Membawa Kedamaian

Rosario sering disebut sebagai “senjata rohani”. Santo Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai doa yang membawa damai bagi hati, keluarga, dan dunia. Saat Rosario didaraskan dengan iman dan kasih, hati menjadi lebih tenang dan damai.

  1. Ungkapan Kasih dan Syukur

Setiap butir Rosario adalah persembahan kasih kepada Bunda Maria sebagai ungkapan syukur atas penyertaannya dan perantaraan doanya bagi Gereja serta umat manusia.

  1. Doa yang Mengikat Umat dalam Persaudaraan

Ketika Rosario didoakan bersama-sama — baik di keluarga, lingkungan, atau komunitas — kita diajak untuk hidup dalam kebersamaan, saling mendoakan, dan memperkuat iman satu sama lain.


“Marilah kita bertekun dan sehati dalam doa bersama-sama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus.”
Kisah Para Rasul 1:14

Dengan semangat yang sama, umat Stasi Maguwo berkomitmen untuk terus meneladani Bunda Maria dalam kehidupan sehari-hari — hidup yang penuh doa, rendah hati, dan setia kepada kehendak Allah.

Senam Sehat GMBA : Sehat, Semangat, dan Penuh Sukacita di Halaman Belakang GMBA


Sabtu pagi, 8 November 2025, suasana halaman belakang Gereja Maria Bunda Allah Maguwo tampak begitu hidup dan ceria. Peserta senam dari berbagai lingkungan berkumpul untuk mengikuti Senam sehat GMBA, sebuah kegiatan rutin yang menjadi sarana menjaga kesehatan tubuh sekaligus mempererat persaudaraan antarumat.

Dengan dipandu oleh pak Koesno yang penuh semangat, para peserta mengikuti setiap gerakan dengan antusias. Tawa dan canda ringan mengalir di antara mereka, menciptakan suasana akrab dan hangat. dengan penuh semangat mereka tetap muda di hati—menjadi teladan bagi semua generasi tentang pentingnya merawat tubuh sebagai anugerah Tuhan.

Kegiatan senam ini tidak hanya bertujuan menyehatkan jasmani, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur dan kebersamaan dalam komunitas gereja. Di akhir acara, para peserta saling berbagi cerita, menikmati waktu santai bersama, dan meneguhkan komitmen untuk terus hidup aktif, sehat, dan bahagia dalam kasih Tuhan.

Semoga semangat bapak dan ibu GMBA ini menjadi inspirasi bagi seluruh umat untuk terus menjaga kesehatan, mempererat persaudaraan, dan menghidupi iman dengan penuh sukacita.

Pengurus Misdinar GMBA Berziarah: Tanda Kasih dan Kenangan


Usai Misa Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, para pengurus misdinar Stasi Gereja Maria Bunda Allah Maguwo melaksanakan ziarah ke makam beberapa sosok yang sangat berarti bagi komunitas. Dengan hati yang tenang dan doa yang tulus, mereka menabur bunga serta memanjatkan doa di makam mamanya Asti, mas Surya—papanya Tian, mbak Danik, dan mas Yuda.

Ziarah ini menjadi ungkapan kasih dan iman, serta bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berpulang terlebih dahulu menghadap Bapa di surga. Dalam hening doa, para misdinar memohon agar Tuhan menganugerahkan kedamaian abadi bagi jiwa-jiwa yang mereka doakan, dan agar teladan hidup mereka tetap menjadi berkat bagi umat yang masih berziarah di dunia ini.

Ibunya Asti dikenal sebagai pribadi yang lembut, penuh perhatian, dan setia dalam kehidupan keluarga serta pelayanan. Beliau adalah istri dari Bapak Satrio Widodo, salah satu aktivis gereja yang dikenal ahli dalam bidang dekorasi dan tata artistik di setiap perayaan dan acara gereja. Melalui karya dan kreativitasnya, Pak Satrio telah banyak memperindah suasana liturgi, membantu umat semakin merasakan kehadiran Allah dalam keindahan dan kesakralan perayaan iman.

Mas Surya, papanya Tian, semasa hidupnya dikenal sebagai aktivis gereja yang penuh semangat. Di kalangan OMK lawas, beliau dikenang sebagai sosok yang supel, mudah bergaul, dan ramah kepada siapa saja. Kehadirannya selalu membawa suasana hangat dan penuh persaudaraan, menjadi contoh bagaimana iman diwujudkan dalam relasi yang penuh kasih.

Mas Yuda dikenal sebagai prodiakon GMBA yang sangat dicintai oleh seluruh umat. Sosoknya sederhana, penuh semangat, dan tulus dalam pelayanan. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang muda untuk melayani Tuhan dengan sukacita dan kesetiaan. Di usia yang masih muda, Tuhan memanggilnya pulang, namun jejak kasih dan pelayanannya tetap hidup dalam hati umat GMBA.

Mbak Danik, sepupu dari almarhum mas Yuda, juga merupakan prodiakon yang tekun dan penuh dedikasi. Meskipun harus bergulat dengan sakit, ia tetap setia melayani hingga akhirnya dipanggil Tuhan. Dalam kelemahannya, terpancar kekuatan iman yang menjadi kesaksian indah bagi banyak orang.

Melalui ziarah ini, para pengurus misdinar belajar bahwa pelayanan bukan hanya tentang berdiri di altar, tetapi juga tentang meneladani kasih, kesetiaan, dan pengorbanan mereka yang telah mendahului kita. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi wujud iman akan kehidupan kekal dan pengharapan akan perjumpaan kembali dalam Kerajaan Surga.

Semoga semangat pelayanan dan cinta kasih yang diwariskan oleh almarhumah ibunya Asti, almarhum mas Surya, almarhum mas Yuda, dan almarhumah mbak Danik terus menyalakan api iman di hati para misdinar, agar mereka semakin teguh melayani Tuhan dengan sukacita dan ketulusan.