Rapat Pembahasan Penerima Jadup Umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka – Kamis, 16 April 2026

Pada hari Kamis, 16 April 2026, umat Lingkungan St. Gregorius mengadakan rapat khusus yang membahas penentuan penerima bantuan jadup (jaminan hidup) bagi umat yang membutuhkan. Pertemuan ini dilaksanakan dalam semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama, sebagai wujud nyata perhatian lingkungan kepada anggotanya.


Dalam rapat tersebut, disepakati untuk membentuk sebuah tim kecil yang bertugas secara khusus menentukan siapa saja umat yang layak menerima bantuan jadup. Pembentukan tim ini dilakukan sebagai langkah bijaksana untuk memastikan proses penentuan berjalan secara adil, objektif, dan penuh tanggung jawab.


Tim kecil yang dibentuk terdiri dari pengurus inti lingkungan, yaitu Mas Freddy selaku Ketua Lingkungan, Bapak Harry sebagai Wakil Ketua Lingkungan, Ibu Maria sebagai Bendahara Lingkungan, dan Ibu Gambit sebagai Sekretaris Lingkungan. Selain itu, tim ini juga melibatkan beberapa umat yang dituakan dan dihormati dalam lingkungan, yaitu Bapak Kamso, Ibu Yarnidus, dan Ibu Agnes.


Keterlibatan berbagai pihak dalam tim kecil ini diharapkan mampu menghadirkan keputusan yang bijak serta mencerminkan kondisi nyata umat di lingkungan. Dengan adanya tim ini, proses pendataan dan penentuan penerima jadup dapat dilakukan dengan lebih terarah dan transparan.


Lebih dari itu, pembentukan tim kecil ini juga menjadi upaya untuk menghindari perdebatan maupun kecemburuan sosial di tengah umat terkait pembagian bantuan. Harapannya, setiap keputusan yang diambil dapat diterima dengan lapang dada karena telah melalui pertimbangan yang matang dan melibatkan perwakilan umat.


Melalui langkah ini, Lingkungan St. Gregorius terus berupaya membangun kehidupan bersama yang rukun, damai, dan saling mendukung. Semangat kebersamaan ini diharapkan tidak hanya mempererat hubungan antarumat, tetapi juga mendorong pertumbuhan iman yang semakin kuat dalam kehidupan sehari-hari.


Dengan adanya kepedulian dan kerja sama yang baik, umat Lingkungan St. Gregorius diharapkan dapat semakin menjadi komunitas yang hidup dalam kasih, saling memperhatikan, dan menjadi berkat bagi sesama.

Sembayangan Rutin Umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka – Kamis, 16 April 2026

Pada hari Kamis, 16 April 2026, umat Lingkungan St. Gregorius kembali berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk mengikuti sembahyangan rutin. Pertemuan ini menjadi momen penting bagi umat untuk memperdalam iman, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan komitmen hidup dalam kebenaran sebagai murid Kristus.

Ibadat dipimpin dengan penuh khidmat, diawali dengan pembukaan dan doa bersama. Dalam kesempatan ini, umat diajak untuk merenungkan Sabda Tuhan melalui bacaan dari Kisah Para Rasul 5:27-33 dan Injil Yohanes 3:31-36.

Dalam bacaan pertama, para rasul dengan tegas menyatakan bahwa mereka lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia, meskipun harus menghadapi ancaman dan risiko. Kesaksian iman ini menunjukkan keberanian dan kesetiaan yang luar biasa dalam mempertahankan kebenaran. Sementara itu, dalam bacaan Injil, ditegaskan bahwa siapa yang percaya kepada Anak memiliki hidup yang kekal, dan bahwa kebenaran berasal dari Allah sendiri.

Sebagai pendalaman iman, umat diajak untuk mendengarkan empat kisah reflektif yang menggambarkan bagaimana nilai-nilai iman dapat dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah pertama tentang Riko, seorang siswa SMA yang memilih untuk tetap jujur saat ujian meskipun memiliki kesempatan untuk menyontek. Keputusannya mengajarkan bahwa kejujuran lebih berharga daripada hasil yang instan.

Kisah kedua tentang Bu Lina, seorang ibu rumah tangga yang mengembalikan uang kembalian yang bukan haknya, meskipun kondisi ekonominya terbatas. Tindakannya menjadi teladan nyata tentang integritas dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan.

Kisah ketiga mengenai Pak Arif, seorang staf keuangan yang menolak untuk memanipulasi laporan demi menjaga kejujuran. Keputusannya menunjukkan bahwa kesetiaan pada kebenaran mungkin berisiko, tetapi pada akhirnya membawa kebaikan.

Kisah keempat tentang Pak Markus, seorang pensiunan guru yang memilih jalan damai dalam konflik dengan tetangganya. Ia rela mengalah demi menjaga hubungan dan kedamaian bersama.

Setelah mendengarkan keempat kisah tersebut, umat diajak masuk dalam permenungan yang mendalam. Dari kisah-kisah itu terlihat bahwa setiap tokoh dihadapkan pada pilihan antara yang mudah dan yang benar. Mereka memilih jalan yang benar, meskipun tidak selalu menguntungkan secara langsung.

Refleksi ini menegaskan bahwa hidup sebagai orang beriman bukanlah tentang mencari kenyamanan, melainkan tentang kesetiaan kepada kehendak Tuhan. Kesetiaan itu sering kali tampak dalam hal-hal kecil: bersikap jujur, berbuat baik tanpa pamrih, mengampuni, dan tetap melakukan kebenaran walaupun tidak mudah.

Pertemuan ini mengingatkan umat bahwa Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan kesetiaan. Ia memberikan damai di hati dan kekuatan dalam menjalani hidup. Pada akhirnya, Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesetiaan dalam setiap langkah kehidupan.

Sembahyangan ditutup dengan doa bersama, membawa pulang pesan refleksi dalam hati masing-masing. Umat diharapkan mampu menghidupi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, umat diajak untuk merenungkan satu pertanyaan penting:
Dalam situasi hidup kita hari ini, apakah kita berani memilih yang benar, walaupun tidak mudah?

Sembahyangan Penuh Makna dalam Nuansa Kartini dan Kebersamaan

Lingkungan St. Gabriel kembali menyelenggarakan kegiatan sembahyangan rutin yang dirangkaikan dengan pertemuan PWK pada hari Kamis, 23 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Paul dan dimulai pada pukul 19.00 WIB. Umat yang hadir berjumalh 35 orang, terdiri dari orangtua, remaja dan anak-anak.

Ada suasana yang sedikit berbeda dan lebih meriah pada pertemuan kali ini. Dalam rangka memperingati Hari Kartini, umat yang hadir mengenakan busana tradisional. Ibu-ibu dan anak-anak perempuan tampil anggun dengan kebaya, sementara bapak-bapak mengenakan surjan atau lurik. Nuansa budaya yang kental ini menambah kehangatan dan kebersamaan di antara umat, sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap semangat perjuangan Kartini.

Karena pertemuan ini juga bertepatan dengan agenda PWK, umat diimbau untuk hadir lebih awal. Hal ini dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai kewajiban administrasi, seperti pembayaran iuran caos dahar romo, prolenan, GKH pendidikan, APBU, tabungan PIA, tabungan ziarah, serta arisan. Umat dengan penuh kesadaran menyelesaikan kewajibannya sebelum ibadat dimulai, sehingga saat sembahyangan berlangsung, suasana dapat lebih fokus dan khidmat.

Sembahyangan dipimpin oleh Ibu Nana, Ibu Fifin, dan Aurel. Ibadat berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh kekhusyukan. Umat mengikuti setiap rangkaian doa dan nyanyian dengan baik, menciptakan suasana doa yang mendalam dan menyentuh hati.

Dalam permenungan Injil hari ini, yang diambil dari Yohanes 6:44–51, umat diajak untuk merenungkan makna kehidupan sejati yang berasal dari Allah. Yesus menegaskan bahwa hidup manusia akan mencapai kepenuhannya ketika ia datang kepada Allah dan tinggal dalam kasih-Nya. Sabda ini mengingatkan bahwa relasi dengan Allah bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan sumber kehidupan yang sesungguhnya.

Yesus juga menyampaikan bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya jika tidak ditarik oleh Bapa. Dari sini kita diajak untuk semakin menyadari bahwa iman yang kita miliki bukanlah semata-mata hasil usaha pribadi, melainkan tanggapan atas kasih Allah yang lebih dahulu hadir dalam hidup kita. Sering kali kita merasa bahwa kita yang mencari Allah, namun sesungguhnya Allah-lah yang terlebih dahulu mencari, memanggil, dan menuntun kita.

Kesadaran ini mengajak kita untuk tidak hanya berhenti pada iman sebagai pengakuan, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari. Iman yang hidup tampak dalam sikap kasih, kepedulian, dan kesetiaan kita dalam menjalani kehidupan. Selain itu, Yesus juga menyatakan diri-Nya sebagai Roti Hidup yang turun dari surga. Melalui Ekaristi, umat diingatkan bahwa Kristus adalah sumber kekuatan yang memberi kita daya untuk terus berjalan dalam iman, harapan, dan kasih di tengah berbagai dinamika kehidupan.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian laporan dari masing-masing seksi serta beberapa pengumuman penting yang berkaitan dengan kegiatan lingkungan ke depan. Suasana kemudian beralih menjadi lebih santai dan penuh keakraban. Umat menikmati hidangan ringan dan minuman yang telah disediakan oleh tuan rumah, sambil saling bercengkerama dan berbagi cerita.

Kebersamaan semakin terasa hangat ketika umat saling berinteraksi tanpa sekat, mempererat relasi sebagai satu keluarga dalam lingkungan. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, terutama bagi umat yang mungkin jarang bertemu.

Tidak ketinggalan, sebagai bagian dari perayaan Hari Kartini, umat mengabadikan momen kebersamaan dengan berfoto bersama. Busana tradisional yang dikenakan menambah keindahan dokumentasi malam itu, sekaligus menjadi kenangan yang berkesan.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan baik dan penuh sukacita, hingga akhirnya ditutup pada pukul 20.30 WIB. Pertemuan ini tidak hanya menjadi sarana doa bersama, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan antarumat.

Semoga semangat kebersamaan, pelayanan, dan iman yang telah dibangun dalam pertemuan ini dapat terus tumbuh dan menjadi berkat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai jumpa kembali dalam sembahyangan dan pertemuan lingkungan berikutnya.

Menjadi Kaum Muda Katolik yang Aktif dan Berdampak

Pada tanggal 15 Maret 2026, Lingkungan St. Elisabeth menjadi tuan rumah dari berkumpulnya para kaum muda Katholik Maguwo. Pertemuan ini adalah pertemuan yang rutin dilaksanakan para kaum muda tiap sebulan sekali. Pertemuan dilaksanakan bergiliran ke tiap-tiap lingkungan se-stasi Maguwo. Kebetulan pada bulan Maret ini, lingkungan Elisabeth menjadi tuan rumah. Pertemuan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto sepulang misa.

Pertemuan diikuti oleh seluruh Orang Muda Katholik yang ada di stasi Maguwo, para suster, perwakilan mantan OMK, dan perwakilan umat St. Elisabeth. Memang belum semuanya hadir, tapi sudah cukup banyak mewakili. Pertemuan berlangsung sangat hangat dan meriah. Diisi dengan sesi ramah tamah, sharring, dan game sebagai ice breaking.

Pertemuan dilaksanakan safari ke tiap-tiap lingkungan tiap bulannya agar OMK baru yang ada di lingkungan, terpanggil untuk ikut serta terlibat di kegiatan OMK stasi.
Pertemuan kaum muda Katolik merupakan salah satu wadah penting bagi generasi muda untuk bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, serta menemukan jati diri sebagai pengikut Kristus di tengah dunia modern. Dalam suasana yang penuh kebersamaan, kaum muda diajak untuk semakin mengenal Tuhan dan memahami peran mereka dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat.

Sesi sharing atau berbagi pengalaman menjadi momen yang sangat berharga. Dalam sesi ini, setiap peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengalaman iman, tantangan hidup, maupun pergumulan yang sedang dihadapi. Dari sini, muncul rasa saling mendukung dan menguatkan satu sama lain sebagai satu komunitas. Tidak kalah penting, pertemuan kaum muda juga diisi dengan kegiatan kreatif dan menyenangkan, seperti games. Hal ini bertujuan agar kaum muda tidak merasa bosan, sekaligus melatih kerja sama, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab.


Melalui pertemuan ini, diharapkan kaum muda Katolik dapat semakin berani menjadi terang dan garam dunia. Mereka dipanggil untuk tidak hanya hidup bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain. Dengan iman yang kuat dan semangat pelayanan, kaum muda dapat membawa perubahan positif di lingkungan sekitar.
Akhirnya, pertemuan ditutup dengan doa penutup sebagai ungkapan syukur atas kebersamaan yang telah terjalin. Harapannya, setiap peserta pulang dengan hati yang dikuatkan dan semangat baru untuk menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Kristus.

Aksi APP 2026 dan Kunjungan Kasih Lingkungan St. Elisabeth

Dalam semangat APP 2026, Lingkungan St. Elisabeth Stasi Maguwo melaksanakan Kunjungan Kasih sebagai wujud nyata cinta, kepedulian, dan persaudaraan. Selama masa APP, Lingkungan St. Elisabeth berkomitmen untuk menggunakan uang kolekte selama Sembahyangan untuk memberikan tanda kasih kepada para lansia yang ada di Lingkungan St. Elisabeth.

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 19 April 2026. Sebelumnya kami berkumpul di Pendopo Mbah Cipto. Kemudian kunjungan dimulai dengan mengunjungi Mbah Cipto. Selanjutnya kami juga menyempatkan untuk mengunjungi Pak Deddy yang baru pulang dari opname di Rumah Sakit. Lalu kunjungan selanjutnya, kami menuju Rumah Ibu Sugiarto, Mbah Sudiran, dan terakhir kami berkunjung ke rumah Ibu Pujo.

Bukan hanya sekedar berkunjung dan memberikan tanda kasih, tapi kami juga menunjukkan kehangatan, perhatian, bahkan berdoa bersama sebagai penguatan secara rohani, agar setiap orang yang kami kunjungi juga merasa penuh secara rohani.

Instagram: https://www.instagram.com/reel/DXW6L_fj6Km/?igsh=OWl4Ynk2dHJqbjA5

Datang dari Atas: Belajar Percaya dan Hidup dalam Kebenaran

Pada Tanggal 16 April 2026, bertempat di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Rutin. Pada sembahyangan kali ini bertepatan dengan Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan, sehingga sebelum sembahyangan dimulai, Ibu-ibu menyelesaikan pembayaran administrasi seperti Kas, Tali Kasih, dan Ziarah. Setiap ada Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu, selalu diisi dengan pembagian lotre sehingga suasana selalu meriah.

Pertemuan kali ini memang tidak seramai biasanya tapi acara tetap berlangsung meriah. Umat yang hadir dalam pertemuan malam ini berjumlah 29 orang. Setelah segala urusan administrasi selesai, baru Sembahyangan Rutin dimulai. Pemimpin Ibadat malam ini adalah Bapak Bagyo.

Ibadat malam ini mengambil bacaan sesuai Kalender Liturgi, dari Injil Yohanes 3 : 31-36. Dalam perikop ini, Yesus Kristus digambarkan sebagai Dia yang “Datang dari Atas” artinya berasal dari Allah sendiri. Ia membawa kebenaran ilahi, bukan sekadar pemikiran manusia. Sementara manusia sering berbicara dari pengalaman terbatas, Yesus berbicara tentang apa yang Ia lihat dan dengar langsung dari Bapa.

Namun, ada kenyataan yang cukup menyentuh: tidak semua orang menerima kesaksian-Nya. Ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sungguh mendengarkan dan menerima sabda Tuhan, atau hanya sekadar tahu tanpa menghidupinya?

Ayat 36 menjadi penegasan penting: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Iman bukan hanya soal percaya di pikiran, tetapi juga percaya dalam tindakan, mengikuti, menaati, dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Perlu kita sadari bahwa percaya kepada Yesus, berarti membuka hati pada kebenaran yang datang dari Allah.

Beriman sejati berarti juga kita harus taat, bukan hanya mengakui.

Hidup kekal bukan hanya nanti di surga, tapi sudah mulai dari sekarang ketika kita hidup dalam kasih dan kebenaran.

Sebagai bahan Renungan bagi diri kita masing-masing:

  • Apakah aku sudah sungguh percaya kepada Yesus dalam hidupku sehari-hari?
  • Bagian mana dari hidupku yang masih sulit untuk taat pada kehendak Tuhan?

Semoga kita sungguh bisa benar-benar percaya kepada Tuhan, bukan hanya dengan kata, tetapi juga lewat perbuatan, dan semoga hati kita terbuka, agar mampu menerima kebenaran Tuhan dan bisa hidup sesuai kehendakNya.

Doa Lingkungan Santo Petrus: Sukacita Paskah Membawa Harapan Baru

Pada hari Kamis, 16 April 2026 pukul 19.00, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan kegiatan doa bersama yang bertempat di rumah Bapak Agus Marjuni. Kegiatan ini dihadiri oleh 14 orang umat yang dengan penuh semangat berkumpul untuk memperdalam iman dan mempererat kebersamaan dalam suasana Paskah.

Doa lingkungan pada malam hari tersebut dipimpin oleh Ibu Mulyadi. Dalam suasana yang khidmat namun penuh sukacita, umat bersama-sama merenungkan tema “Sukacita Paskah: Kebangkitan Kristus Membawa Harapan Baru.” Tema ini mengajak setiap umat untuk menyadari bahwa kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga sumber kekuatan dan pengharapan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui doa, bacaan Kitab Suci, serta sharing singkat, umat diajak untuk semakin percaya bahwa di tengah berbagai tantangan hidup, Tuhan selalu hadir membawa terang dan harapan baru. Kebangkitan Kristus menjadi tanda kemenangan atas dosa dan kematian, sekaligus menguatkan iman umat untuk tetap setia dan penuh harapan.

Kegiatan doa berlangsung dengan lancar dan penuh kekeluargaan. Kebersamaan yang terjalin semakin mempererat hubungan antarumat di Lingkungan Santo Petrus. Di akhir doa, umat juga saling menyapa dan berbagi sukacita, mencerminkan semangat Paskah yang hidup dalam komunitas.

Semoga melalui kegiatan doa lingkungan ini, iman umat semakin bertumbuh dan sukacita Paskah terus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga setiap pribadi mampu menjadi pembawa harapan bagi sesama.

Peringatan 3 Hari dan 7 Hari Wafatnya Ibu Suitbertha Martiwi

Umat Paroki, khususnya dari Lingkungan Santa Monica, dengan penuh iman dan pengharapan akan kebangkitan mengenang wafatnya Ibu Suitbertha Martiwi, yang telah berpulang ke rumah Bapa di surga.

Sebagai ungkapan kasih dan doa, keluarga bersama umat Lingkungan Santa Monica mengadakan peringatan 3 hari pada tanggal 16 April 2026 yang dipimpin oleh prodiakon Ibu Tiwi, serta peringatan 7 hari pada tanggal 21 April 2026 yang dipimpin oleh prodiakon Ibu Wiwiek. Seluruh rangkaian ibadat dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB.

Dalam suasana doa yang khusyuk, banyak umat Lingkungan Santa Monica hadir untuk turut mendoakan arwah almarhumah. Kehadiran umat menjadi tanda nyata kebersamaan dan kepedulian dalam persekutuan iman, sekaligus memberikan penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pada peringatan tanggal 16 April 2026, bendahara Lingkungan Santa Monica juga menyerahkan uang prolenan kepada keluarga yang berduka sebagai bentuk tali asih dan solidaritas umat.

Ibadat peringatan ini menjadi kesempatan untuk mengenang teladan hidup almarhumah semasa hidupnya—kesederhanaan, kasih kepada sesama, serta kesetiaan dalam iman. Gereja mengajarkan bahwa doa bagi mereka yang telah berpulang merupakan wujud kasih yang terus hidup dalam persekutuan para kudus.

Semoga melalui doa-doa yang dipanjatkan, Ibu Suitbertha Martiwi beristirahat dalam damai, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan serta penghiburan dalam iman akan kehidupan kekal.

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mazmur 23:1)

Semangat Kartini dalam Kebaya: Pertemuan Rutin Ibu-Ibu Lingkungan St. Maria Assumpta di Gazebo Gereja Maria Bunda Allah Maguwo


Pertemuan rutin ibu-ibu Lingkungan St. Maria Assumpta kembali dilaksanakan dengan penuh kehangatan pada Minggu, 19 April 2026, bertempat di Gazebo Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Kegiatan ini terasa semakin istimewa karena seluruh peserta hadir mengenakan kebaya sebagai dresscode, dalam rangka memperingati semangat Raden Ajeng Kartini yang menginspirasi perempuan untuk terus berkarya dan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan menggereja.


Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan dilanjutkan dengan lagu “Ibu Kita Kartini”, yang semakin membangkitkan semangat nasionalisme dan penghargaan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan peran perempuan di tengah masyarakat.


Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama, kemudian arisan rutin yang menjadi momen penuh sukacita sekaligus sarana mempererat tali persaudaraan antaranggota. Suasana hangat dan akrab terasa dalam setiap interaksi, mencerminkan kebersamaan yang semakin kuat di antara ibu-ibu lingkungan.

Dalam pertemuan ini juga disampaikan berbagai informasi penting terkait warta gereja dan kegiatan lingkungan, sehingga seluruh anggota dapat mengikuti perkembangan terbaru serta ambil bagian dalam setiap pelayanan yang ada. Tidak kalah penting, ibu-ibu juga melakukan persiapan koor untuk misa, sebagai bentuk keterlibatan aktif dalam mendukung liturgi gereja agar semakin hidup dan bermakna.


Pertemuan ini sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ibu-ibu Gereja Maria Bunda Allah Maguwo yang rutin dilaksanakan untuk mempererat iman dan kebersamaan. Balutan kebaya yang dikenakan tidak hanya menambah keindahan suasana, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai perjuangan perempuan Indonesia.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat Raden Ajeng Kartini terus menginspirasi ibu-ibu Lingkungan St. Maria Assumpta untuk semakin aktif, solid, dan setia dalam pelayanan, baik di lingkungan keluarga, gereja, maupun masyarakat.

Pertemuan Paguyuban Ibu-ibu Lingkungan Antonius

Pertemuan dilaksanakan hari Sabtu, 18 April 2026 pukul 16.30 wib di rumah ibu Purwanto.
Ibu-ibu yang hadir mengenakan dresscode kebaya untuk memperingati hari Kartini.
Pertemuan diawali dengan doa pembukaan dan menyanyikan lagu Kartini.
Setelah acara rutin info-info dan laporan-laporan, dilanjutkan isian oleh ibu Susi tentang kesehatan gigi.
Acara dilanjutkan dengan pemberian hadiah untuk ketiga ibu yang mengenakan kebaya “cantik”.
Acara ditutup dengan doa dan foto bersama.