Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata

Pertemuan APP 2

Pada Kamis, 5 Maret 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Santa Elisabeth kembali berkumpul dalam sembahyangan rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Yunius. Kurang lebih 28 umat hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana penuh kehangatan sungguh terasa ketika umat yang datang saling bersalaman dan memberikan senyuman hangat satu sama lain.

Sebelum pertemuan APP dimulai, terdapat beberapa kegiatan administrasi rutin yang biasanya dilakukan oleh umat bersama bendahara lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi iuran Gerakan Kemurahan Hati sebesar Rp2.000,00, iuran APBU, pengumpulan amplop Partisipasi Paskah, serta presensi kehadiran umat.

Setelah urusan administrasi selesai, umat pun diajak memasuki suasana permenungan melalui Pertemuan APP. Malam ini merupakan Pertemuan APP yang ke-2, yang diawali dengan lagu pembuka “Tuhan Dikau Naungan Hidupku”. Tema Pertemuan APP yang dipimpin oleh Bapak Bagio dan Bapak Hari pada malam ini adalah “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya”.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk semakin memahami berbagai potensi dana sosial Gereja. Selain itu, umat juga didorong untuk ikut mengakses dan memanfaatkan dana tersebut bagi mereka yang membutuhkan, khususnya kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel).

Dalam pertemuan ini, Bapak Bagio dan Bapak Hari mengajak umat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi menjadi empat kelompok. Diskusi dan sharing menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Umat saling bertukar pendapat serta berbagi pengalaman dan pemikiran yang membangun.

Suasana sharing pun semakin hangat ketika setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Kelompok 1 diwakili oleh Bapak Donal. Kelompok 2 diwakili oleh Mas Agus. Kelompok 3 diwakili oleh Bapak Agus. Kelompok 4 diwakili oleh Ibu Giyarti.

Setelah renungan APP selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, yaitu menyantap hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh keluarga tuan rumah. Pada kesempatan ini, Ketua Lingkungan juga menyampaikan beberapa informasi, baik informasi lingkungan maupun informasi dari Stasi.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga pertemuan sembahyangan pun berakhir. Pertemuan Kamis depan akan dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Donal dengan petugas doa Bapak Dedy dan Ibu Vera.

Sebelum pulang, umat bersama-sama melakukan penghitungan amplop Partisipasi Paskah. Kegiatan doa lingkungan pada malam ini ditutup oleh Bapak Bagio dengan berpamitan kepada keluarga tuan rumah.

Semoga melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santa Elisabeth semakin tergerak hatinya untuk mewujudkan wajah sosial Gereja dengan mengawali pemanfaatan dan pengelolaan dana sosial Gereja demi membantu sesama yang membutuhkan.

Sampai jumpa di Pertemuan APP ke-3 Lingkungan Santa Elisabeth.
Berkah Dalem.

Video Dokumenter

Instagram : https://www.instagram.com/p/DV6QBj6D7_-/

Pertemuan APP Ke 4 Lingkungan St. Stefanus

Tetulung ning ora waton”

Membantu sesama adalah panggilan hati yang mulia, namun ketulusan saja tidaklah cukup. Dalam pertemuan ke-4 APP (Aksi Puasa Pembangunan) ini, kita diajak untuk merenungkan makna “Memberi dengan Hikmat.”

Berikut adalah narasi singkat dan menyentuh yang bisa digunakan sebagai pengantar atau renungan:


Membantu dengan Hati, Memberi dengan Hikmat

Seringkali, tangan kita begitu ringan terulur karena rasa iba yang mendalam. Kita ingin segera menghapus air mata sesama tanpa berpikir panjang. Namun, kasih yang sejati tidak hanya sekadar “memberi,” melainkan “peduli pada pertumbuhan.”

Ada istilah “Tetulung ning ora waton”—menolong tetapi tidak asal-asalan. Membantu tanpa hikmat ibarat menyiram air di atas tanah yang sudah banjir; niatnya baik, namun hasilnya justru merusak. Jika kita memberi tanpa tuntunan dan kebijakan, bantuan tersebut bisa saja hanya menciptakan ketergantungan, bukan kemandirian.

Penyaluran dana APP yang tepat sasaran adalah bentuk penghormatan kita terhadap pengorbanan sesama yang telah mengumpulkan receh demi receh dalam kotak APP mereka. Dengan bersikap bijak, kita memastikan bahwa setiap Rupiah yang disalurkan benar-benar menjadi jembatan bagi mereka yang terpinggirkan untuk bangkit kembali, bukan sekadar pemuas kebutuhan sesaat yang cepat hilang.

Mari kita memohon hikmat kepada Sang Pemberi Hidup, agar setiap bantuan yang kita salurkan:

  • Tepat Sasaran: Menyentuh mereka yang benar-benar membutuhkan.
  • Terarah: Memiliki tujuan jangka panjang untuk kesejahteraan bersama.
  • Bermartabat: Menghargai kemanusiaan mereka yang menerima.

Sebab, membantu dengan bijak adalah bentuk tertinggi dari kasih yang bertanggung jawab.

Pertemuan APP ke-4 Lingkungan St. Gregorius KadisokaSelasa, 17 Maret 2026

Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) ke-4 Lingkungan St. Gregorius Kadisoka telah dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Maret 2026, dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat pelayanan. Pada pertemuan kali ini, umat diajak untuk mendalami tema “Pentingnya Pedoman Dalam Sebuah Gerakan.”

Melalui bacaan Injil yang diambil dari Kisah Para Rasul 6:1-7, umat diajak untuk merenungkan bagaimana para rasul pada masa Gereja perdana menghadapi tantangan dalam pelayanan. Dengan bijaksana, mereka menetapkan pedoman yang jelas serta membagi tugas secara teratur, sehingga pelayanan kepada umat dapat berjalan dengan baik, adil, dan terarah.

Dalam permenungan bersama, umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka menyadari bahwa setiap gerakan, khususnya dalam pelayanan Gereja dan kehidupan sosial, membutuhkan pedoman yang jelas agar tujuan bersama dapat tercapai dengan efektif. Pedoman tersebut menjadi dasar dalam bertindak, menjaga kesatuan, serta menghindari kesalahpahaman dalam pelayanan.

Pertemuan ditutup dengan doa bersama, dengan harapan agar seluruh umat semakin mampu menjadi pelayan yang setia, bijaksana, dan berpegang teguh pada nilai-nilai Injil dalam setiap gerakan kehidupan.

Media Social Lingkungan St. Gregorius Kadisoka – GMBA :

Youtube : https://youtu.be/1A-pfDRASK8

Instagram : https://www.instagram.com/reel/DV_VN59D-Tm/?igsh=MXZnbXBhMDJlN3Y4dQ==

Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSuVBo25y/

Langkah Pertobatan di Bawah Hujan: Pengakuan Dosa GMBA

Langit kelabu menyelimuti Maguwoharjo pada Senin, 16 Maret 2026. Senin sore itu, hujan turun dengan derasnya namun tidak menghalangi langkah pertobatan umat Gereja Maria Bunda Allah yang mengharapkan pengampunan Tuhan. Air hujan yang turun bak air mata penyesalan manusia akan dosa-dosa mereka. Satu per satu umat datang, membawa beban dosa dan penyesalan, lalu menyerahkannya kepada Tuhan melalui perantara Imam.

Sebanyak 157 umat hadir dengan penuh kesungguhan hati berharap dosanya diampuni. Ketiga Romo Paroki Maria Marganingsih Kalasan, yakni Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr., Rm. Yohanes Ngatmo, Pr., dan Rm. Murdi, dengan penuh kesabaran mendengarkan pengakuan umat, memberikan nasihat rohani, dan menyalurkan absolusi. Beban dosa yang terasa berat dan menyesakkan, perlahan sirna dan berubah menjadi kedamaian penuh syukur.

Sakramen Tobat yang diterimakan kepada umat Katolik, bukan sekadar kewajiban yang hanya semata-mata dijalankan sebagai rutinitas tradisi, melainkan ruang bagi umat dan Tuhan untuk kembali dekat. Pengakuan dosa yang dilakukan merupakan kesempatan emas bagi manusia untuk memperbaiki relasi dengan Tuhan, memperbarui diri, dan merasakan damai sejati. Dengan hati yang telah dilegakan, umat kembali ke rumah dengan membawa damai sukacita baru dan siap menyongsong masa Paskah dengan iman yang teguh.

Pertemuan APP ke-3 Lingkungan St. Stefanus

Tema: Melampaui Materi, Menghidupkan Kepedulian

Pertemuan ketiga dalam rangkaian Aksi Puasa Pembangunan (APP) kali ini mengajak kita untuk melakukan refleksi mendalam mengenai sikap tidak peduli. Seringkali, kita terjebak dalam pola pikir bahwa menjadi “baik” atau “berkat bagi sesama” hanya diukur dari seberapa banyak materi yang kita bagikan. Padahal, tanggung jawab sosial jauh lebih luas dari sekadar dompet.


1. Belajar dari Kisah Si Kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31)

Dosa utama si kaya dalam perumpamaan ini bukanlah karena ia memiliki harta, melainkan karena ia memiliki gerbang. Gerbang itu secara simbolis memisahkan dirinya dengan realitas di sekitarnya—yakni Lazarus yang menderita di depan pintunya.

  • Ketidakpedulian sebagai Dinding: Si kaya tidak berbuat jahat secara aktif (ia tidak mengusir Lazarus), tetapi ia memilih untuk tidak melihat. Ketidakpedulian adalah “dosa kelalaian” yang sering kita lakukan saat kita membiarkan kesulitan orang lain berlalu begitu saja karena merasa itu bukan tanggung jawab kita.
  • Berkat itu Bukan Hanya Harta: Kita sering salah kaprah menganggap berkat hanya berupa uang atau barang. Padahal, berkat yang paling mendasar adalah waktu, perhatian, dan kesediaan kita untuk hadir bagi orang lain.

2. Memperluas Makna “Membantu”

Membantu tidak melulu soal materi. Jika kita merasa tidak memiliki kelebihan harta, bukan berarti kita tidak bisa menjadi berkat. Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan melalui:

  • Kehadiran (Presence): Menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang kesepian atau sedang berbeban berat. Terkadang, didengarkan adalah bentuk bantuan terbesar.
  • Advokasi: Berani bersuara ketika melihat ketidakadilan, meskipun itu tidak menimpa kita secara langsung.
  • Edukasi & Pendampingan: Membagikan ilmu atau keterampilan yang kita miliki untuk membantu orang lain menjadi lebih mandiri.
  • Empati yang Aktif: Mengakui keberadaan sesama. Mengingat nama mereka, menanyakan kabar, dan memperlakukan setiap orang dengan martabat yang sama—inilah cara merobohkan “gerbang” yang memisahkan kita dari Lazarus-Lazarus di zaman sekarang.

3. Mengubah Sikap: Dari “Melihat” menjadi “Bertindak”

Sikap tidak peduli biasanya berakar dari rasa aman yang semu. Namun, tanggung jawab sosial menuntut kita untuk berani merasa “tidak nyaman” demi orang lain. Di minggu ke-3 ini, mari kita berkomitmen untuk:

  • Mulai melihat orang-orang yang selama ini kita abaikan dalam keseharian kita.
  • Memberikan apresiasi dan perhatian yang tulus kepada orang-orang di sekitar kita.
  • Menyadari bahwa setiap talenta atau kebaikan kecil yang kita bagikan adalah bagian dari berkat yang harus diteruskan, bukan ditimbun untuk diri sendiri.

Sebuah Renungan : Menjadi Saluran Berkat dalam Mewujudkan Kesejahteraan Bersama

Oleh: Jatuh Padmi

Bayangkan taman yang besar di mana hanya satu sudut kecil yang diberi air cukup sampai tergenang. Sementara itu, area lain tampak kering sehingga tanaman di tempat itu menjadi layu dan mati. Kecantikan taman ini akan lenyap akibat ketidakseimbangan tersebut. Citra ini menyerupai kehidupan sosial kita. Gereja tidak dapat berkembang menjadi taman yang indah jika hanya merawat dirinya sendiri di dalam dinding sakristi. Di luar sana, komunitas sedang berjuang melawan kemiskinan dan putus asa. Tema APP 2026, “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera,” menjadi panggilan untuk menjadi “tukang kebun” Allah yang berani menyalurkan air kehidupan ke lahan yang kering.

Perjuangan untuk membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bukanlah hanya soal program sosial sementara. Ini adalah bukti nyata iman kita. Bagi orang Kristiani, kebahagiaan sejati terjadi saat setiap orang dihargai dan hak-haknya terpenuhi. Gereja harus hadir bukan sebagai tempat yang jauh dari kenyataan, tapi sebagai teman perjalanan bagi mereka yang terpinggirkan. Kita harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan keadilan sosial. Kita diajak untuk peduli bahwa kesejahteraan sesama juga merupakan tanggung jawab iman kita. Kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini ditandai dengan tercukupinya kebutuhan mereka yang paling membutuhkan.

Masa Prapaskah tahun ini adalah kesempatan untuk memeriksa gaya hidup kita. Apakah cara kita hidup selama ini justru merugikan orang lain? Atau apakah kesederhanaan kita memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh?

Melalui puasa dan pantang, kita melatih diri untuk lebih peduli pada ketimpangan di sekitar kita. Uang yang kita kumpulkan bukan hanya uang receh, tapi simbol pengorbanan dan komitmen kita untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan bermartabat. Secara teologis, kesejahteraan yang kita perjuangkan adalah kesejahteraan yang utuh, yang menyentuh aspek jasmani sekaligus rohani. Ketika Gereja terlibat aktif dalam memberdayakan ekonomi umat, menjaga kelestarian lingkungan, dan menyuarakan kejujuran di ruang publik, saat itulah Gereja sedang menghadirkan wajah Allah yang memelihara. Kebahagiaan masyarakat akan terwujud apabila ada rasa aman, rasa cukup, dan rasa dihargai sebagai sesama citra Allah. Oleh karena itu, perjuangan ini menuntut ketekunan dan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik, tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Oleh karena itu, marilah kita menyadari bahwa aksi puasa adalah motor penggerak perubahan sosial yang nyata. Mari kita melangkah keluar dengan keberanian untuk menjadi agen kesejahteraan, mengubah keluhan menjadi harapan, dan mengubah kemiskinan menjadi kecukupan. Hari ini, biarlah dunia melihat bahwa Gereja tidak hanya berkhotbah tentang kasih, tetapi sungguh-sungguh berjuang hingga kebahagiaan itu menjadi milik semua orang.

Nb : Foto ini diambil pada Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth, tgl 12 Februari 2026, di Ruman Bpk. Hary Mulyono, dengan petugas Ibu Jatuh Padmi. Sembahyangan ini dihadiri 28 orang.

Pertemuan TPKP Rayon Sleman Timur: Berjalan Bersama Mewujudkan Gereja yang Membahagiakan


Pada hari Minggu, 8 Maret 2026, dilaksanakan Pertemuan TPKP Rayon Sleman Timur Kevikepan Yogyakarta Timur yang bertempat di Paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Nandan. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi para pelayan pastoral untuk memperdalam pemahaman serta menyelaraskan langkah dalam mewujudkan arah pastoral Gereja.

Pertemuan tersebut mengangkat fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2026, yaitu “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.” Tema ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan bersama dalam melaksanakan Arah Dasar (ARDAS) KAS IX tahun 2026–2030.

Dalam kesempatan ini, Stasi Maria Bunda Allah turut berpartisipasi dengan mengutus perwakilan dari Tim Pelayanan Pastoral Keluarga, yaitu Bapak Albertus Bagio Murdiato bersama istri. Kehadiran mereka menjadi bagian dari komitmen stasi untuk terus terlibat aktif dalam pengembangan pelayanan keluarga di tingkat rayon dan kevikepan.


Gereja yang Berjalan Bersama

Dalam ARDAS KAS IX ditegaskan bahwa umat Allah dipanggil menjadi persekutuan murid-murid Kristus yang berjalan bersama dalam bimbingan Roh Kudus. Perjalanan bersama ini diwujudkan melalui perutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah serta memperjuangkan kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat bagi semua orang.

Semangat ini juga sejalan dengan upaya bangsa Indonesia dalam membangun kehidupan bersama yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, seperti kesejahteraan yang berkeadilan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, kehidupan demokrasi yang partisipatif, kehidupan beragama yang inklusif, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.


Program Sekolah Keluarga

Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan rencana program Sekolah Keluarga yang akan diselenggarakan oleh TPKP Rayon Sleman Timur. Program ini ditujukan bagi pasangan suami-istri dengan usia perkawinan 0–25 tahun.

Setiap paroki akan mendapatkan kuota tiga pasangan untuk mengikuti program ini. Peserta yang mengikuti kegiatan akan dikenakan kontribusi sebesar Rp25.000 per orang sebagai bentuk partisipasi dalam penyelenggaraan kegiatan.

Untuk pelaksanaan pertama, Gereja Babadan direncanakan menjadi tuan rumah kegiatan ini. Beberapa materi yang akan dibahas pada pertemuan awal antara lain:

  • Keluarga sebagai rencana Allah
  • Komunikasi dalam keluarga

Melalui program ini diharapkan pasangan-pasangan muda semakin diperkaya dalam kehidupan berkeluarga, sehingga mampu membangun keluarga yang harmonis, tangguh dalam iman, dan menjadi saksi kasih Kristus di tengah masyarakat.


Inspirasi dari Stasi Maguwo: Penyegaran Janji Perkawinan

Salah satu hal yang cukup menarik perhatian dalam pertemuan ini adalah pengalaman dari Stasi Maguwo, khususnya terkait program penyegaran janji perkawinan. Program ini dinilai cukup berhasil karena mampu menghadirkan sekitar 30 hingga 40 pasangan suami-istri dalam setiap kegiatan.

Tidak semua paroki atau gereja memiliki program seperti ini. Beberapa paroki sebenarnya sudah memiliki program serupa, namun jumlah pesertanya masih relatif sedikit. Oleh karena itu, dalam pertemuan tersebut muncul pertanyaan mengenai kiat atau strategi yang dilakukan oleh Stasi Maguwo sehingga program ini dapat diikuti oleh banyak pasangan.

Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:

  1. Berkoordinasi dengan tim Litbang untuk memperoleh data pasangan yang merayakan hari ulang tahun pernikahan dalam rentang waktu tiga bulan.
  2. Menghubungi ketua lingkungan (kaling) untuk memastikan apakah pasangan tersebut masih berdomisili di lingkungan yang bersangkutan.
  3. Membuat undangan fisik khusus, yang dirancang menyerupai undangan pernikahan, sehingga terasa lebih personal dan berkesan bagi pasangan yang diundang.

Pendekatan sederhana namun penuh perhatian ini ternyata mampu meningkatkan partisipasi umat secara signifikan. Bahkan dalam diskusi pertemuan tersebut, beberapa paroki menyampaikan ketertarikannya untuk mengadopsi model pelayanan yang dilakukan oleh Paroki Maguwo.


Harapan ke Depan

Melalui berbagai program pastoral keluarga yang dirancang, Gereja berharap semakin banyak keluarga Katolik yang mampu membangun kehidupan rumah tangga yang sehat, harmonis, dan penuh iman. Keluarga diharapkan menjadi tempat pertama pendidikan iman bagi anak-anak, sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya.

Dengan semangat kebersamaan dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Allah, umat diajak untuk terus berjalan bersama mewujudkan Gereja yang membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan.

Dengar Kata Umat: 1 Kata tentang Prapaskah

Dalam rangka menyambut masa Prapaskah, lingkungan Santo Petrus mengadakan kegiatan “Dengar Kata Umat”, yaitu sebuah momen sederhana namun bermakna di mana setiap umat diminta menyampaikan satu kata yang menggambarkan makna Prapaskah bagi dirinya. Kegiatan ini menjadi sarana refleksi bersama untuk semakin menghayati masa tobat dan pertobatan.

Pertemuan APP ke-2 Lingkungan St. Stefanus : Refleksi dan Pengelolaan Dana Solidaritas

Pertemuan ibadah APP ke-2 Lingkungan St. Stefanus

Dalam pertemuan APP yg kedua ini, kita belajar bahwa pengelolaan dana APP mengikuti prinsip subsidiarietas dan solidaritas :

  • Alur: Dana dikumpulkan dari lingkungan/stasi, diteruskan ke Paroki, hingga ke Keuskupan dan Nasional (KWI).
  • Pemerataan: Sebagian dana tetap tinggal di tingkat Paroki untuk bantuan darurat lokal, sementara sebagian lagi dikelola secara luas untuk program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang sifatnya lintas wilayah.
  • Sasaran: Pengelolaan diarahkan kepada mereka yang “paling membutuhkan” (preferential option for the poor), namun diakui bahwa tantangan verifikasi di lapangan masih ada agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan tidak hanya bersifat karitatif (sekali habis), tetapi juga memberdayakan.

Bercermin pada jemaat perdana. Dalam teks Kisah Para Rasul 4:32-37, digambarkan sebuah idealisme kristiani: “Segala sesuatu adalah kepunyaan bersama” dan “pembagian dilakukan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.”

Refleksi Kritis:

  • Apakah sudah sesuai? Secara struktur, Gereja telah mencoba meniru pola para Rasul dengan adanya penyaluran melalui “kaki para rasul” (pimpinan Gereja/Panitia APP).
  • Tantangan: Jika di jemaat perdana “tidak ada seorang pun yang berkekurangan,” saat ini kita masih melihat adanya kesenjangan informasi. Masih ada anggota jemaat yang sangat membutuhkan namun belum terjangkau, atau sebaliknya, ada yang enggan berbagi karena merasa belum “cukup.”

Kesimpulan

Pertemuan ini menyimpulkan bahwa APP adalah jembatan untuk mendekati idealisme jemaat perdana. Meski belum sempurna dalam hal pemerataan yang 100% tepat sasaran, sistem yang ada terus diperbaiki agar dana yang dikumpulkan dari umat kembali menjadi berkat bagi mereka yang paling terpinggirkan, sehingga semangat “sehati sejiwa” bukan sekadar teks Alkitab, melainkan realitas hidup.

Adanya berita yang tidak mengenakkan, yakni ada seorang anak mengakhiri hidupnya karena tidak bisa membayar iuran sekolah sebesar 10,000 rupiah adalah tamparan keras bagi kita sebagai umat Khatolik untuk lebih memperhatikan sesama kita, apakah diantara tempt ita tinggal ada yang membutuhkan uluran tangan kita dan membutuhkan perhatian kita. Biarlah ini menjadi perenungan bagi kita semua.

Doa yang Mengikat, Kasih yang Menguatkan

-APP 1- Paguyuban-Valentine Lingkungan St. Elisabeth-

Kamis, 26 Februari 2026. Senja berganti malam dengan cuaca yang begitu bersahabat. Di kediaman Ibu Asih, umat lingkungan berkumpul dalam suasana penuh syukur. Puji Tuhan, sebanyak 36 umat hadir mengikuti sembayangan lingkungan malam itu.

Pertemuan APP ke-1 dipimpin oleh Pak Agus dan Mbak Tika. Kegiatan diawali dengan lagu “Di Jenjang Maaf” yang mengalun lembut, membawa setiap hati masuk dalam suasana refleksi, kerendahan hati, dan kebersamaan.

Tema APP ke-1 kali ini adalah “Potret Kondisi dan Potensi: Dasar untuk Mengawal Aksi.” Dalam pertemuan ini, umat diajak melihat secara nyata kondisi lingkungan—baik tantangan yang dihadapi maupun potensi yang dapat dikembangkan. Umat juga diajak menyadari pentingnya data sebagai dasar perencanaan, agar setiap gerakan dan aksi yang dilakukan sungguh tepat sasaran dan mampu meningkatkan kesejahteraan bersama.

Dinamika pertemuan terasa hidup. Pemandu membuka ruang sharing tentang kondisi pribadi dan kehidupan sehari-hari. Satu per satu umat berbagi dengan tulus. Setiap tanggapan disambut dengan sukacita, menciptakan suasana hangat yang penuh empati dan persaudaraan.

Usai pertemuan APP, dilaksanakan edaran kolekte untuk mendukung aksi Paskah lingkungan, sebagai wujud nyata solidaritas dan kepedulian bersama.

Momen penuh makna juga hadir dalam pemberian tanda kasih kepada Pak Agus, Bu Agus, dan Michael yang diwakili oleh Pak Suradi, atas penerimaan Sakramen Krisma. Ungkapan syukur dan doa mengiringi perjalanan iman yang semakin diteguhkan.

Karena masih dalam suasana Valentine, kebersamaan malam itu semakin semarak dengan kegiatan tukar kado. Umat kompak mengenakan pakaian serba pink, menambah warna dan keceriaan. Tukar kado berlangsung seru, penuh tawa dan kejutan.

Tidak berhenti di situ, kebersamaan dilanjutkan dengan kegiatan paguyuban seperti arisan dan lotre sederhana. Meski hadiahnya sederhana, kebahagiaan yang terpancar begitu nyata. Tawa dan sorak gembira memenuhi ruangan saat nama-nama pemenang diumumkan.

Malam itu bukan sekadar pertemuan, tetapi perayaan kebersamaan. Semoga Lingkungan Santa Elisabeth semakin romantis dalam kasih, semakin hidup dalam pelayanan, dan semakin guyub dalam persaudaraan. (*Vera)

Link Instagram : https://www.instagram.com/p/DVXzpU4Dw4u/