Dalam semangat APP 2026, Lingkungan St. Elisabeth Stasi Maguwo melaksanakan Kunjungan Kasih sebagai wujud nyata cinta, kepedulian, dan persaudaraan. Selama masa APP, Lingkungan St. Elisabeth berkomitmen untuk menggunakan uang kolekte selama Sembahyangan untuk memberikan tanda kasih kepada para lansia yang ada di Lingkungan St. Elisabeth.
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 19 April 2026. Sebelumnya kami berkumpul di Pendopo Mbah Cipto. Kemudian kunjungan dimulai dengan mengunjungi Mbah Cipto. Selanjutnya kami juga menyempatkan untuk mengunjungi Pak Deddy yang baru pulang dari opname di Rumah Sakit. Lalu kunjungan selanjutnya, kami menuju Rumah Ibu Sugiarto, Mbah Sudiran, dan terakhir kami berkunjung ke rumah Ibu Pujo.
Bukan hanya sekedar berkunjung dan memberikan tanda kasih, tapi kami juga menunjukkan kehangatan, perhatian, bahkan berdoa bersama sebagai penguatan secara rohani, agar setiap orang yang kami kunjungi juga merasa penuh secara rohani.
Pada Tanggal 16 April 2026, bertempat di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Rutin. Pada sembahyangan kali ini bertepatan dengan Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan, sehingga sebelum sembahyangan dimulai, Ibu-ibu menyelesaikan pembayaran administrasi seperti Kas, Tali Kasih, dan Ziarah. Setiap ada Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu, selalu diisi dengan pembagian lotre sehingga suasana selalu meriah.
Pertemuan kali ini memang tidak seramai biasanya tapi acara tetap berlangsung meriah. Umat yang hadir dalam pertemuan malam ini berjumlah 29 orang. Setelah segala urusan administrasi selesai, baru Sembahyangan Rutin dimulai. Pemimpin Ibadat malam ini adalah Bapak Bagyo.
Ibadat malam ini mengambil bacaan sesuai Kalender Liturgi, dari Injil Yohanes 3 : 31-36. Dalam perikop ini, Yesus Kristus digambarkan sebagai Dia yang “Datang dari Atas” artinya berasal dari Allah sendiri. Ia membawa kebenaran ilahi, bukan sekadar pemikiran manusia. Sementara manusia sering berbicara dari pengalaman terbatas, Yesus berbicara tentang apa yang Ia lihat dan dengar langsung dari Bapa.
Namun, ada kenyataan yang cukup menyentuh: tidak semua orang menerima kesaksian-Nya. Ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sungguh mendengarkan dan menerima sabda Tuhan, atau hanya sekadar tahu tanpa menghidupinya?
Ayat 36 menjadi penegasan penting: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Iman bukan hanya soal percaya di pikiran, tetapi juga percaya dalam tindakan, mengikuti, menaati, dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Perlu kita sadari bahwa percaya kepada Yesus, berarti membuka hati pada kebenaran yang datang dari Allah.
Beriman sejati berarti juga kita harus taat, bukan hanya mengakui.
Hidup kekal bukan hanya nanti di surga, tapi sudah mulai dari sekarang ketika kita hidup dalam kasih dan kebenaran.
Sebagai bahan Renungan bagi diri kita masing-masing:
Apakah aku sudah sungguh percaya kepada Yesus dalam hidupku sehari-hari?
Bagian mana dari hidupku yang masih sulit untuk taat pada kehendak Tuhan?
Semoga kita sungguh bisa benar-benar percaya kepada Tuhan, bukan hanya dengan kata, tetapi juga lewat perbuatan, dan semoga hati kita terbuka, agar mampu menerima kebenaran Tuhan dan bisa hidup sesuai kehendakNya.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kasih tidak pernah salah alamat. Minggu ini, kebahagiaan menyelimuti salah satu umat kita dari Lingkungan Santo Stefanus, yaitu saudara Giacinta Ayu. Di tengah sukacita yang baru saja dirasakan keluarga karena baru saja melaksanakan pemberkatan rumah, Tuhan seolah menambah berkat lewat sebuah kejutan yang tak terduga.
Kisah ini bermula dari niat tulus Saudari Ayu untuk mendukung pembangunan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Dengan penuh semangat, beliau berpartisipasi dalam program pengumpulan dana pembangunan gereja tersebut melalui kupon sumbangan. Beliau melakukan ini murni sebagai bentuk tanggung jawab iman dan kepedulian bagi kemajuan pembangunan rumah Tuhan.
Namun, siapa sangka, partisipasi tersebut membawa kebahagiaan berlipat ganda. Dalam pengundian kupon sumbangan pembangunan gereja, nama mbak Ayu keluar sebagai pemenang hadiah utama berupa satu unit televisi berukuran 24 inci.
Makna di Balik Hadiah Mendapatkan hadiah ini tentu menjadi kenangan yang manis, bahwa televisi baru ini seolah menjadi pelengkap kebahagiaan di rumah beliau yang baru saja diberkati. Namun, bagi beliau, hadiah ini hanyalah bonus dari niat tulus berbagi. Yang lebih utama adalah kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembangunan Gereja GMBA Maguwo yang kita cintai bersama.
Penutup: Inspirasi Bagi Kita Semua Kisah Saudara Ayu menjadi pengingat sederhana bagi kita semua bahwa sekecil apa pun keterlibatan kita dalam pelayanan—entah itu dalam bentuk sumbangan, waktu, atau tenaga—Tuhan selalu melihat ketulusan hati kita. Semoga semangat berbagi yang ditunjukkan oleh Saudara Ayu ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus mendukung karya pelayanan dan pembangunan di Gereja kita.
Selamat atas berkat yang diterima, Mbak Ayu. Semoga televisi barunya semakin menghangatkan suasana di rumah baru yang telah diberkati!
Sabtu, 18 April 2026, menjadi momen yang hangat bagi kami. Tergerak oleh semangat persaudaraan dan kepedulian antar sesama anggota lingkungan, kami melangkah bersama untuk melakukan kunjungan kasih ke kediaman Bapak Hendrik. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan wujud kehadiran gereja dan komunitas di tengah keluarga yang membutuhkan perhatian dan dukungan moral.
Setibanya kami di kediaman Bapak Hendrik, kami disambut dengan penuh sukacita. Meski kondisi kesehatan Bapak Hendrik sedang dalam masa pemulihan, wajah beliau terpancar keceriaan saat melihat rekan-rekan komunitas datang menyapa. Ruang tamu yang sederhana seketika berubah menjadi ruang persekutuan yang akrab, di mana tawa dan canda mengalir mengikis rasa sepi.
Dalam suasana yang teduh, kami meluangkan waktu untuk duduk bersama, mendengarkan cerita Bapak Hendrik, dan berbagi pengalaman hidup. Kegiatan dilanjutkan dengan ibadat singkat yang dipimpin oleh [Sebutkan nama atau peran, misal: Pengurus Lingkungan]. Kami bersama-sama melantunkan doa, memohon berkat kesembuhan, kekuatan, serta penghiburan dari Tuhan bagi Bapak Hendrik dan keluarga. Doa kami adalah agar semangat beliau tetap terjaga, dan beliau tahu bahwa beliau tidak berjalan sendirian dalam masa-masa ini.
Penutup (Harapan) Kunjungan kasih ini berakhir dengan penyerahan tanda kasih sederhana sebagai wujud kepedulian kami. Sebelum berpamitan, kami berjanji untuk terus saling mendoakan dan menjaga tali persaudaraan ini. Kami pulang dengan hati yang penuh; menyadari bahwa kebahagiaan sejati justru ditemukan saat kita mampu hadir dan berbagi kasih bagi sesama yang membutuhkan.
“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)
Latihan koor untuk tugas Jumat Pertama bulan Mei 2026. Bertempat di rumah keluarga bapak ibu Yosef. Latihan koor dilaksanakan pada hari Kamis, 16 April 2026 pukul 19.00-20.30 WIB, dipimpin oleh ibu Ayiek. Pertemuan dilanjutkan dengan pemberitahuan pengumuman-pengumuman dari ketua lingkungan Antonius, bpk. Indarto dan penjualan kupon pembangunan GMBA. Pertemuan ditutup pukul 21.30 wib.
You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂
Nuansa Sukacita Iringi Tugas Parkir Lingkungan Santa Elisabeth di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo
Pada Minggu ini, 12 April 2026 Lingkungan Santa Elisabeth menerima tugas pelayanan parkir di Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo. Dengan penuh sukacita, seluruh umat lingkungan baik bapak-bapak, kaum muda, ibu-ibu, maupun adik-adik turut ambil bagian dalam tugas pelayanan ini.
Koordinator parkir lingkungan, Bapak Agus Widodo, dengan penuh semangat aktif mengingatkan dan mengoordinasikan petugas melalui grup WhatsApp lingkungan, sehingga seluruh anggota dapat mempersiapkan diri dengan baik. Sejak pagi hari, bapak-bapak dan kaum muda sudah hadir lebih awal di gereja untuk mulai menata posisi kendaraan, khususnya sepeda motor, agar tersusun rapi dan tertib. Setelah seluruh kendaraan tertata dengan baik, seluruh petugas kemudian mengikuti Perayaan Ekaristi dengan penuh kekhusyukan.
Sementara itu, ibu-ibu dan adik-adik mendapatkan tugas untuk membantu pengumpulan uang parkir setelah perayaan Ekaristi selesai.
Usai perayaan, seluruh petugas kembali menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Mengenakan kaos kebanggaan lingkungan berwarna dusty rose dan putih, kami dengan semangat mengambil posisi di area halaman belakang Gereja untuk melayani umat yang akan meninggalkan lokasi.
Melalui pelayanan ini, kami semakin merasakan kebersamaan, semangat gotong royong, dan sukacita dalam melayani sesama sebagai bagian dari kehidupan menggereja.
Sukacita Paskah terasa begitu hangat dalam kebersamaan umat Lingkungan Santa Monica yang menggelar ibadah Paskah pada Kamis, 9 April 2026. Bertempat di rumah Bapak Saman, ibadah yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dipimpin oleh prodiakon Ibu Wiwiek dan dihadiri oleh umat dalam jumlah yang cukup banyak.
Sejak awal acara, suasana penuh khidmat dan kebersamaan sudah terasa. Meskipun sempat terjadi mati lampu di tengah jalannya ibadah, hal tersebut tidak mengurangi semangat umat dalam mengikuti seluruh rangkaian perayaan. Dengan sederhana namun penuh makna, ibadah tetap berlangsung lancar hingga selesai. Justru dalam keterbatasan tersebut, kebersamaan dan kekhusyukan umat semakin terasa kuat.
Tingginya jumlah kehadiran umat pada malam itu juga dipengaruhi oleh momen penting, yakni hari terakhir pengumpulan kotak APP sebelum nantinya diserahkan ke tingkat stasi pada minggu berikutnya. Umat dengan penuh kesadaran dan sukacita membawa serta hasil pengorbanan mereka selama masa Prapaskah sebagai wujud nyata kepedulian dan solidaritas terhadap sesama.
Setelah ibadah selesai, Ketua Lingkungan, Mas Edo, menyampaikan beberapa pengumuman penting. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengungkapkan bahwa seluruh hasil kolekte selama rangkaian APP dari pertemuan pertama hingga kelima akan disalurkan kepada Panti Asuhan Bakti Luhur Berbah. Rencana penyaluran bantuan ini akan dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2026.
Adapun total dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp1.000.000, yang juga mencakup tambahan dari paguyuban ibu-ibu lingkungan. Tidak hanya dalam bentuk dana, umat juga menunjukkan kepedulian melalui donasi berupa beras seberat 25 kilogram. Bantuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkan.
Ibadah Paskah kali ini tidak hanya menjadi perayaan iman atas kebangkitan Kristus, tetapi juga menjadi wujud nyata kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi di tengah umat. Dalam kesederhanaan dan kebersamaan, Lingkungan Santa Monica kembali menunjukkan bahwa iman yang hidup senantiasa diwujudkan dalam tindakan kasih yang konkret.
Semoga semangat Paskah yang telah dirayakan ini terus menginspirasi umat untuk hidup dalam terang, harapan, dan kasih di tengah kehidupan sehari-hari.
Acara Paskahan PIA St. Angelus Stasi Maguwo yang berlangsung hari Sabtu, 11 April 2026 pukul 16.00 hingga 18.00 WIB ini didampingi oleh 10 kakak pendamping yang merupakan kolaborasi apik antara Ibu Muda dan Orang Muda Katolik (OMK). Semangat kasih Tuhan benar-benar terasa melalui kebersamaan mereka.
Kreativitas Tanpa Batas: Menghias Telur
Acara pertama adalah menyanyi dan menjelaskan dengan singkat tentang makna kebangkitan kemudian anak-anak diajak untuk menghias telur. Dengan penuh konsentrasi, jemari kecil anak-anak PIA mengubah telur-telur polos menjadi karya seni yang penuh warna. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak menghayati bahwa hidup baru yang diberikan Yesus adalah anugerah yang indah.
Petualangan Seru di Games Post
Setelah mengasah kreativitas, adrenalin anak-anak dipacu melalui game post. Terdiri dari 5 post yang seru serta mengajarkan motorik anak. Gelak tawa pecah saat anak-anak berjuang menyelesaikan setiap tantangan:
Lempar Ring: Melatih fokus dan ketepatan.
Boom Boom Pow: Game seru yang penuh energi.
Susun Menara: Menguji kesabaran dan keseimbangan.
Puzzle Time: Mengasah kerja sama tim dalam menyusun gambar.
Engklek: Melestarikan permainan tradisional sambil melatih ketangkasan
Untuk pemenang menghias telur paskah terdiri dari 2 kategori. Kategori Pra Tk dan Tk untuk juara 1 dimenangkan oleh Filo dan juara 2 dimenangkan oleh Abim. Sedangkan kategori SD , Juara 1 dimenangkan oleh Neam untuk juara 2 dimenangkan oleh Lili.
Semoga Paskahan PIA kali ini bermakna untuk adik-adik sekalian. Sampai jumpa di kegiatan PIA St. Angelus selanjutnya.
You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂
Pada tanggal 26 Maret 2026, umat Lingkungan Elisabeth mengadakan pertemuan APP kelima di Pendopo Mbah Cipto. pertemuan APP yang terakhir ini dihadiri 27 orang. Petugas pemimpin ibadat APP kali ini mengemas renungan dengan apik. Umat diajak menyaksikan cerita melalui proyektor. Sebuah kisah tentang seorang tukang ojek yang bisu tuli namun tetap menjalankan tugas dan perannya dengan baik. Pada suatu hari, dia mengalami musibah, barang yang akan dia antar dicuri oleh sekelompok anak. Saat pencuri itu tertangkap dan orang-orang akan menghakimi pencuri tersebut, si bisu tuli ini justru menolong. Saat mengetahui si pencuri kelaparan, dia mengajaknya makan, dan memaafkan. Dari sini kita bisa memetik nilai moral, bahwa cinta kasih dapat berlaku untuk dan oleh siapa saja. Entah dia dalam keadaan yang kekurangan sekalipun, masih bisa berbagi kasih. Bahkan seorang penjahat sekalipun, berhak mendapatkan kasih.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali melihat berbagai bentuk penderitaan di sekitar kita, kemiskinan, kesepian, ketidakadilan, dan berbagai kesulitan lainnya. Namun, tidak jarang kita memilih untuk diam atau menunda untuk bertindak, entah karena merasa tidak mampu, takut, atau menganggap itu bukan tanggung jawab kita. Pertemuan APP ke-5 ini mengajak kita untuk berani mengambil langkah pertama dalam menolong sesama, sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Lukas 9:1-6.
Dalam bacaan tersebut, Yesus memberikan kuasa kepada para murid-Nya dan mengutus mereka untuk pergi memberitakan Kerajaan Allah serta menyembuhkan orang sakit. Menariknya, Yesus tidak membekali mereka dengan banyak hal secara materi. Ia bahkan melarang mereka membawa bekal berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah apa yang kita miliki, melainkan keberanian untuk melangkah dan kepercayaan kepada Tuhan.
Sering kali kita berpikir bahwa untuk menolong orang lain, kita harus memiliki banyak hal terlebih dahulu. Uang yang cukup, waktu yang longgar, atau kemampuan yang luar biasa. Padahal, Tuhan hanya meminta kita untuk memulai dari apa yang kita punya. Langkah kecil yang kita ambil dengan tulus dapat membawa dampak besar bagi orang lain.
Mengambil langkah pertama memang tidak selalu mudah. Ada rasa ragu, takut ditolak, atau khawatir tidak bisa membantu secara maksimal. Namun, melalui kisah ini, kita diajak untuk percaya bahwa Tuhan menyertai setiap usaha baik kita. Ketika kita berani melangkah, Tuhan bekerja melalui kita.
Menolong sesama tidak harus selalu dalam bentuk besar. Hal sederhana seperti mendengarkan, memberi perhatian, membantu teman yang kesulitan, atau berbagi dengan yang membutuhkan sudah menjadi wujud nyata kasih. Yang terpenting adalah hati yang peduli dan kemauan untuk bertindak.
Melalui pertemuan ini, kita diajak untuk tidak lagi menunda. Mari mulai dari langkah kecil, dari lingkungan terdekat kita, keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Ketika kita berani mengambil langkah pertama, kita menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan kasih dan harapan bagi sesama.
Mari kita berani mengambil langkah pertama, sekecil apa pun itu. Karena dalam setiap tindakan kasih, Tuhan hadir dan bekerja melalui kita.
Seringkali kita terlalu lama berpikir untuk membantu, padahal yang dibutuhkan hanyalah satu langkah pertama yang tulus.
Gereja dipanggil untuk hadir bagi semua: menjadi tempat bernaung kaum papa, menjadi pembela bagi yang tertindas, menjadi cahaya bagi mereka yang kehilangan arah (si buta).
Gereja bukan sekadar gedung, melainkan detak jantung kasih Kristus di tengah dunia. Di APP ke-5 ini, kita diingatkan bahwa menolong sesama tidak mengenal sekat, label, apalagi golongan. Langkah pertama seringkali yang terberat, namun itulah langkah yang paling berarti. Saat kita membuka tangan bagi kaum papa, berdiri tegak bagi yang tertindas, dan merangkul mereka yang terpinggirkan, saat itulah kita menjadi Oase. Mari menjadi “penglihatan” bagi mereka yang selama ini terabaikan oleh dunia. Karena kasih sejati tidak bertanya “siapa kamu?”, tapi berkata “aku ada untukmu.”