Berdoa Rosario Menjadi Pengalaman Iman yang Menyejukkan

Suasana hangat penuh kebersamaan kembali terasa dalam pertemuan rutin Lingkungan Santa Elisabeth yang dilaksanakan pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Bertempat di Pendopo Mbah Cipto, dengan petugas snack keluarga Bapak Sampurno, sekitar 25 umat hadir untuk bersama-sama membangun iman melalui doa dan kebersamaan.

Malam itu, rangkaian kegiatan lingkungan diisi dengan BKL, doa Rosario, serta latihan koor. Dalam suasana yang teduh dan penuh kekhusyukan, umat diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Lastri. Sementara itu, Bapak Bagio dan Mbak Dita bertugas membawakan renungan BKL dan doa-doa ibadat dengan penuh penghayatan.

Lantunan doa Salam Maria yang didaraskan bersama menghadirkan suasana damai dan menyejukkan hati. Kebersamaan sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan bagi umat untuk terus bertumbuh dalam iman dan persaudaraan di tengah kehidupan sehari-hari.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman lingkungan dan latihan koor. Lingkungan Santa Elisabeth mendapat tugas pelayanan koor pada misa Minggu terakhir bulan Mei. Dengan penuh semangat, umat mulai berlatih lagu pembuka sebagai persiapan untuk mendukung perayaan ekaristi nanti.

Melalui pertemuan rutin ini, Lingkungan Santa Elisabeth tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga menumbuhkan semangat pelayanan dan kehidupan doa yang semakin hidup. Semoga kebersamaan dalam doa Rosario ini terus menjadi pengalaman iman yang meneguhkan dan menyejukkan hati setiap umat.

Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth: Kerendahan Hati untuk Melayani

Sembahyangan Lingkungan Rutin Kamisan pada tanggal 30 April 2026 dilaksanakan di Rumah Ibu Lastri. Sembahyangan dipimpin oleh Mas Heru. Meskipun umat yang hadir kali ini terhitung sedikit yakni 12 umat, karna kesibukan masing-masing, namun sembahyangan berlangsung dengan khidmat, dan membawa perenungan yang baik bagi diri masing-masing.

Dalam bacaan Injil Yohanes 13:16-20, yang diambil dalam renungan hari ini, Yesus mengajarkan tentang kerendahan hati dan pelayanan. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus berkata bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya. Melalui tindakan sederhana itu, Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama.

Di dunia sekarang, banyak orang ingin dihormati, dipuji, dan dianggap paling hebat. Namun Yesus justru memberi teladan yang berbeda. Walaupun Ia adalah Guru dan Tuhan, Ia rela merendahkan diri untuk melayani. Dari sini kita belajar bahwa kebesaran seseorang tidak dilihat dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari hati yang mau melayani dengan tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari, melayani bisa dimulai dari hal-hal kecil: membantu orang tua di rumah, mendengarkan teman yang sedang sedih, atau peduli kepada orang yang membutuhkan. Kadang pelayanan itu tidak mendapat pujian, tetapi Tuhan melihat setiap kebaikan yang dilakukan dengan kasih.

Yesus juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima orang yang diutus-Nya, berarti menerima Dia sendiri. Artinya, kita dipanggil menjadi pembawa kasih dan kehadiran Tuhan di tengah dunia. Sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan kasih Allah.

Melalui Injil hari ini, kita diajak untuk memiliki hati yang rendah hati, tidak egois, dan mau melayani tanpa memilih-milih. Semakin kita melayani dengan kasih, semakin kita menjadi serupa dengan Yesus.

Paskahan Lingkungan St. Elisabeth

23 April 2026, di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth melaksanakan Perayaan Paskahan Lingkungan Bersama. Paskahan dihadiri oleh hampir seluruh umat di Lingkungan St. Elisabeth, yaitu 38 umat. Diawali dengan sembahyangan yang dipimpin Mbak Vera.

Renungan dalam sembahyangan diambil dari Bacaan Injil Yohanes 6:44-51. Bacaan ini berisi tentang Yesus yang berkata bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya kalau tidak ditarik oleh Bapa. Ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga karena kasih dan panggilan Allah yang terlebih dahulu menyentuh hati kita. Tuhan selalu mencari dan mengundang setiap orang untuk datang lebih dekat kepada-Nya.

Yesus juga berkata bahwa Ia adalah “roti hidup yang turun dari surga.” Roti adalah makanan yang memberi kekuatan dan kehidupan. Namun roti yang diberikan Yesus bukan sekadar makanan jasmani, melainkan kehidupan kekal. Banyak orang mencari kebahagiaan dari harta, pujian, atau kesenangan dunia, tetapi semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan hati manusia. Hanya Yesus yang mampu mengisi kekosongan hati dan memberi damai sejati.

Sebagai orang muda maupun keluarga Kristiani, kita sering merasa lelah menghadapi masalah, tugas, konflik, atau rasa kecewa. Dalam keadaan itu, Yesus mengajak kita datang kepada-Nya dan menjadikan-Nya sumber kekuatan hidup. Ketika kita rajin berdoa, membaca Kitab Suci, dan mengikuti Ekaristi, hati kita perlahan diperbarui oleh Tuhan.

Bacaan ini juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima Yesus harus menjadi “roti” bagi sesama. Artinya, kita dipanggil untuk membawa kasih, penghiburan, perhatian, dan bantuan bagi orang lain. Kehadiran kita seharusnya membawa kehidupan dan sukacita, bukan luka atau kebencian.

Semoga melalui sabda hari ini, kita semakin percaya kepada Yesus Sang Roti Hidup, dan menjadikan-Nya pusat dalam hidup kita setiap hari.

Setelah Sembahyangan selesai, acara Paskahan dilanjutkan dengan pemberian tanda kasih bagi umat yang sebelumnya sempat sakit dan opname di Rumah Sakit, yaitu Pak Deddy, dan Mbah Cipto. Kemudian acara dilanjutkan dengan menyanyi bersama dan games yang menyenangkan lalu makan bersama. Acara Paskahan Lingkungan St. Elisabeth tahun ini berlangsung sangat sederhana namun sangat meriah karna banyak umat yang hadir dan bergembira bersama. Kami masing-masing bisa pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan.

Menjadi Kaum Muda Katolik yang Aktif dan Berdampak

Pada tanggal 15 Maret 2026, Lingkungan St. Elisabeth menjadi tuan rumah dari berkumpulnya para kaum muda Katholik Maguwo. Pertemuan ini adalah pertemuan yang rutin dilaksanakan para kaum muda tiap sebulan sekali. Pertemuan dilaksanakan bergiliran ke tiap-tiap lingkungan se-stasi Maguwo. Kebetulan pada bulan Maret ini, lingkungan Elisabeth menjadi tuan rumah. Pertemuan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto sepulang misa.

Pertemuan diikuti oleh seluruh Orang Muda Katholik yang ada di stasi Maguwo, para suster, perwakilan mantan OMK, dan perwakilan umat St. Elisabeth. Memang belum semuanya hadir, tapi sudah cukup banyak mewakili. Pertemuan berlangsung sangat hangat dan meriah. Diisi dengan sesi ramah tamah, sharring, dan game sebagai ice breaking.

Pertemuan dilaksanakan safari ke tiap-tiap lingkungan tiap bulannya agar OMK baru yang ada di lingkungan, terpanggil untuk ikut serta terlibat di kegiatan OMK stasi.
Pertemuan kaum muda Katolik merupakan salah satu wadah penting bagi generasi muda untuk bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, serta menemukan jati diri sebagai pengikut Kristus di tengah dunia modern. Dalam suasana yang penuh kebersamaan, kaum muda diajak untuk semakin mengenal Tuhan dan memahami peran mereka dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat.

Sesi sharing atau berbagi pengalaman menjadi momen yang sangat berharga. Dalam sesi ini, setiap peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengalaman iman, tantangan hidup, maupun pergumulan yang sedang dihadapi. Dari sini, muncul rasa saling mendukung dan menguatkan satu sama lain sebagai satu komunitas. Tidak kalah penting, pertemuan kaum muda juga diisi dengan kegiatan kreatif dan menyenangkan, seperti games. Hal ini bertujuan agar kaum muda tidak merasa bosan, sekaligus melatih kerja sama, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab.


Melalui pertemuan ini, diharapkan kaum muda Katolik dapat semakin berani menjadi terang dan garam dunia. Mereka dipanggil untuk tidak hanya hidup bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain. Dengan iman yang kuat dan semangat pelayanan, kaum muda dapat membawa perubahan positif di lingkungan sekitar.
Akhirnya, pertemuan ditutup dengan doa penutup sebagai ungkapan syukur atas kebersamaan yang telah terjalin. Harapannya, setiap peserta pulang dengan hati yang dikuatkan dan semangat baru untuk menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Kristus.

Aksi APP 2026 dan Kunjungan Kasih Lingkungan St. Elisabeth

Dalam semangat APP 2026, Lingkungan St. Elisabeth Stasi Maguwo melaksanakan Kunjungan Kasih sebagai wujud nyata cinta, kepedulian, dan persaudaraan. Selama masa APP, Lingkungan St. Elisabeth berkomitmen untuk menggunakan uang kolekte selama Sembahyangan untuk memberikan tanda kasih kepada para lansia yang ada di Lingkungan St. Elisabeth.

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 19 April 2026. Sebelumnya kami berkumpul di Pendopo Mbah Cipto. Kemudian kunjungan dimulai dengan mengunjungi Mbah Cipto. Selanjutnya kami juga menyempatkan untuk mengunjungi Pak Deddy yang baru pulang dari opname di Rumah Sakit. Lalu kunjungan selanjutnya, kami menuju Rumah Ibu Sugiarto, Mbah Sudiran, dan terakhir kami berkunjung ke rumah Ibu Pujo.

Bukan hanya sekedar berkunjung dan memberikan tanda kasih, tapi kami juga menunjukkan kehangatan, perhatian, bahkan berdoa bersama sebagai penguatan secara rohani, agar setiap orang yang kami kunjungi juga merasa penuh secara rohani.

Instagram: https://www.instagram.com/reel/DXW6L_fj6Km/?igsh=OWl4Ynk2dHJqbjA5

Datang dari Atas: Belajar Percaya dan Hidup dalam Kebenaran

Pada Tanggal 16 April 2026, bertempat di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Rutin. Pada sembahyangan kali ini bertepatan dengan Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan, sehingga sebelum sembahyangan dimulai, Ibu-ibu menyelesaikan pembayaran administrasi seperti Kas, Tali Kasih, dan Ziarah. Setiap ada Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu, selalu diisi dengan pembagian lotre sehingga suasana selalu meriah.

Pertemuan kali ini memang tidak seramai biasanya tapi acara tetap berlangsung meriah. Umat yang hadir dalam pertemuan malam ini berjumlah 29 orang. Setelah segala urusan administrasi selesai, baru Sembahyangan Rutin dimulai. Pemimpin Ibadat malam ini adalah Bapak Bagyo.

Ibadat malam ini mengambil bacaan sesuai Kalender Liturgi, dari Injil Yohanes 3 : 31-36. Dalam perikop ini, Yesus Kristus digambarkan sebagai Dia yang “Datang dari Atas” artinya berasal dari Allah sendiri. Ia membawa kebenaran ilahi, bukan sekadar pemikiran manusia. Sementara manusia sering berbicara dari pengalaman terbatas, Yesus berbicara tentang apa yang Ia lihat dan dengar langsung dari Bapa.

Namun, ada kenyataan yang cukup menyentuh: tidak semua orang menerima kesaksian-Nya. Ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sungguh mendengarkan dan menerima sabda Tuhan, atau hanya sekadar tahu tanpa menghidupinya?

Ayat 36 menjadi penegasan penting: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Iman bukan hanya soal percaya di pikiran, tetapi juga percaya dalam tindakan, mengikuti, menaati, dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Perlu kita sadari bahwa percaya kepada Yesus, berarti membuka hati pada kebenaran yang datang dari Allah.

Beriman sejati berarti juga kita harus taat, bukan hanya mengakui.

Hidup kekal bukan hanya nanti di surga, tapi sudah mulai dari sekarang ketika kita hidup dalam kasih dan kebenaran.

Sebagai bahan Renungan bagi diri kita masing-masing:

  • Apakah aku sudah sungguh percaya kepada Yesus dalam hidupku sehari-hari?
  • Bagian mana dari hidupku yang masih sulit untuk taat pada kehendak Tuhan?

Semoga kita sungguh bisa benar-benar percaya kepada Tuhan, bukan hanya dengan kata, tetapi juga lewat perbuatan, dan semoga hati kita terbuka, agar mampu menerima kebenaran Tuhan dan bisa hidup sesuai kehendakNya.

Berkat yang Mengalir dalam Suka Cita di Lingkungan St. Stefanus

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kasih tidak pernah salah alamat. Minggu ini, kebahagiaan menyelimuti salah satu umat kita dari Lingkungan Santo Stefanus, yaitu saudara Giacinta Ayu. Di tengah sukacita yang baru saja dirasakan keluarga karena baru saja melaksanakan pemberkatan rumah, Tuhan seolah menambah berkat lewat sebuah kejutan yang tak terduga.

Kisah ini bermula dari niat tulus Saudari Ayu untuk mendukung pembangunan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Dengan penuh semangat, beliau berpartisipasi dalam program pengumpulan dana pembangunan gereja tersebut melalui kupon sumbangan. Beliau melakukan ini murni sebagai bentuk tanggung jawab iman dan kepedulian bagi kemajuan pembangunan rumah Tuhan.

Namun, siapa sangka, partisipasi tersebut membawa kebahagiaan berlipat ganda. Dalam pengundian kupon sumbangan pembangunan gereja, nama mbak Ayu keluar sebagai pemenang hadiah utama berupa satu unit televisi berukuran 24 inci.

Makna di Balik Hadiah Mendapatkan hadiah ini tentu menjadi kenangan yang manis, bahwa televisi baru ini seolah menjadi pelengkap kebahagiaan di rumah beliau yang baru saja diberkati. Namun, bagi beliau, hadiah ini hanyalah bonus dari niat tulus berbagi. Yang lebih utama adalah kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembangunan Gereja GMBA Maguwo yang kita cintai bersama.

Penutup: Inspirasi Bagi Kita Semua Kisah Saudara Ayu menjadi pengingat sederhana bagi kita semua bahwa sekecil apa pun keterlibatan kita dalam pelayanan—entah itu dalam bentuk sumbangan, waktu, atau tenaga—Tuhan selalu melihat ketulusan hati kita. Semoga semangat berbagi yang ditunjukkan oleh Saudara Ayu ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus mendukung karya pelayanan dan pembangunan di Gereja kita.

Selamat atas berkat yang diterima, Mbak Ayu. Semoga televisi barunya semakin menghangatkan suasana di rumah baru yang telah diberkati!

Menyemai Kasih, Menabur Harapan: Kunjungan Kasih kepada Bapak Hendrik (Lingk. St Stefanus)

Sabtu, 18 April 2026, menjadi momen yang hangat bagi kami. Tergerak oleh semangat persaudaraan dan kepedulian antar sesama anggota lingkungan, kami melangkah bersama untuk melakukan kunjungan kasih ke kediaman Bapak Hendrik. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan wujud kehadiran gereja dan komunitas di tengah keluarga yang membutuhkan perhatian dan dukungan moral.

Setibanya kami di kediaman Bapak Hendrik, kami disambut dengan penuh sukacita. Meski kondisi kesehatan Bapak Hendrik sedang dalam masa pemulihan, wajah beliau terpancar keceriaan saat melihat rekan-rekan komunitas datang menyapa. Ruang tamu yang sederhana seketika berubah menjadi ruang persekutuan yang akrab, di mana tawa dan canda mengalir mengikis rasa sepi.

Dalam suasana yang teduh, kami meluangkan waktu untuk duduk bersama, mendengarkan cerita Bapak Hendrik, dan berbagi pengalaman hidup. Kegiatan dilanjutkan dengan ibadat singkat yang dipimpin oleh [Sebutkan nama atau peran, misal: Pengurus Lingkungan]. Kami bersama-sama melantunkan doa, memohon berkat kesembuhan, kekuatan, serta penghiburan dari Tuhan bagi Bapak Hendrik dan keluarga. Doa kami adalah agar semangat beliau tetap terjaga, dan beliau tahu bahwa beliau tidak berjalan sendirian dalam masa-masa ini.

Penutup (Harapan) Kunjungan kasih ini berakhir dengan penyerahan tanda kasih sederhana sebagai wujud kepedulian kami. Sebelum berpamitan, kami berjanji untuk terus saling mendoakan dan menjaga tali persaudaraan ini. Kami pulang dengan hati yang penuh; menyadari bahwa kebahagiaan sejati justru ditemukan saat kita mampu hadir dan berbagi kasih bagi sesama yang membutuhkan.

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)

Latihan Koor untuk Tugas Misa Jumat Pertama 1 Mei 2026 dan Pertemuan Lingkungan St Antonius Padua

Latihan koor untuk tugas Jumat Pertama bulan Mei 2026. Bertempat di rumah keluarga bapak ibu Yosef. Latihan koor dilaksanakan pada hari Kamis, 16 April 2026 pukul 19.00-20.30 WIB, dipimpin oleh ibu Ayiek.
Pertemuan dilanjutkan dengan pemberitahuan pengumuman-pengumuman dari ketua lingkungan Antonius, bpk. Indarto dan penjualan kupon pembangunan GMBA.
Pertemuan ditutup pukul 21.30 wib.